Sabtu, 06 September 2014

Perlukah Anak Menguasai Bela Diri Sejak Dini?


14078279361696717205
Sumber: shutterstock.com/kompasiana.com


Tulisan ini berawal dari cerita anak yang kebetulan masih bersekolah di SD, ukuran anak yang masih belia sehingga apapun yang dialami dan dirasakan akan diceritakannya tanpa ada kesan menambah-nambahi atau merekayasa cerita. Dan kebetulan cerita sang anak karena telah membanting dan memukul teman sekolahnya karena telah melakukan tindakan kekerasan. Meskipun awalnya saya marah dan tidak menyetujui tindakan anak saya tapi setelah saya tanyakan terkait mengapa ia memukul temannya pun saya menjadi sedikit lega.

Lega hati saya bukan bermaksud membiarkan dan melegalkan kekerasan dilakukan sang anak lantaran jenis kelaminnya perempuan dan masih anak-anak, karena tindakan kekerasan tentu saja tidak baik bagi tumbuh kembang anak yang harus mengenal dan menjadi sosok penyayang dan cinta kepada sesamanya. Bukan justru anak yang menyukai kekerasan dalam menyelesaikan konflik dengan teman sepergaulannya.

Namun, ketika alasannya karena pelaku yang ingin melakukan kekerasan adalah temannya pria, jadi saya hanya menimpali bahwa ada baiknya teman-temannya yang nakal dilawan semampunya dengan menangkis dan melaporkan kepada pihak sekolah. Tentu saja nanti pihak sekolah yang akan menegur dan akan memanggil orang tua sang anak karena kenakalannya.

Melihat persoalan kekerasan yang diterima anak saya dan berujung pada perlawanan dan menyakiti temannya saya jadi teringat ketika saya seusia SD juga, kebetulan saya memang tipe pendiam dan tidak mau melanggati teman-teman yang berusaha menantang duel. Bukan karena takut tapi pesan orang tua saya harus mengalah karena pesan orang tua “mengalah bukan berarti kalah tapi bukti kemenangan yang hakiki”, dan bermula pesan orang tua tersebut, saya pun seringkali kabur dan menghindar jika ada yang mengajak berduel. Dampaknya sampai saat ini sulit sekali meladeni ajakan berkelahi dan saya sering dicap sebagai pengecut. Tapi biarlah, karena kekerasan dilawan kekerasan justru akan berbuntut kekerasan yang baru.

Mungkin karena kenangan masa lalu seusia anak saya, saya jadi berusaha mengajarkan sikap mengalah dan berusaha membela diri jika ada seseorang yang ingin menyakiti. Meskipun kadangkala ketika melihat begitu kerasnya dunia pergaulan dan kehidupan perkotaan, sepertinya anak-anakpun perlu -bahkan menurut beberapa kasus diharuskan- memiliki kemampuan membela diri ketika ada seseorang yang ingin melakukan kekerasan.

Bela Diri Merupakan Sebuah Seni dan Olahraga

Sebagaimana dipahami bahwa ketika kita melihat dampak positifnya teknik bela diri bagi keamanan diri dari kejahatan tentu saja sepatutnya setiap orang memiliki jenis teknik ketangkasan ini. Tentu saja bukan bermaksud menyombongkan diri dengan pamer kemampuan dan berusaha menjajal kemampuan beladirinya terhadap teman-temannya, akan tetapi lebih dari itu sebuah seni yang memadukan pada olahraga yang tentu saja akan dapat meningkatkan kesehatan orang-orang yang menguasainya.

Sebuah seni yang mengandung estetika, kinestetika dan etika tentu saja menjadi sangat mulia jika kemampuan tersebut diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri agar tidak menjadi arogan  sok memiliki kehebatan. Karena jika kemampuan bela diri tidak diimbangi dengan kemampuan pengendalian diri tentu akan berdampak negatif. Misalnya, anak-anak akan lebih cenderung terlihat sombong, angkuh dan merasa paling jago dari anak-anak lainnya. Dampak terparah tidak sedikit yang justru menjadi korban kekerasan lantaran merasa bisa pencak silat, karate, taekwondo atau beladiri lain yang sejenis.

Sehingga, ketika melihat gelagat olah raga dan seni ini justru digunakan pada hal-hal yang negatif justru akan menjadi bumerang lantaran sang anak lebih terkonsentrasi pada membangga-banggakan diri bahwa tidak ada anak lain yang berani melawan. Bahkan lebih dari itu anak tersebut ingin dianggap sebagai “raja” di antara teman-teman lainnya. Jika anak lain tidak mematuhi tentu akan menjadi korban pemukulan dan kekerasan lain yang berdampak pada ketakutan korban secara sistematis.

Mengajarkan Bela Diri Mesti Dimulai Dari Bela Jiwa dan Pembentukan Karakter

Tujuan pokok dari belajar bela diri tentu saja ingin membela diri dari kekerasan dan kejahatan. Tentu saja berharap tidak diri sendiri saja yang terhindar dari kejahatan karena diharapkan akan dapat membantu orang lain yang tengah terancam dengan pertimbangan yang logis, yakni tidak membahayakan diri sendiri.

