Senin, 02 Juni 2014

Anak-anak Disabilitas Membangun Indonesia dengan Karya

1401691420788112363
Anak Autis, Tuna Rungu dan Tuna Netra yang tengah berlatih musik dan olah vokal (SLBN Meto Lampung) / Sumber /doc. pribadi


Anak-anak Disabilitas Membangun Indonesia dengan Karya
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag

Sekali lagi, anak-anak disabilitas menurut kacamata awam diidentikkan dengan anak-anak yang tak memiliki kemampuan. Selain tidak memiliki kemampuan, rata-rata anak-anak ini dianggap sebagai beban hidup bagi kehidupan orang tua mereka. Selain dianggap sebagai anak yang “lemah” mereka pun tak luput dari penilaian negatif serta diskriminatif di lingkungan keluarga serta lingkungannya.
Diskriminatif dalam bidang pergaulan, dengan alasan masyarakat pada umumnya menganggap bahwa anak-anak ini tidak bergaul dengan anak lainnya karena keterbatasan yang dimiliki baik karena fisik yang tak sempurna, kelemahan intelegensi dan juga karena mereka seringkali dianggap tidak mampu merespons informasi yang diberikan oleh orang lain.

Tidak hanya mereka yang belum pernah mengenal hakekat anak-anak disabilitas, karena saya sendiri pernah juga beranggapan bahwa para penyandang disbilitas ini benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi seiring perjalanan waktu bersama anak-anak ini, saya temukan hakekat yang luar biasa. Mereka benar-benar sosok yang memiliki kelebihan ketika di dalam tubuhnya penuh dengan kekurangan. Sepadan dengan seseorang yang memiliki banyak kelebihan justru hakekatnya mereka penuh kekurangan. Bedanya anak-anak disabilitas kelebihannya nampak begitu nyata sedangkan kelebihannya tersembunyi dan harus digali agar dapat diolah menjadi bermanfaat. Sedangkan anak-anak pada umumnya mereka sempurna secara fisik, tapi ada banyak kelemahan yang seringkali disembunyikan dan seringkali membuat orang-orang disekitarnya tak memahami secara langsung.

1401693087125439051
Anak tuna rungu tengah berlatih drum (SLBN Metro) / dok. pribadi
14016927851522762227
Anak-anak SLBN Metro tengah berlatih musik / doc. pribadi


Begitu pula dengan anak-anak SLB N Metro, sekolah bagi penyandang disabilitas yang berdiri pada tahun 2004 di Kota Metro Lampung ini hakekatnya sudah banyak menorehkan prestasi. Sejak berdirinya sekolah ini, sampai sekarang di bawah kepemimpinan Dra. Yuly Hartaty, MM, hakekatnya sudah sangat banyak. Prestasi para siswanya yang pada awalnya tak pernah diduga-duga sebelumnya.

Mereka seperti mutiara di dalam timbunan lumpur dan kotoran, mereka harus diolah dahulu hingga menjadi mutiara yang benar-benar cemerlang dan berharga tinggi.

Seperti halnya pula anak-anak disabilitas ini, dengan kecakapan dan kesabaran para pendidiknya mereka dapat menorehkan prestasi yang membanggakan bagi orang tuanya, guru-gurunya, sekolah, kota kelahiran dan tempat tinggalnya serta Indonesia tentunya. Tidak lain dan tidak bukan karena para guru yang berjiwa besar yang memiliki mimpi yang besar ingin membangun anak-anak Indonesia yang kekurangan ini menjadi sosok-sosok yang memiliki kelebihan. Minimal kehidupan mereka stara dengan anak-anak normal lainnya.

Dalam beberapa event perlombaan, anak-anak ini selalu saya mampu berkompetisi secara fair dengan kemampuan yang mereka miliki. Kemampuan mereka lahir setelah sekian lama diolah dengan kerja keras dan tingkat kesabaran yang tinggi tentunya.

