Tampilkan postingan dengan label m. ali amiruddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label m. ali amiruddin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2024

Meriahnya Pentas Seni dan Gelar Karya di SLB Negeri Metro

 

Gambar : Pembukaan Pentas Seni dan Gelar Karya pada Kelulusan Siswa SLBN Metro, 12 Juni 2024


"Dunia selalu tampak lebih cerah ketika Anda baru saja membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada." - Neil Gaiman,  "Kreativitas sama pentingnya dengan literasi." - Ken Robinson 


Dua kalimat motivasi di atas yang juga menjadi inspirasi dan motivasi siapa saja yang ingin meningkatkan pendidikan anak-anak, karena dari merekalah peradaban manusia itu akan diwujudkan. 

Yap, itulah pengantar dari sebuah catatan positif ketika kami mengadakan sebuah acara yang dilaksanakan setahun sekali di sekolah kami SLB Negeri Metro.  

Di hari Rabu, 12 Juni 2024 lalu, perhelatan yang direncanakan jauh-jauh hari alhamdulillah dapat terlaksana dengan sangat baik dan mendapatkan apresiasi dari wali murid.

Kegiatan tersebut adalah Pentas Seni dan Gelar Karya dalam rangka kelulusan siswa kelas 6, 9 dan 12. Merupakan agenda tahunan yang berawal dari hasil rapat bersama pihak sekolah, komite dan wali murid dengan dukungan masyarakat sekitar. 

Dengan musyawarah yang cukup antusias maka acara kelulusan tersebut pun berlangsung dengan meriah dan menampilkan hasil karya serta pentas seni dari murid-murid yang memang ingin dan mau menampilkan karya seni mereka.

Ada beragam persoalan yang awalnya muncul dalam rapat terkait bagaimana bentuk kegiatannya, namun dengan musyawarah bersama, kesepakatan pun terjadi dan semua wali murid sangat mendukung penuh kegiatan tersebut.

Salah satu penampilan anak-anak SLBN Metro (doc. pribadi)

Pentas Seni dan Gelar Karya, meningkatkan dukungan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya

Pentas seni dan gelar karya ini sejatinya kali kedua dilaksanakan di SLB Negeri Metro, di tahun sebelumnya kami pun menyelenggarakan kegiatan yang sama, namun dengan format yang seadanya. Hal tersebut karena kurang adanya pelibatan wali murid dalam kegiatannya. Wali murid awalnya kurang begitu mengetahui manfaat dari kegiatan Pentas Seni dan Gelar karya bagi murid-murid. Sehingga kegiatan tersebut terlaksana dengan meriah meskipun masih kurang variatif.

Sesi foto sebelum anak-anka tampil (doc. pribadi)

Gambar penampilan anak-anak (doc. pribadi)

Sedangkan di tahun ini, semua elemen sekolah, komite serta wali murid dan anak-anak turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Seperti bagaimana menyusun perencanaan kegiatan, mengakomodir gagasan yang diberikan ke pihak sekolah, serta menampung segala masukan yang bermanfaat dari pihak mana pun. 

Pada hakikatnya kegiatan ini murni hajat wali murid yang ingin mengapresiasi dan menunjukkan kebahagiaan mereka ketika anak-anak mereka telah menyelesaikan pendidikan di setiap jenjangnya. Sekolah adalah fasilitator dan mendukung sepenuhnya kegiatan yang ada agar berimplikasi pada peserta didik. Bahkan karena kegiatan ini, diharapkan motivasi dari murid dan wali murid semakin meningkat.

Sesi tampilan anak-anak SLBN Metro (Doc. pribadi)

Hal tersebut adalah sebuah manifestasi dari kegiatan sekolah yang merujuk pada Kurikulum Nasional yang mana salah satu penerapannya adalah melibatkan semua elemen masyarakat dalam mendukung kegiatan sekolah.

Dengan adalah kolaborasi dari semua warga sekolah, murid dan wali murid tentu merupakan implementasi dari manajemen sekolah berbasis aset. Warga sekolah, wali murid dan pihak lain yang mendukung kegiatan tersebut merupakan wujud dari optimalisasi pemafaatan aset di sekolah dan masyarakat, sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.

Karya murid-murid SLBN Metro (doc. pribadi)

Meningkatkan partisipasi murid dalam kegiatan

Betapa senang dan bangganya ketika menyaksikan anak-anak mau menunjukkan bakat dan kemampuan mereka dalam bidang seni. Ada beberapa seni tari kreasi dan tari budaya dari Lampung yang mereka tampilkan, yang semua itu adalah manifestasi dari olah kreativitas anak-anak berkebutuhan khusus yang ingin menunjukkan kemampuannya di hadapan semua orang. 

Keberanian anak-anak menunjukkan bakat mereka tentu merupakan capaian pembelajaran di sekolah, di mana salah satu kesuksesan pendidikan adalah kemandirian anak serta kemampuan anak menunjukkan kreativitas dan keberanian tampil di hadapan umum. Tentu saja ini sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, yaitu : Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Gotong royong, Mandiri dan Bernalar Kritis. Semua itu terwujud dalam kolaborasi dari kegiatan ini.

Sumber doc. pribadi

Memang, setiap anak belum semua berkesempatan menampilkan kreativitas mereka, tapi paling tidak setiap anak turut serta mendukung dan menikmati setiap bagian kegiatan dengan rasa bahagia.

