Rabu, 10 Desember 2014

Guru Menulis, Saatnya Guru Benar-benar Mengabdi Pada Masyarakat




ExtraordinaryNews Menulis bagi saya adalah bagian yang paling menyenangkan, meskipun tulisan tersebut kadangkala tidak sebaik para penulis profesional yang memang terjun dalam dunia kepenulisan, semisal penulis buku, majalah atau buku-buku ilmiah sekalipun. Karena menjadi penulis profesional ala penulis tersebut tentunya membutuhkan proses yang tidak mudah dan tentu saja membutuhkan waktu yang cukup lama.

Kecintaan saya dalam tulis menulis diawali karena hobinya saya dalam mengoleksi buku-buku dari berbagai genre, bahkan semenjak sekolah saya sudah terbiasa dengan membaca, secarik kertas koran pun akan saya baca karena begitu besarnya rasa ingin tahu akan sebuah tulisan. Bahkan bungkus terasi pun menjadi media yang sangat menarik untuk saya jadikan sahabat tatkala waktu-waktu senggang.

Mungkin kehobian saya membaca inilah sejak kecil saya pun disebut sebagai kutu buku, alias maniak membaca. Bahkan istri saya pun sering mengatakan saya seorang kutu buku, lantaran semasa menempuh pendidikan beliau sering melihat saya berada di perpustakaan, mencatat dan membaca banyak literatur. Meskipun alasan awalnya saya terlalu sibuk di perpustakaan adalah karena saya tergolong mahasiswa sederhana, atau kalau boleh disebut mahasiswa kurang mampu. Karena modal untuk menuntut ilmu adalah modal kemauan, dan mengabaikan rasa malu demi sebuah pengetahuan.

Karena sulitnya membeli buku-buku materi kuliah, saya berusaha meminimalisir kelemahan saya dibidang referensi lantaran tak mampu membeli buku yang mahal, maka saya memutuskan untuk menuliskannya secara teratur teori-teori yang saya anggap sangat penting untuk dipelajari dalam studi saya. Tidak hanya istri dan orang-orang di sekitar saya, karena petugas perpustakaan pun tak pernah lupa bahwa saya adalah salah satu mahasiswa yang doyan membaca dan menulis referensi di perpustakaan tersebut. Sebuah kenang-kenangan indah yang mampu membantu saya menyelesaikan studi meski dengan modal kemauan. Benar kata pepatah ada kemauan tentu ada jalan. Tak hanya lulus studi, karena ketertarikan saya pada dunia buku membawa saya kepada pasangan hidup..

Berawal dari hobi membaca itulah menulis menjadi bagian yang menyenangkan, bahkan berandai-andai kapan tiba saatnya saya bisa menulis buku yang bisa saya persembahkan pada dunia pendidikan? Buku yang bermanfaat bagi semua orang, khususnya anak-anak didik saya, anak-anak ABK yang tentu saja sebagai wahana untuk belajar memahami dunia lain yang berbeda dari pendidikan yang saya tempuh. Semoga saja bukan hanya mimpi.

Guru menulis, bukan hanya kewajiban, tapi sebuah kebutuhan.

Menjadi penulis-meskipun belum masuk dalam kategori penulis profesional- adalah sebuah kebutuhan. Bukan hanya sebuah kewajiban karena faktor tuntutan jenjang karir atau kenaikan pangkat tertentu. Tapi murni semata-mata keinginan berbagi dan menyelami khasanah pengetahuan untuk kemudian dipersembahkan kepada orang lain agar bisa bermanfaat bagi sesama.

Meskipun demikian, tak sedikit guru yang merasa alergi ketika dilibatkan pada dunia tulis menulis. 

Bukan bermaksud merendahkan para abdi negara ini, lantaran mereka tidak terbiasa menuliskan konsep yang bisa dibagi untuk khalayak banyak. Pemicu awalnya adalah karena guru, termasuk saya sendiri terbiasa menyampaikan materi berdasarkan diktat, buku pelajaran atau buku-buku referensi yang sudah ada tanpa berpikir bagaimana menyampaikan sesuatu berdasarkan karya tulis sendiri. 

Kami tidak terbiasa membuat tulisan sederhana, apalagi tulisan ilmiah yang tentu saja dianggap sebagai momok bagi kebanyakan guru. Tentu hal ini diawali dari tidak diawali dari sebuah kecintaan dalam membaca dan niat awal ingin berbagi. Karena bagaimanapun sulitnya menghasilkan karya tulis, tentu diawali dari keengganan untuk memulai dan mencintai.

Padahal, seberapa berat untuk memulai membuat coretan-coretan kecil, adalah tak sebanding dari kepuasan batin dan kebanggaan karena bisa mempersembahkan sebuah tulisan bermanfaat untuk orang lain. Seperti berakit-rakit ke hulu, dan berenang-renang ke tepian. Bersusah-susah dahulu menulis meskipun dengan waktu, tenaga, pikiran bahkan biaya sekalipun tapi akan menjadi kebahagiaan tersendiri ketika sudah memperoleh hasilnya. Hasil karya tulisan yang bermanfaat bagi sesama.

Lalu, apakah karya tulis kita semata-semata ingin mendapatkan keuntungan secara materi? Tentu bukan materi menjadi tujuan. Lantaran semua diawali dari niatan awal ingin menyampaikan pengetahuan kepada orang lain. Bahkan jika dianalogikan ilmu itu seperti dalamnya lautan yang tak pernah kering meskipun airnya digunakan sebagai tinta dari coretan-coretan tulisan kita.

Begitu mudahnya guru menyampaikan materi pelajaran di kelas dengan ceramah, tapi akan banyak siswa yang semakin bosan, tapi betapa sulitnya menulis sebuah buku, tapi betapa banyak orang yang rela membaca buku-buku atau tulisan tersebut hingga berjam-jam atau berhari-hari lamanya hingga tuntas. Tanpa sadar atau tidak, selain menyampaikan pengetahuan dan pengalaman, ternyata kita sudah membentuk karakter terhadap pembacanya. Mudah-mudahan karakter yang baiklah yang akan ditanamkan dalam sanubari mereka.

Seorang guru adalah menjadi corong sebagai sosok yang digugu dan ditiru, attitude (sikap), behaviour (perilaku) dan character (karakter) sangat mungkin ditiru oleh orang-orang di sekitarnya, lebih khusus lagi oleh anak didiknya. Membiasakan diri dan membudayakan menulis dan membaca menjadi tradisi yang amat indah untuk digalakkan di tengah-tengah gempuran tekhnologi yang sedikit banyak membawa dampak negatif bagi lingkungan khususnya peserta didik.

Sebuah sikap, perilaku, dan karakter yang baik mestilah ditunjukkan agar menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya serta lingkungannya, apalagi dalam sub bagian kompetensi guru adalah mampu melakukan penelitian ilmiah demi suksesnya proses pendidikan bagi anak didiknya. Sebagaimana empat kompetensi yang dimiliki guru adalah kompetensi pedagodik, kompetensi

Apalagi dalam undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab III huruf a. menyatakan bahwa seorang guru harus memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, dan huruf b. menyatakan bahwa guru hendaklah memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan dan ketakwaan dan akhlak mulia. Selain itu sebagai bagian kompetensi sosial, seorang guru harus mampu berkomunikasi lisan, tulisan / atau isyarat. Dengan kata lain, tidak ada alasan bagi guru untuk tidak menulis agar tugasnya sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik adalah sebuah kebutuhan.