Belum lama ini, Anak-anak SLB N Metro mampu meraih juara, meski tak semuanya juara pertama, tapi alhamdulillah di antara mereka mampu menembus peringkat nasional, salah satunya lomba desain grafis yang mampu tembus juara, dan lomba-lomba lain yang tak dapat disebutkan satu persatu. Kalau untuk juara propinsi, beberapa kali SLBN Metro mampu tembus sebagai juara umum. Sebuah prestasi yang luar biasa yang juga mengharumkan nama Provinsi Lampung serta Kota Metro pada khususnya.

Di tengah hiruk pikuk kemenangan yang mereka raih hingga tingkat nasional, mereka pun tak henti-hentinya berlatih, baik untuk persiapan lomba olimpiade sains, olimpiade olahraga mapun festival seni tingkat nasional. Tentu saja seabrek kegiatan latihan pun menghiasi hari-hari anak-anak yang memiliki bakat yang luar biasa ini.

Bagaimanapun juga, prestasi yang diraih SLBN Metro masih sebatas diawal, karena saat ini SLBN Metro tengah mempersiapkan diri untuk dapat menjadi salah satu sekolah penyandang disabilitas yang dapat menembus juara nasional dengan membawa trofi dan piagam penghargaan yang dapat mengangkat harkat dan martabat anak-anak penyandang disabilitas sekaligus mengangkat kehormatan sekolah dan Kota Metro tentunya.

14016932812087036779
piagam penghargaan / doc. pribadi

Semoga saja, kedepannya pemerintah baik pusat maupun daerah semakin memperhatikan dan memberikan peluang yang sama bagi anak-anak penyandang disabilitas. Dengan harapan semakin pemerintah memberikan peluang yang sama bagi anak-anak ini, maka secara otomatis mereka pun mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh penghidupan yang layak. Dan lebih dari itu merekapun hakekatnya merupakan generasi muda yang bersiap membangun Indonesia.

Salam

Apa Jadinya Jika Wanita (Tidak Malu) Merokok



sumber: rimanews.com


Apa Jadinya Jika Wanita (Tidak Malu) Merokok?
Penulis : M. Ali Amiruddin, S.Ag

 
Apa jadinya jika para wanita mulai kecanduan rokok? Tentu siapa saja akan mengatakan gaya hidup model wanita tersebut sudah mengkhawatirkan. Meskipun tentu saja ada hal-hal  yang mendorong seseorang untuk merokok, tapi terlepas jenis kelamin pria atau wanita, hakekatnya merokok adalah budaya yang buruk.

Di tahun 2013 saja sebanyak 6,9 persen kalangan perokok di Indonesia adalah perokok wanita. Persentase tersebut meningkat jika dilihat tingkat prevalensinya di tahun 2007 sebanyak 5,2 persen. Sebagaimana dilansir Kompas.com

Melihat begitu tingginya peningkatan jumlah perokok bagi kalangan wanita, tentu saja akan meninggalkan berbagai dampak yang negatif bagi kehidupan perokok sendiri sebagai subyek. 

Namun lebih dari itu, justru orang-orang di sekitarnya yang akan menjadi korban tidak langsung, seperti suami dan anak-anak serta lingkungan sekitar yang tidak merokok justru menjadi perokok pasif. Mereka tidak menghisap rokok tapi justru mendapatkan efek negatif dari aktifitas merokok sang ibu.

Dampak yang paling parah adalah serangan kangker payudara, gangguan kehamilan dan janin. Dampak itupun dirasakan selama masa hidupnya. Tidak hanya perokok kawakan, perokok baru pun mengalami kemungkinan serangan penyakit ganas tersebut. Bahkan menurut medis, dan banyak pula disampaikan melalui poster-poster maupun  pamflet beberapa indikator yang akan muncul akibat dari merokok seperti kangker paru-paru, jantung, strok, lever, dan lain-lain yang akan dialami para perokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif.