Begitu pentingnya bela diri bagi anak-anak, tentu saja bersinggungan dengan pembentukan karakter atau kepribadian si anak. Jika ajaran tentang bela diri tidak diawali dengan mengajarkan tentang bela jiwa (mengendalikan emosi) dan pendidikan karakter tentu akan ada dampak negatif yang menyertai kehidupan dan tumbuh kembang sang anak. Misalnya anak justru menjadi sosok yang keras kepala, suka menyakiti dan menyelesaikan konflik atau persoalan dengan kekerasan.

Padahal, jika sebuah persoalan ditelaah, hakekatnya tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekerasan dan arogansi. Ada banyak bukti yang menjelaskan bahwa penyelesaian sebuah konflik dengan kekerasan justru akan menambah kekerasan baru. Tentu saja terdapat aspek yang mesti dilihat, apakah kekerasan itu perlu dilakukan demi mencegah sesuatu yang lebih parah atau sebaliknya. Nah, jika dengan kekerasan tidak dapat menyelesaikan konflik dan persoalan maka sepatutnya dan semampunya diselesaikan dengan jalan damai.

Banyak terdapat kasus kekerasan antar siswa, ternyata dilakukan oleh anak-anak yang mempunyai kemampuan bela diri. Mereka merasa memiliki keberanian lebih dan kemampuan memukul dan menendang karena pernah dilatih bela diri. Sikap arogan ini tumbuh seiring perjalan hidupnya dan tentu saja bentukan lingkungan yang mungkin saja dipenuhi dengan kekerasan-kekerasan secara emosi dan fisik yang menjadi embrio berkembangnya benih kekerasan pada anak.

Akan tetapi, ketika karakter baik sudah tercipta dalam diri anak, tentu saja pendidikan bela diri menjadi sebuah kebutuhan bagi anak tatkala berhadapan pada situasi lingkungan yang seringkali membahayakan kehidupan anak. Paling tidak pelajaran agar anak berani melawan, berteriak jika pelakunya orang-orang yang lebih dewasa serta pelajaran tentang teknik menangkis serangan dan melepaskan cengkraman dari pelaku kejahatan serta pukulan sederhana agar sang anak terlepas dari kejahatan orang-orang di sekitarnya.


Salam

Tulisan ini diposting pertama kali di www.kompasiana.com 
 

Berkaca Pada Hukum Alam, Sebab dan Akibat


Percaya atau tidak, semua makhluk akan mengalami hukum sebab akibat. Siapa yang berbuat maka dialah yang bertanggung jawab. Bahkan tak hanya bagi manusia saja hukum ini berlaku, seluruh makhluk di kolong langit ini akan menerima konsekuensi dari hukum itu. Mau suka atau tidak pun tak kan bisa berpaling dari hukum kasualitas ini.
 
Kadang persoalannya sepele misalnya saking malasnya kita menyingkirkan ranting di jalan padahal kita melewati jalan tersebut, maka cepat atau lambat tanpa kita sadari kita akan terganggu oleh adanya ranting, bahkan bukan hanya kita sendiri, seluruh orang yang melewati jalan itupun akan menerima dampak dari kemalasan kita.

Begitu pula ketika kita malas membuang sampah di tempatnya, kita main lempar kemana kita suka. Entah di sungai, jalanan atau kita lempar saja di sudut-sudut ruangan di mana tempat, maka lambat laun kita akan menerima akibat dari kemalasan kita. Timbullan penyakit dan bencana alam di mana-mana.

Itulah sebuah gambaran sederhana ketika kita harus menaati hukum alam sebagai manifes dari hukum Tuhan. Jangankan di akhirat kita akan mendapatkan balasan atau akibat dari perbuatan kita, di dunia saja kita sudah tersakiti dan terzalimi oleh ulah kita sendiri.

Dalam agama kami berniat mencegah diri dari perbuatan buruk sudah dianggap bernilai ibadah dan berpahala, apalagi jika kita benar-benar ingin melakukan perbuatan yang baik. Maka hasilnya tentu akan kita dapatkan. Tak didunia di alam keabadian pun akan dirasakan.

Bahkan dalam sabda Nabi kami mengatakan “jika engkau tidak bisa berbicara yang baik, maka lebih baik diam.” Diam lebih baik daripada berkata-kata yang justru akan menyakiti orang lain. Menyakiti diri sendiri saja tidak boleh apalagi menyakiti orang lain.

Kembali pada hukum kausalitas, dan kita semua sudah mempelajarinya selama pernah menuntut ilmu di bangku sekolah. Pun dalam keseharian kita selalu mendapatkan wejangan bahwa apa yang diperbuat akan selalu mendapatkan konsekuensinya. Menanam satu kebaikan maka akan tumbuh tujuh kebaikan dan dari tujuh kebaikan itu akan berlipat lagi menjadi kebaikan-kebaikan yang lain. 

Begitu pula dari satu kejahatan, maka akan tumbuh tujuh kejahatan lain dan terus menerus menjadi kejahatan-kejahatan lain yang akan datang begitu saja.

Seperti misalnya, kasus makian Florence Sihombing yang berdampak pada makian lain dari sejumlah netizen. Tanpa disuruh dan diminta semua orang membully karena perkataannya yang kurang baik di media sosialnya. Itulah gambaran nyata bahwa ada hukum sebab akibat, dan ada hukum bahwa satu kejahatan akan mendapatkan balasannya. Tak hanya diakhirat tapi di duniapun ada konsekuensinya.