Sehingga dengan dasar undang-undang di atas, menjadi pijakan yang pasti bahwa menjadi guru adalah karena bakat, minat, panggilan jiwa serta idealisme dengan disertai niatan awal ingin turut memajukan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan serta akhlak mulia. Tentu saja dengan menulis langkah-langkah tersebut dapat dilakukan meskipun dimulai dari persoalan yang kecil sekalipun.

Guru Menulis, Melatih Kepekaan dan Kecerdasan Sosial

Sebagai seorang guru, tentu saja menjadi bagian dari sistem pendidikan yang secara faktual  pun turut menjadi bagian dari dinamika masyarakat. Hal ini tercermin ketika guru mau mengembangkan pengetahuannya serta turut menyelesaikan persoalan-persoalan yang ia temukan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam lingkup bidang tugasnya di dalam kelas.

Sebagaimana tercermin Undang-undang No 12 tahun 2012 pasal 1 ayat 9 menyatakan bahwa dari Tri dharma perguruan tinggi, di mana manivestasinya adalah lahirnya para guru sebagai output dari perguruan tinggi yang mau mengabdikan diri dalam pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

“Tridharma Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut Tridharma adalah kewajiban Perguruan Tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (UU No. 12 Tahun 2012, Pasal 1 Ayat 9)”

Penelitian dan mencari solusi terkait persoalan pendidikan bukan hanya peran dari perguruan tinggi yang mencakup dosen dan mahasiswanya, tapi para guru yang juga sama-sama mengemban amanah negara ini dalam sebuah penelitian. Guru yang seperti dipahami sebagai sosok yang dianggap sekelompok orang yang kurang peka terhadap persoalan negerinya karena tuntutan akan kesejahteraan yang selalu disuarakan, akan tetapi benar-benar turut andil dan menjadi bagian penting dari sistem pendidikan yang juga menjadi motivator, mobilisator serta dinamisator pendidikan Indonesia yang benar-benar maju dan setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Sebagaimana program Tanoto Foundation yang turut serta menjadi bagian pembangunan pendidikan di Indonesia.

Bagaimana para guru ini menunjukkan solusi alternatif kepada masyarakatnya, tak lain dan tak bukan dengan menulis dan menjadi bagian dari dunia tulis menulis dan memasyarakatkan membaca dan menulis bagi generasi muda.

Menulis adalah sebagai kewajiban, pun sebagai kebutuhan. Bahkan jika ditelaah secara mendalam menulis merupakan bagian integral dari proses pendidikan sekaligus mengemban amanah dalam memperjuangkan semangat pendidikan yang terbarukan, lahirnya anak-anak Indonesia yang kualitas yang semakin baik serta guru-guru yang concern dalam dunia pendidikan. Seperti halnya apa yang dilakukan oleh Bapak Tanoto Sukanto, sosok pendiri Tanoto Foundation yang dengan semangat berbagi telah dan masih terus mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia. Di mana “secara khusus Tanoto Foundation telah menetapkan untuk mengurangi kesulitan dan memutus siklus kemiskinan antar generasi melalui program pendidikan dan pemberdayaan.”

Semoga saja semangat para guru  dalam menulis, diikuti oleh semangat yang semakin tinggi dalam menemukan dan memperdalam pengetahuan baru sehingga khasanah keilmuan semakin mantap dan mendalam demi kemajuan pendidikan di Indonesia.

Salam

Sabtu, 22 November 2014

Ketika Ijazah Sarjana Tak Lebih Baik dari SR (Sekolah Rakyat)

Jika membaca dan mendengar gunjingan dari para pembaca media cetak maupun internet di sekitar saya sendiri kayaknya masih perlu membahas seberapa besar “nilai” dari sebuah ijazah daripada keahlian atau pengalaman seseorang (skill). Tentu keduanya tidak bisa dibandingkan dengan apriori, karena masing-masing memiliki posisi yang berbeda. 

Bagi kalangan akademisi, ijazah menjadi bobot tersendiri tatkala menduduki jabatan fungsional atau struktural di pemerintahan dengan embel-embel yang panjang, baik di depan maupun di belakang namanya. Meskipun acapkali embel-embel yang panjangnya semeter tersebut bukan murni diperoleh dengan ngoyo tapi dikenal UTID (Uang Tebal Ijazah pun Datang). Begutah kira-kira yang pernah booming di era 2000 an. Di mana saya sering menemukan ada oknum yang mengaku pejabat memakai seragam kedinasan menawarkan ijazah palsu. Untung ulah pemalsuan ini segera dapat dibasmi lantaran di antara mereka sudah masuk bui.

Begitupula terkait keahlian dan pengalaman, bagaimana mungkin ibu Susi Pujiastuti sang Mentri Perikanan dan Kelautan bisa menduduki jabatan di pemerintahan Jokowi-JK, meski hanya bermodal ijazah SMP. Bagi saya dan  kebanyakan penghuni negeri ini akan mengatakan Impossible pada mulanya, lantaran tak lazim seseorang yang pendidikannya rendah bisa menduduki jabatan tinggi tersebut.

Tapi itulah dunia kerja, seperti kata Presiden Jokowi ketika memberikan sambutan selepas beliau di sumpah sebagai Presiden terpilih, tentu sikapnya memiliki ibu Susi Pudjiastuti bukan karena sebab “cinta buta” tapi benar-benar berdasarkan penglihatan, pemikiran dan olah rasa yang tajam atas prestasi yang diraih ibu mentri yang kebetulan memiliki tato di kaki serta merokok tersebut. Tapi sekali lagi, Jokowi tak mungkin salah dalam hal ini, karena beliau memilih tentu atas prestasinya, sedangkan kekurangan dalam segi kepentingan pribadi lambat laun dapat diubah jika pihak yang bersangkutan mau merubahnya. Semoga.
……………….
Berbicara mengenai status pendidikan tinggi, maksud saya sarjana yang biasanya ditempuh dengan waktu minimal 3,5 tahun, bahkan ada yang kurang dari itu, meskipun adapula para mahasiswa yang berjuluk mahasiswa abadi lantaran menempuh kuliah hingga semester 14 di era 2001 an ketika saya berhasil menempuh pendidikan sarjana di salah satu perguruan tinggi di kota di mana saya berdomisili dan menetap, tentu memberikan banyak tanda tanya, betapa lemahnya seorang mahasiswa jika butuh bertahun-tahun lamanya dalam menempuh pendidikan tinggi tersebut. Apakah karena kesibukan dalam berorganisasi? Problem ekonomi? Atau urusan organisasi yang juga menjadi bagian pengembangan diri dalam ilmu politik dan sosial kemasyarakat. 

Namun yang pasti, masih banyak mahasiswa yang aktif dalam kegiatan ekstra dan intra kampus yang mampu menyelesaikan pendidikan sesuai dengan target yang dibutuhkan. Tak perlu terlalu ngoyo, meski aktif dalam kegiatan kemahasiswaan ternyata mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
Jika bertolak pada kondisi para sarjana yang saat ini bersaing mencari kebutuhan hidup di lembaga pemerintahan, tentu amat bertolak belakang dengan seorang pria yang hanya berijazah SR namun kemampuan, skill keahliannya melebihi para sarjana. 

