Tampilkan postingan dengan label Extraordinary News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Extraordinary News. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2025

Mengenal Lebih Jauh Sawah Viral di Kota Metro

Suasana pagi di Sawah Viral Jalan Proklamasi Kota Metro yang sampai saat ini menjadi tempat tongkrongan (Gambar; M. Ali Amiruddin)

"Jika healing adalah cara untuk memecah kepenatan, tempat yang alami dan gratis adalah solusinya" (Ali)

Sudahkah Anda mengenal tempat tongkrongan yang saat ini viral di Kota Metro? Nah, jika Anda sudah mengenalnya tentu sudah tidak asing lagi dengan tempat yang tepat untuk mengabadikan moment sunset di ujung hamparan persawahan ini ya?

Yap, betul sekali. Area persawahan yang biasanya hanyalah ditanami tanaman padi dan palawija oleh petani, kini wajahnya sangat jauh berbeda dibandingkan dengan awal mula area ini dijadikan tongkrongan oleh anak-anak mudah dari berbagai wilayah ini.

Sebut saja Juned, warga dari Lampung Tengah ini mengatakan bahwa tempat tongkrongan ini semata-mata hanya untuk bersantai di senja hari bersama indahnya pemandangan persawahan. Dengan nongkrong di atas jok motor pria ini sering banget mengunjungi tempat ini bersama teman-temannya.

Kebetulan Juned tidak hanya sendirian, dia biasanya bersama anak-anak remaja lain dan beberapa orang yang sudah berumah tangga asik duduk di atas jembatan di atas saluran irigasi di sana.

Keluarga tersebut bersama dengan orang-orang lain yang juga membawa kendaraan roda empat asik menikmati makanan sambil asik ngobrol dengan ditemani suasana temaram.

Selain mereka yang asik menikmati senja itu, ada juga beberapa pedagang makanan yang sengaja ikut menikmati keberuntungan dengan berdagang kopi dan juga makanan lainnya. 

Gambar aliran irigasi di Sawah Viral yang turut menghiasi keindahan tempat ini (Gambar: M. Ali Amiruddin)


Mereka ada yang berasal dari Sumbersari, Bantul, ada juga dari wilayah lain yang juga ingin menikmati rezeki yang tak perlu membayar uang parkir dan sewa tempat. Pure tempat ini gratis dan tidak ada pungutan sedikit pun. Entah saat ini sepertinya ada kebijakan pungutan karena ada jalur listrik yang mereka gunakan dalam kegiatan berjualan kecil-kecilan tersebut.

Tentu saja jika tidak ada listrik, para pedagang di sana amat sulit untuk memanaskan air untuk pesanan kopi, begitu juga yang berjualan makanan lain yang memang membutuhkan listrik.

Sawah Viral, Kini Viral di Dunia Internet

Mau percaya atau tidak, saat ini mungkin melampaui ekspektasi, ketika awal-awalnya tempat nongkrong dan pernah pula beberapa kali terjadi balap liar yang akhirnya berujung pembubaran oleh masyarakat sekitar, tempat ini belum sepenuhnya dikenali.

Jika kita mencari nama daerah ini pun awalnya tidak mudah kita temukan. Nah, ketika saat ini semakin viral, jika kita mencarinya di internet sepertinya akan semakin mudah. Kenapa? Karena sudah ada beberapa konten kreator yang sengaja memberitakan tempat ini dan dengan tidak sengaja menjadikan tempat tongkrongan anak-anak muda menjadi dikenali oleh berbagai kalangan.

Nah, dampaknya tentu semakin banyak orang yang bisa menikmati indahnya, yang pada akhirnya jalanan di tengah-tengah sawah itu pun jika menjelang maghrib akan sulit dilewati.

Beruntungnya tidak ada gejolak yang berarti akibat penumpukan kendaraan di Jalanan Proklamasi itu. Boleh jadi masyarakat di sana juga memaklumi bahwa daerah mereka menjadi ramai dan menambah penghasilan para pedagang yang mau nggak mau tidak diambil pusing.

Padahal keramaian dan kemacetan itu bisa saja ditanggulangi jika pemotor bisa ditata rapi dan tidak menutupi jalananan. Sehingga kendaraan lain bisa lewat dengan leluasa.

Yang agak mengecewakannya selain macet, jalanan tersebut saat ini sudah dipenuhi lobang-lobang dan beberapa kali pengendara motor yang mengalami kecelakaan tunggal karena lubang tersebut.

