Senin, 26 Januari 2015

Waspadai Kurma Busuk Beredar





Kurma busuk yang sudah dipaketin dalam bungkus plastik, sengaja dicampur dengan kurma yang masih bagus untuk menutupi keburukan buah yang tak layak konsumsi



Betapa terkejutnya saya di pagi itu, 20 Januari 2015, tatkala mendapatkan bingkisan dari sahabat sesama guru. Sang guru kebetulan baru saja selesai dari ibadah umroh. Dan seperti biasa siapa saja yang kembali dari tanah suci Mekah, membawa bingkisan atau sekedar oleh-oleh yang ingin dibagikan kepada kerabat, keluarga dan sahabat yang ingin mencicipi oleh-oleh dari tanah suci Mekkah tersebut.

Awalnya kami senang melihat bungkusan yang berisi sejumlah kurma dan sebotol minuman yang katanya air zam-zam. Minuman wajib yang mesti dibawa tatkala kembali ke kampung halaman. Kurma tersebut dibungkus rapi seperti bungkusan kue dan air zam-zam diwadahi dalam botol kecil dengan ditempeli doa.

Tanpa ragu dan tak menunggu lama bingkisan tersebut kami lahap dan minuman pun turut membasahi kerongkongan kami. Kurma dari dahulu tetaplah manis di lidah. Sedangkan sebotol minuman yang katanya air zam-zam tersebut memang rasanya berbeda dari air minum yang biasa kami minum dari sumur atau minuman yang diperjual belikan. Berharap air zam-zam bisa menjadi obat karena air zam-zam memiliki kandungan senyawa yang baik untuk kesehatan kita. 

Meskipun demikian, demi ingin memakan kurma secara perlahan kami membuka bijinya satu persatu dan sayang sekali di sisa buah yang terakhir yang kebetulan dua butir ternyata mengandung belatung. Rasanya saya masih kurang percaya jika mengingat kurma yang telah kami makan ternyata sudah membusuk.

Dalam hati saya tidak segera menuduh si pemberi hendak memberi kami dengan makanan busuk, karena alangkah tidak terpujinya ketika memberi orang lain yang menurut kami dari tanah suci ternyata justru sudah tidak layak konsumsi. Justru kasihan sekali kenapa beliau tertipu barang yang kelihatannya bagus tapi justru merugikan dirinya. Tak hanya beliau yang membeli, karena kami yang menikmati pun turut kecewa lantaran sudah memasukkan belatung ke dalam perut kami.

Boleh jadi, si pembeli tidak memeriksa dahulu bagaimana kondisi kurma yang dibeli. Sehingga tertipu oleh pedagang makanan yang saat ini cukup banyak berkeliaran. Apalagi saat ini, buah kurma seperti tidak pernah disorot media atau BPOM terkait kondisi buah dan dampak kesehatannya bagi kita. Tentu sampai sejauh ini belum pernah ada laporan yang menyatakan bahwa kurma-kurma yang beredar banyak yang sudah tak layak konsumsi. Sehingga sampai saat inipun cukup wajar pula jika para pedagang nakal ingin memperoleh keuntungan yang berlebih lantaran mereka menjual makanan yang berbahaya bagi kesehatan.

Selain kondisi busuknya kurma tersebut, boleh saja di pasaran sudah beredar kurma yang sudah diberikan pengawet kimia yang berbahaya agar makanan ini awet. Meskipun kurma adalah makanan yang manis dan makanan manis cenderung awet, namun jika makanan ini disimpan dalam waktu yang lama maka tetap akan mengalami kerusakan jika tidak lekas laku terjual.

Apalagi jika melihat kondisi kurma "busuk" yang telah kami konsumsi sudah membuktikan bahwa para peziarah tersebut sudah menjadi sasaran empuk penipuan para pedagang yang ingin mendapatkan keuntungan berlebih tanpa memikirkan dampak yang terjadi jika yang dijual berbahaya bagi kesehatan.

Kurma busuk yang sampai di tangan kami hakekatnya menjadi sampel, bahwa saat ini ada indikasi penjual kurma di pasaran sudah memanfaatkan kelengahan pembelinya. 

Ada beberapa asumsi bagaimana kurma busuk itu bisa mudah beredar.

