Sabtu, 13 Desember 2014

Mengenal Aksara Lampung Sebagai Kekayaan Nasional Indonesia

Extraordinary News, 13-12-2014. 

Tabik Pun Hari ini saya ingin menuliskan tentang Aksara Lampung yang sudah banyak diajarkan di sekolah-sekolah di Lampung. Meskipun tidak semua warga Lampung bisa menggunakan bahasa daerah ini, akan tetapi saya merasa perlu untuk sedikit mengulasnya sebagai tambahan wawasan dan wacana untuk kita telaah bersama. 

Pada mulanya, aksara Lampung belum begitu luas diperkenalkan di sekolah-sekolah di daerah Lampung. Tentu alasannya karena pemerintah yang ingin mempersatukan bangsa Indonesia dengan satu bahasa Indonesia. Dampaknya, tidak hanya bahasa Lampung yang terlupakan, karena bahasa daerah lainpun bernasib sama. Bahasa-bahasa tersebut seperti tinggal sejarah, hanya tersimpan di dalam buku-buku kuno dan di dalam museum serta artefak yang banyak ditemukan saat ini. Baik tertulis dalam bangunan, candi maupun benda-benda purbakala.

Namun perkembangan selanjutnya keberadaan bahasa daerah ini semakin diperhatikan. Meskipun berdampak positif terhadap kelestarian budaya daerah, ternyata menjadi persoalan terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam aktifitas di sekolah. Dimana anak-anak harus mempelajari bermacam-macam bahasa yang harus mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka amat wajar jika kewajiban menggunakan aksara lampung pun turut menjadi persoalan tersendiri terkait kesiapan kurikulum, buku-buku penunjang serta guru-guru yang kompeten dengan bahasa daerah ini.Sehingga kewajiban pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk mempersiapkan sarana dan prasana penunjang agar bahasa daerah ini benar-benar bisa diajarkan, dilestarikan dan digunakan sebagai bahasa sehari-hari.

Meskipun demikian, cukup menggembirakan, pemerintah sangat mendukung perkembangan bahasa daerah ini sebagai sebuah kekayaan nasional dan warisan budaya leluhur yang tak dapat diabaikan begitu saja. Tentu pemerintah menghendaki, penggunaan bahasa daerah sebagai perekat hubungan sosial di daerah tersebut selain penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di negeri tercinta ini.

Dan yang cukup menggembirakan, kurikulum Bahasa Lampung sudah menjadi kurikulum wajib di daerah yang berjuluk Sang Bumi Ruwa Jurai.

Aksara Lampung, adalah aksara yang sejak dahulu menjadi icon bagi kemajuan tradisi leluhur di Lampung. Seperti dengan kekayaan lainnya termasuk pakaian khas, makanan, modifikasi rumah serta bahasa menjadi daya tarik kebudayaan di pulau yang terkenal dengan Tana Lado dan menara sigernya ini. Tidak sampai di situ, kebudayaan Lampung pun banyak dikenal di mancanegara.

Menurut wikipedia, akasara Lampung (Had Lampung)  adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Bentuk tulisannya berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam huruf Arab. Yakni perpaduan antara huruf induk dan anak huruf. Misalnya alif, ba, ta, tsa, jim, ha kho. Mendapatkan anak huruf (harokat) baik fathah, kasroh, dhammah, harokat tanwin, maupun harokat sukun (mati). menjadi a, i, u, an, in, un. Selain huruf induk dan anak huruf, aksara Lampung dilengkapi dengan tanda baca.

Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks, sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.

Huruf Induk

Lampung consonants.gif
Aksara Lampung (wikipedia)

Anak Huruf



 Tanda Baca







Angka Lampung





Yang pasti, Aksara Lampung atau Bahasa Lampung adalah kekayaan negeri tercinta Indonesia. Adalah sebuah kesalahan jika kekayaan yang dimiliki tidak dijaga kelestariannya.

Penggunaan aksara lampung tentu dengan tujuan agar masyarakat Lampung bisa menjalin komunikasi dengan sesama warga Lampung dengan baik, dan mereka dapat berbaur dengan rukun dan damai meskipun perbedaan warna kulit dari mana mereka berasal. Sehingga harapannya tidak ada dikotomi antara penduduk Lampung asli dan masyarakat keturunan rantau yang cukup lama hidup, berkembang dan membangun daerah ini.

Salam

Rabu, 10 Desember 2014

Guru Menulis, Saatnya Guru Benar-benar Mengabdi Pada Masyarakat




ExtraordinaryNews Menulis bagi saya adalah bagian yang paling menyenangkan, meskipun tulisan tersebut kadangkala tidak sebaik para penulis profesional yang memang terjun dalam dunia kepenulisan, semisal penulis buku, majalah atau buku-buku ilmiah sekalipun. Karena menjadi penulis profesional ala penulis tersebut tentunya membutuhkan proses yang tidak mudah dan tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kecintaan saya dalam tulis menulis diawali karena hobinya saya dalam mengoleksi buku-buku dari berbagai genre, bahkan semenjak sekolah saya sudah terbiasa dengan membaca, secarik kertas koran pun akan saya baca karena begitu besarnya rasa ingin tahu akan sebuah tulisan. Bahkan bungkus terasi pun menjadi media yang sangat menarik untuk saya jadikan sahabat tatkala waktu-waktu senggang.

