Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2020

Cerpen: Sahabat Yang Berbeda Jalan Pengabdian

 #Cerpen, Fiksi

Sahabat Yang Berbeda Jalan Pengadian

 


Pagi ini begitu sejuk untuk dirasakan. Angin yang berhembus lembut, menerpa kulit setiap orang di sana. Di sebuah rumah berdinding bambu dengan wujud yang sederhana itu nampak dua orang tengah duduk santai sambil menikmati kopi.

Rumah yang dipenuhi oleh ornamen adat jawa itu nampak sangat terawat. Meskipun sebagian mulai lapuk oleh rayap yang nakal, nyatanya karena ketelatenan pemiliknya, nampak itu tetap terlihat menarik. Memancing siapapun untuk melihatnya karena penasaran.

Di depannya beberapa bunga nampak subur terawat. Bunga mawar yang terus mekar, seperti menyiratkan betapa rumah tersebut selalu memekarkan diri, menghiaskan diri dengan keindahannya. Sama seperti penghuninya yang selalu saja membuat orang-orang di sekitarnya kagum karena kesederhanaannya.

Mereka adalah Amir, seperti orang-orang menyebut namanya kala memanggil. Ia ialah seorang guru ngaji di kampungnya. Setiap sore hari kakinya selalu melangkah ke mushala kecil. Di sana anak-anak sudah menanti untuk belajar abata dari sang guru. Jika soreha hari, anak-anak sudah menanti kehadirannya dengan sabar. Ada banyak senyum yang memancar di sana.

“Mas Amir lagi ngapain to? Ada sosok yang di sisi jalan depan rumah itu tiba-tiba menegur.  Laki-laki itu mengenakan setelan kaos dan celana panjang warna hitam.

“Biasalah, duduk-duduk sambil minum kopi.” Jawabnya sederhana.

“Mau kemana? Kog seperti terburu-buru? tanya Amir lagi.

“Sini lho mas, ngopi bareng kita. Mantap  pagi-pagi ngopi. Ajak Amir pada pria itu. Pria itu adalah Maman, temannya sedesa yang pernah aktif membangun majelis taklim di desanya. Sayangnya beberapa bulan terakhir si Maman mundur dari kepengurusan. Kurang jelas apa masalahnya. Tapi di akhir tugasnya itu Maman memang pernah berdebat soal negeri khilafah. Maman bersikukuh bahwa Indonesia adalah negara yang tidak Islami. Bahkan menurut Maman, sudah tidak layak diikuti.

Mamanpun mengatakan bahwa saat ini bukan untuk banyak teori tentang agama, tapi  mengembankan tugas sucinya dalam berjihad. Nah, pada saat itulah antara Amir dan Maman terjadi percekcokan. Puncaknya mereka pecah kongsi dan kini Maman tidak mau lagi mau mengurus majelis taklim.

“Makasih, Mas? Aku buru-buru mau ke tempat Pamanku. Katanya beliau sakit. Maman menolak ajakan Amir karena memang ada kepentingan.

“Mas, sabar dulu. Saya pingin ngobrol sebentar dengan mas Maman. Dah lama kita gak ketemu kan? Amir kembali meminta Maman untuk mampir sekedar ngobrol sesuatu.

“Waduh, gimana ya? Ya udah, sebentar saja ya? Nampak Maman agak ragu mengiyakan ajakan Amir, tapi karena mereka berteman yang cukup lama, akhirnya Maman pun mengiyakan meskipun sedikit berat.

“Gini lho Mas, aku penasaran sama sampeyan (anda) kenapa sih masih mau ngajar ngaji lagi? Tanya seseorang yang lewat di depan rumahnya. Raut wajah Amir menunjukkan bahwa pikirannya penuh tanda tanya, siapa sosok yang tiba-tiba bertanya itu.

“Maaf, Mas, saya tidak bisa menceritakan di sini. Ada kepentingan yang beda anara saya dan njenengan (anda)

“Ya sudah, saya nggak nanya lagi, wong itu urusan sampeyan. Oh ya, kitakan mau acara tujuh belasan, kira-kira Mas bisa nggak ikutan jadi panitia HUT RI ke-75 kita?” Tanya Amir serius.

“Maaf Mas, aku nggak bisa. Bukan apa-apa, besok saya harus pergi ke Surabaya. Di sana ada acara penting. Jadi kayaknya aku nggak bisa.” Maman menjelaskan.

