Rabu, 18 Februari 2015

Apakah Blog Tulisan Ilmiah?






Bermula dari kegiatan pelatihan penyusunan PAK dan PTK bagi guru-guru SLB N Metro yang diselenggarakan sejak Sabtu, 14 Februari 2015 kemarin. Di mana salah satu pembicara menyampaikan pendapatnya bahwa sebuah blog belum dianggap ilmiah. Kebetulan pembicaranya tersebut berasal dari perguruan tinggi di kota ini.

Ketika beliau mengatakan bahwa blog itu tidak ilmiah, sepontan saya menjawab "ya" karena saya merasa banyak blog yang ternyata ditulis tidak berdasarkan kaidah-kaidah penulisan karya tulis atau artikel yang bercirikan karya ilmiah. Saya langsung menjawab tersebut karena saya sendiri penulis blog yang merasakan bahwa kehobian menulis di sebuah blog sebagai tempat belajar menuangkan ide-ide, opini dan berita seputar yang terjadi di sekitar penulis sendiri. Tentu karena saya sendiri adalah penulis amatir, maka saya mengiyakan jika tulisan saya belum sepenuhnya disebut ilmiah.

Meminjam tulisan bang Nararya beberapa waktu lalu tentang Bobot Tulisan Akademis dan Fungsi Catatan Kaki, penulisan footnote dalam sebuah artikel tentu saya menganggap sebuah karya tulis bisa dianggap ilmiah dan layak menjadi rujukan jika benar-benar ditulis oleh orang-orang yang kompeten dan disertai rujukan-rujukan yang benar-benar faktual. Tidak sekedar tulisan "bodong" tanpa pedoman dan tata cara penulisan yang kurang baik. Saya menganggap apa yang saya tulis selama ini "memang" belum sepenuhnya layak disebut tulisan berbobot. Tentu karena diawali dari banyaknya tulisan tersebut yang masih dangkal dan perlu penelitian yang mendalam, selain itu tentu tak dapat dilupakan dan diabaikan adalah rujukan, sumber primer atau sekunder. Sumber faktual yang secara langsung diperoleh penulisnya serta sumber sekunder yang berasal dari buku-buku atau catatan-catatan orang lain yang benar-benar asli. Tentu ini tidak mudah dan bukan pekerjaan ringan jika ingin melahirkan tulisan yang benar-benar layak.

Selain dari aturan yang berlaku di atas, semestinya para penulisnya adalah orang-orang yang benar-benar kompeten, minimal ketika berbicara mengenai cara menulis yang baik, tentu kemampuan menulis juga tidak diragukan lagi dan pernah mengenyam pendidikan dan latihan bagaimana membuat tulisan (karta tulis) yang layak. Tak sekedar layak terbit, tapi benar-benar disertai dengan data-data dan bukti-bukti serta sumber autentik. Faktor sumber yang autentik tentu menjadi faktor penentu sebuah tulisan bisa disebut ilmiah. Karena proses penelitiannya tidak "ujug-ujug" dan sekali jalan langsung beres. Karena biasanya melalui bebeberapa kali tes, pengamatan dan pengujian dengan analisis-analisis tertentu yang menguatkan penelitiann. Jika pada tahapan tersebut sudah dijalankan tentu dapat dianggap sebagai penelitian ilmiah.

Tapi lagi-lagi, kesan yang sering saya tangkap dari beberapa tulisan blog milik blogger Indonesia, kebanyakan mereka berisi tulisan jiplakan, saduran tanpa keterangan sumber, dan membuat tulisan tanpa mengikuti aturan yang baku dalam membuat tulisan yang layak. Tulisan yang layak dibaca plus layak dijadikan rujukan. Berbeda dengan tulisan dari sebuah koran, website ternama, dan jurnal-jurnal ilmiah yang benar-benar ditulis oleh orang-orang yang kompeten. Saya sepakat dengan pendapat pembicara tersebut jika blog seperti blog saya masih belum layak disebut tulisan ilmiah. Tentu alasan ini logis, dan karena berdasarkan kenyataan yang ada.