Mungkin kehobian saya membaca inilah sejak kecil saya pun disebut sebagai kutu buku, alias maniak membaca. Bahkan istri saya pun sering mengatakan saya seorang kutu buku, lantaran semasa menempuh pendidikan beliau sering melihat saya berada di perpustakaan, mencatat dan membaca banyak literatur. Meskipun alasan awalnya saya terlalu sibuk di perpustakaan adalah karena saya tergolong mahasiswa sederhana, atau kalau boleh disebut mahasiswa kurang mampu. Karena modal untuk menuntut ilmu adalah modal kemauan, dan mengabaikan rasa malu demi sebuah pengetahuan.

Karena sulitnya membeli buku-buku materi kuliah, saya berusaha meminimalisir kelemahan saya dibidang referensi lantaran tak mampu membeli buku yang mahal, maka saya memutuskan untuk menuliskannya secara teratur teori-teori yang saya anggap sangat penting untuk dipelajari dalam studi saya. Tidak hanya istri dan orang-orang di sekitar saya, karena petugas perpustakaan pun tak pernah lupa bahwa saya adalah salah satu mahasiswa yang doyan membaca dan menulis referensi di perpustakaan tersebut. Sebuah kenang-kenangan indah yang mampu membantu saya menyelesaikan studi meski dengan modal kemauan. Benar kata pepatah ada kemauan tentu ada jalan. Tak hanya lulus studi, karena ketertarikan saya pada dunia buku membawa saya kepada pasangan hidup..

Berawal dari hobi membaca itulah menulis menjadi bagian yang menyenangkan, bahkan berandai-andai kapan tiba saatnya saya bisa menulis buku yang bisa saya persembahkan pada dunia pendidikan? Buku yang bermanfaat bagi semua orang, khususnya anak-anak didik saya, anak-anak ABK yang tentu saja sebagai wahana untuk belajar memahami dunia lain yang berbeda dari pendidikan yang saya tempuh. Semoga saja bukan hanya mimpi.

Guru menulis, bukan hanya kewajiban, tapi sebuah kebutuhan.

Menjadi penulis-meskipun belum masuk dalam kategori penulis profesional- adalah sebuah kebutuhan. Bukan hanya sebuah kewajiban karena faktor tuntutan jenjang karir atau kenaikan pangkat tertentu. Tapi murni semata-mata keinginan berbagi dan menyelami khasanah pengetahuan untuk kemudian dipersembahkan kepada orang lain agar bisa bermanfaat bagi sesama.

Meskipun demikian, tak sedikit guru yang merasa alergi ketika dilibatkan pada dunia tulis menulis. 

Bukan bermaksud merendahkan para abdi negara ini, lantaran mereka tidak terbiasa menuliskan konsep yang bisa dibagi untuk khalayak banyak. Pemicu awalnya adalah karena guru, termasuk saya sendiri terbiasa menyampaikan materi berdasarkan diktat, buku pelajaran atau buku-buku referensi yang sudah ada tanpa berpikir bagaimana menyampaikan sesuatu berdasarkan karya tulis sendiri. 

Kami tidak terbiasa membuat tulisan sederhana, apalagi tulisan ilmiah yang tentu saja dianggap sebagai momok bagi kebanyakan guru. Tentu hal ini diawali dari tidak diawali dari sebuah kecintaan dalam membaca dan niat awal ingin berbagi. Karena bagaimanapun sulitnya menghasilkan karya tulis, tentu diawali dari keengganan untuk memulai dan mencintai.

Padahal, seberapa berat untuk memulai membuat coretan-coretan kecil, adalah tak sebanding dari kepuasan batin dan kebanggaan karena bisa mempersembahkan sebuah tulisan bermanfaat untuk orang lain. Seperti berakit-rakit ke hulu, dan berenang-renang ke tepian. Bersusah-susah dahulu menulis meskipun dengan waktu, tenaga, pikiran bahkan biaya sekalipun tapi akan menjadi kebahagiaan tersendiri ketika sudah memperoleh hasilnya. Hasil karya tulisan yang bermanfaat bagi sesama.

Lalu, apakah karya tulis kita semata-semata ingin mendapatkan keuntungan secara materi? Tentu bukan materi menjadi tujuan. Lantaran semua diawali dari niatan awal ingin menyampaikan pengetahuan kepada orang lain. Bahkan jika dianalogikan ilmu itu seperti dalamnya lautan yang tak pernah kering meskipun airnya digunakan sebagai tinta dari coretan-coretan tulisan kita.

Begitu mudahnya guru menyampaikan materi pelajaran di kelas dengan ceramah, tapi akan banyak siswa yang semakin bosan, tapi betapa sulitnya menulis sebuah buku, tapi betapa banyak orang yang rela membaca buku-buku atau tulisan tersebut hingga berjam-jam atau berhari-hari lamanya hingga tuntas. Tanpa sadar atau tidak, selain menyampaikan pengetahuan dan pengalaman, ternyata kita sudah membentuk karakter terhadap pembacanya. Mudah-mudahan karakter yang baiklah yang akan ditanamkan dalam sanubari mereka.

Seorang guru adalah menjadi corong sebagai sosok yang digugu dan ditiru, attitude (sikap), behaviour (perilaku) dan character (karakter) sangat mungkin ditiru oleh orang-orang di sekitarnya, lebih khusus lagi oleh anak didiknya. Membiasakan diri dan membudayakan menulis dan membaca menjadi tradisi yang amat indah untuk digalakkan di tengah-tengah gempuran tekhnologi yang sedikit banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan khususnya peserta didik.