Karena saat ini saja tingkat konsumsi rokok di Indonesia sudah cukup tinggi. Tidak hanya kalangan orang dewasa, kalangan remaja bahkan anak-anak sudah banyak yang menyentuh barang berbahaya bagi kesehatan ini. Terang saja dampaknya tidak hanya terkait kesehatan perokok maupun korban dari asap rokok, karena dampak ekonomi secara berkepanjangan pun akan dialami oleh para perokok wanita.

Bagaimana tidak, tatkala para pria mulai mengurangi bahkan menghentikan aktifitas merokok karena pertimbangan kesehatan dan ekonomi keluarganya, justru para wanita menjadi konsumen rokok yang justru menjadi sumber bencana bagi anak-anaknya. Terlebih-lebih ketika kaum hawa ini dalam kondisi mengandung, dampaknya anak yang ada dalam kandungan mendapatkan imbas dari racun dalam rokok tersebut. Bahkan menurut penelitian ibu-ibu yang merokok kemungkinan besar anaknya akan mengalami cacat, baik secara fisik, psikis maupun intelegensi. Sebagaimana saat ini begitu banyaknya anak-anak yang terlahir dalam kondisi cacat di antaranya disebabkan karena aktifitas merokok dari anggota keluarganya. Terutama para ibu yang langsung berhubungan dengan anak yang dikandungnya.

Membatasi Peredaran Rokok hanya tempat-tempat tertentu dan tidak dijual bebas

Untuk membatasi pembelian rokok, seperti halnya pemerintah mencegah peredaran minuman keras, pun harus dilakukan. Minimal dengan cara ini hanya kalangan tertentu dan di tempat tertentu pula masyarakat pecandu rokok dapat menikmati barang ini. Tidak dijual seperti sekarang, baik di pasar modern maupun pedagang asongan sepertinya rokok sangat mudah ditemukan. 

Dampaknya tidak hanya perokok lawas (pecandu) yang dapat membeli rokok, karena anak-anak remaja dan anak-anak SD pun bisa membelinya dengan cara yang mudah. Tak takut mendapatkan razia apalagi mendapatkan hukuman.

Membatasi peredaran rokok hanya di tempat-tempat tertentu serta menyediakan tempat merokok khusus bagi perokok lawas, pun akan mengurangi konsumsi rokok. Selain itu siapa saja yang boleh membeli rokok akan mudah dikontrol. Karena secara otomatis anak-anak maupun perokok baru akan kesulitan mendapatkannya. Ditambah lagi jika pemerintah membuat regulasi dengan memberikan denda atau hukuman bagi penjual atau pedagang rokok yang menjualnya kepada anak sekolah. Tentu saja dengan hukuman dan denda tersebut para penjual tidak lagi bebas melakukan transaksi jual beli rokok secara sembarangan.

Menutup Perusahaan Rokok dan Menutup Keran Peredaran Rokok Adalah Solusi Akhir

Sebenarnya sampai saat ini kebijakan mengenai rokok baik produksi dan peredarannya sudah sangat ketat. Bahkan ada pula perusahaan rokok yang harus bangkrut karena persaingan perusahaan rokok dalam negeri maupun rokok produk impor. Tapi sayangnya kebijakan tersebut hanya sebagai upaya untuk  menaikkan harga jual rokok semata. Padahal meskipun harga rokok setinggi langitpun jika masyarakat sudah kecanduan rokok  tetap saja akan dibeli tanpa memperhitungkan tingginya harga rokok tersebut.

Kebijakan pemerintah yang masih sulit menutup perusahaan rokok dengan alasan tingginya pajak yang didapat dari perusahaan tersebut serta beberapa bantuan beasiswa dan sosial yang diberikan produsen rokok hakekatnya tidak akan menyelesaikan persoalan krusial ini. Karena meskipun sumbangih perusahaan rokok tersebut sudah sangat besar, tapi melihat gejala mengerikan terkait tingginya aktifitas merokok khususnya kalangan wanita, hakekatnya pemerintah sudah membiarkan rakyatnya menikmati produk berbahaya ini. Sehingga akan sia-sia saja himbauan menghentikan kebiasaan merokok selalu dilakukan lewat beberapa media, toh jika iklan rokok serta produksi rokok masih tinggi maka akansia-sia saja. 

