Selasa, 06 Juni 2023
Minggu, 28 Mei 2023
Kamis, 10 Maret 2022
Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu
![]() |
| Ilustrasi seorang guru sedang mengajar di depan murid-muridnya (dokumen pribadi) |
Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag.
Pernahkah Anda membandingkan antara guru masa kini dan guru masa lampau? Atau sekedar ingin mengamati perkembangan peradaban pendidikan di era daun dengan internet saat ini?
Jawabannya adalah ketulusan berbagi. Meskipun tidak bisa juga menjustifikasi bahwa guru lama lebih baik dan guru sekarang kurang baik. Karena dulu dan sekarang pun tergantung personalnya. Baik dan enggak adalah karakter.
Memang sih perubahan zaman dan fenomena yang melingkupinya akan selalu sama dengan yang kita alami sendiri, sebab karena minimnya pengetahuan kita akan kondisi masyarakatnya.
Sama dengan pemahaman kita bagaimana seorang pendidik yang menurut banyak orang dianggap sosok yang gak terlalu butuh sanjungan, penghargaan yang bersifat klise atau pangkat yang hanya sebagai penghias pundaknya.
Ternyata pendapat itu bisa sejalan dengan apa yang kita alami sendiri. Seseorang yang seharusnya selalu memberikan secercah cahaya kegelapan bagi orang-orang di sekitarnya ternyata banyak yang eman-eman dan menilai segalanya hanya dengan materi. Uang masih menjadi tolak ukur penghargaan atas prestasinya.
Kenapa orang berkompeten harus dermawan ilmu dan gak melulu mengejar materi? Kenapa pula keterampilan dan kemampuannya seolah-seolah barang antik dan mahal yang harus disembunyikan dan dinikmati sendiri meskipun seharusnya semua pengetahuan semestinya dibagi secara free? Bukan justru menumpuk-numpuk pengetahuan, menyimpannya dalam karya-karya penelitian, tapi kosong kebermanfaatannya.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kita urai saja satu persatu ya.
Kenapa orang kompeten harus dermawan ilmu?
Jawabannya semakin ilmu itu dibagi, maka ilmunya pun akan bertambah. Bukan justru semakin habis. Selayaknya pisau kalau diasah akan semakin tajam. Beda kalau disimpan, tentu akan berkarat.
Faktanya semakin tinggi ilmu seseorang tidak menjamin pula kebermanfaatannya. Banyak yang berilmu justru menyimpan ilmunya sendiri tanpa membagi pada siapa pun.
Adakalanya cenderung protektif dan seolah-olah hanya sosok yang dianggap kompeten inilah yang harus mengetahui segala-galanya.
Ironisnya jika ingin berbagi, banyak pula yang harus berbiaya mahal. Masih beruntung membagi meskipun tidak gratis. Sayangnya sudah tidak gratis, ilmunya pun hanya setengahnya.
Tidak salah memang yang beranggapan bahwa ilmu itu mahal. Toh, memang mencari ilmu juga waktunya lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi memiliki prinsip segalanya harus memakai uang juga saya kira kurang patut. Gak haram, tapi menurut kaca mata etika sangat kebangetan.
Dengan kata lain, untuk apa memiliki banyak pengetahuan, jika hanya milik sendiri dan dikonsumsi sendiri. Padahal ilmu pun adalah amanah yang harus ditebarkan ke khalayak. Itu menurut kacamata agama.
Kenapa pula hasil penelitian tidak berdaya guna?
Suatu ketika saya dapati sosok yang memiliki segudang pengalaman penelitian dan lomba guru berprestasi, sayangnya ketika ditanya hasil penelitian dan bagaimana mengaplikasikannya justru jawabannya negatif. Seolah-olah pengalaman itu mahal dan gak semudah itu kita membaginya. Padahal sebuah hasil penelitian sepatutnya bermanfaat pula.
Kita memang lelah meneliti, namun kalau semua dinilai dengan materi, apa bedanya anda dengan berdagang ilmu. Semakin bagus penelitian, semakin layak dinilai mahal. Semakin bisa dipatenkan, semakin sedikit yang bisa menikmatinya.
Semua diasosiasikan ke prinsip dagang. Kalau mau dapat ilmu, maka kamu harus membayar mahal. Kalau ingin pendidikan bermutu, bayarannya juga harus gede. Bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.
Ada juga yang berprinsip, kalau mau mendapatkan ilmu, maharnya juga besar. Sampai-sampai orang lain sulit memetik buah ilmunya itu.