Sebuah sikap, perilaku, dan karakter yang baik mestilah ditunjukkan agar menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya serta lingkungannya, apalagi dalam sub bagian kompetensi guru adalah mampu melakukan penelitian ilmiah demi suksesnya proses pendidikan bagi anak didiknya. Sebagaimana empat kompetensi yang dimiliki guru adalah kompetensi pedagodik, kompetensi

Apalagi dalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab III huruf a. menyatakan bahwa seorang guru harus memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, dan huruf b. menyatakan bahwa guru hendaklah memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia. Selain itu sebagai bagian kompetensi sosial, seorang guru harus mampu berkomunikasi lisan, tulisan / atau isyarat. Dengan kata lain, tidak ada alasan bagi guru untuk tidak menulis agar tugasnya sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik adalah sebuah kebutuhan.

Sehingga dengan dasar undang-undang di atas, menjadi pijakan yang pasti bahwa menjadi guru adalah karena bakat, minat, panggilan jiwa serta idealisme dengan disertai niatan awal ingin turut memajukan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan serta akhlak mulia. Tentu saja dengan menulis langkah-langkah tersebut dapat dilakukan meskipun dimulai dari persoalan yang kecil sekalipun.

Guru Menulis, Melatih Kepekaan dan Kecerdasan Sosial

Sebagai seorang guru, tentu saja menjadi bagian dari sistem pendidikan yang secara faktual  pun turut menjadi bagian dari dinamika masyarakat. Hal ini tercermin ketika guru mau mengembangkan pengetahuannya serta turut menyelesaikan persoalan-persoalan yang ia temukan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam lingkup bidang tugasnya di dalam kelas.

Sebagaimana tercermin Undang-undang No 12 tahun 2012 pasal 1 ayat 9 menyatakan bahwa dari Tri dharma perguruan tinggi, di mana manivestasinya adalah lahirnya para guru sebagai output dari perguruan tinggi yang mau mengabdikan diri dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

“Tridharma Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut Tridharma adalah kewajiban Perguruan Tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (UU No. 12 Tahun 2012, Pasal 1 Ayat 9)”

Penelitian dan mencari solusi terkait persoalan pendidikan bukan hanya peran dari perguruan tinggi yang mencakup dosen dan mahasiswanya, tapi para guru yang juga sama-sama mengemban amanah negara ini dalam sebuah penelitian. Guru yang seperti dipahami sebagai sosok yang dianggap sekelompok orang yang kurang peka terhadap persoalan negerinya karena tuntutan akan kesejahteraan yang selalu disuarakan, akan tetapi benar-benar turut andil dan menjadi bagian penting dari sistem pendidikan yang juga menjadi motivator, mobilisator serta dinamisator pendidikan Indonesia yang benar-benar maju dan setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Sebagaimana program Tanoto Foundation yang turut serta menjadi bagian pembangunan pendidikan di Indonesia.

Bagaimana para guru ini menunjukkan solusi alternatif kepada masyarakatnya, tak lain dan tak bukan dengan menulis dan menjadi bagian dari dunia tulis menulis dan memasyarakatkan membaca dan menulis bagi generasi muda.

Menulis adalah sebagai kewajiban, pun sebagai kebutuhan. Bahkan jika ditelaah secara mendalam menulis merupakan bagian integral dari proses pendidikan sekaligus mengemban amanah dalam memperjuangkan semangat pendidikan yang terbarukan, lahirnya anak-anak Indonesia yang kualitas yang semakin baik serta guru-guru yang concern dalam dunia pendidikan. Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Bapak Tanoto Sukanto, sosok pendiri Tanoto Foundation yang dengan semangat berbagi telah dan masih terus mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia. Di mana “secara khusus Tanoto Foundation telah menetapkan untuk mengurangi kesulitan dan memutus siklus kemiskinan antar generasi melalui program pendidikan dan pemberdayaan.”

Semoga saja semangat para guru  dalam menulis, diikuti oleh semangat yang semakin tinggi dalam menemukan dan memperdalam pengetahuan baru sehingga khasanah keilmuan semakin mantap dan mendalam demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Salam

Sabtu, 22 November 2014

Ketika Ijazah Sarjana Tak Lebih Baik dari SR (Sekolah Rakyat)

Jika membaca dan mendengar gunjingan dari para pembaca media cetak maupun internet di sekitar saya sendiri kayaknya masih perlu membahas seberapa besar “nilai” dari sebuah ijazah daripada keahlian atau pengalaman seseorang (skill). Tentu keduanya tidak bisa dibandingkan dengan apriori, karena masing-masing memiliki posisi yang berbeda. 

Bagi kalangan akademisi, ijazah menjadi bobot tersendiri tatkala menduduki jabatan fungsional atau struktural di pemerintahan dengan embel-embel yang panjang, baik di depan maupun di belakang namanya. Meskipun acapkali embel-embel yang panjangnya semeter tersebut bukan murni diperoleh dengan ngoyo tapi dikenal UTID (Uang Tebal Ijazah pun Datang). Begutah kira-kira yang pernah booming di era 2000 an. Di mana saya sering menemukan ada oknum yang mengaku pejabat memakai seragam kedinasan menawarkan ijazah palsu. Untung ulah pemalsuan ini segera dapat dibasmi lantaran di antara mereka sudah masuk bui.