Pada akhirnya, Kota Metro perlu menyambut kehadiran Sawah Viral tersebut yang notabene menjadi obyek wisata yang gratis dan sangat membantu masyarakat mendapatkan penghasilan dari berjualan aneka makanan dan minuman.

Dan tentu saja diharapkan para pengunjung agar mematuhi aturan daerah dengan tidak membuang sampah sembarangan seperti membuangnya ke tengah-tengah sawah atau saluran irigasi. 

Jika masyarakat yang berkunjung ke tempat itu dapat menjaga kebersihannya, tentu saja Sawah Viral dapat dipertahankan dan menjadi tempat healing murah yang tak perlu merogoh kocek yang dalam.



Salam

Metro, 03/05/2025

M. Ali Amiruddin

Jumat, 18 Oktober 2024

Pemanfaatan kebun sekolah untuk pembelajaran peserta didik #maliamiruddin

Ini adalah salah satu pemanfaatan kebun sekolah di SLBN Metro (dok. pribadi)

Memperkenalkan nama-nama tumbuhan di sekitar adalah salah satu kegiatan pembelajaran pada capaian pembelajaran kurikulum merdeka pada mata pelajaran IPAS kelas 5 Tunagrahita. Pada pembelajaran ini anak-anak diperkenalkan dan diberikan pemahaman terkait aneka jenis tanaman di sekitar, terutama tanaman sayur-sayuran.

Selain anak-anak diperkenalkan dan diberikan pemahaman terkait aneka jenis tanaman seperti tanaman sayuran, anak-anak juga diajarkan bagaimana mengolah tanah, menanam, merawat, memupuk dan nantinya bisa memanen hasil panen dan pasca panen.

Pada kegiatan pengolahan dan perawatan kami melibatkan guru, relawan dan murid-murid sebagai subyek pembelajaran. Selain sebagai bahan pengetahuan dasar bagi peserta didik, dengan memperkenalkan dan mengajarkan bagaimana cara membudidayakan tanaman tentu akan berdampak positif bagi pengetahuan dan pemahaman siswa secara lebih komprehensif dan bermakna.

Kamis, 20 Agustus 2020

Belajar dari Bunda Kartika Affandi, Produktif di Usia Senja

 



Dr. HC. Kartika Affandi, Pelukis Wanita Indonesia (havrillay.com)



Alhamdulillah tiba-tiba ada email masuk. Saya enggak menyangka sih kalau akan mendapatkan undangan Talk Show dari Komunitas Traveller Kompasiana (Koteka). 


Acara tersebut menghadirkan tamu istimewa seorang Duta Besar Indonesia untuk Negara Jerman Bpk. Dr. Arif Havas Oegroseno.


Selain itu, ada pula Bunda Dr. HC. Kartika Affandi yang disebut sebagai sang maestro perempuan dalam bidang lukis, selaku Pembicara pada acara tersebut. 


Acara tersebut dipandu oleh Mbak Gaganawati Stegmann selaku Admin Koteka, yang saat ini juga berdomisili di Jerman.


Acara yang diadakan pada Sabtu, 15 Agustus 2020, tepat lima hari yang lalu tersebut, diikuti oleh para Kompasianer yang memang seorang Traveller, atau dalam bahasa gaulnya suka jalan-jalan. 


Nah, saya selaku peserta yang memang punya hobi yang sama, tentu tertarik dong kalau diundang dalam acara tersebut, apalagi tanpa dipungut biaya sepeserpun. 


Tentu saja acara yang seharusnya menelan waktu 1 jam dan ternyata molor 2 jam lebih tersebut, ternyata memberikan banyak pengetahuan yang sama sekali belum pernah saya dapatkan. Bahkan pada seluruh peserta yang hadir dalam Talk Show via zoom tersebut.


Dalam acara tersebut tentu saja para peserta begitu antusias untuk menyimak dan memberikan pertanyaan seputar travelling. 


Pembicaraan tidak hanya tentang travelling saja, karena pada saat itu, acara dengan tema Travel, Melukis di Usia Senja? Enjoy Aja tersebut, mengupas dengan sangat jelas bagaimana sosok yang mungkin saja sudah tidak lagi muda, harus bisa menggunakan usia tersebut pada hal-hal yang menyenangkan dan produktif.