Boleh kita beranggapan bahwa hanya Tuhanlah yang mengadili sebuah kejahatan, tapi faktanya sudah jelas bahwa tidak ada yang bisa luput dari kontrol sosial. Kita memukul, suatu saat kita dipukul, begitu juga kita memaki, tanpa sadar ada banyak orang yang memaki kita.

Kita mau protes? Kepada siapa? Mau protes kepada Tuhan kenapa saya dibully? Kenapa saya disakiti banyak orang padahal saya hanya menulis status di media sosial? Tuhan tidak adil. Manusia pada jahat-jahat? Padahal semuanya berawal dari kita sendiri sumber persoalan yang dianggap kecil dan sepele itu.

Oleh karena itu jangan salahkan Tuhan, dan jangan salahkan orang lain yang telah membully kita karena itu adalah sebuah risiko kehidupan. Yang perlu disesali adalah kenapa kita melakukannya?
Seperti halnya ketika kita terjatuh karena kerikil kecil. Kenapa saya terpelanting dan jatuh dari motor saya? Tentu saja karena ketidak pedulian kita akan keselamatan kita sendiri. Kadang orang yang sudah berhati-hati dalam berbicara dan bertindak tutur saja masih keliru apalagi yang sengaja melakukan kekeliruan. Itulah fungsi logika dan hati untuk memilih mana yang terbaik menurut kita dan orang lain.

Manusia suka yang bebas tanpa diatur-atur

Manusia, kalau boleh dibilang semuanya, pastilah ingin kehidupan yang bebas. Segalanya tidak ingin diatur-atur dan dilarang-larang. Tak menginginkan kehidupannya dibatasi. Semua ingin dilakukannya tanpa mendapatkan pertentangan dan protes dari pihak lain. Itu riil dan semua pastilah mengalami.

Tapi apakah kita puas juga tatkala kita hanya hidup sebatangkara, tak ada orang lain yang akan menilai dan menentang prilaku kita yang buruk. Atau tidak ada orang yang memuji dan membalas kebaikan kita? Puaskah kita hidup tanpa orang lain? Mau makan, tidur, ngamuk-ngamuk, berpakaian semaunya tak ada yang melihat kita. Kita tertawa pun tak ada yang mendengarkan. Dan kita marahpun dengan siapa? Kita melakukannya sendirian. Tak ada yang melarang dan membenci prilaku buruk kita. Tidakkah ini sama halnya kita hidup dalam ketidak warasan?

Kita memaki, berbicara kotor, berpakaian apa saja yg penting semau gue, bertingkah seolah-olah tidak ada orang lain. Yang beginian hanyalah orang yang tak berlogika dan tak berhati. Padahal orang yang tak berlogika dan tak berhati hanyalah orang “sinting” yang tak waras.

Hidup ini memang bisa membahagiakan dan bisa menyengsarakan, jika kita tidak bisa memilih mana yang terbaik menurut diri sendiri dan orang lain, maka jangan salahkan alam jika menghukum kita.

Salam

Artikel ini diposting pertama kali di www.kompasiana.com

Sabtu, 12 Juli 2014

Penggunaan Media Audio Visual, Cara Mudah Anak Belajar

14045363781904451927
Media Audio Visual



Beberapa waktu lalu, tepatnya ketika saya masih membimbing seorang anak Autis di sekolah kami. Kebetulan, kami membimbing di luar jam sekolah, yakni siang hari sebagai bagian ekstrakurikuler namun dilaksanakan dengan cara yang efektif.

Mengajarkan anak autis memang sering menemukan kendala, untung anak yang saya bimbing ini sedikit banyak sudah selayaknya anak-anak pada umumnya. Walaupun dari segi aktifitas seringkali keluar dari kewajaran. Misalnya ketika masih asyik-asyiknya saya bimbing dengan membahas beberapa soal tes, ternyata anak ini tiba-tiba ingin tidur dengan alasan kelelahan. Padahal waktu bimbingan baru beberapa menit saja. Tapi ya sudahlah saya izinkan untuk beristirahat. Atau kadang-kadang dia berjalan ke sana kemari tanpa jelas tujuannya. Sering ngomong sendiri meski tidak dalam situasi ngobrol dengan temannya.

Saya menduga, di malam hari  anak ini justru begadang, entah bermain game atau menonton televisi hingga larut malam. Jadi ketika di siang hari keluhnya selalu kelelahan dan rasa kantuk yang berlebih-lebihan. Dan maklumnya lagi memang di siang hari biasanya anak ini diminta beristirahat hingga menjelang senja. Tapi ya karena akan menghadapi perlombaan, kebiasaan beristirahat siang agak terganggu. Untungnya si  anak tidak mogok atau ngambek dan masih bisa terkendali. Jadi saya masih bisa meneruskan materi bimbingannya sampai anak ini benar-benar siap.

Selain membahas beberapa materi soal ujian, dan beberapa soal standar olimpiade, anak inipun saya bina agar mengenal berbagai alat peraga (media) pendidikan. Tentu saja karena anak ini memiliki kekurangan dalam orientasi, kadang terlalu lepas kendali namun kadang kala terlalu berorientasi pada satu objek. Dan itu kesulitan terberat bagi guru-guru autis.