Karya yang lelah dibuat hanya tersimpan di otak pemiliknya, bertumpuk-tumpuk di gudang dan dinilai sebagai aset berharga yang bisa membuat kaya.
Uang lagi yang menjadi visi dan misi kehidupannya. Sebuah ironi bukan?
Minggu, 24 Oktober 2021
Senin, 04 Januari 2021
Film The House Maid, Ketika Kesadisan Dibalas Kesadisan
Film The House Maid. Ketika Kesadisan Dibayar Kesadisan
Sejahat-jahatnya orang adalah orang yang tidak mau memberikan maaf pada orang lain yang melakukan kesalahan. Dan lebih jahat lagi adalah sosok yang mau melampiaskan dendam karena kesalahan orang lain di masa lalu.
Dan ternyata kejahatan masa lalu tercatat dalam memori otak dua sosok anak yang dengan kedua matanya melihat bagaimana orang tuanya dibantai tanpa rasa ampun karena hendak melarikan diri.
Dengan diawali oleh seorang wanita (Linh) yang tengah mencari pekerjaan. Hingga suatu ketika ia mendapati rumah besar yang sudah kuno di tengah-tengah perkebunan karet.
Dengan pakaian basah karena hujan, sang wanita muda ini mencoba menawarkan diri untuk bekerja di rumah besar dan megah itu. Ternyata kedatangannya disambut seorang perempuan setengah baya (Ny. Han) yang kemudian memberinya beberapa potong pakaian pengganti. Kemudian ia dipersilahkan bermalam di rumah besar itu sebagai persetujuan bahwa ia diterima bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan syarat masa percobaan beberapa hari.
Sejak awal para penonton memang disuguhi oleh adegan yang menyeramkan, diawali oleh gambaran kisah di perkebunan milik orang Perancis (keluarga Kapten Laurent) tersebut yang ternyata telah meninggalkan banyak kisah menyeramkan.
Ada banyak pembunuhan yang dilakukan penjaga perkebunan itu jika para pekerja tidak bisa bekerja atau hendak kabur karena tidak lagi betah atas tekanan pekerjaan yang berat.
Rumah yang nampak angker jika dipandang dari depan dan penampakan perkembunan karet yang juga menyiratkan adanya unsur mistis, ternyata disebabkan kisah pilu dan menyedihkan dari para korbannya. Semua telah diceritakan oleh sosok perempuan setengah baya yang dipercaya sebagai kepala pengurus rumah besar itu.
Sejak awal saya belum menangkap kisah apa dibalik cerita itu, dan menganggap bahwa wanita muda yang melamar pekerjaan hanyalah sosok yang tersesat dan membutuhkan pekerjaan di rumah tersebut. Eh, ternyata wanita muda itu adalah salah satu dari dua anak kakak beradik yang menaruh dendam pada pemilik perkebunan karena kedua orang tuanya tewas dibantai dan dikuburkan di tengah-tengah perkebunan itu.
Dua anak yang kini tumbuh dewasa ternyata masih menyimpan dendam masa lalu dan ingin membalaskan dendam orang tuanya karena dibantai dengan kejam oleh wanita paruh baya yang menerimanya bekerja serta sosok penjaga yang terkenal sadis mau menghabisi siapapun yang mau melarikan diri.
Kesadisan-kesadisan ditunjukkan pada para pekerja tanpa ampun. baik dengan menghabisinya secara langsung atau dihukum dengan cara dipasung dan tidak memberinya makan. Tak pelak karena pekerja itu dipasung dan tidak diberikan makanan secuil pun, akhirnya para pekerja itu mati kelaparan.
Perkebunan yang semula menjadi tempat bekerja, ternyata menjadi ladang pembantaian manusia-manusia tidak berdosa oleh penjaga perkebunan, wanita pengurus rumah besar itu dan penjaga lain yang membantu aksinya, serta kematian seorang wanita pemilik perkembunan itu yang tidak tahu penyebabnya serta jasadnyapun tidak diketemukan.
Semua orang yang dibantai digambarkan menjadi sosok yang terus meneror para pekerja dan pemilik perkebunan. Hingga secara perlahan satu persatu orang yang terlibat pembunuhan turut tewas karena dibantai oleh hantu perempuan (Madame Camille) yang konon jasadnya tidak diketemukan itu, yang ternyata pemerannya adalah wanita muda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Setelah semua pelaku kejahatan tersebut tewas, akhirnya adik kakak pun bertemu dan memutuskan mencari kuburan kedua orang tuanya. Dan ternyata di sebelah pohon besar jasad kedua orang tuanya diketemukan dengan mendapati sebuah bandul kalung yang menunjukkan bahwa kerangka jasad itu adalah benar orang tua yang telah dibantai dengan sadis.