Sesaat kemudian, segelas kopi panas sudah tersedia di meja di depan mereka. Adik yang dari tadi memegang gitar tua itu berinisiatif membuatkan kopi. Memang dia rajin dan tidak suka disuruh-suruh punya inisiatif melayani tamu. Ya meskipun hanya sekedar minuman kopi.

“Silakan Mas diminum!” Kata sang adik mempersilakan sang tamu menikmati kopi panasnya.

“Iya dik, matur nuwon ya!  Masih panas kok. Nanti kalau sudah hangat pasti saya minum.” Kata Maman sambil tersenyum.

“Saya minta maaf, kalau kemarin-kemarin ribut sama sampeyan. Karena secara prinsip pandangan sampeyan itu keliru. Maaf bukan keliru, tapi kurang tepat lho menurutku. Kita kan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, kenapa Mas Maman memilih ide khilafah? Amir kembali melanjutkan obrolannya. Sambil mulutnya meminum sedikit-sedikit kopi yang ada di depannya. Asap yang mengepul dari kopi panas itu sudah mulai tidak terlihat.

“Saya berkeyakinan bahwa Pancasila kita sudah tepat dan tidak bisa dilawankan dengan Islam. Lihat saja  dalam sila-sila Pancasila, apa yang diperintahkan dalam agama juga sudah ada di sana.” Papar Amir lagi. Nampak Maman hanya memandangi Amir sedangkan tangannya asik memilin janggutnya yang hanya lima helai rambut. Kepalanya memanggut-manggut.

“Sudahlah mas, kita gak usah berdebat lagi. Saya sudah capek menjelaskan prinsip saya. Intinya negeri kita harus berbentuk khilafah. Titik. Maaf saya permisi! Nampak wajah Maman sedikit memerah. Ada hal yang tidak ia suka dari percakapan itu. Entahlah apa karena perbedaan pandangan dan keras hatinya Maman yang selalu mengatakan bahwa Pancasila tidak tepat bagi Islam. Sedangkan menurut Amir, Islam sudah sesuai dengan Pancasila. Pancasila adalah dasar bernegara, sedangkan rakyatnya yang harus bisa mengamalkannya secara murni dan konsekuen.

Maman beranjak pergi, sedangkan kopi yang dihidangkan masih menyisakan tiga perempat gelas. Hanya sedikit yang diminum Maman.

“Mas, kenapa dia begitu? Tanya si adik yang dari tadi asik dengan tangannya yang tengah memainkan gitar tua.

“Nggak tahu juga ya. Semenjak dia ikut organisasi yang gak dikenali itu, tiba-tiba dia berubah radikal. Aku sebagai temannya hanya bisa mengingatkan. Dulu dia sangat rajin ke masjid dan berjamaah. Ikut mengurus majelis taklim sama-sama dengan Mas. Tetapi setelah beberapa bulan nggak ketemu, sikap dia berubah 180 derajat. Aku bingung gimana menyadarkannya. Padahal pak Kyai saja sudah menjelaskan dengan disertai dalil-dalil yang kuat, tapi masih saja pahamnya tidak berubah.” Amir kembali menyeruput kopinya yang mulai dingin.

Seminggu kemudian ...

“Mas, aku tadi malam dengar suara pengumuman. Pengumuman orang meninggal kayaknya.” Tanya sang Adik penasaran.

Kala itu adik dan kakak itu tengah membersihkan halaman dair rumput. Memang setiap Jumat mereka bertugas bersih-bersih halaman. Makanya halaman mereka begitu terawat. Tak ada satupun sampah dan rumput yang tumbuh di sana. Ada rumput yang dibiarkan hidup, yaitu rumput Jepang. Rumput yang sengaja ditanam untuk menghiasi rumah sederhana mereka.

Seseorang tiba-tiba mengowes sepeda dengan agak cepat. Tiba-tiba berhenti di hadapan mereka.

“Mas, kok nggak layat (takziyah)?” Tanya pria itu dengan suara cepat.

“Emang siapa yang meninggal? Tanya Amir.

“Pengurus majelis taklim yang dulu mas,  Mas Maman itu lho. Yang sudah lama nggak ke masjid lagi.” Terakhir ketemu seminggu lalu katanya dia mau ke Surabaya. Katanya ada pertemuan penting.Ndilalah pagi ini ada pengumuman katanya beliau meninggal.” Jelasnya.

