Rabu, 23 November 2016

Mendut, Jajanan Tradisional Yang Hampir Punah

Mendut atau bugis adalah makanan tradisional yang sampai saat ini layak digemari (mujiyaulkhaq.wordpress.com)


Mayoritas masyarakat Indonesia amat sangat kental dengan jajanan tradisional. Meski dapat dibilang kuno, ternyata cita rasa yang dihadirkan dari jajanan kuno tersebut justru tidak dapat hilang begitu saja dari ingatan penikmatnya.

Jika hendak menilai betapa makanan yang asli hadir dari budaya dan kreatifitas olah rasa, sejatinya makanan tradisional tidak pernah akan lekang oleh waktu. Meskipun saat ini justru masyarakat sudah sangat dibui dan dininabobokkan oleh makanan siap saji (fast food) dan makanan instant yang berbahaya lainnya, akan tetapi keberadaan aneka makanan tradisional masih saja layak untuk dipertahankan.

Indonesia, sebagai bangsa yang memiliki akar budaya yang kuat, hakekatnya memiliki beraneka ragam kuliner dan hasil olahan yang sangat alami dalam arti tidak dicampuri dengan bahan-bahan pengawet yang justru amat berbahaya dalam jangka waktu yang lama jika penggunaannya tidak memperhatikan takaran yang layak untuk konsumsi. Karena lambat laun bahan kimiawi tersebut akan merusak organ-organ penting dalam tubuh manusia.

Selain karena berbahaya, hakekatnya makanan modern itu secara tidak langsung akan mematikan warisan leluhur yang ciamik dan nikmat ini lantaran tergulung oleh derasnya ombak kemajuan jaman yang cukup mengkhawatirkan.

Sampai detik ini, saya masih teringat dan sepertinya tak kan pernah melupakan si Mendut, jajanan yang menurut para tetua desa berasal dari masyarakat Jawa, meskipun secara detil asal-usul makanan ini masih dipertanyakan dari mana sebenarnya kudapan nikmat ini berasal.

Mendut, panggilan makanan tradisional yang dibuat dari bahan tepung ketan yang didalamnya berisi parutan kelapa dicampur gula aren atau gula jawa tersebut dan kemudian dibungkus daun pisang muda berbentuk seperti prisma segi empat yang cukup ciamik dan menarik.

Makanan ini kira-kira 30 tahun yang lalu adalah makanan wajib sebelum saya berangkat ke sekolah. Karena saat itu sang nenek memang penjual makanan tradisional satu-satunya di sekolah kami. Makanya wajar saja sampai saat ini memori nikmatnya si Mendut tidak dapat terlupakan.

Selain dijual bebas di pasar dan disekolah-sekolah, kudapan ini sering pula menghiasi piring-piring penduduk yang tengah mengadakan hajatan (bahasa jawanya ewoh) alias resepsi pernikahan atau acara khitanan. Bahkan ketika mengadakan kenduri dan slamatan makanan nikmat ini tidak pernah lekang dan selalu hadir berjajar dengan makanan tradisional lain.

Jika menengok lebih mendalam makanan tradisional ini, dan ketika saya mulai mencari-cari di mana saya dapat menemukannya, ternyata saat ini cukup sulit diperoleh. Baik di acara kondangan maupun di acara-acara rutin penduduk desa pun sudah tidak saya temukan. Saya beranggapan bahwa makanan ini mungkin mulai ditinggalkan oleh generasi muda lantaran karena banyaknya makanan siap saji dan modern yang meniru gaya luar negeri. Sehingga lambat laun makanan tradisional ini semakin ditinggalkan. Boleh jadi juga karena rumitnya cara membuatnya dan membutuhkan waktu yang lama.

Menurut pengalaman saya ketika mengamati cara pembuatan si Mendut ini, mulanya ketan digiling hingga halus (saat ini sudah ada tepung ketan yang beredar di pasaran) di campur air dan dibuat adonan untuk kemudian hingga pulen (kalis). Langkah selanjutnya menyiapkan parutan kelapa secukupnya dan cirampur gula merah yang digiling halus dan dicampur hingga merata warna menjadi merah. Setelah itu adonan tepung ketan tersebut dibuat bulat-bulat kecil. Kemudian adonan kelapa dan gula dimasukkan ke dalam adonan tepung ketan yang sudah tersedia. Setelah adonan ketan berisi campuran parutan kelapa dan gula kemudian dibungkus dengan sehelai daun pisang. Daun pisang sebelumnya sudah dijemur sebentar agar lebih lemas dan mudah digunakan. Agar adonan tidak lengket pada daun terlebih dahulu daun dilapisi minyak kelapa.

Jika proses tersebut sudah cukup, kemudian beberapa bungkus Mendut tersebut di masukkan ke dalam panci kukus selama kurang lebih 30 menit agar adonan benar-benar matang.

Pembuatan Mendut memang mudah bagi yang sudah terbiasa, akan tetapi memang tergantung membutuhkan waktu yang cukup lama dari proses hingga dapat dihidangkan. Boleh jadi karena proses yang rumit inilah jajanan yang gurih dan manis ini sudah mulai ditinggalkan.

Selain karena cara membuatnya cukup riweuh, bahan baku seperti ketan, kelapa sudah cukup mahal karena harga-harga yang melonjak tajam. Lain halnya dengan daun pisang dan gula aren, selain langka, harganyapun tak kalah mahal. Sebab inilah mungkin yang mengakibatkan sebagian penerus negeri ini yang sudah tidak berminat lagi melestarikan makanan tradisional ini.

Sedih juga sih jika mengingat nikmatnya ketika menikmati jajanan tradisional yang sehat dan tanpa bahan kimia ini.

Namun demikian, sejatinya rasa si Mendut tidak akan pernah dikalahkan oleh makanan modern. Sehingga sudah sepantasnya generasi muda melestarikannya sebagai kekayaan budaya dan tradisi negeri ini.

Polisi Bukan Musuh Kita, Mereka adalah Kita


Foto bersama polisi dan masyarakat dalam acara silaturrahmi dan sosialisasi (dok. pribadi)
Benarkah Polisi itu bukan musuh kita? Benar. Saya setuju sekali dengan pernyataan ini. Dan saya sepakat bahwa Polisi itu diciptakan untuk melindungi dan mengayomi.  Atau lebih simpelnya mereka adalah saudara kita. Yap, kitalah saudaranya, rakyat Indonesia. Mereka adalah bagian penting dari perjalanan kehidupan di negeri ini. 

Bukan hanya Polisi, Tentara pun adalah saudara kita. Mereka diangkat dan diperintahkan menjadi bagian dari rakyat Indonesia. Mereka selalu ada di depan ketika rakyat negeri ini berhadapan kengan tindak kejahatan. Semua adalah karena mereka menjadi pelindung ketika rakyat tak mampu lagi menghadapi kejahatan di jalan raya, atau ketika negara lain ingin menjajah.

