Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Maret 2015

Lagi-lagi, Pelanggan Smartfren Jadi Korban


Slogan smartfren yang katanya anti lelet, meski sampai saat ini sering lelet dan pulsa sering pula raib (marketeers.com)
Hari ini, (18/03) kasus kerugian yang dialami oleh pelanggan Smartfren muncul lagi. Kerugian materi akibat transaksi paket data internet tak sesuai dengan yang diharapkan. Paket internet sudah didaftarkan, tapi volume masih kosong dan pulsa pun sudah raib entah kemana.

Kejadian ini dialami seorang pemilik counter Topas, pengisian pulsa smartfren di salah satu wilayah di Kota Metro. Entah berapa kali penjual pulsa ini telah kehilangan uangnya karena raib tak jelas entah kemana.
Menurut penuturannya pulsa yang lenyap ini diawali oleh pulsa yang sudah masuk ketika di paketkan ternyata justru pulsanya hilang. Padahal ia sudah mengikuti aturan pendaftaran via sms sesuai dengan yang diberikan pihak smartfren. Paket data sudah diminta, tapi kuota internet bulanan tak juga dapat dinikmati. Saya melihat raut sedih dan kecewa, lantaran penghasilan hari itu harus dikorbankan oleh sebab proses pendaftaran paket data yang tak berhasil.

Beliau sudah berusaha mendaftarkan jenis paket yang disediakan smarfren, tapi justru tidak membuahkan hasil. Kebetulan sinyal yang seringkali lemot ini, jatuh pada taraf yang sangat rendah. Sedangkan paket yang sedianya dapat dinikmati pelanggannya harus diganti dengan pulsa baru dengan resiko menanggung kerugian per isian 50 ribu.

Smartfren, sebagai salah satu perusahaan jasa telekomunikasi yang cukup booming dengan beragam produk jasa dan layanan, ternyata sampai sejauh ini belum menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap layanan pelanggan. Baik terkait pengaduan dan keluhan kualitas sinyal yang buruk, paket pulsa yang sering kali terpotong tanpa diketahui sebabnya, dan sinyal yang cenderung lemot. Pernah pula saya melaporkan keluhan sinyal yang lemot via sms pelanggan, ternyata jawabannya tetap sama, bahwa kualitas sinyal dianggap tidak bermasalah. Meski faktanya tidak seperti yang disampaikan.

Padahal menurut visinya, smartfren berusaha memberikan kepuasan pelanggan, tapi toh faktanya sampai saat ini, kualitas sinyal justru semakin menurun. Tak hanya sinyal yang sering lemot, karena sinyal pun sering terputus tanpa sebab. Proses download yang mesti gagal, bahkan lebih mengecewakan lagi, tatkala proses aktivasi dapodik dan Padamu Negeri ternyata sinyal sangat jauh dari yang diharapkan. Hingga tengah malam, proses aktivasi tersebut baru bisa dirampungkan.

Beberapa keluhan yang dialami oleh pemilik counter tersebut pun acapkali saya alami sendiri, seperti halnya di tahun 2013 yang lalu, ketika saya membeli modem baru smartfren. Kebetulan kerabat menitipkan uangnya agar membelikannya modem smartfren. Dan kebetulan modem tipe baru. Awalnya kerabat tak mempersoalkan harganya karena masih terjangkau di kantong. Tapi yang membuat beliau kecewa karena belum genap sehari semalam modem itu digunakan ternyata sudah tak dapat digunakan. Entah, apakah produk tersebut bajakan, palsu atau tiruan. Yang pasti modem tersebut dibeli dari toko elektronik, handphone dan pulsa yang cukup besar. Saya tak curiga jika produk tersebut palsu, lantaran ada label resminya.

Tapi, ketika produk tersebut belum dipakai selama sepekan sudah rusak, maka sudah dapat diduga produk tersebut sepertinya memang belum sempurna. Jadi sepantasnya produk smartfren lebih diperbaharui lagi demi kepuasan pelanggan.

Ketika modem tersebut rusak, saya pun mengembalikannya ke toko di mana saya membeli. Dan kebetulan juga masih garansi jadi saya berharap modem tersebut bisa ditukar dengan yang baru.