Begitupula terkait keahlian dan pengalaman, bagaimana mungkin ibu Susi Pujiastuti sang Mentri Perikanan dan Kelautan bisa menduduki jabatan di pemerintahan Jokowi-JK, meski hanya bermodal ijazah SMP. Bagi saya dan  kebanyakan penghuni negeri ini akan mengatakan Impossible pada mulanya, lantaran tak lazim seseorang yang pendidikannya rendah bisa menduduki jabatan tinggi tersebut.

Tapi itulah dunia kerja, seperti kata Presiden Jokowi ketika memberikan sambutan selepas beliau di sumpah sebagai Presiden terpilih, tentu sikapnya memiliki ibu Susi Pudjiastuti bukan karena sebab “cinta buta” tapi benar-benar berdasarkan penglihatan, pemikiran dan olah rasa yang tajam atas prestasi yang diraih ibu mentri yang kebetulan memiliki tato di kaki serta merokok tersebut. Tapi sekali lagi, Jokowi tak mungkin salah dalam hal ini, karena beliau memilih tentu atas prestasinya, sedangkan kekurangan dalam segi kepentingan pribadi lambat laun dapat diubah jika pihak yang bersangkutan mau merubahnya. Semoga.
……………….
Berbicara mengenai status pendidikan tinggi, maksud saya sarjana yang biasanya ditempuh dengan waktu minimal 3,5 tahun, bahkan ada yang kurang dari itu, meskipun adapula para mahasiswa yang berjuluk mahasiswa abadi lantaran menempuh kuliah hingga semester 14 di era 2001 an ketika saya berhasil menempuh pendidikan sarjana di salah satu perguruan tinggi di kota di mana saya berdomisili dan menetap, tentu memberikan banyak tanda tanya, betapa lemahnya seorang mahasiswa jika butuh bertahun-tahun lamanya dalam menempuh pendidikan tinggi tersebut. Apakah karena kesibukan dalam berorganisasi? Problem ekonomi? Atau urusan organisasi yang juga menjadi bagian pengembangan diri dalam ilmu politik dan sosial kemasyarakat. 

Namun yang pasti, masih banyak mahasiswa yang aktif dalam kegiatan ekstra dan intra kampus yang mampu menyelesaikan pendidikan sesuai dengan target yang dibutuhkan. Tak perlu terlalu ngoyo, meski aktif dalam kegiatan kemahasiswaan ternyata mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
Jika bertolak pada kondisi para sarjana yang saat ini bersaing mencari kebutuhan hidup di lembaga pemerintahan, tentu amat bertolak belakang dengan seorang pria yang hanya berijazah SR namun kemampuan, skill keahliannya melebihi para sarjana. 

Kalau boleh saya contohkan orang tua saya sendiri. Ayah hanya lulusan SR sedangkan ibu SD tak tamat. Lantaran di masa itu pendidikan tak begitu diwajibkan lantaran ekonomi sudah mapan lantaran luasnya lahan pertanian dan usaha niaga yang juga sudah baik. Jadi muncul pemikiran kalau sekolah tinggi itu tak penting. Walaupun pendapat ini tak dapat dibenarkan, lantaran hanya menempuh pendidikanlah masa depan bisa diraih. Paling tidak untuk saat ini dan di negeri ini, rata-rata yang dilihat adalah ijazahnya dengan Indek Prestasi minimal 3,00. Kalau dibawah nilai ini akan sulit masuk tes pegawai negeri, meskipun untuk juran eksak boleh di bawah nilai tersebut. Kondisi ini fakta,  bahwa saat ini yang dipandang adalah ijazah dan nilai IP yang tertera di dalamnya. Meskipun tatkala melihat kinerja pegawai pemerintahan banyak yang menilai kinerja mereka amat rendah. Apakah karena ijazah mereka tinggi jadi malas-malasan jika harus bekerja keras? Mudah-mudahan tidak terjadi.

Kembali pada status pendidikan yang terkait dengan ijazah, ketika masih gencarnya tawaran pekerjaan konstruksi gedung perkantoran dan institusi suasta, ayah sering kedatangan kontraktor dengan pakaian necis, mobil mahal dan tentu kantungnya sangat tebal. Kenapa mereka mau ke rumah meski rumah kami gubuk reyot? Apakah tidak gengsi? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu, lantaran para kontraktor ini tidak melihat status pendidikan atau ijazah yang dimiliki, tapi pengalaman dan skill yang dianggap mumpuni dalam pembangunan gedung-gedung. 

Meskipun saat ini tantangan proyek tak semudah di masa itu, jadi membutuhkan pendidikan tinggi sekaligus skill yang juga diperoleh dari gemblengan perguruan tinggi yang juga layak diperhitungkan. Meskipun demikian, tatkala ayah tengah mengawasi pekerjaan proyek, karena beliau ditunjuk sebagai mandor, para mahasiswa teknik yang tengah magangpun tak sedikit yang bertanya ini itu terkait proyek tersebut. Bahkan karena melihat pengalaman dan jam terbangnya sudah banyak, seakan-akan para konsultan yang nota bene para lulusan pendidikan tinggi inipun menyerahkan sepenuhnya proses pekerjaan tersebut.