Sekali lagi karena menulis blog bagi saya memang hanya sekedar "iseng" dan belajar menulis serta mempublikasikan tulisan remeh temeh serta sebagai langkah narsis bahwa kita pun berhak bersosialisasi dan menuliskan gagasan kita. Terlepas dari bobot yang semestinya dimiliki dan diperhatikan sebuah blog agar blog tersebut layak menjadi rujukan. Namun demikian, sesederhana apapun sebuah blog jika masih memegang etika keaslian (orisinalitas) tentu akan berbeda jika tulisan itu hanya sebuah link, copy paste atau jiplakan namun tidak disertai sumber yang jelas.

Jika melihat pernyataan sang narasumber dan kriteria-kriteria blog yang bermutu karena tulisannya ilmiah, apakah ada blog yang bisa disebut ilmiah dan pantas menjadi rujukan? Tentu jawabannya "ada". Jika kita mau mencari blog-blog yang "kondang" dan dipublikasikan oleh orang-orang yang memiliki kompetensi yang sesuai. Dengan tidak melupakan kaidah-kaidah penulisan yang benar. Seperti pendapat berikut ini:

Karangan ilmiah merupakan suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isisnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.”—Eko Susilo, M. 1995:11 (dikutip dari bloggueblog.wordpress.com, 16/2/2015)

Berdasarkan pendapat di atas, tentu paling tidak ada beberapa komponen tulisan dari sebuah blog yang bisa disebut ilmiah, di antaranya yaitu:

  • Merupakan karangan atau tulisan yang diperoleh dengan sifat keilmuannya. Dengan demikian sebuah tulisan ilmiah tentu ditulis oleh orang-orang yang memiliki keilmuan (pendidikan) yang sejalan dengan apa yang ditulis. Sehingga tidak terjadi gagal paham dan menjadikan orang lain tersesat jika tulisan tersebut tidak berpijak pada konsep yang jelas dan benar. Misalnya tulisan Prof. Dr. Ing. BJ Habibie tentang industri pesawat terbang tentu tulisannya sudah dianggap layak disebut ilmiah karena background pendidikannya memang berhubungan erat dengan teknologi penerbangan. Begitu pula tulisan yang dibuat oleh Prof. Dr. Quraish Shihab yang berhubungan dengan ilmu tafsir, tentu tulisannya sudah dianggap tulisan ilmiah karena latar belakang keilmuan dan pendidikan adalah ilmu tafsir qur'an. Dan masih banyak penulis lain yang dianggap tulisan ilmiah.

  • Tulisan tersebut didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan dan penelitian dalam bidang tertentu. So pasti tulisan yang dikategorikan ilmiah menggunakan kaidah atau aturan dalam penulisannya. Para penulisnya biasanya melakukan proses pengamatan, peninjauan, penelitian yang tentu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Tak hanya timing yang panjang, karena biaya dan tenaga pun dikeluarkan demi menghasilkan tulisan yang ilmiah.

  • Tulisan tersebut disusun menurut metode. Seperti pada umumnya, para penulis "ulung" biasanya menggunakan metode penulisan yang jelas sesuai dengan aturan yang baku. Tak semata-mata membuat tulisan berdasarkan selera pasar tapi tidak menggunakan kaidah yang tepat.

  • Tulisan tersebut disusun dengan sistematika penulisan bersantun bahasa. Pada poin ini tulisan ilmiah tak bisa ditulis dengan bahasa "ngawur" dan penuh caci-maki. Apalagi menggunakan bahasa "liar" yang bersifat hujatan. Karena sebuah tulisan yang ilmiah berusaha menghindari tulisan yang memancing kesalahan persepsi dan emosi akibat penggunaan bahasa yang kurang tepat sekaligus kurang santun.  Bagi tulisan ilmian versi penulis Indonesia seperti para mahasiswa tentu menggunakan kaidah bahasa Indonesia sesuai dengan EYD. Jika menggunakan bahasa asing tentu tak menyalahi aturan tata bahasa yang bersangkutan. Itupun biasanya di bawahnya diberikan terjemahan Indonesianya agar mudah dipahami oleh pembacanya. Tapi juga kembalinya pada konsumen atau pembaca karya tulis tersebut. Jika kalangan akademisi yang notabene kemampuan bahasa asing sudah memadai tentu tak menjadi persoalan.