Polisi dan tentara terlahir dari rahim para ibu yang juga banyak berasal dari wong cilik, karena kebanyakan mereka adalah keluarga-keluarga sederhana yang nekat ingin mengabdi menjaga bumi pertiwi. Mereka merintis karir dari bawah, dan mengabdikan seluruh jiwa dan raganya demi Indonesia yang aman dan tertib. 

Orang tuanya ada yang petani, nelayan, pedagang, guru, dan ada juga yang putra seorang tentara atau polisi juga. Tapi mereka benar-benar ingin menjadi bagian masyarakat yang menyatu. Bukan menjadi lawan dan musuh, tapi menjadi keluarga dan memperkokoh persatuan keluarga itu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagian kecil dari rakyat Indonesia mengikhlaskan diri berada di garda depan untuk melindungi negara ini. Baik Polisi, atau Tentara memiliki tugas yang sama-sama penting bagi kelangsungan negeri ini. 

Entah apa jadinya, jika tanpa mereka, boleh jadi bandit-bandit atau pelaku kejahatan semakin merajalela melancarkan aksinya. Dan siapa korbannya, tentulah kita masyarakat Indonesia. Tidak memandang suku, agama, ras dan golongan manapun mereka berasal. Jika rakyatnya merasa terancam maka kedua institusi Polri dan TNI menjadi bagian penting dalam melindungi rakyatnya.

Begitu pula apa yang disampaikan ketika acara ramah tamah dan silaturrahmi antara kepolisian dan  TNI dengan tokoh masyarakat, mereka selalu mengatakan "polisi dan TNI adalah penjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat. Tidak ada artinya keberadaan mereka jika rakyat tidak mendukung tugas polisi dan tentara." Atau justru rakyat membuat keonaran dan huru-hara, maka kerja keras polisi dan tentara tidak ada artinya. Coba saja bandingkan, berapa orang anggota kepolisian dan TNI kita, kalau dibandingkan dari keseluruhan rakyat Indonesia, maka tidak ada apa-apanya.

Nah, jika masyarakat tidak mendukung langkah Polri dan TNI, maka harapan terciptanya negeri yang adem ayem, toto tentrem, loh jinawi, baldatun thoyyibatun warobbun ghofur akan sulit tercapai. Boleh jadi mungkin sebagai anggota kepolisian merasa sudah mampu segala-galanya, begitu pula tentara karena memiliki senjata merasa sudah bisa melakukan semuanya, padahal tidak mudah melakukannya tanpa bantuan dan dukungan secara tulus dari rakyat negeri ini. Dengan kata lain tanpa dukungan  rakyat Indonesia yang beraneka latar belakang itu, maka pekerjaan mereka pun akan sulit tercapai. 

Acara pembinaan Polmas di Kota Metro (dok. pribadi)


Ketika kejahatan merajalela, rakyat pun harus membantunya

Di akhir dasa warsa ini, bahkan sepanjang waktu, sepertinya aneka masalah semakin melilit negeri ini. Seperti kejahatan di dalam negeri yang juga masih merajalela. Kejahatan di jalan raya, perampokan, pencopetan, pembegalan, penjambretan, penyelundupan obat-obat terlarang, pencurian dan kasus-kasus baru yang semakin lama semakin canggih cara melakukannya. Tak hanya dunia nyata, dunia maya pun kejahatan semakin merajalela. Itu semua adalah kejahatan yang nampak jelas ada di hadapan kita. 

Masyarakat dan Polisi bersama-sama memberantas peredaran Narkoba (foto saya dan pak Catur, Babinkamtibmas Kel. Sumbersari, Metro Selatan)


Kejahatan akan selalu ada di tengah-tengah kita, tapi kitalah yang harus mengendalikan agar kejahatan itu tidak menjadi penguasa.

Keadaan bisa saja terjadi, seorang penjahat tiba-tiba menguasai keadaan, rakya tidak berdaya, dan aparat pun seperti tak lagi bertaring karena ancaman dari bandit-bandit kejahatan itu, maka kondisi ini menjadi sungguh rumit. Seperti contoh, ketika seorang korban pembegalan melaporkan keadaannya kepada pihak aparat keamanan, tapi ternyata tidak mendapatkan respon lantaran ada ketakutan karena ancaman dari para pelaku kejahatan. Maka tidak ada jalan lain, rakyat harus siap membantu pihak keamanan demi ketertiban di masyarakat. Namun, kadang sikap skeptis masyarakat pun muncul dalam benak mereka, mengapa ada polisi dan tentara, jika rakyatnya masih tertindas. Ditindas oleh para pelaku kejahatan. Masyarakat menjadi panik dan takut untuk sekedar berniaga, apalagi memiliki harta kekayaan, karena mereka harus berhadapan dengan gerombolan pengacau keamanan. Bahkan ada yang lebih miris lagi mengatakan, mengapa saya lapor polisi, kalau lapor kehilangan kambing, maka saya akan kehilangan sapi. Sungguh memprihatinkan, bukan?

Melihat kondisi ini, maka semestinya aparat penegak hukum, baik Polisi maupun TNI bergandengan tangan dengan masyarakat. Bukan hanya masyarakat kelas menengah ke atas, karena masyarakat miskin yang termiskin pun seyogyanya dirangkul, agar mereka merasa peduli akan keamanan di negeri ini. Bukan justru masyarakat bawah ditinggalkan dan diperlakukan secara tidak manusiawi. Karena mereka yang kecil itu bisa menjadi penyebab terpelesetnya sesuatu yang lebih besar. Dekati yang kecil, merangkul mereka dan jangan dianak tirikanapalagi dianggap tak berguna sama sekali.

Masyarakat miskin dan kaya, sama kedudukannya di dalam hukum

Benarkah di antara kita juga merasa diperlakukan tidak adil? Yap, acapkali perlakuan tidak adil dialami masyarakat kita, seolah-olah kalau wong cilik layak untuk diperlakukan tidak  manusiawi. Bagaimana kasus-kasus kecil yang terjadi di tengah masyarakat kecil saat ini sepertinya sulit menemukan keadilan. Semua bukan tanpa sebab, karena ada di antara mereka penegak hukum yang bermain-main dengan hukum, mereka yang memiliki uang bisa dengan mudahnya memperlakukan hukum seperti mainan anak-anak. Dimanfaatkan sesuka hati seolah-oleh masyarakat kecil tidak tahu. Padahal mereka sebenarnya tahu, tapi hanya bisa melihat dan mendengar serta meratapi nasib mengapa hukum begitu kejam. Bahkan sampai-sampai muncul istilah hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, Meskipun tidak semuanya demikian, lantaran banyak juga hakim yang menegakkan hukum secara adil, meskipun bisa dihitung jari.

Namun demikian, apapun kedudukan dan kekayaan kita, semestinya polisi dan tentara yang merasa sebagai keluarga besar ini semestinya mendudukkan hukum dan keadilan berada posisi yang benar-benar seimbang. Tidak berat sebelah apalagi ekstrim dengan menindas dan memperlakukan masyarakat kebanyakan seperti musuhnya. 