Jadi persoalannya bukan karena ijazahnya yang dicari, tapi  skill, pengalaman dan kemampuan dalam sebuah pekerjaan yang dibutuhkan dari seseorang. Sebuah persoalan negara tak butuh orang-orang dengan ijazah tinggi, berpakaian jaz import yang mahal, dan bukan pula kemampuan dalam aksi suap menyuap tatkala seleksi mentri berlangsung. Tapi yang dibutuhkan adalah orang-orang yang benar-benar gesit, lincah dan mampu bekerja dan menyesaikan setiap persoalan di hadapannya dengan kecepatan tingkat tinggi. Tegas dan tak perlu ragu-ragu.

Ketika Ijazah tak diimbangi profesionalisme kerja sesuai pendidikannya

Berapa juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia? Tentu ada jutaan yang saat ini masih menganggur dan masih mondar-mandir menenteng map berisi ijazah demi mendapatkan pekerjaan di tempat yang empuk dan basah. Mereka berkeliling dari satu kantor ke kantor lainnya demi sebuah mimpi mendapatkan pekerjaan yang tak perlu berpanas-panasan akibat sengatan panasnya matahari.

Bahkan yang ironis lagi, tatkala mereka adalah seorang sarjana yang masih hangat-hangatnya lulus dari perguran tinggi (fresh graduated) ternyata mereka masih kebingungan dalam menentukan jalan hidupnya. Mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung mau bekerja apa karena di sana-sini tidak mau menerima lamaran mereka. Bahkan lebih dari itu ada yang hendak mengakhiri hidupnya lantaran frustasi dan depresi karena tak juga mendapatkan pekerjaan. Meskipun ia seorang magister. Sungguh aneh, konyol namun ini adalah ironi lulusan pendidikan di negeri ini.

Apakah pendidikannya yang boleh disalahkan? atau perguruan tingginya yang tak layak menjadi rujukan karena dianggap tak mampu menelurkan mahasiswa yang siap pakai dalam situasi apapun? Tentu jawabnya akan sangat beragam lantaran dalam situasi tertentu sebuah institusi pendidikan selayaknya kawah candra dimuka tempat menggembleng mahasiswanya dengan aneka pengetahuan agar mereka mampu menjadi generasi yang mandiri dan siap pakai. Tapi faktanya justru semakin lama mereka menuntut pendidikan ternyata tak juga mendapatkan predikat mandiri dan layak pakai. Justru bertolak belakang dan menunjukkan tingkah polah seorang sarjana yang sama sekali jauh dari sosok yang berpendidikan tinggi.

Dengan demikian, bahwa sepatutnya penghargaan pada status seseorang jangan semata-mata karena ijazah semata, akan tetapi skill, pengalaman dan prestasi yang telah diraihnya dalam bidang tertentu.

Bekali kemandirian dan skill (keahlian) dan pengalaman hidup sejah dini.

Pendidikan adalah proses, dan prosesnya akan berhasil guna jika dilalui secara bertahap, step by step. Diawali dari persoalan yang simpel hingga yang rumit. Mengajarkan kemandirian, skil dan pengalaman hidup dimulai dari usia mereka muda.

Membekali pendidikan umum sangat diperlukan, tapi pendidikan yang berorientasi kemandirian, keahlian dan pengalamn hidup sepertinya jauh lebih bermanfat bagi generasi muda. Tak hanya kecerdasan logika saja yang dituntut dalam lembaga pendidikan, tapi kecerdasan lain seperti kecerdasan sosial, bahasa, keahlian praktis dan aneka kecerdasan dan bakat lain yang mesti dikembangkan agar generasi muda ini tak gagap lagi tatkala berhadapan pada situasi yang sulit dalam kehidupan mereka.

Hidup memang mesti berpikir dan berhayal, tapi melakukan segalanya dengan semangat kerja berdasarkan skill dan pengalaman yang utuh yang diperolehnya selama proses pendidikan maupun dunia kerjanya pun tak dapat diabaikan.

Ijazah tinggi memang diburu dan dicari sebagai jenjang pendidikan tinggi dan keilmuannya, tapi pengetahuan praktis yang tak melulu berdasarkan logika yang jumud dan terbatas pun sangat dibutuhkan saat ini demi proses kemandirian dan kemajuan prestasi kerja generasi Indonesia yang lebih baik. Mana mungkin bangsa ini siap bersaing dari bangsa lain jika para generasi mudanya terlalu naif mengandalkan ijazah semata demi sebuah pekerjaan kantoran. Jangan sampai ada kesan justru sarjana lebih rendah kemampuannya dibandingkan lulusan SR atau SMP sekalipun.

Salam

Implementasi Kurikulum 2013, Tantangan Luar Biasa Bagi Guru




Beberapa hari yang lalu, Sabtu (8-11-2014) saya mengikuti Pelatihan Kurikulum  2013 di SLB N Kota Gajah, Lampung Tengah, dengan sasaran pada aspek penilaian dan pengisian raport. Meskipun pertemuan tersebut seharusnya kelanjutan dari pelatihan kurikulum yang lain, tapi menurut saya ada beberapa hal yang dapat saya petik serta beberapa sisi yang akan ditemui tatkala para guru benar-benar mengimplementasikan kurikulum baru tersebut.

