Sabtu, 04 Juni 2016

Bisakah Anak Tuna Daksa Belajar Mengaji?



Anak Tuna Daksa Belajar Mengaji?

Belajar menghafal Al-Qur'an hakekatnya bukan perkara yang mudah, karena menghafal Al-Qur'an membutuhkan kemampuan intelegensi yang baik dan tentu saja dilakukan dengan ketekunan agar Allah memberikan kekuatan dan kemampuan menghafal ayat-ayat tersebut. Meskipun sulit, ternyata banyak anak-anak saat ini yang mampu menghafalnya dengan baik. Tentu saja karena Al-Qur'an adalah Firman Allah SWT, maka Allah jugalah yang akan memberikan pertolongannya.

Seperti apa yang dilakukan oleh Tadjie, anak tuna daksa yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di SLBN Metro merupakan salah satu dari sekian ribu siswa yang mengalami kelemahan fisik, mengalami kekurangan fisik sejak lahir yang secara tidak langsung turut menghambat mobilitas dan kemampuannya dalam belajar. Meskipun demikian, tidak ada alasan bagi Tadjie untuk menyerah pada keadaan. Ia lalui segala ujian dari Allah ini dengan tetap belajar dan menjalani kehidupannya dengan apa adanya.

Tadjie menurut hasil assesment sekolah memiliki kelemahan dalam motoriknya, baik motorik halus maupun kasar yang secara tidak langsung menghambat mobilitasnya dalam belajar. Selain itu, karena kesulitan memfokuskan penglihatan, ia pun sulit menerima pelajaran yang harus diperoleh dengan melihat atau membaca. Jadi kebanyakan aktivitas belajarnya dengan mendengar berulang kali dan kemudian ia menghapalnya berulang-ulang hingga hafal. Tidak mudah sih, tapi itu adalah jalannya untuk bisa belajar.

Prinsipnya, biarlah tubuh memiliki kekurangan, tapi semangat untuk belajar jangan sampai goyah. Apalagi begitu banyak tokoh dunia yang mengalami kekurangan fisik yang begitu berjasa bagi negara dan ilmu pengetahuan, Tokoh Abdurrahman Wahid, meski memiliki kelemahan dalam penglihatan ternyata menjadi tokoh terkenal dan pernah menjadi Presiden di Indonesia, Presiden ke-4 yang juga telah sukses menunjukkan jati diri bahwa anak-anak berkebutuhan khusus pun bisa seperti beliau.

Stephen Hawking, salah satu tokoh fisikawan terkemuka di abad ini adalah sosok yang memiliki kekurangan fisik. Ia tidak pernah menyerah untuk bisa menjadi ilmuan terkenal dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Tuna daksa yang tanpa kemampuan menggerakkan fisik ternyata mengangkat dirinya menjadi sosok yang disegani oleh para ilmuan di abad ini.

Hellen Keller, perempuan satu ini selalu diingat dan menjadi sejarah penting. Dia merupakan perempuan yang luar biasa karena dengan keterbatasannya mampu meraih kejayaan seperti manusia normal. Hellen merupakan seorang penulis Amerika, aktivis politik dan juga dosen. Dia seorang tuna netra dan tuna rungu pertama yang mendapatkan gelar sarjana seni. Kisah tentang guru Helen, Annie Sullivan, berhasil menerobos isolasi yang dikarenakan kekurangan bahasa Helen hingga membuat Keller mampu berkembang dan berkomunikasi. (tempo.co)

Begitu juga Albert Einstein yang juga adalah seorang ahli fisika (fisikawan terkemuka) di abad 20 yang menemukan teori relativitas dahulu adalah anak yang dianggap bodoh dan tidak mampu menerima pelajaran. Serta beberapa tokoh lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Yang pasti, anak-anak seperti ini bukanlah aib yang harus disembunyikan. Mereka adalah insan yang diberikan kelebihan yang semestinya digali dan dikembangkan demi kehidupan mereka selanjutnya.


Adi Kurniawan, Lomba cipta baca puisi tingkat Prov. Lampung


Adi Kurniawan adalah salah satu siswa di SLBN Metro SMPLB D, ia kebetulan ditunjuk untuk mengikuti lomba cipta baca puisi yang diadakan di Provinsi Lampung.

Dengan melawan beberapa peserta lain, Adi mampu meraih juara 2. Sebuah prestasi yang baik meskipun targetnya adalah juara pertama, tapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus, bisa ikut dalam event perlombaan dan memenangkan lomba adalah kebanggaan.

Menjadi pencipta dan pembaca puisi juga tidak mudah, karena membutuhkan pengetahuan seni dan sastra yang baik. Selain itu membutuhkan penjiwaan yang dalam agar puisi itu senantiasa indah.

