Tampilkan postingan dengan label slbn metro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label slbn metro. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Juni 2024

Meriahnya Pentas Seni dan Gelar Karya di SLB Negeri Metro

 

Gambar : Pembukaan Pentas Seni dan Gelar Karya pada Kelulusan Siswa SLBN Metro, 12 Juni 2024


"Dunia selalu tampak lebih cerah ketika Anda baru saja membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada." - Neil Gaiman,  "Kreativitas sama pentingnya dengan literasi." - Ken Robinson 


Dua kalimat motivasi di atas yang juga menjadi inspirasi dan motivasi siapa saja yang ingin meningkatkan pendidikan anak-anak, karena dari merekalah peradaban manusia itu akan diwujudkan. 

Yap, itulah pengantar dari sebuah catatan positif ketika kami mengadakan sebuah acara yang dilaksanakan setahun sekali di sekolah kami SLB Negeri Metro.  

Di hari Rabu, 12 Juni 2024 lalu, perhelatan yang direncanakan jauh-jauh hari alhamdulillah dapat terlaksana dengan sangat baik dan mendapatkan apresiasi dari wali murid.

Kegiatan tersebut adalah Pentas Seni dan Gelar Karya dalam rangka kelulusan siswa kelas 6, 9 dan 12. Merupakan agenda tahunan yang berawal dari hasil rapat bersama pihak sekolah, komite dan wali murid dengan dukungan masyarakat sekitar. 

Dengan musyawarah yang cukup antusias maka acara kelulusan tersebut pun berlangsung dengan meriah dan menampilkan hasil karya serta pentas seni dari murid-murid yang memang ingin dan mau menampilkan karya seni mereka.

Ada beragam persoalan yang awalnya muncul dalam rapat terkait bagaimana bentuk kegiatannya, namun dengan musyawarah bersama, kesepakatan pun terjadi dan semua wali murid sangat mendukung penuh kegiatan tersebut.

Salah satu penampilan anak-anak SLBN Metro (doc. pribadi)

Pentas Seni dan Gelar Karya, meningkatkan dukungan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya

Pentas seni dan gelar karya ini sejatinya kali kedua dilaksanakan di SLB Negeri Metro, di tahun sebelumnya kami pun menyelenggarakan kegiatan yang sama, namun dengan format yang seadanya. Hal tersebut karena kurang adanya pelibatan wali murid dalam kegiatannya. Wali murid awalnya kurang begitu mengetahui manfaat dari kegiatan Pentas Seni dan Gelar karya bagi murid-murid. Sehingga kegiatan tersebut terlaksana dengan meriah meskipun masih kurang variatif.

Sesi foto sebelum anak-anka tampil (doc. pribadi)

Gambar penampilan anak-anak (doc. pribadi)

Sedangkan di tahun ini, semua elemen sekolah, komite serta wali murid dan anak-anak turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Seperti bagaimana menyusun perencanaan kegiatan, mengakomodir gagasan yang diberikan ke pihak sekolah, serta menampung segala masukan yang bermanfaat dari pihak mana pun. 

Pada hakikatnya kegiatan ini murni hajat wali murid yang ingin mengapresiasi dan menunjukkan kebahagiaan mereka ketika anak-anak mereka telah menyelesaikan pendidikan di setiap jenjangnya. Sekolah adalah fasilitator dan mendukung sepenuhnya kegiatan yang ada agar berimplikasi pada peserta didik. Bahkan karena kegiatan ini, diharapkan motivasi dari murid dan wali murid semakin meningkat.

Sesi tampilan anak-anak SLBN Metro (Doc. pribadi)

Hal tersebut adalah sebuah manifestasi dari kegiatan sekolah yang merujuk pada Kurikulum Nasional yang mana salah satu penerapannya adalah melibatkan semua elemen masyarakat dalam mendukung kegiatan sekolah.

Dengan adalah kolaborasi dari semua warga sekolah, murid dan wali murid tentu merupakan implementasi dari manajemen sekolah berbasis aset. Warga sekolah, wali murid dan pihak lain yang mendukung kegiatan tersebut merupakan wujud dari optimalisasi pemafaatan aset di sekolah dan masyarakat, sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.

Karya murid-murid SLBN Metro (doc. pribadi)

Meningkatkan partisipasi murid dalam kegiatan

Betapa senang dan bangganya ketika menyaksikan anak-anak mau menunjukkan bakat dan kemampuan mereka dalam bidang seni. Ada beberapa seni tari kreasi dan tari budaya dari Lampung yang mereka tampilkan, yang semua itu adalah manifestasi dari olah kreativitas anak-anak berkebutuhan khusus yang ingin menunjukkan kemampuannya di hadapan semua orang. 

