Rabu, 02 November 2016

Kegiatan Praktik Wawancara, dan Keterampilan Bertanya pada Anak Tuna Grahita


 
Anak-anak tuna grahita adalah anak-anak yang memiliki keterbatasan secara fisik, intelegensi, sosial dan emosional serta keterbatasan dalam berkomunikasi. Karena  mengalami aneka keterbatasan itu, anak-anak tuna grahita identik dengan kelemahan dalam melakukan interaksi sosial.  Dampak lain, turut mempengaruhi kemampuan mereka melakukan adaptasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Moh. Amin (1991:37) dikutip dari Modul Guru Pembelajar, menjelaskan tentang karakteristik anak-anak tuna grahita sebagai berikut:
Karakteristik anak tuna grahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang perbendarahaan katanya, mengalami kesukaran berfikir abstrak, tetapi masih dapat mengikuti pelajaran akademik. Pada umur 16 tahun baru mencapai kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun, sebagian tidak mencapai umur kecerdasan seperti itu.

Dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa anak-anak tuna grahita mengalami aneka hambatan, khususnya dalam perbendaharaan kata dan keterampilan berbahasa, yang turut memicu persoalan mereka dalam bergaul dengan orang-orang sekitarnya. Sedangkan pergaulan semestinya bisa dilakukan oleh mereka agar bisa berkembang secara bertahap sesuai dengan batas kemampuannya, dengan mempelajari aneka pengetahuan dari orang lain seiring dengan pergaulan dan interaksi yang dilakukannya.

Berdasarkan fenomena keunikan anak-anak tuna grahita, khususnya tuna grahita ringan, ternyata sejauh ini kesukaran demi kesukaran pada umumnya bisa ditemukan solusi yang tepat. Salah satunya dengan cara mencari alternatif lain bagaimana mengatasi kesukaran-kesukaran itu dengan aneka media dan metode pembelajaran. Media dan metode pembelajaran disajikan dengan perencanaan yang tepat dan sistematis, agar proses pembelajaran bisa berhasil dengan optimal. Adanya perencanaan yang tepat, ditunjang dengan proses pembelajaran yang juga menarik dan menyenangkan akan lebih sempurna jika anak-anak bisa mempraktekkannya sendiri. Baik dengan bimbingan guru maupun secara mandiri.

Pada mata pelajaran bahasa Indonesia, karena saat ini inheren dengan tema-tema tertentu (tematik), ternyata menuntut anak-anak tuna grahita untuk bisa menggali informasi dari orang-orang di sekitarnya. Salah satu kegiatan adalah siswa mampu menggunakan kalimat tanya, atau bertanya dengan bahasa yang tepat dan jelas. Meskipun hal ini agak sulit dilakukan, ternyata dengan pembiasaan yang tepat bagaimana menggunakan kalimat tanya, secara langsung dan tidak langsung anak-anak tuna grahita bisa memperkaya perbendaharaan kata yang selama ini amat sedikit mereka kuasai. Selain itu meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar kalimat pertanyaan dan mampu menjawab secara tepat.

Menggunakan kalimat tanya secara tepat dan efektif pun harus diiringi dengan sikap sopan santun terhadap orang-orang yang hendak ditanya. Aspek nilai karakter sebenarnya tetap seiring sejalan dengan pembelajaran bahasa Indonesia di mana di dalamnya seorang siswa mampu menggunakan kalimat tanya dengan bahasa yang runtut dan teratur. Selain itu intonasi dalam mengucapkannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Bagaimana mereka harus menggunakan nada rendah atau tinggi sesuai dengan kaidah yang benar.

Selain  selain terkait kelemahan dalam berbahasa, imbas dari kelemahan yang di sebutkan di atas, ternyata meskipun kosa kata sudah banya dipahami dan dikuasai, ternyata sekian banyak kosa kata itu pun ada yang tidak semuanya bisa menerapkannya dalam proses tanya jawab. Maklum karena kebanyakan anak-anak tuna grahita sulit menggunakan kalimat dengan frase yang panjang, tapi kebanyakan menggunakan kata-kata yang dieja satu persatu untuk menemukan satu pemahaman utuh.

Namun demikian, pada kelas VII, meskipun anak-anak tuna grahita memiliki keterbatasan dalam berbahasa, ternyata dengan latihan dan bimbingan mereka bisa melakukannya, meskipun dengan bahasa yang masih kurang runtut.


Pengenalan wawancara dan melakukan praktik sederhana

Seperti materi-materi lain dalam pelajaran bahasa Indonesia, kemampuan menguasai kosa kata menjadi sangat penting adanya, karena dengan penguasaan kosa kata yang baik, proses komunikasi menjadi lebih terarah dan tepat sasaran.

Begitu pula dengan wawancara, penulis memperkenalkan pengertian wawancara, bagian-bagian wawancara, jenis wawancara dan cara melakukannya. Selain secara teori dan praktik diperkenalkan, media audio visual (video) yang diunduh dari internet, tentang contoh wawancara, menjadi bagian penting dalam mengajarkan mereka melakukan wawancara dengan baik.

Dalam hal ini guru menunjukkan beberapa kata tanya yang dibutuhkan dalam proses wawancara tersebut. Di sini masih ditekankan pada kata tanya: Apakah, Berapa, Dimana, dan Siapa. Sedangkan untuk "Bagaimana" dan "Mengapa" masih belum ditekankan karena dalam kategori sulit. Bagaimana dan mengapa hakekatnya tergolong pada kemampuan menganasis situasi atau keadaan. 

Adapun contoh kalimat tanya disajikan dengan cara yang mudah. Misalnya: Berapa kakimu? Berapa umurmu? Apakah itu? Apa namanya? Dimana rumahnya?, dan Siapa kamu?. Pertanyaan-pertanyaan itu cukup sederhana jawabannya. Meskipun bagi anak-anak normal dianggap mudah, bagi anak-anak tuna grahita acapkali terlihat sulit melakukannya.
Meskipun demikian, karena anak kelas VII memiliki tingkat pemahaman tentang kalimat tanya cukup bervariasi, ternyata ada di antara mereka yang mudah menggunakannya. 

Praktik wawancara sederhana

Salah satu kegiatan untuk mengenalkan siswa tentang penggunaan kata dan kalimat tanya, juga diperkenalkan tentang wawancara. Yaitu pewawancara, atau orang yang melakukan wawancara, orang yang diwawancarai dan materi wawancara. Untuk yang melakukan wawancara, semua siswa melakukannya, baik secara mandiri, maupun dilakukan secara berkelompok. Yakni siswa yang mampu membimbing siswa lain yang belum menguasai. 

