Sabtu, 04 Juni 2016

Bisakah Anak Tuna Daksa Belajar Mengaji?



Anak Tuna Daksa Belajar Mengaji?

Belajar menghafal Al-Qur'an hakekatnya bukan perkara yang mudah, karena menghafal Al-Qur'an membutuhkan kemampuan intelegensi yang baik dan tentu saja dilakukan dengan ketekunan agar Allah memberikan kekuatan dan kemampuan menghafal ayat-ayat tersebut. Meskipun sulit, ternyata banyak anak-anak saat ini yang mampu menghafalnya dengan baik. Tentu saja karena Al-Qur'an adalah Firman Allah SWT, maka Allah jugalah yang akan memberikan pertolongannya.

Seperti apa yang dilakukan oleh Tadjie, anak tuna daksa yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di SLBN Metro merupakan salah satu dari sekian ribu siswa yang mengalami kelemahan fisik, mengalami kekurangan fisik sejak lahir yang secara tidak langsung turut menghambat mobilitas dan kemampuannya dalam belajar. Meskipun demikian, tidak ada alasan bagi Tadjie untuk menyerah pada keadaan. Ia lalui segala ujian dari Allah ini dengan tetap belajar dan menjalani kehidupannya dengan apa adanya.

Tadjie menurut hasil assesment sekolah memiliki kelemahan dalam motoriknya, baik motorik halus maupun kasar yang secara tidak langsung menghambat mobilitasnya dalam belajar. Selain itu, karena kesulitan memfokuskan penglihatan, ia pun sulit menerima pelajaran yang harus diperoleh dengan melihat atau membaca. Jadi kebanyakan aktivitas belajarnya dengan mendengar berulang kali dan kemudian ia menghapalnya berulang-ulang hingga hafal. Tidak mudah sih, tapi itu adalah jalannya untuk bisa belajar.

Prinsipnya, biarlah tubuh memiliki kekurangan, tapi semangat untuk belajar jangan sampai goyah. Apalagi begitu banyak tokoh dunia yang mengalami kekurangan fisik yang begitu berjasa bagi negara dan ilmu pengetahuan, Tokoh Abdurrahman Wahid, meski memiliki kelemahan dalam penglihatan ternyata menjadi tokoh terkenal dan pernah menjadi Presiden di Indonesia, Presiden ke-4 yang juga telah sukses menunjukkan jati diri bahwa anak-anak berkebutuhan khusus pun bisa seperti beliau.

Stephen Hawking, salah satu tokoh fisikawan terkemuka di abad ini adalah sosok yang memiliki kekurangan fisik. Ia tidak pernah menyerah untuk bisa menjadi ilmuan terkenal dan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Tuna daksa yang tanpa kemampuan menggerakkan fisik ternyata mengangkat dirinya menjadi sosok yang disegani oleh para ilmuan di abad ini.

Hellen Keller, perempuan satu ini selalu diingat dan menjadi sejarah penting. Dia merupakan perempuan yang luar biasa karena dengan keterbatasannya mampu meraih kejayaan seperti manusia normal. Hellen merupakan seorang penulis Amerika, aktivis politik dan juga dosen. Dia seorang tuna netra dan tuna rungu pertama yang mendapatkan gelar sarjana seni. Kisah tentang guru Helen, Annie Sullivan, berhasil menerobos isolasi yang dikarenakan kekurangan bahasa Helen hingga membuat Keller mampu berkembang dan berkomunikasi. (tempo.co)

Begitu juga Albert Einstein yang juga adalah seorang ahli fisika (fisikawan terkemuka) di abad 20 yang menemukan teori relativitas dahulu adalah anak yang dianggap bodoh dan tidak mampu menerima pelajaran. Serta beberapa tokoh lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Yang pasti, anak-anak seperti ini bukanlah aib yang harus disembunyikan. Mereka adalah insan yang diberikan kelebihan yang semestinya digali dan dikembangkan demi kehidupan mereka selanjutnya.


Adi Kurniawan, Lomba cipta baca puisi tingkat Prov. Lampung


Adi Kurniawan adalah salah satu siswa di SLBN Metro SMPLB D, ia kebetulan ditunjuk untuk mengikuti lomba cipta baca puisi yang diadakan di Provinsi Lampung.

Dengan melawan beberapa peserta lain, Adi mampu meraih juara 2. Sebuah prestasi yang baik meskipun targetnya adalah juara pertama, tapi bagi anak-anak berkebutuhan khusus, bisa ikut dalam event perlombaan dan memenangkan lomba adalah kebanggaan.

Menjadi pencipta dan pembaca puisi juga tidak mudah, karena membutuhkan pengetahuan seni dan sastra yang baik. Selain itu membutuhkan penjiwaan yang dalam agar puisi itu senantiasa indah.

Yang pasti, kemenangan adalah impian, tapi belajar dan terus belajar adalah proses hidup yang harus dijalani dengan kesabaran dan kegigihan hingga tujuan tercapai.