Keberanian anak-anak menunjukkan bakat mereka tentu merupakan capaian pembelajaran di sekolah, di mana salah satu kesuksesan pendidikan adalah kemandirian anak serta kemampuan anak menunjukkan kreativitas dan keberanian tampil di hadapan umum. Tentu saja ini sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, yaitu : Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Gotong royong, Mandiri dan Bernalar Kritis. Semua itu terwujud dalam kolaborasi dari kegiatan ini.

Sumber doc. pribadi

Memang, setiap anak belum semua berkesempatan menampilkan kreativitas mereka, tapi paling tidak setiap anak turut serta mendukung dan menikmati setiap bagian kegiatan dengan rasa bahagia.

Sejak mereka memasuki dunia pendidikan, tentu ada peningkatan dari tiap jenjang pendidikannya. Baik dari yang bersifat sederhana sampai yang begitu kompleks ketika menduduki tingkatan SMA. Itu semua bisa diamati dan dinilai oleh siapa pun. 

Semua anak menunjukkan peningkatan potensi yang dimiliki dan menunjukkan bakatnya masing-masing, yang boleh jadi bagi sebagian orang dianggap mustahil. Tapi inilah anak-anak istimewa dengan segudang potensi yang dimilikinya. Ketika orang tua telah mengarahkan pendidikannya, maka guru menuntun tumbuh kembang anak-anak ketingkat terbaiknya. 

Ki Hajar Dewantara pernah berkata bahwa pendidikan itu menuntun tumbuh kembang murid sesuai dengan kodratnya, baik kodrat alam maupun zamannya agar mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.

Pemberian sambutan ketua panitia (dok. pribadi)

Perwakilan wali murid tengah memberikan sambutan (doc. pribadi)

Hal ini disampaikan pula dalam sambutan dari Ketua Panitia, Plt. Kepala Sekolah dan perwakilan wali murid, di mana disampaikan bahwa ada banyak kemajuan yang dimiliki anak-anak. Dan karena didikan yang tulus dan sabar dari guru-gurunya maka anak-anak istimewa ini dapat berkembang derajat kemampuannya secara optimal sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki. 

Bahkan perwakilan wali murid pun menyampaikan perasaan haru atas pencapaian kemampuan dari anak-anak didik di sekolah ini.

Sekolah mempunyai kewajiban memberikan layanan dan fasilitas terbaiknya bagi perjalanan pendidikan dan latihan anak-anak didiknya, sedangkan guru memfasilitasi belajar para anak didiknya sedangkan wali murid dan masyarakat sekitar adalah mendukung anak-anak agar terus belajar dan meningkatkan potensi terbaiknya. 

Plt. Kepala SLB Negeri Metro tengah memberikan sambutan (doc. pribadi)

Pada akhirnya, Pentas Seni dan Gelar Karya ini adalah sebagian dari wujud implementasi kurikulum merdeka dan implementasi pendidikan yang berpusat dan berpihak pada murid. 

Muridlah yang menciptakan beragam jenis kegiatan, dan merekalah yang terus didorong menjadi pihak yang bisa menyukseskan kegiatan tersebut dengan menunjukkan skill dan kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam sebuah pergelaran di sekolah dengan dukungan semua pihak.

Semoga di tahun depan, kegiatan ini bisa terlaksana dengan lebih meriah dan tentu saja membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Seperti kata-kata motivasi di awal tulisan ini, bahwa dengan kehadiran kita dalam berkreasi dan berkreativitas, akan menciptakan dunia yang lebih cerah dan kemampuan dalam kreativitas sama pentingnya dengan literasi.

Salam

Metro, 13 Juni 2024

Lulus Sekolah Adalah Akhir Segalanya, Benarkah?

Gambar : Plt. Kepala SLBN Metro, Murid dan Guru Kelas tengah berfoto bersama (doc. pribadi)


Kita mungkin pernah berpikir bahwa lulus sekolah adalah akhir segala-galanya. Atau mungkin menganggap bahwa dengan kelulusan tersebut  maka masalah kehidupan telah selesai. Sungguh ini adalah penilaian yang kurang tepat ya?