Bunda Kartika Affandi dalam Talk Show , 15 Agustus 2020 (screenshot dok. pribadi)


Nah, Bunda Kartika Affandi memberikan beberapa wawasan bagaimana berlaku sebagai seorang traveller sekaligus bisa juga menjadi seorang pelukis. 


Meskipun saat ini para peserta (kompasianer) boleh jadi bukan pelukis, nyatanya konteks kebermanfaatan acara tersebut sangat terasa. 


Bunda Kartika selalu memberikan wejangan, "gunakan jalan-jalanmu atau travelmu dengan mengisinya pada hal lain yang bermanfaat."


Jika seorang pelukis, semestinya memanfaatkan semua yang ada di tempat tujuan sebagai wahana menuangkan ide yang realistis, bukan hanya karangan semata. 


Seandainya traveller tersebut adalah seorang penulis atau fotografer sekalipun, semestinya bisa menggunakan saat-saat yang menyenangkan dalam travelling untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.


Bunda Kartika Affandi-sebagaimana diceritakan beliau - memiliki hobi melukis sejak kecil. Boleh jadi memang mewarisi bakat dari seorang ayah yang juga seorang pelukis terkenal atau disebut juga sang Maestro Pelukis Indonesia yang dikenal di dunia Internasional, berkat gaya ekspresionis dan romantisme yang khas.


Bahkan karena begitu bakat istimewa itu lahir semenjak dini, ternyata pengalaman yang diasah sedemikian rupa di berbagai daerah selalu melahirkan sebuah karya yang fenomenal. 


Dan yang lebih istimewa lagi, beliau memang memiliki jiwa mandiri sejak kecil. Jiwa mandirinya itulah yang membentuk kemampuan dalam melukis hingga sekarang. Bahkan beliau berpesan pada semua orang, khususnya peserta, agar memiliki prinsip yang kuat dalam kehidupan. Mencintai semua hobi dan pekerjaan dengan sepenuh hati, karena itu akan melahirkan karya yang terbaik.


Kisahnya di beberapa penjuru dunia dalam pengalaman melukis


Ada beberapa kisah yang sungguh memancing motivasi kita untuk selalu mengembangkan kemampuan secara optimal, adalah ketika beliau menceritakan perjalanan sebagai seorang pelukis ketika memasuki beberapa wilayah. 


Beliau selalu ingin mengetahui seluk beluk budaya setempat yang masih asli. Bagaimana beliau mencontohkan betapa uniknya budaya di Papua, ketika para penduduk di sana yang tubuhnya dibalur dengan minyak babi hingga kulitnya mengkilat dan bagus, serta bagaimana uniknya para lelakinya ketika memakai koteka. Sebuah budaya yang patut untuk dibanggakan.


Selain di Papua, ada satu kisah di suku Aborigin, Australia yang menurutnya seorang pelancong tidak akan diperkenankan melukis. Karena notabene para penduduknya khususnya perempuan 70%-nya adalah pelukis. 


Hingga suatu ketika beliau menggunakan sebuah pecahan kaca mobil agar dapat mengamati wajah wanita suku Aborigin tersebut untuk dijadikan objek  lukisan. Di mana kebiasaan perempuan suku Aborigin yang ahli dalam melukis dengan teknik dot painting (melukis dengan dipukul-pukul), hingga dipamerkan di Amerika  Serikat dan harga lukisannya mencapai US$ 200.000 . Betapa karya yang sangat mahal bukan?


Begitu juga ketika beliau menceritakan betapa kebudayaan Kalimantan (Dayak) di mana para wanitanya memakai kupluk (topi khusus) dan telinga yang menjuntai panjang karena diberikan perhiasan. Bahkan ada pula yang menurut beliau lucu ketika ada di antara mereka yang menganggap  tinta sebagai odol. Mungkin karena belum begitu mengerti penggunaan tinta dalam proses melukis.


Dan yang lebih mengagumkan lagi bahwa beliau pernah menjadikan sapi sebagai objek lukisan. Bukan hanya mengarang bentuk sapi, tapi benar-benar terjun di kandang demi mendapatkan kesan yang sempurna dalam proses melukis. Meskipun harus mencium bau kotorannya.


Dengan kata lain, Bunda Kartika Affandi selalu melukis di mana beliau menemukan objek lukisan (on the spot), dan bukan sekedar mengarang saja. Menjadikan semua perjalanan ke berbagai daerah sebagai tempat untuk menyalurkan hobi dan kreativitasnya dengan cara yang menyenangkan. 