  • Isinya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya / keilmiahannya. Bagi para penulis ilmiah akan berhadapan tidak hanya para penilai kaidah penulisan, karena mereka akan berhadapan pada para penulis lain atau minimal pembaca yang secara langsung memperhatikan setiap paragraf yang tersusun dari tulisan ilmiah tersebut. Jika suatu saat penulisnya diminta mempertanggung jawabkan, tentu amat mudah ia melakukannya karena penelitian itu murni hasil karyanya dan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah. Hasil karyanya tak terbantahkan meskipun ada peneliti lain dengan hasil akhir yang berbeda. Paling tidak dengan kriteria ini, para penulis berusaha menghasilkan karya yang tidak melakukan plagiat, karena dengan ia melakukan plagiat berarti tanggung jawab moralnya masih diragukan.


Beberapa indikator tersebut hakekatnya sebagai kriteria tulisan ilmiah. Nah, jika sebuah blog ingin dianggap ilmiah tentu harus menggunakan kaidah-kaidah di atas.
Dengan demikian, tidak semua blog tidak ilmiah atau sebaliknya sebuah blog bisa saja ilmiah jika didasarkan pada aturan penulisan yang benar menurut aturan yang benar pula.

Mohon maaf jika terdapat keleliruan dalam tulisan ini.

Salam

Bapak Presiden, Beginikah Revolusi Mental?



Kepada Bapak Presiden Jokowi yang saya hormati,



Sebelumnya saya mohon maaf, beribu-ribu maaf apabila tulisan ini kurang berkenan di hati Bapak. Karena mungkin akan sedikit mengusik ketenangan Pak Jokowi saat ini.

Berhari-hari ini saya seperti tak bisa nyenyak tidur, lantaran mengingat huru-hara negeri ini yang sepertinya tak berujung. Semua orang saling berebut simpati, saling berebut empati dan berebut kesempatan mendapatkan “kue” ketika bangsa ini tengah dirundung persoalan yang telah melilit. Entah sampai kapan ini semua akan berakhir.

Saya tidak ingin mengkritisi siapa yang keliru dan siapa yang benar menurut kacamata hukum terkait huru hara yang terjadi ini. Lembaga yang saya bangga-banggakan ternyata harus tergoyah dan tercabik-cabik oleh situasi yang cukup mencengangkan dan mengerikan. Tapi sebagai rakyat biasa yang tinggal di pinggiran sawah, saya hanya berharap Bapak bisa segera mengambil sikap agar persoalan ini tak larut-larut. Saya khawatir semakin lama kedua institusi ini berseteru, bukan tidak mungkin persoalan korupsi dan kejahatan di negara ini akan gagal untuk diberantas. Sebagaimana yang Bapak Presiden inginkan. Negeri yang siap hidup dari tanah sendiri, mandiri dan tak meminta belas kasih dari bangsa lain.

Tentu saja keinginan Bapak Presiden kala kampanye masih selalu kami ingat dan tersimpan rapat dalam catatan-catatan penting yang akan menjadi bahan koreksi benarkah Bapak sudah menjalankannya atau belum. Saya tidak menampik bahwa terpilihnya Bapak sebagai Presiden tentu berkat bantuan “sumbangan” dari berbagai pihak yang menghendaki negeri ini dipimpin oleh presiden yang berasal dari “Wong Cilik”. Tapi ternyata justru keindahan derajat Bapak di mata saya karena Bapak berasal dari Wong Cilik sedikit banyak dimanfaatkan oleh orang-orang di bawah kepemimpinan Bapak Presiden.

Siapakah sebenarnya yang telah memanfaatkan Bapak, pun saya kira tak perlu saya sebutkan di sini, karena saya menghormati Bapak selaku Presiden RI yang tentu saja orang yang sangat dijunjung kehormatannya oleh bangsa ini. Bagaimana tidak, tatkala di seratus harinya Bapak memimpin negeri ini, tak sedikit cercaan datang bertubi-tubi. Itu semua diawali oleh suatu hal yang terkait kebijakan Bapak ketika memilih calon tunggal Kapolri yang disinyalir merupakan tokoh yang memiliki kekayaan yang luar biasa banyak, yang tak jelas darimana uang itu berasal. Tentu mengundang banyak pertanyaan, kenapa Bapak justru menunjuk orang yang dianggap mengambil uang negara secara batil menjadi calon petinggi kepolisian di negeri ini.