Kisah inipun diakhiri dengan ditinggalkannya rumah tersebut dalam keadaan kosong dan adanya penampakan sosok wanita di jendela yang merupakan mendiang wanita pemilik perkebunan itu.
Meskipun film ini horor, ternyata di dalamnya selalu saja dibumbui adegan erotis. Namun tetap saja memberikan kesan horor karena ujung dari kisah asmara itu adalah kematian. Seperti tewasnya sang pemilik perkebunan (Kapten Laurent) karena dibunuh wanita pekerja yang ternyata telah dicintainya dan ternyata telah membuat keduanya menjalin asmara. Mereka saling mencintai, namun sayangnya harus tewas karena dibunuh kekasihnya sendiri karena dirasuki roh Madam Cammile yang kematiannya sangat misterius.
Ketika Kejahatan dibalas Kejahatan
Kita mengenal sebuah tayangan film di mana dalam ide ceritanya tentang balas dendam. Pada mulanya sosok tersebut adalah orang yang baik-baik saja, tapi karena telah mengalami kejahatan dan kekerasan fisik atau psikis, sosok tersebut berubah menjadi seorang penjahat yang kejam.
Sama seperti dalam film The House Maid ini, pemeran utama memerankan sebagai sosok anak yang tumbuh dewasa dengan segunung dendam dalam hatinya karena keluarganya telah dihabisi dengan sadis.
Boleh jadi kita menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang dianggap remah karena korbannya sudah di alam kubur, tapi pada sisi lain ada sosok lain yang bisa jadi menyimpan sakit hati atau dendam yang dendam itu tidak akan terbalas sebelum ia membalaskan dendamnya.
Ada banyak kisah lain di sekitar kita, di mana satu keluaga disantet sampai tujuh turunan karena pernah disakiti atau karena telah menghancurkan usahanya.
Pelaku kejahatan karena balas dendam hakekatnya karena akumulasi rasa sakit hati yang kemudian membuncah. Apalagi korban kejahatan itu adalah orang tua sendiri yang diperlakukan secara tidak manusiawi.
Pada akhirnya, kisah film ini murni tontonan meskipun mengandung "pesan" yang negatif, karena mempertontonkan kekerasan dan kesadisan yang berakibat aksi balas dendam dengan kesadisan yang sama.
Tontonan itu hanya pantas ditonton oleh orang dewasa yang sudah memahami bahwa ini hanyalah tontonan yang tidak seharusnya ditiru dan dijadikan inspirasi atas sebuah aktivitas kejahatan.
Teruslah menjadi orang yang baik dan selalu memaafkan orang-orang di sekitarmu. Karena dengan memaafkan, maka hatimu akan menjadi tenang dan tentram. Dan bagi korban kejahatan, mereka akan mendapatkan balasan surga karena telah dianiaya tanpa dosa. Sedangkan yang memaafkan pun akan mendapatkan kebaikan dalam hidupnya di dunia dan akhirat.
Salam
Minggu, 03 Januari 2021
Memory 2020, Dari Covid-19, Konflik Agama Sampai Kasus Korupsi
Memory 2020, Dari Covid-19, Konflik Agama Sampai Kasus Korupsi
Dua hari sudah kita meninggalkan tahun penuh fenomena dan warna. Selayaknya tahun-tahun lain yang juga telah dilewati bersama, ternyata menyisakan memory yang juga menguras emosi kita.
Sungguh, meskipun kita hendak mengabaikan memori tersebut, nyatanya sampai beberapa tahun kemudian, setiap detik dan moment begitu sangat memberikan makna, baik makna positif maupun negatif.
Yang pasti, terlepas ada makna positif dan negatifnya, hendaklah selalu menjadi bahan evaluasi dan renungan betapa setiap kejadian dalam kehidupan ini memiliki hikmah tersendiri.
Berbincang tentang Covid-19, sebuah realita virus yang bukan abal-abal.