Yap, ketika kita menduga bahwa berakhirnya masa pendidikan adalah akhir sebuah perjalanan menuntut ilmu, ternyata pendapat ini tidak semuanya benar. Mengapa? Karena persoalan-persoalan ketika bersekolah pastilah akan ditemukan lagi pasca menyelesaikan pendidikannya. 

Hal tersebut dimulai dari seperti persoalan apakah nanti setelah lulus sekolah akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi? Atau ingin mengakhiri pendidikan dan mulai bekerja? Atau banyak fakta yang kurang enak dirasakan oleh lulusan SMA misalnya, ketika mereka terpaksa atau dituntut untuk segera menikah, baik karena dijodohkan atau tuntutan dan kondisi kehidupan keluarga yang kurang beruntung.

Beberapa pilihan yang boleh jadi "rumit" ini memang selalu saja terjadi, kita sebagai generasi tua pun pernah mengalami gejolak dan fenomena konflik batin. Apakah meneruskan pendidikan, putus sekolah dan mencari pekerjaan, atau "terpaksa" menikah karena dorongan dari orang tua.

Dari ketiga persoalan itu tidak mudah diurai masalahnya dan tidak sulit pula untuk dicarikan jalan tengahnya.

Namun dari tulisan ini adalah sekedar ingin menggali, apakah dengan lulus dari pendidikan dengan serta merta lepas dari tanggung jawab atau kewajiban sebagai manusia yang harus belajar sepanjang hayat dan menghadapi persoalan lain dalam kehidupannya?

Pertanyaan tersebut tentu saja bermula dari masalah diantaranya karena banyak anak yang terkadang kurang mampu memutuskan apakah ingin melanjutkan pendidikan atau justru stop dan mengakhiri proses pendidikannya dengan mencari pekerjaan.

Persoalannya sebenarnya ada dua hal:

Pertama, bagi anak-anak yang berprestasi sejatinya pemerintah telah memberikan bantuan bagi murid yang kurang mampu secara ekonomi berupa PIP (Program Indonesia Pintar). 

Program ini sejatinya sangat membantu bagi murid-murid yang ingin melanjutkan program pendidikannya di perguruan tinggi. Dengan prestasi yang dimiliki ranking di sekolahnya, mereka lebih berkesempatan mendapatkan beasiswa atau keringanan biaya pendidikan. Maka tak sedikit anak-anak kurang mampu yang mampu melanjutkan belajarnya sampai ke perguruan tinggi. Kesempatan emas jika mereka adalah murid yang berprestasi. 

Nah, bagaimana dengan murid yang kurang berprestasi atau kemampuannya rendah, tentu berharap mendapatkan kesempatan di sekolah negeri juga harus berpikir dua kali. Meskipun saat ini sistem penerimaan sekolah berdasarkan zonasi, namun tingkat kemampuan anak cukup menjadi persoalan tersendiri bagi anak-anak dalam melanjutkan pendidikan.

Sehingga bagi anak-anak yang "pintar", memiliki banyak peluang menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya. Tidak sedikit di antara mereka bisa menempuh pendidikan sampai S-3 di luar negeri, meskipun kehidupan keluarganya hanyalah pekerja dengan penghasilan yang amat minim.

Berbeda sekali dengan anak-anak yang kurang kemampuannya, dan motivasi belajarnya juga amat lemah. Hal  ini tentu menjadi kendala untuk bisa melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Anak-anak yang tidak begitu mampu memperoleh prestasi akademik, solusinya adalah mendapatkan kursus gratis dari pemerintah yang juga saat ini telah diberikan pada anak-anak putus sekolah atau anak-anak lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Balai Latihan Kerja (BLK) memberikan kesempatan mendapatkan beragam keterampilan yang dibutuhkan.

Namun, bagi yang tidak mau sama sekali melanjutkan pendidikan meskipun keluarga mereka berada, maka solusinya adalah membuka usaha swasta sebagai petani, pedagang atau justru bekerja sebagai wirausaha mandiri atau sebagai pekerja swasta baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI/TKW). Ada banyak negara yang menampung keahlian mereka dengan gaji yang cukup menggiurkan. 

Persoalan kedua adalah ketika anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA ini tidak memiliki dorongan internal, orang tua pun tak memiliki biaya cukup untuk menyekolahkan anaknya dan rerata keluarga ini telah pasrah dengan keadaan. Solusinya adalah mereka akan bekerja di sektor non formal dengan sedikit kemampuan dengan penghasilan yang kurang layak, bahkan jika mereka adalah perempuan, banyak di antara mereka yang harus segera dinikahkan di usia yang cukup dini.