Sebagaimana dunia pendidikan di Indonesia memang belum sepenuhnya menemui titik kesempurnaan. Sehingga, apapun produk yang dihasilkan dari lembaga pendidikan kita selalu saja menemukan titik ketidak puasan pengguna lulusannya. Jika dianalogikan dunia pendidikan pun selayaknya sebuah mesin pencetak (mesin produksi), semua direncanakan (planing), diorganisasikan (organizing), dilaksanakan (actuating) , dikontrol (controling), dievaluasi (evaluating) dan tentu saja ditindaklanjuti (follow up) agar apapun yang dilalui dapat didiperoleh solusi guna perbaikan selanjutnya.

Semua diawali dari adanya proses perencanaan yang juga tak sesederhana seperti dalam sebuah teori, karena yang diproduksi adalah seorang manusia yang utuh. Di mana mereka memiliki dimensi jasadiyah (fisik) dan rohaniyah (jiwa) sekaligus dimensi akliyah (fikiran). Yang semuanya tersimpul dan tersistem menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan. Tatkala proses pendidikan mulai direncanakan, diproses hingga melahirkan generasi baru tentu semuanya diawali dari konsep di atas.

Seperti halnya teori tabularasa, bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, kemudian dengan sebuah proses interaksi dengan Tuhan, manusia dan lingkungannya, manusia menjadi makhluk yang  utuh sebagai manusia yang sebenarnya. Sebagaimana dalam Islam diistilahkan dengan hablumminallah, hablum minannas dan hablum minal'alam. Tiga dimensi hubungan ini tak pun tak dapat dipisahkan dalam proses mencetak lulusan-lulusan yang sesuai dengan tujuan pendidikan di Indonesia.

Bagaimana pun situasinya, dan siapapun serta apapun baik yang memproses dan yang diproses tersebut semestinya menggunakan prinsip tersebut agar semua proses berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang optimal. Seperti sebuah perusahaan, jika segalanya dilalui dengan sistem dan mekanisme yang matang dan sempurna, maka amat besar kemungkinan hasilnya juga akan sempurna. Meskipun tidak ada yang sempurna di dunia ini, beberapa hal menjadi penyebab kegagalan, tapi kegagalan merupakan bagian dari proses menuju kesempurnaan. Meskipun proses pendidikan tak sesederhana seperti mencetak barang antik sekalipun, karena begitu kompleksnya pribadi manusia yang masing-masing memiliki perbedaan.

Menelaah Kurikulum 2013 sebagai Implementasi Manusia Berbudaya

Apapun sebuah hasil karya, saya menyebut Kurikulum 2013 adalah sebuah hasil cipta, karsa, dan karya manusia (kebudayaan) yang bertujuan melahirkan generasi-generasi Indonesia yang terdidik dan mampu menjiwai serta mengimplementasikan tiga kompetensi, yaitu kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Meskipun hakekatnya pendidikan di Indonesia sudah dirumuskan dilaksanakan berdasarkan ketiga komponen yang menjiwai, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Tentu semua harus seiring sejalan dan diaplikasikan dalam pendidikan secara utuh agar outputnya pun adalah generasi yang benar-benar utuh.

Generasi yang tidak hanya mengandalkan pengetahuan, hanya menguasai ilmu tertentu dalam bentuk nilai, tapi mereka tak menjiwai ilmu yang diperoleh dalam sebuah sikap hidup dan menjadi cerminan hidup mereka tatkala harus mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengetahuan tanpa penghayatan, maka seseorang akan cerdas dari dari segi pemikiran, tapi kering jiwanya.

Mereka cerdas tapi tak memiliki kepekaan sosial dan kekuatan dan keteguhan jiwa, serta tak mampu menggunakannya dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu pula jika mereka mampu menguasai sebuah konsep dalam ranah kognisi dan afeksi (penghayatan dan sikap) tanpa mampu mengamalkannya pun akan menjadi kesulitan ketika berhadapan dengan dunia nyata. Karena kemandirian pun sangat dibutuhkan sebagai bekal masa depan mereka.

Maka tak dapat disangkal lagi, bahwa saat ini Indonesia benar-benar membutuhkan tiga kompetensi tersebut, agar pendidikan kita melahirkan generasi yang cerdas logika, baik jiwanya dan tentu saja mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah kesalahan, manakala ketika pendidikan hanya berdasarkan nilai ujian dengan sederet angka-angka, tapi mereka sama sekali tidak menjiwai dan mengamalakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka lulus cumlaud bagi mahasiswa atau nilai rata-rata sembilan koma sembilan bagi anak-anak sekolah tapi mereka belum bisa bersikap jujur dan mandiri dan berdikari pun kurang disebut layak.
Mereka anak-anak jenius, tapi memiliki karakter (kepribadian) yang buruk. Suka menciptakan konflik dan bukan membuat solusi. Suka mencari masalah dan bukan penyelesai sebuah persoalan di masyarakatnya.

Mereka ahli agama dan pintar di sekolah dengan nilai tinggi, tapi setelah bekerja mereka suka bermain-main anggaran negara dengan korupsi. Kurikulum 2013 paling tidak memberikan solusi alternatif atas rusaknya generasi muda dengan sistem pendidikan yang utuh dan menyeluruh (komprehensif).