Melihat tingginya konsumsi rokok para wanita, sepertinya pemerintah harus benar-benar membuat kebijakan yang tegas yakni menutup perusahaan rokok dan melarang semua produsen rokok asing memasarkan ke dalam negeri.

Jika pemerintah tetap saja berdiam diri, bukan tidak mungkin satu tahun atau sepuluh tahun lagi para wanita akan lebih banyak menikmati rokok dengan alasan mudahnya mencari rokok dengan segala merek. Dan pemerintahpun harus bersiap-siap jika generasi mendatang akan terlahir anak-anak cacat akibat konsumsi rokok dikalangan wanita.

Salam

Tatkala Orang Tua (Terlalu) Mengeksploitasi Anak Disabilitas


Sumber : kompasiana.com



Tatkala Orang Tua (Terlalu) Mengeskploitasi Anak Disabilitas
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag

Seperti biasa, saya melaksanakan tugas sebagai pendidik di salah satu sekolah penyandang disabilitas di Lampung, kebetulan di hari Jum’at ini saya menyampaikan materi tentang pendidikan karakter dan siswa-siswi memberikan tanggapannya terhadap cerita atau kisah terkait sikap seseorang tatkala dibenturkan dengan tugas-tugas harian. Dengan antusiasmenya para siswa, menjawab dengan bahasa apa adanya, semampu mereka mampu memahami kalimat saya dan menerjemahkan menjadi kata-kata untuk menilai sikap dari seseorang yang saya ceritakan. Saya menggunakan metode ini agar saya bisa menggali lebih dalam pengetahuan dan penilaian mereka terhadap sikap seseorang.

Seperti biasa, tatkala saya meminta anak-anak tersebut menjawab, mereka mampu menjawab dengan tanggapan baik hati, jujur, menolong orang tua, bertanggung jawab, namun adakalanya menanggapi dengan kata “jelek” maksudnya sikapnya tidak baik. Meskipun kata-kata tersebut teramat sederhana, namun saya memahaminya sebagai sebuah penilaian tentang  tulus tatkala mereka diminta menanggapi cerita dan kisah yang seringkali mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah anak-anak tersebut menanggapi cerita saya, kemudian secara bergantian mereka menceritakan aktifitas sehari-hari yang berkaitan dengan pengamalan karakter dan sikap yang baik atau buruk. Dan siswa lain pun menanggapi cerita teman-temannya.

Seiring proses bercerita dan menanggapi cerita tersebut, secara polos dan jujur mereka menceritakan bagaimana mereka melakukan pekerjaan rumah selayaknya asisten rumah tangga. Sepulang sekolah mereka langsung diminta mencuci piring, memasak dan menyapu halaman, bahkan adapula yang tidak sempat lagi beristirahat karena orang tua (ibu dan saudaranya) justru memerintahkan si anak untuk melakukan pekerjaan ala PRT. Tanpa mempertimbangkan kelelahan atau rasa letih setelah setengah hari mereka belajar. Tidak hanya pekerjaan-pekerjaan ringan, karena kegiatan menyiapkan masakan dan mencuci pakaianpun menjadi kewajibannya. Anak-anak tuna grahita yang setengahnya dipaksa untuk melakukan sesuatu yang seharusnya orang tua memberikan toleransi. 

Sebuah sikap yang teramat berlebih-lebihan yang dilakukan orang tua mereka. Mereka mendidik anak-anak ini teramat keras, bahkan terlalu keras sampai tidak memberikan kesempatan mereka untuk beristirahat meski hanya sesaat saja. Meskipun saya memahami apa yang dilakukan bertujuan agar anak-anak ini lebih mandiri, tapi karena terkesan mengeksploitasi sepertinya amat tak patut.

