Minggu, 09 November 2014

Pembina Pramuka, Guru Moral Penuh dengan Amal

Pembina pramuka dalam acara jambore nasional di cibubur th 2014


Ada yang sedikit terlupakan di hari ini, bukan karena tanggal 14 Agustus hari Pramuka yang setiap tahun kita peringati, dan menjelang peringatan hari Proklamasi 17 Agustus esok lusa. Tapi yang terlupa oleh kita adalah sosok-sosok Pembina Pramuka yang selalu mengajarkan nilai-nilai Pancasila, moral atau karakter terpuji dan juga mendidik anak-anak negeri dengan pengetahuan akan cinta negerinya dan tentu saja cinta kepada sesama.

Para pembina yang tanpa pamrih mengorbankan waktunya demi sebuah cita-cita menempa generasi muda dengan patriotisme yang utuh, bukan karena kepentingan kelompok tertentu tapi murni demi cita-cita luhur menitipkan nilai-nilai kehormatan, kesetiaan dan pengabdian bagi anggotanya.
Kala itu, Pramuka memang merupakan simbol kebanggaan, bahkan tak hanya pembinanya yang turut bangga melihat gelak tawa, riangnnya, soliditas, solidaritas dan kreativitas para anak didiknya. Tentu lebih dari itu, karena dengan yakin dan bangganya mereka telah menitipkan sebuah generasi yang ingin mewarisi para pemimpin negeri ini dengan semangat nasionalisme yang tak perlu diragukan
lagi.
Saya teringat di usia Sekolah Dasar, tentu saja ketika mengikuti Pramuka Siaga tatkala masih baru-barunya mengenal Pramuka, sepertinya mengikuti Pramuka begitu menyenangkan, penuh tantangan dan tentu saja menemukan banyak teman dari berbagai penjuru daerah.

Tentu saja ada sosok yang membuat bangga dan begitu kagumnya saya adalah para pembina yang selalu siap mendampingi dan melatih kemandirian kami selaku siaga mula.

Mereka mengabdikan waktunya melatih dan membina Pramuka meski tak dibayar. Seandainya pihak sekolah memberikan insentif bagi pembinanya, maka nilaianya tak lebih dari kebutuhan membeli 10 kg beras. Tapi mereka tetap ikhlas mengabdikan ilmu dan pengalamannya.

Bahkan mereka rela berlapar-lapar ria demi melatih kami dan tentu saja mereka rela meninggalkan keluarga mereka beberapa hari demi menjadi pembina pendamping bahkan panitia dalam kegiatan perkemahan dan jambore. Para pembina tak pernah dibayar dan tak mendapatkan bingkisan, hanya selembar piagam penghargaan atas kesuksesannya mendampingi dan menyukseskan hajat besar tersebut.

Meskipun kadangkala tatkala mendampingi peserta, para pembina pun harus merasakan kerasnya petualangan, hujan dan panas dilalui demi sebuah tantangan dan bekal kemandirian anak-anak Indonesia. Walaupun akhir-akhir ini setelah para Pembina sudah mulai senja, para generasi muda mulai kehilangan kecintaannya para Pramuka.

Tak sedikit para siswa yang mengeluh karena sekolah mewajibkan para siswanya mengikuti Pramuka. Bahkan jika dilihat ketika melihat persentase jumlah anggota Pramuka, maka jumlah mereka tak lebih dari separuh dari jumlah siswa seluruhnya. Bahkan mungkin hanya sekitar 10% saja dari keseluruhan siswa. Hal ini sebuah gejala yang sangat mengkhawatirkan karena jika kita melihat tingkat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Pancasila dan NKRI pun seperti jauh dari yang sepatutnya.

Berkurangnya intensitas, kualitas dan kuantitas siswa mengikuti Pramuka tentu saja akibat dari semakin sedikitnya para pembina pramuka yang mau melatih dan membina karena kebutuhan hidup yang semakin membuat mereka menjerit. Tentu saja karena ketika mereka sudah berkeluarga kebutuhan hidup pun harus dipenuhi. Amat mungkin para pembina ini tetap mau mengabdikan pengalamannya, jika pihak sekolah dan pemerintah benar-benar memikirkan nasib para pembinanya.

Kala itu, menjadi pembina Pramuka juga sebuah keistimewaan, karena dimanapun berada mereka selalu dihormati dan dihargai bahkan ada banyak pemimpin negeri ini yang lahir dari Pramuka. Bahkan menurut keterangan beberapa tokoh, mereka mendapatkan pekerjaan di instansi pemerintah karena melampirkan bukti pernah mengabdikan diri menjadi pembina Pramuka.
14080771361018299022
Peserta KMD Tk. Nasional di Kwarda Lampung


Meskipun pengabdian mereka amat tulus dan bukan karena kepentingan sebuah pekerjaan, paling tidak seyogyanya pemerintahpun memperhatikan kehidupan mereka. Pemerintah menghargai jasa para pembina yang tak pernah mendapatkan perhatian, mereka membina moral Pancasila dan membentuk kepribadian anak-anak Indonesia dengan pengabdian yang tulus. Memberikan penghargaan tanpa mereka minta. Semua akibat dari apresiasi yang tinggi terhadap kesetiaan para pembina Pembina ini dalam membangun generasi mandiri dan berkarya serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Ketika Pembina Pramuka dianaktirikan 

Saya melihat akhir-akhir ini penghargaan pemerintah bagi para Pembina Pramuka masih belum optimal. Tentu saja karena pemerintah belum memberikan kebijakan yang sama terkait pengabdian seseorang. Akan berbeda sekali tatkala berhadapan dengan pegawai honorer yang sudah banyak mendapatkan tiket menjadi pegawai negeri sipil, toh lain situasinya bagi para Pembina ini.

Berpuluh-puluh tahun mengabdi dengan harapan pengabdiannya dihargai ternyata sama sekali tidak mendapatkan perhatian. Maka amat mungkin pula saat ini banyak pembina pramuka yang rela meninggalkan tugasnya demi sepiring nasi dan menghidupi keluarganya. Dampaknya sekolah semakin sulit mencari pembina pramuka, dan lebih sulit lagi mewariskan pendidikan moral kepada generasi muda dalam sebuah wahana pelatihan Pramuka.
 