Kurikulum 2013, Bukanlah Produk Sekali Jadi

Sebagaimana paparan di atas, bahwa kurikulum 2013 pun hakekatnya memiliki tujuan yang kurang lebih sama dengan kurikulum sebelum-sebelumnya (KTSP). Karena bagaimanapun juga, implementasi kurikulum ini pun hakekatnya mengacu kelebihan dan mengoreksi kekurangan yang ada dari kurikulum tersebut. Meskipun demikian, sebaik apapun ciptaan manusia tentu memiliki banyak kekurangan di sana-sini. Sehingga amat wajar suatu saat nanti kurikulum terbaru tersebut hendak dianalisis, dikritisi, dan dicari kelemahannya untuk kemudian dilengkapi dan disempurnakan seiring dengan perkembangan dan penggunaan kurikulum ini di lapangan.

Sebagaimana pernyataan Mendikbud bahwa "Nanti saya akan buat evaluasi pada kurikulum 2013,"  (Kompas.com) Dengan demikian  apapun yang terjadi, pada saatnya nanti kurikulum tersebut akan dievaluasi kembali dan tentu saja akan diperbaiki lagi sesuai dengan tingkat kebutuhan yang mendesak. Apalagi dengan hadirnya kurikulum tersebut ternyata memicu respon yang beragam dari guru selaku ujung tombak kurikulum tersebut.

Apapun bentuknya, kurikulum adalah produk yang belum sepenuhnya memenuhi harapan pendidikan di Indonesia, sehingga membutuhkan evaluasi dan perbaikan di sana-sini agar lebih sempurna dalam tataran implementasinya. Yang pasti, melibatkan semua komponen pendidikan di antaranya guru dan para siswa serta lembaga lain yang turut concern dalam dunia pendidikan.

Bagaimana Guru Sebaiknya?

Sebagai seorang praktisi pendidikan, seorang guru pun menjadi sasaran kurikulum yang menjadi pedoman mereka dalam melakukan tugasnya. Karena tanpa kurikulum yang jelas, maka kerja guru akan terhambat. Dampaknya adalah proses pembelajaran terjadi ketimpangan, serta sudah dapat dipastikan ketika proses pembelajaran saja tidak berjalan mulus dan penuh kesalahan maka harapan memperoleh generasi tangguh dan membanggakan tinggallah mimpi belaka.

Meskipun demikian, sebagai pelayan rakyat dan abdi negara, seorang guru tetap dituntut mampu  mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, meskipun saat ini guru harus berusaha kreatif dengan kondisi yang kurang memenuhi harapan guru. Seperti ketersediaan buku yang belum sepenuhnya terpenuhi serta media pembelajaran yang juga masih sangat memprihatinkan.

Guru menjadi ujung tombak pelaksanaan kurikulum tersebut, meskipun sebaik apapun sebuah kurikulum, jika para pendidiknya tidak memenuhi kompetensi yang diharapkan maka hasilnya pun kurang maksimal. Sehingga dengan kondisi tersebut, guru tetap harus memperbaiki diri dan meningkatkan kompetensinya secara bertahap agar pengejawatahan kurikulum tersebut dapat dilakukan dengan tepat sasaran. Sebagaimana disampaikan Bapak Mendikbud beberapa waktu lalu.

Guru tetaplah menjadi sosok yang serba bisa dalam kondisi apapun. Bahkan seandainya tanpa media dari pemerintah, sepatutnya guru dan siswa mampu memaksimalkan kegiatan pembelajaran berdasarkan media lain yang ada di lingkungan serta alam sekitarnya, sambil secara perlahan memenuhi setiap harapan guru terkait kurikulum yang benar-benar layak pakai, buku-buku yang tersedia serta media pembelajaran yang juga  mencukupi.
Salam


Selasa, 18 November 2014

Meriahnya Karnaval Jambore Pramuka ABK 2014


14126317192041262014



Tulisan ini sebenarnya sudah kadaluarsa. Ibarat kalau produk makanan sudah kelewat tanggal layak konsumsinya. Jadi ya yang penting bisa disharing. Mau dibaca silahkan kalau nggak ya nggak apa-apa. Yang penting foto-foto yang sudah saya simpan setelah aksi jeprat-jepret tidak hangus dan mubazir.

Bagi saya, Jambore Pramuka merupakan pengalaman yang berharga. Karena didalamnya mengajarkan banyak hal dan pengalaman yang diberikanpun tak sedikit saya rasakan. Tak hanya saya yang berkapasitas sebagai pembina pendamping, karena bagi siswa ternyata memberikan kesan yang amat mendalam. Para siswa yang awal keberangkatan terlihat gugup dan kurang percaya diri, eeee ternyata setelah mengikuti beberapa sesi kegiatan mereka terlihat semakin percaya diri. Begitu juga
gurunya yang semakin bersemangat untuk membina anak-anak ABK.

Selain asyiknya kegiatan Jambore yang niatan awal adalah mengumpulkan para anggota Pramuka yang sudah diseleksi dengan ketat, ternyata ada banyak keasyikan-keasyikan yang muncul dalam setiap even. Misalnya biasanya anak-anak ABK kurang begitu responsif terhadap informasi terbaru dan jenis permainan yang unik, pada ajang Jambore ini mereka semakin terasah kepekaannya.