Anak-anak penyandang disabilitas, khususnya anak-anak tuna grahita memiliki kelemahan secara fisik dan psikis, selain itu mereka memiliki kelemahan intelegensi di bawah rata-rata. Jadi sepatutnya para orangtua mendidik dan melatih yang sesuai dengan karakter mereka. Tidak terkesan memperkerjakan mereka seperti halnya pembantu yang harus melakukan pekerjaan sendirian. Bahkan dari cerita anak-anak tersebut ada pula yang mengeluh merasakan sakit perut selama berbulan-bulan (menurut saya gejala maag kronis) setelah saya selidik ternyata akibat dari pola makan yang tidak teratur. Di saat makan siang mereka harus menikmati hidangan, mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diberi toleransi istirahat, tidur dan menikmati makan siang. Tapi justru para orang tua ini memerintahkan mereka mengerjakan semua pekerjaan rumah ala pembantu. 

Karena saya ingin memastikan bagaimana anak-anak ini diperlakukan di rumah, maka saya melakukan konfirmasi terhadap para orang tua mereka. Dan benar di antara orang tua mereka justru menganggap anak penyandang disabilitas ini seperti pembantu yang harus mengerjakan semua pekerjaan di rumah. Sebuah kondisi yang teramat miris.

Rendahnya Perhatian Orang Tua Terhadap Kondisi Anak

Selain terlalu berlebihannya orang tua dalam “memperkerjakan” anak di rumah, seringkali saya melihat anak-anak ini kurang mendapatkan perhatian. Misalnya kondisi pakaian yang seringkali terlihat kotor, adapula dari mereka yang tak memakai seragam sesuai hari yang sudah ditentukan, dengan alasan pakaian belum dicuci, padahal seharusnya enam hari yang lalu pakaian tersebut sudah disiapkan sebelumnya.

Melihat kondisi ini, saya selaku guru kelasnya berusaha menyampaikan surat peringatan atau sekedar saran melalui buku penghubung yang dikirimkan kepada orang tua siswa, dengan tujuan orang tua semakin memperhatikan kondisi anaknya. Setelah saya kirim peringatan atau pemberitahuan, satu atau dua hari si anak terlihat rapih dan disiplin dalam berpakaian, tapi seminggu kemudian terlihat lagi kebiasaan sebelum diberikan buku penghubung. Selain itu orang tua selalu saya ajak berdiskusi mengenai kondisi anak dan bagaimana cara orangtua memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Meskipun cara ini cukup efektif, sayang sekali hanya berjalan beberapa pekan, selebihnya orang tua kembali berkurang perhatiannya.

Dan yang lebih membuat saya miris adalah tatkala pemerintah memberikan Bantuan Siswa Miskin (BSM) justru para orang tua menggunakannya untuk keperluan lain yang tidak berkaitan dengan urusan pendidikan anak-anaknya. Seperti membeli keramik, pakaian dan lain-lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan pendidikan bagi anak-anaknya. Kontan saja, meskipun setiap tahun anak-anak ini mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui sekolah, justru orangtuanyalah yang banyak menikmati ketidak mampuan anak-anaknya. Mereka menganggap anak-anak mereka sebagai alat pencetak uang dan sedikit sekali tanggung jawab mereka terkait bantuan dari pemerintah ini. 

Wajar saja setelah saya amati anak-anak ini masih saja terlihat kumuh, ada saja siswa yang tidak berganti pakaian dan buku-buku serta alat belajarmereka yang selalu saja tidak tercukupi.
Fakta inilah yang membuat saya prihatin, tatkala pemerintah sudah memperhatikan kondisi anak-anak disabilitas justru para orang tua memanfaatkan anak-anak mereka untuk memperoleh kekayaan. Dan lebih dari itu mereka menganggap anak-anak disabilitas ini sebagai anak yang bisa dimanfaatkan tenaganya demi meringankan pekerjaan mereka.

Semoga saja kedepannya para orang tua penyandang disabilitas tetap memanusiakan mereka seperti anak-anak sebayanya. Memberikan mereka kesempatan untuk berkembang dan bersosialisasi tanpa diberikan beban yang melebihi kemampuan mereka. 

Salam

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di www.kompasiana.com

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!