Pernahkah Anda berpikir bahwa muncul isu yang dihembuskan oleh banyak orang terkait sebuah serangan virus? Isu tersebut begitu massif disebarkan oleh banyak orang terkait keberadaan virus. Di mana isu yang berkembang adalah ada yang pro dan kontra. Ada isu yang mendukung informasi sebaran virus yang sudah merenggut banyak jiwa ini. Begitu pula begitu massifnya isu yang dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu, bahwa virus ini hanyalah bualan semata. Bahkan sampai-sampai mereka yang menyangsikan kebenaran adanya virus tersebut menawarkan diri untuk ditulari virus ini.
Dua fenomena sebaran isu yang bertolak belakang ini tentu memancing banyak argumen atau pendapat. Antara percaya dan tidak. Antara ingin melihat langsung sosok yang terpapar dan siapa yang kebal virus.
Bahkan, karena penolakan untuk mempercayai adanya virus tersebut di sambut dengan penolakan pemberian vaksin pada si pelaku. Padahal fakta-fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa virus ini amatlah nyata dan sudah merenggut banyak korban jiwa.
Terlepas adanya informasi yang menyesatkan terkait oknum rumah sakit yang memalsukan kondisi pasien, seharusnya informasi yang sudah valid tentang keberadaan virus tetap ditanggapi dengan positif. Jika informasi ini sudah dianggap positif, maka mau tidak mau, dengan segala macam cara berusaha menghindari serangan virus ini. Baik dengan 3 M (Mencuci tangan dengan sabun, Menjauhi kerumunan/Menjaga jarak, dan Memakai masker), pun diiringi dengan doa semoga virus ini segera berlalu dan aktivitas bisa produktif lagi seperti semula.
Sayangnya, karena ulah oknum yang tidak mempercayai adanya virus ini, akibatnya virus inipun sulit dibendung. Kita meyakini di 2020 sebaran virus sudah berhenti, karena mematuhi protokol kesehatan. Faktanya sampai tahun berganti, virus ini belum juga sirna. Publik dibuat bingung mengapa virus ini tidak juga berhenti dan anak-anak sekolah tidak juga bisa beraktivitas secara normal. Itu semua karena merasa kebal dan tidak mempercayai informasi apapun terkait pandemik Covid-19.
Coba saja, jika setiap orang memiliki persepsi yang sama untuk mencegah penularan virus dan mengatasi persoalan penduduk yang mengiringi akibat persoalan virus ini, tentu masalah tidak berlarut-larut.
Persepsi terhadap Covid-19 sejak lama sudah terbelah. Kepercayaan publik terkait informasi yang berbeda pun seperti terkoyak karena banyak oknum yang memunculkan opini menyesatkan terkait virus ini. Bahkan ketika kita hendak mendapatkan vaksin saja kita sudah berbeda pandangan, antara siapa yang divaksin dan keandalan vaksin.
Padahal, beberapa tahun silam pun kita sudah berdebat terkait banyak vaksin terkait halal dan haramnya, dan berdebat akan dampak negatif dari vaksin tersebut.
Itu semua adalah situasi keterbelahan publik terkait pandemi Covid-19.
2020 adalah tahun kelam, karena di tahun ini banyak jatuh korban jiwa dari banyak kalangan. Dan 2020 adalah tahun di mana publik seperti dibuat bingung terkait informasi yang beredar di masyarakat.
Semoga saja di 2020 menjadi pelajaran bahwa kita harus kembali bersatu dalam persepsi bahwa virus ini harus dilawan dan bukan malah menganggapnya tidak ada atau sebagai kawan.
Munculnya konflik agama, bukti kita masih belum dewasa
Sejak mula kita lahir di bumi pertiwi, kita sudah diperkenalkan dengan aneka agama, tak perlu kita mengurai lagi agama apa yang sudah ada di negeri ini, karena sejarah sudah menceritakan bahwa kita hidup di tengah keberagaman agama.
Sayangnya, meskipun kita sudah memahami bahwa saudara kita berbeda agama, faktanya masih terus saja timbul pertikaian dan konflik antar agama. Bahkan tidak hanya dengan agama yang berbeda, dengan yang seagama saja masih berdebat mana yang paling benar dan paling pantas masuk surga. Padahal setiap hamba hanya diperintahkan untuk beribadah secara ikhlas dan memasrahkan semuanya kepada Sang Khaliq dengan apa yang diyakininya. Jikalau keyakinan sudah dianggap benar, maka yakini saja apa yang sudah dianggap benar tanpa melukai keyakinan yang berbeda.
