Tampilkan postingan dengan label sampah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sampah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2020

Cerpen : Wajah Kotoran Kita

Sampah di sekitar kita (pikiran-rakyat.com)


 Cerpen: Wajah Kotoran Kita

Penulis: M. Ali Amiruddin


Pagi ini begitu cerahnya. Sang surya tersenyum ramah, membagikan kehangatan pada semua yang berlalu-lalang, tidak hanya manusia yang begitu bersemangat menikmati sejuknya pagi ini, ternak pun merasakan hal yang sama, “alhamdulillah aku bisa menikmati rumput nan hijau di pagi ini. Bisa mengganjal perutku yang kosong.” Para sapi seolah-olah mengungkapkan segenap rasa bahagia, lantaran rerumputan di pemangatan awah itu masih bebas bertumbuh di sana.

Rumput yang berpelukan dengan sisa-sisa batang padi yang memang ditinggalkan sejengkal dari tanah, ternyata menumbuhkan tunas menghijau yang menggoda para peternak dan sapi-sapinya.

Segerombolan sapi asik menapak kaki di jalanan desaku. Jalanan yang berwarna gelap karena dilapisi aspal itu nampak ramai dengan sapi  yang hendak menuju tempat pemancangan. Sedangkan di depannya beberapa pemilik sapi menuntun di depannya, sedangkan para gudel (anakan sapi) beriringan di belakang induknya.

Ternak-ternak mulai menggeliat dan menuju tempat ia dipancangkan. Para pemilik ternak asik memegang tambang besar itu menuju ke salah satu petak sawah. Hijaunya rerumputan di sana memancing sapi-sapi untuk menikmati surga di sana. Surga bagi sapi dan bagi pemiliknya.

Ujang melangkah penuh semangat menuntun sapi-sapinya, senyumnya yang sumringah seolah-olah menunjukkan betapa pagi ini sungguh membahagiakan.

Dalam suasana cerah itu, aku sengaja berlari-lari kecil di sepanjang jalan desa. Pagi itu memang belum ada yang berlari-lari kecil sepertiku. Hanya pengendara sepeda yang sepertinya menikmati olahraganya. Peluh sedikit demi sedikit membasahi kaos yang aku kenakan.

Napas masih memburu dan tubuh ini mulai merasa segar.

Sebenarnya aku berharap ada yang juga berlari, ya anggap saja ada teman ngobrol di jalanan, sambil menikmati indahnya persawahan di sana. Meskipun sawah-sawah sudah tidak ada lagi hamparan padi lantaran panen, paling tidak junjungan pematang-pematan sawah ini menambah kesan indah dengan berlatar belakang pepohonan nan hijau.

Tak sengaja mataku melihat wanita berusia senja yang membuang sampah ke ledeng. Tanpa rasa bersalah, dia melemparkan begitu saja sisa-sisa dapur bercampur dengan plastik wadah makanan. Pemandangan yang sungguh tidak nyaman untuk dilihat. Kudekati wanita itu.

“Maaf, Nek. Kenapa membuang sampah di ledeng? Tanyaku sambil melihat sang nenek membawa wadah yang tadi untuk membawa sampah.

“Nenek apa memang nggak ada yang mengingatkan,  kalau sampah itu merusak lingkungan?” Mataku masih menatap si nenek dengan tajam. Sedangkan wanita itu memicingkan mata. Wajahnya menampakkan dirinya yang tak mau dilarang-larang. Ia tak mau diusik.

“Kamu tahu apa, kog nglarang-larang nenek? Kamu siapa sih sok kayak pejabat aja.” Nenek berbicara ketus.

“Waduh, Nek. Kalau begini caranya bisa banjir, nih? Gumamku. Wajah nenek masih terlihat marah lantaran aku ingatkan.

“Nek, akibat sampah yang nenek buang itu akan mengotori air kita. Saluran di bawah lama-lama tersumbat. Dan akibatnya nenek kan juga tahu??” Kataku sambil mengingatkan, mungkin saja sang nenek sudah agak berkurang ingatannya. Maklum usianya juga mulai uzur.

Entah mengapa, sang nenek justru berpaling dariku pergi begitu saja. Aku heran, kenapa kebiasaan jelek ini bisa dilakukan.  Apa memang nenek ini terbiasa membuang sampah sembarangan? Tidak tahu pasti. Tapi banyak orang yang aku temui memiliki kebiasaan buruk dan tak layak ditiru.