Jumat, 03 Juni 2016

Pah, Mengapa Engkau Membuangku

Pagi itu seorang ibu tengah asyik mengerjakan pekerjaan rumahnya. Mengepel, mencuci dan memasak menjadi kegiatan sehari-hari. 

Sungguh getol sang ibu meskipun tubuhnya terlihat lelah tapi tetap bersemangat. Padahal perutnya tengah membuncit lantaran sudah hamil 5 bulan. 

Ia adalah wanita yang beruntung, memiliki suami seorang tentara adalah sebuah kebanggan. Gaji sang suami sudah menjadi persiapan kebutuhan sehari-hari. Tak seperti wanita lain yang harus membanting tulang di perkebunan karet misalnya, atau harus pagi-pagi subuh ke pasar karena harus berjualan. Dan tidak juga seperti ibu-ibu lain yang harus ke sawah lantaran tanaman padinya sudah banyak dikerubuti rumput. Tidak, ia cukup beruntung dan ia tak perlu susah-susah bekerja demi menyambung hidup. Tugasnya murni sebagai pendamping suami, bekerja ya di rumah mempersiapkan kebutuhan bagi suaminya kala suami berada di rumah. 

Maklum, bagi seorang tentara, suaminya harus mengabdi pada negara. Apalagi tatkala masih bertugas di daerah perbatasan, tentu hingga berbulan-bulan sang istri tidak bisa melihat senyum suaminya. Padahal dalam kondisi hamil itu ia pun ingin dibelai-belai dan diajak ngobrol terkait rumah tangganya. Sayang sekali kesempatan itu jarang ia dapatkan lantaran memang tuntutan pekerjaan yang mengharuskan ia meredam rasa rindu yang menggebu di dada. 

Hari demi hari, bulan berganti bulan bahkan berganti tahun biduk rumah tangganya berjalan romantis, saling menjaga romantisme ala keluarga lainnya. Suami bekerja dengan waktu yang jarang dipertemukan lantaran tuntutan tugas. Istri yang setia menanti di rumah meski dalam kesepian. 

Tapi sayang, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, lantaran kelahiran anak pertama justru anak yang dilahirkan tidak sempurna. Anak yang diidam-idamkan seperti anak yang lain dengan aneka kelebihan yang dimiliki, anak yang ceria dan membanggakan kedua orang tua. Anak tersebut terlahir sebagai anak autis. Anak yang cenderung hiperaktif. Kelahiran anak satu-satunya ini ternyata meninggalkan kecewa orang tua, khususnya sang ayah yang sedari awal mengharapkan memiliki anak yang sempurna. 

Salam

Terkait Bela Negara, Memang Urusan Siapa?

Heboh akhir-akhir ini ternyata semakin menjadi-jadi. Di sana-sini terjadi terjadi huru-hara yang justru mengundang pro dan kontra, belum lagi terkait hajat Pilkada Serentak, kayaknya juga menjadi masalah yang "kayak" serius banget. Ee belum selesai masalah ini, muncul lagi masalah perang-perangan ala senayan. Antara pemerintah dan legislatif terlihat gak pro, dan kelihatan seperti anak-anak. Pemerintahnya sudah susah payah bekerja, ee para wakil rakyat bikin sensasi, menyebar kop gak jelas dengan tulisan presiden Megawati. Nggak tahu ya, apa memang negeri ini diciptakan untuk tidak dewasa, jadi persoalan yang sejatinya bisa diselesaikan dengan amat sederhana, seakan-akan dibuat mumet dan ribet.  

Dua lembaga tinggi negara justru saling bermusuhan ala ajam aduan, gak saling bersinergi tatkala negeri ini membutuhkan pegangan. Ekonomi yang masih fluktuatif seharusnya menjadi perhatian yang lebih serius. Jangan mikirin tunjangan melulu dan meributkan isi kantong pribadi, padahal masyarakat pedesaan dan para korban bencana sangat membutuhkan perhatian. Walah jadi ngelus dada dan tepuk jidat kalau melihat fenomena lucuh ini. 

Belum lagi kegagalan mentri Yasona Laoly yang "membiarkan" penjahat sekelas GT itu bisa indehoy dan kluyuran yang juga membuat respon dari banyak kalangan. Kog sepertinya penjara itu hanya tempat persinggahan. Sudah tempatnya enak, fasilitas bisa dipesan, dan mudahnya jalan-jalan kayak orang utan. Mungkin perempuan juga bisa dipesan ya? Ah... nggak mau suudzon, nanti bikin dosa dan bikin sengsara dunia dan akhirat. 