Kalau boleh saya contohkan orang tua saya sendiri. Ayah hanya lulusan SR sedangkan ibu SD tak tamat. Lantaran di masa itu pendidikan tak begitu diwajibkan lantaran ekonomi sudah mapan lantaran luasnya lahan pertanian dan usaha niaga yang juga sudah baik. Jadi muncul pemikiran kalau sekolah tinggi itu tak penting. Walaupun pendapat ini tak dapat dibenarkan, lantaran hanya menempuh pendidikanlah masa depan bisa diraih. Paling tidak untuk saat ini dan di negeri ini, rata-rata yang dilihat adalah ijazahnya dengan Indek Prestasi minimal 3,00. Kalau dibawah nilai ini akan sulit masuk tes pegawai negeri, meskipun untuk juran eksak boleh di bawah nilai tersebut. Kondisi ini fakta,  bahwa saat ini yang dipandang adalah ijazah dan nilai IP yang tertera di dalamnya. Meskipun tatkala melihat kinerja pegawai pemerintahan banyak yang menilai kinerja mereka amat rendah. Apakah karena ijazah mereka tinggi jadi malas-malasan jika harus bekerja keras? Mudah-mudahan tidak terjadi.

Kembali pada status pendidikan yang terkait dengan ijazah, ketika masih gencarnya tawaran pekerjaan konstruksi gedung perkantoran dan institusi suasta, ayah sering kedatangan kontraktor dengan pakaian necis, mobil mahal dan tentu kantungnya sangat tebal. Kenapa mereka mau ke rumah meski rumah kami gubuk reyot? Apakah tidak gengsi? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu, lantaran para kontraktor ini tidak melihat status pendidikan atau ijazah yang dimiliki, tapi pengalaman dan skill yang dianggap mumpuni dalam pembangunan gedung-gedung. 

Meskipun saat ini tantangan proyek tak semudah di masa itu, jadi membutuhkan pendidikan tinggi sekaligus skill yang juga diperoleh dari gemblengan perguruan tinggi yang juga layak diperhitungkan. Meskipun demikian, tatkala ayah tengah mengawasi pekerjaan proyek, karena beliau ditunjuk sebagai mandor, para mahasiswa teknik yang tengah magangpun tak sedikit yang bertanya ini itu terkait proyek tersebut. Bahkan karena melihat pengalaman dan jam terbangnya sudah banyak, seakan-akan para konsultan yang nota bene para lulusan pendidikan tinggi inipun menyerahkan sepenuhnya proses pekerjaan tersebut.

Jadi persoalannya bukan karena ijazahnya yang dicari, tapi  skill, pengalaman dan kemampuan dalam sebuah pekerjaan yang dibutuhkan dari seseorang. Sebuah persoalan negara tak butuh orang-orang dengan ijazah tinggi, berpakaian jaz import yang mahal, dan bukan pula kemampuan dalam aksi suap menyuap tatkala seleksi mentri berlangsung. Tapi yang dibutuhkan adalah orang-orang yang benar-benar gesit, lincah dan mampu bekerja dan menyesaikan setiap persoalan di hadapannya dengan kecepatan tingkat tinggi. Tegas dan tak perlu ragu-ragu.

Ketika Ijazah tak diimbangi profesionalisme kerja sesuai pendidikannya

Berapa juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia? Tentu ada jutaan yang saat ini masih menganggur dan masih mondar-mandir menenteng map berisi ijazah demi mendapatkan pekerjaan di tempat yang empuk dan basah. Mereka berkeliling dari satu kantor ke kantor lainnya demi sebuah mimpi mendapatkan pekerjaan yang tak perlu berpanas-panasan akibat sengatan panasnya matahari.

Bahkan yang ironis lagi, tatkala mereka adalah seorang sarjana yang masih hangat-hangatnya lulus dari perguran tinggi (fresh graduated) ternyata mereka masih kebingungan dalam menentukan jalan hidupnya. Mereka seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Bingung mau bekerja apa karena di sana-sini tidak mau menerima lamaran mereka. Bahkan lebih dari itu ada yang hendak mengakhiri hidupnya lantaran frustasi dan depresi karena tak juga mendapatkan pekerjaan. Meskipun ia seorang magister. Sungguh aneh, konyol namun ini adalah ironi lulusan pendidikan di negeri ini.

Apakah pendidikannya yang boleh disalahkan? atau perguruan tingginya yang tak layak menjadi rujukan karena dianggap tak mampu menelurkan mahasiswa yang siap pakai dalam situasi apapun? Tentu jawabnya akan sangat beragam lantaran dalam situasi tertentu sebuah institusi pendidikan selayaknya kawah candra dimuka tempat menggembleng mahasiswanya dengan aneka pengetahuan agar mereka mampu menjadi generasi yang mandiri dan siap pakai. Tapi faktanya justru semakin lama mereka menuntut pendidikan ternyata tak juga mendapatkan predikat mandiri dan layak pakai. Justru bertolak belakang dan menunjukkan tingkah polah seorang sarjana yang sama sekali jauh dari sosok yang berpendidikan tinggi.

Dengan demikian, bahwa sepatutnya penghargaan pada status seseorang jangan semata-mata karena ijazah semata, akan tetapi skill, pengalaman dan prestasi yang telah diraihnya dalam bidang tertentu.

Bekali kemandirian dan skill (keahlian) dan pengalaman hidup sejah dini.

Pendidikan adalah proses, dan prosesnya akan berhasil guna jika dilalui secara bertahap, step by step. Diawali dari persoalan yang simpel hingga yang rumit. Mengajarkan kemandirian, skil dan pengalaman hidup dimulai dari usia mereka muda.

Membekali pendidikan umum sangat diperlukan, tapi pendidikan yang berorientasi kemandirian, keahlian dan pengalamn hidup sepertinya jauh lebih bermanfat bagi generasi muda. Tak hanya kecerdasan logika saja yang dituntut dalam lembaga pendidikan, tapi kecerdasan lain seperti kecerdasan sosial, bahasa, keahlian praktis dan aneka kecerdasan dan bakat lain yang mesti dikembangkan agar generasi muda ini tak gagap lagi tatkala berhadapan pada situasi yang sulit dalam kehidupan mereka.

Hidup memang mesti berpikir dan berhayal, tapi melakukan segalanya dengan semangat kerja berdasarkan skill dan pengalaman yang utuh yang diperolehnya selama proses pendidikan maupun dunia kerjanya pun tak dapat diabaikan.

Ijazah tinggi memang diburu dan dicari sebagai jenjang pendidikan tinggi dan keilmuannya, tapi pengetahuan praktis yang tak melulu berdasarkan logika yang jumud dan terbatas pun sangat dibutuhkan saat ini demi proses kemandirian dan kemajuan prestasi kerja generasi Indonesia yang lebih baik. Mana mungkin bangsa ini siap bersaing dari bangsa lain jika para generasi mudanya terlalu naif mengandalkan ijazah semata demi sebuah pekerjaan kantoran. Jangan sampai ada kesan justru sarjana lebih rendah kemampuannya dibandingkan lulusan SR atau SMP sekalipun.

Salam

Implementasi Kurikulum 2013, Tantangan Luar Biasa Bagi Guru




Beberapa hari yang lalu, Sabtu (8-11-2014) saya mengikuti Pelatihan Kurikulum  2013 di SLB N Kota Gajah, Lampung Tengah, dengan sasaran pada aspek penilaian dan pengisian raport. Meskipun pertemuan tersebut seharusnya kelanjutan dari pelatihan kurikulum yang lain, tapi menurut saya ada beberapa hal yang dapat saya petik serta beberapa sisi yang akan ditemui tatkala para guru benar-benar mengimplementasikan kurikulum baru tersebut.

Sebagaimana dunia pendidikan di Indonesia memang belum sepenuhnya menemui titik kesempurnaan. Sehingga, apapun produk yang dihasilkan dari lembaga pendidikan kita selalu saja menemukan titik ketidak puasan pengguna lulusannya. Jika dianalogikan dunia pendidikan pun selayaknya sebuah mesin pencetak (mesin produksi), semua direncanakan (planing), diorganisasikan (organizing), dilaksanakan (actuating) , dikontrol (controling), dievaluasi (evaluating) dan tentu saja ditindaklanjuti (follow up) agar apapun yang dilalui dapat didiperoleh solusi guna perbaikan selanjutnya.