Tulisan ini semoga menjadi pelajaran berharga, bahwa benar para Pembina Pramuka melakukan pengabdiannya dengan ikhlas dan tanpa pamrih mengabdi untuk negeri, tapi yang perlu dipahami adalah mereka pun manusia biasa yang butuh mendapatkan kehidupan yang layak seperti sesamanya. Semoga kedepannya para Pembina Pramuka mendapatkan kehidupan yang layak sehingga mereka dapat meneruskan estapet pemimpin negeri ini dalam menanamkan nilai moral Pancasila kepada generasi muda.
Salam Pramuka dan Selamat Hari Pramuka!

Membuat Bunga dari Sampah





Kreasi bunga dari sampah ala anak-anak ABK, bahan tidak diberi pewarna apapun, agar lebih menarik sebaiknya bunga diwarnai sesuai dengan bunga aslinya.


Sampah, lazimnya dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermanfaat. Membuat risih dan tentu mengganggu orang-orang yang ada di sekitarnya. Bahkan jika sampah terus dibiarkan maka timbulnya adalah beberapa penyakit yang menyertai.

Berkumpulnya pasukan lalat karena bau sampah yang menyengat turut menjadi penyebab seseorang tidak mau berhubungan dengan sampah. Jangankan memanfaatkannya, menyentuhnya saja tak sudi dilakukan. Dengan alasan tentu karena jijik dan takut terkena penyakit lantaran kuman-kuman yang disebarkan oleh lalat yang hinggap di makanan kita.

Tapi tunggu dulu, apakah sampah selalu identik dengan benda-benda tak berharga dan layak dimusnahkan? Tentu tidak bukan? Karena ada banyak pengusaha yang justru memanfaatkan sampah. Termasuk membuat kerajinan sederhana yang dilakukan oleh anak-anak disabilitas atau anak-anak ABK.

Meskipun sampah dapat dimanfaatkan atau memanfaatkan kembali untuk hal-hal yang positif, tentu saja penanganannya juga harus benar, lantaran jika salah dalam memanfaatkannya maka penyakit benar-benar akan mengenai kita. Misalnya tatkala ingin mengolah sampah untuk bahan kerajinan, sebaiknya dibersihkan dulu agar kotoran dan kuman menyingkir dari benda-benda tersebut.
Kali ini, saya ingin menyampaikan bahwa sampah pun bisa digunakan untuk membuat aneka benda kreasi, tapi saat ini saya fokuskan pada pembuatan bunga. Entah apa namanya bunga apa, yang pasti cara pembuatannya amat sederhana dan bahannya amat mudah kita peroleh di sekitar kita.
  • Bahan-bahan
Bahan yang dapat dimanfaatkan adalah sebagai berikut:
  1. Kertas
  2. Dedaunan yang berukuran kecil
  3. Ranting pohon 
  4. Botol air mineral
  5. Pasir
  • Alat-alat
Adapun alat-alat yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:
  1. Lem kayu
  2. Gunting
  3.  Pewarna 
  4. Kuas 
Cara membuatnya:

Terlebih dahulu siapkan bahan-bahan dan alat-alat terlebih dahulu. Setelah bahan dan alat terkumpul langkah selanjutnya menentukan jenis ranting yang akan dibuat sebagai media batang bunganya. Jika sudah siap, berilah pewarna pada batang, daun dan bunga sesuai dengan yang kita inginkan. Seperti bunga berwarna merah atau biru, jika putih tak perlu diberi warna karena pada umumnya kertas berwarna putih (HVS). Tapi jika terdapat sisa kertas berwana maka tak perlu lagi diberi pewarna.

Daun-daun sampah tersebut dibuat daun jadi diwarnai seperti daun sebenarnya. Jadi tinggal dicelupkan pada warna hijau. Setelah semua bahan diberi warna diletakkan diterik matahari supaya kering.

Sebelumnya bunga dibuat terlebih dahulu dengan bahan kertas terlebih dahulu kertas dipotong sepanjang 3 x 5 cm, kira-kira bisa dibentuk menjadi lima helai mahkota. Setelah potongan kertas tersebut digunting berbentuk seperti potongan bunga melati kemudian di lekatkan pada ujung ranting dengan terlebih diberikan lem kayu sebagai alat perekat.

Setelah rekat, kemudian diberikan lilitan dengan kertas kira-kira 3 cm dan cukup menutup bagian pangkal bunga, sekaligus menguatkan bunga agar tidak terlepas.

Daun-daun pun direkatkan pada bagian-bagian yang kita anggap perlu dengan dililit kertas yang juga sudah kita persiapkan.

Setelah semua selesai, ranting yang sudah berbentuk sebuah bunga, kemudian diletakkan pada botol minuman mineral yang sudah ditutup dengan sehelai kertas. Namun terlebih dahulu botol tersebut diberi pasir kira-kira setinggi leher.

Kalau sudah jadi, bunga kreasi sudah dapat dijadikan pajangan.

Salam.

Rabu, 08 Oktober 2014

Pembelajaran Kontekstual Materi Seni Lukis pada Anak Tuna Grahita

1407863226957165571

Pagi tadi (12/08) tepatnya tatkala saya kembali ingin menyampaikan tentang seni lukis, sebenarnya saya sedikit kesulitan lantaran memang basic saya bukan ahli lukis, bukan pelukis atau pekerja seni yang sehari-harinya mengerjakan karya corat-coret tinta pada media kertas atau kanvas tersebut. Saya juga bukan lulusan dari seni lukis pada perguruan tinggi yang fokus untuk mahasiswa jurusan seni. Tapi benar-benar nol pengalaman, tapi meskipun demikian saya tetap berusaha semampu dan sebisanya mengajarkan beramacam-macam materi pada anak-anak penyandang disabilitas.

Saya memang bukan ahli melukis, tapi sangat bangga jika bisa mengajarkan anak-anak disabilitas melukis dengan melihat benda-benda secara nyata. Dan alhamdulillah meskipun hasilnya tidak seperti anak-anak pada umumnya, paling tidak cara menggambar dan kombinasi warna sudah sangat baik.

Mungkin jika dikaitkan dengan status pendidikan, tentu saja jauh dari kesan pantas. Akan tetapi karena dorongan kebutuhan dan tuntutan di mana guru-guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus memang harus serba bisa dan berusaha mendidik anak-anak tersebut dengan cara kreatif dan melihat model-model pembelajaran yang sudah diajarkan oleh para akademisi dan ahli pendidikan sebelum-sebelumnya.