Nah, meskipun persoalan di pemerintah sudah cukup membludak, muncul lagi dengan istilah Bela Negara, orang-orang terkaget-kaget melihat ide ini. Mereka beranggapan dan beralasan kalau ada program bela negara tentu menjadi masalah baru, bener sih, karena memang gak sesederhana menelorkan kebijakan, jika antisipasi setiap kejadian belum ada langkah yang jelas. Tapi, selaku warga negara yang baik saya mendukung kebijakan Bela Negara ini. Semua warga negara dan ber KTP Indonesia ya harus membela negaranya. Gak bisa ditawar-tawar lagi. Semua harus turun tangan agar negeri ini bisa kembali, kemakmuran bisa diraih lagi, negeri yang loh jinawi. Lalu, bagaimana bisa meraih tujuan itu, seperti dalam Pembukaan UUD 1945: 

"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial" 

Karena membaca Pembukaan UUD 45 itu, maka selayaknya setiap warga negara itu harus bisa menolong negaranya dari segala macam ancaman. Ancaman di sini tidak harus berbentuk ancaman dengan senjata, lantaran kebodohan dan kemiskinan saat ini menjadi ancaman terberat di negeri ini. Bahkan jika ditelisik, bahwa kehancuran bangsa itu awalnya karena kebodohan dan kemiskinan, lantaran dengan lemahnya kedua elemen itu, maka suatu negara mudah dilemahkan dan akhirnya secara perlahan hancur, luluh lantah tanpa bekas. Pendidikan yang tertinggal menjadi awal kehancuran di segala bidang. Kalau pendidikan rakyatnya rusak, maka otomatis semua dimensi kehidupan semakin gak karu-karuan. Kemiskinan semakin merajalela dan tak perlu dengan senjata, negara itu akan binasa dengan sendirinya. 

Saya sependapat dengan Pak JK soal bela negara itu tak harus dengan senjata, karena membela negara itu bisa dengan menjadi guru, pedagang, ulama, petani, nelayan, atau jadi pejabat di senayan. Jadi membela negara itu semua aktivitas kita demi memperoleh kehidupan yang lebih baik itu hakekatnya sudah membela negara. Kalau guru sudah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencetak generasi cerdas dan berkompetisi global, maka mereka sudah menjadi pembela negara. Satu orang bisa menghasilkan ribuan orang ahli yang terdidik dalam bidang masing-masing. Pedagang yang jujur menjadi pembela negara jika mereka tidak berlaku curang dan menimbun aneka barang kebutuhan masyarakat. Tak membuat panik dengan kenaikan harga yang terlalu mahal itu juga bentuk membela negara. Petani pun demikian sama halnya dengan nelayan dan pekerja-pekerja lain, hakekatnya mereka semua adalah pembela negara. 

Para ulama, kiyai, pastur, pendeta, dan tokoh-tokoh agama pun sudah membela negara. Mereka mengajarkan makna cinta kasih dan akhlak pada sesama. Karena dengan modal itu negeri ini akan menjadi negeri yang tenang dan damai. Begitu pula para pejabat di senayan, bekerja dengan profesional dengan mendahulukan kepentingan rakyat juga termasuk membela negara, tak usah ikut-ikut mengoleksi senjata untuk ikut berperang. Karena membantu rakyat mengentaskan kemiskinan sudah cukup dianggap membela negara. Daripada berdebat dan ribut persoalan tak penting mending fokus pada tujuan awal mereka menjadi pejabat, kan visi-misinya ingin negara ini maju, khan? Bukan justru membuat statement dan tindakan yang memalukan. Disaat para korban terhimpit masalah dampak lingkungan, dan di saat para korban bersiap-siap meregang nyawa lantaran sesak oleh asap, eee para wakilnya justru berebut jatah tunjangan. 

Mbok ya malu dan prihatin dengan keadaan yang tengah membelit. Jangan urusan dompet sendiri diperhatikan sedangkan masyarakat diabaikan. 

Namun demikian, jika suatu saat nanti, negeri diambang perang besar, dan semua rakyat harus membela negara dengan mengangkat senjata, apa boleh baut ee buat, maka saya pun siap membela negara. Membela negara dari jajahan asing dan jajahan para penghianat negeri ini.  

Tapi yang saat ini harus saya kerjakan adalah, membela negara ini dari kebodohan, mudah-mudahan semua aktivitas apapun bentuk merupakan wujud bela negara yang sesungguhnya. 

Ya sudahlah.... smga kita semua mau membela negara tanpa diminta, karena itulah kita menjadi warga negara. Warga yang selalu ada di depan, tengah dan belakang negaranya. Mendukung setiap usaha negeri ini meraih kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan untuk semua. Salam

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/terkait-urusan-bela-negara-emang-urusan-siapa_562183ee6523bdc30f24051b

Selasa, 03 Mei 2016

Inilah Alasan Mengapa Setuju Jika Game "Brutal" Diblokir

Terus terang sejak saya membaca artikel tentang peretasan situs KPAI karena ulah hacker saya jadi tertarik untuk membuat tulisan ini. Tulisan ini bukan karena saya benci kepada para pembuat game atau para maniak game, karena apalah saya ini yang orang kampung yang kurang bisa main game sampai jadi pemenang dan berhadiah milyaran rupiah (apa?). Jadi kepentingan tulisan ini bukan bersifat tendensius menyerang pembuat dan penyuka game, tapi sekedar sharing betapa kehidupan anak-anak sekarang banyak yang sudah terkontaminasi oleh aktivitas bermain game tersebut.

Saya sebagai guru sekaligus orang tua dari anak-anak yang sedang bertumbuh, jujur masih suka menengok game yang ada di internet., karena saat ini game banyak bertebaran seperti di Facebook juga tersedia beraneka jenis game. Maka amat mudah sekali saya bisa memainkannya meskipun hanya sebatas mengenal.