Jika setiap individu atau kelompok merasa tidak mau diganggu, maka sebaiknya menjaga kelompok masing-masing dan tidak saling mengganggu. Meskipun diwajibkan mengajak, toh cara mengajak juga jangan memaksa. Seperti apa yang diwahyukan Tuhan bahwa tidak ada paksaan dalam agama.
Jika setiap orang merasa sudah sesuai apa yang diyakininya, maka sebaiknya berjalan saja sesuai rel yang dipahami tanpa melintasi jalan kendaraan lain, apalagi merusak keyakinan orang tanpa memahami apa yang dipahami orang lain.
Kedewasaan kita dalam agama hakekatnya saling memahami potensi dari sebuah perbedaan sudut pandang dari agama-agama. Dan jika sudut pandang itu dipaksa untuk sama, maka konflik akan terjadi.
Korupsi oh korupsi, sungguh menyayat hati
2020 masih menyisakan banyak tanya, mengapa virus ini tidak juga musnah, dan mengapa masih ada saja yang tega "mengembat" uang negara. Apalagi uang itu dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan masyarakat di tengah pandemi. Padahal, dalam situasi yang tidak menentu ini, seharusnya banyak pihak yang "waras" betapa psikis masyarakat tengah dalam situasi yang darurat.
Psikis yang cukup darurat itu disebabkan karena kondisi yang menjerat karena terdampak covid-19, seperti PHK, Kesulitan mencari penghidupan dan kejenuhan karena terlalu lama di rumah.
Sayangnya di tengah konflik psikis masyarakat, masih ada saja yang mau mengambil keuntungan dari persoalan yang ada.
Reaksi apa yang kemudian muncul karena aksi pihak curang ini? Tentu menanggapinya dengan beragam tanya, mengapa tega ya dana sosial dikorupsi? Dan kenapa bisa menyelam sambil minum air di tengah-tengah pandemi ini?
Situasi yang sulit ini ternyata tidak menyadarkan kita betapa saat ini kondisinya tengah darurat. Atau karena menganggap bahwa saat inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi psikis masyarakat yang tengah panik karena pandemi. Di saat masyarat bingung dengan keadaan, ternyata ada pihak yang mengambil keuntungan.
Sungguh 2020 adalah tahun yang penuh fenomena yang menguras energi kita. Ada banyak asa yang terkubur dan hancur karena pandemi yang tak juga berakhir, dan banyak pihak yang tertawa di dalam musibah ini. Sungguh miris.
Jika kita hendak menertawai apa yang terjadi, tentu bukanlah sesuatu yang bijak. Tapi berusaha mengintrospeksi dan berkaca diri adalah langkah paling tepat agar tidak turut serta dalam arus kegelian ini.
Biarlah 2020 tahun penuh musibah, tapi 2021 ini adalah tahun penuh harapan. Semoga di tahun ini semua yang direncanakan dapat direalisasikan dengan baik.
Seperti kemarin, ketika di tahun paceklik kita sulit menikmati bubur ayam, semoga di tahun ini, kita masih bisa menikmati singkong goreng dengan kopi kental manis.
Salam
-
Suasana pagi di Sawah Viral Jalan Proklamasi Kota Metro yang sampai saat ini menjadi tempat tongkrongan (Gambar; M. Ali Amiruddin) "Jik...
-
Halaman muka Web Guru Pembelajar Online (https:gurupembelajar.id) Siapa ya yang sudah mendengar tentang Guru Pembelajar? Sepertinya s...
-
Rumah impian seorang ASN, tapi masih terbatas impian ketika pendapatan tak sebanding dengan kebutuhan Gambar : homedesignpictures.com ...
Featured Post
Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya
Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...
Game
Belajar Bilangan 1 - 20
1. Mengenal Bilangan
2. Urutkan dari yang Terkecil
Klik angka secara berurutan:
3. Membandingkan Bilangan
Pilih tanda yang benar:
5 ❓ 10Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)
Game 1
PETUALANGAN CODING
❓ CARA BERMAIN
1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.
2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.
3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.
4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.
5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!
⚙ PENGATURAN
Tingkat Kesulitan Saat Ini:
Tingkat: MUDAH
🎉 HASIL PERMAINAN 🎉
HEBAT!
PETUALANGAN CODING
❓ CARA BERMAIN
1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.
2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.
3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.
4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.
5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!
⚙ PENGATURAN
Tingkat Kesulitan Saat Ini:
Tingkat: MUDAH