Seketika itu, ia pun masuk ke dalam rumah untuk mandi dan berencana bertakziah. Nggak nyangka hidup Maman begitu cepat. Seketika itu matanya tertarik pada tayangan televisi. Sebuah runing teks nampak di layar tvnya menyiarkan sekilas berita. Isinya “Telah tewas tertembak pasukan Datasemen 88. Seseorang berinisial Ujang, Alias Umar Alias Maman. Korban tertembak di bagian dada karena melawan petugas ketika hendak ditangkap di perumahan elit di kawasan Jalan Dr. Sutomo, Surabaya.”

Seketika itu hatiku berdegub kencang. Mengamati tayangan berita dan running text yang begitu cepat berganti dengan berita lain. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada sahabatku Maman yang kini diketahui telah tewas. 

“Apakah Maman temanku itu salah satu korbannya?" Tanya Amir dalam hati.

Seketika itu dia mengelus dada, jika benar berita itu, sungguh dugaan rasa takutnya Amir pada temannya sudah terbukti bahwa dia salah memilih jalan dalam bernegara.

“Walah Maman-maman, kok kamu ngeyel toh? Ya Allah, Semoga saja arwahnya diterima di sisi-Mu. Aamiin.”

Tamat

 

 

Sabtu, 22 Agustus 2020

Cerpen : Wajah Kotoran Kita

Sampah di sekitar kita (pikiran-rakyat.com)


 Cerpen: Wajah Kotoran Kita

Penulis: M. Ali Amiruddin


Pagi ini begitu cerahnya. Sang surya tersenyum ramah, membagikan kehangatan pada semua yang berlalu-lalang, tidak hanya manusia yang begitu bersemangat menikmati sejuknya pagi ini, ternak pun merasakan hal yang sama, “alhamdulillah aku bisa menikmati rumput nan hijau di pagi ini. Bisa mengganjal perutku yang kosong.” Para sapi seolah-olah mengungkapkan segenap rasa bahagia, lantaran rerumputan di pemangatan awah itu masih bebas bertumbuh di sana.

Rumput yang berpelukan dengan sisa-sisa batang padi yang memang ditinggalkan sejengkal dari tanah, ternyata menumbuhkan tunas menghijau yang menggoda para peternak dan sapi-sapinya.

Segerombolan sapi asik menapak kaki di jalanan desaku. Jalanan yang berwarna gelap karena dilapisi aspal itu nampak ramai dengan sapi  yang hendak menuju tempat pemancangan. Sedangkan di depannya beberapa pemilik sapi menuntun di depannya, sedangkan para gudel (anakan sapi) beriringan di belakang induknya.

Ternak-ternak mulai menggeliat dan menuju tempat ia dipancangkan. Para pemilik ternak asik memegang tambang besar itu menuju ke salah satu petak sawah. Hijaunya rerumputan di sana memancing sapi-sapi untuk menikmati surga di sana. Surga bagi sapi dan bagi pemiliknya.

Ujang melangkah penuh semangat menuntun sapi-sapinya, senyumnya yang sumringah seolah-olah menunjukkan betapa pagi ini sungguh membahagiakan.

Dalam suasana cerah itu, aku sengaja berlari-lari kecil di sepanjang jalan desa. Pagi itu memang belum ada yang berlari-lari kecil sepertiku. Hanya pengendara sepeda yang sepertinya menikmati olahraganya. Peluh sedikit demi sedikit membasahi kaos yang aku kenakan.

Napas masih memburu dan tubuh ini mulai merasa segar.

Sebenarnya aku berharap ada yang juga berlari, ya anggap saja ada teman ngobrol di jalanan, sambil menikmati indahnya persawahan di sana. Meskipun sawah-sawah sudah tidak ada lagi hamparan padi lantaran panen, paling tidak junjungan pematang-pematan sawah ini menambah kesan indah dengan berlatar belakang pepohonan nan hijau.

Tak sengaja mataku melihat wanita berusia senja yang membuang sampah ke ledeng. Tanpa rasa bersalah, dia melemparkan begitu saja sisa-sisa dapur bercampur dengan plastik wadah makanan. Pemandangan yang sungguh tidak nyaman untuk dilihat. Kudekati wanita itu.

“Maaf, Nek. Kenapa membuang sampah di ledeng? Tanyaku sambil melihat sang nenek membawa wadah yang tadi untuk membawa sampah.

“Nenek apa memang nggak ada yang mengingatkan,  kalau sampah itu merusak lingkungan?” Mataku masih menatap si nenek dengan tajam. Sedangkan wanita itu memicingkan mata. Wajahnya menampakkan dirinya yang tak mau dilarang-larang. Ia tak mau diusik.