Ada banyak model pembelajaran yang sejatinya banyak ditulis dan diajarkan oleh para ahli pendidikan, dan tentu saja beberapa model tersebut memang sudah diteliti tingkat ketercapaiannya tatkala teori pembelajaran tersebut lahir dan diterapkan. Sehingga amat pantas jika kerja keras pada ahli dan peneliti pendidikan dapat kita jadikan acuan dalam kita melakukan pembelajaran bagi anak didik kita. Terlepas seberapa besar tingkat kesuksesan yang penting proses pembelajaran adalah suatu hal yang paling pokok sebelum membicarakan hasilnya.

Dan juga terlepas dari beberapa model pembelajaran, saya ingin menyampaikan tentang penggunaan model pembelajaran kontekstual tatkala saya mengajarkan tentang seni lukis. Seni lukis a la anak-anak penyandang disabilitas. Anak-anak yang memiliki keterbelakangan intelegensi dan tentu saja keterbatasan dan pergerakan fisik karena di antara mereka juga menyandang kecacatan fisik. 

Meskipun banyak pula penyandang disabilitas yang memiliki prestasi yang luar biasa, khususnya dalam bidang lukis melukis dan mendapatkan penghargaan atas kemampuannya yang luar biasa pula.

Sebagaimana menurut Depdiknas, 2012 bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian model pendekatan atau sistem pembelajaran ini benar-benar mendorong siswa agar benar-benar mengaitkan dunia nyata dengan konsep yang tengah dipelajarinya.

14078635901055704575
Anak-anak disabilitas tengah menggambar motif daun (doc. pribadi)

Sebuah materi tidak sekedar teori-teori yang sulit diterima, akan tetapi anak akan benar-benar mengenal dan memahami secara langsung dengan apa yang ada dalam kehidupannya atau dalam alam sekitar. Bahkan sejalan dengan model pembelaran tematik integralistik, sepatutnya semua materi pembelajaran akan sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga secara tidak langsung anak-anak akan mendapatkan pengalaman yang nyata dan mengesankan. Dampaknya justru pengetahuan benar-benar terpatri dalam pikiran, dalam sanubari dan tentu saja dapat diaplikasikan dalam dunia nyata mereka.

Konsep pembelajaran kontekstual akan memiliki banyak kelebihan apabila dibandingkan dengan sistem pembelajaran klasik, di mana guru sebagai sentral dalam proses pendidikan (teacher center) dan saat ini diarahkan dan berpusat pada peserta didik (student center). Dengan demikian guru tinggal mengarahkan dan selebihnya siswa-siswa yang berusaha memperoleh pengetahuan dengan obyek yang lebih nyata.

Pembelajaran secara kontekstual hakekatnya merupakan substansi, bahwa ada baiknya anak-anak memperoleh pengalaman yang langsung dia rasakan dan bukan hanya cerita-cerita yang sulit dipahami dan dipraktikkan. Misalnya tatkala saya ingin mengajarkan tentang seni lukis, saya berusaha mengaitkan pada materi lain sesuai dengan tema, dalam hal ini temanya adalah tentang alam sekitar. Karena obyek yang ingin anak-anak pelajari adalah melukis daun, maka anak-anak terlebih dahulu saya perkenalkan tentang karakter dan warna daun, jenis-jenis daun berdasarkan jenis atau golongannya, dan juga bagaimana melakukan kombinasi warna agar diperoleh warna yang serasi dan sesuai dengan benda yang ingin digambarkan.

Pada tahap permulaan, anak sudah kita memasuki wilayah pembelajaran IPA terkait bermacam-macam tanaman berdasarkan karakteristik daunnya, sehingga secara tidak langsuung pula anak sudah berusaha mengaitkan materi tersebut dengan pembelajaran seni lukis yang tentu saja jenis lukisan alami (bukan abstrak) anak akan mendapatkan pengalaman langsung, melihat, menyentuhnya dan tentu saja menggambarkannya dalam sebuah media kertas dengan kemampuan masing-masing.

Saya jelaskan secara simpel bermacam-macam daun dan karakteristik (ciri-ciri) daun berdasarkan golongongannya atua jenisnya. Setelah itu saya mempersilahkan kepada anak-anak agar mencari sendiri jenis daun yang mereka inginkan untuk kemudian dilakukan proses melukis dengan media yang sudah ada. Beruntung sekolah kami memiliki kebun yang luas dengan beraneka ragam tanaman sehingga anak-anak pun tak merasa kesulitan.

Tak seberapa lama, masih-masing anak sudah mendapatkan daun yang mereka inginkan untuk kemudian menjadi pola yang akan mereka jadikan obyek gambar.

Seiring anak-anak melakukan proses menggambar, anak-anak diarahkan agar dapat melakukan penggabungan warna sesuai dengan kebutuhan. Karena kebetulan media pewarna bukan cat air, jadi caranya dengan melakukan pewarnaan dengan beberapa kali dengan warna yang berbeda dan dapat dipadu padankan sehingga diperoleh warna yang sesuai.

Dengan pembelajaran ini, anak-anak terlihat lebih bersemangat dan tentu saja karena ada pergerakan fisik yang menjadikan tubuh anak dapat bergerak dengan leluasa. Selain itu anak tidak dipaksa untuk mempelajari sesuatu yang belum sama sekali mereka kenali sebelumnya. Boleh saja bagi anak-anak normal karena kemampuan imajinasi yang tinggi, tapi bagi anak-anak penyandang disabilitas ada beberapakelemahan termasuk dalam hal imajinasi sehingga yang dibutuhkan adalah pengalaman nyata.

Sehingga jika kita ingin menggunakan pembelajaran kontekstual, kita akan mendapatkan beberapa manfaat nyata sebagai berikut:

1. Anak akan belajar tentang benda-benda secara langsung sehingga tidak sebatas gambar atau teori semata.

Pembelajaran dengan cara kontekstual, anak akan mempelari dan melakukan aktivitas belajar dengan media yang benar-benar nyata dan ada di sekitar mereka. Manfaatnya tentu saja anak akan memperoleh pengalaman langsung dan tidak sekedar sebuah teori-teori yang sulit dikenali.
Dengan kata lain, jika kita berusaha mendidik anak tentang seni lukis yang bermotif tanaman, tentu saja secara tidak langsung guru sudah memperkenalkan siswa-siswanya terhadap obyek yang lebih nyata, meskipun terkadang memang bagi sekolah yang tidak memiliki kebun yang luas mereka akan mengalami kesulitan dan hanya menggunakan gambar atau media lain yang bersifat abstrak.