Dan saya tidak tertarik dengan yang berbau PS-an karena memang membeli game jenis itu butuh duit yang banyak hingga jutaan rupiah, makanya saya tidak menyediakan game itu dalam kehidupan anak-anak saya. Selain karena ketiadaan materi untuk menyediakan game, karena saya lebih suka memberikan buku-buku cerita bagi anak-anak saya. 

Karena menurut saya, dengan buku-buku cerita yang bermanfaat ternyata memberikan efek yang cukup positif bagi prilaku dan pemikiran anak-anak, karena memang buku-buku tersebut memuat unsur edukasi yang berkaitan dengan akhlak yang baik kepada sesama manusia. Meskipun ada yang mengandung cerita sejarah, tapi yang tertuang di dalamnya amat dibutuhkan bagi anak-anak. Khususnya anak saya sendiri.

Mohon maaf sebelumnya kepada sekelompok hacker yang dituduh meretas situs KPAI setelah lembaga perlindungan bagi anak-anak Indonesia ini menginginkan game-game kekerasan di dunia maya dihapuskan dari peredaran, karena memang saya merasa perlu membuat "pernyataan" atau bahkan "petisi" bahwa game-game kekerasan memang tak semestinya diproduksi bagi anak-anak. Dan kebetulan game-game tersebut tidak bisa difilter penggunaannya bagi pengguna belia, maka secara otomatis keberadaannya sudah sangat berbahaya. Sama bahayanya dengan situs-situs dewasa yang menyuguhkan tontonan yang tidak mendidik.

Saya menulis ini boleh jadi mengundang emosi dan nyinyir para pembuat dan penyuka game, lantaran mereka sudah sangat menyukai dan rela menghabiskan waktu serta uang yang tidak sedikit demi permainan tersebut. Tidak salah dengan kesenangan akan game, dan tidak salah mereka menggunakan uang untuk bermain game, karena bukan wilayah saya memprotes apa yang berkaitan dengan hak individu. Tapi yang menjadi fokus di sini bahwa ada banyak generasi muda yang menadi korban karena beberapa game tersebut justru mengundang aksi kekerasan dan brutal. Sebut saja contoh dari deretan nama-nama game yang dinyatakan harus diblokir adalah Mortal Combat. Sejak saya mengenal game tersebut saya sudah mencobanya, dan saya melihat ada aksi kekerasan dan brutal yang dicontohkan dalam game tersebut. Bagaimana seseorang berkelahi tanpa memakai etika kemanusiaan, mereka membunuh lawan tandingnya dengan kekejian, salah satunya dengan "maaf" memotong kepala lawannya yang kalah berduel.

Ada juga game Pont blank, saya pernah juga mencoba game tersebut yang ujung-ujungnya adalah aksi penembakan oleh seorang penyusup atau seseorang yang bersenjata dengan mengorbankan para prajurit di suatu tempat. Saya baru beberapa kali mencoba, dan saya melihat kekerasan di sana sudah merasa tidak layak untuk memainkannya.

Dari contoh game-game brutal tersebut semenjak saya memainkannya ada suatu efek tersendiri dalam otak dan kepribadian saya, padahal saya sendiri sudah dewasa sewaktu mengenal game itu. Seperti misalnya saya tiba-tiba berekspresi marah apabila saya ternyata aktor duel dalam game tersebut mengalami kekalahan, tiba-tiba orang-orang yang tidak bersalah menjadi korban amarah saya. Itu terjadi setelah saya memainkan game itu. Beruntung aksi pembunuhan secara sadis itu tidak berujung pada aksi sadistis. Karena aktifitas itu langsung saya hentikan dan setelah merasakan efek negatif itu saya sudah tidak lagi memainkannya.

Diri saya merespon permainan itu dengan sangat cepat, maka saya pun segera meninggalkan aktivitas itu meski saya tidak menghapuskannya dari PC saya.

Setelah saya menghentikan aktivitas bermain game “ganas” itu, ternyata tidak sengaja anak saya yang masih belia memainkan game itu tanpa sepengetahuan saya, dan efeknya dua anak yang sama-sama laki-laki itu perangainya berubah drastis. Keduanya saling memukul dan menunjukkan ekspresi negatif. 

Mereka menjadi sulit dikendalikan, dan keinginannya selalu saja ingin memainkan game yang sama tanpa bisa dihentikan. Dampaknya aktivitas sekolah (yang kebetulan masih di TK) agak terganggu lantaran permainan itu.

Karena melihat efek negatif itulah game-game yang dikategorikan brutal itu saya hapus dari peredaran, saya khawatir efeknya akan lebih parah lagi. Dan alhamdulillah, setelah game-game tersebut saya hilangkan dari PC saya, saat ini aktivitas belajarnya tidak terganggu dan kekerasan fisik yang biasanya terjadi di antara anak saya mulai hilang.