Pertama, Kurma hakekatnya makanan yang dijamin kebersihan dan higienitas lantaran produsen pertama (penghasil kurma) selalu berusaha menjaga kualitas produk yang hendak diperjual belikan. 

Kurma termasuk dalam kategori komoditi eksport di mana Indonesia sebagai Importir yang membutuhkan berton-ton buah kurma setiap tahunnya. Karena kurma saat ini tidak hanya sebagai buah tangan bagi peziarah ke tanah suci, tapi masyarakat Indonesia sudah terbiasa mengkonsumsi kurma dan menyimpan buah ini di lemari pendingin. 

Apalagi mendekati hari raya idul fitri, buah kurma menjadi salah satu menu hidangan meja yang tak pernah ketinggalan. Kurma manis dan legit selalu menjadi daya tarik tersendiri pegi penggemarnya. Termasuk saya sendiri tidak pernah menolak jika mendapatkan kurma. 

Terjadinya kurma busuk boleh jadi karena proses penjualannya di pasaran tidak memenuhi standar kesehatan. Tidak sedikit para pedagang yang mengeler alias memampang kurma tanpa ditutup rapat, jadi lalat dengan mudahnya hinggap di atas buah tersebut. Tak hanya lalat, debu yang kotor bersama kuman-kuman penyakit turut hinggap pada kurma. Jadilah kurma tersebut terkena kuman, dan kuman berkembang di dalam makanan.

Pantas saja, kurma yang kami nikmati sudah membusuk dan dipenuhi belatung. Boleh jadi kurma ini adalah kurma yang dibiarkan terbuka dengan udara bebas dan lalat-lalat begitu mudahnya hinggap di atasnya. 

Kedua, Selain karena kebutuhan import kurma bagi Indonesia cukup tinggi lantaran tinggi permintaan pasar, sehingga acapkali para pedang besar sengaja menyimpannya dalam waktu lama dalam dus-dus yang kurang rapat. Jadinya karena waktu penyimpanan terlampau lama maka tanggal kadaluarsa makanan pun terlewati tanpa kontrol - atau sengaja dibiarkan berlama-lama- lantaran tidak juga habis terjual.

Kondisi ini memicu kurma yang tadinya baik, karena terlalu lama dalam penyimpanan maka kualitasnya menjadi jatuh. Dampaknya ya sudah dapat ditebak, kurma yang hendak dijual tersebut sudah membusuk. Jika pedagang jujur, maka kurma-kurma yang membusuk tersebut langsung dibuang namun risiko pedagang tersebut mengalami kerugian.

Pedagang yang membuang kurma busuk tersebut hakekatnya lebih menjaga kualitas dan kemanan makanan yang dijual, dia memilih rugi daripada mengecewakan pelanggannya.

Ketiga, indikasi selanjutnya kenapa kurma busuk bisa beredar? Boleh jadi karena buah yang sudah busuk tadi sengaja dijual kembali  ke pengecer dengan harga yang relatif murah. Pedagang besar memilih rugi sedikit yang penting barang terjual daripada dia membuang sedangkan modalnya tak kembali.

Kurma murah dengan kualitas buruk tadi dipaket ke dalam bungkusan kecil, dijual dengan harga murah. Dengan dibungkus plastik rapi, pembeli jarang bisa mengecek keberadaan kurma. Dan tentu saja penjual berusaha curang dengan mencampur kurma yang baik dng yang busuk karena ingin mendapatkan keuntungan berlebih. Seandainya pembeli ingin sekedar mencicipi, penjual memberikan kurma yang kualitasnya baik untuk mengelabui para pembeli.

Sebuah aktifitas bisnis yang buruk yang justru merugikan orang lain. Dalam Islam model penjualan cara ini dikategorikan riba (haram), karena mencampurkan barang baik dng yang buruk demi mendapatkan keuntungan.

Keempat, kurma termasuk komoditi pilihan yang cukup bisa mengelabui petugas BPOM. Tentu karena selama ini yang menjadi obyek operasi BPOM dan dinas perdagangan dan dinas kesehatan jenis makanan hidup seperti ikan dan daging. Ikan dan daging sering didapati mengandung formalin atau sudah busuk. Jadi petugas mudah sekali mengecek kondisinya. Berbeda dengan kurma, selalu diidentikann dengan buah yang baik karena diimpor dari Arab Saudi. Padahal kenyataannya hampir semua buah dan makanan yang beredar saya ketemukan dalam kondisi sudah tak layak konsumsi. 