2. Anak akan dapat mengaitkan beberapa materi pelajaran yang berbeda disesuaikan dengan tema yang tepat.

Dalam hal ini, dengan amat mudah guru secara langsung mengarahkan anak tidak berlajar pada satu obyek saja, akan tetapi mempelajari banyak obyek. Sehingga akan diperoleh hubungan yang saling berkaitan dan memperoleh banyak pengetahuan baru yang belum sama sekali mereka dapatkan.
Bahkan dalam pembelajaran tematik, satu tema akan berkaitan dengan banyak materi yang dikombinasikan menjadi satu kesatuan yang utuh. Anak tidak hanya belajar secara parsial tapi lebih dari itu anak diarahkan mempelajari sesuatu secara utuh atau komprehensif.

3. Anak tidak mudah jenuh (bosan) karena aktifitas belajarnya tidak terfokus pada satu obyek saja.

Pada dasarnya sifat anak-anak akan mudah jenuh dan bosan dalam belajar. Sehingga banyak anak yang mengeluh tatkala guru asyik-asyik menjelaskan pelajaran. Dan lebih dari itu ada di antara anak-anak ini yang biasanya bermain sendiri atau sibuk mengobrol dengan kawannya karena enggan memperhatikan. Tentu saja karena model pembelajaran yang membosankan dan bersifat satu arah. Guru menceramahi dan siswa mendengarkan.

14078639501251566460Anak tuna ganda (daksa dan grahita) yg tengah asik membuat gambar daun dengan motif daun singkong (doc.pribadi)

Tapi dalam pembelajaran kontekstual, anak justru lebih aktif dan kreatif menemukan hal-hal yang baru dan mempelajari suatu obyek secara lebih nyata dan mendalam dan dengan cara yang menyenangkan.

Karena mudahnya pembelajaran ini, ada di antara mereka yang justru tertarik dan ingin melakukan hal yang sama berulang kali karena merasa model pembelajarannya lebih baik dari biasanya.

4. Pembelajaran kontekstual memberikan pengetahuan lebih

Kelemahan pada pembelajaran yang terpusat pada guru biasanya anak-anak akan mudah sekali merasa bosan dan pengetahuannya tidak berkembang. Apalagi saat ini pada kurikulum 2013 sepertinya para siswa diarahkan belajar mandiri dengan media yang beraneka ragam. Tidak hanya dari segi pengetahuan saja, tapi pendidikan karakter yang baik pun sejatinya menjadi tujuan utama dalam proses pendidikan.

Sekelumit penggunaan model pembelaran kontekstual ini bisa jadi berbeda dengan cara yang satu dengan yang lainnya tergantung materi apa yang ingin dipelajari. Akan tetapi, meskipun ada banyak perbedaan yang pasti penggunaan model pembelajaran ini akan sangat membantu mengembangkan kemampuan kognitif, afektif dan juga psikomotorik anak karena anak secara langsung mempraktekkan apa yang tengah dipelajarinya secara nyata.

Selain itu, seberapa besar kemampuan anak menyerap dan mengamalkan ilmunya tentu saja dikembalikan pada kondisi anak secara utuh, boleh jadi anak-anak disabilitas akan berbeda jauh hasilnya dari anak-anak pada umumnya karena terkait kelemahan intelegensi mereka.

Salam

Sabtu, 06 September 2014

Perlukah Anak Menguasai Bela Diri Sejak Dini?


14078279361696717205
Sumber: shutterstock.com/kompasiana.com


Tulisan ini berawal dari cerita anak yang kebetulan masih bersekolah di SD, ukuran anak yang masih belia sehingga apapun yang dialami dan dirasakan akan diceritakannya tanpa ada kesan menambah-nambahi atau merekayasa cerita. Dan kebetulan cerita sang anak karena telah membanting dan memukul teman sekolahnya karena telah melakukan tindakan kekerasan. Meskipun awalnya saya marah dan tidak menyetujui tindakan anak saya tapi setelah saya tanyakan terkait mengapa ia memukul temannya pun saya menjadi sedikit lega.

Lega hati saya bukan bermaksud membiarkan dan melegalkan kekerasan dilakukan sang anak lantaran jenis kelaminnya perempuan dan masih anak-anak, karena tindakan kekerasan tentu saja tidak baik bagi tumbuh kembang anak yang harus mengenal dan menjadi sosok penyayang dan cinta kepada sesamanya. Bukan justru anak yang menyukai kekerasan dalam menyelesaikan konflik dengan teman sepergaulannya.

Namun, ketika alasannya karena pelaku yang ingin melakukan kekerasan adalah temannya pria, jadi saya hanya menimpali bahwa ada baiknya teman-temannya yang nakal dilawan semampunya dengan menangkis dan melaporkan kepada pihak sekolah. Tentu saja nanti pihak sekolah yang akan menegur dan akan memanggil orang tua sang anak karena kenakalannya.

Melihat persoalan kekerasan yang diterima anak saya dan berujung pada perlawanan dan menyakiti temannya saya jadi teringat ketika saya seusia SD juga, kebetulan saya memang tipe pendiam dan tidak mau melanggati teman-teman yang berusaha menantang duel. Bukan karena takut tapi pesan orang tua saya harus mengalah karena pesan orang tua “mengalah bukan berarti kalah tapi bukti kemenangan yang hakiki”, dan bermula pesan orang tua tersebut, saya pun seringkali kabur dan menghindar jika ada yang mengajak berduel. Dampaknya sampai saat ini sulit sekali meladeni ajakan berkelahi dan saya sering dicap sebagai pengecut. Tapi biarlah, karena kekerasan dilawan kekerasan justru akan berbuntut kekerasan yang baru.