Beberapa kejadian itu hakekatnya adalah efek dari game “brutal” yang ternyata permainan itu ada dalam daftar game yang semestinya diblokir. Karena saya merasa efeknya sangat berbahaya bagi pertumbuhan kepribadian anak, khususnya anak saya. Maka saya mendukung sekali jika game-game merusak itu harus disingkirkan. Meskipun upaya pemerintah memblokir game itu akan mendapatkan perlawanan dari para hacker yang tentu saja memiliki kemampuan meretas situs-situs pemerintah seperti KPAI itu.

Perang melawan game “brutal” mesti dilakukan

Kenapa saya memiliki pendirian tetap bahwa game-game brutal semestinya diblokir? Alasannya karena efek yang ditimbulkan ternyata sangat berbahaya bagi prilaku anak. Dan saya sudah mengalami sendiri. Saya melakukan riset dengan pengamatan prilaku dan menilai perubahan orientasi saya sendiri yang pernah memainkannya, menunjukkan bahwa bermain game model kekerasan dan brutal sungguh berefek tidak baik.

Saya pernah juga menulis artikel yang berkaitan dengan kekerasan orang tua terhadap anaknya. Di mana artikel itu mengulas dari berita di internet seorang ayah tega menghabisi anaknya lantaran kesibukannya bermain game. Disini

Pelaku kekerasan tersebut boleh jadi bukan satu-satunya pelaku yang dijerat dengan pasal kekerasan terhadap anak, lantaran banyak sekali anak-anak di negeri ini yang terlibat tawuran, melawan orang tua, menyakiti teman-temannya hingga berujung kematian, ternyata salah satu aktivitasnya adalah bermain game. Saya membuat pengecualian ada beberapa game “positif” yang banyak beredar di dunia maya yang justru bisa mendidik anak. Saya tidak perlu menyebutkan satu persatu lantaran game-game tersebut memang didesain untuk merangsang kognisi anak untuk berkembang lebih baik, misalnya game puzzle yang efeknya sangat baik. Itupun jika gambar-gamber yang ditunjukkan adalah hal-hal positif juga. Nah jika gambar-gambarnya ternyata negatif maka amat mungkin untuk dilarang memainkannya.

Memang sih, ada banyak pihak yang menganggap pemblokiran game-game itu mencerai hak para penggunanya, tapi jika menelisik jatuhnya korban lantaran permainan itu tentu amat wajar jika pemerintah perlu mengambil sikap. Meskipun sikap tegas pemerintah ini akan mendapatkan perlawanan dari berbagai pihak, tapi yang pasti masyarakat Indonesia akan mendukung usaha positif ini, sama halnya ketika Menkominfo memblokir situs-situs porno yang banyak menjamur di jagar internet.

Meski demikian, keberadaan game itu memang bukan satu-satunya penyebab kebrutalan anak, tapi menjadi satu point penting mengapa karakter anak-anak menjadi berubah ke arah negatif, karena tontonan di televisi, bacaan yang tidak mendidik,  dan prilaku menyimpang orang-orang di sekitarnya juga menjadi salah satu penyebab terjadinya penyimpangan prilaku anak.

Peran orang tua dalam mengawasi game-game anak

Orang tua tetaplah menjadi pemeran penting pendidikan bagi anak-anaknya. Mereka adalah teladan bagi tumbuh kembang anak. Karena merekalah yang pertama kali bersentuhan dan berbicara dengan anak-anak ketika di rumah, maka semestinya lebih banyak memberikan bimbingan terhadap prilaku anak dan aneka jenis permainan yang disukai anak-anaknya.

Anak lebih bisa dikontrol oleh orang tua lantaran hanya merekalah yang bisa melakukannya di rumah dan terlalu banyak waktu yang bisa dilakukan agar kebiasaan bermain game dalam dibatasi. Tidak hanya pada permainan negatif saja, karena permainan positif ketika anak tidak mendapatkan batasan dari orang tua, maka efeknya amat berbahaya juga. Anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget dan game PC daripada belajar dan beraktifitas dengan anak-anak lainnya.

Pengaruh negatif selalu saja bisa muncul ketika berkaitan dengan dunia permainan. Sehingga keberadaan orang tua harus selalu menjadi filter dan pengawas atas aktivitas anak-anaknya di rumah.

Mudah-mudahan kita semua bisa menjadi bagian pengendali dan pemerhati masalah pendidikan dan perilaku anak-anak, baik anak-anak pada umumnya dan tentu saja anak sendiri tentunya.

Salam 

Metro, Lampung, 3/5/2016

Rabu, 30 Maret 2016

Apakah karena Ibuku Warga kelas III, Kau Abaikan Keselamatannya?

Jaminan Kesehatan Nasional adalah jaminan kesehatan yang sangat membantu bagi masyarakat. Tapi kelemahannya adalah seolah-olah JKN itu benar-benar jaminan bagi kaum tak membutuhkan layanan terbaik. Mereka seringkali mendapatkan pelayanan yang kurang sesuai dengan derajat layanan kesehatan maksimal (gambar: liputan6.com)


Sudah sebulan ibuku tutup usia pasca penyakit komplikasi yang diderita di Rumah Sakit pemerintah di kotaku, yang kebetulan adalah pasien rujukan dari RS swasta di kota yang sama. Kondisi ibu sampai saat itu masih terbaring lemah tak berdaya lantaran penyakit yang diderita. Penyakit hipertensi, demam berdarah dan kelelahan hingga sang ibu tiba-tiba ambruk dan tidak bisa diajak bercakap-cakap lagi hingga menjeput ajalnya.