Sejak mereka memasuki dunia pendidikan, tentu ada peningkatan dari tiap jenjang pendidikannya. Baik dari yang bersifat sederhana sampai yang begitu kompleks ketika menduduki tingkatan SMA. Itu semua bisa diamati dan dinilai oleh siapa pun. 

Semua anak menunjukkan peningkatan potensi yang dimiliki dan menunjukkan bakatnya masing-masing, yang boleh jadi bagi sebagian orang dianggap mustahil. Tapi inilah anak-anak istimewa dengan segudang potensi yang dimilikinya. Ketika orang tua telah mengarahkan pendidikannya, maka guru menuntun tumbuh kembang anak-anak ketingkat terbaiknya. 

Ki Hajar Dewantara pernah berkata bahwa pendidikan itu menuntun tumbuh kembang murid sesuai dengan kodratnya, baik kodrat alam maupun zamannya agar mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.

Pemberian sambutan ketua panitia (dok. pribadi)

Perwakilan wali murid tengah memberikan sambutan (doc. pribadi)

Hal ini disampaikan pula dalam sambutan dari Ketua Panitia, Plt. Kepala Sekolah dan perwakilan wali murid, di mana disampaikan bahwa ada banyak kemajuan yang dimiliki anak-anak. Dan karena didikan yang tulus dan sabar dari guru-gurunya maka anak-anak istimewa ini dapat berkembang derajat kemampuannya secara optimal sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki. 

Bahkan perwakilan wali murid pun menyampaikan perasaan haru atas pencapaian kemampuan dari anak-anak didik di sekolah ini.

Sekolah mempunyai kewajiban memberikan layanan dan fasilitas terbaiknya bagi perjalanan pendidikan dan latihan anak-anak didiknya, sedangkan guru memfasilitasi belajar para anak didiknya sedangkan wali murid dan masyarakat sekitar adalah mendukung anak-anak agar terus belajar dan meningkatkan potensi terbaiknya. 

Plt. Kepala SLB Negeri Metro tengah memberikan sambutan (doc. pribadi)

Pada akhirnya, Pentas Seni dan Gelar Karya ini adalah sebagian dari wujud implementasi kurikulum merdeka dan implementasi pendidikan yang berpusat dan berpihak pada murid. 

Muridlah yang menciptakan beragam jenis kegiatan, dan merekalah yang terus didorong menjadi pihak yang bisa menyukseskan kegiatan tersebut dengan menunjukkan skill dan kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam sebuah pergelaran di sekolah dengan dukungan semua pihak.

Semoga di tahun depan, kegiatan ini bisa terlaksana dengan lebih meriah dan tentu saja membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Seperti kata-kata motivasi di awal tulisan ini, bahwa dengan kehadiran kita dalam berkreasi dan berkreativitas, akan menciptakan dunia yang lebih cerah dan kemampuan dalam kreativitas sama pentingnya dengan literasi.

Salam

Metro, 13 Juni 2024

Lulus Sekolah Adalah Akhir Segalanya, Benarkah?

Gambar : Plt. Kepala SLBN Metro, Murid dan Guru Kelas tengah berfoto bersama (doc. pribadi)


Kita mungkin pernah berpikir bahwa lulus sekolah adalah akhir segala-galanya. Atau mungkin menganggap bahwa dengan kelulusan tersebut  maka masalah kehidupan telah selesai. Sungguh ini adalah penilaian yang kurang tepat ya?

Yap, ketika kita menduga bahwa berakhirnya masa pendidikan adalah akhir sebuah perjalanan menuntut ilmu, ternyata pendapat ini tidak semuanya benar. Mengapa? Karena persoalan-persoalan ketika bersekolah pastilah akan ditemukan lagi pasca menyelesaikan pendidikannya. 

Hal tersebut dimulai dari seperti persoalan apakah nanti setelah lulus sekolah akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi? Atau ingin mengakhiri pendidikan dan mulai bekerja? Atau banyak fakta yang kurang enak dirasakan oleh lulusan SMA misalnya, ketika mereka terpaksa atau dituntut untuk segera menikah, baik karena dijodohkan atau tuntutan dan kondisi kehidupan keluarga yang kurang beruntung.

Beberapa pilihan yang boleh jadi "rumit" ini memang selalu saja terjadi, kita sebagai generasi tua pun pernah mengalami gejolak dan fenomena konflik batin. Apakah meneruskan pendidikan, putus sekolah dan mencari pekerjaan, atau "terpaksa" menikah karena dorongan dari orang tua.

Dari ketiga persoalan itu tidak mudah diurai masalahnya dan tidak sulit pula untuk dicarikan jalan tengahnya.

Namun dari tulisan ini adalah sekedar ingin menggali, apakah dengan lulus dari pendidikan dengan serta merta lepas dari tanggung jawab atau kewajiban sebagai manusia yang harus belajar sepanjang hayat dan menghadapi persoalan lain dalam kehidupannya?

Pertanyaan tersebut tentu saja bermula dari masalah diantaranya karena banyak anak yang terkadang kurang mampu memutuskan apakah ingin melanjutkan pendidikan atau justru stop dan mengakhiri proses pendidikannya dengan mencari pekerjaan.

Persoalannya sebenarnya ada dua hal:

Pertama, bagi anak-anak yang berprestasi sejatinya pemerintah telah memberikan bantuan bagi murid yang kurang mampu secara ekonomi berupa PIP (Program Indonesia Pintar). 