Semua diawali dari adanya proses perencanaan yang juga tak sesederhana seperti dalam sebuah teori, karena yang diproduksi adalah seorang manusia yang utuh. Di mana mereka memiliki dimensi jasadiyah (fisik) dan rohaniyah (jiwa) sekaligus dimensi akliyah (fikiran). Yang semuanya tersimpul dan tersistem menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan. Tatkala proses pendidikan mulai direncanakan, diproses hingga melahirkan generasi baru tentu semuanya diawali dari konsep di atas.

Seperti halnya teori tabularasa, bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan suci, kemudian dengan sebuah proses interaksi dengan Tuhan, manusia dan lingkungannya, manusia menjadi makhluk yang  utuh sebagai manusia yang sebenarnya. Sebagaimana dalam Islam diistilahkan dengan hablumminallah, hablum minannas dan hablum minal'alam. Tiga dimensi hubungan ini tak pun tak dapat dipisahkan dalam proses mencetak lulusan-lulusan yang sesuai dengan tujuan pendidikan di Indonesia.

Bagaimana pun situasinya, dan siapapun serta apapun baik yang memproses dan yang diproses tersebut semestinya menggunakan prinsip tersebut agar semua proses berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang optimal. Seperti sebuah perusahaan, jika segalanya dilalui dengan sistem dan mekanisme yang matang dan sempurna, maka amat besar kemungkinan hasilnya juga akan sempurna. Meskipun tidak ada yang sempurna di dunia ini, beberapa hal menjadi penyebab kegagalan, tapi kegagalan merupakan bagian dari proses menuju kesempurnaan. Meskipun proses pendidikan tak sesederhana seperti mencetak barang antik sekalipun, karena begitu kompleksnya pribadi manusia yang masing-masing memiliki perbedaan.

Menelaah Kurikulum 2013 sebagai Implementasi Manusia Berbudaya

Apapun sebuah hasil karya, saya menyebut Kurikulum 2013 adalah sebuah hasil cipta, karsa, dan karya manusia (kebudayaan) yang bertujuan melahirkan generasi-generasi Indonesia yang terdidik dan mampu menjiwai serta mengimplementasikan tiga kompetensi, yaitu kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan. Meskipun hakekatnya pendidikan di Indonesia sudah dirumuskan dilaksanakan berdasarkan ketiga komponen yang menjiwai, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Tentu semua harus seiring sejalan dan diaplikasikan dalam pendidikan secara utuh agar outputnya pun adalah generasi yang benar-benar utuh.

Generasi yang tidak hanya mengandalkan pengetahuan, hanya menguasai ilmu tertentu dalam bentuk nilai, tapi mereka tak menjiwai ilmu yang diperoleh dalam sebuah sikap hidup dan menjadi cerminan hidup mereka tatkala harus mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. Karena pengetahuan tanpa penghayatan, maka seseorang akan cerdas dari dari segi pemikiran, tapi kering jiwanya.

Mereka cerdas tapi tak memiliki kepekaan sosial dan kekuatan dan keteguhan jiwa, serta tak mampu menggunakannya dalam kehidupan bermasyarakat. Begitu pula jika mereka mampu menguasai sebuah konsep dalam ranah kognisi dan afeksi (penghayatan dan sikap) tanpa mampu mengamalkannya pun akan menjadi kesulitan ketika berhadapan dengan dunia nyata. Karena kemandirian pun sangat dibutuhkan sebagai bekal masa depan mereka.

Maka tak dapat disangkal lagi, bahwa saat ini Indonesia benar-benar membutuhkan tiga kompetensi tersebut, agar pendidikan kita melahirkan generasi yang cerdas logika, baik jiwanya dan tentu saja mampu mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah kesalahan, manakala ketika pendidikan hanya berdasarkan nilai ujian dengan sederet angka-angka, tapi mereka sama sekali tidak menjiwai dan mengamalakan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka lulus cumlaud bagi mahasiswa atau nilai rata-rata sembilan koma sembilan bagi anak-anak sekolah tapi mereka belum bisa bersikap jujur dan mandiri dan berdikari pun kurang disebut layak.
Mereka anak-anak jenius, tapi memiliki karakter (kepribadian) yang buruk. Suka menciptakan konflik dan bukan membuat solusi. Suka mencari masalah dan bukan penyelesai sebuah persoalan di masyarakatnya.

Mereka ahli agama dan pintar di sekolah dengan nilai tinggi, tapi setelah bekerja mereka suka bermain-main anggaran negara dengan korupsi. Kurikulum 2013 paling tidak memberikan solusi alternatif atas rusaknya generasi muda dengan sistem pendidikan yang utuh dan menyeluruh (komprehensif).

Kurikulum 2013, Bukanlah Produk Sekali Jadi

Sebagaimana paparan di atas, bahwa kurikulum 2013 pun hakekatnya memiliki tujuan yang kurang lebih sama dengan kurikulum sebelum-sebelumnya (KTSP). Karena bagaimanapun juga, implementasi kurikulum ini pun hakekatnya mengacu kelebihan dan mengoreksi kekurangan yang ada dari kurikulum tersebut. Meskipun demikian, sebaik apapun ciptaan manusia tentu memiliki banyak kekurangan di sana-sini. Sehingga amat wajar suatu saat nanti kurikulum terbaru tersebut hendak dianalisis, dikritisi, dan dicari kelemahannya untuk kemudian dilengkapi dan disempurnakan seiring dengan perkembangan dan penggunaan kurikulum ini di lapangan.

Sebagaimana pernyataan Mendikbud bahwa "Nanti saya akan buat evaluasi pada kurikulum 2013,"  (Kompas.com) Dengan demikian  apapun yang terjadi, pada saatnya nanti kurikulum tersebut akan dievaluasi kembali dan tentu saja akan diperbaiki lagi sesuai dengan tingkat kebutuhan yang mendesak. Apalagi dengan hadirnya kurikulum tersebut ternyata memicu respon yang beragam dari guru selaku ujung tombak kurikulum tersebut.

Apapun bentuknya, kurikulum adalah produk yang belum sepenuhnya memenuhi harapan pendidikan di Indonesia, sehingga membutuhkan evaluasi dan perbaikan di sana-sini agar lebih sempurna dalam tataran implementasinya. Yang pasti, melibatkan semua komponen pendidikan di antaranya guru dan para siswa serta lembaga lain yang turut concern dalam dunia pendidikan.

Bagaimana Guru Sebaiknya?

Sebagai seorang praktisi pendidikan, seorang guru pun menjadi sasaran kurikulum yang menjadi pedoman mereka dalam melakukan tugasnya. Karena tanpa kurikulum yang jelas, maka kerja guru akan terhambat. Dampaknya adalah proses pembelajaran terjadi ketimpangan, serta sudah dapat dipastikan ketika proses pembelajaran saja tidak berjalan mulus dan penuh kesalahan maka harapan memperoleh generasi tangguh dan membanggakan tinggallah mimpi belaka.

Meskipun demikian, sebagai pelayan rakyat dan abdi negara, seorang guru tetap dituntut mampu  mengemban amanah tersebut dengan sebaik-baiknya, meskipun saat ini guru harus berusaha kreatif dengan kondisi yang kurang memenuhi harapan guru. Seperti ketersediaan buku yang belum sepenuhnya terpenuhi serta media pembelajaran yang juga masih sangat memprihatinkan.