Pemerintah sudah tertipu penampilan dan label "import" dari beberapa jenis makanan ini.


Sehingga amat wajar pula buah kurma yang sejatinya sangat baik, bergizi dan dihukumi "sunnah" jika mengkonsumsi buah ini ketika berbuka puasa, diperlakukan kurang baik oleh para importir atau pedagang besar yang mampu membeli kurma dalam jumlah yang besar.

Tak hanya kurma, air zam-zam yang sekiranya merupakan minuman Nabi ini pun saat ini sudah banyak yang palsu. jadi saat ini para pedagang dan produsen minuman tersebut pun ingin mencari untung besar dengan menipu konsumen.


Oleh karena itu, saat ini, kita selaku konsumen semestinya waspada dengan peredaran buah busuk, karena tentu bisa berdampak kurang baik bagi kesehatan. Terlebih-lebih pemerintah (BPOM) selaku lembaga yang mengontrol semua jenis makanan yang beredar di masyarakat agar tidak kecolongan lagi dengan beredarnya kurma busuk dan makanan lain yang justru merugikan masyarakat selaku konsumennya.

Salam

Note:
Tulisan ini dipublikasikan juga di Kompasiana.com/maliamiruddin/http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2015/01/20/waspadai-kurma-busuk-beredar-718101.html

Fenomena Kekinian, Anak Cerdas Tapi Anti Sosial



Suatu ketika tiba-tiba mataku terbelalak dan tak percaya, tatkala seorang anak yang sama sekali tak mematuhi orang tuanya. Tak hanya kepada orang tuanya, terhadap saya sendiri yang sama-sama seorang pendidik, ia malah acuh dan seolah-olah tak mengenal, meskipun tempat tinggal kami berdekatan.

Sang anak seolah-olah merasa sudah mengetahui segalanya. Ketika kutanya teman dekatnya, bahwa anak ini sebenarnya pintar di kelas, tapi karena terlalu sibuk belajar ia menjadi over protektif tak peduli dengan lingkungan. Ditambah lagi orang tuanya yang juga kurang begitu peduli dng masyarakat di sekitarnya. Cukup sudah orang tua menjadi media pembelajar yang justru menyesatkan anak.
Anak yang anti sosial cenderung mengasingkan diri dari orang lain, merasa hidup dalam dunia yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya

Adalagi seorang anak dari salah satu PNS di tempat saya, ia sama sekali tak pernah keluar rumah, kepergiannya hanya ke sekolah, bimbel dan kursus. Jadi amat jarang bahkan tak pernah bertegur sapa dengan lingkungan di sekitarnya. Sayang sekali, anak ini sukses dlm pendidikan, tapi tak mengenal lingkungan di sekitarnya.

Menurut bentuk kepribadiannya boleh jadi prilaku ini disebut dengan kepribadian antisosial, atau disebut antisocial personality disorder. Yaitu kondisi mental kronis dimana cara berpikir seseorang, cara mengamati situasi dan cara berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi normal dan bahkan destruktif. Sebagaimana yang dirilis oleh www.amazine.co.

Dampak dari kondisi ini seseorang yang mengalami kepribadian antisosial biasanya tidak peduli dengan nilai benar dan salah, serta mengabaikan hak-hak, keinginan dan perasaan orang lain. Maka muncullah seseorang yang terlihat acuh tak acuh dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka kurang respek terhadap fenomena yang terjadi di lingkungan di sekitarnya. Bahkan tak segan-segan melakukan pengerusakan jika apa yang diinginkan tidak tercapai.

Amat mengerikan jika anak-anak kita, generasi muda adalah orang-orang yang memiliki kepribadian antisosial.

Mungkin kejadian ini tak hanya saya yang mengalami, boleh jadi para pembaca yang budiman juga merasakan fenomena anak-anak sekolah yang tak lagi familier. Mereka merasa seperti superior di sekolahnya. Menjadikan sosok yang super sibuk dalam belajar tapi minim sekali pergaulannya dengan lingkungan.

Tak hanya dianggap sebagai anak sombong, karena ogah bertegur sapa, karena meskipun di hari lebaran pun anak ini tak mau bersalaman dengan para tamu. Ia bersembunyi dan asyik dengan dunianya sendiri.