Tidak ada artinya aparat penegak hukum, polisi dan tentara, jika orang tua mereka yang rata-rata masyarakat kebanyakan tidak diperlakukan seadil-adilnya. Karena masyarakat kebanyakan inilah polisi dan tentara itu selalu ada, mereka bertumbuh bersama masyarakat yang mengharapkan untuk diayomi dan diperlakukan secara arif dan bijaksana.

Salam


Senin, 07 November 2016

Belajar dari Anggun, Anak Berkebuhan Khusus yang Berjualan Makanan Ringan

Anggun, disela-sela istirahat, ia menjual kripik mantang (dok. pribadi)


Berbisnis atau mencari uang dengan aneka cara sepertinya mudah dilakukan, ya? Maka kita sering mendengar "Wah, kayaknya sudah biasa tuh Pak!" atau  "Kalau hanya berjualan tidak terlalu sulit." Yap, ternyata dalam benak kita tercipta imej bahwa melakukan bisnis atau mencari uang dengan cara tertentu cenderung dianggap mudah. Benar sekali.

Tapi, apakah kita pernah tahu, betapa kegiatan bisnis ini tidak mudah dilakukan oleh anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan segala kelemahan yang dimiliki, baik fisik, intelegensi, sosial emosional dan komunikasi turut memicu sulitnya melakukan aktivitas yang bisa menghasilkan uang ini. Mencari uang dengan cara yang halal dengan cara berniaga.

Bukan hanya bagi anak-anak berkebutuhan khusus, anak-anak normal saja kadang tidak mampu melakukannya. Entah alasannya "malas", atau memang mental yang belum terlatih atau terbentuk untuk mandiri. Jadi mereka beranggapan bahwa mencari uang sendiri adalah sesuatu yang sulit. Atau orang tua yang selalu menganggap bahwa belajar bisnis merupakan pekerjaan orang tua, sehingga tercipta imej negatif kalau anak-anak berjualan, maka itu adalah kesalahan. Bahkan ada yang menganggap kita telah merusak dunia bermain mereka. Padahal, dengan mereka belajar berbisnis, misalnya berjualan saja sudah merupakan kegiatan yang menyenangkan dan penuh tantangan.

Mereka mengenal materi tentang kemandirian, jual beli, uang dan pendidikan karakter untuk bermental jujur dan berani, tentu tidak lengkap rasanya jika tidak mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun kegiatan berjualan ini hakekatnya bukan wajib karena sebagai latihan, ternyata pengalaman yang berharga cukup membuat anak-anak ABK menjadi lebih mandiri dan berani melakukan komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Belajar bisnis dengan berjualan ala Anggun

Berbicara bisnis kayaknya terlalu keren, ya? Mungkin lebih tepatnya berjualan saja. Seperti apa yang dilakukan Anggun yang memiliki nama lengkap Anggun Krisnatara ini.

Anggun memiliki kelemahan dari segi fisik dan intelegensi serta emosi, para ahli pendidikan khusus menyebut mereka dengan tuna ganda yaitu memiliki aneka kelemahan. Dari segi fisik mereka mengalami hambatan, ditambah lagi dari segi intelegensi juga mengalami hal yang sama.

Menurut informasi guru yang menangani anak ini, kondisi Anggun terjadi sejak dini, sejak dalam kandungan sudah mengalami kelainan. Dan ternyata sejak usia dini itu, pasca disekolahkan di sekolah luar biasa, teridentifikasi anak ini termasuk dalam kategori tuna ganda (tuna daksa dan grahita).

Memiliki fisik yang kurang sempurna dan intelegensi yang rendah, ditambah lagi dengan kepercayaan dirinya yang juga kurang.

Keripik mantang (ketela rambat) salah satu makanan tradisonal yang renyah dan gurih (doc. pribadi)


Beberapa hari ini Anggun terlihat menenteng kantung plastik di bawa ke kelas-kelas ketika jam istirahat. Saya pikir Anggun tengah membawa bekal, tapi ternyata ia malah menjajakan keripik ketela (mantang) yang sudah dibumbui dengan bumbu pedas.

Saya tanya darimana dan untuk apa? Ternyata ia menjawab bahwa ia membawa makanan itu dari rumah dan ingin menjualnya. Kebetulan pagi ini menjual kripik mantang dan snack pedas lainnya. Saya terhenyak dan kagum, betapa anak yang dianggap lemah dan tak berdaya ini ternyata mampu menunjukkan diri bahwa ia juga bisa melakukan pekerjaan yang orang lain lakukan.

Perbungkus keripik mantang  dijual lima ratusan dan ada pula yang dua ribuan tergantung besar kecilnya bungkus. Pembeli tinggal memilih dengan harga yang sesuai. Saya memberi penghargaan pada anak berkebutuhan khusus yang ternyata telah mandiri dan mampu mencari uang. Dan saya karena kebetulan gemar dengan makanan tradisional saya memesan lima bungkus seharga dua ribuan. Saya serahkan uang sepuluh ribu dan ia berlalu sambil terlihat wajahnya senang karena usahanya bisa berhasil.

Anggun merupakan siswa dari keluarga penjual nasi di kampungnya. Boleh jadi ia ingin belajar bagaimana bisa berjualan seperti apa yang orang tuanya lakukan. Belajar untuk menuntut ilmu, dan mencari pengalaman berjualan dari orang tua tercinta. Intinya dia bisa menawarkan barang, menerima pembayaran dan memberikan kembalian jika uangnya sisa. Lebih utama lagi jika penghasilan hariannya bisa dicatat dalam buku agar pengeluaran dan pemasukan bisa terkontrol. Paling tidak selain belajar berusaha, uang hasil jualannya bisa untuk uang jajan atau disimpan untuk kebutuhan yang lebih penting lainnya.

Meskipun dalam lingkungan sekolah, ternyata anak ABK ini bisa memanfaatkan waktu kosong dengan berjualan. Tak peduli jika yang lain malah asik bermain dan bercanda dengan teman-temannya, sedangkan dia malah memanfaatkan waktu luang dengan berjualan.Namun demikian, meskipun ia berjualan, tentu kegiatan sehari-hari sebagai siswa di SLBN Metro merupakan aktivitas wajibnya saat ini, yaitu menggali ilmu dan mengembangkan diri agar menjadi siswa yang mandiri.

Memberikan peluang usaha bagi anak berkebutuhan khusus

Sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus hakekatnya bukan hanya lembaga yang mentransfer ilmu pengetahuan secara teoritis belaka, selain itu juga mendidik mereka agar bisa mandiri dan mampu mencari penghasilan  sendiri demi memenuhi kebutuhan hariannya. Jadi ketika mereka lulus mereka sudah tidak tergantung dengan orang lain.