Yang pasti, kemenangan adalah impian, tapi belajar dan terus belajar adalah proses hidup yang harus dijalani dengan kesabaran dan kegigihan hingga tujuan tercapai.


Jumat, 03 Juni 2016

Pah, Mengapa Engkau Membuangku

Pagi itu seorang ibu tengah asyik mengerjakan pekerjaan rumahnya. Mengepel, mencuci dan memasak menjadi kegiatan sehari-hari. 

Sungguh getol sang ibu meskipun tubuhnya terlihat lelah tapi tetap bersemangat. Padahal perutnya tengah membuncit lantaran sudah hamil 5 bulan. 

Ia adalah wanita yang beruntung, memiliki suami seorang tentara adalah sebuah kebanggan. Gaji sang suami sudah menjadi persiapan kebutuhan sehari-hari. Tak seperti wanita lain yang harus membanting tulang di perkebunan karet misalnya, atau harus pagi-pagi subuh ke pasar karena harus berjualan. Dan tidak juga seperti ibu-ibu lain yang harus ke sawah lantaran tanaman padinya sudah banyak dikerubuti rumput. Tidak, ia cukup beruntung dan ia tak perlu susah-susah bekerja demi menyambung hidup. Tugasnya murni sebagai pendamping suami, bekerja ya di rumah mempersiapkan kebutuhan bagi suaminya kala suami berada di rumah. 

Maklum, bagi seorang tentara, suaminya harus mengabdi pada negara. Apalagi tatkala masih bertugas di daerah perbatasan, tentu hingga berbulan-bulan sang istri tidak bisa melihat senyum suaminya. Padahal dalam kondisi hamil itu ia pun ingin dibelai-belai dan diajak ngobrol terkait rumah tangganya. Sayang sekali kesempatan itu jarang ia dapatkan lantaran memang tuntutan pekerjaan yang mengharuskan ia meredam rasa rindu yang menggebu di dada. 

Hari demi hari, bulan berganti bulan bahkan berganti tahun biduk rumah tangganya berjalan romantis, saling menjaga romantisme ala keluarga lainnya. Suami bekerja dengan waktu yang jarang dipertemukan lantaran tuntutan tugas. Istri yang setia menanti di rumah meski dalam kesepian. 

Tapi sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, lantaran kelahiran anak pertama justru anak yang dilahirkan tidak sempurna. Anak yang diidam-idamkan seperti anak yang lain dengan aneka kelebihan yang dimiliki, anak yang ceria dan membanggakan kedua orang tua. Anak tersebut terlahir sebagai anak autis. Anak yang cenderung hiperaktif. Kelahiran anak satu-satunya ini ternyata meninggalkan kecewa orang tua, khususnya sang ayah yang sedari awal mengharapkan memiliki anak yang sempurna. 

Salam

Terkait Bela Negara, Memang Urusan Siapa?

Heboh akhir-akhir ini ternyata semakin menjadi-jadi. Di sana-sini terjadi terjadi huru-hara yang justru mengundang pro dan kontra, belum lagi terkait hajat Pilkada Serentak, kayaknya juga menjadi masalah yang "kayak" serius banget. Ee belum selesai masalah ini, muncul lagi masalah perang-perangan ala senayan. Antara pemerintah dan legislatif terlihat gak pro, dan kelihatan seperti anak-anak. Pemerintahnya sudah susah payah bekerja, ee para wakil rakyat bikin sensasi, menyebar kop gak jelas dengan tulisan presiden Megawati. Nggak tahu ya, apa memang negeri ini diciptakan untuk tidak dewasa, jadi persoalan yang sejatinya bisa diselesaikan dengan amat sederhana, seakan-akan dibuat mumet dan ribet.  

Dua lembaga tinggi negara justru saling bermusuhan ala ajam aduan, gak saling bersinergi tatkala negeri ini membutuhkan pegangan. Ekonomi yang masih fluktuatif seharusnya menjadi perhatian yang lebih serius. Jangan mikirin tunjangan melulu dan meributkan isi kantong pribadi, padahal masyarakat pedesaan dan para korban bencana sangat membutuhkan perhatian. Walah jadi ngelus dada dan tepuk jidat kalau melihat fenomena lucuh ini. 

Belum lagi kegagalan mentri Yasona Laoly yang "membiarkan" penjahat sekelas GT itu bisa indehoy dan kluyuran yang juga membuat respon dari banyak kalangan. Kog sepertinya penjara itu hanya tempat persinggahan. Sudah tempatnya enak, fasilitas bisa dipesan, dan mudahnya jalan-jalan kayak orang utan. Mungkin perempuan juga bisa dipesan ya? Ah... nggak mau suudzon, nanti bikin dosa dan bikin sengsara dunia dan akhirat. 