Mungkin karena kenangan masa lalu seusia anak saya, saya jadi berusaha mengajarkan sikap mengalah dan berusaha membela diri jika ada seseorang yang ingin menyakiti. Meskipun kadangkala ketika melihat begitu kerasnya dunia pergaulan dan kehidupan perkotaan, sepertinya anak-anakpun perlu -bahkan menurut beberapa kasus diharuskan- memiliki kemampuan membela diri ketika ada seseorang yang ingin melakukan kekerasan.

Bela Diri Merupakan Sebuah Seni dan Olahraga

Sebagaimana dipahami bahwa ketika kita melihat dampak positifnya teknik bela diri bagi keamanan diri dari kejahatan tentu saja sepatutnya setiap orang memiliki jenis teknik ketangkasan ini. Tentu saja bukan bermaksud menyombongkan diri dengan pamer kemampuan dan berusaha menjajal kemampuan beladirinya terhadap teman-temannya, akan tetapi lebih dari itu sebuah seni yang memadukan pada olahraga yang tentu saja akan dapat meningkatkan kesehatan orang-orang yang menguasainya.

Sebuah seni yang mengandung estetika, kinestetika dan etika tentu saja menjadi sangat mulia jika kemampuan tersebut diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri agar tidak menjadi arogan  sok memiliki kehebatan. Karena jika kemampuan bela diri tidak diimbangi dengan kemampuan pengendalian diri tentu akan berdampak negatif. Misalnya, anak-anak akan lebih cenderung terlihat sombong, angkuh dan merasa paling jago dari anak-anak lainnya. Dampak terparah tidak sedikit yang justru menjadi korban kekerasan lantaran merasa bisa pencak silat, karate, taekwondo atau beladiri lain yang sejenis.

Sehingga, ketika melihat gelagat olah raga dan seni ini justru digunakan pada hal-hal yang negatif justru akan menjadi bumerang lantaran sang anak lebih terkonsentrasi pada membangga-banggakan diri bahwa tidak ada anak lain yang berani melawan. Bahkan lebih dari itu anak tersebut ingin dianggap sebagai “raja” di antara teman-teman lainnya. Jika anak lain tidak mematuhi tentu akan menjadi korban pemukulan dan kekerasan lain yang berdampak pada ketakutan korban secara sistematis.

Mengajarkan Bela Diri Mesti Dimulai Dari Bela Jiwa dan Pembentukan Karakter

Tujuan pokok dari belajar bela diri tentu saja ingin membela diri dari kekerasan dan kejahatan. Tentu saja berharap tidak diri sendiri saja yang terhindar dari kejahatan karena diharapkan akan dapat membantu orang lain yang tengah terancam dengan pertimbangan yang logis, yakni tidak membahayakan diri sendiri.

Begitu pentingnya bela diri bagi anak-anak, tentu saja bersinggungan dengan pembentukan karakter atau kepribadian si anak. Jika ajaran tentang bela diri tidak diawali dengan mengajarkan tentang bela jiwa (mengendalikan emosi) dan pendidikan karakter tentu akan ada dampak negatif yang menyertai kehidupan dan tumbuh kembang sang anak. Misalnya anak justru menjadi sosok yang keras kepala, suka menyakiti dan menyelesaikan konflik atau persoalan dengan kekerasan.

Padahal, jika sebuah persoalan ditelaah, hakekatnya tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan kekerasan dan arogansi. Ada banyak bukti yang menjelaskan bahwa penyelesaian sebuah konflik dengan kekerasan justru akan menambah kekerasan baru. Tentu saja terdapat aspek yang mesti dilihat, apakah kekerasan itu perlu dilakukan demi mencegah sesuatu yang lebih parah atau sebaliknya. Nah, jika dengan kekerasan tidak dapat menyelesaikan konflik dan persoalan maka sepatutnya dan semampunya diselesaikan dengan jalan damai.

Banyak terdapat kasus kekerasan antar siswa, ternyata dilakukan oleh anak-anak yang mempunyai kemampuan bela diri. Mereka merasa memiliki keberanian lebih dan kemampuan memukul dan menendang karena pernah dilatih bela diri. Sikap arogan ini tumbuh seiring perjalan hidupnya dan tentu saja bentukan lingkungan yang mungkin saja dipenuhi dengan kekerasan-kekerasan secara emosi dan fisik yang menjadi embrio berkembangnya benih kekerasan pada anak.

Akan tetapi, ketika karakter baik sudah tercipta dalam diri anak, tentu saja pendidikan bela diri menjadi sebuah kebutuhan bagi anak tatkala berhadapan pada situasi lingkungan yang seringkali membahayakan kehidupan anak. Paling tidak pelajaran agar anak berani melawan, berteriak jika pelakunya orang-orang yang lebih dewasa serta pelajaran tentang teknik menangkis serangan dan melepaskan cengkraman dari pelaku kejahatan serta pukulan sederhana agar sang anak terlepas dari kejahatan orang-orang di sekitarnya.


Salam

Tulisan ini diposting pertama kali di www.kompasiana.com 
 

Berkaca Pada Hukum Alam, Sebab dan Akibat


Percaya atau tidak, semua makhluk akan mengalami hukum sebab akibat. Siapa yang berbuat maka dialah yang bertanggung jawab. Bahkan tak hanya bagi manusia saja hukum ini berlaku, seluruh makhluk di kolong langit ini akan menerima konsekuensi dari hukum itu. Mau suka atau tidak pun tak kan bisa berpaling dari hukum kasualitas ini.
 
Kadang persoalannya sepele misalnya saking malasnya kita menyingkirkan ranting di jalan padahal kita melewati jalan tersebut, maka cepat atau lambat tanpa kita sadari kita akan terganggu oleh adanya ranting, bahkan bukan hanya kita sendiri, seluruh orang yang melewati jalan itupun akan menerima dampak dari kemalasan kita.

Begitu pula ketika kita malas membuang sampah di tempatnya, kita main lempar kemana kita suka. Entah di sungai, jalanan atau kita lempar saja di sudut-sudut ruangan di mana tempat, maka lambat laun kita akan menerima akibat dari kemalasan kita. Timbullan penyakit dan bencana alam di mana-mana.

Itulah sebuah gambaran sederhana ketika kita harus menaati hukum alam sebagai manifes dari hukum Tuhan. Jangankan di akhirat kita akan mendapatkan balasan atau akibat dari perbuatan kita, di dunia saja kita sudah tersakiti dan terzalimi oleh ulah kita sendiri.

