Jumat, 01 Mei 2015

Salut buat Pak Jokowi, Penjahat Kemanusiaan Dieksekusi





Gambar : Ilustrasi eksekusi mati gembong narkoba (Sumber: indobolanews.com)
Ilustrasi sang regu tembak tengah mengeksekusi ( gambar: indobolanews.com)







Alhamdulillah, sekali lagi rasa syukur saya pada pemimpin negeri ini. Sosok-sosok pengedar narkoba kelas kakap ternyata mendapatkan hukuman yang setimpal. Meskipun awal mula penyelidikan dan jelang eksekusi berjalan sangat alot, ternyata hakim pun memutuskan para penjahat kemanusiaan itu pun harus mengakhiri hidupnya di ujung peluru pasukan regu tembak.

Sebuah capaian prestasi penegakan hukum dan wujud kecintaan Presiden Jokowi kepada rakyatnya. Meskipun dalam menegakkan hukum tersebut banyak negara yang menentang, memprotes dan ingin menekan kebijakan presiden ini dengan dalih kemanusiaan. Tak hanya dalih kemanusiaan. Kenapa para penjahat kemanusiaan ini dibela habis-habisan oleh para pemimpin dunia. Mereka pun menekan presiden serta pemerintahan Jokowi-JK dengan strategi embargo ekonomi.

Mereka seolah-olah ingin menjadikan negara kita seperti boneka yang bisa mengendalikan Presiden Jokowi dengan dalih perjanjian luar negeri. Meskipun saya sempat heran seribu heran, melihat sikap para kepala negara dan pejabat-pejabat yang dengan keras kepala membela para penjahat kemanusiaan itu? Apakah murni karena nilai kemanusiaan? Saya ingin mencoba meluruskannya.

Semenjak satu dasawarsa ini peredaran narkoba di Indonesia sangat memprihatinkan. Perdagangan dan peredaran bisnis haram yang sudah jelas-jelas merusak nilai-nilai kemanusiaan ini begitu mudahnya meracuni rakyat negeri ini. Tak hanya kalangan dewasa yang menikmati dan menjadi korban hingga berujung kematian, karena anak-anak di usia dini pun acap kali menerima getahnya. Anak-anak yang ingin melihat dunia ini berkembang dengan keberadaan mereka, ternyata diracuni, dibunuh dengan racun yang bernama narkoba.

Bahkan, disinyalir puluhan orang meninggal setiap harinya diakibatkan menelan narkoba. Mereka yang sejatinya berhak untuk menikmati kehidupan ini dengan cara yang patut, pun harus dicerabut dan tak lagi menerima hak-haknya sebagai manusia yang bebas. Bebas dari ancaman narkoba dan bebas dari racun yang menggerogoti tubuh dan pikiran mereka. Setiap hari anak-anak ini mendapatkan tekanan mental, hingga detik-detik akhir sebelum kematiannya mereka pun tak lagi melepaskan diri dari jeratan narkoba. Sungguh memprihatinkan.

Inilah kenyataan dan kejahatan yang benar-benar luar biasa. Kejahatan yang benar-benar melawan nurani kemanusiaan.

Anak-anak hingga dewasa yang sejatinya berhak mendapatkan hak untuk hidup dan berkarya, harus terjerat oleh kebahagiaan semu yang justru membunuh mereka secara perlahan. Sebuah fakta yang tak dapat disangkal lagi bahwa para gembong dan pengedar narkoba ini hakekatnya adalah penjahat kemanusiaan.

Mereka yang telah membunuh ribuan umat selayaknya mesin perang ini, pun sejatinya harus dihukumi di hadapan mahkamah internasional. Tapi, saat ini apa yang terjadi? Kita melihat sendiri bukan? Negara-negara yang sejatinya adalah selalu meneriakkan ide-ide kemanusiaan pun sepertinya gelap mata, tak hanya gelap mata dengan dampak dari perbuatan para pengedar narkoba. Mereka yang membela habis-habisan pengedar narkoba ini pun tak memiliki lagi rasa kemanusiaan. Secara nyata membela pembunuh bangsa ini dengan menggunakan kekuasaannya dan kebijakan embargo ekonomi supaya negara-negara  yang katanya sahabat menjadi lemah.