Sedangkan untuk orang yang diwawancarai adalah guru-guru dari kelas lain yang kebetulan bersedia diwawancarai. Untuk materinya atau tema atau topik wawancara guru menentukan dengan pertimbangan kemauan siswa.  Siswa bisa memilih topik sendiri yang dianggap mudah. Jenis wawancaranya terstruktur, jadi pertanyaan yang ditanyakan sudah tersusun dengan rapih.

Simpulan

Berdasarkan beberapa teori dan praktik yang telah dilakukan, ternyata dengan menggunakan metode parktik wawancara, secara umum anak-anak tuna grahita mampu melakukan tanya jawab, baik dengan bimbingan, maupun tanpa bimbingan. Dengan individual maupun secara kelompok, di mana salah satu anggota kelompok adalah sebagai tutor sebaya yang memiliki kemampuan lebih di antara anak-anak lainnya.

Selain kemampuan mereka dalam melakukan wawancara, ternyata anak-anak semakin terbiasa menggunakan kalimat tanya dengan tepat baik dalam kegiatan bersama teman-teman sekolahnya, juga kepada guru dan masyarakat di sekitarnya. Salam






Jumat, 28 Oktober 2016

Anda Mau Demo Ahok? Perhatikan Hal-hal Ini!



Umat Islam tengah berdemo menuntut ditangkapnya Ahok atas penistaan Agama (tribunnews.com)    



Boleh jadi inilah reaksi yang paling bersejarah bagi umat Islam di Indonesia, ketika ayat Al Qur'an dilecehkan ternyata hingga detik ini berbuntut panjang. Umat Islam, meski tidak semua turun ke jalan, turut menyuarakan ditegakkannya hukum atas penghinaan itu. Dari beberapa daerah mereka berkumpul dan bersatu pada tujuan yang sama, menegakkan kebenaran dan melenyapkan kezaliman. 

Semoga suara umat Islam yang menghendaki adanya keadilan dan dihapuskannya segala bentuk penistaan kepada agama manapun bisa berdampak positif bagi kelangsungan kehidupan negara ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati, harga yang mahal untuk diperjuangkan dengan segala macam ujian yang datang. semestinya semakin memperkokoh makna persatuan dan kesatuan dalam perbedaan.

Konflik horizontal yang tidak brutal, adalah bagian terpenting dari penegakan demokrasi, sama seperti Bung Karno bilang, konflik-konflik di negeri ini adalah sebuah ekses yang tidak dapat dihilangkan begitu saja sebagai bagian dari penegakan nilai-nilai Pancasila dan ke-Indonesia-an. Terutama bagi ditegakkannya nilai-nilai penghormatan terhadap Pancasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Es dan Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Segala macam bentuk "penghinaan" atas nilai-nilai Ketuhanan semestinya dihilangkan dengan ditegakkannya keadilan tanpa pandang bulu. Bukti bahwa bangsa ini menghormati Pancasila adalah berpegang teguh pada dasar-dasarnya, dan salah satunya adalah menghormati adanya agama-agama di Indonesia termasuk larangan melakukan pelecehan dan penghinaan pada agama yang ada di negeri ini. Sekali kita memahami dan meyakini ini, maka insyaAllah Pancasila akan tetap berdiri kokoh di bumi pertiwi tanpa pertumpahan darah karena kesalah pahaman yang terjadi.

Konflik adalah sebuah kenyataan hidup dalam sebuah negara besar, tak hanya dalam negara yang besar ini, dalam lingkungan keluarga kecil saja konflik selalu saja ada. Semua bukan tanpa maksud dan tujuan agar penghuni rumah itu menjadi lebih dewasa dan mampu menyelesakan persoalannya dengan arif dan bijaksana. Apalagi rumah bersama Indonesia, tanpa riak sepertinya negeri ini seperti taman yang tanpa penghidupan. Tapi jika riak-riak itu tetap ada, justru semakin memperkokoh nilai persatuan dan kesatuan, maka itulah hakekat masyarakat yang dewasa.

Terlepas dari retorika di atas, kiranya tanggal 4 Nopember 2016, umat Islam hendak menyuarakan dukungan untuk diadilinya Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) salah satu kandidat Cagub DKI Jakarta, atas pelecehan yang dilakukannya.

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam proses penyuaraan aspirasi umat Islam ini, sebagai berikut:

1. Aksi tersebut murni dakwah

Yang perlu dipahami bahwa dalam menegakkan agama Allah semestinya tetap memegang prinsip dakwah, dimana dakwah selalu dijiwai semangat kebersihan jiwa. Meredam segala macam emosi yang bisa berdampak pada aksi sosial dan kerusuhan. Karena dengan meniatkan diri ingin berdakwah, maka semua murni menunjukkan bukti bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai kedamaian, tidak menyukai huru-hara dan ingin mendukung ditegakkannya hukum sesuai undang-undang yang berlaku.

Demo mesti semangat, tapi jangan sampai melampaui batas, jangan melupakan pesan Rasulullah bahwa dalam berdakwah tidak menyakiti siapapun, karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

2. Aksi ini jangan dicampuri urusan politik

Kita menyadari bahwa saat ini DKI Jakarta tengah disibukkan dengan hajat Pilkada, di mana semua calon yang bertanding  ingin memperoleh suara sebanyak-banyaknya dengan cara-cara politis. Dan kebetulan penghinaan Al Qur'an dilakukan oleh calon gubernurnya. Apa lacur karena kondisi ini membuat situasi menjadi semakin sulit membedakan, apakah murni menegakkan hukum karena pelecehan Al Qur'an atau justru karena ulah segelintir orang yang ingin merusak citra Islam dengan politik adu domba.

Jika aksi demo murni karena rasa sakit hati lantaran agamanya dihina, maka sekedarnya saja dan berharap agar pemerintah melalui lembaga penegak hukum bisa menegakkan hukum seadil-adilnya. Siapapun yang berperkara mesti dijatuhi sanksi yang setimpal.

3. Waspadai Adanya Sekelompok Penyusup

Di saat masih jadi mahasiswa, saya selalu melihat adanya aksi demonstrasi yang awalnya tenang dan damai tiba-tiba menjadi huru-hara dan amuk massa. Ternyata awal mula kekisruhan itu karena ada segerombolan orang yang ingin membuat kekacauan. Mereka memanfaatkan situasi kelengahan peserta demo dengan melakukan aksi infiltrasi dan membuat kegaduhan. Dalam situasi gaduh maka kondisinya juga tidak terkendali. Maka beberapa gelintir orang yang berusaha memancing di air keruh berusaha mengendalikan situasi agar menjadi lebih runyam. Seperti misalnya tiba-tiba ada yang melempar batu ke arah aparat. Maka keadaannya bisa diprediksi, kekerasan pasti akan terpicu dan situasinya menjadi chaos. 