Guru menjadi ujung tombak pelaksanaan kurikulum tersebut, meskipun sebaik apapun sebuah kurikulum, jika para pendidiknya tidak memenuhi kompetensi yang diharapkan maka hasilnya pun kurang maksimal. Sehingga dengan kondisi tersebut, guru tetap harus memperbaiki diri dan meningkatkan kompetensinya secara bertahap agar pengejawatahan kurikulum tersebut dapat dilakukan dengan tepat sasaran. Sebagaimana disampaikan Bapak Mendikbud beberapa waktu lalu.

Guru tetaplah menjadi sosok yang serba bisa dalam kondisi apapun. Bahkan seandainya tanpa media dari pemerintah, sepatutnya guru dan siswa mampu memaksimalkan kegiatan pembelajaran berdasarkan media lain yang ada di lingkungan serta alam sekitarnya, sambil secara perlahan memenuhi setiap harapan guru terkait kurikulum yang benar-benar layak pakai, buku-buku yang tersedia serta media pembelajaran yang juga  mencukupi.
Salam


Selasa, 18 November 2014

Meriahnya Karnaval Jambore Pramuka ABK 2014


14126317192041262014



Tulisan ini sebenarnya sudah kadaluarsa. Ibarat kalau produk makanan sudah kelewat tanggal layak konsumsinya. Jadi ya yang penting bisa disharing. Mau dibaca silahkan kalau nggak ya nggak apa-apa. Yang penting foto-foto yang sudah saya simpan setelah aksi jeprat-jepret tidak hangus dan mubazir.

Bagi saya, Jambore Pramuka merupakan pengalaman yang berharga. Karena didalamnya mengajarkan banyak hal dan pengalaman yang diberikanpun tak sedikit saya rasakan. Tak hanya saya yang berkapasitas sebagai pembina pendamping, karena bagi siswa ternyata memberikan kesan yang amat mendalam. Para siswa yang awal keberangkatan terlihat gugup dan kurang percaya diri, eeee ternyata setelah mengikuti beberapa sesi kegiatan mereka terlihat semakin percaya diri. Begitu juga
gurunya yang semakin bersemangat untuk membina anak-anak ABK.

Selain asyiknya kegiatan Jambore yang niatan awal adalah mengumpulkan para anggota Pramuka yang sudah diseleksi dengan ketat, ternyata ada banyak keasyikan-keasyikan yang muncul dalam setiap even. Misalnya biasanya anak-anak ABK kurang begitu responsif terhadap informasi terbaru dan jenis permainan yang unik, pada ajang Jambore ini mereka semakin terasah kepekaannya.

Kadang tanpa diberitahu dan ditanya, mereka sudah mengetahui dan tanggap dengan apa yang harus mereka kerjakan. Kekhawatiran pendamping yang berlebihan terkait anak-anak didik mereka, ternyata terjawab sudah dengan aksi kreatif dan keberanian dalam mengikuti perlombaan. Meskipun kemenangan bukan satu-satunya tujuan, yang pasti sudah menjadi media motivasi anak agar lebih kreatif lagi.

Terlepas dari beberapa keasyikan dan keragaman ekspresi dari masing-masing kontingen ABK, selain menambah ketrampilan dalam bergaul, Jambore mengajarkan untuk saling mengenal kontingen dari daerah lain. Dan alhamdulillah ternyata peserta dari Lampung sempet mendapat kenalan yang terlihat intens dari propinsi Banten. Mereka baru mengenal ternyata pembicaraannya terlihat klop. Kebetulan kami bersebelahan. Tak hanya itu karena saya sendiri medapatkan teman baru dari Banten, Jawa Timur, NTT dan daerah lain. Namun sayang sekali karena pertemuan dan pembicaraan amat singkat, jadi hanya beberapa orang saja yang bisa diajak bertukar nomor HP. Mendingan untuk ajang komunikasi dan diskusi lintas propinsi.

Beberapa keunikan dari Jambore Pramuka tentu tak semua dapat tercover dalam tulisan ini. Tentu karena terbatasnya waktu untuk jeprat-jepret lantaran saya harus fokus mendampingi anak-anak dari Lampung karena memang itu tugas pokoknya. Tapi alhamdulillah karena telaten saya bisa mendokumentasikan beberapa kemeriahan dalam kegiatan tersebut.



14127501702105602948




Foto di atas diambil di Bandara Radin Inten 2 Lampung. Sedikit selfi dan katrok tapi sengaja saya lakukan agar peristiwa penting ini tak lekang oleh waktu. Menjadi peringatan tersendiri bahwa kami pernah bersama-sama ikut Jambore meski hanya 2 medali juara harapan. Tapi tetap semangat untuk ikut jambore Pramuka ABK tahun-tahun berikutnya.

Meskipun tidak berkaitan dengan karnaval, tapi sengaja saya ikutkan sekedar ikut ngeksis dari pada foto gak laku karena tak dipublikasikan. hehe

Nah, kalau tulisan di bawah ini benar-benar membicarakan tentang keunikan karnaval Jambore tersebut. Misalnya saja Kontingen Lampung yang saya jepret pertama kali loh. Para wakil daerah ini tetap bisa eksis mengikuti setiap kegiatan dengan antusiasme tinggi. Berbalut pakaian asli adat Lampung, enam peserta Jambore berfoto ria bersama pendampingnya yang sok ganteng, kemudian kontingen dai bumi sai bumi ruwa jurai ini mengikuti arak-arakan semua kontingen. Pas di urutan ke tigalah kami berjalan di bawah kontingen DKI. Jakarta dan Banten. Sedangkan di belakang kami ada kontingen dari daerah lain.
14127504211660122111
Kontingen Lampung





Penampilan kontingen Lampung memang sudah maksimal, segalanya sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Tapi ya itu tadi, karena di sini adalah kompetisi dan tim juri juga memiliki subyektifitas tersendiri-meski ada obyektifnya juga- tetap saja kontingen Lampung masih belum bisa menarik simpati mereka. Tapi ya sudahlah gak apa-apa yang penting tetap hepi.

Sesaat peserta karnaval mulai start, saya mengabadikan moment ini dengan memotret kontingen yang ada di paling depan. Ialah kotingen tuan rumah (DKI Jakarta) dengan membawa sepasang ondel-ondel yang menjadi icon daerah ini. Meskipun peserta pembawa ondel-ondel sempat kelelahan dan sarungnya sempat pula melorot, tapi semangat semua peserta tetap tinggi.




1412750515729531611


Di barisan kedua saya memotret kontingen dari Banten yang juga sangat asyik dan rame, mereka membawa alat musik dari daerah ini. Selain membunyikan alat musik yang juga ramai, peragaan seni beladiri debus juga turut mengiasi perjalanan karnaval. Terang saja karena aksi debus ini, para peserta lain ikut teriak-teriak histeris tanda ketakutan, bahkan ada beberapa penonton yang berjajar di sisi jalan lari ketakutan karena salah satu peserta mengiris tangannya dengan golok tapi tidak terluka sama sekali. Hemmm serem juga, malah apa perlu saya ikut debus ya?



14127506191693895303
Di barisan belakang kontingen Lampung, ada kontingen dari Kalimantan Selatan, mereka terlihat lebih tenang tanpa alunan musik pun, sama seperti kontingen Lampung yang tidak membawa alat musik sama sekali. Seandainya alat musik di bawah kayaknya semua tampak lebih meriah.