Sedih..

Boleh jadi dan memang benar kata pepatah, uang adalah segala-galanya. Sama yang dialami almarhumah ibuku ketika menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut. Masyarakat dengan ekonomi pas-pasan semestinya selalu berada di bawah saja, dengan kondisi yang apa adanya. Tak perlulah layanan yang aneh-aneh lantaran hanya kelas-III. Pasien pemegang kartu gratis dari pemerintah ini identik masyarakat kelas tiga dgn status rendahan. 

Rendah sekali ya sepertinya julukan warga kelas-III ini. Ya begitulah. Siapapun yang berobat dengan menggunakan kartu JKN yang disubsidi oleh pemerintah maka selayaknya jangan berharap terlalu besar. Cukup menunggu keajaiban dari Allah SWT maka kesembuhan akan didapatkan. Dan boleh jadi perasaan ini akan banyak dialami oleh masyarakat lain yang se-level dalam tingkat ekonomi di masyarakat.

Dan kayaknya saya mulai sependapat dengan opini bahwa "orang miskin tidak boleh sakit". Lantaran bagi siapa saja yang berstatus miskin tentulah akan sulit mendapatkan layanan kesehatan yang memadai. Jangankan berharap mendapatakan pelayanan dan perawatan yang tepat, tuntas dan akurat, karena di kala pendaftaran pun sudah beda cara menyapa. "Keluarga make BPJS ya Pak?. Bahkan ketika kutanya terkait ruang yang layak untuk pasien yang setengah sekarat itu, mereka selalu berkilah bahwa ruangan kelas-I dan II sudah penuh dan yang tersisa hanyalah ruangan kelas-III. Itupun kita belum tahu kapan pasiennya akan check out dari ruang itu. Untuk sementara waktu di ruang UGD, nah kalau kamarnya sudah kosong, keluarganya baru bisa pindah ke ruangan yg baru." 

Sebenarnya tidak salah dalam pernyataan ini, tapi yang tersurat dari pernyataan itu adalah stigma ketika keluarga menggunakan kartu BPJS maka jangan berharap mendapatkan layanan terbaik. Meskipun pemerintah menjamin kesetaraan (egalitas) terhadap warga. Tapi sayang sekali, program yang cukup "menjanjikan" ini, saat ini belum sepenuhnya bisa dirasakan oleh lapisan masyarakat bawah. Terutama keluarga miskin, khususnya keluarga sendiri yang kebetulan menggunakan fasilitas gratisan dari pemerintah ini. Meskipun sebenarnya tidak gratis, lantaran dana yang digelontorkan oleh pemerintah kepada pihak BPJS dan Rumah Sakit adalah dana APBN yang diperoleh dari Pajak dan pendapatan lain dari warga.

Tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali udara dan air dari Tuhan yang saat ini juga sudah dikomersilkan. Untuk mendapatkan fasilitas oksigen dan air saja harus membayar, padahal semua sudah tersedia di alam ini dan manusianya tinggal memanfaatkannya.

***

Singkat cerita, hampir sebulan yang lalu kebetulan ibuku tidak tertolong, lantaran penyakit komplikasi yang dideritanya kala itu. Almarhumah ibuku merasakan demam, kepala pusing dan tubuh merasa lelah yang luar biasa. Karena saya sendiri berdomisili di kota yang berbeda, saya tidak bisa sepenuhnya mengetahui keluhan dari beliau. Dan tepat di hari Minggu, ibu sudah tak berdaya dan sudah diantar ke RS Swasta di kota ini  untuk diberikan pengobatan. 

Ketika itu saya dikonfirmasi bahwa Ibu sudah berada di RS swasta dengan diantar oleh salah satu tetangga. Meski saya sempat kecewa kenapa almarhumah di bawah ke RS itu, tapi ya sudahlah saya bersyukur karena masih ada yang mau menolong meski tak sesuai dgn yang diharapkan. Dan sayapun memutuskan untuk segera melihat kondisi beliau, ternyata sang ibu sudah diberikan layanan di ruang selasar dengan tiga orang pasien dalam satu ruangan. Ruangannya terlihat sumpek dan sesak. 

Selama menemani ibu, di hari kedua saya sempat bertanya pada Bapak, pak apa sudah dites darah, penyakit apa gerangan Ibu, kata Bapak sudah, tapi penyakitnya apa belum jelas tapi katanya serangan struk. Untuk memastikan apakah benar-benar ibu sudah dites darah, saya pun menanyakan pada pihak perawat. Perawat pun menjawab katanya sudah dicek darah dan dia menunjukkan coretan kecil di kertas observasi. Tapi yang saya heran, ia tidak menjelaskan penyakit apa gerangan, melainkan setelah saya beritahukan gejala panas yang kadang naik turun.