Dalam agama kami berniat mencegah diri dari perbuatan buruk sudah dianggap bernilai ibadah dan berpahala, apalagi jika kita benar-benar ingin melakukan perbuatan yang baik. Maka hasilnya tentu akan kita dapatkan. Tak didunia di alam keabadian pun akan dirasakan.

Bahkan dalam sabda Nabi kami mengatakan “jika engkau tidak bisa berbicara yang baik, maka lebih baik diam.” Diam lebih baik daripada berkata-kata yang justru akan menyakiti orang lain. Menyakiti diri sendiri saja tidak boleh apalagi menyakiti orang lain.

Kembali pada hukum kausalitas, dan kita semua sudah mempelajarinya selama pernah menuntut ilmu di bangku sekolah. Pun dalam keseharian kita selalu mendapatkan wejangan bahwa apa yang diperbuat akan selalu mendapatkan konsekuensinya. Menanam satu kebaikan maka akan tumbuh tujuh kebaikan dan dari tujuh kebaikan itu akan berlipat lagi menjadi kebaikan-kebaikan yang lain. 

Begitu pula dari satu kejahatan, maka akan tumbuh tujuh kejahatan lain dan terus menerus menjadi kejahatan-kejahatan lain yang akan datang begitu saja.

Seperti misalnya, kasus makian Florence Sihombing yang berdampak pada makian lain dari sejumlah netizen. Tanpa disuruh dan diminta semua orang membully karena perkataannya yang kurang baik di media sosialnya. Itulah gambaran nyata bahwa ada hukum sebab akibat, dan ada hukum bahwa satu kejahatan akan mendapatkan balasannya. Tak hanya diakhirat tapi di duniapun ada konsekuensinya.

Boleh kita beranggapan bahwa hanya Tuhanlah yang mengadili sebuah kejahatan, tapi faktanya sudah jelas bahwa tidak ada yang bisa luput dari kontrol sosial. Kita memukul, suatu saat kita dipukul, begitu juga kita memaki, tanpa sadar ada banyak orang yang memaki kita.

Kita mau protes? Kepada siapa? Mau protes kepada Tuhan kenapa saya dibully? Kenapa saya disakiti banyak orang padahal saya hanya menulis status di media sosial? Tuhan tidak adil. Manusia pada jahat-jahat? Padahal semuanya berawal dari kita sendiri sumber persoalan yang dianggap kecil dan sepele itu.

Oleh karena itu jangan salahkan Tuhan, dan jangan salahkan orang lain yang telah membully kita karena itu adalah sebuah risiko kehidupan. Yang perlu disesali adalah kenapa kita melakukannya?
Seperti halnya ketika kita terjatuh karena kerikil kecil. Kenapa saya terpelanting dan jatuh dari motor saya? Tentu saja karena ketidak pedulian kita akan keselamatan kita sendiri. Kadang orang yang sudah berhati-hati dalam berbicara dan bertindak tutur saja masih keliru apalagi yang sengaja melakukan kekeliruan. Itulah fungsi logika dan hati untuk memilih mana yang terbaik menurut kita dan orang lain.

Manusia suka yang bebas tanpa diatur-atur

Manusia, kalau boleh dibilang semuanya, pastilah ingin kehidupan yang bebas. Segalanya tidak ingin diatur-atur dan dilarang-larang. Tak menginginkan kehidupannya dibatasi. Semua ingin dilakukannya tanpa mendapatkan pertentangan dan protes dari pihak lain. Itu riil dan semua pastilah mengalami.

Tapi apakah kita puas juga tatkala kita hanya hidup sebatangkara, tak ada orang lain yang akan menilai dan menentang prilaku kita yang buruk. Atau tidak ada orang yang memuji dan membalas kebaikan kita? Puaskah kita hidup tanpa orang lain? Mau makan, tidur, ngamuk-ngamuk, berpakaian semaunya tak ada yang melihat kita. Kita tertawa pun tak ada yang mendengarkan. Dan kita marahpun dengan siapa? Kita melakukannya sendirian. Tak ada yang melarang dan membenci prilaku buruk kita. Tidakkah ini sama halnya kita hidup dalam ketidak warasan?

Kita memaki, berbicara kotor, berpakaian apa saja yg penting semau gue, bertingkah seolah-olah tidak ada orang lain. Yang beginian hanyalah orang yang tak berlogika dan tak berhati. Padahal orang yang tak berlogika dan tak berhati hanyalah orang “sinting” yang tak waras.

Hidup ini memang bisa membahagiakan dan bisa menyengsarakan, jika kita tidak bisa memilih mana yang terbaik menurut diri sendiri dan orang lain, maka jangan salahkan alam jika menghukum kita.

Salam

Artikel ini diposting pertama kali di www.kompasiana.com

Sabtu, 12 Juli 2014

Penggunaan Media Audio Visual, Cara Mudah Anak Belajar

14045363781904451927
Media Audio Visual



Beberapa waktu lalu, tepatnya ketika saya masih membimbing seorang anak Autis di sekolah kami. Kebetulan, kami membimbing di luar jam sekolah, yakni siang hari sebagai bagian ekstrakurikuler namun dilaksanakan dengan cara yang efektif.

Mengajarkan anak autis memang sering menemukan kendala, untung anak yang saya bimbing ini sedikit banyak sudah selayaknya anak-anak pada umumnya. Walaupun dari segi aktifitas seringkali keluar dari kewajaran. Misalnya ketika masih asyik-asyiknya saya bimbing dengan membahas beberapa soal tes, ternyata anak ini tiba-tiba ingin tidur dengan alasan kelelahan. Padahal waktu bimbingan baru beberapa menit saja. Tapi ya sudahlah saya izinkan untuk beristirahat. Atau kadang-kadang dia berjalan ke sana kemari tanpa jelas tujuannya. Sering ngomong sendiri meski tidak dalam situasi ngobrol dengan temannya.

Saya menduga, di malam hari  anak ini justru begadang, entah bermain game atau menonton televisi hingga larut malam. Jadi ketika di siang hari keluhnya selalu kelelahan dan rasa kantuk yang berlebih-lebihan. Dan maklumnya lagi memang di siang hari biasanya anak ini diminta beristirahat hingga menjelang senja. Tapi ya karena akan menghadapi perlombaan, kebiasaan beristirahat siang agak terganggu. Untungnya si  anak tidak mogok atau ngambek dan masih bisa terkendali. Jadi saya masih bisa meneruskan materi bimbingannya sampai anak ini benar-benar siap.