Di belakang lagi ada beberapa kontingen yang mewakili 34 propinsi yang tak dapat saya sebutkan selurunya. Yang pasti semua kontingen sudah all out mengeluarkan semua daya dan upaya demi memeriahkan karnaval Jambore tersebut.



1412750746382559553


Akhir perjalanan, saya sempat berfoto-foto ria sekaligus mengabadikan moment langka dan bersejarah ini sebagai simbol kekaguman saya atas indahnya Indonesia. Negeri yang elok dengan nuansa keragaman budaya. Semua menjadi satu bagian yang tak dapat dipisahkan merangkai keindahan Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Salam

Semua gambar dok. pribadi

Minggu, 09 November 2014

Pembina Pramuka, Guru Moral Penuh dengan Amal

Pembina pramuka dalam acara jambore nasional di cibubur th 2014


Ada yang sedikit terlupakan di hari ini, bukan karena tanggal 14 Agustus hari Pramuka yang setiap tahun kita peringati, dan menjelang peringatan hari Proklamasi 17 Agustus esok lusa. Tapi yang terlupa oleh kita adalah sosok-sosok Pembina Pramuka yang selalu mengajarkan nilai-nilai Pancasila, moral atau karakter terpuji dan juga mendidik anak-anak negeri dengan pengetahuan akan cinta negerinya dan tentu saja cinta kepada sesama.

Para pembina yang tanpa pamrih mengorbankan waktunya demi sebuah cita-cita menempa generasi muda dengan patriotisme yang utuh, bukan karena kepentingan kelompok tertentu tapi murni demi cita-cita luhur menitipkan nilai-nilai kehormatan, kesetiaan dan pengabdian bagi anggotanya.
Kala itu, Pramuka memang merupakan simbol kebanggaan, bahkan tak hanya pembinanya yang turut bangga melihat gelak tawa, riangnnya, soliditas, solidaritas dan kreativitas para anak didiknya. Tentu lebih dari itu, karena dengan yakin dan bangganya mereka telah menitipkan sebuah generasi yang ingin mewarisi para pemimpin negeri ini dengan semangat nasionalisme yang tak perlu diragukan
lagi.
Saya teringat di usia Sekolah Dasar, tentu saja ketika mengikuti Pramuka Siaga tatkala masih baru-barunya mengenal Pramuka, sepertinya mengikuti Pramuka begitu menyenangkan, penuh tantangan dan tentu saja menemukan banyak teman dari berbagai penjuru daerah.

Tentu saja ada sosok yang membuat bangga dan begitu kagumnya saya adalah para pembina yang selalu siap mendampingi dan melatih kemandirian kami selaku siaga mula.

Mereka mengabdikan waktunya melatih dan membina Pramuka meski tak dibayar. Seandainya pihak sekolah memberikan insentif bagi pembinanya, maka nilaianya tak lebih dari kebutuhan membeli 10 kg beras. Tapi mereka tetap ikhlas mengabdikan ilmu dan pengalamannya.

Bahkan mereka rela berlapar-lapar ria demi melatih kami dan tentu saja mereka rela meninggalkan keluarga mereka beberapa hari demi menjadi pembina pendamping bahkan panitia dalam kegiatan perkemahan dan jambore. Para pembina tak pernah dibayar dan tak mendapatkan bingkisan, hanya selembar piagam penghargaan atas kesuksesannya mendampingi dan menyukseskan hajat besar tersebut.

Meskipun kadangkala tatkala mendampingi peserta, para pembina pun harus merasakan kerasnya petualangan, hujan dan panas dilalui demi sebuah tantangan dan bekal kemandirian anak-anak Indonesia. Walaupun akhir-akhir ini setelah para Pembina sudah mulai senja, para generasi muda mulai kehilangan kecintaannya para Pramuka.

Tak sedikit para siswa yang mengeluh karena sekolah mewajibkan para siswanya mengikuti Pramuka. Bahkan jika dilihat ketika melihat persentase jumlah anggota Pramuka, maka jumlah mereka tak lebih dari separuh dari jumlah siswa seluruhnya. Bahkan mungkin hanya sekitar 10% saja dari keseluruhan siswa. Hal ini sebuah gejala yang sangat mengkhawatirkan karena jika kita melihat tingkat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila dan NKRI pun seperti jauh dari yang sepatutnya.

Berkurangnya intensitas, kualitas dan kuantitas siswa mengikuti Pramuka tentu saja akibat dari semakin sedikitnya para pembina pramuka yang mau melatih dan membina karena kebutuhan hidup yang semakin membuat mereka menjerit. Tentu saja karena ketika mereka sudah berkeluarga kebutuhan hidup pun harus dipenuhi. Amat mungkin para pembina ini tetap mau mengabdikan pengalamannya, jika pihak sekolah dan pemerintah benar-benar memikirkan nasib para pembinanya.

Kala itu, menjadi pembina Pramuka juga sebuah keistimewaan, karena dimanapun berada mereka selalu dihormati dan dihargai bahkan ada banyak pemimpin negeri ini yang lahir dari Pramuka. Bahkan menurut keterangan beberapa tokoh, mereka mendapatkan pekerjaan di instansi pemerintah karena melampirkan bukti pernah mengabdikan diri menjadi pembina Pramuka.
14080771361018299022
Peserta KMD Tk. Nasional di Kwarda Lampung


Meskipun pengabdian mereka amat tulus dan bukan karena kepentingan sebuah pekerjaan, paling tidak seyogyanya pemerintahpun memperhatikan kehidupan mereka. Pemerintah menghargai jasa para pembina yang tak pernah mendapatkan perhatian, mereka membina moral Pancasila dan membentuk kepribadian anak-anak Indonesia dengan pengabdian yang tulus. Memberikan penghargaan tanpa mereka minta. Semua akibat dari apresiasi yang tinggi terhadap kesetiaan para pembina Pembina ini dalam membangun generasi mandiri dan berkarya serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Ketika Pembina Pramuka dianaktirikan 

Saya melihat akhir-akhir ini penghargaan pemerintah bagi para Pembina Pramuka masih belum optimal. Tentu saja karena pemerintah belum memberikan kebijakan yang sama terkait pengabdian seseorang. Akan berbeda sekali tatkala berhadapan dengan pegawai honorer yang sudah banyak mendapatkan tiket menjadi pegawai negeri sipil, toh lain situasinya bagi para Pembina ini.

Berpuluh-puluh tahun mengabdi dengan harapan pengabdiannya dihargai ternyata sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Maka amat mungkin pula saat ini banyak pembina pramuka yang rela meninggalkan tugasnya demi sepiring nasi dan menghidupi keluarganya. Dampaknya sekolah semakin sulit mencari pembina pramuka, dan lebih sulit lagi mewariskan pendidikan moral kepada generasi muda dalam sebuah wahana pelatihan Pramuka.
 
Tulisan ini semoga menjadi pelajaran berharga, bahwa benar para Pembina Pramuka melakukan pengabdiannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih mengabdi untuk negeri, tapi yang perlu dipahami adalah mereka pun manusia biasa yang butuh mendapatkan kehidupan yang layak seperti sesamanya. Semoga kedepannya para Pembina Pramuka mendapatkan kehidupan yang layak sehingga mereka dapat meneruskan estapet pemimpin negeri ini dalam menanamkan nilai moral Pancasila kepada generasi muda.
Salam Pramuka dan Selamat Hari Pramuka!

Membuat Bunga dari Sampah





Kreasi bunga dari sampah ala anak-anak ABK, bahan tidak diberi pewarna apapun, agar lebih menarik sebaiknya bunga diwarnai sesuai dengan bunga aslinya.