“Kamu tahu apa, kog nglarang-larang nenek? Kamu siapa sih sok kayak pejabat aja.” Nenek berbicara ketus.

“Waduh, Nek. Kalau begini caranya bisa banjir, nih? Gumamku. Wajah nenek masih terlihat marah lantaran aku ingatkan.

“Nek, akibat sampah yang nenek buang itu akan mengotori air kita. Saluran di bawah lama-lama tersumbat. Dan akibatnya nenek kan juga tahu??” Kataku sambil mengingatkan, mungkin saja sang nenek sudah agak berkurang ingatannya. Maklum usianya juga mulai uzur.

Entah mengapa, sang nenek justru berpaling dariku pergi begitu saja. Aku heran, kenapa kebiasaan jelek ini bisa dilakukan.  Apa memang nenek ini terbiasa membuang sampah sembarangan? Tidak tahu pasti. Tapi banyak orang yang aku temui memiliki kebiasaan buruk dan tak layak ditiru.

Aku kembali meneruskan olahraga pagi ini, hingga beberapa menit berlalu, tubuh sudah bermandikan peluh. Tak terasa rasa lelah melanda. Aku kembali ke rumah dengan tubuh yang basah. Tapi, nggak apa-apa, bagiku olahraga ini menyenangkan. Meskipun tadi nampak membuat aku kecewa. Seorang nenek yang seharusnya memberi teladan yang baik, nyatanya sikapnya tidak layak ditiru.

Kulangkahkan kaki perlahan. Aku lihat seonggok berambut ada di sisi tembok pagar tetanggaku. Ku pungut dan kumasukkan ke dalam polybag tanaman obat di sana. Ada kunyit, kencur dan jahe. Ada pula lengkuas yang juga tumbuh lebat di sana. Ambil segenggam demi genggam, ku isi polybag itu agar tanaman-tanaman yang aku pelihara menjadi lebih subur.

“Sungguh nyaman suasana pagi ini,” kataku sambil menikmati kudapan jajanan di pagi hari selepas melemaskan otot-otot yang tegang karena kelamaan duduk. Kopi susu masih teronggok di meja tamu yang isinya tidak sedikit. Kutegguk dan kembali aku lanjutkan kegiatan di pagi ini.

“Mau angon pak?” tanyaku.

“Iya, Pak.” Jawab penuntun sapi itu dengan santai sambil tangannya tetap menuntut sapi-sapinya. Ia tersenyum sekedarnya.

Tak seberapa lama, tiba-tiba beberapa sampinya mengeluarkan kotoran yang baunya cukup menyengat dan berceceran di jalanan yang aku lalui yang mengganggu orang-orang yang hendak melewati jalanan itu. Segenap mata tertarik untuk mengamati pemandangan yang tidak menyenangkan itu.

“Pak, sapinya membuang kotoran sembarangan ya? Tanyaku sambil tertawa ngekek.

“La iya to, Pak, namanya sapi yang sembarangan. Kalau sapi bisa buang air di toilet, tentu bukan sapi lagi tapi manusia.”

“Tapi banyak juga manusia yang membuang kotoran di jalanan ya, Pak? Sampah-sampah yang seharusnya di buang di tempat sampah, ternyata dibuang diselokan, jalanan, di taman-taman dan di mana menemukan tempat yang dianggap layak untuk membuang kotoran. Padahal tempat itu akan penuh dengan sampah dan mengganggu pemandangan. Selain itu kan pasti mengganggu kesehatan karena akan membusuk dan menjadi tempat hinggap lalat-lalat.”

Mpok Ijem  itu kalau membuang sampah malah di ledeng. Padahal kita tahu nantinya sampah akan menyumbat salurannya. Saya bisa membayangkan kalau sampah itu menumpuk, maka saluran bagian hilir akan tersumbat. Apa yang terjadi kalau tersumbat? Pasti banjir di mana-mana.

Aku nggak habis pikir kenapa banyak yang nggak peduli dengan kesehatan lingkungan, seolah-olah ledeng itu adalah tempat sampah yang paling aman. Gak perlu mengangkut ke TPS, tinggal lempar dan sampah pun hanyut.

 “Iya Pak,” kata pria itu. Sambil terus melaju. Sedangkan kotoran sapinya tetap tercecer di jalanan dan semakin lama menipis karena dilindas ban kendaraan.”