Sebuah kondisi yang mengundang beragam pertanyaan ulang, apakah begini makna Revolusi Mental yang Bapak Presiden dengung-dengungkan tempo dulu? Bapak ingin negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang bersih, ternyata satu persatu terlihat belangnya mereka yang berada di bawah kepemimpinan Pak Presiden ternyata pun tidak bersih. Tentu karena ini, rakyat meradang dan berbuntut para pendukung Bapak angkat kaki. Mereka merasa telah “tertipu” oleh jargon yang Bapak sampaikan tatkala berkampanye di Gelora Bung Karno, dan diistana negara tatkala Bapak berjanji kepada seluruh wakil daerah melalui teleconference bahwa Bapak benar-benar ingin membangun negeri tercinta kita dengan “Tangan Bersih” yang saat itu Bapak janjikan.

Kami menunggu dan kami menuntut janji-janji Bapak untuk melunasinya meskipun saat ini masih ke seratus hari di masa kepemimpinan Bapak Presiden.

Bapak Presiden yang saya hormati

Sampai saat inipun saya masih di rundung gelisah tatkala kampung kami semakin lama semakin tidak aman. Jauh sekali dari harapan kami dan janji-janji Bapak ingin membuat penduduk di negeri ini tenang dalam mencari rezeki.

Saya menduga, karena para petinggi KPK dan Polri, saat ini tengah terkonsentrasi menyelesaikan internal mereka. Dampaknya karena mereka harus menyelesaikan persoalan tersebut, saat ini keamanan di kampung kami turut dikorbankan. Entah pagi, siang atau malam, kejahatan selalu saja menghampiri. Pelaku kejahatan seakan-akan mendapatkan angin segar, tatkala KPK dan Polri berseteru. Mereka semakin berani melakukan kejahatan di jalanan dan di hadapan orang banyak karena situasi rumit yang saat ini terjadi pada KPK dan Polri. Pelaku kejahatan Kantoran masih saja bebas duduk di kursi empuk, sedangkan penjahat jalanan begitu mudahnya merebut milik kami dan membunuh saudara-saudara kami tanpa ampun jika kami melawan.

Sekali lagi, apakah seperti ini Revolusi Mental? Ketika anggota dewan yang terhormat semestinya mewakili suara kami di kampung, ternyata di antara mereka tengah asyik berjalan-jalan ria menggunakan uang negara. Mereka telah lupa bahwa mereka dipilih untuk menyuarakan suara kami orang kecil, seperti halnya saura Bapak Presiden kami yang berasal dari kalangan Wong Cilik. Sekali lagi, mohon ditindak kader partai yang justru memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri.
Tapi saya tahu, tidak mudah melakukan itu, karena sampai saat inipun presiden Jokowi tengah dirongrong oleh anggota dewan terkait isu tentang impeachment. Saya khawatir keberanian Bapak yang ingin merevolusi mental kami justru akan mengorbankan kedudukan Bapak. Seperti apa yang terjadi pada presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) pada saat itu. Saya berdoa, mudah-mudahan Allah SWT melindungi Bapak dalam melaksanakan amanah ini hingga jabatan Bapak berakhir.

Bapak Presiden yang saya hormati.

Kami butuh ketenangan, keamanan dan kemudahan dalam mencari rezeki. Karena jika ketenangan, keamanan dan kemudahan dalam mencari rezeki tidak lagi bisa kami dapatkan, bukan tidak mungkin kedepannya keadaan ekonomi kami semakin hancur karena terganggu oleh ulah kejahatan di jalan raya. Tak hanya ulah kejahatan di jalan raya, karena boleh jadi justru uang negara yang semestinya dapat dinikmati oleh kami, ternyata dimanfaatkan oleh wakil rakyat demi untuk memuaskan hasrat kekuasaan mereka.

Mungkin inilah kekhawatiran saya selama ini. Mudah-mudahan Bapak bisa menerima dengan lapang dada, keluhan dari kami rakyatmu yang menginginkan kedamaian dalam hidup kami.
Saya guru rendahan, saat ini bekerja di SLB Negeri Metro. Mohon tunjangan kesejahteraan yang sudah kami dapatkan tidak pula diambil, sedangkan anggota dewan yang sudah banyak gajinya justru mendapatkan kelebihan pendapatan. Mereka seolah-olah mewakili rakyat, tapi justru mengambil hak-hak kami demi kepentingan mereka sendiri.

Salam

Metro, 30 Januari 2015

Selasa, 27 Januari 2015

Karena Sibuk Bekerja, Anak Menjadi Korban, Pelajaran untuk tidak Mengabaikan Anak




Anak bermain memang diperlukan demi perkembangan kognisi (intelegensi) fisik dan psikis anak. Karena dengan bermain tersebut anak akan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya dan lingkungan sekitar. Secara tidak langsung pengalaman yang diperoleh anak berdampak positif terhadap perkembangannya. 