Hal ini mungkin dimaksudkan untuk mengurangi beban keluarga. Tentu saja karena dengan menikahkan anak-anaknya, akan membuka kesempatan mereka untuk mandiri dan mulai mengurus keluarga. Meskipun faktanya banyak pernikahan di usia dini yang justru menjadi beban keluarga dan masyarakat. Bahkan ada di antara mereka yang mengalami perceraian.

Lulus sekolah adalah muncul masalah yang lebih besar jika tidak memiliki keterampilan

Mengapa dapa dikatakan bahwa lulus sekolah itu justru akan menimbulkan masalah baru, jika para lulusannya tidak memiliki keterampilan? Sebab jika ingin mendapatkan penghasilan yang layak, kemampuan atau skill tertentu harus dimiliki lulusan SMA ini. 

Berbeda dengan para lulusan SMK atau SLB dengan program keterampilan, lebih menjanjikan skill yang bisa mereka manfaatkan dalam membuat lapangan pekerjaan atau mencari pekerjaan berbasis jasa. 

Seperti misalnya jasa servis kendaraan, menjahit, pertukangan, atau produk tata boga, batik, souvenir dan sebagainya. Program ini jika dilihat dari sisi kebutuhan masyarakat tidak ada matinya atau berlangsung lama dan bermanfaat sepanjang kehidupan asalkan didukung oleh keterampilan menyikapi kebutuhan produksi dan pemasarannya.

Bagaimana saat ini sekolah-sekolah kejuruan dan Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah khusus telah memberikan beragam keterampilan yang dibimbing oleh guru-guru dan pelatih yang profesional dengan sertifikat atau ijazah keterampilan yang sesuai dengan bidang tugasnya.

Para guru ini secara langsung telah mempersiapkan murid-muridnya agar menjadi insan yang mandiri dan siap menghadapi kemajuan zaman dan bersaing dalam usaha dengan masyarakat lainnya. Tinggal apakah keberadaan mereka tetap mendapatkan dukungan dari orang tua, lingkungan atau pemerintah dan dunia usaha. 

Jika dukungan ini terus ada kita akan terus bisa berharap kesempatan para lulusannya untuk mendapatkan kehidupan lebih baik pasti di depan mata.

Sebaliknya jika para lulusan ini tidak mempunyai akses-akses keterampilan dan kesiapan skill, tentu menjadi masalah serius. 

Jika mereka melanjutkan ke perguruan tinggi pun nanti akan berhadapan dengan persoalan pekerjaan atau bagaimana membuka lapangan kerja dengan penghasilan yang layak. 

Paling tidak jika mereka bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dengan spesifikasi yang sesuai dengan dunia kerja, mereka bisa bersaing dengan perusahaan pemerintah (BUMN), mendaftar jadi ASN baik PNS maupun P3K atau perusahaan swasta.

Dukungan Sektor Usaha Swasta dan Pemerintah adalah yang paling dibutuhkan

Kembali pada persoalan bagaimana mereka menjalani kehidupan setelah lulus sekolah seperti paparan di awal tulisan ini, tentu kita akan membutuhkan beberapa solusi, baik dari pemerintah maupun swasta.

Pertama, berikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja baik di sektor formal, nonformal maupun informal yang ada di lingkungannya. 

Hal ini sedikit banyak memberikan peluang bagi lulusannya untuk terus berdikari dan berkegiatan secara produktif demi masa depan yang lebih baik. 

Bisa saja mereka turut bekerja di sektor konstruksi meskipun skill yang minim, namun yang perlu dipertimbangkan adalah besaran penghasilan yang harus layak bagi kehidupan. Selain itu fasilitas kesehatan pun semestinya tidak diabaikan.

Kedua, dukungan orang tua amatlah penting. Jika putra-putrinya adalah siswa berprestasi maka dukung untuk  terus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, karena ada program beasiswa bagi mereka yang berprestasi namun berasal dari masyarakat kurang mampu. 

Orang tua memang bisa mendorong anak-anaknya untuk menempuh pendidikan lebih tinggi, tetapi masalahnya adalah ketika UKT yang justru semakin mahal, tentu ini menjadi batu sandungan bagi mereka yang ekonominya rendah.

Ketiga, saat ini kebijakan pemerintah telah jelas bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan pekerjaan sesuai kualifikasi dan kebutuhan perusahaan. Bahkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, ada formasi 2 persen atau lebih bagi mereka yang ingin mendaftar di sektor formal. 