Beberapa motor mengurangi laju kendaraannya. Melewati tumpukan kotoran itu dengan perlahan-lahan takut roda kendaraannya melindas kotoran itu.

Pemandangan yang aneka warna, antara orang-orang yang tak lagi peduli dengan kebersihan kampung dan kerusakan alam. Orang-orang yang terlalu memikirkan betapa mudahnya membuang kotoran di sekitar, tanpa memikirkan akibatnya. Sama seperti mulut-mulut kita, yang begitu mudahnya membuang kotoran di media sosial, seakan-akan semuanya tidak ada efeknya bagi orang-orangnya yang mendengarnya.

Yang penting, aku tak mau jadi seperti sapi-sapi itu, yang tak tahu malu menunjukkan ketidak mengertiannya dengan membuang kotoran di jalanan. Malu jika disamakan dengan sapi-sapi itu. Malu dengan anak cucuku nanti.

 

Jumat, 11 Maret 2016

Silvi dan Keluarga Broken Home



Sebut saja Silvi, anak seorang pegawai perusahaan terkemuka dari negeri Jiran, Malaysia. Anaknya imut, tapi agak cerewet dan juga bandel. Ia sebenarnya adalah sosok yang kalem sekaligus pendiam. Prestasinya luar biasa melejit, hingga memiliki segudang prestasi. Kini dia tidak lagi menjadi imut, tapi menjadi tak jelas juntrungnya. 
Perubahan prilakunya disebabkan karena perceraian orang tua beberapa tahun yang lalu.

Bu Salsa, nama panggilan bagi ibunya, seorang akuntan di salah satu perusahaan eskpedisi. Ia kembali bekerja di sana, setelah beberapa tahun mengundurkan diri lantaran bersuami. Setelah perceraian mereka, bu Salsa kembali bekerja dan lebih banyak bekerja untuk menyambung nafas keluarganya.


Silvi, siswi kelas delapan di salam satu SMP Swasta di Kota Medan ini adalah putri kedua dari tiga bersaudara. Ibunya sibuk bekerja sedangkan ayahnya sudah tidak bersama mereka lagi, karena bercerai dari sang ibu. Kakak dan adiknya bersekolah di luar kota bersama paman di Jogja, sudah satu tahun ini mereka tidak berkumpul lagi. Paling-paling kalau hari lebaran mereka bisa bertemu sekedar melepas rindu. Bisa sih melalui handphone, tapi intensitasnya terbatas dan tidak bisa menyembuhkan rasa rindu yang mendera.


Sepagi itu ia terlihat santai, tidak mempersiapkan perlengkapan sekolah yang hendak ia bawa. Sedari semalam ia asik tidur di kamar, dan tidak mengerjakan PRnya. Padahal tahu sendiri, kalau PR tidak dikerjakan, maka hukuman akan menanti. 


Ibu Butet, guru yang begitu ditakuti karena galaknya. Kalau orang bilang Butet itu guru killer. Mudah sekali memarahi murid-muridnya kalau tugasnya tidak dikerjakan. Apalagi kalau sampai hafalan rumus matematikanya tidak ia kuasai, alamat buruk selama diajar oleh ibu Butet jangan harap hari itu akan terasa menyenangkan. Hukuman pastilah akan ia dapatkan.


Tak hanya Silvi, karena ada anak lain yang turut menjadi korban kekerasan ibu Butet itu. Sebenarnya bukan kekerasan fisik, karena beliau tidak pernah memukul. Tapi kekerasan psikis lah yang paling ditakuti dirinya dan teman-temannya di sekolah. Tak sedikit ibu Butet bilang pada siswanya: "Bodoh, kau! Mana PR gak dikerjakan, berangkat kesiangan, di sekolah juga mengantuk." Dengan mata melotot ia memarahi siswanya lantaran PR yang diberikan tidak dikerjakan.


Suasana belajar yang seharusnya menyenangkan, ternyata amat mengerikan. Selayaknya sebuah penjara. Tidak ada senyum dan tatapan ramah dari sang guru.


Meski begitu, kepala sekolah masih saja mempertahankannya. Karena setahu kepala sekolah, prestasi siswa yang diajarnya lumayan bagus. Menurut pendapat Ibu Butet, semua anak harus bernilai bagus, makanya muridnya harus diajarkan dengan disiplin. Kalau tidak disiplin maka harus dihukum.