Saya menduga ada serangan DBD. Tapi sekali lagi, mungkin karena keluarga saya orang awam, dan kebetulan memakai kartu JKN yang dari program pemerintah itu, ibuku pun dirawat di sana. 

Ada yang sempat tidak terima adalah, untuk pasien lain di kelas yg berbeda perawat terlihat keluar masuk mengontrol pasien, tapi untuk ruang kelas 3 ini kog sepertinya agak dicuekin. Bahkan sampek selang impus terlepas dan saya melaporkan pada perawat justru perawatnya bilang "maaf pak bisa dipasang besok pagi nunggu dokter datang". Mak jleg, saya jadi heran, kenapa pasien yang jelas-jelas dibiayai oa leh uang negara dan uang rakyat pula mengapa dianggap remeh begini? Apakah memang begini aturan rumah sakit terkait pasien GRATIS ini? Dalam hati saya terus saja bertanya-tanya.

Tapi saya menyadari mungkin karena ibuku hanya menggunakan kartu JKN (dulu Jamkesmas) yang jika dibiarkan boleh jadi pasien akan dibiarkan mati sia-sia.

Hingga tiga hari pasca dirawat di ruang selasar, ibu sudah bisa berbicara, tapi setelah itu beliau tidak sadar dengan awal keluhan sakit kepala karena almarhum memegang kepala berulang-ulang dan memberontak ingin pulang.

Saya sampaikan kondisi itu, perawat pun tidak memberikan jawaban apa2, dan ketika dokter datang, pihak keluarga pun sama sekali tidak diberitahu bagaimana kondisi terkini. Dokter ini hanya datang, ngomong ngalor ngidul lalu keluar gak lebih dari semenit. Sebuah pelayanan yang tidak manusiawi bagi seorang pasien.

Hingga akhirnya di hari ke empat, ibuku dipindah ke ruang penyakit dalam lagi-lagi sama sekali kurang mendapatkan pelayanan yang baik. Perawat ketika ditanya pun tampak acuh tak acuh, dan dokter yang datang hanya menempelkan stetoskop kemudian pergi tanpa memberikan pernyataan sedikitpun. Dalam hati saya, benar-benar ibuku ini manusia hina di hadapan mereka. Mentang-mentang memakai JKN lantas pelayanan tidak manusiawi.

Berbeda sekali dengan pasien umum, atau yg punya koneksi, mereka bisa memilih layanan dan fasiltas pun lebih baik.

Setelah sepekan dirawat, ibuku justru semakin parah, ia sama sekali tidak bisa berkomunikasi dan matanya pun sudah pernah bergerak. Saya panik apa yang terjadi. Dan tak lama ternyata ketika tahu kondisinya sudah parah, ibuku dirujuk ke rumah sakit pemerintah. Sesampainya di RS tersebut, saya menanyakan apakah ada ruangan untuk ibu saya, pihak rumah sakit mengatakan untuk ruang kelas-I dan II sudah penuh dan kelas-III juga belum ada, menunggu sore hari mungkin ada pasien yang keluar. Kira-kira itulah jawabannya.

Ibu saya sudah terbaring lemah di UGD seperti manusia yang tak berguna. Pihak dokter memeriksa sampel darah dari mulai pukul 14.00 WIB sd. 16.00 WIB pun blm juga kelar. Padahal saya tahu ibu saya butuh perawatan intensif. Saya sempat marah dan protes apakah karena memakai kartu Gratis itu ibuku lama penanganannya? Mereka menjawab tidak membedakan pasien meskipun setelah saya protes, setelah itu barulah disodori kertas untuk ditanda tangani sebagai pihak yang bertanggung jawab. 

Sudah sekian lama menunggu dengan barang-barang kami yang kami angkut dari RS pertama, hingga menjelang maghrib (17.30 WIB) barusan ibu dirawat di ICU dgn kondisi yg sudah tidak bergerak lagi. Kata dokter kondisi ibu sangat parah dengan penyakit komplikasi meskipun yang aneh saya sama sekali tidak diperkenankan melihat rekam medik dari rongent. Tapi saya berusaha percaya bahwa dokter ini akan bekerja dgn profesional.
Masuk di ICU kami tetap meminta agar dirawat dgn baik, tapi kami berpasrah, karena keterlambatan penanganannya ibuku pun tak bisa diselamatkan lagi. Meskipun kabar meninggalnya beliau ternyata sempat salah info karena sang perawat mengatakan bahwa ibuku sudah tiada hingga keluarga memastikan kondisinya, dan ternyata masih hidup. 

Beruntung kami tidak menuntut rumah sakit. Meskipun akhirnya beliau dikabarkan meninggal setelah lima belas hari dirawat di ICU akibat pelayanan rumah sakit yang tidak manusiawi.

Sebagai warga negara yang baik, saya sangat salut dgn program kartu sehat presiden Jokowi karena banyak pasien miskin bisa dirawat dengan gratis. Tapi apalah artinya biaya digratiskan jika pelayanannya tidak layak dan merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Kematian memang sudah ada waktunya, tp proses penyembuhan yg baik menjadi awal keselamatan pasien.