Program ini sejatinya sangat membantu bagi murid-murid yang ingin melanjutkan program pendidikannya di perguruan tinggi. Dengan prestasi yang dimiliki ranking di sekolahnya, mereka lebih berkesempatan mendapatkan beasiswa atau keringanan biaya pendidikan. Maka tak sedikit anak-anak kurang mampu yang mampu melanjutkan belajarnya sampai ke perguruan tinggi. Kesempatan emas jika mereka adalah murid yang berprestasi. 

Nah, bagaimana dengan murid yang kurang berprestasi atau kemampuannya rendah, tentu berharap mendapatkan kesempatan di sekolah negeri juga harus berpikir dua kali. Meskipun saat ini sistem penerimaan sekolah berdasarkan zonasi, namun tingkat kemampuan anak cukup menjadi persoalan tersendiri bagi anak-anak dalam melanjutkan pendidikan.

Sehingga bagi anak-anak yang "pintar", memiliki banyak peluang menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya. Tidak sedikit di antara mereka bisa menempuh pendidikan sampai S-3 di luar negeri, meskipun kehidupan keluarganya hanyalah pekerja dengan penghasilan yang amat minim.

Berbeda sekali dengan anak-anak yang kurang kemampuannya, dan motivasi belajarnya juga amat lemah. Hal  ini tentu menjadi kendala untuk bisa melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Anak-anak yang tidak begitu mampu memperoleh prestasi akademik, solusinya adalah mendapatkan kursus gratis dari pemerintah yang juga saat ini telah diberikan pada anak-anak putus sekolah atau anak-anak lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Balai Latihan Kerja (BLK) memberikan kesempatan mendapatkan beragam keterampilan yang dibutuhkan.

Namun, bagi yang tidak mau sama sekali melanjutkan pendidikan meskipun keluarga mereka berada, maka solusinya adalah membuka usaha swasta sebagai petani, pedagang atau justru bekerja sebagai wirausaha mandiri atau sebagai pekerja swasta baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI/TKW). Ada banyak negara yang menampung keahlian mereka dengan gaji yang cukup menggiurkan. 

Persoalan kedua adalah ketika anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA ini tidak memiliki dorongan internal, orang tua pun tak memiliki biaya cukup untuk menyekolahkan anaknya dan rerata keluarga ini telah pasrah dengan keadaan. Solusinya adalah mereka akan bekerja di sektor non formal dengan sedikit kemampuan dengan penghasilan yang kurang layak, bahkan jika mereka adalah perempuan, banyak di antara mereka yang harus segera dinikahkan di usia yang cukup dini.

Hal ini mungkin dimaksudkan untuk mengurangi beban keluarga. Tentu saja karena dengan menikahkan anak-anaknya, akan membuka kesempatan mereka untuk mandiri dan mulai mengurus keluarga. Meskipun faktanya banyak pernikahan di usia dini yang justru menjadi beban keluarga dan masyarakat. Bahkan ada di antara mereka yang mengalami perceraian.

Lulus sekolah adalah muncul masalah yang lebih besar jika tidak memiliki keterampilan

Mengapa dapa dikatakan bahwa lulus sekolah itu justru akan menimbulkan masalah baru, jika para lulusannya tidak memiliki keterampilan? Sebab jika ingin mendapatkan penghasilan yang layak, kemampuan atau skill tertentu harus dimiliki lulusan SMA ini. 

Berbeda dengan para lulusan SMK atau SLB dengan program keterampilan, lebih menjanjikan skill yang bisa mereka manfaatkan dalam membuat lapangan pekerjaan atau mencari pekerjaan berbasis jasa. 

Seperti misalnya jasa servis kendaraan, menjahit, pertukangan, atau produk tata boga, batik, souvenir dan sebagainya. Program ini jika dilihat dari sisi kebutuhan masyarakat tidak ada matinya atau berlangsung lama dan bermanfaat sepanjang kehidupan asalkan didukung oleh keterampilan menyikapi kebutuhan produksi dan pemasarannya.

Bagaimana saat ini sekolah-sekolah kejuruan dan Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah khusus telah memberikan beragam keterampilan yang dibimbing oleh guru-guru dan pelatih yang profesional dengan sertifikat atau ijazah keterampilan yang sesuai dengan bidang tugasnya.

Para guru ini secara langsung telah mempersiapkan murid-muridnya agar menjadi insan yang mandiri dan siap menghadapi kemajuan zaman dan bersaing dalam usaha dengan masyarakat lainnya. Tinggal apakah keberadaan mereka tetap mendapatkan dukungan dari orang tua, lingkungan atau pemerintah dan dunia usaha. 

Jika dukungan ini terus ada kita akan terus bisa berharap kesempatan para lulusannya untuk mendapatkan kehidupan lebih baik pasti di depan mata.

Sebaliknya jika para lulusan ini tidak mempunyai akses-akses keterampilan dan kesiapan skill, tentu menjadi masalah serius. 

Jika mereka melanjutkan ke perguruan tinggi pun nanti akan berhadapan dengan persoalan pekerjaan atau bagaimana membuka lapangan kerja dengan penghasilan yang layak. 

Paling tidak jika mereka bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dengan spesifikasi yang sesuai dengan dunia kerja, mereka bisa bersaing dengan perusahaan pemerintah (BUMN), mendaftar jadi ASN baik PNS maupun P3K atau perusahaan swasta.

Dukungan Sektor Usaha Swasta dan Pemerintah adalah yang paling dibutuhkan

Kembali pada persoalan bagaimana mereka menjalani kehidupan setelah lulus sekolah seperti paparan di awal tulisan ini, tentu kita akan membutuhkan beberapa solusi, baik dari pemerintah maupun swasta.