Selaku orang yang kehidupannya sangat ketat dan super sibuk, mungkin mendapati fenomena anak yang demikian tidak menjadi persoalan. Mereka terbiasa hidup secara individual. Ala kota tepatnya. Kecenderungan anak-anak kota memang tak lagi peduli dengan lingkungan sekitar.

Mereka asyik dengan dunia pendidikannya tapi kering dari kehidupan sosial. Jangankan mau berbicara sekedarnya dan bertegur sapa, menampakkan diri dan tersenyum ketika tamu datang pun amat sulit dilakukan.

Inilah salah satu bentuk kemunduran tradisi yang mengajarkan nilai-nilai etika dan kesopanan serta kesantunan. Tradisi yang diajarkan oleh para sesepuh agar menjaga jalinan persaudaraan dan silaturrahmi. Yang tua kenal dengan yang muda, dan sebaliknya yang muda juga mau bergaul dengan yang tua. Ada unsur hubungan banyak arah yang menjadikan generasi muda ini belajar hidup dalam lingkungan yang berbeda usia.

Ada pengalaman yang boleh jadi dapat dimanfaatkan oleh kaum muda ini. Karena belum tentu kemampuan diri dalam mengenyam pendidikan searah dengan kemampuan diri dalam membangun hubungan sosial. Padahal hubungan sosial ini turut menjadi penyebab keberhasilan seseorang dalam membina karirnya.

Dan anehnya lagi, meskipun sebenarnya adalah satu keluarga, mereka merasa sudah tidak ada hubungan lagi lantaran kehidupan yang cenderung menyita waktu dan perhatian. Masih beruntung masih menghormati dan patuh pada orang tua, karena saat ini anak-anak muda seperti ingin melepaskan ikatan emosional dengan orang tuanya, terlebih-lebih dengan masyarakat di sekitarnya.

Entah, apakah ini benar-benar pengaruh dekadensi moral yang semakin akut? Atau gejala kejiwaan yang memang masih labil jadi butuh perhatian dan peringatan dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya agar si anak bisa menjadi bagian kehidupan sosial di lingkungannya.
Benarkah perubahan prilaku kaum muda saat ini sekedar karena kondisi kejiwaan bawaan anak atau pengaruh salah asuh orang tuanya?

Menurut Nur Faizah Rahmah dalam bukunya Mendesain Prilaku Anak Sejak Dini menyebutkan bahwa ada 9 kekeliruan orang tua tatkala mendidik dan mengasuh anak-anaknya.

Pertama, gaya komunikasi yang menyimpang. Menurut beliau, ada 12 gaya komunikasi antara orang tua dan anak yang justru akan merusak kepribadian anak. Namun dalam hal ini saya mengambil satu contoh kesalahan orang tua (termasuk penulis sendiri) yang kadang kurang kita sadari. Misalnya mengatakan “Tuh, kan tadi mama bilang juga apa. Enggak denger, sih!”.

Kalimat tersebut acapkali dianggap sudah benar oleh orang tuanya, tapi sebenarnya kalimat ini hanyalah menyalahkan tanpa menunjukkan letak kesalahan dan bagaimana mencegahnya. Seperti ketika anak tengah asik-asiknya bergaul dengan sesama teman, tak disengaja pakaiannya kotor akibat kesalahan dalam bermain.

Orang tua langsung menyalahkan anak dengan menghubungan kotornya pakaian dengan proses pergaulan mereka. Tak ayal, akibat proses menyalahkan ini anak menjadi serba salah, takut melakukan dan dampaknya mereka secara perlahan enggan bergaul dan menganggap bahwa ketika mereka bersosialisasi justru akan merugikan dirinya sendiri. Tanpa disadari orang tua sudah merusak jiwa anak secara perlahan. Ada beberapa gaya komunikasi lain yang benar-benar merusak prilaku anak meskipun dianggap sederhana.