Aku kembali meneruskan olahraga pagi ini, hingga beberapa menit berlalu, tubuh sudah bermandikan peluh. Tak terasa rasa lelah melanda. Aku kembali ke rumah dengan tubuh yang basah. Tapi, nggak apa-apa, bagiku olahraga ini menyenangkan. Meskipun tadi nampak membuat aku kecewa. Seorang nenek yang seharusnya memberi teladan yang baik, nyatanya sikapnya tidak layak ditiru.

Kulangkahkan kaki perlahan. Aku lihat seonggok berambut ada di sisi tembok pagar tetanggaku. Ku pungut dan kumasukkan ke dalam polybag tanaman obat di sana. Ada kunyit, kencur dan jahe. Ada pula lengkuas yang juga tumbuh lebat di sana. Ambil segenggam demi genggam, ku isi polybag itu agar tanaman-tanaman yang aku pelihara menjadi lebih subur.

“Sungguh nyaman suasana pagi ini,” kataku sambil menikmati kudapan jajanan di pagi hari selepas melemaskan otot-otot yang tegang karena kelamaan duduk. Kopi susu masih teronggok di meja tamu yang isinya tidak sedikit. Kutegguk dan kembali aku lanjutkan kegiatan di pagi ini.

“Mau angon pak?” tanyaku.

“Iya, Pak.” Jawab penuntun sapi itu dengan santai sambil tangannya tetap menuntut sapi-sapinya. Ia tersenyum sekedarnya.

Tak seberapa lama, tiba-tiba beberapa sampinya mengeluarkan kotoran yang baunya cukup menyengat dan berceceran di jalanan yang aku lalui yang mengganggu orang-orang yang hendak melewati jalanan itu. Segenap mata tertarik untuk mengamati pemandangan yang tidak menyenangkan itu.

“Pak, sapinya membuang kotoran sembarangan ya? Tanyaku sambil tertawa ngekek.

“La iya to, Pak, namanya sapi yang sembarangan. Kalau sapi bisa buang air di toilet, tentu bukan sapi lagi tapi manusia.”

“Tapi banyak juga manusia yang membuang kotoran di jalanan ya, Pak? Sampah-sampah yang seharusnya di buang di tempat sampah, ternyata dibuang diselokan, jalanan, di taman-taman dan di mana menemukan tempat yang dianggap layak untuk membuang kotoran. Padahal tempat itu akan penuh dengan sampah dan mengganggu pemandangan. Selain itu kan pasti mengganggu kesehatan karena akan membusuk dan menjadi tempat hinggap lalat-lalat.”

Mpok Ijem  itu kalau membuang sampah malah di ledeng. Padahal kita tahu nantinya sampah akan menyumbat salurannya. Saya bisa membayangkan kalau sampah itu menumpuk, maka saluran bagian hilir akan tersumbat. Apa yang terjadi kalau tersumbat? Pasti banjir di mana-mana.

Aku nggak habis pikir kenapa banyak yang nggak peduli dengan kesehatan lingkungan, seolah-olah ledeng itu adalah tempat sampah yang paling aman. Gak perlu mengangkut ke TPS, tinggal lempar dan sampah pun hanyut.

 “Iya Pak,” kata pria itu. Sambil terus melaju. Sedangkan kotoran sapinya tetap tercecer di jalanan dan semakin lama menipis karena dilindas ban kendaraan.”

Beberapa motor mengurangi laju kendaraannya. Melewati tumpukan kotoran itu dengan perlahan-lahan takut roda kendaraannya melindas kotoran itu.

Pemandangan yang aneka warna, antara orang-orang yang tak lagi peduli dengan kebersihan kampung dan kerusakan alam. Orang-orang yang terlalu memikirkan betapa mudahnya membuang kotoran di sekitar, tanpa memikirkan akibatnya. Sama seperti mulut-mulut kita, yang begitu mudahnya membuang kotoran di media sosial, seakan-akan semuanya tidak ada efeknya bagi orang-orangnya yang mendengarnya.

Yang penting, aku tak mau jadi seperti sapi-sapi itu, yang tak tahu malu menunjukkan ketidak mengertiannya dengan membuang kotoran di jalanan. Malu jika disamakan dengan sapi-sapi itu. Malu dengan anak cucuku nanti.