Sayangnya peraturan pemerintah ini tidak serta merta dijalankan oleh pemilik usaha, alasannya mereka belum bisa menyiapkan sektor mana yang harus diberikan dengan kondisi yang terbatas. Padahal ada banyak hal yang dilakukan oleh lulusan ini, baik anak-anak pada umumnya atau anak-anak berkebutuhan khusus yang kini telah memiliki keterampilan.

Keempat, berikan kesempatan pada lulusan untuk membuka usaha sendiri, baik sebagai pemilik usaha kecil-kecilan dengan bantuan dari pemerintah atau modal dengan bunga ringan yang saat ini masih sangat mereka butuhkan.

Kelima, adanya dukungan pasar dari produk-produk yang dihasilkan, karena dengan adanya pasar yang terbuka, hasil karya dari para lulusan pasti akan terserap, dan tentu saja akan memberikan kesempatan mereka mengembangkan usahanya menjadi lebih maju dengan dukungan pelatihan atau mentoring dari pemerintah agar usaha mereka bisa layak di pasaran.

Kiranya lulus sekolah bukanlah sesuatu yang menyenangkan tapi bisa juga menjanjukan. Asalkan setelah lulus dapat terus produktif dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki dan tidak hanya berpangku tangan.  Hal itu karena memang pasca lulus sekolah masih ada tantangan dan peluang yang harus terus dicari dan dikembangkan demi kehidupan masa depannya.

Jika kita sudah merasa yakin bahwa dengan lulus akan seperti apa, dan akan berbuat apa untuk masa depan, ini tentu adalah harapan orang tua, masyarakat dan negara. Karena para lulusan ini mampu menentukan masa depan mereka dengan kemampuan yang dimiliki. Salam

Jumat, 20 Januari 2017

Anak-anak Berkebutuhan Khusus dan Literasi Sekolah

Anak-anak tengah asyik membaca di ruang perpustakaan


Membangun budaya membaca bagi anak-anak normal pada umumnya sampai sejauh ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, tercatat di antara sekolah-sekolah yang didirikan dan yang memiliki kecukupan bahan bacaan, ternyata minat mengunjungi perpustakaan sangat menggembirakan. Dengan situasi ini membuat saya semakin percaya diri, bahwa dengan dukungan semua pihak terkait program "gemar membaca" akan sangat mempengaruhi produktifitas dan kemampuan anak-anak sekolah pada khususnya dalam meningkatkan pengetahuan mereka.

Seperti beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kota Metro Lampung, kebetulan siang hari selepas istirahat, saya melihat anak-anak usia dini yang didampingi orang tua mereka terlihat cukup aktif dengan buku-buku yang ada di hadapan mereka. Entah sekedar melihat-lihat gambar atau sekedar membaca buku cerita.

Adapula orang dewasa yang sepertinya sudah mahasiswa yang juga tengah sibuk dengan buku yang ada di tangan. Bersyukur sekali rasanya jika generasi muda saat ini begitu mencintai buku dan meluangkan waktu untuk mengunjungi perpustakaan dan membaca buku yang bermanfaat.

Selain anak-anak usia dini dan mahasiswa, Adapula siswa-siswi sebuah sekolah menengah yang juga tengah sibuk dengan buku-bukunya, serta ada yang tengah asik melakukan browsing. Membaca buku digital atau sekedar mencari-cari informasi sangat mudah dilakukan karena fasilitas internet wifi juga disediakan.

Anak-anak normal pada umumnya sampai sejauh ini cukup memiliki antusias ketika berhadapan pada program gemar membaca atau literasi yang dicanangkan pemerintah. Bagaimana dengan anak-anak berkebutuhan khusus atau siswa difabel?

Salah satu siswa tengah menggunakan fasilitas komputer di ruang perpustakaan


Anak-anak berkebutuhan khusus dan tantangan program literasi sekolah.

Selain anak-anak normal pada umumnya, jika melihat antusiasme anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya siswa-siswi SLB Negeri Metro yang berkunjung ke perpustakaan sekolah, juga cukup tinggi.

Hampir setiap hari anak-anak tersebut terjadwal secara bergantian memasuki ruang perpustakaan demi untuk membaca dan mencari informasi tambahan terkait mata pelajaran yang mereka ikuti. Meskipun dengan waktu yang disediakan sekitar 2 jam, ternyata anak-anak tersebut seperti merasa kekurangan waktu untuk terus membaca dan menggali ilmu yang bermanfaat bagi mereka.