Meski begitu anak-anak kelas delapan, itu tak juga merasa lelah untuk belajar, karena memang sikap guru itu tidak sama. Ada yang lemah lembut, sabar, dan penyayang, tak sedikit juga yang keras, mudah membentak, dan adapula yang kadang mau memukul muridnya. 


"Silvi!" Sang ibu memanggil dari ruang makan. Dengan nada keras sang ibu membangunkan lamunannya. Maklum rasa takut itu masih menggelayut dalam pikirannya.


"Buruan sarapan! Seru sang Ibu.


"Jam berapa ini? Tanya ibu, dengan tangan masih memegang piring yang hendak ia letakkan di meja makan. Sedangkan Silvi masih di dalam kamarnya. Dia masih terdiam di atas dipan empuk itu sembari memilin-milin rambutnya.  


"Kog belum sarapan juga? Mamah terlihat jengkel. Sedangkan Silvi tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sang ibu semakin lama semakin marah lantaran anak gadisnya tak juga memenuhi panggilan ibu.


"Malah melamun." Tegur ibu lagi dengan nada lumayan ketus.


"Iya, mama. Sabar dikit kenapa sih, Ma!" Septi menjawab teguran ibu.


"Nanti Silvi kena marah bu guru lagi loh." Ibunya kembali mengingatkan.


"Kemarin katanya Silvi di setrap lagi ya?" Tanya sang Ibu sembari ibu meluruskan tempat duduknya. Maklum dari tadi pagi ibunya sudah menyiapkan kudapan sarapan sedangkan Silvi tak juga tertarik untuk menyantap meski sepucuk sendok saja.


"Iya." Silvi agak terkejut ketika tak sengaja pertanyaan itu terlontar dari Ibunya. Sambil keluar rumah dengan wajah kusut. Dengan tubuh gontai dia menemui ibunya di ruang makan dan mengambil secentong nasi bersama lauk. Keduanya terlihat kurang akrab dan tatapannya dingin.


"PR nya sudah dikerjakan?" Ibu terlihat sedikit mengingatkan, sambil memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. 


"Sudah, Ma." Jawab silvi singkat. Padahal waktu itu PRnya sama sekali tidak disentuhnya. Ia sudah tak perduli dengan urusan sekolahnya. Dia lebih banyak tidur atau merokok semalaman.
"Ya sudah, sarapan yang banyak dulu, dulu biar gak sakit perut." 


Belum lama berselang, Ibunya pernah dipanggil pihak sekolah, lantaran Silvi terlibat perkelahian dengan teman kelasnya. Yang mengherankan, ternyata teman ributnya itu laki-laki, tapi memang Silvi tak pernah mundur jika harus beduel dengan teman kelasnya. Lawannya pun acapkali menyerah kalah karena terkena pukulan Silvi. Sama dengan kawannya kali ini, wajahnya penuh luka karena pukulan Silvi. Maklum saja Silvi memang sudah terlatih bela diri semenjak sekolah dasar. Ia pun dulu pernah menjuarai perlombaan tingkat sekolah. 


Kala itu Silvi termasuk anak yang tidak suka ribut. Ia lebih banyak mengalah dan tidak mengabaikan gangguan temannya. Ia seringkali murung lantaran sering dibully. Pernah suatu ketika ia tidak masuk sekolah selama seminggu. Ia tidak mau makan, keluar kamar pun kalau mau ke toilet. Mandi pun jarang. 


Sikapnya berbanding terbalik 180 derajat seperti itu setelah ayah dan ibunya bercerai. Entah ada masalah apa, keluarga yang tadinya begitu tenang tiba-tiba berubah drastis. Keluarganya yang terlihat bahagia, kehidupan yang berkecukupan, ternyata tidak bertahan lama.


***


Ayah Silvi menyebutnya Bu Tini. Nama itu ia dapatkan ketika keduanya bertemu di sebuah lobi. Tini diperkenalkan kepada sang Ayah oleh bos perusahaan di mana ia bekerja. 


Awalnya keduanya tampak biasa saja, karena baru saja berkenalan. Tapi entahlah tiba-tiba Tini menjadi tertarik dengan ayah Silvi. Percakapan semakin intens karena keduanya menjadi manajer dan sekretaris yang tentu keduanya sering bertemu.


"Selamat pagi, Pak!" Tini menyapa Pak Dadi dengan ramah, matanya terlihat tajam menatap Pak Dadi.


"Selamat pagi. Bu Tini!. Pak Dadi menjawab sapaan Tini.