Secara teori perang pun menunjukkan, bahwa tidak ada jalan lain bagi kemenangan adalah melakukan konspirasi besar agar secara perlahan negara-negara di bawah kendali mereka, termasuk yang berada di bawah hegemoni Barat dan Eropa harus benar-benar tunduk di bawah cengkeraman mereka. Tak hanya di bawah negara secara terotorial, organisasi yang sepatutnya membela negara kecil pun ikut dikendalikan demi memuluskan rencana jahatnya memerangi negara-negara kecil seperti Indonesia. 

Akan tampak nyata jika kejahatan perang ini diwujudkan dengan senjata, karena perang sudah menjadi kejahatan kemanusiaan yang tak terampuni. Mereka menggunakan narkoba sebagai alat untuk memuluskan rencana jahatnya.

Sayang sekali PBB yang semestinya menjadi penengah dan bersama-sama melawan peredaran narkoba justru ikut nimbrung menekan pemerintahan Indonesia agar tidak melaksanakan eksekusi mati. Ada apa ini? Benarkah mereka sudah kelewat kejamnya hingga kebijakan Presiden Jokowi yang ingin membela rakyatnya turut dipaksa agar mengikuti kemauan mereka?

Beruntung sekali rakyat Indonesia memiliki presiden yang konsisten memegang janji-janjinya, bagaimana beliau dan jajaran pemerintahannya ingin melindungi negara ini dari jeratan racun narkoba tersebut. Meskipun banyak pertentangan dan ancaman ditariknya duta besar negara yang katanya  "SAHABAT" itu. Mereka menggunakan dalih Sahabat agar Indonesia tidak bergeming.

Mereka seolah-olah memaksa Presiden Jokowi mengikuti aturan dan perintah mereka. Membatalkan eksekusi mati penjahat kemanusiaan tersebut dengan dalih kemanusiaan. Kemanusiaan yang mana? Lah wong mereka jelas-jelas penjahat kemanusiaan kog tidak boleh diadili? Sudah jelas bahwa gembong narkoba adalah pembunuh hak-hak manusiawi yang ingin menikmati kehidupan dengan rasa aman dari ancaman narkoba kog katanya melanggar hak-hak kemanusiaan? Sebuah pola berpikir pemimpin negara maju yang tak lagi mengindahkan derajat kemanusiaan itu sendiri.

Namun sekali lagi saya bersyukur. Bahkan semua rakyat Indonesia yang membela kemanusiaan dan menghendaki rakyatnya terbebas dari ancaman narkoba pemerintah bersikap tegas mengadili siapa pun yang hendak merusak generasi muda yang sejatinya adalah calon penerus bangsa ini.
Jika para pemimpin negara seperti Tony Abbot mengatakan Jokowi melawan nilai-nilai HAM atau kemanusiaan, sepertinya mereka harus membaca puisi ini:

Wahai para pemimpin negeri
negeri yang katanya menjunjung kemanusiaan
kenapa justru menjadi penjahatnya?
membela pembunuh kemanusiaan itu?

Wahai para pemimpin negeri
apakah Anda tidak melihat?
berapa ribu bahkan jutaan rakyat tergoda
menenggak, meminumnya hingga tak sadar diri
otak mereka terkunci, tubuh mereka menjadi mati

Wahai para pemimpin negeri yang katanya manusiawi
lihatlah berapa juta orang mati sia-sia
tak lagi menikmati saat-saat bahagia
membangun negeri tercinta dengan cinta
membangun negeri tercinta dengan gelora jiwa

Wahai pemimpin negeri pembela narkoba
sudahkah Anda Pikun atau Anda sengaja Lupa?
bahwa rakyatmu pun mati sia-sia
di terjang peluru manis yang membunuh sia-sia
Wahai pemimpin yang arif bijaksana
Itulah peluru pembunuh yang sesungguhnya
peluru-peluru yang katanya pembawa kenikmatan
tapi justru membunuh kami tanpa ampun
tak berdaya terbujur kaku sebab jeratan narkoba

Sekali lagi, saluuuuuut kepada Presiden Jokowi. Anda telah melindungi kami dan menjalankan amanah rakyat dengan menegakkan hukum seadil-adilnya. Meskipun Anda mendapatkan tekanan dari pemimpin negeri lain yang tak memiliki nurani apalagi manusiawi.