Pertama, berikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja baik di sektor formal, nonformal maupun informal yang ada di lingkungannya. 

Hal ini sedikit banyak memberikan peluang bagi lulusannya untuk terus berdikari dan berkegiatan secara produktif demi masa depan yang lebih baik. 

Bisa saja mereka turut bekerja di sektor konstruksi meskipun skill yang minim, namun yang perlu dipertimbangkan adalah besaran penghasilan yang harus layak bagi kehidupan. Selain itu fasilitas kesehatan pun semestinya tidak diabaikan.

Kedua, dukungan orang tua amatlah penting. Jika putra-putrinya adalah siswa berprestasi maka dukung untuk  terus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, karena ada program beasiswa bagi mereka yang berprestasi namun berasal dari masyarakat kurang mampu. 

Orang tua memang bisa mendorong anak-anaknya untuk menempuh pendidikan lebih tinggi, tetapi masalahnya adalah ketika UKT yang justru semakin mahal, tentu ini menjadi batu sandungan bagi mereka yang ekonominya rendah.

Ketiga, saat ini kebijakan pemerintah telah jelas bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan pekerjaan sesuai kualifikasi dan kebutuhan perusahaan. Bahkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, ada formasi 2 persen atau lebih bagi mereka yang ingin mendaftar di sektor formal. 

Sayangnya peraturan pemerintah ini tidak serta merta dijalankan oleh pemilik usaha, alasannya mereka belum bisa menyiapkan sektor mana yang harus diberikan dengan kondisi yang terbatas. Padahal ada banyak hal yang dilakukan oleh lulusan ini, baik anak-anak pada umumnya atau anak-anak berkebutuhan khusus yang kini telah memiliki keterampilan.

Keempat, berikan kesempatan pada lulusan untuk membuka usaha sendiri, baik sebagai pemilik usaha kecil-kecilan dengan bantuan dari pemerintah atau modal dengan bunga ringan yang saat ini masih sangat mereka butuhkan.

Kelima, adanya dukungan pasar dari produk-produk yang dihasilkan, karena dengan adanya pasar yang terbuka, hasil karya dari para lulusan pasti akan terserap, dan tentu saja akan memberikan kesempatan mereka mengembangkan usahanya menjadi lebih maju dengan dukungan pelatihan atau mentoring dari pemerintah agar usaha mereka bisa layak di pasaran.

Kiranya lulus sekolah bukanlah sesuatu yang menyenangkan tapi bisa juga menjanjukan. Asalkan setelah lulus dapat terus produktif dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki dan tidak hanya berpangku tangan.  Hal itu karena memang pasca lulus sekolah masih ada tantangan dan peluang yang harus terus dicari dan dikembangkan demi kehidupan masa depannya.

Jika kita sudah merasa yakin bahwa dengan lulus akan seperti apa, dan akan berbuat apa untuk masa depan, ini tentu adalah harapan orang tua, masyarakat dan negara. Karena para lulusan ini mampu menentukan masa depan mereka dengan kemampuan yang dimiliki. Salam

Kamis, 10 Maret 2022

Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu


Ilustrasi seorang guru sedang mengajar di depan murid-muridnya (dokumen pribadi)


Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu

Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag.



Pernahkah Anda membandingkan antara guru masa kini dan guru masa lampau? Atau sekedar ingin mengamati perkembangan peradaban pendidikan di era daun dengan internet saat ini? 


Jawabannya adalah ketulusan berbagi. Meskipun tidak bisa juga menjustifikasi bahwa guru lama lebih baik dan guru sekarang kurang baik. Karena dulu dan sekarang pun tergantung personalnya. Baik dan enggak adalah karakter.


Memang sih perubahan zaman dan fenomena yang melingkupinya akan selalu sama dengan yang kita alami sendiri, sebab karena minimnya pengetahuan kita akan kondisi masyarakatnya.


Sama dengan pemahaman kita bagaimana seorang pendidik yang menurut banyak orang dianggap sosok yang gak terlalu butuh sanjungan, penghargaan yang bersifat klise atau pangkat yang hanya sebagai penghias pundaknya.


Ternyata pendapat itu bisa sejalan dengan apa yang kita alami sendiri. Seseorang yang seharusnya selalu memberikan secercah cahaya kegelapan bagi orang-orang di sekitarnya ternyata banyak yang eman-eman dan menilai segalanya hanya dengan materi. Uang masih menjadi tolak ukur penghargaan atas prestasinya.


Kenapa orang berkompeten harus dermawan ilmu dan gak melulu mengejar materi? Kenapa pula keterampilan dan kemampuannya seolah-seolah barang antik dan mahal yang harus disembunyikan dan dinikmati sendiri meskipun seharusnya semua pengetahuan semestinya dibagi secara free? Bukan justru menumpuk-numpuk pengetahuan, menyimpannya dalam karya-karya penelitian, tapi kosong kebermanfaatannya.


Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kita urai saja satu persatu ya.


Kenapa orang kompeten harus dermawan ilmu?


Jawabannya semakin ilmu itu dibagi, maka ilmunya pun akan bertambah. Bukan justru semakin habis. Selayaknya pisau kalau diasah akan semakin tajam. Beda kalau disimpan, tentu akan berkarat.


Faktanya semakin tinggi ilmu seseorang tidak menjamin pula kebermanfaatannya. Banyak yang berilmu justru menyimpan ilmunya sendiri tanpa membagi pada siapa pun.