Meskipun usia sudah tidak lagi muda, apa yang perlu dicontoh dari beliau adalah semangat untuk tetap kreatif dan mengisi hari-hari tua dengan hal-hal yang bermanfaat, sebagaimana tema talk show tersebut.


Pesan bagi perempuan


Di akhir penuturannya, beliau memberikan pesan kepada wanita agar menjadi wanita yang mandiri. Jangan menjadi perempuan yang cengeng dan pesan beliau jangan pernah tergelincir ke lembah hitam. Jagalah harga diri sebagai penghargaan nilai kewanitaan.


Salam


Jumat, 18 April 2014

Pencabulan Anak di JIS, Sekali lagi Tragedi Buruk Pendidikan Indonesia


Jakarta International School


Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag.


Lagi-lagi dan lagi, inilah gambaran runyam yang selalu hadir di tengah-tengah kita. Aura negatif yang seringkali menghiasi laman pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pendidikan bagi orang dewasa, pendidikan ‘tuk anak-anak pun selalu menuai banyak terpaan masalah. Tidak hanya masalah bagaimana kesejahteraan guru dan kurikulum yang tak pernah menemukan jalan terangnya, kasus-kasus kekerasan atas nama “nafsu” pun masih saja menjadi tradisi yang sepertinya sulit dihilangkan.

Kasus kekerasan seksual sejatinya sudah sering terjadi di tengah-tengah pergulatan pendidikan di Indonesia, bahkan hampir setiap detik, kita selalu dikejutkan dengan pemberitaan yang berbua negatif. Terang saja, bangsa ini seperti dibuat geram, kenapa pendidikan di Indonesia selalu menjadi bagian pemberitaan buruk di media? Apakah memang Indonesia akan kehilangan harga dirinya tatkala penghuni negeri inipun secara perlahan seperti kehilangan harga diri. Dan sayangnya prilaku tidak terdidik itu seringkali terjadi di sebuah lembaga pendidikan. Entah kekerasan fisik antara guru dan siswanya, antara siswa dengan siswa lainnya, maupun antara guru dan guru lain yang turut mencoreng kehormatan pendidikan di Indonesia.

Seperti halnya kkasus  kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School, kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang sayang sekali terjadi di sebuah sekolah yang bertaraf internasional dan tentu saja para personil sekolah yang juga memiliki karakter dan jiwa meng-internasional, namun sayang sekali justru di antara personilnya adalah sosok berjiwa kampungan. Demikianlah sepantasnya sebuah lembaga pendidikan yang berlabel internasional justru mencederai makna modernisasi pendidikan yang kini tengah diperjuangkan. Bahkan sepertinya sekolah yang sering disebut “kampungan” karena berada di kampung pun kondisinya tidak separah sekolah ini.

Kasus Sodomi, Fakta Buruk Sekolah Internasional

Mungkin di antara kita tidak akan pernah menduga, kenapa sebuah lembaga yang “katanya” internasional seperti kecolongan dengan adegan kekerasan seksual yang terjadi di JIS? Apakah sebenarnya JIS memang tidak pantas mendapatkan predikat sekolah Internasional? Atau kejadian ini murni karena rata-rata sekolah begitu lalainya tatkala wali siswa sudah menitipkan anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan di sekolah ini? Sepatutnya kondisi ini tak pantas disandangkan pada sekolah yang sejatinya harus modern. Sekolah yang dilengkapi sarana dan prasarana yang modern pula. Dan tentu saja kualitas layanan pendidikan pun sejatinya harus lebih modern dengan sekolah-sekolah pada umumnya. 

Akan tetapi, jika dilihat kasus yang terjadi di JIS sebagai sekolah yang sepatutnya menjadi teladan karena kedisiplinan, kurikulum yang “katanya” hebat karena mendapat julukan internasional, serta dukungan manajemen sekolah yang baik sepatutnya tak menjadikan sekolah ini kecolongan. Bahkan jika diruntut kejadian tersebut ternyata pelakunya adalah seorang tenaga kebersihan (cleaning service) yang sejatinya sedikit sekali kesempatan untuk “menjamah” anak-anak didik mereka lantaran berbeda status pekerjaannya. Yang lebih parah lagi ternyata ada 6 siswa yang telah diperlakukan dengan cara tidak manusiawi ini. Sumber

Sebuah catatan buruk dan prestasi rendah yang sepatutnya dihindari bagi personalia sekolah pada umumnya dan lembaga JIS pada khususnya.