Kedua, label negatif. Salah satu kesalahan orang tua yang melabeli anak dengan sifat-sifat negatif. Misalnya malas, ceroboh, boros, pelupa dan lain-lain. Penulis juga memberikan contoh kalimat yang keliru dari orang tuanya, seperti “Kalau mandi lama sekali. Dasar Pemalas!“

Kata-kata pemalas hakekatnya sudah menjatuhkan harga diri anak. Ketika kata-kata ini selalu diucapkan, maka secara otomatis anak memiliki kepribadian yang takut salah, minder dan tak berani melakukan sesuatu. Pantas saja yang muncul adalah anak-anak yang selalu saja meminta belaskasihan dan dorongan dari orang lain. Padahal secara usia semestinya mereka benar-benar mandiri. Muncullah pribadi-pribadi yang menutup diri dari orang-orang di sekitarnya lantaran merasa rendah diri meskipun dalam lingkungan yang ramah sekalipun.

Ketiga, berlaku kasar pada pembantu rumah tangga
Mungkin saat ini kita merasa memiliki kuasa dan uang lantaran bisa membayar pembantu, tapi seorang pembantu pun tak layak untuk diperlakukan dengan kasar, terkait hak-haknya sebagai manusia pada umumnya. Nah, kecenderungan keluarga yang kasar terhadap asisten rumah tangga ini pun menimbulkan dampak yang cukup signifikan terhadap prilaku anak.

Anak akan menganggap apa yang dilakukan orang tuanya sudah benar. Dampaknya tak hanya pembantunya yang diremehkan, karena orang lain di lingkungannya pun acapkali dianggap tak selevel. Kondisi inipun menjadi penyebab sang anak menjadi antisosial.

Keempat, acuh tak acuh pada tetangga. Kecenderungan masyarakat perkotaan pada umumnya kurang begitu respek dengan masyarakat di sekitarnya. Khususnya tetangga terdekat, lantaran kesibukan dan kurang begitu mengenal satu sama lain. Tentu saja hal ini disebabkan karena latar belakang penghuni blok tersebut berasal dari beberapa wilayah yg berbeda.

Bahkan latar belakang suku, agama dan kebangsaan seseorang berbeda satu dengan yang lainnya. Dampak yang muncul adalah kebiasaan untuk tak saling bertegur sapa ini menjadi pemicu tumbuhnya anak-anak yang antisosial. Mereka sama sekali tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Seandainya mendapati orang yang terjatuh dari kendaraannya pun barangkali akan membiarkannya tanpa mau membantunya sedikitpun. Sebuah gejala masyarakat modern yang sama sekali jauh dari nilai-nilai etika bermasyarakat.

Ada beberapa faktor lain yang tidak dapat saya sampaikan di sini, namun hakekatnya kecenderungan anak-anak saat ini menjadi antisosial selain dikarenakan faktor genetis, tapi pengaruh sosial khususnya keluarga menjadi penyebab pembentukan prilaku ini menjadi semakin mudah terjadi.

Konklusi

Tak mudah memang membentuk prilaku anak agar mau bersosialisasi. Bukan anak-anak antisosial. Apalagi keluarga tersebut tinggal di wilayah padat penduduk yang jauh dari kesan akrab. Mereka hidup berdampingan tapi sama sekali tak mengenal satu sama lainnya. Sifat lu lu gua gua menjadi sebuah gaya hidup yang melekat dalam masyarakatnya.

Tapi sebenarnya semuanya diawali dari didikan dalam rumah tangga. Orang tua selalu akan menjadi contoh bagi anak-anaknya bagaimana mereka bergaul. Bagaimana mereka membangun hubungan kemasyarakatan dan menjalin persaudaraan dalam silaturrahim akan dicontoh sang anak.

Ketika orang tua mampu memberikan contoh yang baik, maka akan dimungkinkan anak pun meniru prilaku orang tua. Tapi sebaliknya jika orang tua justru bersikap acuh tak acuh, maka jangan berharap anak-anaknya menjadi sosok yang peduli dengan sesama.

Salam.
Note: 

Rabu, 21 Januari 2015

Jambore ABK Cibubur 2014

Penampilan anak-anak ABK dalam acara pentas seni Jambore Pramuka ABK Tk Nasional di Cibubur 2014

Jambore ABK Cibubur 2014

Waspada, Ada CCTV di Ruang Ganti Mall dan Shoping Center

Gambar : Sebuah benda berbentuk gantungan baju yang diketahui sebagai CCTV yang sengaja dipasang di ruang ganti dalam sebuah mall dan shopping center. Screenshoot. www.facebook.com




Wuiiih, serasa saya mendengar status teman facebook malam ini sedikit bikin nyesek leher. Seakan-akan ingin muntah melihat pelaku kejahatan yang terus tumbuh dan menggunakan modus baru yang sangat cerdik. Sharing teman yang menceritakan tentang adanya CCTV yang dibentuk seperti gantungan baju. CCTV ini dipasang dalam sebuah ruang ganti di sebuah Mall dan Shoping Center. Apa nggak ngeri tuh tuk para kaum Hawa?