 Adakalanya cenderung protektif dan seolah-olah hanya sosok yang dianggap kompeten inilah yang harus mengetahui segala-galanya. 


Ironisnya jika ingin berbagi, banyak pula yang harus berbiaya mahal. Masih beruntung membagi meskipun tidak gratis. Sayangnya sudah tidak gratis, ilmunya pun hanya setengahnya.


Tidak salah memang yang beranggapan bahwa ilmu itu mahal. Toh, memang mencari ilmu juga waktunya lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi memiliki prinsip segalanya harus memakai uang juga saya kira kurang patut. Gak haram, tapi menurut kaca mata etika sangat kebangetan.


Dengan kata lain, untuk apa memiliki banyak pengetahuan, jika hanya milik sendiri dan dikonsumsi sendiri. Padahal ilmu pun adalah amanah yang harus ditebarkan ke khalayak. Itu menurut kacamata agama.


Kenapa pula hasil penelitian tidak berdaya guna?


Suatu ketika saya dapati sosok yang memiliki segudang pengalaman penelitian dan lomba guru berprestasi, sayangnya ketika ditanya hasil penelitian dan bagaimana mengaplikasikannya justru jawabannya negatif. Seolah-olah pengalaman itu mahal dan gak semudah itu kita membaginya. Padahal sebuah hasil penelitian sepatutnya bermanfaat pula. 


Kita memang lelah meneliti, namun kalau semua dinilai dengan materi, apa bedanya anda dengan berdagang ilmu. Semakin bagus penelitian, semakin layak dinilai mahal. Semakin bisa dipatenkan, semakin sedikit yang bisa menikmatinya.


Semua diasosiasikan ke prinsip dagang. Kalau mau dapat ilmu, maka kamu harus membayar mahal. Kalau ingin pendidikan bermutu, bayarannya juga harus gede. Bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.


Ada juga yang berprinsip, kalau mau mendapatkan ilmu, maharnya juga besar. Sampai-sampai orang lain sulit memetik buah ilmunya itu. 


Karya yang lelah dibuat hanya tersimpan di otak pemiliknya, bertumpuk-tumpuk di gudang dan dinilai sebagai aset berharga yang bisa membuat kaya. 


Uang lagi yang menjadi visi dan misi kehidupannya. Sebuah ironi bukan?


Kamis, 20 Agustus 2020

Belajar dari Bunda Kartika Affandi, Produktif di Usia Senja

 



Dr. HC. Kartika Affandi, Pelukis Wanita Indonesia (havrillay.com)



Alhamdulillah tiba-tiba ada email masuk. Saya enggak menyangka sih kalau akan mendapatkan undangan Talk Show dari Komunitas Traveller Kompasiana (Koteka). 


Acara tersebut menghadirkan tamu istimewa seorang Duta Besar Indonesia untuk Negara Jerman Bpk. Dr. Arif Havas Oegroseno.


Selain itu, ada pula Bunda Dr. HC. Kartika Affandi yang disebut sebagai sang maestro perempuan dalam bidang lukis, selaku Pembicara pada acara tersebut. 


Acara tersebut dipandu oleh Mbak Gaganawati Stegmann selaku Admin Koteka, yang saat ini juga berdomisili di Jerman.


Acara yang diadakan pada Sabtu, 15 Agustus 2020, tepat lima hari yang lalu tersebut, diikuti oleh para Kompasianer yang memang seorang Traveller, atau dalam bahasa gaulnya suka jalan-jalan. 


Nah, saya selaku peserta yang memang punya hobi yang sama, tentu tertarik dong kalau diundang dalam acara tersebut, apalagi tanpa dipungut biaya sepeserpun. 


Tentu saja acara yang seharusnya menelan waktu 1 jam dan ternyata molor 2 jam lebih tersebut, ternyata memberikan banyak pengetahuan yang sama sekali belum pernah saya dapatkan. Bahkan pada seluruh peserta yang hadir dalam Talk Show via zoom tersebut.


Dalam acara tersebut tentu saja para peserta begitu antusias untuk menyimak dan memberikan pertanyaan seputar travelling. 


Pembicaraan tidak hanya tentang travelling saja, karena pada saat itu, acara dengan tema Travel, Melukis di Usia Senja? Enjoy Aja tersebut, mengupas dengan sangat jelas bagaimana sosok yang mungkin saja sudah tidak lagi muda, harus bisa menggunakan usia tersebut pada hal-hal yang menyenangkan dan produktif.


Bunda Kartika Affandi dalam Talk Show , 15 Agustus 2020 (screenshot dok. pribadi)


Nah, Bunda Kartika Affandi memberikan beberapa wawasan bagaimana berlaku sebagai seorang traveller sekaligus bisa juga menjadi seorang pelukis. 


Meskipun saat ini para peserta (kompasianer) boleh jadi bukan pelukis, nyatanya konteks kebermanfaatan acara tersebut sangat terasa. 


Bunda Kartika selalu memberikan wejangan, "gunakan jalan-jalanmu atau travelmu dengan mengisinya pada hal lain yang bermanfaat."


Jika seorang pelukis, semestinya memanfaatkan semua yang ada di tempat tujuan sebagai wahana menuangkan ide yang realistis, bukan hanya karangan semata. 


Seandainya traveller tersebut adalah seorang penulis atau fotografer sekalipun, semestinya bisa menggunakan saat-saat yang menyenangkan dalam travelling untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.