Selain membahas beberapa materi soal ujian, dan beberapa soal standar olimpiade, anak inipun saya bina agar mengenal berbagai alat peraga (media) pendidikan. Tentu saja karena anak ini memiliki kekurangan dalam orientasi, kadang terlalu lepas kendali namun kadang kala terlalu berorientasi pada satu objek. Dan itu kesulitan terberat bagi guru-guru autis.

Namun, karena tingkat autisme anak ini tergolong ringan, saya masih bisa mengajaknya lebih fokus pada materi dan media yang harus digunakan. Misalnya, hari pertama mengenal tentang fungsi jantung, maka hari beberapa hari saya mencoba untuk fokus pada media yang memperkenalkan tentang beberapa anatomi tubuh khususnya jantung. Begitu pula ketika saya harus mengajarkan tentang rangkaian listrik, maka di saat itu pula saya memfokuskan anak mengenal benda-benda yang digunakan untuk pembelajaran tentang rangkaian listrik. Dua sampai tiga kali saya contohkan alhamdulillah anak bisa mempraktikkan sendiri.

Sayang sekali, meskipun anak ini bisa lolos juara provinsi, tapi di tingkat nasional justru materi yang belum sempurna saya perkenalkan malah keluar. Ya..terpaksa si anak harus gagal dan menerima kekalahan atas siswa lain yang lebih jago. Tapi saya tetap bersyukur, karena usaha gigih dan kerja keras saya dan siswa membuahkan tropi dan mengantarkan kami bisa terbang ke Bandung sebagai kontestan mewakili tingkat propinsi.

Selain beberapa pembahasan soal dan menggunakan alat peraga, saya juga menggunakan media audio visual yang memudahkan anak mengulas kembali materi-materi yang telah saja ajarkan. Media ini memang sangat mudah dan membantu anak untuk menguasai beberapa materi pelajaran. Materi yang tercover sama dengan materi pelajaran umum, dan juga ditambah materi ketrampilan.

Karena diketahui bahwa media pembelajaran selalu menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Dengan media yang baik guru dapat membimbing anak secara teratur dan terfokus serta mudah untuk diterapkan kepada siswa. Sehingga secara perlahan kemampuan anak dapat dilatih menggunakann media yang disediakan oleh guru. Dampaknya materi dapat diserap dengan mudah dan menghasilkan kemampuan belajar yang optimal.

Saat ini, guru sudah sangat mudah menemukan beragam jenis media. Baik media yang dibuat sendiri oleh guru, juga media yang sudah dibuat sedemikian rupa oleh para ahli, dengan tujun agar para guru tidak menemui kendala yang berarti jika harus membuat beberapa media sedangkan para guru memiliki kelemahan dalam bidang tertentu. Misalnya media yang saya contohkan ini adalah media audio visual yang dibuat berbentuk seperti tutorial (modul) dengan judul Belajar Bersama Dika dan Dina yang diproduksi oleh PT. Globosinergy Multisarana ini. Media AV bantuan dari pemerintah pusat melalui bantuan sarana pembelajaran ke sekolah-sekolah inklusif di Indonesia.

Meskipun modul ini diperuntukan bagi anak-anak umum, namun bagi anak-anak disabilitas (misalnya anak autis) materi disesuaikan dengan kurikulum yang sudah ada. Misalnya anak autis yang saya bimbing adalah kelas VI, maka saya mengambil materi modul kelas V SD, dan seterusnya diturunkan sedikit demi menyesuaikan kebutuhan dan tingkat kemampuan anak. Yang pasti, kurikulum bagi anak-anak penyandang disabilitas tidak mutlak harus sama. Kadangkala materi diturunkan sedikit namun acapkali harus dinaikkan sedikit tergantung batas kebutuhan dan kemampuan mereka.

14045365761822503014
Media Audiovisual

Program ini dibuat sangat mudah diaplikasikan, selain mudah juga diperuntukkan mulai anak kelas 1 SD sampai SMA pun ada. Meskipun saya rasakan sudah baik dan mewakili materi pelajaran yang ditunjang, tapi memang dari segi kelengkapan perlu mendapat tambahan dari media lain.

Dengan media ini anak-anak bisa menggunakannya sebagai media bermain sembari belajar. Sekali diajarkan mereka akan langsung bisa menggunakannya. Melakukan proses belajar mandiri maupun dibimbing guru atau orang tua, sekaligus sebagai sarana bermain yang cukup menyenangkan. Tidak hanya di sekolah, di rumah pun jika kita mau meminjam atau sekedar menyalin ke laptop maka sedikit meringankan kerja orang tua dalam membimbing anak-anaknya dan anak-anak lebih mudah dalam belajar dari pada harus membawa bermacam-macam buku pelajaran.

Cakupan materi yang ada dalam media ini pun beragam, mulai pelajaran umum di kelas masing-masing, juga ada pelajaran ketrampilan yang juga mengajarkan secara mudah bagaimana membuat beragam benda kreasi.

Selain pembahasan materi, di dalam program inipun tersedia bank soal, tujuannya memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan soal-soal yang sesuai dengan materi yang sudah diajarkan terlebih dahulu. Tentu saja bagi anak yang daya tangkapnya baik, bank soal ini akan sangat mudah mereka kerjakan. Guru bisa mengontrol kemampuan anak menyerap materi setelah soal-soal tersebut diselesaikan karena nilai yang diperoleh siswa akan ditunjukkan. Dari sini guru dapat mengevaluasi bagian-bagian mana materi yang belum terserap secara optimal.

14045367521075716059
Media Audio visual

Namun demikian, meskipun media ini sudah baik, pengawasan orang tua dan bimbingan pun perlu diberikan. Tentu saja tujuannya agar ketika anak menemukan kesulitan maka guru memberikan solusi maupun materi tambahan menjawab persoalan anak. Dan sayangnya tidak semua sekolah bisa menikmati media pembelajaran ini, padahal sepatutnya pemerintah memberikan fasilitas pembelajaran yang sama agar anak-anak Indonesia mendapatkan derajat pendidikan yang sama pula.