Namun, karena tingkat autisme anak ini tergolong ringan, saya masih bisa mengajaknya lebih fokus pada materi dan media yang harus digunakan. Misalnya, hari pertama mengenal tentang fungsi jantung, maka hari beberapa hari saya mencoba untuk fokus pada media yang memperkenalkan tentang beberapa anatomi tubuh khususnya jantung. Begitu pula ketika saya harus mengajarkan tentang rangkaian listrik, maka di saat itu pula saya memfokuskan anak mengenal benda-benda yang digunakan untuk pembelajaran tentang rangkaian listrik. Dua sampai tiga kali saya contohkan alhamdulillah anak bisa mempraktikkan sendiri.

Sayang sekali, meskipun anak ini bisa lolos juara provinsi, tapi di tingkat nasional justru materi yang belum sempurna saya perkenalkan malah keluar. Ya..terpaksa si anak harus gagal dan menerima kekalahan atas siswa lain yang lebih jago. Tapi saya tetap bersyukur, karena usaha gigih dan kerja keras saya dan siswa membuahkan tropi dan mengantarkan kami bisa terbang ke Bandung sebagai kontestan mewakili tingkat propinsi.

Selain beberapa pembahasan soal dan menggunakan alat peraga, saya juga menggunakan media audio visual yang memudahkan anak mengulas kembali materi-materi yang telah saja ajarkan. Media ini memang sangat mudah dan membantu anak untuk menguasai beberapa materi pelajaran. Materi yang tercover sama dengan materi pelajaran umum, dan juga ditambah materi ketrampilan.

Karena diketahui bahwa media pembelajaran selalu menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Dengan media yang baik guru dapat membimbing anak secara teratur dan terfokus serta mudah untuk diterapkan kepada siswa. Sehingga secara perlahan kemampuan anak dapat dilatih menggunakann media yang disediakan oleh guru. Dampaknya materi dapat diserap dengan mudah dan menghasilkan kemampuan belajar yang optimal.

Saat ini, guru sudah sangat mudah menemukan beragam jenis media. Baik media yang dibuat sendiri oleh guru, juga media yang sudah dibuat sedemikian rupa oleh para ahli, dengan tujun agar para guru tidak menemui kendala yang berarti jika harus membuat beberapa media sedangkan para guru memiliki kelemahan dalam bidang tertentu. Misalnya media yang saya contohkan ini adalah media audio visual yang dibuat berbentuk seperti tutorial (modul) dengan judul Belajar Bersama Dika dan Dina yang diproduksi oleh PT. Globosinergy Multisarana ini. Media AV bantuan dari pemerintah pusat melalui bantuan sarana pembelajaran ke sekolah-sekolah inklusif di Indonesia.

Meskipun modul ini diperuntukan bagi anak-anak umum, namun bagi anak-anak disabilitas (misalnya anak autis) materi disesuaikan dengan kurikulum yang sudah ada. Misalnya anak autis yang saya bimbing adalah kelas VI, maka saya mengambil materi modul kelas V SD, dan seterusnya diturunkan sedikit demi menyesuaikan kebutuhan dan tingkat kemampuan anak. Yang pasti, kurikulum bagi anak-anak penyandang disabilitas tidak mutlak harus sama. Kadangkala materi diturunkan sedikit namun acapkali harus dinaikkan sedikit tergantung batas kebutuhan dan kemampuan mereka.

14045365761822503014
Media Audiovisual

Program ini dibuat sangat mudah diaplikasikan, selain mudah juga diperuntukkan mulai anak kelas 1 SD sampai SMA pun ada. Meskipun saya rasakan sudah baik dan mewakili materi pelajaran yang ditunjang, tapi memang dari segi kelengkapan perlu mendapat tambahan dari media lain.

Dengan media ini anak-anak bisa menggunakannya sebagai media bermain sembari belajar. Sekali diajarkan mereka akan langsung bisa menggunakannya. Melakukan proses belajar mandiri maupun dibimbing guru atau orang tua, sekaligus sebagai sarana bermain yang cukup menyenangkan. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun jika kita mau meminjam atau sekedar menyalin ke laptop maka sedikit meringankan kerja orang tua dalam membimbing anak-anaknya dan anak-anak lebih mudah dalam belajar dari pada harus membawa bermacam-macam buku pelajaran.

Cakupan materi yang ada dalam media ini pun beragam, mulai pelajaran umum di kelas masing-masing, juga ada pelajaran ketrampilan yang juga mengajarkan secara mudah bagaimana membuat beragam benda kreasi.

Selain pembahasan materi, di dalam program inipun tersedia bank soal, tujuannya memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan soal-soal yang sesuai dengan materi yang sudah diajarkan terlebih dahulu. Tentu saja bagi anak yang daya tangkapnya baik, bank soal ini akan sangat mudah mereka kerjakan. Guru bisa mengontrol kemampuan anak menyerap materi setelah soal-soal tersebut diselesaikan karena nilai yang diperoleh siswa akan ditunjukkan. Dari sini guru dapat mengevaluasi bagian-bagian mana materi yang belum terserap secara optimal.