Tetap tenang dan awasi setiap gerak-gerik orang-orang ikut dalam aksi demonstrasi, jangan sampai aksi yang damai ini justru merusak semuanya. Umat Islam yang sudah benar dalam posisinya harus berkonfrontasi dengan aparat kepolisian karena ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan.

 4. Pastikan bahwa aparat kepolisian, menandatangani kesepakatan untuk segera mengadili pihak-pihak yang bersalah. 

Point ini adalah penting, karena apapun bentuk demonstrasi atau unjuk rasa jika tidak menghasilkan apa-apa untuk apa dilakukan. Hanya menghabiskan energi dan uang serta kepanikan di masyarakat. Adapun point pentingnya agar pemerintah segera menuntaskan kasus ini menjadi agenda terpenting. jangan sekedar pamer massa dan teriakan-teriakan atau orasi yang terkesan sia-sia belaka. Meski demikian, kembali pada niat awal adalah unjuk rasa damai, maka tanpa banyak basa-basi keinginan yang pokok akan bisa tercapai dengan damai tanpa kekisruhan dan huru-hara.

Semoga bangsa Indonesia semakin dewasa dan tidak mudah terprovokasi hal-hal yang negatif, dan muncullah pemahaman bahwa tidak  ada tempat di negeri ini bagi orang yang suka menistakan agama.

Salam damai

Jumat, 21 Oktober 2016

Pernahkan Anda Merasa Wajah Anda Seperti "Tersalah"? Lakukanlah Ini!

www.sodahead.com

Pernahkah Anda mengalami sikap skeptis, apatis, atau bahkan paranoid? Atau Anda malah menjadi biang keladi atau penyebab orang lain mengalami gangguan mental ini? Jika Anda penyebabnya, segeralah bertobat sebelum terlambat dan janganlah menjadi duri yang menancap dalam daging. Kehadiran Anda justru akan menjadi musibah bagi kebahagiaan orang-orang di sisi Anda. Sebaliknya jika Anda sebagai korban, berharap kondisi Anda akan pulih sedia kala.

Situasi di mana merasa dikucilkan, dianggap orang yang aneh, atau dianaktirikan lantaran perbedaan fisik, terutama wajah Anda? Jika pernah, mudah-mudahan cukup sekali saja Anda merasakan hal itu. Sebab, betapa tidak enaknya hidup ini,  di mana pun kita berada, orang-orang di sekeliling kita selalu menaruh curiga. Bawaannya sensi melulu. Dan yang lebih aneh lagi, keberadaan kita yang masih baru, seolah-olah adalah orang yang paling dibenci dan tak layak hidup deh pokoknya. Jadi kemanapun kita merasa terasing.

Kayaknya tersiksa banget ya dengan keadaan ini? Ya iyalah. Gimana sih, lah kita dijauhi dan dimusuhi kog enak!? Bukannya senang justru senep alias perut mules. Kita berusaha membaur, eh ternyata ada pihak-pihak yang takut tersaingi oleh keberadaan kita. Jadi orang-orang parno tersebut berusaha menjauhkan kita dari komunitas atau masyarakat di lingkungan di mana kita berada.

Entah, kenapa mereka melakukan itu. Apakah keberadaan kita mengganggu? Ah tidak. Apakah kita akan merugikan mereka? Tidak juga. Atau karena wajah kita yang misterius atau sudah kadung mendapatkan stempel "jahat"? Boleh jadi sih. Tapi, betapa penilaian sepihak itu sangat tidak masuk akal, bukan?

Kita adalah orang yang baru dikenalnya, mengapa tiba-tiba dimusuhi dan dijauhi. Belum lagi yang membuat kita tidak habis pikir, keberadaan kita juga tidak merusak, apalagi merugikan orang lain dan kita selalu berusaha menjadi orang yang respek dengan orang-orang di sekitarnya. Dan tentu saja karena kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Alasan apakah yang sebenarnya memicu orang-orang menjauhi Anda? Apakah "tampang" atau penampilan Anda yang misterius dan menakutkan, cuek, gak mau senyum alias cemberut melulu, dan boleh jadi mungkin Anda orangnya bawel dan ketus?

Kalau faktor tersebut tentu Anda harus mawas diri. Betapa kondisi itu mesti dijauhi dan berubah menjadi diri Anda yang disukai. Muncul pertanyaan "Apakah itu tidak melawan kodrat atau bawaan yang "katanya" memang misterius dan menakutkan?" Wah terlalu berlebihan sepertinya.

Boleh jadi juga karena Anda adalah sosok yang wajahnya terlalu serius dan selalu menanggapi sebuah candaan dengan serius. Ketika orang bilang "Halo, Mbak yang cantik."  Tiba-tiba wajah yang berbentuk segitiga pun muncul, dan mulut kita mengomel dan nyerocos tak ada berhentinya. Dan keluarlah kata-kata "Apa sih, Lu? Dasar kampungan!

Padahal jika kita mudah bergaul, cukuplah dengan mengatakan "Pagi Bapak... Ah Bapak ini. Jangan begitu, nanti ibu marah, loh! Atau pernyataan lain yang cukup bisa mengerem candaan agar tidak berlebih-lebihan.

Jika yang keluar dari lisan Anda justru kata-kata kasar, kayaknya sikap ini amat sangat terlihat sekali bahwa Anda amat eksklusif. Jadi berusaha menghindar dari orang lain dengan harapan hal-hal yang menjadi hak atas diri Anda tidak diganggu oleh orang lain. Atau memang sikap egois dan sombong yang mungkin muncul serta menganggap orang lain lebih rendah.

Dengan mengatakan "dasar kampungan", adalah sebuah penolakan terhadap sikap seseorang yang boleh jadi respect terhadap diri kita. Tak hanya penolakan, tapi sebuah pergeseran nilai akan kesopanan. Jka menganggap orang-orang di sekitar kita lebih rendah derajatnya atau secara ekonomi jauh berbeda, hingga berujung pelecehan atas martabat dan harga diri orang lain. Tentu sikap ini sangat tidak patut. Apalagi kehidupan kita berada di antara orang lain. 

Dengan menolak kehadiran orang lain dalam kehidupan kita tentu ini adalah hal yang aneh. Meskipun Anda menganggap ini adalah hak, tapi Anda akan berada dalam situasi sulit untuk bersosialisasi, anti sosial dan tentu saja dijauhi oleh masyarakat. Nah, kalau sampai begini kan jadi repot. Dan tentu saja ada hak-hak orang lain yang semestinya Anda penuhi. Bahkan boleh jadi adalah kewajiban sebagai bagian masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai.