 Pencabulan amat mungkin terjadi jika si pelaku adalah sosok yang selalu mendampingi siswa belajar. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas dan manajemen sekolah patut dipertanyakan. Bahkan pun dapat diduga bahwa predikat internasional sejatinya hanya aksi tipu-tipu penyelenggara pendidikan terhadap pemerintah dan masyarakat. Mereka menamai lembaganya dengan sebutan internasional hanya sebagai kedok untuk mendapatkan legitimasi dan simpati masyarakat. Tentu saja tujuannya agar masyarakat semakin terpedaya dan terkagum-kagum dengan identitas internasional.  Meskipun faktanya sekolah ini tidak layak disebut sekolah internasional karena kasus kekerasan seksual yang sepatutnya tidak terjadi.

Manajemen pendidikan yang mumpuni, seperangkat kurikulum yang boleh jadi melebihi kurikulum sekolah kebanyakan dan pengawasan internal yang superketat sepertinya jauh panggang dari api. Slogan sekolah modern sama sekali tak ditunjukkan oleh sekolah ini. Jakarta Internasional School justru menjadi catatan buruk bagi sekolah-sekolah internasional di Indonesia.

Kasus Pencabulan di JIS, Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Mesti Kontrol Diri

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di JIS merupakan tamparan buruk bagi martabat pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan yang berjuluk internasional. Karena kejadian ini semakin menjatuhkan kredibilitas pendidikan di Indonesia di mata umum. Tidak hanya masyarakat Indonesia, akan tetapi masyarakat internasional pun sejatinya turut prihatin dengan kasus ini. Dampaknya para orang tua calon siswa di sekolah modern model ini akan berfikir dua kali untuk menyekolahkan di sekolah yang biasanya memberikan tarif mahal untuk sekolah di sekolah ini.

Selain rendahnya pengawasan terhadap para siswanya, tentu saja tarif pendidikan yang tinggi justru menjadi bahaan cemoohan kepada sekolah yang bersangkutan, tak pantas sekolah mahal tapi kualitas amat rendah. Namun demikian, meskipun tidak semua sekolah internasional “bertipe” seperti JIS, akan tetapi akan menurunkan nilai positif dari manajemen sekolah. Sehingga akan ada banyak orang tua yang ingin menyekolahkan di sekolah ini yang harus mengurungkan niat lantaran khawatir kasus yang sama terhadap anak-anak mereka.

Bagi sekolah manapun, baik sekolah Internasional maupun sekolah kebanyakan, hakekatnya tarif yang mahal yang dipatok sekolah tidak dapat dijadikan dasar penilaian bahwa sekolah-sekolah biasa mutunya akan lebih buruk dari sekolah intenasional. Karena ada pula sekolah biasa yang justru memiliki track record yang baik dalam menyelenggarakan pendidikannya. Hal tersebut dibuktikan dengan sederet prestasi yang ditorehkan sekolah-sekolah tersebut.

Catatan akhir dari tulisan ini, hakekatnya lembaga pendidikan apapun, baik sekolah internasional maupun sekolah biasa  memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keamanan dan kenyamanan warga sekolahnya. Kenyamanan dan keamanan tidak hanya berbentuk gaji yang diterima guru dan karyawannya, akan tetapi bentuk proteksi yang amat ketat terhadap para anak didiknya agar mereka dapat mengenyam pendidikan sesuai dengan harapan siswa dan para orang tua siswa.

Melakukan pengamatan para pekerja sekolah, baik pengamatan prilaku yang mereka miliki. Tentu saja sebelum mereka bekerja dan setelah mereka menjadi karyawan di sekolah tersebut. Dan yang lebih penting lagi adalah mengadakan evaluasi terhadap manajemen sekolah. Harapannya kasus pencabulan / kekerasan tersebut tidak terulang kembali di masa yang akan datang.


divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Ujian Nasional Sebagai Bagian Pemerataan Pendidikan

Ilustrasi: Anak-anak sedang mengikuti ujian nasional SMA/SMK sederajat / Kompas.com
Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag
Benarkah ujian nasional awal kehancuran generasi? Dan apakah benar karena ujian nasional generasi muda jadi hancur? Beberapa pertanyaan inilah yang sampai detik ini masih saja terbang di awang-awang. Tidak pernah turun ke bumi dan menemukan jawaban yang pasti. Semua berdasarkan asumsi dan berawal dari beberapa kejadian yang menimpa anak negeri. Generalisasi yang kelewat batas bahwa karena ujian nasional anak Indonesia menjadi gagal dan kehancuran karakter.