14045367521075716059
Media Audio visual

Namun demikian, meskipun media ini sudah baik, pengawasan orang tua dan bimbingan pun perlu diberikan. Tentu saja tujuannya agar ketika anak menemukan kesulitan maka guru memberikan solusi maupun materi tambahan menjawab persoalan anak. Dan sayangnya tidak semua sekolah bisa menikmati media pembelajaran ini, padahal sepatutnya pemerintah memberikan fasilitas pembelajaran yang sama agar anak-anak Indonesia mendapatkan derajat pendidikan yang sama pula.

Siapapun Anda, baik guru, siswa ataupun orang tua, adabaiknya mempunyai media ini sebagai bagian media pembelajaran agar proses belajar anak menjadi menyenangkan karena mudah menggunakannya dan dapat digunakan kapan saja.

Mudah-mudahan semakin banyak media audio visual digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran dan anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang cerdas,  mandiri, dan berprestasi serta dapat bersaing dengan anak-anak negara lain.

Senin, 02 Juni 2014

Anak-anak Disabilitas Membangun Indonesia dengan Karya

1401691420788112363
Anak Autis, Tuna Rungu dan Tuna Netra yang tengah berlatih musik dan olah vokal (SLBN Meto Lampung) / Sumber /doc. pribadi


Anak-anak Disabilitas Membangun Indonesia dengan Karya
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag

Sekali lagi, anak-anak disabilitas menurut kacamata awam diidentikkan dengan anak-anak yang tak memiliki kemampuan. Selain tidak memiliki kemampuan, rata-rata anak-anak ini dianggap sebagai beban hidup bagi kehidupan orang tua mereka. Selain dianggap sebagai anak yang “lemah” mereka pun tak luput dari penilaian negatif serta diskriminatif di lingkungan keluarga serta lingkungannya.
Diskriminatif dalam bidang pergaulan, dengan alasan masyarakat pada umumnya menganggap bahwa anak-anak ini tidak bergaul dengan anak lainnya karena keterbatasan yang dimiliki baik karena fisik yang tak sempurna, kelemahan intelegensi dan juga karena mereka seringkali dianggap tidak mampu merespons informasi yang diberikan oleh orang lain.

Tidak hanya mereka yang belum pernah mengenal hakekat anak-anak disabilitas, karena saya sendiri pernah juga beranggapan bahwa para penyandang disbilitas ini benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi seiring perjalanan waktu bersama anak-anak ini, saya temukan hakekat yang luar biasa. Mereka benar-benar sosok yang memiliki kelebihan ketika di dalam tubuhnya penuh dengan kekurangan. Sepadan dengan seseorang yang memiliki banyak kelebihan justru hakekatnya mereka penuh kekurangan. Bedanya anak-anak disabilitas kelebihannya nampak begitu nyata sedangkan kelebihannya tersembunyi dan harus digali agar dapat diolah menjadi bermanfaat. Sedangkan anak-anak pada umumnya mereka sempurna secara fisik, tapi ada banyak kelemahan yang seringkali disembunyikan dan seringkali membuat orang-orang disekitarnya tak memahami secara langsung.

1401693087125439051
Anak tuna rungu tengah berlatih drum (SLBN Metro) / dok. pribadi
14016927851522762227
Anak-anak SLBN Metro tengah berlatih musik / doc. pribadi


Begitu pula dengan anak-anak SLB N Metro, sekolah bagi penyandang disabilitas yang berdiri pada tahun 2004 di Kota Metro Lampung ini hakekatnya sudah banyak menorehkan prestasi. Sejak berdirinya sekolah ini, sampai sekarang di bawah kepemimpinan Dra. Yuly Hartaty, MM, hakekatnya sudah sangat banyak. Prestasi para siswanya yang pada awalnya tak pernah diduga-duga sebelumnya.

Mereka seperti mutiara di dalam timbunan lumpur dan kotoran, mereka harus diolah dahulu hingga menjadi mutiara yang benar-benar cemerlang dan berharga tinggi.

Seperti halnya pula anak-anak disabilitas ini, dengan kecakapan dan kesabaran para pendidiknya mereka dapat menorehkan prestasi yang membanggakan bagi orang tuanya, guru-gurunya, sekolah, kota kelahiran dan tempat tinggalnya serta Indonesia tentunya. Tidak lain dan tidak bukan karena para guru yang berjiwa besar yang memiliki mimpi yang besar ingin membangun anak-anak Indonesia yang kekurangan ini menjadi sosok-sosok yang memiliki kelebihan. Minimal kehidupan mereka stara dengan anak-anak normal lainnya.

Dalam beberapa event perlombaan, anak-anak ini selalu saya mampu berkompetisi secara fair dengan kemampuan yang mereka miliki. Kemampuan mereka lahir setelah sekian lama diolah dengan kerja keras dan tingkat kesabaran yang tinggi tentunya.

Belum lama ini, Anak-anak SLB N Metro mampu meraih juara, meski tak semuanya juara pertama, tapi alhamdulillah di antara mereka mampu menembus peringkat nasional, salah satunya lomba desain grafis yang mampu tembus juara, dan lomba-lomba lain yang tak dapat disebutkan satu persatu. Kalau untuk juara propinsi, beberapa kali SLBN Metro mampu tembus sebagai juara umum. Sebuah prestasi yang luar biasa yang juga mengharumkan nama Provinsi Lampung serta Kota Metro pada khususnya.