Bunda Kartika Affandi-sebagaimana diceritakan beliau - memiliki hobi melukis sejak kecil. Boleh jadi memang mewarisi bakat dari seorang ayah yang juga seorang pelukis terkenal atau disebut juga sang Maestro Pelukis Indonesia yang dikenal di dunia Internasional, berkat gaya ekspresionis dan romantisme yang khas.


Bahkan karena begitu bakat istimewa itu lahir semenjak dini, ternyata pengalaman yang diasah sedemikian rupa di berbagai daerah selalu melahirkan sebuah karya yang fenomenal. 


Dan yang lebih istimewa lagi, beliau memang memiliki jiwa mandiri sejak kecil. Jiwa mandirinya itulah yang membentuk kemampuan dalam melukis hingga sekarang. Bahkan beliau berpesan pada semua orang, khususnya peserta, agar memiliki prinsip yang kuat dalam kehidupan. Mencintai semua hobi dan pekerjaan dengan sepenuh hati, karena itu akan melahirkan karya yang terbaik.


Kisahnya di beberapa penjuru dunia dalam pengalaman melukis


Ada beberapa kisah yang sungguh memancing motivasi kita untuk selalu mengembangkan kemampuan secara optimal, adalah ketika beliau menceritakan perjalanan sebagai seorang pelukis ketika memasuki beberapa wilayah. 


Beliau selalu ingin mengetahui seluk beluk budaya setempat yang masih asli. Bagaimana beliau mencontohkan betapa uniknya budaya di Papua, ketika para penduduk di sana yang tubuhnya dibalur dengan minyak babi hingga kulitnya mengkilat dan bagus, serta bagaimana uniknya para lelakinya ketika memakai koteka. Sebuah budaya yang patut untuk dibanggakan.


Selain di Papua, ada satu kisah di suku Aborigin, Australia yang menurutnya seorang pelancong tidak akan diperkenankan melukis. Karena notabene para penduduknya khususnya perempuan 70%-nya adalah pelukis. 


Hingga suatu ketika beliau menggunakan sebuah pecahan kaca mobil agar dapat mengamati wajah wanita suku Aborigin tersebut untuk dijadikan objek  lukisan. Di mana kebiasaan perempuan suku Aborigin yang ahli dalam melukis dengan teknik dot painting (melukis dengan dipukul-pukul), hingga dipamerkan di Amerika  Serikat dan harga lukisannya mencapai US$ 200.000 . Betapa karya yang sangat mahal bukan?


Begitu juga ketika beliau menceritakan betapa kebudayaan Kalimantan (Dayak) di mana para wanitanya memakai kupluk (topi khusus) dan telinga yang menjuntai panjang karena diberikan perhiasan. Bahkan ada pula yang menurut beliau lucu ketika ada di antara mereka yang menganggap  tinta sebagai odol. Mungkin karena belum begitu mengerti penggunaan tinta dalam proses melukis.


Dan yang lebih mengagumkan lagi bahwa beliau pernah menjadikan sapi sebagai objek lukisan. Bukan hanya mengarang bentuk sapi, tapi benar-benar terjun di kandang demi mendapatkan kesan yang sempurna dalam proses melukis. Meskipun harus mencium bau kotorannya.


Dengan kata lain, Bunda Kartika Affandi selalu melukis di mana beliau menemukan objek lukisan (on the spot), dan bukan sekedar mengarang saja. Menjadikan semua perjalanan ke berbagai daerah sebagai tempat untuk menyalurkan hobi dan kreativitasnya dengan cara yang menyenangkan. 


Meskipun usia sudah tidak lagi muda, apa yang perlu dicontoh dari beliau adalah semangat untuk tetap kreatif dan mengisi hari-hari tua dengan hal-hal yang bermanfaat, sebagaimana tema talk show tersebut.


Pesan bagi perempuan


Di akhir penuturannya, beliau memberikan pesan kepada wanita agar menjadi wanita yang mandiri. Jangan menjadi perempuan yang cengeng dan pesan beliau jangan pernah tergelincir ke lembah hitam. Jagalah harga diri sebagai penghargaan nilai kewanitaan.


Salam


Senin, 26 Juni 2017

Idul Fitri, Saatnya Rajut Kembali Persaudaraan Sejati



Gambar :  https://bocahbancar.files.wordpress.com

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, suara takbir bergema, berkumandang di seluruh pelosok negeri. Di Indonesia dan di seluruh belahan dunia suara takbir dikumandangkan karena hari raya Idul Fitri telah datang. Hari di mana umat Islam telah mencapai kemenangan setelah sebulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu. Nafsu yang muncul dari dalam diri berupa menahan diri dari makan minum dan nafsu-nafsu lain yang meliputi diri manusia.

Ketika sebulan penuh digembleng dengan rasa lapar dan dahaga, dibatasinya tingkah polah manusia yang mengandung kemudharatan dan dicegahnya diri berbuat dari hal-hal yang dilarang, seperti amarah, permusuhan dan segala macam yang diharamkan. Sebulan berlalu rasa-rasanya tak cukup untuk menggambarkan betapa bulan suci Ramadhan yang begitu mulia itu harus meninggalkan kita. Dan kini, hari-hari kembali menjelang untuk kembali menjadi tempat aktualisasi diri apakah selama sebulan itu mampu melahirkan manusia-manusia muslim yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dan apakah kembali membangun kembali fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Di sebelas bulan berikutnyalah yang akan membuktikan apakah kita bisa menjalaninya dengan baik atau justru sebaliknya.