Sepatutnya pertanyaan tersebut dicari akar masalahnya, kenapa para penggiat hak asasi dan sebagian anggota dewan ada yang mencibir adanya ujian nasional, karena berdasarkan informasi di beberapa media bahwa karena ujian nasional menjadi stress, putus asa bahkan ada yang harus bunuh diri karena ketakutan yang dialami anak-anak sekolah kita. Meskipun beberapa kejadian tersebut bisa dijadikan alasan ditentangnya ujian nasional, toh faktanya tidak semua anak “menderita” karena ujian nasional. Karena masih banyak anak-anak yang enjoy karena ada ujian. Hal tersebut berlaku pada anak-anak yang benar-benar konsisten belajar dan ingin menggali ilmu dan tidak semata-mata mengejar ijazah.

Bahkan ketika kita mau mengamati sekolah-sekolah pada umumnya yang menggunakan aturan yang ketat namun tidak memaksa, anak-anak ini tetap saja antusias mengikuti ujian nasional. Serasa seperti bernostalgia di masa aliyah dahulu. Meski saya tak cerdas seperti anak sekolah negeri tapi saya mungkin yang terlalu percaya diri kalau pasti lulus.

Tidak hanya karena anak-anak memang konsentrasi belajar sejak sekolah dasar, tapi memang menjadikan sekolah sebagai kebutuhan. Jadi wajar jika mau sekolah tentu saja ya mengharapkan pinter. Bukan hanya DDTL (datang, duduk, tidur dan lulus) namun benar-benar ingin mengenyam pendidikan yang tinggi. Seperti apa yang menjadi kata mutiara Bung Karno kurang lebih “bermimpilan setinggi langit, karena meskipun engkau jatuh kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Dan sayapun mengingat Hadits Nabi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri china” atau Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan dari sejak buaian hingga ke liang lahat”. Dan benar, semenjak anak-anak orang tua sudah mengajarkan kita agar mau mengenyam pendidikan. Toh, tujuannya adalah mendapatkan ilmu pengetahuan.

Lalu, apa hubungan menuntut ilmu dengan ujian nasional? Jelas ada hubungan, jika kita sudah belajar mati-matian dan ingin mendapat pengakuan bahwa kita benar-benar berhasil menggali ilmu tersebut, tentu saja kita harus diuji. Tak dipaksa justru kita sendiri yang harus meminta ujian itu. Seperti halnya seorang prajurit atau seorang yang belajar pencak silat, maka dia sendiri akan meminta “dijajal” atau istilah kerennya diuji karena merasa sudah menguasai segala ilmu sang guru. Setelah siswa perguruan tersebut lulus maka dia dipersilahkan turun gunung.

Menuntut ilmu wajib dan kebutuhan begitu juga ujian adalah kewajiban dan kebutuhan yang semestinya kita terima dan semestinya kita butuhkan. Bukan malah menjadikan ujian nasional sebagai momok yang harus ditakuti.

Saya teringat kata-kata Pak JK, tatkala berdiskusi di salah satu TV swasta beberapa waktu lalu, bahwa ujian nasional itu perlu untuk mengetahui sejauh mana negara ini mampu mendidik warganya secara merata dan ingin mengevaluasi sejauh mana mereka menyerap ilmu yang diberikan.

Jadi jangan salahkan ujian nasional karena anak-anak stress atau bunuh diri, tapi kenapa mereka bisa menjadi stress dan bunuh diri itulah faktor yang harus dicari akar permasalahannya.

Jika sekolah dijadikan sebuah bagian kehidupan dan sebagai sarana menimba ilmu sekaligus sarana rekreasi, maka keberadaan ujian nasional tidak akan menjadi beban. Justru selain sebagai kompetisi, ujian nasional juga untuk menaikkan gengsi bahwa mereka telah mendapatkan ilmu yang mereka butuhkan. Tidak sekedar ijazah yang tak berguna.

Ujian Nasional dan Kebutuhan Dasar Masa Depan

Ujian nasional dengan segala pernak-pernik reaksi beragam menunjukkan bahwa sampai saat ini masyarakat Indonesia tidak memahami manfaat ujian nasional. Dengan kata lain selama ini kita tidak sadar bahwa kita bersekolah itu untuk mengenyam pendidikan dan memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Bahkan masyarakat sendiri seakan-akan tidak menyadari bahwa mereka mereka bisa menjadi orang suksespun karena diuji karena dievaluasi sejauh mana materi sudah terserap.