Proses interaksi antar individu tersebut turut membantu meningkatkan sensorik dan motorik anak agar berkembang lebih optimal. Apalagi permainan anak lebih banyak dilakukan di luar rumah bersama lingkungannya, tentu pergerakan tubuh semakin banyak. Dampaknya semakin banyak gerak yang dilakukan yang akan membantu anak menemukan pengalaman-pengalaman baru yang bermanfaat bagi kehidupannya.


Menurut Salli Mc Gregor dari Institut of Child Health di University College, London bahwa “kami telah melaksanakan program kegiatan bermain untuk anak-anak kekurangan gizi di Bangladesh dan kegiatan tersebut terbukti meningkatkan intelegensi mereka sampai sembilan poin, hanya melalui kegiatan bermain”.

Pernyataan di atas tentu saja memberikan pijakan jelas kepada kita bahwa dengan permainan yang baik, terarah dan aman tentu saja berdampak signifikan terhadap kemampuan intelegensi anak. Tak hanya membangun intelegensi, karena perkembangan kemampuan motorik (gerak) akan berjalan secara dinamis menurut perkembangan fisik secara normal.

Sehingga seyogyanya para orang tua lebih banyak memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan beraneka permainan yang meningkatkan perkembangan kognisi, motorik serta psikis anak dengan melibatkannya dengan anak-anak sebayanya tentu akan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup anak di masa depannya.

Meskipun anak dituntut banyak bermain dan belajar baik di bangku sekolah maupun bersama teman-temannya di alam sekitar, tentu orang tua hendaknya tidak abai atau lalai terhadap keamanan dan keselamatan anak-anaknya. Jika orang tua tengah sibuk bekerja, semestinya mereka tetap mengontrol dan mengawasi permainan anak-anaknya. Namun seandainya orang tua tidak memiliki cukup waktu untuk melakukannya, tentu alternatif lain adalah melibatkan orang lain yang dapat dipercaya menjaga anak-anaknya.

Jika dimungkinkan anaknya sudah ada yang lebih dewasa, tentu dipastikan bahwa anak tidak sembrono dan juga lalai menerima kepercayaan dari orang tuanya dengan diberikan pengarahan dan bimbingan yang baik bagaimana menjaga sang adik tatkala orang tua bekerja.

Orang tua memiliki banyak kebutuhan yang semestinya dipenuhi, sehingga orang tua harus mencari penghasilan. Baik sang ayah maupun ibu, keduanya memiliki kewajiban yang sama. Tapi kewajiban tersebut jangan pula mengabaikan keselamatan anak-anaknya.

Sebagaimana baru-baru ini penulis alami sepekan yang lalu, Sabtu, 17 Januari 2014. Saya mendapati seorang anak tetangga (Linda, 5 tahun) mengalami kecelakaan tatkala tengah bermain dengan temannya. Anak tersebut bermain sendiri dengan teman-temannya tanpa pengawasan orang tua dan kakaknya. Saat itu kedua orang tuanya tengah bekerja di sawah, dan kakak yang dipercayakan menjaga sang adik justru meninggalkannya dan asyik bermain sendiri tanpa mematuhi perintah agar tatkala keduanya bekerja kakaknya harus menjaga adiknya di rumah.

Pada awalnya sang adik ini masih bersama kakaknya berdua. Berselang sekitar 30 menit si adik ternyata sudah ditinggalkan pergi oleh sang kakak entah kemana. Tak dapat diduga, setelah sang kakak pergi ternyata adik yang semula bermain sepeda kecil tersebut tergelincir diparit sedalam 40 cm. Kepala adiknya membentur semen cukup keras. Dan akibatnya sangat fatal, kepala adik bocor, kepala harus dijahit tiga jahitan. Darah mengalir cukup deras.

Saya selaku tetangga yang awalnya memperhatikan permainan anak. Karena kebetulan pula saya ngemong anak saya kedua bermain sepeda yang sama sedangkan saya sambil menyapu di halaman. Ternyata sekejab luput dari pengawasan saya karena saya harus masuk ke rumah lantaran akan mengambil sesuatu. Tiba-tiba kecelakaan pada anak tetangga benar-benar terjadi. Si korban berteriak cukup keras karena kesakitan. Sedangkan anak saya yang mulanya bermain dengan sang anak ini berteriak memanggil saya “Pak…Linda jatuh!!!