Siapapun Anda, baik guru, siswa ataupun orang tua, adabaiknya mempunyai media ini sebagai bagian media pembelajaran agar proses belajar anak menjadi menyenangkan karena mudah menggunakannya dan dapat digunakan kapan saja.

Mudah-mudahan semakin banyak media audio visual digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran dan anak-anak Indonesia menjadi anak-anak yang cerdas,  mandiri, dan berprestasi serta dapat bersaing dengan anak-anak negara lain.

Senin, 02 Juni 2014

Anak-anak Disabilitas Membangun Indonesia dengan Karya

1401691420788112363
Anak Autis, Tuna Rungu dan Tuna Netra yang tengah berlatih musik dan olah vokal (SLBN Meto Lampung) / Sumber /doc. pribadi


Anak-anak Disabilitas Membangun Indonesia dengan Karya
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag

Sekali lagi, anak-anak disabilitas menurut kacamata awam diidentikkan dengan anak-anak yang tak memiliki kemampuan. Selain tidak memiliki kemampuan, rata-rata anak-anak ini dianggap sebagai beban hidup bagi kehidupan orang tua mereka. Selain dianggap sebagai anak yang “lemah” mereka pun tak luput dari penilaian negatif serta diskriminatif di lingkungan keluarga serta lingkungannya.
Diskriminatif dalam bidang pergaulan, dengan alasan masyarakat pada umumnya menganggap bahwa anak-anak ini tidak bergaul dengan anak lainnya karena keterbatasan yang dimiliki baik karena fisik yang tak sempurna, kelemahan intelegensi dan juga karena mereka seringkali dianggap tidak mampu merespons informasi yang diberikan oleh orang lain.

Tidak hanya mereka yang belum pernah mengenal hakekat anak-anak disabilitas, karena saya sendiri pernah juga beranggapan bahwa para penyandang disbilitas ini benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi seiring perjalanan waktu bersama anak-anak ini, saya temukan hakekat yang luar biasa. Mereka benar-benar sosok yang memiliki kelebihan ketika di dalam tubuhnya penuh dengan kekurangan. Sepadan dengan seseorang yang memiliki banyak kelebihan justru hakekatnya mereka penuh kekurangan. Bedanya anak-anak disabilitas kelebihannya nampak begitu nyata sedangkan kelebihannya tersembunyi dan harus digali agar dapat diolah menjadi bermanfaat. Sedangkan anak-anak pada umumnya mereka sempurna secara fisik, tapi ada banyak kelemahan yang seringkali disembunyikan dan seringkali membuat orang-orang disekitarnya tak memahami secara langsung.

1401693087125439051
Anak tuna rungu tengah berlatih drum (SLBN Metro) / dok. pribadi
14016927851522762227
Anak-anak SLBN Metro tengah berlatih musik / doc. pribadi


Begitu pula dengan anak-anak SLB N Metro, sekolah bagi penyandang disabilitas yang berdiri pada tahun 2004 di Kota Metro Lampung ini hakekatnya sudah banyak menorehkan prestasi. Sejak berdirinya sekolah ini, sampai sekarang di bawah kepemimpinan Dra. Yuly Hartaty, MM, hakekatnya sudah sangat banyak. Prestasi para siswanya yang pada awalnya tak pernah diduga-duga sebelumnya.

Mereka seperti mutiara di dalam timbunan lumpur dan kotoran, mereka harus diolah dahulu hingga menjadi mutiara yang benar-benar cemerlang dan berharga tinggi.

Seperti halnya pula anak-anak disabilitas ini, dengan kecakapan dan kesabaran para pendidiknya mereka dapat menorehkan prestasi yang membanggakan bagi orang tuanya, guru-gurunya, sekolah, kota kelahiran dan tempat tinggalnya serta Indonesia tentunya. Tidak lain dan tidak bukan karena para guru yang berjiwa besar yang memiliki mimpi yang besar ingin membangun anak-anak Indonesia yang kekurangan ini menjadi sosok-sosok yang memiliki kelebihan. Minimal kehidupan mereka stara dengan anak-anak normal lainnya.

Dalam beberapa event perlombaan, anak-anak ini selalu saya mampu berkompetisi secara fair dengan kemampuan yang mereka miliki. Kemampuan mereka lahir setelah sekian lama diolah dengan kerja keras dan tingkat kesabaran yang tinggi tentunya.

Belum lama ini, Anak-anak SLB N Metro mampu meraih juara, meski tak semuanya juara pertama, tapi alhamdulillah di antara mereka mampu menembus peringkat nasional, salah satunya lomba desain grafis yang mampu tembus juara, dan lomba-lomba lain yang tak dapat disebutkan satu persatu. Kalau untuk juara propinsi, beberapa kali SLBN Metro mampu tembus sebagai juara umum. Sebuah prestasi yang luar biasa yang juga mengharumkan nama Provinsi Lampung serta Kota Metro pada khususnya.

Di tengah hiruk pikuk kemenangan yang mereka raih hingga tingkat nasional, mereka pun tak henti-hentinya berlatih, baik untuk persiapan lomba olimpiade sains, olimpiade olahraga mapun festival seni tingkat nasional. Tentu saja seabrek kegiatan latihan pun menghiasi hari-hari anak-anak yang memiliki bakat yang luar biasa ini.

Bagaimanapun juga, prestasi yang diraih SLBN Metro masih sebatas diawal, karena saat ini SLBN Metro tengah mempersiapkan diri untuk dapat menjadi salah satu sekolah penyandang disabilitas yang dapat menembus juara nasional dengan membawa trofi dan piagam penghargaan yang dapat mengangkat harkat dan martabat anak-anak penyandang disabilitas sekaligus mengangkat kehormatan sekolah dan Kota Metro tentunya.

14016932812087036779
piagam penghargaan / doc. pribadi

Semoga saja, kedepannya pemerintah baik pusat maupun daerah semakin memperhatikan dan memberikan peluang yang sama bagi anak-anak penyandang disabilitas. Dengan harapan semakin pemerintah memberikan peluang yang sama bagi anak-anak ini, maka secara otomatis mereka pun mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh penghidupan yang layak. Dan lebih dari itu merekapun hakekatnya merupakan generasi muda yang bersiap membangun Indonesia.

Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!