Sayang sekali, harapan untuk segera mendapatkan penggantian, ternyata harus menunggu lama hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai-sampai saya tak enak hati dianggap menipu karena modemnya tak juga diambil. Karena tak sabar ingin segera menggunakan modem tersebut, kerabat pun akhirnya meminta modem yang baru di toko lain, padahal modem yang garansi tersebut belum juga saya dapatkan. Padahal berulang kali ditanyakan. Entahlah, apa memang teknis penggantian dengan garansi tersebut membutuhkan waktu lama?

Kekecewaan berulang kembali, tiga hari yang lalu(15/3) pulsa yang dibeli tiba-tiba raib. Padahal sudah didaftarkan paketannya. Si pemilik counter juga berkilah bahwa ia sudah memberikan pulsa yang dibeli dan sudah mendaftarkannya. Saya percaya dengan keterangan beliau, karena modem tersebut saya tinggal semalaman agar proses paketisasi bisa berjalan normal. Tapi, anehnya justru pulsa hilang dan paket dapat tidak dapat saya nikmati.

Saya pun tak enak hati, tapi apa daya, pulsa yang dibeli seharga 50 ribu, yang sedianya cukup untuk satu bulan berselancar di dunia maya harus lekang tak tahu di mana rimbanya.

Beruntung pemilik counter mau berbaik hati, ia merelakan modalnya raib demi mengganti pulsa yang tak jelas keberadaannya. Dua kali kejadiannya ini menimpanya. Dan sayang sekali meskipun itu kesalahan operator, ternyata pihak smartfren tak mau tahu bahwa pelanggannya banyak yang dirugikan.

Pesan kepada pihak Smarfren

Smarfren adalah satu-satunya yang sampai saat ini saya gunakan, karena sebelumnya sudah menggunakan layanan internet melalui provider lain. Dan saya mendapati awal peluncurannya smartfren cukup memuaskan. Tapi sayang sekali, akhir-akhir ini justru sangat mengecewakan.

Tak hanya pemilik counter dan saya yang harus menanggung kerugian, karena ada pihak lain yang turut menjadi korban sinyal yang tak stabil.

Mudah-mudahan, di kemudian hari, kejadian ini tidak terulang lagi. Sayang sekali bukan, jika para pelanggan berpindah ke lain hati karena layanan smartfren yang tak menghargai loyalitas pelanggannya?
Mohon maaf jika tulisan ini kurang berkenan, karena kesetiaan saya menggunakan layanan smartfren.

Salam

Senin, 26 Januari 2015

Waspadai Kurma Busuk Beredar





Kurma busuk yang sudah dipaketin dalam bungkus plastik, sengaja dicampur dengan kurma yang masih bagus untuk menutupi keburukan buah yang tak layak konsumsi



Betapa terkejutnya saya di pagi itu, 20 Januari 2015, tatkala mendapatkan bingkisan dari sahabat sesama guru. Sang guru kebetulan baru saja selesai dari ibadah umroh. Dan seperti biasa siapa saja yang kembali dari tanah suci Mekah, membawa bingkisan atau sekedar oleh-oleh yang ingin dibagikan kepada kerabat, keluarga dan sahabat yang ingin mencicipi oleh-oleh dari tanah suci Mekkah tersebut.

Awalnya kami senang melihat bungkusan yang berisi sejumlah kurma dan sebotol minuman yang katanya air zam-zam. Minuman wajib yang mesti dibawa tatkala kembali ke kampung halaman. Kurma tersebut dibungkus rapi seperti bungkusan kue dan air zam-zam diwadahi dalam botol kecil dengan ditempeli doa.

Tanpa ragu dan tak menunggu lama bingkisan tersebut kami lahap dan minuman pun turut membasahi kerongkongan kami. Kurma dari dahulu tetaplah manis di lidah. Sedangkan sebotol minuman yang katanya air zam-zam tersebut memang rasanya berbeda dari air minum yang biasa kami minum dari sumur atau minuman yang diperjual belikan. Berharap air zam-zam bisa menjadi obat karena air zam-zam memiliki kandungan senyawa yang baik untuk kesehatan kita. 