Selamat Pagi Indonesia

Metro, 30/4/2015


Ketika Anakku (Pernah) Terkena Phobia Sekolah

Gambar: mjeducation.com



Beberapa bulan yang lalu, ibunya anak-anak tiba-tiba curhat dengan saya, "pak anak kita gak mau sekolah lagi". Saya tanya "lah kenapa gak mau sekolah? Kata sang istri "Ia bilang takut sekolah". Waduh. Saya semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan anak saya. Saya pun bertanya sama anak saya "kog bisa gak mau sekolah? Kata anak saya "bu guru ngomong goblok". Dengan polosnya anak saya menjawab pertanyaan saya. Selain dibilang goblok, ia mengatakan kalau gurunya bilang  "emangnya sekolah punya sendiri? Kog sekolah semaunya?

Mendengar penuturan sang anak, saya ngadem dulu, berusaha mendengarkan tapi mencerna apa yang terjadi. Tak langsung memvonis lantaran boleh jadi sang anak mengarang cerita agar ia tidak diminta sekolah. Saya pun merayunya agar ia kembali bersekolah dan saya antar ke sekolahnya. Padahal biasanya ibunya yang mengantarkannya. Karena sekolah anak saya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal.
Tapi, dua hari ia masuk sekolah, ternyata esoknya menangis dan tidak mau lagi sekolah. Saya pun meminta ibunya bertanya kepada gurunya yang kebetulan rumahnya tidak terlalu jauh.

Dan saya pun terperanjat, ketika guru tersebut mengiyakan apa yang diceritakan anak saya. Dalam benak saya, kog bisa guru PAUD cara mendidiknya amat kasar dan terkesan memojokkan siswanya. Ditambah lagi menghina dengan mengatakan "Goblok (Bodoh)"? Saya pun tak menerima cara-cara guru yang demikian. Dan akhirnya saya meminta istri mengkonfirmasi ke sekolah, apa benar guru mengatakan anak saya bodoh dan membentak-bentak?

Awalnya sang guru menolak, tapi setelah dipertemukan dengan guru lain yang kebetulan menyaksikan perilaku guru tersebut, akhirnya iapun mengakui dan meminta maaf dengan apa yang telah dilakukan.
Melihat prilaku dan cara guru PAUD mendidik ini, dua hari anakku tidak mau sekolah. Ia takut dan acapkali menangis jika diminta mandi dan bersiap-siap berangkat. Dua hari pula ketika kutanya kog nggak sekolah, anakku menjawab "emoh sekolah, bu guru galak".

Waduuh, gimana ini? Dalam hati saya bertanya-tanya, siapa yang salah. Anak saya atau gurunya? Apa anak saya yang berbohong dan membuat alasan macam-macam agar ia tidak diperintahkan masuk sekolah? Entah lah, pikiran saya jadi menggelayut-gelayut. Awalnya saya sempat bingung kog tiba-tiba ia mengalami ketakutan bersekolah. Padahal sebelum bersekolah saja ia selalu mengatakan ingin sekolah padahal usianya masih terlalu dini.

Melihat gelagat tak baik dan ekspresi ketakutan anak saya, kami pun sepakat memindahkan anak saya ke sekolah lain yang mungkin cara mendidik muridnya lebih baik. Alhamdulillah setelah pindah, anak saya saat ini bersemangat lagi untuk sekolah. Meskipun kejiwaan anak-anak memang masih labil, tapi ketika perlakuan guru dan pengasuh di sekolah ternyata kurang baik, tentu bisa berdampak buruk.
Seperti apa yang dialami anak saya, di sekolah yang lama perlakuan gurunya kurang baik menurut kacamata pendidikan, dan ternyata apa yang tadinya sempat saya duga telah terbukti, ternyata sang guru terlalu keras dalam mendidik muridnya. Seperti pengakuan guru yang bersangkutan.