 

Selasa, 08 April 2014

Di Tangan Penyandang Disabilitas, Sampah Gelas Plastik Minuman pun Berguna



Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag

Perlu menjadikan maklum, bahwa anak-anak penyandang disbilitas hakekatnya mempunyai banyak kekurangan. Bahkan jika dilihat dari keseluruhan diri si anak, kebanyakan mereka tidak hanya pemikiran yang mengalami ketermbatan berfikir, karena secara fisikpun mereka sangat jauh berbeda dari saudara-saudaranya yang tidak mengalami kekuarangan yang sama.
Tapi tahukah Anda bahwa sebesar apapun perbedaan dan kekurangan yang dimiliki anak-anak ini, hakekatnya mereka tentulah makhluk Tuhan yang berhak hidup dan berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Tidak hanya anak-anak berprestasi saja yang bisa berbuat positif daripada sekedar mengeluh atas kelemahan yang dimiliki, karena di balik itu mereka dipenuhi segudang prestasi dan kemampuan yang dapat dikelola dan dibina agar benar-benar berdaya guna
.
Melihat fenomena anak-anak penyandang disabilitas, terkhusus pada anak-anak tuna grahita. Seringkali anak-anak ini menjadi tersisih dan terasing dari dunianya. Mereka seperti tidak mendapatkan tempat yang sama ketika bergaul dengan lingkungan. Dan ada pula di antara mereka yang harus membuang seluruh hidupnya dalam pengasingan.

Sebagaimana ditegaskan di atas, bahwa dengan berkarya maka anak-anak penyandang disabilitas mereka menjadi ada. Menjadi topik tulisan yang hendak saya tuangkan dalam tulisan ini.
Anak-anak penyandang disabilitas (kehilangan kemampuan) hakekatnya tidak semerta-merta mereka tak memiliki kemampuan apa-apa. Karena meskipun mereka memiliki tingkat intelegensi yang rendah, fisik yang tak sewajarnya serta kelemahan dalam komunikasi dengan sesamanya, namun hakekatnya mereka masih bisa dibina dan dibimbing dengan kegiatan yang bermanfaat.

Sebagaimana pula siswa-siswa SLB Negeri Metro ini, di saat kegiatan keterampilan, mereka selalu mendapatkan bimbingan kegiatan yang sangat bermanfaat. Tidak hanya dinilai dari hasil karyanya, tapi lebih dari itu ternyata dengan bimbingan dan kegiatan keterampilan menjadikan anak-anak inimenjadi tumbuh sedikit-demi sedikit menjadi anak-anak yang berkembang. Baik perkembangan fisik, maupun rohani. Perkembangan motori halus maupun motorik kasar. Semua terangkum dalam segenap aktifitas yang bermanfaat.


Salah satu kegiatan yang kami ajarakan adalah bagaimana memanfaatkan sampah dari gelas plastik minuman yang  biasanya hanya dibuang di tempat sampah. Tapi karena kreasi mereka, sampah-sampah yang mengganggu lingkungan inipun disulap menjadi hiasan yang sangat bermanfaat. 
Kegiatan pemanfaat gelas pastik minuman ini difokuskan pada pembuatan bunga-bunga yang benar-benar dihasilkan dari sampah ini. Dengan aneka trik dan cara pemotongan serta menyusunan yang baik, bunga-bunga itupun tercipta. Sebuah karya yang menarik untuk dijadikan 
pelengkap di meja sudut.

Tak hanya berbentuk menjadi bunga-bunga, gelas-gelas plastik itupun dibentuk menjadi tirai (penutup) jendela yang dibuat seperti makhkota bunga. Kadang dibuat seperti motif bintang yang disusun memanjang. Selain sedikit memberikan batas agar jendela tersebut tidak terlalu bebas terbuka. Selain itu menambah apik dan menambah penampilan ruangan yang lebih atraktif.

Setiap hari kami menjadikan benda-benda sisa tersebut menjadi benda-benda yang bermanfaat dan penghias ruang kelas. Bahkan tidak hanya menghiasi ruang kelas karena ada pula yang dapat dibuat menjadi penutup kue-kue yang dibuat sangat menarik.

Meski proses untuk menjadi satu tangkai bunga maupun tirai tidak semudah membalikkan tangan, akibat karena sulitnya mereka berkonsentrasi dan kelemahan intelegensi di tambahlagi secara fisik pun mereka mengalami kekurangan.

Namun demikian, meski dalam kekurangan tidak menghambat usaha kami untuk memberikan semangat untuk menggerakkan tangan-tangan demi sebuah karya yang berguna.
Semoga dengan karya yang sangat sederhana ini, perkembangan motorik anak semakin baik dan semakin membekali mereka dengan keterampilan membuat kerajinan tangan.
Salam

divine-music.info

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!