Nah, meskipun persoalan di pemerintah sudah cukup membludak, muncul lagi dengan istilah Bela Negara, orang-orang terkaget-kaget melihat ide ini. Mereka beranggapan dan beralasan kalau ada program bela negara tentu menjadi masalah baru, bener sih, karena memang gak sesederhana menelorkan kebijakan, jika antisipasi setiap kejadian belum ada langkah yang jelas. Tapi, selaku warga negara yang baik saya mendukung kebijakan Bela Negara ini. Semua warga negara dan ber KTP Indonesia ya harus membela negaranya. Gak bisa ditawar-tawar lagi. Semua harus turun tangan agar negeri ini bisa kembali, kemakmuran bisa diraih lagi, negeri yang loh jinawi. Lalu, bagaimana bisa meraih tujuan itu, seperti dalam Pembukaan UUD 1945: 

"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" 

Karena membaca Pembukaan UUD 45 itu, maka selayaknya setiap warga negara itu harus bisa menolong negaranya dari segala macam ancaman. Ancaman di sini tidak harus berbentuk ancaman dengan senjata, lantaran kebodohan dan kemiskinan saat ini menjadi ancaman terberat di negeri ini. Bahkan jika ditelisik, bahwa kehancuran bangsa itu awalnya karena kebodohan dan kemiskinan, lantaran dengan lemahnya kedua elemen itu, maka suatu negara mudah dilemahkan dan akhirnya secara perlahan hancur, luluh lantah tanpa bekas. Pendidikan yang tertinggal menjadi awal kehancuran di segala bidang. Kalau pendidikan rakyatnya rusak, maka otomatis semua dimensi kehidupan semakin gak karu-karuan. Kemiskinan semakin merajalela dan tak perlu dengan senjata, negara itu akan binasa dengan sendirinya. 

Saya sependapat dengan Pak JK soal bela negara itu tak harus dengan senjata, karena membela negara itu bisa dengan menjadi guru, pedagang, ulama, petani, nelayan, atau jadi pejabat di senayan. Jadi membela negara itu semua aktivitas kita demi memperoleh kehidupan yang lebih baik itu hakekatnya sudah membela negara. Kalau guru sudah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencetak generasi cerdas dan berkompetisi global, maka mereka sudah menjadi pembela negara. Satu orang bisa menghasilkan ribuan orang ahli yang terdidik dalam bidang masing-masing. Pedagang yang jujur menjadi pembela negara jika mereka tidak berlaku curang dan menimbun aneka barang kebutuhan masyarakat. Tak membuat panik dengan kenaikan harga yang terlalu mahal itu juga bentuk membela negara. Petani pun demikian sama halnya dengan nelayan dan pekerja-pekerja lain, hakekatnya mereka semua adalah pembela negara. 

Para ulama, kiyai, pastur, pendeta, dan tokoh-tokoh agama pun sudah membela negara. Mereka mengajarkan makna cinta kasih dan akhlak pada sesama. Karena dengan modal itu negeri ini akan menjadi negeri yang tenang dan damai. Begitu pula para pejabat di senayan, bekerja dengan profesional dengan mendahulukan kepentingan rakyat juga termasuk membela negara, tak usah ikut-ikut mengoleksi senjata untuk ikut berperang. Karena membantu rakyat mengentaskan kemiskinan sudah cukup dianggap membela negara. Daripada berdebat dan ribut persoalan tak penting mending fokus pada tujuan awal mereka menjadi pejabat, kan visi-misinya ingin negara ini maju, khan? Bukan justru membuat statement dan tindakan yang memalukan. Disaat para korban terhimpit masalah dampak lingkungan, dan di saat para korban bersiap-siap meregang nyawa lantaran sesak oleh asap, eee para wakilnya justru berebut jatah tunjangan. 

Mbok ya malu dan prihatin dengan keadaan yang tengah membelit. Jangan urusan dompet sendiri diperhatikan sedangkan masyarakat diabaikan. 

Namun demikian, jika suatu saat nanti, negeri diambang perang besar, dan semua rakyat harus membela negara dengan mengangkat senjata, apa boleh baut ee buat, maka saya pun siap membela negara. Membela negara dari jajahan asing dan jajahan para penghianat negeri ini.  

Tapi yang saat ini harus saya kerjakan adalah, membela negara ini dari kebodohan, mudah-mudahan semua aktivitas apapun bentuk merupakan wujud bela negara yang sesungguhnya. 

Ya sudahlah.... smga kita semua mau membela negara tanpa diminta, karena itulah kita menjadi warga negara. Warga yang selalu ada di depan, tengah dan belakang negaranya. Mendukung setiap usaha negeri ini meraih kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan untuk semua. Salam

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/terkait-urusan-bela-negara-emang-urusan-siapa_562183ee6523bdc30f24051b

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!