Di tengah hiruk pikuk kemenangan yang mereka raih hingga tingkat nasional, mereka pun tak henti-hentinya berlatih, baik untuk persiapan lomba olimpiade sains, olimpiade olahraga mapun festival seni tingkat nasional. Tentu saja seabrek kegiatan latihan pun menghiasi hari-hari anak-anak yang memiliki bakat yang luar biasa ini.

Bagaimanapun juga, prestasi yang diraih SLBN Metro masih sebatas diawal, karena saat ini SLBN Metro tengah mempersiapkan diri untuk dapat menjadi salah satu sekolah penyandang disabilitas yang dapat menembus juara nasional dengan membawa trofi dan piagam penghargaan yang dapat mengangkat harkat dan martabat anak-anak penyandang disabilitas sekaligus mengangkat kehormatan sekolah dan Kota Metro tentunya.

14016932812087036779
piagam penghargaan / doc. pribadi

Semoga saja, kedepannya pemerintah baik pusat maupun daerah semakin memperhatikan dan memberikan peluang yang sama bagi anak-anak penyandang disabilitas. Dengan harapan semakin pemerintah memberikan peluang yang sama bagi anak-anak ini, maka secara otomatis mereka pun mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh penghidupan yang layak. Dan lebih dari itu merekapun hakekatnya merupakan generasi muda yang bersiap membangun Indonesia.

Salam

Apa Jadinya Jika Wanita (Tidak Malu) Merokok



sumber: rimanews.com


Apa Jadinya Jika Wanita (Tidak Malu) Merokok?
Penulis : M. Ali Amiruddin, S.Ag

 
Apa jadinya jika para wanita mulai kecanduan rokok? Tentu siapa saja akan mengatakan gaya hidup model wanita tersebut sudah mengkhawatirkan. Meskipun tentu saja ada hal-hal  yang mendorong seseorang untuk merokok, tapi terlepas jenis kelamin pria atau wanita, hakekatnya merokok adalah budaya yang buruk.

Di tahun 2013 saja sebanyak 6,9 persen kalangan perokok di Indonesia adalah perokok wanita. Persentase tersebut meningkat jika dilihat tingkat prevalensinya di tahun 2007 sebanyak 5,2 persen. Sebagaimana dilansir Kompas.com

Melihat begitu tingginya peningkatan jumlah perokok bagi kalangan wanita, tentu saja akan meninggalkan berbagai dampak yang negatif bagi kehidupan perokok sendiri sebagai subyek. 

Namun lebih dari itu, justru orang-orang di sekitarnya yang akan menjadi korban tidak langsung, seperti suami dan anak-anak serta lingkungan sekitar yang tidak merokok justru menjadi perokok pasif. Mereka tidak menghisap rokok tapi justru mendapatkan efek negatif dari aktifitas merokok sang ibu.

Dampak yang paling parah adalah serangan kangker payudara, gangguan kehamilan dan janin. Dampak itupun dirasakan selama masa hidupnya. Tidak hanya perokok kawakan, perokok baru pun mengalami kemungkinan serangan penyakit ganas tersebut. Bahkan menurut medis, dan banyak pula disampaikan melalui poster-poster maupun  pamflet beberapa indikator yang akan muncul akibat dari merokok seperti kangker paru-paru, jantung, strok, lever, dan lain-lain yang akan dialami para perokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif.

Karena saat ini saja tingkat konsumsi rokok di Indonesia sudah cukup tinggi. Tidak hanya kalangan orang dewasa, kalangan remaja bahkan anak-anak sudah banyak yang menyentuh barang berbahaya bagi kesehatan ini. Terang saja dampaknya tidak hanya terkait kesehatan perokok maupun korban dari asap rokok, karena dampak ekonomi secara berkepanjangan pun akan dialami oleh para perokok wanita.

Bagaimana tidak, tatkala para pria mulai mengurangi bahkan menghentikan aktifitas merokok karena pertimbangan kesehatan dan ekonomi keluarganya, justru para wanita menjadi konsumen rokok yang justru menjadi sumber bencana bagi anak-anaknya. Terlebih-lebih ketika kaum hawa ini dalam kondisi mengandung, dampaknya anak yang ada dalam kandungan mendapatkan imbas dari racun dalam rokok tersebut. Bahkan menurut penelitian ibu-ibu yang merokok kemungkinan besar anaknya akan mengalami cacat, baik secara fisik, psikis maupun intelegensi. Sebagaimana saat ini begitu banyaknya anak-anak yang terlahir dalam kondisi cacat di antaranya disebabkan karena aktifitas merokok dari anggota keluarganya. Terutama para ibu yang langsung berhubungan dengan anak yang dikandungnya.

Membatasi Peredaran Rokok hanya tempat-tempat tertentu dan tidak dijual bebas

Untuk membatasi pembelian rokok, seperti halnya pemerintah mencegah peredaran minuman keras, pun harus dilakukan. Minimal dengan cara ini hanya kalangan tertentu dan di tempat tertentu pula masyarakat pecandu rokok dapat menikmati barang ini. Tidak dijual seperti sekarang, baik di pasar modern maupun pedagang asongan sepertinya rokok sangat mudah ditemukan. 