Sampah, lazimnya dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat. Membuat risih dan tentu mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan jika sampah terus dibiarkan maka timbulnya adalah beberapa penyakit yang menyertai.

Berkumpulnya pasukan lalat karena bau sampah yang menyengat turut menjadi penyebab seseorang tidak mau berhubungan dengan sampah. Jangankan memanfaatkannya, menyentuhnya saja tak sudi dilakukan. Dengan alasan tentu karena jijik dan takut terkena penyakit lantaran kuman-kuman yang disebarkan oleh lalat yang hinggap di makanan kita.

Tapi tunggu dulu, apakah sampah selalu identik dengan benda-benda tak berharga dan layak dimusnahkan? Tentu tidak bukan? Karena ada banyak pengusaha yang justru memanfaatkan sampah. Termasuk membuat kerajinan sederhana yang dilakukan oleh anak-anak disabilitas atau anak-anak ABK.

Meskipun sampah dapat dimanfaatkan atau memanfaatkan kembali untuk hal-hal yang positif, tentu saja penanganannya juga harus benar, lantaran jika salah dalam memanfaatkannya maka penyakit benar-benar akan mengenai kita. Misalnya tatkala ingin mengolah sampah untuk bahan kerajinan, sebaiknya dibersihkan dulu agar kotoran dan kuman menyingkir dari benda-benda tersebut.
Kali ini, saya ingin menyampaikan bahwa sampah pun bisa digunakan untuk membuat aneka benda kreasi, tapi saat ini saya fokuskan pada pembuatan bunga. Entah apa namanya bunga apa, yang pasti cara pembuatannya amat sederhana dan bahannya amat mudah kita peroleh di sekitar kita.
  • Bahan-bahan
Bahan yang dapat dimanfaatkan adalah sebagai berikut:
  1. Kertas
  2. Dedaunan yang berukuran kecil
  3. Ranting pohon 
  4. Botol air mineral
  5. Pasir
  • Alat-alat
Adapun alat-alat yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
  1. Lem kayu
  2. Gunting
  3.  Pewarna 
  4. Kuas 
Cara membuatnya:

Terlebih dahulu siapkan bahan-bahan dan alat-alat terlebih dahulu. Setelah bahan dan alat terkumpul langkah selanjutnya menentukan jenis ranting yang akan dibuat sebagai media batang bunganya. Jika sudah siap, berilah pewarna pada batang, daun dan bunga sesuai dengan yang kita inginkan. Seperti bunga berwarna merah atau biru, jika putih tak perlu diberi warna karena pada umumnya kertas berwarna putih (HVS). Tapi jika terdapat sisa kertas berwana maka tak perlu lagi diberi pewarna.

Daun-daun sampah tersebut dibuat daun jadi diwarnai seperti daun sebenarnya. Jadi tinggal dicelupkan pada warna hijau. Setelah semua bahan diberi warna diletakkan diterik matahari supaya kering.

Sebelumnya bunga dibuat terlebih dahulu dengan bahan kertas terlebih dahulu kertas dipotong sepanjang 3 x 5 cm, kira-kira bisa dibentuk menjadi lima helai mahkota. Setelah potongan kertas tersebut digunting berbentuk seperti potongan bunga melati kemudian di lekatkan pada ujung ranting dengan terlebih diberikan lem kayu sebagai alat perekat.

Setelah rekat, kemudian diberikan lilitan dengan kertas kira-kira 3 cm dan cukup menutup bagian pangkal bunga, sekaligus menguatkan bunga agar tidak terlepas.

Daun-daun pun direkatkan pada bagian-bagian yang kita anggap perlu dengan dililit kertas yang juga sudah kita persiapkan.

Setelah semua selesai, ranting yang sudah berbentuk sebuah bunga, kemudian diletakkan pada botol minuman mineral yang sudah ditutup dengan sehelai kertas. Namun terlebih dahulu botol tersebut diberi pasir kira-kira setinggi leher.

Kalau sudah jadi, bunga kreasi sudah dapat dijadikan pajangan.

Salam.

Rabu, 08 Oktober 2014

Pembelajaran Kontekstual Materi Seni Lukis pada Anak Tuna Grahita

1407863226957165571

Pagi tadi (12/08) tepatnya tatkala saya kembali ingin menyampaikan tentang seni lukis, sebenarnya saya sedikit kesulitan lantaran memang basic saya bukan ahli lukis, bukan pelukis atau pekerja seni yang sehari-harinya mengerjakan karya corat-coret tinta pada media kertas atau kanvas tersebut. Saya juga bukan lulusan dari seni lukis pada perguruan tinggi yang fokus untuk mahasiswa jurusan seni. Tapi benar-benar nol pengalaman, tapi meskipun demikian saya tetap berusaha semampu dan sebisanya mengajarkan beramacam-macam materi pada anak-anak penyandang disabilitas.

Saya memang bukan ahli melukis, tapi sangat bangga jika bisa mengajarkan anak-anak disabilitas melukis dengan melihat benda-benda secara nyata. Dan alhamdulillah meskipun hasilnya tidak seperti anak-anak pada umumnya, paling tidak cara menggambar dan kombinasi warna sudah sangat baik.

Mungkin jika dikaitkan dengan status pendidikan, tentu saja jauh dari kesan pantas. Akan tetapi karena dorongan kebutuhan dan tuntutan di mana guru-guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus memang harus serba bisa dan berusaha mendidik anak-anak tersebut dengan cara kreatif dan melihat model-model pembelajaran yang sudah diajarkan oleh para akademisi dan ahli pendidikan sebelum-sebelumnya.

Ada banyak model pembelajaran yang sejatinya banyak ditulis dan diajarkan oleh para ahli pendidikan, dan tentu saja beberapa model tersebut memang sudah diteliti tingkat ketercapaiannya tatkala teori pembelajaran tersebut lahir dan diterapkan. Sehingga amat pantas jika kerja keras pada ahli dan peneliti pendidikan dapat kita jadikan acuan dalam kita melakukan pembelajaran bagi anak didik kita. Terlepas seberapa besar tingkat kesuksesan yang penting proses pembelajaran adalah suatu hal yang paling pokok sebelum membicarakan hasilnya.

Dan juga terlepas dari beberapa model pembelajaran, saya ingin menyampaikan tentang penggunaan model pembelajaran kontekstual tatkala saya mengajarkan tentang seni lukis. Seni lukis a la anak-anak penyandang disabilitas. Anak-anak yang memiliki keterbelakangan intelegensi dan tentu saja keterbatasan dan pergerakan fisik karena di antara mereka juga menyandang kecacatan fisik. 

Meskipun banyak pula penyandang disabilitas yang memiliki prestasi yang luar biasa, khususnya dalam bidang lukis melukis dan mendapatkan penghargaan atas kemampuannya yang luar biasa pula.

Sebagaimana menurut Depdiknas, 2012 bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian model pendekatan atau sistem pembelajaran ini benar-benar mendorong siswa agar benar-benar mengaitkan dunia nyata dengan konsep yang tengah dipelajarinya.

14078635901055704575
Anak-anak disabilitas tengah menggambar motif daun (doc. pribadi)

Sebuah materi tidak sekedar teori-teori yang sulit diterima, akan tetapi anak akan benar-benar mengenal dan memahami secara langsung dengan apa yang ada dalam kehidupannya atau dalam alam sekitar. Bahkan sejalan dengan model pembelaran tematik integralistik, sepatutnya semua materi pembelajaran akan sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga secara tidak langsung anak-anak akan mendapatkan pengalaman yang nyata dan mengesankan. Dampaknya justru pengetahuan benar-benar terpatri dalam pikiran, dalam sanubari dan tentu saja dapat diaplikasikan dalam dunia nyata mereka.