"Ah, saya jadi malu." Seloroh Tini.


"Jangan panggil saya Ibu sih, Pak!." Tini terlihat tersipu-sipu dan tersenyum menggoda. Nampak ia pandai sekali memancing perhatian pak Dadi. Sedangkan Pak Dadi tak terlalu meladeni sekretarisnya. Ia ingat sekali kata-kata Silvi anak gadisnya itu, "pah, jangan pernah deketin wanita lain ya pak!. Kasihan sama ibu." 


"Pak Dadi!"


"Oh ya, maaf, saya lupa. Barusan kita ngomong apa ya? Terlihat Pak Dadi gugup sekali. Tapi ia berusaha rilex sambil kembali meneruskan pembicaraan.


"Ah, Pak Dadi, tadi 'kan saya minta jangan dipanggil Bu Tini. Tini menjelaskan sambil merapihkan pakaniannya.


"Lah terus saya harus memanggil siapa, Ibu Tini? Tanya Pak Dadi terlihat menanggapi dengan serius. Sedangkan dirinya tengah membaca sebuah dokumen. Tini tengah membawa sebuah map, dengan ada lembaran kertas di dalamnya. Sepertinya itu surat resmi yang harus ditanda tangani oleh Pak Dadi.


Sambil mendekati meja Pak Dadi, Tini menyambut uluran tangan Pak Dadi yang mengajaknya bersalaman.


"Panggil saya Tini saja, Pak." Tini terlihat menawarkan diri.


"Ah, Ibu Tini ini main-main. Kita baru berkenalan dan kita adalah sesama pekerja di perusahaan ini. Sepertinya kita harus bersikap profesional.


"Silahkan!" Mana dokumen yang harus saya tanda tangani? Pak Dadi berusaha mengalihkan perhatiannya. Sedangkan TIni terus saja memandangi wajah Pak Dadi. Pak Dadi tampak cuek. Sedangkan Tini tersenyum seakan-akan memang menaruh hati.


"Maaf, Ibu Tini, saya sudah memiliki istri, jadi tolong bersikap yang baik ya!, Saya juga atasan Anda. Jangan macam-macam! Tak disangka Pak Dadi menaikkan nada suaranya. Tini pun terhenyak, tak menyangka kalau manajernya itu ternyata tidak suka kalau ia menggoda. 

"Maaf, Pak Dadi. Sekali lagi saya minta maaf."  Tini terlihat panik.


"Sudahlah, silahkan, kalau ada keperluan lain. Soalnya saya juga masih ada pekerjaan." Pak Dedi tampak kembali membaca dokumen yang tadinya sempat ia baca.


***


Di senja itu, Pak Dadi menelepon istrinya untuk berpamitan bahwa akan ada lemburan di kantor. Istrinya mengiayakan. 

Memang benar, pak Dadi memang mengerjakan tugas-tugasnya terkait laporan yang akan disampaikan kepada pemilik perusahaan.Tini membantu dengan mempersiapkan dokumen dan catatan-catatan.


"Pak Dadi, apa sudah punya istri? Celetuk Tini memecah suasana yang tengah sibuk sore itu.


"Apa dikira saya masih bujangan? Pak Dadi menimpali.


"Bukan begitu pak, maksud saya, bapak masih gagah dan kayak masih bujangan." Tini berusaha bersikap ramah tapi menggoda pak Dadi. Sedangkan pak Dadi ternyata juga menaruh hati dengan kecantikan Tini. Entahlah, tiba-tiba persaan Pak Dadi menggelora, dan keduanya tak sadar saling tumbuh rasa cinta.


Obrolan mereka terus berlanjut, dan pekerjaan selesai. Keduanya berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.


Tapi ternyata, tak disangka Pak Dadi semakin tertarik dengan Tini. Bagaimana tidak tertarik, Tini selalu saja menggoda seakan-akan mencintai Pak Dadi. Hampir tiap malam, keduanya saling bercengkrama melalui telephon. Istri pak Dadi tak pernah tahu, kalau suaminya justru menaruh hati terhadap sekretaris barunya itu.


Tiba-tiba, Bu Salsa, memergoki pak Dadi tengah berkencan di sebuah hotel. Terlihat sekali kalau acara itu bukan acara meeting selayaknya acara kantoran. Karena mereka hanya berdua dan suasananya cukup romantis. Keduanya terlihat bercakap-cakap secara intens. Pak Dadi memagang tangan Tini dan sebaliknya Tini mengumbar senyum dan tatapan mata tajam ke arah Pak Dadi.  
Suasana mesra sekali. 