Para penolak ujian nasional tidak menyadari bahwa mereka sukses menjadi seorang intelek atau pejabat pun berawal dari sekolah dan pernah diuji. Bukannya mendukung ujian nasional tapi justru merendahkan program pemerintah ini dengan teori-teori pembodohan yang menunjukkan dirinya sangat-sangat bodoh. Mereka mengeneralisasi bahwa gara-gara ujian anak-anak jadi stress padahal faktanya bukan karena ujian anak-anak menjadi stress. Tapi awal stress anak karena tidak siap mengikuti ujian.

Kenapa mereka tidak siap? karena selama mengenyam pendidikan mereka sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk ujian nasional. Soal-soal ujian nasional seringkali tidak sesuai dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah. Bahkan adapula mereka tidak siap karena sekolah sama sekali tidak mengikuti aturan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Seakan-akan lembaga pendidikan sebagai ajang menjadi penghasilan dan uang proyek tapi kering dari isi dan prestasi.

Mereka berlomba-lomba membuat lembaga pendidikan, tapi di dalamnya tidak menjadi sarana mendidik sesuai dengan apa yang akan diujikan bagi mereka. Dampaknya mereka belajar pun seringkali malas-malasan ditambah lagi para guru yang tidak kompeten serta sarana dan prasarana belajar yang tidak berstandar. Wajar saja semua itu menjadi awal gagalnya anak menempuh ujian. Padahal sepatutnya soal-soal dalam ujian nasional sudah sesuai dengan kurikulum yang diajarkan di sekolah. Nah, jika ternyata siswa gagap melihat soal ujian nasional berarti ada yang salah dari keduanya. Apakah sekolah tersebut tidak bermutu atau soal ujian nasional yang kelewat susah yang tidak mampu diselesaikan oleh siswa?

Jika benar sekolah tersebut tidak bermutu dengan mengesampingkan proses pendidikannya di sekolah maka sepatutnya sekolahpun dievaluasi bagaimana kinerja personil sekolah apakah sudah sesuai dengan standar nasional atau tidak. Jika persoalannya karena perangkat pendidikan dan sarana prasarana yang tidak bermutu maka tanggung jawab pemerintah untuk mencukupi kebutuhan sekolah, tanpa terkecuali.’

Namun jika persoalannya karena soal ujian yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan berarti BSNP yang mesti diinvestigasi jangan-jangan mereka hanya mengcopy soal-soal standar negara lain tanpa melihat kondisi faktual pendidikan di Indonesia. Sebuah ironi jika BSNP yang bertanggung jawab menyusun kurikulum dan perangkat ujian nasional mesti salah dalam memberikan soal ujian. Soal-soal dianggap terlalu tinggi dan para siswa sama sekali tidak pernah mengenal format soal. Dampaknya ada seorang yang berprestasi ternyata nilainya malah jeblog. Wajar karena soal-soal yang diujikan tidak sesuai dengan kurikulum.

Kualitas Pendidikan ditunjang Kelengkapan Sarana Prasarana Pendidikan

Jika menelaah betapa saat ini sebuah kejadian dianggap sebagai representasi dari dampak adanya ujian nasional, maka sepatutnya kita melihat kondisi riil bangsa Indonesia. Kita seringkali menyalahkan ujian nasional tapi kita sendiri tidak pernah menilai bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia. Bagaimana sebuah lembaga pendidikan dan kelengkapan sarana dan prasarana di dalamnya. Serta bagaimana peran orang tua dalam mendukung pendidikan anak-anaknya.

Karena bagaimanapun ujian nasional tak perlu menjadi momok apabila para siswa sudah mendapatkan materi sesuai dengan kebutuhan mereka, mereka merasakan pendidikan sebagai sarana belajar yang tidak menyesakkan, mereka bebas berekspresi ditunjang komunikasi yang baik antara para guru dan siswa-siswanya. Nah, jika ternyata sarana prasarana sudah mencukupi, guru-guru sudah profesional, kurikulum sudah sesuai dengan yang hendak diujikan, serta komunikasi yang baik antara guru, siswa dan orang tua juga sudah baik. Maka tak perlu lagi mempermasalahkan ujian nasional.