Pun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan pemerintah, salah satunya lomba kewirausahaan yang beberapa kali telah diikuti, ternyata memberikan peluang pula bagi anak ABK untuk bisa menggali pengetahuan dan pengalaman dalam berwirausaha. Dengan kegiatan yang juga berbentuk lomba itu pun memberikan kesempatan bagi yang mendapatkan prestasi untuk bisa mengembangkan kemampuannya di kemudian hari.

Tentu dengan aneka peluang dan kesempatan serta tantangan untuk berwirausaha tentulah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dalam bentuk bantuan modal agar mereka bisa mengembangan usahanya. Salam

Rabu, 02 November 2016

Kegiatan Praktik Wawancara, dan Keterampilan Bertanya pada Anak Tuna Grahita


 
Anak-anak tuna grahita adalah anak-anak yang memiliki keterbatasan secara fisik, intelegensi, sosial dan emosional serta keterbatasan dalam berkomunikasi. Karena  mengalami aneka keterbatasan itu, anak-anak tuna grahita identik dengan kelemahan dalam melakukan interaksi sosial.  Dampak lain, turut mempengaruhi kemampuan mereka melakukan adaptasi dengan orang-orang di sekitarnya.

Moh. Amin (1991:37) dikutip dari Modul Guru Pembelajar, menjelaskan tentang karakteristik anak-anak tuna grahita sebagai berikut:
Karakteristik anak tuna grahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang perbendarahaan katanya, mengalami kesukaran berfikir abstrak, tetapi masih dapat mengikuti pelajaran akademik. Pada umur 16 tahun baru mencapai kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun, sebagian tidak mencapai umur kecerdasan seperti itu.

Dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa anak-anak tuna grahita mengalami aneka hambatan, khususnya dalam perbendaharaan kata dan keterampilan berbahasa, yang turut memicu persoalan mereka dalam bergaul dengan orang-orang sekitarnya. Sedangkan pergaulan semestinya bisa dilakukan oleh mereka agar bisa berkembang secara bertahap sesuai dengan batas kemampuannya, dengan mempelajari aneka pengetahuan dari orang lain seiring dengan pergaulan dan interaksi yang dilakukannya.

Berdasarkan fenomena keunikan anak-anak tuna grahita, khususnya tuna grahita ringan, ternyata sejauh ini kesukaran demi kesukaran pada umumnya bisa ditemukan solusi yang tepat. Salah satunya dengan cara mencari alternatif lain bagaimana mengatasi kesukaran-kesukaran itu dengan aneka media dan metode pembelajaran. Media dan metode pembelajaran disajikan dengan perencanaan yang tepat dan sistematis, agar proses pembelajaran bisa berhasil dengan optimal. Adanya perencanaan yang tepat, ditunjang dengan proses pembelajaran yang juga menarik dan menyenangkan akan lebih sempurna jika anak-anak bisa mempraktekkannya sendiri. Baik dengan bimbingan guru maupun secara mandiri.

Pada mata pelajaran bahasa Indonesia, karena saat ini inheren dengan tema-tema tertentu (tematik), ternyata menuntut anak-anak tuna grahita untuk bisa menggali informasi dari orang-orang di sekitarnya. Salah satu kegiatan adalah siswa mampu menggunakan kalimat tanya, atau bertanya dengan bahasa yang tepat dan jelas. Meskipun hal ini agak sulit dilakukan, ternyata dengan pembiasaan yang tepat bagaimana menggunakan kalimat tanya, secara langsung dan tidak langsung anak-anak tuna grahita bisa memperkaya perbendaharaan kata yang selama ini amat sedikit mereka kuasai. Selain itu meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar kalimat pertanyaan dan mampu menjawab secara tepat.

Menggunakan kalimat tanya secara tepat dan efektif pun harus diiringi dengan sikap sopan santun terhadap orang-orang yang hendak ditanya. Aspek nilai karakter sebenarnya tetap seiring sejalan dengan pembelajaran bahasa Indonesia di mana di dalamnya seorang siswa mampu menggunakan kalimat tanya dengan bahasa yang runtut dan teratur. Selain itu intonasi dalam mengucapkannya tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Bagaimana mereka harus menggunakan nada rendah atau tinggi sesuai dengan kaidah yang benar.

Selain  selain terkait kelemahan dalam berbahasa, imbas dari kelemahan yang di sebutkan di atas, ternyata meskipun kosa kata sudah banya dipahami dan dikuasai, ternyata sekian banyak kosa kata itu pun ada yang tidak semuanya bisa menerapkannya dalam proses tanya jawab. Maklum karena kebanyakan anak-anak tuna grahita sulit menggunakan kalimat dengan frase yang panjang, tapi kebanyakan menggunakan kata-kata yang dieja satu persatu untuk menemukan satu pemahaman utuh.

Namun demikian, pada kelas VII, meskipun anak-anak tuna grahita memiliki keterbatasan dalam berbahasa, ternyata dengan latihan dan bimbingan mereka bisa melakukannya, meskipun dengan bahasa yang masih kurang runtut.


Pengenalan wawancara dan melakukan praktik sederhana

Seperti materi-materi lain dalam pelajaran bahasa Indonesia, kemampuan menguasai kosa kata menjadi sangat penting adanya, karena dengan penguasaan kosa kata yang baik, proses komunikasi menjadi lebih terarah dan tepat sasaran.

Begitu pula dengan wawancara, penulis memperkenalkan pengertian wawancara, bagian-bagian wawancara, jenis wawancara dan cara melakukannya. Selain secara teori dan praktik diperkenalkan, media audio visual (video) yang diunduh dari internet, tentang contoh wawancara, menjadi bagian penting dalam mengajarkan mereka melakukan wawancara dengan baik.

Dalam hal ini guru menunjukkan beberapa kata tanya yang dibutuhkan dalam proses wawancara tersebut. Di sini masih ditekankan pada kata tanya: Apakah, Berapa, Dimana, dan Siapa. Sedangkan untuk "Bagaimana" dan "Mengapa" masih belum ditekankan karena dalam kategori sulit. Bagaimana dan mengapa hakekatnya tergolong pada kemampuan menganasis situasi atau keadaan. 

Adapun contoh kalimat tanya disajikan dengan cara yang mudah. Misalnya: Berapa kakimu? Berapa umurmu? Apakah itu? Apa namanya? Dimana rumahnya?, dan Siapa kamu?. Pertanyaan-pertanyaan itu cukup sederhana jawabannya. Meskipun bagi anak-anak normal dianggap mudah, bagi anak-anak tuna grahita acapkali terlihat sulit melakukannya.
Meskipun demikian, karena anak kelas VII memiliki tingkat pemahaman tentang kalimat tanya cukup bervariasi, ternyata ada di antara mereka yang mudah menggunakannya. 