Merasa dijauhi dan dimusuhi atau merasa paling bodoh?

Menjadi pribadi yang dijauhi memang tidak menyenangkan hati. Apalagi dimusuhi dan difitnah ini itu yang kita tidak tahu duduk persoalannya. Kecuali memang kita adalah sosok yang suka berbuat onar, menipu dan aneka kesalahan yang membuat orang lain tersinggung dan tersakiti oleh tangan atau mulut kita. Tentu ini adalah kesalahan yang semestinya dimintakan maaf.

Kadang kita berpikir bahwa kita adalah sosok yang paling kecil, atau sosok yang paling bodoh dan lain sebagainya stempel negatif yang cenderung muncul dengan sendirinya. Padahal tidak ada yang paling kecil atau paling bodoh di dunia ini, lantaran semua manusia itu sama. Hanya saja tingkat pengetahuannya berbeda-beda, dan pengalaman orang lain tak sama. Kadang di satu sisi kita mempunyai kelebihan tapi disisi lain justru kekurangan.

Atau sebaliknya, kita terlalu jumawa, merasa paling hebat dan mengerti akan banyak hal. Padahal tidak ada manusia yang paling mengerti karena kemampuan manusia itu amat terbatas. Ibarat seorang dosen, bukan berarti dosen itu terlalu pandai, tapi karena mereka sudah lebih dahulu belajar dan menuntut ilmu dan sudah banyak buku yang dibaca, jadi bukan seolah-olah paling tahu segala-galanya. Dan mahasiswanya pun boleh jadi malah memiliki pengetahuan yang lebih pada hal-hal tertentu.

Itulah manusia, tidak ada yang paling sempurna karena semua manusia mempunyai kekurangan.

Pernah suatu ketika penulis dicuekin, tak diajak bicara dan dijauhi. Halah sakitnya tuh disini. Enek opo sih rek, kog aku didohi ngono? Kenapa sih kog saya dijauhi? Apa salah saya? Apa dosa saya? Lah malah kayak sinteron. Padahal asal muasalnya karena "belum saling mengenal satu sama lain." Jika Anda muda-mudi, jangan berharap bisa akrab jika belum mengenal satu sama lainnya. Syukur-syukur mengenal secara dekat baik identitas pribadi maupun karakter kepribadian kita. Karena kalau saling mengenal maka masing-masing pihak bisa mengontrol diri - tidak lepas kendali.

Tidak pelit memberikan senyuman meski pada orang yang baru dikenal. Menyapa terlebih dahulu agar orang tahu kita respek pada orang lain, dan jangan pernah meminta orang lain respek kepada kita, karena itu egois namanya. Bolehlah kita mengalah untuk menyapa orang yang baru dikenal untuk kemudian bisa saling menyapa. Mudah-mudahan responnyay positif. Nah, jika responnya negatif maka lebih baik undur diri daripada berujung yang lebih buruk lagi. Sambil mengatakan "maaf".

Orang menganggap wajah kita "salah" boleh jadi memang sikap negatif orang-orang di sekitar kita. Boleh jadi karena trauma dengan wajah kita. Seperti misalnya wajah saya yang agak misterius, maka orang pun akan acuh karena kawatir salah ucap. Pernah pula orang tak bertanya untuk beberapa saat lantaran menganggap wajah kita mirip orang yang selama ini dibenci. Jadi kita menjadi korban dari perbuatan orang lain yang tidak kita kenali. Atau boleh jadi mereka menganggap wajah kita "buruk" jadi mereka akan antipati dan menjauhi. Atau menjadi paranoid takut apa-apa terjadi pada mereka. 

Padahal semua itu amat jauh dari sikap dan karakter kita yang sebenarnya. Tapi karena mereka belum sepenuhnya mengenal kita, maka semestinya dimaklumi. Sapa terlebih dahulu dan ajaklah berdiskusi akan hal-hal yang sepele untuk membuka ruang berfikir bahwa kita bukan siapa-siapa dari orang yang dibenci itu. Dan yakinlah bahwa keberadaan kita akan membuat mereka merasa aman.

Tetaplah menjadi pribadi yang baik, baik menurut tatanan masyarakat di sekitar. Ibarat dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Dimana kita tinggal, maka adat istiadat di daerah setempat pun semestinya kita hargai dan hormati. Seandainya memang wajah kita "buruk", tetap tunjukkan bahwa kita memiliki kepribadian yang baik dan bertolak belakang dari buruknya wajah kita ini. Wajah boleh buruk tapi hati kita baik. Wajah boleh seram, tapi kepribadian kita menarik untuk orang lain. Ketika wajah kita dianggap ancaman, maka tunjukkan bahwa kita adalah makhluk atau hamba Tuhan yang suka membantu dan menolong. Dengan cara ini maka eksistensi kita akan diakui dan dikenal sebagai pribadi yang baik pula. Salam

Kamis, 20 Oktober 2016

Membedah Mitos Film, Kalau Tak "Hot" Maka Tak Laku

Film Habibie dan Ainun menjadi film yang sangat menginspirasi bagaimana merajut kehidupan dgn kesetiaan (Gambar : bimbingan.org)



Dunia per-film-an di Indonesia saat ini semakin terlihat geregetnya. Aneka film bermunculan bak cendawan di musim hujan. Film dengan format yang sungguh apik dikemas sedemikian rupa agar penikmatnya semakin kesengsem dan terpesona hingga menjadikan film yang diproduksi tersebut laris manis di pasaran.

Produser, sutradara dan pemerannya sekaligus terlihat antusias menciptakan jenis film yang benar-benar "layak jual". Maka dibuatlah jenis film yang menggoda. Seperti apa gerangan film yang dibutuhkan masyarakat abad ini? Dan ternyata dunia perfilman ingin kembali menonjolkan diri pada kultur sensitifitas. Sesuatu yang sensitif sengaja di blow-up agar masyarakat menjadi terhibur dan tentu saja film menjadi laku. Sayang sekali aspek yang sensitif itu bukannya hal-hal yang baik, ternyata justru yang dilarang oleh keyakinan agama dan tata aturan di masyarakat kita.

Apa yang dibilang sensitif itu? Pornografi dan pornoaksi dan kekerasan menjadi sebuah trend. Amat sering kita melihat film-film yang dibuat ternyata mengundang kontroversi, seperti banyaknya memamerkan adegan mesum atau mengumbar aurat? Seperti yang sampai saat ini laris manis seperti film Warkop DKI? Di mana beberapa tahun silam ketika dua tokoh yang saat ini sudah tiada, masih eksis di belantika film Indonesia, Dono, Kasino dan Indro. Sebelum Dono dan Kasino wafat, Film Warkop sempat merajai film di Indonesia. Tak tanggung-tanggung penontonnya bisa berjuta-juta orang. Bahkan karena begitu antusiasnya penonton ingin melihat film mereka, membuat orang berlomba-lomba membuat bajakannya, film yang laris manis itu banyak di jual bebas di lapak-lapak pasar meskipun yang dijual adalah melanggar hak orang lain alias ilegal.