Meskipun demikian, demi ingin memakan kurma secara perlahan kami membuka bijinya satu persatu dan sayang sekali di sisa buah yang terakhir yang kebetulan dua butir ternyata mengandung belatung. Rasanya saya masih kurang percaya jika mengingat kurma yang telah kami makan ternyata sudah membusuk.

Dalam hati saya tidak segera menuduh si pemberi hendak memberi kami dengan makanan busuk, karena alangkah tidak terpujinya ketika memberi orang lain yang menurut kami dari tanah suci ternyata justru sudah tidak layak konsumsi. Justru kasihan sekali kenapa beliau tertipu barang yang kelihatannya bagus tapi justru merugikan dirinya. Tak hanya beliau yang membeli, karena kami yang menikmati pun turut kecewa lantaran sudah memasukkan belatung ke dalam perut kami.

Boleh jadi, si pembeli tidak memeriksa dahulu bagaimana kondisi kurma yang dibeli. Sehingga tertipu oleh pedagang makanan yang saat ini cukup banyak berkeliaran. Apalagi saat ini, buah kurma seperti tidak pernah disorot media atau BPOM terkait kondisi buah dan dampak kesehatannya bagi kita. Tentu sampai sejauh ini belum pernah ada laporan yang menyatakan bahwa kurma-kurma yang beredar banyak yang sudah tak layak konsumsi. Sehingga sampai saat inipun cukup wajar pula jika para pedagang nakal ingin memperoleh keuntungan yang berlebih lantaran mereka menjual makanan yang berbahaya bagi kesehatan.

Selain kondisi busuknya kurma tersebut, boleh saja di pasaran sudah beredar kurma yang sudah diberikan pengawet kimia yang berbahaya agar makanan ini awet. Meskipun kurma adalah makanan yang manis dan makanan manis cenderung awet, namun jika makanan ini disimpan dalam waktu yang lama maka tetap akan mengalami kerusakan jika tidak lekas laku terjual.

Apalagi jika melihat kondisi kurma "busuk" yang telah kami konsumsi sudah membuktikan bahwa para peziarah tersebut sudah menjadi sasaran empuk penipuan para pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan berlebih tanpa memikirkan dampak yang terjadi jika yang dijual berbahaya bagi kesehatan.

Kurma busuk yang sampai di tangan kami hakekatnya menjadi sampel, bahwa saat ini ada indikasi penjual kurma di pasaran sudah memanfaatkan kelengahan pembelinya. 

Ada beberapa asumsi bagaimana kurma busuk itu bisa mudah beredar.

Pertama, Kurma hakekatnya makanan yang dijamin kebersihan dan higienitas lantaran produsen pertama (penghasil kurma) selalu berusaha menjaga kualitas produk yang hendak diperjual belikan. 

Kurma termasuk dalam kategori komoditi eksport di mana Indonesia sebagai Importir yang membutuhkan berton-ton buah kurma setiap tahunnya. Karena kurma saat ini tidak hanya sebagai buah tangan bagi peziarah ke tanah suci, tapi masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengkonsumsi kurma dan menyimpan buah ini di lemari pendingin. 

Apalagi mendekati hari raya idul fitri, buah kurma menjadi salah satu menu hidangan meja yang tak pernah ketinggalan. Kurma manis dan legit selalu menjadi daya tarik tersendiri pegi penggemarnya. Termasuk saya sendiri tidak pernah menolak jika mendapatkan kurma. 

Terjadinya kurma busuk boleh jadi karena proses penjualannya di pasaran tidak memenuhi standar kesehatan. Tidak sedikit para pedagang yang mengeler alias memampang kurma tanpa ditutup rapat, jadi lalat dengan mudahnya hinggap di atas buah tersebut. Tak hanya lalat, debu yang kotor bersama kuman-kuman penyakit turut hinggap pada kurma. Jadilah kurma tersebut terkena kuman, dan kuman berkembang di dalam makanan.

Pantas saja, kurma yang kami nikmati sudah membusuk dan dipenuhi belatung. Boleh jadi kurma ini adalah kurma yang dibiarkan terbuka dengan udara bebas dan lalat-lalat begitu mudahnya hinggap di atasnya. 