Di samping anak-anak yang tertarik dengan buku bacaan, dengan keberadaan tiga buah komputer yang awalnya didesain sebagai perpustakaan digital ternyata juga memancing minat anak-anak tersebut untuk turut memanfaatkannya. Sayang sekali dari ketiga komputer tersebut, hanya satu unit yang bisa digunakan. Entahlah, bisa jadi karena terlalu lama tidak diaktifkan karena liburan sekolah, jadi komputer tersebut mengalami error program.

Buku-buku yang tersusun di rak-rak buku turut mendukung program literasi sekolah

Bersyukur sekali program literasi sudah digulirkan setahun yang silam dan saat ini kegiatan ini berjalan dengan baik dan didukung oleh fasilitas yang tersedia. Meskipun jika ingin memenuhi segala kebutuhan akan buku, rasa-rasanya keberadaan tersebut masih kurang mencukupi.

Akan tetapi, lebih baik memanfaatkan yang tersedia dengan optimal, daripada membiarkan buku-buku yang ada hanya tertata dan bertumpuk-tumpuk di rak-rak buku. Sangat disayangkan, bukan?

Buku-buku yang tersedia di rak-rak dan lemari buku sekolah dibiarkan berdebu, dan sepatutnya dimanfaatkan sebagai bahan memperdalam ilmu pengetahuan ketika di dalam buku-buku pegangan guru dan siswa tidak merangkum semuanya.

Seperti pepatah, tidak ada rotan akar pun jadi. Meskipun buku-bukunya belum tersedia semuanya, namun semangat memperkaya pengetahuan dari buku bacaan sangatlah penting dan amat dibutuhkan bagi masyarakat, lebih khusus bagi anak-anak ABK.

Di beberapa kelas disediakan pula fasilitas membaca kelas literasi


Sinergitas antara program budaya literasi dan prestasi siswa SLB N Metro

Melihat antusiasme siswa dalam membaca sejatinya akan meningkatkan kompetensi siswa, termasuk di dalamnya kompetensi siswa ABK dalam membaca. Sebab dengan kebiasaan membaca bagi anak-anak ABK ternyata mempunyai dampak yang cukup signifikan bagi kelangsungan program literasi dan kemampuan siswa dalam berbagai bidang. Seperti beberapa kali anak-anak ABK khususnya SLB N Metro mengikuti lomba cipta baca puisi, dan membaca puisi ternyata bisa tembus dapat juara di tingkat Provinsi Lampung.

Begitu pula lomba menulis yang diadakan oleh pemerintah juga alhamdulillah di tingkat provinsi hasilnya tidak mengecewakan.

Walaupun ketika harus berjuang di tingkat nasional ternyata persaingannya semakin ketat jadi mengalami kegagalan. Yang pasti dengan adanya program literasi di sekolah dan didukung oleh buku-buku yang bermutu dan layak baca, pun menjadi aspek penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Membaca adalah sebuah tradisi yang positif. Jika dikembangkan dan digalakkan, maka keberadaan anak-anak ABK khususnya akan mengalami peningkatan kemandirian dan prestasi yang meningkat.

Membangun budaya literasi di sekolah luar biasa

Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa SLB N Metro di bawah kepemimpinan Ibu Dra. Yuly Hartaty sudah berusaha melengkapi buku-buku yang dibutuhkan siswa. Baik buku bacaan maupun buku pelajaran atau buku pegangan siswa di kelasnya. Termasuk di tahun 2016 ini, sudah menyediakan kelas literasi, Sementara ada empat kelas karena ketersediaan buku yang masih terbatas. Tetapi mudah-mudahan di tahun 2017 ini kelas-kelas literasi segera akan bertambah ke kelas-kelas yang lain.

Program gerakan literasi secara implisit sudah diprogramkan dan dilaksanakan di tiap kelas, seperti lima belas menit sebelum belajar berlangsung siswa-siswi membaca buku dan menceritakan kembali isi buku itu. Tidak seluruhnya tapi sebagian saja untuk kemudian bisa diceritakan pada siswa lain di kelas. Bagi siswa yang kemampuan membacanya masih kurang, dilakukan dengan guru membacakan isi buku atau menceritakannya di depan kelas dan seluruh siswa menyimak dengan tekun dan menanggapi pertanyaan guru.