Padahal sepengetahuan Bu Salsa, Pak Dadi hendak melakukan rapat di kantor karena akan ada job dengan bonus yang lumayan besar. Ee tak disangka suamiinya justru tengah asik dengan sekretarisnya di hotel itu.

Di luar dugaan mereka, Bu Salsa terlihat naik pitam dan melihat ke arah keduanya. Tak lama menahan emosi, Bu Salsa, menemui keduanya sembari marah marah.


"Ooo, begini ya, pekerjaan di kantor yang katanya meeting itu? Dasar laki-laki sialan!" Bu Salsa memaki suaminya dengan suara keras. Sedangkan tamu hotel terlihat memperhatikan konflik keduanya. Scurity hotel segera menemui meja yang terlihat gaduh itu. Tak lama ketiganya dimohon tenang untuk menjaga ketenangan hotel.


Tak lama kemudian, Tini pergi dengan raut wajah malu, dan Pak Dadi serta istrinya meninggalkan hotel dengan wajah merah padam.


Di luar hotel bu Salsa masih memarahi suaminya, dan meminta untuk bercerai.


"Dah, kalau ayah sudah gak cinta lagi sama aku dan anak-anak, lebih baik kita bercerai saja!" Nada penuh emosi ditunjukkan oleh bu Salsa sebagai bentuk luapan amarah yang menggelora. 
Pak Dadi masih tidak percaya, kenapa pertemuannya dengan Tini diketahui oleh Istrinya. Ia terlihat bingung dan malu, lantaran akibat labrakan sang istri, pihak hotel dan tamu-tamu hadir terlihat menyeringai, seakan-akan mengejek pak Dadi.


****


Anak-anak yang tadinya terlihat tenang, tiba-tiba menangis dan terlihat sekali kepanikan dan kegaduhan mereka. Silvi menjadi salah satu anak yang merasakan kekecewaan lantaran ayahnya justru berselingkuh dengan wanita lain.


"Mah, ada apa dengan ayah? Kenapa kalian bertengkar? 


"Sekarang kalian akan tahu, bahwa ayahmu itu sudah berselingkuh dan mencintai wanita lain." 


"Katanya mau meeting, tiba-tiba ketika mamah datangi kantor tak tahunya malah berada di hotel sedang bermain dengan sekretarisnya. Pria macam apa dia? Terlihat sekali nada amarah bu Salsa sudah tak lagi bisa diredam.

Rasa kecewa pun tertumpah dari raut wajah kedua anaknya yang lain. Tak henti-hentinya mereka menangis.


Sesaat berselang, Pak Didi meninggalkan rumah dengan membawa koper berisi penuh pakaian. Ibunya terlihat kacau dan wajah yang acak-acakan. Niatnya untuk menggugat suaminya sudah bulat. Meskipun Pak Dadi sudah meminta maaf dan berniat tidak akan mengulangi perbuatannya.  
Dan sebulan kemudian, setelah melalui proses persidangan dan mediasi, ternyata pernikahan pak Dadi dan Istrinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Keduanya bersepakat bercerai. Entah apa yang menjadi alasan Bu Salsa kenapa tidak mau kembali menerima suaminya. Mungkin wataknya yang keras, jadi dia tidak bisa dibohongi meskipun sekali saja.


***


Bu Salsa sudah merelakan suaminya. Namun dampaknya, ternyata Silvi seperti kehilangan sosok yang dicintai. Kehidupannya terlihat kacau. Ia sudah tak mau bersekolah lagi, meskipun saudaranya yang lain masih bersekolah, kondisinya amat memprihatinkan.


Meskipun bu Salsa sudah bekerja lagi, faktanya rumah tangga mereka tidak seperti dulu lagi. Rumah yang dulu besar, kini menjadi kecil lantaran dijual untuk melunasi hutang keluarga selama tidak berayah lagi. Mobil yang dahulunya biasa mengantar mereka ke sekolah, sekarang tinggal kenangan.


Tak disangka, Silvi yang dulu terlihat ceria, kini menjadi sosok perempuan yang nakal. Setiap hari ia habiskan untuk senang-senang dengan teman-temannya. Entah minum-minuman keras, atau menghisap narkoba. Pelampiasan rasa kesalnya lantaran keluarga yang dicintainya hancur berantakan.


@@@


Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!