Konsep pembelajaran kontekstual akan memiliki banyak kelebihan apabila dibandingkan dengan sistem pembelajaran klasik, di mana guru sebagai sentral dalam proses pendidikan (teacher center) dan saat ini diarahkan dan berpusat pada peserta didik (student center). Dengan demikian guru tinggal mengarahkan dan selebihnya siswa-siswa yang berusaha memperoleh pengetahuan dengan obyek yang lebih nyata.

Pembelajaran secara kontekstual hakekatnya merupakan substansi, bahwa ada baiknya anak-anak memperoleh pengalaman yang langsung dia rasakan dan bukan hanya cerita-cerita yang sulit dipahami dan dipraktikkan. Misalnya tatkala saya ingin mengajarkan tentang seni lukis, saya berusaha mengaitkan pada materi lain sesuai dengan tema, dalam hal ini temanya adalah tentang alam sekitar. Karena obyek yang ingin anak-anak pelajari adalah melukis daun, maka anak-anak terlebih dahulu saya perkenalkan tentang karakter dan warna daun, jenis-jenis daun berdasarkan jenis atau golongannya, dan juga bagaimana melakukan kombinasi warna agar diperoleh warna yang serasi dan sesuai dengan benda yang ingin digambarkan.

Pada tahap permulaan, anak sudah kita memasuki wilayah pembelajaran IPA terkait bermacam-macam tanaman berdasarkan karakteristik daunnya, sehingga secara tidak langsuung pula anak sudah berusaha mengaitkan materi tersebut dengan pembelajaran seni lukis yang tentu saja jenis lukisan alami (bukan abstrak) anak akan mendapatkan pengalaman langsung, melihat, menyentuhnya dan tentu saja menggambarkannya dalam sebuah media kertas dengan kemampuan masing-masing.

Saya jelaskan secara simpel bermacam-macam daun dan karakteristik (ciri-ciri) daun berdasarkan golongongannya atua jenisnya. Setelah itu saya mempersilahkan kepada anak-anak agar mencari sendiri jenis daun yang mereka inginkan untuk kemudian dilakukan proses melukis dengan media yang sudah ada. Beruntung sekolah kami memiliki kebun yang luas dengan beraneka ragam tanaman sehingga anak-anak pun tak merasa kesulitan.

Tak seberapa lama, masih-masing anak sudah mendapatkan daun yang mereka inginkan untuk kemudian menjadi pola yang akan mereka jadikan obyek gambar.

Seiring anak-anak melakukan proses menggambar, anak-anak diarahkan agar dapat melakukan penggabungan warna sesuai dengan kebutuhan. Karena kebetulan media pewarna bukan cat air, jadi caranya dengan melakukan pewarnaan dengan beberapa kali dengan warna yang berbeda dan dapat dipadu padankan sehingga diperoleh warna yang sesuai.

Dengan pembelajaran ini, anak-anak terlihat lebih bersemangat dan tentu saja karena ada pergerakan fisik yang menjadikan tubuh anak dapat bergerak dengan leluasa. Selain itu anak tidak dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang belum sama sekali mereka kenali sebelumnya. Boleh saja bagi anak-anak normal karena kemampuan imajinasi yang tinggi, tapi bagi anak-anak penyandang disabilitas ada beberapakelemahan termasuk dalam hal imajinasi sehingga yang dibutuhkan adalah pengalaman nyata.

Sehingga jika kita ingin menggunakan pembelajaran kontekstual, kita akan mendapatkan beberapa manfaat nyata sebagai berikut:

1. Anak akan belajar tentang benda-benda secara langsung sehingga tidak sebatas gambar atau teori semata.

Pembelajaran dengan cara kontekstual, anak akan mempelari dan melakukan aktivitas belajar dengan media yang benar-benar nyata dan ada di sekitar mereka. Manfaatnya tentu saja anak akan memperoleh pengalaman langsung dan tidak sekedar sebuah teori-teori yang sulit dikenali.
Dengan kata lain, jika kita berusaha mendidik anak tentang seni lukis yang bermotif tanaman, tentu saja secara tidak langsung guru sudah memperkenalkan siswa-siswanya terhadap obyek yang lebih nyata, meskipun terkadang memang bagi sekolah yang tidak memiliki kebun yang luas mereka akan mengalami kesulitan dan hanya menggunakan gambar atau media lain yang bersifat abstrak.

2. Anak akan dapat mengaitkan beberapa materi pelajaran yang berbeda disesuaikan dengan tema yang tepat.

Dalam hal ini, dengan amat mudah guru secara langsung mengarahkan anak tidak berlajar pada satu obyek saja, akan tetapi mempelajari banyak obyek. Sehingga akan diperoleh hubungan yang saling berkaitan dan memperoleh banyak pengetahuan baru yang belum sama sekali mereka dapatkan.
Bahkan dalam pembelajaran tematik, satu tema akan berkaitan dengan banyak materi yang dikombinasikan menjadi satu kesatuan yang utuh. Anak tidak hanya belajar secara parsial tapi lebih dari itu anak diarahkan mempelajari sesuatu secara utuh atau komprehensif.

3. Anak tidak mudah jenuh (bosan) karena aktifitas belajarnya tidak terfokus pada satu obyek saja.

Pada dasarnya sifat anak-anak akan mudah jenuh dan bosan dalam belajar. Sehingga banyak anak yang mengeluh tatkala guru asyik-asyik menjelaskan pelajaran. Dan lebih dari itu ada di antara anak-anak ini yang biasanya bermain sendiri atau sibuk mengobrol dengan kawannya karena enggan memperhatikan. Tentu saja karena model pembelajaran yang membosankan dan bersifat satu arah. Guru menceramahi dan siswa mendengarkan.

14078639501251566460Anak tuna ganda (daksa dan grahita) yg tengah asik membuat gambar daun dengan motif daun singkong (doc.pribadi)

Tapi dalam pembelajaran kontekstual, anak justru lebih aktif dan kreatif menemukan hal-hal yang baru dan mempelajari suatu obyek secara lebih nyata dan mendalam dan dengan cara yang menyenangkan.

Karena mudahnya pembelajaran ini, ada di antara mereka yang justru tertarik dan ingin melakukan hal yang sama berulang kali karena merasa model pembelajarannya lebih baik dari biasanya.

4. Pembelajaran kontekstual memberikan pengetahuan lebih

Kelemahan pada pembelajaran yang terpusat pada guru biasanya anak-anak akan mudah sekali merasa bosan dan pengetahuannya tidak berkembang. Apalagi saat ini pada kurikulum 2013 sepertinya para siswa diarahkan belajar mandiri dengan media yang beraneka ragam. Tidak hanya dari segi pengetahuan saja, tapi pendidikan karakter yang baik pun sejatinya menjadi tujuan utama dalam proses pendidikan.

Sekelumit penggunaan model pembelaran kontekstual ini bisa jadi berbeda dengan cara yang satu dengan yang lainnya tergantung materi apa yang ingin dipelajari. Akan tetapi, meskipun ada banyak perbedaan yang pasti penggunaan model pembelajaran ini akan sangat membantu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan juga psikomotorik anak karena anak secara langsung mempraktekkan apa yang tengah dipelajarinya secara nyata.

Selain itu, seberapa besar kemampuan anak menyerap dan mengamalkan ilmunya tentu saja dikembalikan pada kondisi anak secara utuh, boleh jadi anak-anak disabilitas akan berbeda jauh hasilnya dari anak-anak pada umumnya karena terkait kelemahan intelegensi mereka.

Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!