Anak-anak yang sukses menggondol juara pada ajang lomba desain grafis dan lomba menulis di Tk. Provinsi di SLB PKK Bandar Lampung


Program sebelum belajar berlangsung ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kemampuan siswa dalam memahami isi cerita, tokoh-tokoh, karakter dan pesan-pesan yang disampaikan dari cerita yang dibaca atau didengarkan.

Semoga saja program gerakan literasi bukan hanya jargon, namun lebih dari itu benar-benar membudayakan gemar membaca dan sasaran akhir anak-anak mampu meneladani isi dari cerita dan menjadi siswa-siswi yang berkarakter baik. Dan sasaran lainnya adalah anak-anak semakin mampu membaca dengan baik, dan mampu mengikuti ajang perlombaan literasi yang diadakan di tingkat sekolah, provinsi maupun nasional.

Salam literasi!


Sabtu, 12 Juli 2014

Penggunaan Media Audio Visual, Cara Mudah Anak Belajar

14045363781904451927
Media Audio Visual



Beberapa waktu lalu, tepatnya ketika saya masih membimbing seorang anak Autis di sekolah kami. Kebetulan, kami membimbing di luar jam sekolah, yakni siang hari sebagai bagian ekstrakurikuler namun dilaksanakan dengan cara yang efektif.

Mengajarkan anak autis memang sering menemukan kendala, untung anak yang saya bimbing ini sedikit banyak sudah selayaknya anak-anak pada umumnya. Walaupun dari segi aktifitas seringkali keluar dari kewajaran. Misalnya ketika masih asyik-asyiknya saya bimbing dengan membahas beberapa soal tes, ternyata anak ini tiba-tiba ingin tidur dengan alasan kelelahan. Padahal waktu bimbingan baru beberapa menit saja. Tapi ya sudahlah saya izinkan untuk beristirahat. Atau kadang-kadang dia berjalan ke sana kemari tanpa jelas tujuannya. Sering ngomong sendiri meski tidak dalam situasi ngobrol dengan temannya.

Saya menduga, di malam hari  anak ini justru begadang, entah bermain game atau menonton televisi hingga larut malam. Jadi ketika di siang hari keluhnya selalu kelelahan dan rasa kantuk yang berlebih-lebihan. Dan maklumnya lagi memang di siang hari biasanya anak ini diminta beristirahat hingga menjelang senja. Tapi ya karena akan menghadapi perlombaan, kebiasaan beristirahat siang agak terganggu. Untungnya si  anak tidak mogok atau ngambek dan masih bisa terkendali. Jadi saya masih bisa meneruskan materi bimbingannya sampai anak ini benar-benar siap.

Selain membahas beberapa materi soal ujian, dan beberapa soal standar olimpiade, anak inipun saya bina agar mengenal berbagai alat peraga (media) pendidikan. Tentu saja karena anak ini memiliki kekurangan dalam orientasi, kadang terlalu lepas kendali namun kadang kala terlalu berorientasi pada satu objek. Dan itu kesulitan terberat bagi guru-guru autis.

Namun, karena tingkat autisme anak ini tergolong ringan, saya masih bisa mengajaknya lebih fokus pada materi dan media yang harus digunakan. Misalnya, hari pertama mengenal tentang fungsi jantung, maka hari beberapa hari saya mencoba untuk fokus pada media yang memperkenalkan tentang beberapa anatomi tubuh khususnya jantung. Begitu pula ketika saya harus mengajarkan tentang rangkaian listrik, maka di saat itu pula saya memfokuskan anak mengenal benda-benda yang digunakan untuk pembelajaran tentang rangkaian listrik. Dua sampai tiga kali saya contohkan alhamdulillah anak bisa mempraktikkan sendiri.

Sayang sekali, meskipun anak ini bisa lolos juara provinsi, tapi di tingkat nasional justru materi yang belum sempurna saya perkenalkan malah keluar. Ya..terpaksa si anak harus gagal dan menerima kekalahan atas siswa lain yang lebih jago. Tapi saya tetap bersyukur, karena usaha gigih dan kerja keras saya dan siswa membuahkan tropi dan mengantarkan kami bisa terbang ke Bandung sebagai kontestan mewakili tingkat propinsi.

Selain beberapa pembahasan soal dan menggunakan alat peraga, saya juga menggunakan media audio visual yang memudahkan anak mengulas kembali materi-materi yang telah saja ajarkan. Media ini memang sangat mudah dan membantu anak untuk menguasai beberapa materi pelajaran. Materi yang tercover sama dengan materi pelajaran umum, dan juga ditambah materi ketrampilan.