Meskipun saya sempat gak percaya dan guru tersebut membantah pernyataan tersebut, setelah dikonfirmasi pada sesama guru PAUD tersebut, sang guru pun mengakui bahwa ia pernah berkata kasar dan membentak anak saya.  Ia meminta maaf karena telah salah. Mendengar jawaban guru tersebut, akhirnya pun istri berharap gurunya tidak berbicara kasar pada anak muridnya. Terutama anak saya. Bagaimanapun juga istri juga seornag guru PAUD yang kebetulan letaknya cukup jauh dari tempat tinggal kami, jadi mau tidak mau anak saya disekolahkan di sekolah terdekat dengan tempat tinggal.

________________

Melihat kondisi psikologis yang dialami anak saya selama dua hari, boleh jadi memang karena kondisi sekolah yang kurang  menyenangkan. Perlakuan dan perkataan sang guru yang lumayan keras dan kasar pun memicu ketertakutan anak secara berlebih-lebihian. Apalagi sampai terucap perkataan "bodoh" kepada siswanya. Tentu sikap ini tidak dibenarkan. Karena tidak ada anak yang bodoh, karena setiap anak mengalami perkembangan kognisi yang berbeda-beda, dan itu bersifat fluktuatif tergantung bagaimana situasi lingkungan mempengaruhi perkembangan kognisinya. Selain pengaruh lingkungan, faktor nutrisi pun menjadi alasan kuat anak-anak mengalami situasi perkembangan yang kadang kala labil.

Jadi teringat kembali dengan istilah dosen killer, meskipun tak patut pula guru disebut sebagai killer (pembunuh). Akan tetapi, jika melihat fenomena guru yang memperlakukan siswanya dengan kasar dan mengumpat dengan kata-kata "bodoh" tentu secara perlahan guru tersebut sudah membunuuh karakter siswanya. Anak didik yang semestinya mau bersekolah karena pendidikan yang dialaminya cukup menyenangkan, ternyata berbalik seratus delapan puluh derajat. Guru dan lingkungan sekolah bukan lagi menjadi tempat yang menarik dan menyenangkan.

Mana mana mungkin seorang guru apalagi bagi anak-anak usia dini memiliki sikap bengis dan keras? Bahkan kata-katanya seperti tidak mencerminkan kepribadian dan perkataan seorang pendidik yang semestinya bersikap kasih sayang, perhatian dan tulus mendidik siswanya meskipun acapkali anak-anak berprilaku kurang baik.

Ketika seorang guru justru berprilaku dan berkarakter kasar, dampaknya tentu amat berbahaya, tak hanya anak saya yang dua hari tak mau sekolah dan akhirnya kami pindahkan ke sekolah lain. Karena di luar saya masih banyak anak-anak yang mengalami ketakutan yang amat berlebih-lebihan. Mereka enggan sekolah lantaran gurunya acapkali marah-marah tanpa sebab. Mereka diperlakukan selayaknya pekerja yang bisa dibentak-bentak apabila keinginannya tak dipenuhi. Dan yang lebih parah lagi, mengatakan "bodoh" jika siswanya lambat dalam menangkap pelajaran. Dampaknya sudah dapat diduga, akibat pola asuh guru yang kurang tepat inilah menjadi pemicu munculnya ketakutan bersekolah.

Anak-anak mulai enggan masuk sekolah karena dunia belajar mereka tidak lagi menyenangkan. Istilah ketakutan sekolah secara berlebih-lebihan disebut phobia sekolah. 

Menurut As'adi Muhammad, phobia merupakan bentuk ketakutan seperti takut pada ketinggian, keramaian, ruang yang bersekat-sekat, atau terhadap binatang-binatang tertentu. Beberapa anak ada yang menderita phobia sekolah, yaitu sekolah membuat dirinya takut. Phobia sekolah seperti halnya sparation anxiety...

Sebuah kondisi kejiwaan yang tidak boleh diabaikan.

Kekhawatiran saya ketika itu melihat karakteristik prilaku selama dua hari tersebut, pun saya menduga ini adalah tanda-tanda adanya phobia sekolah. Anak tak ingin sekolah lantaran perlakuan kasar dari gurunya. Sang guru anak bagi usia dini semestinya mengerti karakteristik anak, kog justru memperlakukan anak didiknya tidak manusia dan seperti tak mengenal psikologi anak. Mungkinkah karena ia belum layak mendidik? Atau ada persoalan lain dalam rumah tangganya hingga dirinya terpengaruh dengan persoalan tersebut?