Praktik wawancara sederhana

Salah satu kegiatan untuk mengenalkan siswa tentang penggunaan kata dan kalimat tanya, juga diperkenalkan tentang wawancara. Yaitu pewawancara, atau orang yang melakukan wawancara, orang yang diwawancarai dan materi wawancara. Untuk yang melakukan wawancara, semua siswa melakukannya, baik secara mandiri, maupun dilakukan secara berkelompok. Yakni siswa yang mampu membimbing siswa lain yang belum menguasai. 

Sedangkan untuk orang yang diwawancarai adalah guru-guru dari kelas lain yang kebetulan bersedia diwawancarai. Untuk materinya atau tema atau topik wawancara guru menentukan dengan pertimbangan kemauan siswa.  Siswa bisa memilih topik sendiri yang dianggap mudah. Jenis wawancaranya terstruktur, jadi pertanyaan yang ditanyakan sudah tersusun dengan rapih.

Simpulan

Berdasarkan beberapa teori dan praktik yang telah dilakukan, ternyata dengan menggunakan metode parktik wawancara, secara umum anak-anak tuna grahita mampu melakukan tanya jawab, baik dengan bimbingan, maupun tanpa bimbingan. Dengan individual maupun secara kelompok, di mana salah satu anggota kelompok adalah sebagai tutor sebaya yang memiliki kemampuan lebih di antara anak-anak lainnya.

Selain kemampuan mereka dalam melakukan wawancara, ternyata anak-anak semakin terbiasa menggunakan kalimat tanya dengan tepat baik dalam kegiatan bersama teman-teman sekolahnya, juga kepada guru dan masyarakat di sekitarnya. Salam






Jumat, 28 Oktober 2016

Anda Mau Demo Ahok? Perhatikan Hal-hal Ini!



Umat Islam tengah berdemo menuntut ditangkapnya Ahok atas penistaan Agama (tribunnews.com)    



Boleh jadi inilah reaksi yang paling bersejarah bagi umat Islam di Indonesia, ketika ayat Al Qur'an dilecehkan ternyata hingga detik ini berbuntut panjang. Umat Islam, meski tidak semua turun ke jalan, turut menyuarakan ditegakkannya hukum atas penghinaan itu. Dari beberapa daerah mereka berkumpul dan bersatu pada tujuan yang sama, menegakkan kebenaran dan melenyapkan kezaliman. 

Semoga suara umat Islam yang menghendaki adanya keadilan dan dihapuskannya segala bentuk penistaan kepada agama manapun bisa berdampak positif bagi kelangsungan kehidupan negara ini. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati, harga yang mahal untuk diperjuangkan dengan segala macam ujian yang datang. semestinya semakin memperkokoh makna persatuan dan kesatuan dalam perbedaan.

Konflik horizontal yang tidak brutal, adalah bagian terpenting dari penegakan demokrasi, sama seperti Bung Karno bilang, konflik-konflik di negeri ini adalah sebuah ekses yang tidak dapat dihilangkan begitu saja sebagai bagian dari penegakan nilai-nilai Pancasila dan ke-Indonesia-an. Terutama bagi ditegakkannya nilai-nilai penghormatan terhadap Pancasila sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Es dan Sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Segala macam bentuk "penghinaan" atas nilai-nilai Ketuhanan semestinya dihilangkan dengan ditegakkannya keadilan tanpa pandang bulu. Bukti bahwa bangsa ini menghormati Pancasila adalah berpegang teguh pada dasar-dasarnya, dan salah satunya adalah menghormati adanya agama-agama di Indonesia termasuk larangan melakukan pelecehan dan penghinaan pada agama yang ada di negeri ini. Sekali kita memahami dan meyakini ini, maka insyaAllah Pancasila akan tetap berdiri kokoh di bumi pertiwi tanpa pertumpahan darah karena kesalah pahaman yang terjadi.

Konflik adalah sebuah kenyataan hidup dalam sebuah negara besar, tak hanya dalam negara yang besar ini, dalam lingkungan keluarga kecil saja konflik selalu saja ada. Semua bukan tanpa maksud dan tujuan agar penghuni rumah itu menjadi lebih dewasa dan mampu menyelesakan persoalannya dengan arif dan bijaksana. Apalagi rumah bersama Indonesia, tanpa riak sepertinya negeri ini seperti taman yang tanpa penghidupan. Tapi jika riak-riak itu tetap ada, justru semakin memperkokoh nilai persatuan dan kesatuan, maka itulah hakekat masyarakat yang dewasa.

Terlepas dari retorika di atas, kiranya tanggal 4 Nopember 2016, umat Islam hendak menyuarakan dukungan untuk diadilinya Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) salah satu kandidat Cagub DKI Jakarta, atas pelecehan yang dilakukannya.

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan dalam proses penyuaraan aspirasi umat Islam ini, sebagai berikut:

1. Aksi tersebut murni dakwah

Yang perlu dipahami bahwa dalam menegakkan agama Allah semestinya tetap memegang prinsip dakwah, dimana dakwah selalu dijiwai semangat kebersihan jiwa. Meredam segala macam emosi yang bisa berdampak pada aksi sosial dan kerusuhan. Karena dengan meniatkan diri ingin berdakwah, maka semua murni menunjukkan bukti bahwa umat Islam adalah umat yang mencintai kedamaian, tidak menyukai huru-hara dan ingin mendukung ditegakkannya hukum sesuai undang-undang yang berlaku.

Demo mesti semangat, tapi jangan sampai melampaui batas, jangan melupakan pesan Rasulullah bahwa dalam berdakwah tidak menyakiti siapapun, karena Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.

2. Aksi ini jangan dicampuri urusan politik

Kita menyadari bahwa saat ini DKI Jakarta tengah disibukkan dengan hajat Pilkada, di mana semua calon yang bertanding  ingin memperoleh suara sebanyak-banyaknya dengan cara-cara politis. Dan kebetulan penghinaan Al Qur'an dilakukan oleh calon gubernurnya. Apa lacur karena kondisi ini membuat situasi menjadi semakin sulit membedakan, apakah murni menegakkan hukum karena pelecehan Al Qur'an atau justru karena ulah segelintir orang yang ingin merusak citra Islam dengan politik adu domba.

Jika aksi demo murni karena rasa sakit hati lantaran agamanya dihina, maka sekedarnya saja dan berharap agar pemerintah melalui lembaga penegak hukum bisa menegakkan hukum seadil-adilnya. Siapapun yang berperkara mesti dijatuhi sanksi yang setimpal.

3. Waspadai Adanya Sekelompok Penyusup

Di saat masih jadi mahasiswa, saya selalu melihat adanya aksi demonstrasi yang awalnya tenang dan damai tiba-tiba menjadi huru-hara dan amuk massa. Ternyata awal mula kekisruhan itu karena ada segerombolan orang yang ingin membuat kekacauan. Mereka memanfaatkan situasi kelengahan peserta demo dengan melakukan aksi infiltrasi dan membuat kegaduhan. Dalam situasi gaduh maka kondisinya juga tidak terkendali. Maka beberapa gelintir orang yang berusaha memancing di air keruh berusaha mengendalikan situasi agar menjadi lebih runyam. Seperti misalnya tiba-tiba ada yang melempar batu ke arah aparat. Maka keadaannya bisa diprediksi, kekerasan pasti akan terpicu dan situasinya menjadi chaos. 