Karena diketahui bahwa media pembelajaran selalu menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Dengan media yang baik guru dapat membimbing anak secara teratur dan terfokus serta mudah untuk diterapkan kepada siswa. Sehingga secara perlahan kemampuan anak dapat dilatih menggunakann media yang disediakan oleh guru. Dampaknya materi dapat diserap dengan mudah dan menghasilkan kemampuan belajar yang optimal.

Saat ini, guru sudah sangat mudah menemukan beragam jenis media. Baik media yang dibuat sendiri oleh guru, juga media yang sudah dibuat sedemikian rupa oleh para ahli, dengan tujun agar para guru tidak menemui kendala yang berarti jika harus membuat beberapa media sedangkan para guru memiliki kelemahan dalam bidang tertentu. Misalnya media yang saya contohkan ini adalah media audio visual yang dibuat berbentuk seperti tutorial (modul) dengan judul Belajar Bersama Dika dan Dina yang diproduksi oleh PT. Globosinergy Multisarana ini. Media AV bantuan dari pemerintah pusat melalui bantuan sarana pembelajaran ke sekolah-sekolah inklusif di Indonesia.

Meskipun modul ini diperuntukan bagi anak-anak umum, namun bagi anak-anak disabilitas (misalnya anak autis) materi disesuaikan dengan kurikulum yang sudah ada. Misalnya anak autis yang saya bimbing adalah kelas VI, maka saya mengambil materi modul kelas V SD, dan seterusnya diturunkan sedikit demi menyesuaikan kebutuhan dan tingkat kemampuan anak. Yang pasti, kurikulum bagi anak-anak penyandang disabilitas tidak mutlak harus sama. Kadangkala materi diturunkan sedikit namun acapkali harus dinaikkan sedikit tergantung batas kebutuhan dan kemampuan mereka.

14045365761822503014
Media Audiovisual

Program ini dibuat sangat mudah diaplikasikan, selain mudah juga diperuntukkan mulai anak kelas 1 SD sampai SMA pun ada. Meskipun saya rasakan sudah baik dan mewakili materi pelajaran yang ditunjang, tapi memang dari segi kelengkapan perlu mendapat tambahan dari media lain.

Dengan media ini anak-anak bisa menggunakannya sebagai media bermain sembari belajar. Sekali diajarkan mereka akan langsung bisa menggunakannya. Melakukan proses belajar mandiri maupun dibimbing guru atau orang tua, sekaligus sebagai sarana bermain yang cukup menyenangkan. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun jika kita mau meminjam atau sekedar menyalin ke laptop maka sedikit meringankan kerja orang tua dalam membimbing anak-anaknya dan anak-anak lebih mudah dalam belajar dari pada harus membawa bermacam-macam buku pelajaran.

Cakupan materi yang ada dalam media ini pun beragam, mulai pelajaran umum di kelas masing-masing, juga ada pelajaran ketrampilan yang juga mengajarkan secara mudah bagaimana membuat beragam benda kreasi.

Selain pembahasan materi, di dalam program inipun tersedia bank soal, tujuannya memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan soal-soal yang sesuai dengan materi yang sudah diajarkan terlebih dahulu. Tentu saja bagi anak yang daya tangkapnya baik, bank soal ini akan sangat mudah mereka kerjakan. Guru bisa mengontrol kemampuan anak menyerap materi setelah soal-soal tersebut diselesaikan karena nilai yang diperoleh siswa akan ditunjukkan. Dari sini guru dapat mengevaluasi bagian-bagian mana materi yang belum terserap secara optimal.

14045367521075716059
Media Audio visual

Namun demikian, meskipun media ini sudah baik, pengawasan orang tua dan bimbingan pun perlu diberikan. Tentu saja tujuannya agar ketika anak menemukan kesulitan maka guru memberikan solusi maupun materi tambahan menjawab persoalan anak. Dan sayangnya tidak semua sekolah bisa menikmati media pembelajaran ini, padahal sepatutnya pemerintah memberikan fasilitas pembelajaran yang sama agar anak-anak Indonesia mendapatkan derajat pendidikan yang sama pula.

Siapapun Anda, baik guru, siswa ataupun orang tua, adabaiknya mempunyai media ini sebagai bagian media pembelajaran agar proses belajar anak menjadi menyenangkan karena mudah menggunakannya dan dapat digunakan kapan saja.

Mudah-mudahan semakin banyak media audio visual digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran dan anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang cerdas,  mandiri, dan berprestasi serta dapat bersaing dengan anak-anak negara lain.

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!