Dampaknya tidak hanya perokok lawas (pecandu) yang dapat membeli rokok, karena anak-anak remaja dan anak-anak SD pun bisa membelinya dengan cara yang mudah. Tak takut mendapatkan razia apalagi mendapatkan hukuman.

Membatasi peredaran rokok hanya di tempat-tempat tertentu serta menyediakan tempat merokok khusus bagi perokok lawas, pun akan mengurangi konsumsi rokok. Selain itu siapa saja yang boleh membeli rokok akan mudah dikontrol. Karena secara otomatis anak-anak maupun perokok baru akan kesulitan mendapatkannya. Ditambah lagi jika pemerintah membuat regulasi dengan memberikan denda atau hukuman bagi penjual atau pedagang rokok yang menjualnya kepada anak sekolah. Tentu saja dengan hukuman dan denda tersebut para penjual tidak lagi bebas melakukan transaksi jual beli rokok secara sembarangan.

Menutup Perusahaan Rokok dan Menutup Keran Peredaran Rokok Adalah Solusi Akhir

Sebenarnya sampai saat ini kebijakan mengenai rokok baik produksi dan peredarannya sudah sangat ketat. Bahkan ada pula perusahaan rokok yang harus bangkrut karena persaingan perusahaan rokok dalam negeri maupun rokok produk impor. Tapi sayangnya kebijakan tersebut hanya sebagai upaya untuk  menaikkan harga jual rokok semata. Padahal meskipun harga rokok setinggi langitpun jika masyarakat sudah kecanduan rokok  tetap saja akan dibeli tanpa memperhitungkan tingginya harga rokok tersebut.

Kebijakan pemerintah yang masih sulit menutup perusahaan rokok dengan alasan tingginya pajak yang didapat dari perusahaan tersebut serta beberapa bantuan beasiswa dan sosial yang diberikan produsen rokok hakekatnya tidak akan menyelesaikan persoalan krusial ini. Karena meskipun sumbangih perusahaan rokok tersebut sudah sangat besar, tapi melihat gejala mengerikan terkait tingginya aktifitas merokok khususnya kalangan wanita, hakekatnya pemerintah sudah membiarkan rakyatnya menikmati produk berbahaya ini. Sehingga akan sia-sia saja himbauan menghentikan kebiasaan merokok selalu dilakukan lewat beberapa media, toh jika iklan rokok serta produksi rokok masih tinggi maka akansia-sia saja. 

Melihat tingginya konsumsi rokok para wanita, sepertinya pemerintah harus benar-benar membuat kebijakan yang tegas yakni menutup perusahaan rokok dan melarang semua produsen rokok asing memasarkan ke dalam negeri.

Jika pemerintah tetap saja berdiam diri, bukan tidak mungkin satu tahun atau sepuluh tahun lagi para wanita akan lebih banyak menikmati rokok dengan alasan mudahnya mencari rokok dengan segala merek. Dan pemerintahpun harus bersiap-siap jika generasi mendatang akan terlahir anak-anak cacat akibat konsumsi rokok dikalangan wanita.

Salam

Tatkala Orang Tua (Terlalu) Mengeksploitasi Anak Disabilitas


Sumber : kompasiana.com



Tatkala Orang Tua (Terlalu) Mengeskploitasi Anak Disabilitas
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag

Seperti biasa, saya melaksanakan tugas sebagai pendidik di salah satu sekolah penyandang disabilitas di Lampung, kebetulan di hari Jum’at ini saya menyampaikan materi tentang pendidikan karakter dan siswa-siswi memberikan tanggapannya terhadap cerita atau kisah terkait sikap seseorang tatkala dibenturkan dengan tugas-tugas harian. Dengan antusiasmenya para siswa, menjawab dengan bahasa apa adanya, semampu mereka mampu memahami kalimat saya dan menerjemahkan menjadi kata-kata untuk menilai sikap dari seseorang yang saya ceritakan. Saya menggunakan metode ini agar saya bisa menggali lebih dalam pengetahuan dan penilaian mereka terhadap sikap seseorang.

Seperti biasa, tatkala saya meminta anak-anak tersebut menjawab, mereka mampu menjawab dengan tanggapan baik hati, jujur, menolong orang tua, bertanggung jawab, namun adakalanya menanggapi dengan kata “jelek” maksudnya sikapnya tidak baik. Meskipun kata-kata tersebut teramat sederhana, namun saya memahaminya sebagai sebuah penilaian tentang  tulus tatkala mereka diminta menanggapi cerita dan kisah yang seringkali mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah anak-anak tersebut menanggapi cerita saya, kemudian secara bergantian mereka menceritakan aktifitas sehari-hari yang berkaitan dengan pengamalan karakter dan sikap yang baik atau buruk. Dan siswa lain pun menanggapi cerita teman-temannya.