Tetap tenang dan awasi setiap gerak-gerik orang-orang ikut dalam aksi demonstrasi, jangan sampai aksi yang damai ini justru merusak semuanya. Umat Islam yang sudah benar dalam posisinya harus berkonfrontasi dengan aparat kepolisian karena ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan.

 4. Pastikan bahwa aparat kepolisian, menandatangani kesepakatan untuk segera mengadili pihak-pihak yang bersalah. 

Point ini adalah penting, karena apapun bentuk demonstrasi atau unjuk rasa jika tidak menghasilkan apa-apa untuk apa dilakukan. Hanya menghabiskan energi dan uang serta kepanikan di masyarakat. Adapun point pentingnya agar pemerintah segera menuntaskan kasus ini menjadi agenda terpenting. jangan sekedar pamer massa dan teriakan-teriakan atau orasi yang terkesan sia-sia belaka. Meski demikian, kembali pada niat awal adalah unjuk rasa damai, maka tanpa banyak basa-basi keinginan yang pokok akan bisa tercapai dengan damai tanpa kekisruhan dan huru-hara.

Semoga bangsa Indonesia semakin dewasa dan tidak mudah terprovokasi hal-hal yang negatif, dan muncullah pemahaman bahwa tidak  ada tempat di negeri ini bagi orang yang suka menistakan agama.

Salam damai

Jumat, 21 Oktober 2016

Pernahkan Anda Merasa Wajah Anda Seperti "Tersalah"? Lakukanlah Ini!

www.sodahead.com

Pernahkah Anda mengalami sikap skeptis, apatis, atau bahkan paranoid? Atau Anda malah menjadi biang keladi atau penyebab orang lain mengalami gangguan mental ini? Jika Anda penyebabnya, segeralah bertobat sebelum terlambat dan janganlah menjadi duri yang menancap dalam daging. Kehadiran Anda justru akan menjadi musibah bagi kebahagiaan orang-orang di sisi Anda. Sebaliknya jika Anda sebagai korban, berharap kondisi Anda akan pulih sedia kala.

Situasi di mana merasa dikucilkan, dianggap orang yang aneh, atau dianaktirikan lantaran perbedaan fisik, terutama wajah Anda? Jika pernah, mudah-mudahan cukup sekali saja Anda merasakan hal itu. Sebab, betapa tidak enaknya hidup ini,  di mana pun kita berada, orang-orang di sekeliling kita selalu menaruh curiga. Bawaannya sensi melulu. Dan yang lebih aneh lagi, keberadaan kita yang masih baru, seolah-olah adalah orang yang paling dibenci dan tak layak hidup deh pokoknya. Jadi kemanapun kita merasa terasing.

Kayaknya tersiksa banget ya dengan keadaan ini? Ya iyalah. Gimana sih, lah kita dijauhi dan dimusuhi kog enak!? Bukannya senang justru senep alias perut mules. Kita berusaha membaur, eh ternyata ada pihak-pihak yang takut tersaingi oleh keberadaan kita. Jadi orang-orang parno tersebut berusaha menjauhkan kita dari komunitas atau masyarakat di lingkungan di mana kita berada.

Entah, kenapa mereka melakukan itu. Apakah keberadaan kita mengganggu? Ah tidak. Apakah kita akan merugikan mereka? Tidak juga. Atau karena wajah kita yang misterius atau sudah kadung mendapatkan stempel "jahat"? Boleh jadi sih. Tapi, betapa penilaian sepihak itu sangat tidak masuk akal, bukan?

Kita adalah orang yang baru dikenalnya, mengapa tiba-tiba dimusuhi dan dijauhi. Belum lagi yang membuat kita tidak habis pikir, keberadaan kita juga tidak merusak, apalagi merugikan orang lain dan kita selalu berusaha menjadi orang yang respek dengan orang-orang di sekitarnya. Dan tentu saja karena kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.

Alasan apakah yang sebenarnya memicu orang-orang menjauhi Anda? Apakah "tampang" atau penampilan Anda yang misterius dan menakutkan, cuek, gak mau senyum alias cemberut melulu, dan boleh jadi mungkin Anda orangnya bawel dan ketus?

Kalau faktor tersebut tentu Anda harus mawas diri. Betapa kondisi itu mesti dijauhi dan berubah menjadi diri Anda yang disukai. Muncul pertanyaan "Apakah itu tidak melawan kodrat atau bawaan yang "katanya" memang misterius dan menakutkan?" Wah terlalu berlebihan sepertinya.

Boleh jadi juga karena Anda adalah sosok yang wajahnya terlalu serius dan selalu menanggapi sebuah candaan dengan serius. Ketika orang bilang "Halo, Mbak yang cantik."  Tiba-tiba wajah yang berbentuk segitiga pun muncul, dan mulut kita mengomel dan nyerocos tak ada berhentinya. Dan keluarlah kata-kata "Apa sih, Lu? Dasar kampungan!

Padahal jika kita mudah bergaul, cukuplah dengan mengatakan "Pagi Bapak... Ah Bapak ini. Jangan begitu, nanti ibu marah, loh! Atau pernyataan lain yang cukup bisa mengerem candaan agar tidak berlebih-lebihan.

Jika yang keluar dari lisan Anda justru kata-kata kasar, kayaknya sikap ini amat sangat terlihat sekali bahwa Anda amat eksklusif. Jadi berusaha menghindar dari orang lain dengan harapan hal-hal yang menjadi hak atas diri Anda tidak diganggu oleh orang lain. Atau memang sikap egois dan sombong yang mungkin muncul serta menganggap orang lain lebih rendah.

Dengan mengatakan "dasar kampungan", adalah sebuah penolakan terhadap sikap seseorang yang boleh jadi respect terhadap diri kita. Tak hanya penolakan, tapi sebuah pergeseran nilai akan kesopanan. Jka menganggap orang-orang di sekitar kita lebih rendah derajatnya atau secara ekonomi jauh berbeda, hingga berujung pelecehan atas martabat dan harga diri orang lain. Tentu sikap ini sangat tidak patut. Apalagi kehidupan kita berada di antara orang lain. 

Dengan menolak kehadiran orang lain dalam kehidupan kita tentu ini adalah hal yang aneh. Meskipun Anda menganggap ini adalah hak, tapi Anda akan berada dalam situasi sulit untuk bersosialisasi, anti sosial dan tentu saja dijauhi oleh masyarakat. Nah, kalau sampai begini kan jadi repot. Dan tentu saja ada hak-hak orang lain yang semestinya Anda penuhi. Bahkan boleh jadi adalah kewajiban sebagai bagian masyarakat untuk saling menghormati dan menghargai.

Merasa dijauhi dan dimusuhi atau merasa paling bodoh?