Ada yang sungguh membekas dalam diri ini, bahwa di bulan-bulan lalu, sebelum diri dan jiwa ini digembleng dengan puasa Ramadhan, ternyata terlalu banyak permusuhan-permusuhan di antara umat. Entah umat Islam dengan umat Islam lainnya, atau umat Islam dengan umat agama lain karena persoalan politis. Begitu banyak kita membaca dan melihat status-status penuh kebencian dan komentar-komentar bernada miring yang semakin memperkeruh suasana kekeluargaan. Memecah belah komitmen kita untuk saling membuka diri dan menerima perbedaan. Karena urusan politis, kita seperti sekumpulan masyarakat yang sudah tidak lagi nyaman untuk hidup dengan saudaranya seiman maupun sebangsa dan setanah air.

Di bulan yang penuh rahmat dan ampunan umat Islam diuji dan dilatih menahan diri untuk tidak saling membenci tidak saling menyakiti, karena sebaliknya umat Islam harus menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Menebarkan rasa kasih sayang kepada semua saudaranya seiman dan saudara sebangsa, karena itu semua adalah perwujudan manifestasi dari tingginya kualitas iman dan ketakwaan kita sebagai umat Islam.

Islam boleh berbeda-beda firqah, aliran dan mazhab, tapi nilai ketakwaan menjadi pondasi utama memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan Islam dan tentu saja persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Konsep persaudaraan Islam yang dijabarkan dalam Al Qur'an dan Hadits sudah jelas dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, bahwa "umat Islam adalah saudaranya umat Islam lainnya". dan "Umat Islam diibaratkan sebagai satu tubuh di mana satu bagian sakit maka bagian tubuh yang lainnya turut merasakan kepedihan dan kesakitan. Dan tentu saja umat Islam seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Iman adalah pondasi atau dasar yang mesti kuat, karena tanpa pondasi yang kuat maka bangunan itu akan runtuh. Dan persatuan adalah soko gurunya, karena tanpa soko guru maka bangunan negeri ini pun akan runtuh berkeping-keping.

Ketika Idul Fitri telah menjelang, maka insan-insan yang "kotor" karena memperturutkan hawa nafsu yang diharamkan mudah-mudahan kembali fitrah sebagai hamba Allah yang menebarkan kasih sayang kepada semua makhlukNya. Mencintai saudaranya seperti dia mencintai saudaranya sendiri karena tidak sempurna iman seorang muslim jika rasa cintanya kepada saudaranya tidak seperti dia mencintai dirinya sendiri.

Kepada semua saudara yang pernah menyakiti, atau yang tersakiti marilah saling membuka hati untuk saling memaafkan dan mengikhlaskan segala kekhilafan saudaranya.

Minal Aidin Wal Faidzin, Taqobalallahu minna wa minkum
Selamat hari raya Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan sebelas bulan kemudian di terima Allah SWT, dan kita semua menjadi manusia-manusia yang bertakwa.

Aamiin aamiin aamiin ya Mujibassaailiin. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin




Jumat, 20 Januari 2017

Anak-anak Berkebutuhan Khusus dan Literasi Sekolah

Anak-anak tengah asyik membaca di ruang perpustakaan


Membangun budaya membaca bagi anak-anak normal pada umumnya sampai sejauh ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, tercatat di antara sekolah-sekolah yang didirikan dan yang memiliki kecukupan bahan bacaan, ternyata minat mengunjungi perpustakaan sangat menggembirakan. Dengan situasi ini membuat saya semakin percaya diri, bahwa dengan dukungan semua pihak terkait program "gemar membaca" akan sangat mempengaruhi produktifitas dan kemampuan anak-anak sekolah pada khususnya dalam meningkatkan pengetahuan mereka.

Seperti beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kota Metro Lampung, kebetulan siang hari selepas istirahat, saya melihat anak-anak usia dini yang didampingi orang tua mereka terlihat cukup aktif dengan buku-buku yang ada di hadapan mereka. Entah sekedar melihat-lihat gambar atau sekedar membaca buku cerita.

Adapula orang dewasa yang sepertinya sudah mahasiswa yang juga tengah sibuk dengan buku yang ada di tangan. Bersyukur sekali rasanya jika generasi muda saat ini begitu mencintai buku dan meluangkan waktu untuk mengunjungi perpustakaan dan membaca buku yang bermanfaat.

Selain anak-anak usia dini dan mahasiswa, Adapula siswa-siswi sebuah sekolah menengah yang juga tengah sibuk dengan buku-bukunya, serta ada yang tengah asik melakukan browsing. Membaca buku digital atau sekedar mencari-cari informasi sangat mudah dilakukan karena fasilitas internet wifi juga disediakan.

Anak-anak normal pada umumnya sampai sejauh ini cukup memiliki antusias ketika berhadapan pada program gemar membaca atau literasi yang dicanangkan pemerintah. Bagaimana dengan anak-anak berkebutuhan khusus atau siswa difabel?

Salah satu siswa tengah menggunakan fasilitas komputer di ruang perpustakaan


Anak-anak berkebutuhan khusus dan tantangan program literasi sekolah.

Selain anak-anak normal pada umumnya, jika melihat antusiasme anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya siswa-siswi SLB Negeri Metro yang berkunjung ke perpustakaan sekolah, juga cukup tinggi.