Akibat dari perlakuan kasar gurunya tersebut, anak saya ketika diminta sekolah justru menolak, takut, memberontak dengan alasan bermacam-mcam. Selain menolak dengan alasan macam-macam, ia pun seringkali menangis, lantaran emoh lagi sekolah. Bosan pun menjadi salah satu  kenapa anak saya tidak mau sekolah.

Karena gejala tidak lagi mau bersekolah di PAUD tersebut, lantaran sang anak justru sudah enggan di sekolah yang sama. Dan ia memilih pindah sekolah. Dan kami pun bersepakat menyekolahkan di TK lantaran permintaan sang anak. Ditambah lagi kebetulan teman-temannya banyak yang bersekolah di TK, meskipun usia anak saya pada waktu itu memang masih layak di PAUD (Kober). Dan alhamdulillah di sekolah yang baru, anak saya mulia semangat lagi sekolah dan mendapatkan apresiasi dari guru di sekolah tersebut.

Melihat fenomena tersebut, ketika guru tak lagi menjadi tempat mendidik siswanya dengan cara yang baik, ternyata dunia pendidikan kita ternyata masih belum meninggalkan jejak-jejak kelam sistem pendidikan kolonial. Ketika anak semestinya dididik dengan kasih sayang dan perlakuan yang istimewa, ternyata diperlakukan dengan cara tidak manusiawi dan tak mengindahkan kaidah paedagogis.Melihat anak-anak yang tidak fokus, ternyata si guru justru menjudge dengan kata-kata "bodoh" atau "tolol" padahal boleh jadi cara mendidik gurunya yang kurang baik. Dan anehnya anak seusia dini tersebut justru diperlakukan selayaknya bukan anak usia dini. Sebuah kondisi yang cukup memprihatinkan.

Contoh perilaku guru yang seperti ini hakekatnya jauh dari kepatutan sosok yang setiap harinya bergelut dengan pendidikan. Meskipun ketika diselusuri ternyata si guru memang bukanlah sosok yang memiliki pendidikan keguruan, apalagi bagi anak usia dini.

Saya pun memaklumi saja ia belum memahami hakekat psikologi anak dan metodologi pendidikan bagi anak usia dini. Meskipun ada juga guru yang berpendidikan keguruan ternyata prilaku dalam mendidik pun jauh dari nilai keguruan. Seperti yang terjadi baru-baru ini, seorang guru yang tiba-tiba memukuli siswanya lantaran ia tidak mengerjakan PR. Menendang siswanya lantaran terlambat masuk sekolah.

Kondisi institusi semestinya mendukung dan membantu tumbuh kembang anak dari segi fisik maupun mental anak. Tak boleh setengah-setengah yang hanya mengejar kecerdasan kognisi tapi justru psikis dan fisik anak tak dikembangkan secara optimal.

Akan buruk dampaknya jika dalam institusi pendidikan, seorang guru justru menjatuhkan potensi psikologis (mental) anak apabila metode dalam pelayanan maupun pembelajarannya hanya mampu mengembangkan kecerdasan kognitif saja sedangkan psikologis mereka terabaikan.
_______________
Tulisan ini bukan bermaksud menggurui, lantaran berawal dari pengalaman yang mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya
Salam
Literatur : As'adi Muhammad, Deteksi Bakat & Minat Anak Sejak Dini, Gara Ilmu, 2010

Nostalgia Dengan Mainan Tradisional (Egrang)


1429872149704132956
Extraordinary News
Sore tadi anakku yang sekolah dasar tiba-tiba meminta dibuatkan egrang, katanya sih mau dikumpulkan ke sekolah. Kayaknya guru atau kepala sekolah memerintahkan semua muridnya agar mengumpulkan mainan ini.

Entah apa tujuannya, tapi mungkin saja karena memang ingin memasyarakatkan kembali mainan tradisional. Jadi setiap anak diingatkan kembali akan mainan tempo doeloe agar tradisi ini tidak lekang oleh kemajuan jaman yang serba modern.