Kita boleh bangga dengan Film Warkop DKI yang booming pada masanya, dan 2016 ini film tersebut diciptakan kembali demi memuaskan hasrat penonton untuk melihat film nasional yang menarik para fansnya itu. Film Warkop DKI Reborn pun dibuat dan ternyata antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga dalam beberapa kali tayang, jumlah penonton tercatat 6 juta orang. (hot.detik.com)

Inilah magnet yang cukup kuat menarik ambisi produser film untuk membuat film dengan genre komedi. Film komedi yang tidak lagi murni karena justru dibumbui oleh adegan erotis. Kita bangga dengan prestasi gemilang generasi muda Indonesia dalam memproduksi film, tapi trenyuh lantaran film-film tersebut justru meracuni generasi muda dengan erotisme.

Film genre komedi yang semestinya cukuplah memerankan adegan yang lucu-lucu ternyata turut menitipkan pesan perlawanan terhadap ide-ide moralitas. Dan anehnya pemerintah kala itu juga membiarkan film-film erotis itu tetap berproduksi tanpa mendapatkan teguran. Seandainya mendapatkan teguran hanyalah omong kosong. Karena meskipun banyak pihak menentang dan memprotes ternyata film-film porno tersebut masih saja diproduksi. Boleh jadi karena kala itu aksi suap di jajaran pemerintahan cukup memprihatinkan. Ironi dan sungguh aneh ternyata.

Tapi itulah fenomena film Indonesia yang selalu saja dibumbui oleh erotisme. Adegan mesra, cabul, porno dan mengundang syahwat menjadi salah satu ikon penting pembuatan film di masanya. Entah, apakah karena faktor meniru film-film barat a la Holywood yang ternyata laris manis di pasaran karena mempertontonkan adegan tidak senonoh itu? Dan ternyata benar anggapan produser selama ini, bahwa pangsa pasar konsumen film ini acapkali terpancing untuk melihat hal-hal yang sensitif tersebut dibandingkan melihat film yang cenderung mengajak kepada kebaikan.  Dan gayung pun bersambut, karena melihat antusiasme penonton begitu tinggi dan berdampak pada perolehan pundi-pundi uang maka mereka menganggap bahwa "hanyalah dengan menampilkan adegan "hot" maka film itu laris di pasaran".


Pernahkah kita menganggap bahwa jika film-film itu tidak cabul maka film itu tidak laku? Sepertinya sebagian produser dan penikmat film beranggapan demikian. Padahal banyak film dengan genre history atau sejarah dan petualangan yang jumlah penontonnya tak kalah membludaknya. Misalnya film Habibie dan Ainun. Film yang menceritakan sejarah kehidupan mantan Presiden RI tersebut ternyata tidak kalah dengan film-film "hot" lainnya. Menurut beberapa media jumlah penonton sepekan tayang mencapai 4,2 juta orang. Film Habibie dan Ainun cukup membuat sejarah bahwa masih banyak penonton yang respek dengan film-film "sopan" dan menginspirasi. Dan diproduksi skuel film Rudy Habibie, turut menarik perhatian penonton yang juga banyak. Ketika tayang saat lebaran 2016 bisa tembus 1,8 juta penonton. Dan boleh jadi hingga tahun 2016 ini penontonnya lebih banyak lagi.

Belum lagi film Laskar Pelangi yang juga mengundang anutisias penonton. Tak hanya dari Indonesia karena dari luar negeri pun peminatnya cukup banyak sampai tembus 4,8 juta orang, membuat kesan baru dari film yang dibuat di Indonesia ini.

Meskipun rekor film Habibie dan Ainun, Rudy Habibie dan Laskar Pelangi  masih kalah dengan film Warkop DKI Reborn, ternyata fakta membuktikan bahwa bangsa kita masih mencintai film-film yang lebih menginspirasi dan bukan sekedar hiburan semata apalagi film yang justru mengundang syahwat.

Mengembalikan kiblat film Indonesia yang lebih bermartabat

Film adalah hasil karya yang cukup digemari. Namun demikian film juga adalah sebuah kerja yang penuh dengan kemungkinan antara laku dan tidak laku dijual ke pasaran. Para produser film bermain spekulasi bahwa dengan film yang menarik mereka akan meraup penonon yang berjibun. Kalau penontonnya berjibun maka otomatis bisa mendulang pundi-pundi uang yang juga banyak.

Uang adalah semata-mata keinginan yang diperoleh. Meskipun tidak menutup kemungkinan para pembuat film tersebut memiliki niat atau rencana yang penontonnya tidak tahu apa di balik pembuatan film tersebut.

Jika melihat aneka film yang bergenre erotis tentu menjadi perhatian tersendiri, bahwa selama ini masyarakat terpedaya oleh ungkapan bahwa kalau tidak hot maka film itu tidak bagus. Padahal faktanya film juga bukan semata-semata berorientasi seksualitas karena banyak pula film-film bagus dan sopan yang juga tak kalah penontonnya.

Memproduksi film yang hanya berorientasi materi memang acapkali tidak mengindahkan nilai-nilai immateri (moral). Mereka hanya melihat film dari sisi seberapa banyak penonton yang tertarik tapi tidak menimbang seberapa besar dampak yang ditimbulkan jika film itu benar-benar sudah diedarkan. Dan ini sering terjadi dan boleh jadi hampir semua jenis film di abad ini kalau tidak porno atau erotis tidak akan diproduksi. Seandainya ada yang memproduksi itu hanya kalangan tertentu saja yang mau. Selebihnya adalah pembuat film yang hanya mementingkan materi semata.

Tak hanya film komedi yang justru di bumbui adegan erotis, karena dalam film-film horor abad ini tak kalah mengerikannya. Hampir semuanya adalah film erotis. Penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu karena jika mau melihat, ternyata adegan erotis menjadi tayangan wajib bagi mereka.

Aneh dan menggelitik. Bahwasanya kehadiran media penghibur itu justru dibumbui oleh kejahatan yang luar biasa yang akan menimpa generasi muda. Tayangan yang justru meninggalkan noktah kerusakan moral ini dibiarkan begitu saja bertumbuh di tengah-tengah negeri ini yang bergelut dengan persoalan moral. Pelecehan seksual, pemerkosaan dan aneka kejahatan yang semakin membuat miris. Kejahatan di abad ini semakin meningkat sedikit banyak berimbas oleh adanya tayangan yang tidak mendidik tersebut.