Kedua, Selain karena kebutuhan import kurma bagi Indonesia cukup tinggi lantaran tinggi permintaan pasar, sehingga acapkali para pedang besar sengaja menyimpannya dalam waktu lama dalam dus-dus yang kurang rapat. Jadinya karena waktu penyimpanan terlampau lama maka tanggal kadaluarsa makanan pun terlewati tanpa kontrol - atau sengaja dibiarkan berlama-lama- lantaran tidak juga habis terjual.

Kondisi ini memicu kurma yang tadinya baik, karena terlalu lama dalam penyimpanan maka kualitasnya menjadi jatuh. Dampaknya ya sudah dapat ditebak, kurma yang hendak dijual tersebut sudah membusuk. Jika pedagang jujur, maka kurma-kurma yang membusuk tersebut langsung dibuang namun risiko pedagang tersebut mengalami kerugian.

Pedagang yang membuang kurma busuk tersebut hakekatnya lebih menjaga kualitas dan kemanan makanan yang dijual, dia memilih rugi daripada mengecewakan pelanggannya.

Ketiga, indikasi selanjutnya kenapa kurma busuk bisa beredar? Boleh jadi karena buah yang sudah busuk tadi sengaja dijual kembali  ke pengecer dengan harga yang relatif murah. Pedagang besar memilih rugi sedikit yang penting barang terjual daripada dia membuang sedangkan modalnya tak kembali.

Kurma murah dengan kualitas buruk tadi dipaket ke dalam bungkusan kecil, dijual dengan harga murah. Dengan dibungkus plastik rapi, pembeli jarang bisa mengecek keberadaan kurma. Dan tentu saja penjual berusaha curang dengan mencampur kurma yang baik dng yang busuk karena ingin mendapatkan keuntungan berlebih. Seandainya pembeli ingin sekedar mencicipi, penjual memberikan kurma yang kualitasnya baik untuk mengelabui para pembeli.

Sebuah aktifitas bisnis yang buruk yang justru merugikan orang lain. Dalam Islam model penjualan cara ini dikategorikan riba (haram), karena mencampurkan barang baik dng yang buruk demi mendapatkan keuntungan.

Keempat, kurma termasuk komoditi pilihan yang cukup bisa mengelabui petugas BPOM. Tentu karena selama ini yang menjadi obyek operasi BPOM dan dinas perdagangan dan dinas kesehatan jenis makanan hidup seperti ikan dan daging. Ikan dan daging sering didapati mengandung formalin atau sudah busuk. Jadi petugas mudah sekali mengecek kondisinya. Berbeda dengan kurma, selalu diidentikann dengan buah yang baik karena diimpor dari Arab Saudi. Padahal kenyataannya hampir semua buah dan makanan yang beredar saya ketemukan dalam kondisi sudah tak layak konsumsi. 

Pemerintah sudah tertipu penampilan dan label "import" dari beberapa jenis makanan ini.


Sehingga amat wajar pula buah kurma yang sejatinya sangat baik, bergizi dan dihukumi "sunnah" jika mengkonsumsi buah ini ketika berbuka puasa, diperlakukan kurang baik oleh para importir atau pedagang besar yang mampu membeli kurma dalam jumlah yang besar.

Tak hanya kurma, air zam-zam yang sekiranya merupakan minuman Nabi ini pun saat ini sudah banyak yang palsu. jadi saat ini para pedagang dan produsen minuman tersebut pun ingin mencari untung besar dengan menipu konsumen.


Oleh karena itu, saat ini, kita selaku konsumen semestinya waspada dengan peredaran buah busuk, karena tentu bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan. Terlebih-lebih pemerintah (BPOM) selaku lembaga yang mengontrol semua jenis makanan yang beredar di masyarakat agar tidak kecolongan lagi dengan beredarnya kurma busuk dan makanan lain yang justru merugikan masyarakat selaku konsumennya.

Salam

Note:
Tulisan ini dipublikasikan juga di Kompasiana.com/maliamiruddin/http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2015/01/20/waspadai-kurma-busuk-beredar-718101.html

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!