Tanpa berpikir panjang yang kebetulan saya mendengar teriakan anak, saya berlari keluar dan berusaha menyelamatkan anak. Darah masih mengalir cukup deras hingga membasahi bahu parit. Saya panik karena orang tua si anak tidak ada di rumah. Sedangkan kakaknya entah kemana. Saya jengkel kog si kakak malah pergi tanpa memperhatikan adiknya.

Dalam keadaan jengkel tersebut, saya bopong si anak dan saya memanggil istri saya agar memberikan anak penanganan pertama memberikan air hangat agar darahnya berhenti sementara. Untung istri cukup sigap. Ia keluar rumah dan segera saja mengambil apa yang diperlukan. Tetangga lain pun turut panik, lantaran beliau memiliki cucu yang harus dimandikan.

Ya sudah, beruntung kami bisa menangani keluarnya darah dan kontan darah berhenti. Tapi si anak menangis dan saya berusaha mendiamkannya dengan mengatakan “sabar ya nak, nanti kamu pak ali bawa ke puskesmas.” Saya tidak sempat memanggil orang tuanya karena tak dimana mereka bekerja. Dan kakaknya baru diketemukan beberapa saat setelah si anak berhasil kami tangani.

Tak menunggu lama, kami berdua membawa anak tersebut ke Puskesmas terdekat agar mendapatkan pertolongan medis. Sedangkan anak saya yang sama-sama dini saya titipkan pada tetangga agar mengawasi sebentar tatkala saya pergi.

Beruntung dokter Puskesmas (Sumbersari) segera memberikan pertolongan. Meski saya dan istri harus merayu dan memberikan keyakinan bahwa dijahit tidak sakit. Alhamdulillah, akibat pertolongan dokter persoalan anak dapat kami tangani bersama. Meskipun sang anak bukanlah anak sendiri lantaran empati dan kasihan karena ortunya tidak ada maka kami berusaha semaksimal mungkin menolong. Tak peduli ketika kami harus keluar uang dahulu lantaran sewaktu membawa anak tidak membawa KK agar mendapatkan pertolongan gratis.

****

Kejadian tersebut hakekatnya banyak dialami anak-anak di sekitar kita. Tak hanya kasus Linda di atas, karena beberapa saat yang lalu pula sang anak terjatuh dari gedung bertingkat sebuah rumah sakit di Jakarta. Beruntung sang anak bisa diselamatkan. Begitu pula kejadian yang menimpa tetangga kami, sang anak tercebur ke sumur akibat bermain-main di sekitarnya. Orang tua tak mengerti bahwa anak-anak semestinya diawasi. Jangan lalai meski sedetikpun. Kalau benar-benar lalai, alamat kecelakaan akan terjadi.

Beruntung si Linda tidak terluka para di kepala (gegar otak) dan hanya luka dikulit meskipun cukup dalam tapi bisa disembuhkan dan tidak berbahaya bagi otaknya.

Banyak loh akibat kelalaian orang tua anak harus kehilangan nyawa. Entah anak terbakar tatkala bermain di tempat pembakaran sampah, tercebur ke kolam atau ketabrak kendaraan yang kebetulan melintas di depan rumah. Semua akibat orang tua terlalu lalai dan terlalu sibuk dengan pekerjaan tapi tidak cukup memberikan rasa aman kepada anak-anaknya. Seandainya mereka tidak bisa menjaga secara intens, cukup wakilkan kepada baby sitter atau keluarga sendiri (anak tertua, bibi, paman, nenek, kakek) atau siapalah yang bisa dipercaya menjaga anak kita tatkala kita tengah bekerja.

Membangun intelegensi dan kesehatan fisik maupun psikis anak dengan melibatkan anak dalam permainan di lingkungan sekitar, amat berdampak positif dan signifikan. Tapi dengan melalaikan mereka tatkala bermain justru dampaknya lebih berbahaya kepada anak.

Salam Kompasiana. Selamat Berhari Minggu!

Metro, 25 Januari 2015

Artikel ini pernah saya publikasikan di www.kompasiana.com. link : karena sibuk bekerja, anak jadi korban, pelajaran untuk tidak mengabaikan anak

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!