Padahal, seberapa besar perhatian pemerintah, MUI dan lembaga sensor film akan berdampak pada jenis dan bentuk film yang beredar. Semakin sedikit peran pemerintah menanggulangi film-film tak layak itu maka akan semakin memperparah rusaknya generasi muda. Dan yang paling penting adalah sikap para produser agar tidak semata-mata ingin meraup keuntungan semata tanpa mengindahkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Salam

Senin, 17 Oktober 2016

Apakah Anda Benar-benar Seorang Pembaca?

Gambar : Salah satu halaman perpustakaan digital

Apakah Anda seorang maniak membaca? Atau seorang "kutu buku" yang sehari-hari menghabiskan waktu dengan membaca buku? Entah buku apa saja, baik fiksi maupun non fiksi. Tentu kebutuhan akan bahan-bahan bacaan menjadi semakin besar, bukan?

Hoby membaca memang sungguh mengasyikkan, tak hanya mengasyikkan karena dengan hoby membaca hari-hari kita diisi dengan rutinitas yang penuh manfaat. Kita bisa menambah ilmu baru, membuka jendela kehidupan di belahan dunia lain dan tentu saja bisa meningkatkan kemampuan kita secara individu. Semua bisa kita dapatkan dari membaca buku. Buku adalah pengantar pengetahuan kita sebelum benar-benar menjelajah dunia yang lebih nyata. Paling tidak dengan buku, rasa penasaran yang menyelimuti perasaan dapat terobati dengan kehadirannya.

Karena mengasyikkan dan membawa manfaat bagi ketenangan batin, maka sebuah buku pun acap kali diburu hingga tak terbatas jarak dan waktu. Mereka rela menghabiskan waktu dan uang yang tidak sedikit, demi memenuhi hasratnya untuk membaca.

Buku bisa menjadi inspirator bagi pembacanya, dan buku pun bisa mengubah kehidupan umat manusia. Dalam Islam Al-Qur'an disebut dengan Al Kitab artinya Buku, Atau Holly Book, disebut Kitab Suci. Dan Al-Qur'an menjadi satu-satunya buku yang menjadi petunjuk serta pengubah kehidupan umat manusia.

Menurut bahasa, arti Al-Qur'an adalah Bacaan. Maka dari itu, sebagai seorang yang beragama Islam semestinya perbanyak membaca Al-Qur'an. Di sanalah jendela kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia sebagai hambat Tuhan, Allah SWT. Karena dengan membacanya manusia menjadi tenang dan lapang hatinya. Dan di sanalah puncak dari kemukjizatan dari Al Qur'an itu sendiri.

Al-Qur'an adalah buku suci yang berisi kumpulan firman-firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW agar menjadi petunjuk kepada seluruh umat manusia. Bukan sekedar tulisan yang berbahasa Arab, tapi lebih itu adalah pintu gerbang di mana setiap orang akan menemukan hakekat kehidupan yang sebenarnya.

Kitab suci dibaca untuk dimengerti dan diamalkan, karena mengerti dan mengamalkan maka seseorang yang sudah mencintainya dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari maka kehidupannya akan lebih teratur, terarah dan tidak asal-asalan. karena ada Tuhan  yang Maha Kuasa yang memberikan petunjuk yang benar dan lurus bagi keselamatan kehidupan umat manusia.

Begitu pula dengan buku-buku lain yang sejatinya banyak memberikan pengetahuan dan memberikan inspirasi. Namun demikian, bagi penulis Al-Qur'an lah pedoman hidup yang sesungguhnya. Pedoman dalam beragama dan bagaimana membangun interaksi sosial. Pedoman bagaimana meraih cita-cita terbaik sebagai seorang hamba Tuhan. Sedangkan dalam bernegara, Pancasila dan UUD 45 menjadi pondasi bagaimana menjadi warga negara yang baik tentunya.

Terlepas dari semua buku yang ada, seiring perjalanan waktu, ternyata buku-buku yang berupa lembaran-lembaran kertas itu sudah berubah bentuk. Saat ini tulisan dalam kertas itu sudah bertransformasi menjadi lebih modern, yaitu buku elektronik atau digital book. Atau dalam bahasa gaulnya disebut e-book. Buku yang disajikan dengan perantara internet agar semua orang bisa mengakses, mengunduh dan membaca secara on-line. Meski tidak semua yang online itu bisa dibaca secara gratis, tetapi, manfaat buku elektronik itu menjadi lebih kaya dan bisa diakses oleh semua kalangan dan di belahan dunia mana pun.

Peminat buku tak harus jauh-jauh pergi ke Aceh jika ingin membaca tentang sejarah Aceh, atau ke Amerika jika ingin membaca tentang sejarah museum di negara itu. Karena semua sudah tersedia secara online dalam buku elektronik tersebut. Yang pasti, semua buku itu sudah ter-cover secara online sehingga bisa dengan mudah di akses. Yang penting punya akses internet, maka semua bisa dilakukan. Hambatannya adalah di daerah pedalaman yang sulit mengakses lantaran tidak memiliki jaringan internet.




Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, buku versi digital memberikan kemudahan mengakses buku secara gratis

Sudahkah Anda tahu juga bahwa saat ini pemerintah sudah membuat sebuah perpustakaan digital? Mudah-mudahan sudah ya? Karena perpustakaan digital sudah menjadi trend, maka kebutuhan akan buku yang bisa diakses melalui komputer maupun gadget pun saat ini sudah tersedia. Kemudahan tersebut bisa Anda dapatkan di situs http://e-resources.perpusnas.go.id.

Situs milik pemerintah yang berkaitan dengan layanan membaca buku itu menyediakan aneka genre buku dengan penerbit dan negara yang berbeda pula. Seperti buku yang berisi tentang budaya dan keindahan panorama Indonesia disusun oleh Indonesia Heritage Digital Library yang memuat aneka buku yang berkaitan dengan kekayaan budaya di Indonesia. Meskipun belum semuanya terangkum di dalamnya, paling tidak sudah menjawab rasa penasaran akan buku-buku yang diinginkan.
Beberapa nama penerbit yang ikut menjadi sponsor Perpustakan Nasional RI


Ada pula buku yang diterbitkan oleh Alexander Street Press yang memuat buku-buku terbitan luar negeri. Dan masih banyak lagi penerbit-penerbit lain  yang turut mendukung terbentuknya situs perpustakaan digital di Indonesia ini.

Aneka buku digital yang tersedia dalam situs tersebut hakekatnya bisa membantu siapa saja yang ingin menjadikan referensi atau rujukan penelitian, karena selama ini para dosen, mahasiswa maupun guru mengalami kesulitan ketika harus mencari sumber bacaan pendukung penelitiannya. Nah, dengan menjadi salah satu member di e-resources perpusnas.go.id tentu masalah tersebut dapat teratasi.