Beruntung meskipun saat ini tanaman bambu sudah semakin langka, ternyata masih ada saja masyarakat yang membudidayakannya sebagai bahan kebutuhan sendiri, seperti untuk membuat pagar ataupun lanjaran untuk tanaman kacang panjang. Jadi tak sulit saya menemukan mencari sebatang bambu.

Tak hanya anak-anak saya yang kebetulan tertarik bermain egrang, karena saya sendiri juga sangat hoby memainkan mainan tradisional. Karena cenderung aman, mudah membuatnya serta murah harganya. Selain itu bermanfaat untuk melatih cinta lingkungan. Lantaran dengan permainan tradisional tersebut, sedikit banyak mengurangi polusi dan penggunaan listrik akibat permainan modern saat ini banyak menggunakan energi listrik.

Apalagi saya pun sedari kecil memang menyukai mainan tradisional, seperti ketapel, pestol-pestolan dari bambu, patok lele, mobil-mobilan dari kaleng susu, ada juga mobil-mobilan dari sabut kelapa yang saya pelajari dari bapak yang juga kebetulan hobi mengajarkan anaknya akan mainan tradisional. Termasuk egrang menjadi salah satu mainan saya diwaktu kecil yang tetap asyik untuk dimainkan.

Tak hanya di usia anak-anak, ketika usia saya menginjak SMP saja permainan ini masih ada, meskipun pada akhirnya permainan ini sedikit demi sedikit hanyut oleh gemerlap modernisasi di segala bidang. Tak hanya menyerang kaum tua, dunia anak-anak pun mendapatkan serangan yang cukup kuat oleh arus modernisasi yang tidak dapat dihindari. Plus minusnya kalau sebagai orang tua tidak memperkenalkan kembali mainan tradisional tersebut maka alamat sudah pasti tradisi yang ditinggalkan nenek moyang dahulu akan lekang dan punah tak bersisa.

Saat ini, permainan modern memang cukup mengkhawatirkan, seolah-olah pergerakan jaman tidak dapat dihindari. Semua bentuk permainan disulap dengan bentuk permainan yang serba elektronik. Permainan game via online juga saat ini semakin lama semakin marak. Jadi amat wajar jika permainan tradisional ini semakin lama semakin punah.

Beruntung, jika para orang tua, pendidik dan penggiat kesenian serta permainan tradisional mau memperkenalkan permainan ini pada generasi muda. Jika orang tua sudah enggan memperkenalkan permainan ini, tentu dampaknya lambat laun permainan tradisional ini akan benar-benar punah dan anak-anak kita selaku generasi muda akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang menjaga warisan budaya.

Egrang hakekatnya amat mudah cara membuatnya, hanya membutuhkan dua batang bambu ukuran kurang lebih 2 meter saja, dan di sepertempat bagian di bawah diberikan ruas kayu yang dihubungkan dengan bambu utama. Tujuannya sebagai pijakan kaki dan mengendalikan tekanan ke tanah. Sedangkan tongkat pokoknya untuk keseimbangan dan langkah dari pemain egrang sendiri.

Selain sebagai bentuk pemasyarakatan permainan tradisional, egrang pun dapat dimanfaatkan sebagai ajang olehraga, membentuk kekuatan otot tangan dan kaki, melatih keseimbangan fisik, konsentrasi dan keberanian. Lantaran dengan bermain egrang ini si pemain diharapkan tetap menjaga posisi berdirinya sambil berjalan. Sehingga mau tidak mau pemain egrang memiliki keberanian, kelenturan dan kekuatan fisik, serta menjaga stabilitas dirinya dalam menahan beban tubuh.

Karena egrang merupakan media bermain, tentu saja para pemainnya akan menikmati hiburan murah dan menyenangkan. Sehingga akan membantu pembentukan emosi dan kejiwaan anak menjadi anak-anak yang periang. Namun demikian, permainan egrang pun semestinya diajarkan bagaimana cara membuatnya, sehingga anak-anak tidak hanya bisa memainkannya, tapi juga mampu membuatnya secara mandiri. Tentu saja tergantung usia yang mereka miliki.

Yang pasti, dengan memperkenalkan dan memasyarakatkan egrang pada anak-anak paling tidak kita sudah berusaha menjaga warisan leluhur ini tetap terjaga dan tidak terlibas oleh arus modernisasi teknologi permainan saat ini.

Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!