Sebagaimana disampaikan dalam laman facebook saya, yang kebetulan beliau mendapatkan sharing dari BBM temannya. Sebuah kejahatan jalanan berkedok kantoran dan modern yang sengaja dibuat semakin canggih agar aktivitas keji mereka tidak terdeteksi oleh calon korbannya.

Kejahatan yang biasanya amat tradisional yang dengan memasang kamera atau kamera ponsel untuk merekam aktivitas sensitif dan privacif ternyata berubah menjadi semakin canggih. Mereka sengaja ingin merekam aktifitas pengunjung mall atau pusat-pusat belanja hingga memasuki bilik-bilik umum namun pribadi. Ruang ganti yang semestinya.

Bahkan dalam status yang sama, dicurigai dalam sebuah toilet perusahaan sengaja memasang cermin dua arah. Cermin yang dapat dilihat dari dua sisi. Jadi apapun yang dilakukan pengguna toilet akan dapat diketahui dengan mudah.

Bagaimana mungkin tempat-tempat yang terlarang untuk dilihat orang lain karena alasan privacy justru dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk memperoleh keuntungan. Keuntungan murahan dengan menjajakan jasa hiburan syahwat. Meskipun modus ini boleh jadi untuk mengawasi para pengunjung yang hendak menipu, tapi alangkah tak layak jika cara seperti ini dilakukan.

Saya menduga ulah pemasangan CCTV tersebut dilakukan oleh oknum pengelola Mall maupun pusat perbelanjaan tersebut. Mereka sengaja ingin merekan aktivitas yang sejatinya tak layak dilihat dan diketahui orang lain. Namun dengan melihat upaya perekaman dengan CCTV tersebut menunjukkan pihak yang melakukan sudah merusak hak konsumen untuk mendapatkan kenyamanan ketika ingin menggunakan fasilitas publik tersebut.

Semoga saja, bagi para penggila shopping khususnya berbelanja pakaian, agar lebih berhati-hati lagi. Paling tidak sebelum melakukan aktivitas pribadi terlebih dahulu memeriksa tempat tersebut. Harapannya agar ruang privacy tersebut tidak menjadi alat kejahatan. Mereka merekam aktivtas pribadi tersebut untuk ditonton dan disebarkan ke khalayak umum.

Salam
Tulisan ini pernah dipublis di www.kompasiana.com

Sabtu, 13 Desember 2014

Hak-hak Kaum Difabel Masih Belum Terpenuhi Secara Maksimal


Extraordinary News, 13-12-2014

Tabik Pun, Apa kabar kaum difabel (diffable)? Apakah Anda sudah mendapatkan hak-hak Anda sebagai warga negara yang juga memiliki kesetaraan dengan warga negara lainnya? Sudah baikkah aksesibilitas layanan umum dan ketersediaan lapangan pekerjaan untuk Anda? Beberapa pertanyaan ini sampai saat ini belum sepenuhnya terjawab. Seandainya ada yang menjawab "Ya" tentu belum sepenuhnya mereka rasakan. Adanya kondisi yang bersifat egaliter yang sampai saat ini diharapkan bagi kaum penyandang difabel. Meskipun saat ini perda dan aturan pemerintah sudah mewajibkan adanya pemenuhan hak bagi para masyarakat berkebutuhan khusus tersebut, toh nyatanya sampai sekarang masih sulit diperoleh.

Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Ariani Sukanwo, selaku Ketua Kelompok Kerja Hukum Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia, bahwa kepedulian pemerintah kepada kaum difabel memang sudah ada dengan menerbitkan perda. Tapi pemenuhan hak tak cukup hanya dengan tulisan tapi perlu dengan langkah konkret untuk memenuhi hak itu. Sebagaimana penulis kutip dari Kompas.com edisi 11 Desember 2014.