Bagaimana menjadi member Perpustakaan Republik Indonesia versi digital ini?

Penulis belum lama menjadi member dari perpustakaan digital ini, kira-kira sebulan baru mendaftarkan diri. Ide untuk mendaftarkan diri diperoleh dari seorang sahabat melalui WA. Karena tertarik maka saya mencoba dan ternyata sukses menjadi member.

Untuk menjadi member caranya :

1.Mendaftarkan diri menjadi member

Anda bisa mendaftarkan diri melalui http://keanggotaan.pnri.go.id, atau dengan mengunjungi gedung layanan Perpusnas di Jalan Salemba Raya 28 Jakarta Pusat / Jalan Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat.

2. Mengisi biodata yang sudah disediakan sampai selesai
3. Kalau sudah mendaftar Anda akan mendapatkan kode pasword yang bisa dibuka setiap kali Anda ingin mengakses perpustakaan tersebut dengan membuka situs http://e-resources.perpusnas.go.id/



4. Anda sudah menjadi anggota yang siap-siap menelan semua konten buku sesuai dengan minat dan kebutuhan Anda.

Selamat mencoba ya!

Salam






Minggu, 16 Oktober 2016

Apakah Gegara Ahok Kita Putus Persahabatan?


Gambar : berawan.com




Beberapa hari ini media sosial begitu ramai perdebatan, cacian, puja-puji maupun pencitraan-pencitraan yang sepertinya silih berganti seperti musim penghujan dan kemarau yang juga silih berganti.

Aneka perdebatan yang berawal dari pernyataan yang tidak tepat oleh seorang calon gubernur ternyata tidak hanya berdampak pada konflik internal dan eksternal dalam agama Islam itu sendiri, karena muara dari perdebatan yang panjang itu mengarah pada mengaburnya makna kebersamaan, persaudaraan dan persahabatan yang sekian lama ingin dibina.

Perjuangan untuk meraih keharmonisan dalam perbedaan itu tidaklah mudah, karena selalu saja tersulut oleh persoalan persoalan yang sebenarnya bukan termasuk wilayah persahabatan itu sendiri, karena murni wilayah hukum dan meja hijaulah yang akan menuntaskannya.

Namun sayang sekali, karena nila setitik rusaklah susu sebelanga. Persahabatan dan persaudaraan yang baik harus terkoyak oleh satu orang yang "bermasalah". Persaudaraan yang baik mesti musnah oleh seorang pemimpin yang ambisius dan tidak lagi bisa mengontrol ucapan sendiri. Padahal apalah pentingnya gara-gara persoalan hukum, masyarakat kecil menjadi ribut. Toh, nanti pihak aparat penegak hukum yang akan bekerja menuntaskannya.

Hukum tetaplah jalan, dan persahabatan serta persaudaraan jangan sampai dirusak oleh kepentingan politik.

Apakah rela memutuskan persahabatan hanya gara-gara Ahok?

Boleh jadi ini menjadi pertanyaan dalam sanubari masing-masing rakyat Indonesia. Nggak jauh-jauh deh membicarakan Indonesia yang rakyatnya jutaan ini, karena di lingkup media sosial saja sepertinya menunjukkan riuh rendah dan kekisruhan yang semakin mencolok. Padahal apa sih yang mesti diributkan? Kalau persoalan memilih pemimpin Islam, ya sudah cukup selesai sampai di sini. Dan kalau kaitan hukum, 'kan sudah ada aparat penegak hukumnya. Tidah usah memanas-manasi suasana dengan status-status yang nggak jelas banget. Karena itu akan semakin memperkeruh suasana. Ini Indonesia dan bukan Suriah yang porak-poranda karena adu domba media habul yang tidak jelas siapa pemiliknya.

Tak hanya di media sosial, dalam organisasi sendiri boleh jadi antara warga NU mengalami perselisihan hingga tak saling bertanya lagi. Adapula dari golongan Muhammadiyah yang juga tak lagi sejalan. Semua karena perbedaan persepsi bahwa urusan politik tidak seharusnya merusak nilai-nilai persaudaraan. Politik boleh kejam, tapi hati kita jangan sadis.

Begitu pula sesama NU atau sesama Muhammadiyah boleh jadi berbeda cara pandang terkait kasus yang tengah digulirkan. Karena kapasitas masing-masing berbeda. Jadi cukup aparat penegak hukumlah yang berbicara.

Meributkan persoalan hukum dengan mengorbankan persahabatan adalah sebuah kesalahan. Dan persahabatan itu akan selalu ada jika tidak dicampuri oleh kepentingan sesaat. Pandangan politik boleh beda, tapi rumah bersama jangan dikorbankan.

Hanya orang bodoh yang bermusuhan gara-gara politik

Dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu, begitu dalam pikirannya tentu penuh rahasia. Karena boleh jadi saat ini kita tengah bersahabat dengan apik, karena persoalan Ahok tiba-tiba menunjukkan egosentrisme. Menilai kesalahan atau membela seseorang bukan karena murni kesalahannya tapi karena perbedaan agamanya.

Jangan mentang-mentang yang muslim tiba-tiba memusuhi yang non Islam karena berbeda cara pandang, dan begitu pula yang non Islam jangan memusuhi yang muslim gara-gara membela orang yang dianggap "seagama". Padahal agama apapun kalau melakukan kesalahan maka harus dihukum. Tak perlu dihubung-hubungkan agamanya apa dan sukunya apa, karena persoalan ini tidak akan selesai.

Meninggalkan teman yang mengundang kekisruhan

Bersahabatan adalah baik, tapi bersahabat yang membawa kebaikan. Jikalau ditemukan sahabat yang membawa kekisruhan ada baiknya ditinggalkan saja sementara. Kembali disapa jika kondisinya sudah stabil lagi. Karena betapa tidak baiknya memiliki sahabat yang justru membuat urusan menjadi semakin sengkarut.


Namun demikian, persoalan hukum memang kadang membutuhkan dukungan elemen masyarakat bawah agar aparat penegak hukum terbuka matanya hingga benar-benar mengadili orang yang salah secara tepat dan adil. Sehingga tidak ada ruang kasak-kusuk di tingkat elit demi meloloskan dan membebaskan orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan.

Sama seperti ungkapan Untuk apa berebut tulang tanpa daging, jika masih ada bongkahan emas di balik itu semua. Meributkan persoalan hukum dengan mengorbankan persaudaraan dan persahabatan yang lama terjalin dengan amat baiknya.