Ujian nasional hakekatnya satu dari beberapa komponen keberhasilan sebuah studi, karena dengan ujian nasional semua peserta didik di seluruh penjuru Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama tanpa perbedaan. Antara sekolah kota dan di kampung sarana dan prasarannya pun sepatutnya tidak ada perbedaan agar kualitas SDM di Indonesia tidak berbeda antara di wilayah perkotaan dan perdesaan. Dampak positifnya setiap warga negara di manapun mereka berada mereka akan mendapatkan pendidikan yang sama, kurikulum yang sama, kualitas yang sama dan kebijakan pendidikan yang sama pula tanpa membeda-bedakan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.

Dampak jika Ujian Nasional ditiadakan

Sekali lagi ujian nasional ya untuk menguji, apakah si anak lulus apa belum dan mengetahui sejauh mana materi sudah diserap siswa. Jadi ujian nasional akan benar-benar bermanfaat jika diikuti beberapa komponen yang menyertainya sebagaimana pembahasan di atas.

Terlepas dari pelanggaran hukum karena korupsi proyek ujian nasional, semua sudah menjadi kewenangan KPK untuk mengusut kasus korupsi tinggal dibuat prosedur penyelenggaraannya agar tidak memberikan ruang untuk melakukan korupsi.

Kembali pada persoalan jika Ujian Nasional tidak diadakan, maka dampaknya para siswa semakin merasakan kebebasan yang berlebihan, euphoria karena tidak ada ujian. Dampaknya lagi para siswa ini tidak akan tertuntut untuk belajar lebih giat, karena mereka merasa tak akan diuji dan pasti lulus meski mereka tidak mengerjakan soal ujian dari pemerintah. Mereka akan bersekolah dengan semaunya, dan menjadikan sekolah sebagai tempat kongkow-kongkow yang minim prestasi.

Sulitnya pemerintah menata arah kebijakan terkait pendidikan, karena sekolah sendiri mengelola sistem pendidikan semau-maunya, tanpa ada kontrol pemerintah. Tentu saja bagi sekolah yang sudah kadung disiplin dan berprestasi ada atau tidak adanya ujian nasional tidak akan menjadi persoalan, toh sekolah mereka sudah modern dan berkualitas. Tapi bagaimana dengan sekolah yang tidak disiplin dan guru-gurunya tidak profesional? Justru tidak adanya ujian nasional semakin menjerumuskan siswa-siswa di sekolah model ini ke pada situasi tak tentu arah. Mereka mendidik siswanya semau gue, karena tak tertuntut adanya evaluasi yang disamakan. Padahal status pendidikan hakekatnya sama, baik dari sarana prasaraan, guru, kurikulum pun sepatutnya tidak dibeda-bedakan. Jadi prestasi semua sekolah pun akan merata tidak dibeda-bedakan.

Meskipun terkadang prestasi amat beragam, tapi adanya kurikulum nasional tersebut memberikan kesempatan yang sama di pelosok negeri untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang sama tanpa terkecuali. Jangan karena di kota mendapatkan perlakuan yang istimewa sedangkan di kampung seperti tidak difikirkan. Seperti yang terjadi saat ini.

Akhir kata, Ujian Nasional bukanlah momok yang harus ditakuti jika semua perangkat pendidikan berjalan harmonis dan dinamis. Lulus dan tidak lulus pun sepatutnya bukan untuk menjustifikasi bahwa siswa tersebut tidak layak mendapat pekerjaan. Karena suksesnya bangsa inipun tak terlepas dari perhatian pemerintah terhadap kemampuan mendidik warganya agar mandiri, dan berbudi pekerti yang luhur serta memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa.

Salam

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana.com
url : 

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info




Sabtu, 12 Januari 2013

Perubahan Kurikulum antara Kebutuhan dan Kesiapan

Belum lama ini, telah dipublikasikan beberapa informasi yang berkaitan dengan akan dirombaknya kurikulum lama dengan kurikulum baru yakni kurikulum tahun 2013. Dengan informasi ini, tentu saja sebagian besar pelaksana pendidikan khususnya guru menjadi shock atau gagap dengan informasi tersebut. Di tambah kurang jelasnya informasi yang mestinya diperoleh guru disebabkan karena informasi tersebut banyak diperoleh dari media internet yang terkadang mungkin pihak yang menyampaikan berita tersebut tidak secara jelas dan rinci sehingga keakuratan informasi belum bisa dipertanggung jawabkan. Persoalan inilah yang menjadi awal pemahaman yang simpang siur antara guru yang satu dengan guru yang lain.

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!