Memang benar apa yang disampaikan oleh Ariani Sukanwo, bahwa selama ini pemenuhan hak-hak kaum disabilitas (difabel) memang belum begitu maksimal. Sehingga dampaknya, meskipun pemerintah sudah mewajibkan setiap perusahaan memberikan kuota 1 persen dari keseluruhan pekerjanya untuk para kaum difabel, ternyata sampai saat ini belum juga terpenuhi. Tak hanya sampai di situ, karena selama ini para pemilik perusahaan tersebut seakan-akan masih enggan menerima mereka dengan alasan kaum difable dianggap kurang memenuhi syarat bagi syarat seorang pekerja.

Kondisi inilah yang menjadi sebuah keprihatinan, karena selama ini kaum difable cenderung sebagai kaum yang dinomorduakan. Boleh kita lihat, di beberapa perusahaan di negeri ini, para penyandang disabilitas masih belum bisa bekerja bersama-sama dengan pekerja lainnya. Tentu hal ini menjadi sebuah ironi, sampai kapankan keberadaan difable menjadi setara dengan warga negara lainnya.

Boleh juga kita lihat di beberapa fasilitas umum, ternyata di dalamnya amat jarang memenuhi kebutuhan kaum difable ini. Sehingga ada banyak keluhan bagi kaum penyandang cacat ini dalam mendapatkan hak-haknya untuk menikmati semua layanan umum yang ada. Seperti fasilitas jalan raya, rata-rata belum memenuhi asas kebutuhan bagi penyandang disabilitas, kendaraan umum pun sepertinya hanya milik masyarakat kebanyakan. Apalagi fasilitas lip, tangga berjalan dan beberapa fasilitas lain juga masih belum memenuhi kebutuhan mereka. Memang ada sebagian kecil yang sudah dilengkapi dengan huruf braile bagi penyandang tuna netra, seperti dalam fasilitas mck di hotel-hotel, itupun belum semua hotel bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Apapun yang terjadi, pemenuhan hak-hak kaum difabel adalah sebuah kewajiban yang mesti dilakukan oleh semua orang di lingkungan mereka. Tidak hanya bagi lembaga yang membawahi keberadaan penyandang disabilitas (difable) tapi kepada semua orang. Baik institusi pemerintah maupun swasta agar keberadaan kaum difable bermanfaat bagi sesama.

Sekolah Bagi Kaum Diffable pun Belum Accessible

Kita semua menyadari bahwa hakekatnya membangun sebuah institusi yang benar-benar memenuhi harapan bagi difabel adalah sebuah pekerjaan rumah bagi pemerintah. Disadari atau tidak semua memang menjadi berat yang cukup berat untuk dihadapi oleh pemerintah untuk memenuhi semua yang dibutuhkan oleh kaum difabel. Meskipun sulit, bukan berarti pemerintah tinggal diam dengan kondisi ini, karena sampai saat ini sudah banyak dibangun sekolah-sekolah bagi para difable. 

Selama ini sudah banyak sekolah-sekolah bagi ABK, atau anak-anak berkebutuhan khusus tapi sarana dan prasarana penunjang belum memenuhi syarat sebagai sebuah institusi yang menaungi anak-anak ABK. Seperti contoh, ketersediaan sarana belajar yang tak mencukupi, sarana bermain juga masih terbatas dan yang paling penting adalah gedung yang benar-benar layak bagi anak-anak ABK juga masih jauh dari kesan sempurna. Tentu hal ini dikarenakan memang baru sebatas inilah pemerintah mampu memenuhi kewajibannya. Karena ada banyak persoalan lain yang juga berat untuk diselesaikan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Namun demikian, sekecil atau sebesar apapun keberadaan penyandang disabilitas hakekatnya mereka adalah bagian dai anak-anak bangsa yang berhak mendapatkan fasilitas yang sama dengan masyarakat lainnya tanpa kecuali. Sehingga harapannya upaya untuk memenuhi fasilitas bagi penyandang difabel semestinya tidak hanya sebatas seremonial belaka, apalagi hanya sebatas proyek yang dimanfaatkan oknum tertetnu dengan atas nama penyandang difabel.

Salam


Mengenal Aksara Lampung Sebagai Kekayaan Nasional Indonesia

Extraordinary News, 13-12-2014. 