Menjadi pribadi yang dijauhi memang tidak menyenangkan hati. Apalagi dimusuhi dan difitnah ini itu yang kita tidak tahu duduk persoalannya. Kecuali memang kita adalah sosok yang suka berbuat onar, menipu dan aneka kesalahan yang membuat orang lain tersinggung dan tersakiti oleh tangan atau mulut kita. Tentu ini adalah kesalahan yang semestinya dimintakan maaf.

Kadang kita berpikir bahwa kita adalah sosok yang paling kecil, atau sosok yang paling bodoh dan lain sebagainya stempel negatif yang cenderung muncul dengan sendirinya. Padahal tidak ada yang paling kecil atau paling bodoh di dunia ini, lantaran semua manusia itu sama. Hanya saja tingkat pengetahuannya berbeda-beda, dan pengalaman orang lain tak sama. Kadang di satu sisi kita mempunyai kelebihan tapi disisi lain justru kekurangan.

Atau sebaliknya, kita terlalu jumawa, merasa paling hebat dan mengerti akan banyak hal. Padahal tidak ada manusia yang paling mengerti karena kemampuan manusia itu amat terbatas. Ibarat seorang dosen, bukan berarti dosen itu terlalu pandai, tapi karena mereka sudah lebih dahulu belajar dan menuntut ilmu dan sudah banyak buku yang dibaca, jadi bukan seolah-olah paling tahu segala-galanya. Dan mahasiswanya pun boleh jadi malah memiliki pengetahuan yang lebih pada hal-hal tertentu.

Itulah manusia, tidak ada yang paling sempurna karena semua manusia mempunyai kekurangan.

Pernah suatu ketika penulis dicuekin, tak diajak bicara dan dijauhi. Halah sakitnya tuh disini. Enek opo sih rek, kog aku didohi ngono? Kenapa sih kog saya dijauhi? Apa salah saya? Apa dosa saya? Lah malah kayak sinteron. Padahal asal muasalnya karena "belum saling mengenal satu sama lain." Jika Anda muda-mudi, jangan berharap bisa akrab jika belum mengenal satu sama lainnya. Syukur-syukur mengenal secara dekat baik identitas pribadi maupun karakter kepribadian kita. Karena kalau saling mengenal maka masing-masing pihak bisa mengontrol diri - tidak lepas kendali.

Tidak pelit memberikan senyuman meski pada orang yang baru dikenal. Menyapa terlebih dahulu agar orang tahu kita respek pada orang lain, dan jangan pernah meminta orang lain respek kepada kita, karena itu egois namanya. Bolehlah kita mengalah untuk menyapa orang yang baru dikenal untuk kemudian bisa saling menyapa. Mudah-mudahan responnyay positif. Nah, jika responnya negatif maka lebih baik undur diri daripada berujung yang lebih buruk lagi. Sambil mengatakan "maaf".

Orang menganggap wajah kita "salah" boleh jadi memang sikap negatif orang-orang di sekitar kita. Boleh jadi karena trauma dengan wajah kita. Seperti misalnya wajah saya yang agak misterius, maka orang pun akan acuh karena kawatir salah ucap. Pernah pula orang tak bertanya untuk beberapa saat lantaran menganggap wajah kita mirip orang yang selama ini dibenci. Jadi kita menjadi korban dari perbuatan orang lain yang tidak kita kenali. Atau boleh jadi mereka menganggap wajah kita "buruk" jadi mereka akan antipati dan menjauhi. Atau menjadi paranoid takut apa-apa terjadi pada mereka. 

Padahal semua itu amat jauh dari sikap dan karakter kita yang sebenarnya. Tapi karena mereka belum sepenuhnya mengenal kita, maka semestinya dimaklumi. Sapa terlebih dahulu dan ajaklah berdiskusi akan hal-hal yang sepele untuk membuka ruang berfikir bahwa kita bukan siapa-siapa dari orang yang dibenci itu. Dan yakinlah bahwa keberadaan kita akan membuat mereka merasa aman.

Tetaplah menjadi pribadi yang baik, baik menurut tatanan masyarakat di sekitar. Ibarat dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Dimana kita tinggal, maka adat istiadat di daerah setempat pun semestinya kita hargai dan hormati. Seandainya memang wajah kita "buruk", tetap tunjukkan bahwa kita memiliki kepribadian yang baik dan bertolak belakang dari buruknya wajah kita ini. Wajah boleh buruk tapi hati kita baik. Wajah boleh seram, tapi kepribadian kita menarik untuk orang lain. Ketika wajah kita dianggap ancaman, maka tunjukkan bahwa kita adalah makhluk atau hamba Tuhan yang suka membantu dan menolong. Dengan cara ini maka eksistensi kita akan diakui dan dikenal sebagai pribadi yang baik pula. Salam

Kamis, 20 Oktober 2016

Membedah Mitos Film, Kalau Tak "Hot" Maka Tak Laku

Film Habibie dan Ainun menjadi film yang sangat menginspirasi bagaimana merajut kehidupan dgn kesetiaan (Gambar : bimbingan.org)



Dunia per-film-an di Indonesia saat ini semakin terlihat geregetnya. Aneka film bermunculan bak cendawan di musim hujan. Film dengan format yang sungguh apik dikemas sedemikian rupa agar penikmatnya semakin kesengsem dan terpesona hingga menjadikan film yang diproduksi tersebut laris manis di pasaran.

Produser, sutradara dan pemerannya sekaligus terlihat antusias menciptakan jenis film yang benar-benar "layak jual". Maka dibuatlah jenis film yang menggoda. Seperti apa gerangan film yang dibutuhkan masyarakat abad ini? Dan ternyata dunia perfilman ingin kembali menonjolkan diri pada kultur sensitifitas. Sesuatu yang sensitif sengaja di blow-up agar masyarakat menjadi terhibur dan tentu saja film menjadi laku. Sayang sekali aspek yang sensitif itu bukannya hal-hal yang baik, ternyata justru yang dilarang oleh keyakinan agama dan tata aturan di masyarakat kita.

Apa yang dibilang sensitif itu? Pornografi dan pornoaksi dan kekerasan menjadi sebuah trend. Amat sering kita melihat film-film yang dibuat ternyata mengundang kontroversi, seperti banyaknya memamerkan adegan mesum atau mengumbar aurat? Seperti yang sampai saat ini laris manis seperti film Warkop DKI? Di mana beberapa tahun silam ketika dua tokoh yang saat ini sudah tiada, masih eksis di belantika film Indonesia, Dono, Kasino dan Indro. Sebelum Dono dan Kasino wafat, Film Warkop sempat merajai film di Indonesia. Tak tanggung-tanggung penontonnya bisa berjuta-juta orang. Bahkan karena begitu antusiasnya penonton ingin melihat film mereka, membuat orang berlomba-lomba membuat bajakannya, film yang laris manis itu banyak di jual bebas di lapak-lapak pasar meskipun yang dijual adalah melanggar hak orang lain alias ilegal.