Kadang tanpa diberitahu dan ditanya, mereka sudah mengetahui dan tanggap dengan apa yang harus mereka kerjakan. Kekhawatiran pendamping yang berlebihan terkait anak-anak didik mereka, ternyata terjawab sudah dengan aksi kreatif dan keberanian dalam mengikuti perlombaan. Meskipun kemenangan bukan satu-satunya tujuan, yang pasti sudah menjadi media motivasi anak agar lebih kreatif lagi.

Terlepas dari beberapa keasyikan dan keragaman ekspresi dari masing-masing kontingen ABK, selain menambah ketrampilan dalam bergaul, Jambore mengajarkan untuk saling mengenal kontingen dari daerah lain. Dan alhamdulillah ternyata peserta dari Lampung sempet mendapat kenalan yang terlihat intens dari propinsi Banten. Mereka baru mengenal ternyata pembicaraannya terlihat klop. Kebetulan kami bersebelahan. Tak hanya itu karena saya sendiri medapatkan teman baru dari Banten, Jawa Timur, NTT dan daerah lain. Namun sayang sekali karena pertemuan dan pembicaraan amat singkat, jadi hanya beberapa orang saja yang bisa diajak bertukar nomor HP. Mendingan untuk ajang komunikasi dan diskusi lintas propinsi.

Beberapa keunikan dari Jambore Pramuka tentu tak semua dapat tercover dalam tulisan ini. Tentu karena terbatasnya waktu untuk jeprat-jepret lantaran saya harus fokus mendampingi anak-anak dari Lampung karena memang itu tugas pokoknya. Tapi alhamdulillah karena telaten saya bisa mendokumentasikan beberapa kemeriahan dalam kegiatan tersebut.



14127501702105602948




Foto di atas diambil di Bandara Radin Inten 2 Lampung. Sedikit selfi dan katrok tapi sengaja saya lakukan agar peristiwa penting ini tak lekang oleh waktu. Menjadi peringatan tersendiri bahwa kami pernah bersama-sama ikut Jambore meski hanya 2 medali juara harapan. Tapi tetap semangat untuk ikut jambore Pramuka ABK tahun-tahun berikutnya.

Meskipun tidak berkaitan dengan karnaval, tapi sengaja saya ikutkan sekedar ikut ngeksis dari pada foto gak laku karena tak dipublikasikan. hehe

Nah, kalau tulisan di bawah ini benar-benar membicarakan tentang keunikan karnaval Jambore tersebut. Misalnya saja Kontingen Lampung yang saya jepret pertama kali loh. Para wakil daerah ini tetap bisa eksis mengikuti setiap kegiatan dengan antusiasme tinggi. Berbalut pakaian asli adat Lampung, enam peserta Jambore berfoto ria bersama pendampingnya yang sok ganteng, kemudian kontingen dai bumi sai bumi ruwa jurai ini mengikuti arak-arakan semua kontingen. Pas di urutan ke tigalah kami berjalan di bawah kontingen DKI. Jakarta dan Banten. Sedangkan di belakang kami ada kontingen dari daerah lain.
14127504211660122111
Kontingen Lampung





Penampilan kontingen Lampung memang sudah maksimal, segalanya sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Tapi ya itu tadi, karena di sini adalah kompetisi dan tim juri juga memiliki subyektifitas tersendiri-meski ada obyektifnya juga- tetap saja kontingen Lampung masih belum bisa menarik simpati mereka. Tapi ya sudahlah gak apa-apa yang penting tetap hepi.

Sesaat peserta karnaval mulai start, saya mengabadikan moment ini dengan memotret kontingen yang ada di paling depan. Ialah kotingen tuan rumah (DKI Jakarta) dengan membawa sepasang ondel-ondel yang menjadi icon daerah ini. Meskipun peserta pembawa ondel-ondel sempat kelelahan dan sarungnya sempat pula melorot, tapi semangat semua peserta tetap tinggi.




1412750515729531611


Di barisan kedua saya memotret kontingen dari Banten yang juga sangat asyik dan rame, mereka membawa alat musik dari daerah ini. Selain membunyikan alat musik yang juga ramai, peragaan seni beladiri debus juga turut mengiasi perjalanan karnaval. Terang saja karena aksi debus ini, para peserta lain ikut teriak-teriak histeris tanda ketakutan, bahkan ada beberapa penonton yang berjajar di sisi jalan lari ketakutan karena salah satu peserta mengiris tangannya dengan golok tapi tidak terluka sama sekali. Hemmm serem juga, malah apa perlu saya ikut debus ya?



14127506191693895303
Di barisan belakang kontingen Lampung, ada kontingen dari Kalimantan Selatan, mereka terlihat lebih tenang tanpa alunan musik pun, sama seperti kontingen Lampung yang tidak membawa alat musik sama sekali. Seandainya alat musik di bawah kayaknya semua tampak lebih meriah.

Di belakang lagi ada beberapa kontingen yang mewakili 34 propinsi yang tak dapat saya sebutkan selurunya. Yang pasti semua kontingen sudah all out mengeluarkan semua daya dan upaya demi memeriahkan karnaval Jambore tersebut.



1412750746382559553


Akhir perjalanan, saya sempat berfoto-foto ria sekaligus mengabadikan moment langka dan bersejarah ini sebagai simbol kekaguman saya atas indahnya Indonesia. Negeri yang elok dengan nuansa keragaman budaya. Semua menjadi satu bagian yang tak dapat dipisahkan merangkai keindahan Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Salam

Semua gambar dok. pribadi

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!