Seiring proses bercerita dan menanggapi cerita tersebut, secara polos dan jujur mereka menceritakan bagaimana mereka melakukan pekerjaan rumah selayaknya asisten rumah tangga. Sepulang sekolah mereka langsung diminta mencuci piring, memasak dan menyapu halaman, bahkan adapula yang tidak sempat lagi beristirahat karena orang tua (ibu dan saudaranya) justru memerintahkan si anak untuk melakukan pekerjaan ala PRT. Tanpa mempertimbangkan kelelahan atau rasa letih setelah setengah hari mereka belajar. Tidak hanya pekerjaan-pekerjaan ringan, karena kegiatan menyiapkan masakan dan mencuci pakaianpun menjadi kewajibannya. Anak-anak tuna grahita yang setengahnya dipaksa untuk melakukan sesuatu yang seharusnya orang tua memberikan toleransi. 

Sebuah sikap yang teramat berlebih-lebihan yang dilakukan orang tua mereka. Mereka mendidik anak-anak ini teramat keras, bahkan terlalu keras sampai tidak memberikan kesempatan mereka untuk beristirahat meski hanya sesaat saja. Meskipun saya memahami apa yang dilakukan bertujuan agar anak-anak ini lebih mandiri, tapi karena terkesan mengeksploitasi sepertinya amat tak patut.

Anak-anak penyandang disabilitas, khususnya anak-anak tuna grahita memiliki kelemahan secara fisik dan psikis, selain itu mereka memiliki kelemahan intelegensi di bawah rata-rata. Jadi sepatutnya para orangtua mendidik dan melatih yang sesuai dengan karakter mereka. Tidak terkesan memperkerjakan mereka seperti halnya pembantu yang harus melakukan pekerjaan sendirian. Bahkan dari cerita anak-anak tersebut ada pula yang mengeluh merasakan sakit perut selama berbulan-bulan (menurut saya gejala maag kronis) setelah saya selidik ternyata akibat dari pola makan yang tidak teratur. Di saat makan siang mereka harus menikmati hidangan, mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah tanpa diberi toleransi istirahat, tidur dan menikmati makan siang. Tapi justru para orang tua ini memerintahkan mereka mengerjakan semua pekerjaan rumah ala pembantu. 

Karena saya ingin memastikan bagaimana anak-anak ini diperlakukan di rumah, maka saya melakukan konfirmasi terhadap para orang tua mereka. Dan benar di antara orang tua mereka justru menganggap anak penyandang disabilitas ini seperti pembantu yang harus mengerjakan semua pekerjaan di rumah. Sebuah kondisi yang teramat miris.

Rendahnya Perhatian Orang Tua Terhadap Kondisi Anak

Selain terlalu berlebihannya orang tua dalam “memperkerjakan” anak di rumah, seringkali saya melihat anak-anak ini kurang mendapatkan perhatian. Misalnya kondisi pakaian yang seringkali terlihat kotor, adapula dari mereka yang tak memakai seragam sesuai hari yang sudah ditentukan, dengan alasan pakaian belum dicuci, padahal seharusnya enam hari yang lalu pakaian tersebut sudah disiapkan sebelumnya.

Melihat kondisi ini, saya selaku guru kelasnya berusaha menyampaikan surat peringatan atau sekedar saran melalui buku penghubung yang dikirimkan kepada orang tua siswa, dengan tujuan orang tua semakin memperhatikan kondisi anaknya. Setelah saya kirim peringatan atau pemberitahuan, satu atau dua hari si anak terlihat rapih dan disiplin dalam berpakaian, tapi seminggu kemudian terlihat lagi kebiasaan sebelum diberikan buku penghubung. Selain itu orang tua selalu saya ajak berdiskusi mengenai kondisi anak dan bagaimana cara orangtua memberikan perhatian kepada anak-anaknya. Meskipun cara ini cukup efektif, sayang sekali hanya berjalan beberapa pekan, selebihnya orang tua kembali berkurang perhatiannya.

Dan yang lebih membuat saya miris adalah tatkala pemerintah memberikan Bantuan Siswa Miskin (BSM) justru para orang tua menggunakannya untuk keperluan lain yang tidak berkaitan dengan urusan pendidikan anak-anaknya. Seperti membeli keramik, pakaian dan lain-lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan pendidikan bagi anak-anaknya. Kontan saja, meskipun setiap tahun anak-anak ini mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui sekolah, justru orangtuanyalah yang banyak menikmati ketidak mampuan anak-anaknya. Mereka menganggap anak-anak mereka sebagai alat pencetak uang dan sedikit sekali tanggung jawab mereka terkait bantuan dari pemerintah ini. 

Wajar saja setelah saya amati anak-anak ini masih saja terlihat kumuh, ada saja siswa yang tidak berganti pakaian dan buku-buku serta alat belajarmereka yang selalu saja tidak tercukupi.
Fakta inilah yang membuat saya prihatin, tatkala pemerintah sudah memperhatikan kondisi anak-anak disabilitas justru para orang tua memanfaatkan anak-anak mereka untuk memperoleh kekayaan. Dan lebih dari itu mereka menganggap anak-anak disabilitas ini sebagai anak yang bisa dimanfaatkan tenaganya demi meringankan pekerjaan mereka.

Semoga saja kedepannya para orang tua penyandang disabilitas tetap memanusiakan mereka seperti anak-anak sebayanya. Memberikan mereka kesempatan untuk berkembang dan bersosialisasi tanpa diberikan beban yang melebihi kemampuan mereka. 

Salam

Tulisan ini dipublikasikan pertama kali di www.kompasiana.com

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!