Kita boleh bangga dengan Film Warkop DKI yang booming pada masanya, dan 2016 ini film tersebut diciptakan kembali demi memuaskan hasrat penonton untuk melihat film nasional yang menarik para fansnya itu. Film Warkop DKI Reborn pun dibuat dan ternyata antusiasme masyarakat begitu tinggi hingga dalam beberapa kali tayang, jumlah penonton tercatat 6 juta orang. (hot.detik.com)

Inilah magnet yang cukup kuat menarik ambisi produser film untuk membuat film dengan genre komedi. Film komedi yang tidak lagi murni karena justru dibumbui oleh adegan erotis. Kita bangga dengan prestasi gemilang generasi muda Indonesia dalam memproduksi film, tapi trenyuh lantaran film-film tersebut justru meracuni generasi muda dengan erotisme.

Film genre komedi yang semestinya cukuplah memerankan adegan yang lucu-lucu ternyata turut menitipkan pesan perlawanan terhadap ide-ide moralitas. Dan anehnya pemerintah kala itu juga membiarkan film-film erotis itu tetap berproduksi tanpa mendapatkan teguran. Seandainya mendapatkan teguran hanyalah omong kosong. Karena meskipun banyak pihak menentang dan memprotes ternyata film-film porno tersebut masih saja diproduksi. Boleh jadi karena kala itu aksi suap di jajaran pemerintahan cukup memprihatinkan. Ironi dan sungguh aneh ternyata.

Tapi itulah fenomena film Indonesia yang selalu saja dibumbui oleh erotisme. Adegan mesra, cabul, porno dan mengundang syahwat menjadi salah satu ikon penting pembuatan film di masanya. Entah, apakah karena faktor meniru film-film barat a la Holywood yang ternyata laris manis di pasaran karena mempertontonkan adegan tidak senonoh itu? Dan ternyata benar anggapan produser selama ini, bahwa pangsa pasar konsumen film ini acapkali terpancing untuk melihat hal-hal yang sensitif tersebut dibandingkan melihat film yang cenderung mengajak kepada kebaikan.  Dan gayung pun bersambut, karena melihat antusiasme penonton begitu tinggi dan berdampak pada perolehan pundi-pundi uang maka mereka menganggap bahwa "hanyalah dengan menampilkan adegan "hot" maka film itu laris di pasaran".


Pernahkah kita menganggap bahwa jika film-film itu tidak cabul maka film itu tidak laku? Sepertinya sebagian produser dan penikmat film beranggapan demikian. Padahal banyak film dengan genre history atau sejarah dan petualangan yang jumlah penontonnya tak kalah membludaknya. Misalnya film Habibie dan Ainun. Film yang menceritakan sejarah kehidupan mantan Presiden RI tersebut ternyata tidak kalah dengan film-film "hot" lainnya. Menurut beberapa media jumlah penonton sepekan tayang mencapai 4,2 juta orang. Film Habibie dan Ainun cukup membuat sejarah bahwa masih banyak penonton yang respek dengan film-film "sopan" dan menginspirasi. Dan diproduksi skuel film Rudy Habibie, turut menarik perhatian penonton yang juga banyak. Ketika tayang saat lebaran 2016 bisa tembus 1,8 juta penonton. Dan boleh jadi hingga tahun 2016 ini penontonnya lebih banyak lagi.

Belum lagi film Laskar Pelangi yang juga mengundang anutisias penonton. Tak hanya dari Indonesia karena dari luar negeri pun peminatnya cukup banyak sampai tembus 4,8 juta orang, membuat kesan baru dari film yang dibuat di Indonesia ini.

Meskipun rekor film Habibie dan Ainun, Rudy Habibie dan Laskar Pelangi  masih kalah dengan film Warkop DKI Reborn, ternyata fakta membuktikan bahwa bangsa kita masih mencintai film-film yang lebih menginspirasi dan bukan sekedar hiburan semata apalagi film yang justru mengundang syahwat.

Mengembalikan kiblat film Indonesia yang lebih bermartabat

Film adalah hasil karya yang cukup digemari. Namun demikian film juga adalah sebuah kerja yang penuh dengan kemungkinan antara laku dan tidak laku dijual ke pasaran. Para produser film bermain spekulasi bahwa dengan film yang menarik mereka akan meraup penonon yang berjibun. Kalau penontonnya berjibun maka otomatis bisa mendulang pundi-pundi uang yang juga banyak.

Uang adalah semata-mata keinginan yang diperoleh. Meskipun tidak menutup kemungkinan para pembuat film tersebut memiliki niat atau rencana yang penontonnya tidak tahu apa di balik pembuatan film tersebut.

Jika melihat aneka film yang bergenre erotis tentu menjadi perhatian tersendiri, bahwa selama ini masyarakat terpedaya oleh ungkapan bahwa kalau tidak hot maka film itu tidak bagus. Padahal faktanya film juga bukan semata-semata berorientasi seksualitas karena banyak pula film-film bagus dan sopan yang juga tak kalah penontonnya.

Memproduksi film yang hanya berorientasi materi memang acapkali tidak mengindahkan nilai-nilai immateri (moral). Mereka hanya melihat film dari sisi seberapa banyak penonton yang tertarik tapi tidak menimbang seberapa besar dampak yang ditimbulkan jika film itu benar-benar sudah diedarkan. Dan ini sering terjadi dan boleh jadi hampir semua jenis film di abad ini kalau tidak porno atau erotis tidak akan diproduksi. Seandainya ada yang memproduksi itu hanya kalangan tertentu saja yang mau. Selebihnya adalah pembuat film yang hanya mementingkan materi semata.

Tak hanya film komedi yang justru di bumbui adegan erotis, karena dalam film-film horor abad ini tak kalah mengerikannya. Hampir semuanya adalah film erotis. Penulis tidak bisa menyebutkan satu persatu karena jika mau melihat, ternyata adegan erotis menjadi tayangan wajib bagi mereka.

Aneh dan menggelitik. Bahwasanya kehadiran media penghibur itu justru dibumbui oleh kejahatan yang luar biasa yang akan menimpa generasi muda. Tayangan yang justru meninggalkan noktah kerusakan moral ini dibiarkan begitu saja bertumbuh di tengah-tengah negeri ini yang bergelut dengan persoalan moral. Pelecehan seksual, pemerkosaan dan aneka kejahatan yang semakin membuat miris. Kejahatan di abad ini semakin meningkat sedikit banyak berimbas oleh adanya tayangan yang tidak mendidik tersebut.

Padahal, seberapa besar perhatian pemerintah, MUI dan lembaga sensor film akan berdampak pada jenis dan bentuk film yang beredar. Semakin sedikit peran pemerintah menanggulangi film-film tak layak itu maka akan semakin memperparah rusaknya generasi muda. Dan yang paling penting adalah sikap para produser agar tidak semata-mata ingin meraup keuntungan semata tanpa mengindahkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!