Bagaimana? Apakah kita mesti putus silaturrahim gara-gara Ahok?

Salam


Sabtu, 15 Oktober 2016

Inilah Kesan Mengikuti Progam Diklat Guru Pembelajar Moda Daring (Dalam Jaringan)

Halaman muka Web Guru Pembelajar Online (https:gurupembelajar.id)

Siapa ya yang sudah  mendengar tentang Guru Pembelajar? Sepertinya semua guru sudah mendengarnya. Sebab ketika Bpk. Anies Baswedan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sebelum akhirnya beliau dinonaktifkan atau diberhentikan oleh Presiden Jokowi, program ini sudah dihembuskan kepada kalangan pengelola pendidikan. Bukan hanya para guru, karena semua orang yang terlibat dalam dunia pendidikan tentu mendengar program yang baik ini.

Program yang sejatinya digagas untuk menjawab tantangan masa depan dalam dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan yang masih dianggap kurang maju dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara khususnya (ASEAN).

Menurut Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Index, EDI), Indonesia menempati urutan ke-69 dari 127 negara pada 2012. (dirilis oleh prestasi.iief.org).

Dengan demikian, kondisi pendidikan di Indonesia masih jauh dari negara-negara maju maupun berkembang termasuk di negara-neggara ASEAN. Oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan indeks pembangunan pendidikan di Indonesia tersebut adalah dengan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para pendidiknya salah satu caranya dengan mengikut sertakan guru-guru dalam kegiatan guru pembelajar online.

Terlepas siapa yang menggagas program guru pembelajar (GP) tersebut, yang sedianya diikuti oleh semua guru khususnya untuk nilai UKG yang dianggap belum layak, tentu ada banyak kesan yang bisa diceritakan di sini.

Pertama, karena penulis menerima informasi GPO ini awalnya mendengar via percakapan guru-guru dan informasi dari internet yang masih belum sepenuhnya dipahami, sehingga meunculkan kegalauan tersendiri. Bagaimana tidak, program guru pembelajar dengan Moda Daring hakekatnya masih baru, dan kebetulan juga secara resmi belum disosialisasikan oleh dinas terkait. Jadi untuk mengikuti kegiatan yang baru itu cukup membuat hati berdebar-debar dan bimbang, apakah penulis bisa mengikuti kegiatannya dengan konsisten atau sebaliknya.

Boleh jadi perasaan galau pun dialami oleh guru-guru lain. Meskipun untuk teknologi informasi sudah bukan barang baru, tapi ketika berhadapan dengan pembelajaran yang bersifat wajib ini, maka rasa was-was dan gundah menyelimuti diri setiap hari. Apakah penulis bisa mengikuti atau tidak dan bagaimana nanti respons guru pengampu ketika berhadapan dengan peserta yang masih kurang ngeh ini.

Meskipun dalam kegalauan ternyata di sesi pembukaan atau pengantar sampai penutup sudah dilewati, ada kepuasan tersendiri, Bahwa begitu banyak ilmu yang bisa diserap dan diamalkan dalam proses mengemban tugas negara ini.

Kedua, selain rasa galau karena program bimbingan guru ini tergolong baru, tentu pernak pernik yang ada di situs www.gurupembelajar.id itu cukup menguras pikiran. Selain menguras pikiran karena mesti mengenal situs itu secara mendalam, penulis merasa gagap karena tidak mempelajari dari pedoman yang tersedia. Bahwa di dalam situs itu ada modul yang bisa dipelajari dengan cara mandiri. Jadi tidak ada alasan penulis tidak bisa melakukannya. Dan bersyukurnya karena memiliki guru pemangku, maka kesulitan sedikit demi sedikit bisa diatasi.

Ketiga, kesan selanjutnya adalah panik, ketika mendapatkan tenggang waktu mempelajari persesi dengan beberapa hari saja tentu sempat membuat panik. Bagaimana tidak, dengan waktu kurang lebih sepekan guru peserta harus belajar mengenal situs, mengisi beberapa aitem pertanyaan pemula, membuka modul dan mengunduhnya untuk kemudian dipelajari tentu bukan perkara mudah. Selain itu rasa deg-degannya ketika akan memulai tes penilaian diri dan tes sumatif, tentu ada kekhawatiran sendiri, apakah saya bisa mengerjakan tes itu atau justru gagal. Dengan waktu dua menit per soal tentu bukan persoalan gampang menyelesaikan 10 soal per sesi. Sedangkan dalam satu modul ada 4 sesi pembelajaran.

Beruntungnya soal yang sudah selesai itu bisa diulang sekali lagi hingga jawaban kita benar-benar valid untuk kemudian disubmit tanda selesai mengerjakan.  Sayang sekali, meskipun soalnya terlihat mudah ternyata untuk mendapatkan nilai 10 sangatlah sulit. Meskipun tidak mudah ternyata ada saja peserta yang bisa meraih nilai 10 di setiap sesi evaluasi. Salut.

Kepanikan ini tidak hanya yang penulis alami,  karena di luar sana masih banyak guru-guru yang gagap alias gaptek lantaran baru kali inilah mengikuti pelatihan secara online (media daring) atau dalam jaringan.

Keempat, kesan selanjutnya setelah setiap sesi dilalui adalah rasa bangga. Rasa itu muncul karena ternyata begitu banyak ilmu dan informasi yang diberikan kepada penulis khususnya terkait mengidentifikasi anak-anak tuna grahita, bagaimana menggunakan teknologi informasi dalam pembelajaran, permainan bahasa, pemilihan bahan ajar dan lain-lain yang semuanya bisa kita peroleh dengan mudah. Namun demikian, karena waktu belajarnya terlalu pendek, maka para peserta merasa masih perlu banyak belajar lagi hingga pemahamannya semakin sempurna.

Kelima, terjalinnya komunikasi antar peserta. Boleh jadi kesan ini juga dirasakan oleh guru lain pasca mengikuti pelatihan guru pembelajar moda dari ini. Di mana dari sekian peserta ternyata mereka adalah guru-guru SLB yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Kiranya komunikasi antar peserta tidak sebatas moda daring semata, tapi semestinya juga berlanjut menjadi komunikasi atau interaksi yang intensif hingga menjadi komunitas yang solit dalam meningkatkan profesioalisme dalam pembelajaran.

Beberapa kesan ini hakekatnya sebagian kecil dari sekian banyak kesan yang mesti diungkapkan. Karena betapapun banyak kekurangan, sebuah program yang baik semestinya diapresiasi hingga terus dibenahi menjadi program yang benar-benar mewadahi bagi guru dalam meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran yang nantinya berdampak pada prestasi siswa yang lebih optimal.

Salam

Web Guru Pembelajar Online : https://gurupembelajar.id



Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!