Hampir setiap hari anak-anak tersebut terjadwal secara bergantian memasuki ruang perpustakaan demi untuk membaca dan mencari informasi tambahan terkait mata pelajaran yang mereka ikuti. Meskipun dengan waktu yang disediakan sekitar 2 jam, ternyata anak-anak tersebut seperti merasa kekurangan waktu untuk terus membaca dan menggali ilmu yang bermanfaat bagi mereka.

Di samping anak-anak yang tertarik dengan buku bacaan, dengan keberadaan tiga buah komputer yang awalnya didesain sebagai perpustakaan digital ternyata juga memancing minat anak-anak tersebut untuk turut memanfaatkannya. Sayang sekali dari ketiga komputer tersebut, hanya satu unit yang bisa digunakan. Entahlah, bisa jadi karena terlalu lama tidak diaktifkan karena liburan sekolah, jadi komputer tersebut mengalami error program.

Buku-buku yang tersusun di rak-rak buku turut mendukung program literasi sekolah

Bersyukur sekali program literasi sudah digulirkan setahun yang silam dan saat ini kegiatan ini berjalan dengan baik dan didukung oleh fasilitas yang tersedia. Meskipun jika ingin memenuhi segala kebutuhan akan buku, rasa-rasanya keberadaan tersebut masih kurang mencukupi.

Akan tetapi, lebih baik memanfaatkan yang tersedia dengan optimal, daripada membiarkan buku-buku yang ada hanya tertata dan bertumpuk-tumpuk di rak-rak buku. Sangat disayangkan, bukan?

Buku-buku yang tersedia di rak-rak dan lemari buku sekolah dibiarkan berdebu, dan sepatutnya dimanfaatkan sebagai bahan memperdalam ilmu pengetahuan ketika di dalam buku-buku pegangan guru dan siswa tidak merangkum semuanya.

Seperti pepatah, tidak ada rotan akar pun jadi. Meskipun buku-bukunya belum tersedia semuanya, namun semangat memperkaya pengetahuan dari buku bacaan sangatlah penting dan amat dibutuhkan bagi masyarakat, lebih khusus bagi anak-anak ABK.

Di beberapa kelas disediakan pula fasilitas membaca kelas literasi


Sinergitas antara program budaya literasi dan prestasi siswa SLB N Metro

Melihat antusiasme siswa dalam membaca sejatinya akan meningkatkan kompetensi siswa, termasuk di dalamnya kompetensi siswa ABK dalam membaca. Sebab dengan kebiasaan membaca bagi anak-anak ABK ternyata mempunyai dampak yang cukup signifikan bagi kelangsungan program literasi dan kemampuan siswa dalam berbagai bidang. Seperti beberapa kali anak-anak ABK khususnya SLB N Metro mengikuti lomba cipta baca puisi, dan membaca puisi ternyata bisa tembus dapat juara di tingkat Provinsi Lampung.

Begitu pula lomba menulis yang diadakan oleh pemerintah juga alhamdulillah di tingkat provinsi hasilnya tidak mengecewakan.

Walaupun ketika harus berjuang di tingkat nasional ternyata persaingannya semakin ketat jadi mengalami kegagalan. Yang pasti dengan adanya program literasi di sekolah dan didukung oleh buku-buku yang bermutu dan layak baca, pun menjadi aspek penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Membaca adalah sebuah tradisi yang positif. Jika dikembangkan dan digalakkan, maka keberadaan anak-anak ABK khususnya akan mengalami peningkatan kemandirian dan prestasi yang meningkat.

Membangun budaya literasi di sekolah luar biasa

Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa SLB N Metro di bawah kepemimpinan Ibu Dra. Yuly Hartaty sudah berusaha melengkapi buku-buku yang dibutuhkan siswa. Baik buku bacaan maupun buku pelajaran atau buku pegangan siswa di kelasnya. Termasuk di tahun 2016 ini, sudah menyediakan kelas literasi, Sementara ada empat kelas karena ketersediaan buku yang masih terbatas. Tetapi mudah-mudahan di tahun 2017 ini kelas-kelas literasi segera akan bertambah ke kelas-kelas yang lain.

Program gerakan literasi secara implisit sudah diprogramkan dan dilaksanakan di tiap kelas, seperti lima belas menit sebelum belajar berlangsung siswa-siswi membaca buku dan menceritakan kembali isi buku itu. Tidak seluruhnya tapi sebagian saja untuk kemudian bisa diceritakan pada siswa lain di kelas. Bagi siswa yang kemampuan membacanya masih kurang, dilakukan dengan guru membacakan isi buku atau menceritakannya di depan kelas dan seluruh siswa menyimak dengan tekun dan menanggapi pertanyaan guru.

Anak-anak yang sukses menggondol juara pada ajang lomba desain grafis dan lomba menulis di Tk. Provinsi di SLB PKK Bandar Lampung


Program sebelum belajar berlangsung ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kemampuan siswa dalam memahami isi cerita, tokoh-tokoh, karakter dan pesan-pesan yang disampaikan dari cerita yang dibaca atau didengarkan.

Semoga saja program gerakan literasi bukan hanya jargon, namun lebih dari itu benar-benar membudayakan gemar membaca dan sasaran akhir anak-anak mampu meneladani isi dari cerita dan menjadi siswa-siswi yang berkarakter baik. Dan sasaran lainnya adalah anak-anak semakin mampu membaca dengan baik, dan mampu mengikuti ajang perlombaan literasi yang diadakan di tingkat sekolah, provinsi maupun nasional.

Salam literasi!


Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!