Tabik Pun Hari ini saya ingin menuliskan tentang Aksara Lampung yang sudah banyak diajarkan di sekolah-sekolah di Lampung. Meskipun tidak semua warga Lampung bisa menggunakan bahasa daerah ini, akan tetapi saya merasa perlu untuk sedikit mengulasnya sebagai tambahan wawasan dan wacana untuk kita telaah bersama. 

Pada mulanya, aksara Lampung belum begitu luas diperkenalkan di sekolah-sekolah di daerah Lampung. Tentu alasannya karena pemerintah yang ingin mempersatukan bangsa Indonesia dengan satu bahasa Indonesia. Dampaknya, tidak hanya bahasa Lampung yang terlupakan, karena bahasa daerah lainpun bernasib sama. Bahasa-bahasa tersebut seperti tinggal sejarah, hanya tersimpan di dalam buku-buku kuno dan di dalam museum serta artefak yang banyak ditemukan saat ini. Baik tertulis dalam bangunan, candi maupun benda-benda purbakala.

Namun perkembangan selanjutnya keberadaan bahasa daerah ini semakin diperhatikan. Meskipun berdampak positif terhadap kelestarian budaya daerah, ternyata menjadi persoalan terhadap penggunaan bahasa Indonesia dalam aktifitas di sekolah. Dimana anak-anak harus mempelajari bermacam-macam bahasa yang harus mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka amat wajar jika kewajiban menggunakan aksara lampung pun turut menjadi persoalan tersendiri terkait kesiapan kurikulum, buku-buku penunjang serta guru-guru yang kompeten dengan bahasa daerah ini.Sehingga kewajiban pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk mempersiapkan sarana dan prasana penunjang agar bahasa daerah ini benar-benar bisa diajarkan, dilestarikan dan digunakan sebagai bahasa sehari-hari.

Meskipun demikian, cukup menggembirakan, pemerintah sangat mendukung perkembangan bahasa daerah ini sebagai sebuah kekayaan nasional dan warisan budaya leluhur yang tak dapat diabaikan begitu saja. Tentu pemerintah menghendaki, penggunaan bahasa daerah sebagai perekat hubungan sosial di daerah tersebut selain penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di negeri tercinta ini.

Dan yang cukup menggembirakan, kurikulum Bahasa Lampung sudah menjadi kurikulum wajib di daerah yang berjuluk Sang Bumi Ruwa Jurai.

Aksara Lampung, adalah aksara yang sejak dahulu menjadi icon bagi kemajuan tradisi leluhur di Lampung. Seperti dengan kekayaan lainnya termasuk pakaian khas, makanan, modifikasi rumah serta bahasa menjadi daya tarik kebudayaan di pulau yang terkenal dengan Tana Lado dan menara sigernya ini. Tidak sampai di situ, kebudayaan Lampung pun banyak dikenal di mancanegara.

Menurut wikipedia, akasara Lampung (Had Lampung)  adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Bentuk tulisannya berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam huruf Arab. Yakni perpaduan antara huruf induk dan anak huruf. Misalnya alif, ba, ta, tsa, jim, ha kho. Mendapatkan anak huruf (harokat) baik fathah, kasroh, dhammah, harokat tanwin, maupun harokat sukun (mati). menjadi a, i, u, an, in, un. Selain huruf induk dan anak huruf, aksara Lampung dilengkapi dengan tanda baca.

Aksara lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks, sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Huruf atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.

Huruf Induk

Lampung consonants.gif
Aksara Lampung (wikipedia)

Anak Huruf



 Tanda Baca







Angka Lampung





Yang pasti, Aksara Lampung atau Bahasa Lampung adalah kekayaan negeri tercinta Indonesia. Adalah sebuah kesalahan jika kekayaan yang dimiliki tidak dijaga kelestariannya.

Penggunaan aksara lampung tentu dengan tujuan agar masyarakat Lampung bisa menjalin komunikasi dengan sesama warga Lampung dengan baik, dan mereka dapat berbaur dengan rukun dan damai meskipun perbedaan warna kulit dari mana mereka berasal. Sehingga harapannya tidak ada dikotomi antara penduduk Lampung asli dan masyarakat keturunan rantau yang cukup lama hidup, berkembang dan membangun daerah ini.

Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!