Kalau model begini jadinya, ada baiknya JKN itu dihapuskan saja, karena justru dimanfaatkan rumah sakit dan BPJS untuk meraup keuntungan dari uang negara. Dan mudah-mudahan tidak ada lagi pasien yg bernasib sama dengan almarhumah.

Salam

*Saya berterima kasih karena ibuku telah dirawat meski tidak tertolong, sehingga saya tidak menuliskan nama rumah sakitnya lantaran terkait undang-undang informasi dan transaksi elektronik.

The Story of an Hour

fisikasma-online.blogspot.com


Knowing that Mrs. Mallard was afflicted with a heart trouble, great care was taken to break to her as gently as possible the news of her husband's death.

It was her sister Josephine who told her, in broken sentences; veiled hints that revealed in half concealing. Her husband's friend Richards was there, too, near her. It was he who had been in the newspaper office when intelligence of the railroad disaster was received, with Brently Mallard's name leading the list of "killed." He had only taken the time to assure himself of its truth by a second telegram, and had hastened to forestall any less careful, less tender friend in bearing the sad message.

She did not hear the story as many women have heard the same, with a paralyzed inability to accept its significance. She wept at once, with sudden, wild abandonment, in her sister's arms. When the storm of grief had spent itself she went away to her room alone. She would have no one follow her.

There stood, facing the open window, a comfortable, roomy armchair. Into this she sank, pressed down by a physical exhaustion that haunted her body and seemed to reach into her soul.

She could see in the open square before her house the tops of trees that were all aquiver with the new spring life. The delicious breath of rain was in the air. In the street below a peddler was crying his wares. The notes of a distant song which some one was singing reached her faintly, and countless sparrows were twittering in the eaves.

There were patches of blue sky showing here and there through the clouds that had met and piled one above the other in the west facing her window.

She sat with her head thrown back upon the cushion of the chair, quite motionless, except when a sob came up into her throat and shook her, as a child who has cried itself to sleep continues to sob in its dreams.

She was young, with a fair, calm face, whose lines bespoke repression and even a certain strength. But now there was a dull stare in her eyes, whose gaze was fixed away off yonder on one of those patches of blue sky. It was not a glance of reflection, but rather indicated a suspension of intelligent thought.

There was something coming to her and she was waiting for it, fearfully. What was it? She did not know; it was too subtle and elusive to name. But she felt it, creeping out of the sky, reaching toward her through the sounds, the scents, the color that filled the air.

Now her bosom rose and fell tumultuously. She was beginning to recognize this thing that was approaching to possess her, and she was striving to beat it back with her will—as powerless as her two white slender hands would have been.

When she abandoned herself a little whispered word escaped her slightly parted lips. She said it over and over under her breath: "free, free, free!" The vacant stare and the look of terror that had followed it went from her eyes. They stayed keen and bright. Her pulses beat fast, and the coursing blood warmed and relaxed every inch of her body.

She did not stop to ask if it were or were not a monstrous joy that held her. A clear and exalted perception enabled her to dismiss the suggestion as trivial.

She knew that she would weep again when she saw the kind, tender hands folded in death; the face that had never looked save with love upon her, fixed and gray and dead. But she saw beyond that bitter moment a long procession of years to come that would belong to her absolutely. And she opened and spread her arms out to them in welcome.

There would be no one to live for during those coming years; she would live for herself. There would be no powerful will bending hers in that blind persistence with which men and women believe they have a right to impose a private will upon a fellow-creature. A kind intention or a cruel intention made the act seem no less a crime as she looked upon it in that brief moment of illumination.

And yet she had loved him—sometimes. Often she had not. What did it matter! What could love, the unsolved mystery, count for in face of this possession of self-assertion which she suddenly recognized as the strongest impulse of her being!
"Free! Body and soul free!" she kept whispering.

Josephine was kneeling before the closed door with her lips to the keyhole, imploring for admission. "Louise, open the door! I beg, open the door—you will make yourself ill. What are you doing Louise? For heaven's sake open the door."

"Go away. I am not making myself ill." No; she was drinking in a very elixir of life through that open window.

Her fancy was running riot along those days ahead of her. Spring days, and summer days, and all sorts of days that would be her own. She breathed a quick prayer that life might be long. It was only yesterday she had thought with a shudder that life might be long.

She arose at length and opened the door to her sister's importunities. There was a feverish triumph in her eyes, and she carried herself unwittingly like a goddess of Victory. She clasped her sister's waist, and together they descended the stairs. Richards stood waiting for them at the bottom.

Some one was opening the front door with a latchkey. It was Brently Mallard who entered, a little travel-stained, composedly carrying his grip-sack and umbrella. He had been far from the scene of accident, and did not even know there had been one. He stood amazed at Josephine's piercing cry; at Richards' quick motion to screen him from the view of his wife.

But Richards was too late.

When the doctors came they said she had died of heart disease—of joy that kills.

Sumber :

http://www.pbs.org/katechopin/library/storyofanhour.html#


Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!