Minggu, 09 Juli 2023

TUGAS REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4. BUDAYA POSITIF

 

Jurnal Refleksi Modul 1.4. Budaya Positif



Menumbuhkan Budaya Positif, Mendukung Pendidikan Yang Raman dan Nyaman Bagi Murid



Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu menuntun kodrat anak sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Jadi pendidikan itu diupayakan menyentuh persoalan anak yang azali dimana mereka perlu bertumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.


Kodrat anak sebagaimana teori konvergensi adalah bahwa anak-anak itu sejak lahirnya ibarat selembar kertas yang telah ada coretannya namun masih samar. Dan orang tua, guru serta lingkungan yang nantinya dapat mempertebal coretan itu menjadi jelas.


Potensi yang dimiliki anak-anak hakikatnya membutuhkan dukungan dan bantuan dari pendidik agar mencapai potensi yang terbaik bagi kehidupannya kelak.


Bahkan keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak dalam menumbuhkembangkan benih-benih kebudayaan, seni, perilaku dan sebagainya.


Hal ini tentu perlu melibatkan keluarga sebagai wahana pendidikan pertama bagi anak-anaknya.


Penumbuhan Budaya Positif Bagi Anak


Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif. Di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter murid. Budaya positif perlu dibangun di dalam kelas atau sekolah.


Hal ini dimaksudkan bahwa dalam penumbuhan dimensi kodrati anak pun akan berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan yang universal. Di mana murid perlu mengetahui tentang nilai-nilai kebajikan, seperti beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, saling menghormati, disiplin diri, empati, peduli, saling tolong menolong, berkolaborasi, bernalar kritis dan sebagainya yang tercermin dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu: 1) Berketuhanan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) Mandiri, 3) Bergotong Royong, 4) berkebhinekaan global,5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.


Keenam nilai Profil Pelajar Pancasila tersebut sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal yang disebutkan di atas. 

Lalu bagaimana nilai-nilai kebajikan universal itu dapat terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari oleh murid, baik di sekolah maupun di rumah dan lingkungan? Kegiatannya adalah dengan pembiasaan budaya positif.


Hal-hal yang bisa dilakukan dalam menuntun kodrat anak dengan nilai-nilai kebajikan universal yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila adalah dengan keyakinan kelas.


Keyakinan kelas adalah sebuah nilai-nilai kesepakatan yang dihasilkan dari hasil diskusi kolaboratif. Dengan keyakinan kelas tersebut akan memberi aturan setiap orang dalam  kelas atau setiap warga sekolah dalam menjalani rutinitas pembelajarannya.


Setia warga kelas atau warga sekolah memegang prinsip di dalam kesepakatan kelas itu dengan dasar kontrol diri. Dengan kontrol diri seorang guru atau kepala sekolah akan menempatkan para siswa sebagai sosok yang memegang kendali dirinya sendiri. Mereka meyakini bahwa keyakinan kelas itu adalah sebuah cara mengatur setiap komponen di sekolah sesuai dengan batas-batas yang sudah disepakati.


Sebut saja ketika murid meyakini bahwa saya harus berdisiplin dalam masuk kelas / sekolah, maka si murid akan mengikuti kesepakatan itu sebagai aturan baku yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan ketika murid melakukan pelanggaran, maka mereka harus melihat dimana letak keyakinan kelas yang mereka langgar dan bagaimana mengatasi persoalan yang mereka hadapi.


Melakukan pembiasaan-pembiasaan diri dalam melakukan aktivitas pembelajaran dengan penuh bertanggung jawab, mandiri dan merdeka juga menjadi sumber aturan yang disepakati secara bersama-sama yang pada akhirnya akan menjadi budaya positif bagi para murid dan semua warga sekolah.



Dalam teori kontrol setiap murid dikehendaki memahami apa letak kesalahan yang telah dilakukan. Mereka menyadari bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesenangan, kehormatan, keamanan, kenyamanan dan sebagainya. Namun semua hak itu tentu dibatasi oleh hak-hak orang lain yang tidak boleh dilanggar.


Bilamana mereka memahami tentang konsep ini maka murid-murid akan menyadari bahwa apa yang dilakukannya seharusnya penuh dengan tanggung jawab.


Dan kemampuan untuk mengenali hak dan kewajibannya perlu didasari oleh motivasi dalam dirinya sendiri. Guru hanya memantau bagaimana murid-murid dapat melakukan kontrol diri tanpa ada dorongan dari siapapun, mereka bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang dilakukan.


Penerapan Segitiga Restitusi dalam Penumbuhan Budaya Positif


Restitusi adalah salah satu cara dalam menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. Maka dari itu setiap guru diharapkan dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid dalam berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.


Diane Gossen dalam Bukunya Restitution School Discipline (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orang tua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitution/restitution triangle.


Prinsip-utama Teori Kontrol Metode Restitusi



Langkah

Teori Kontrol

Menstabilkan identitas

Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan

Validasi tindakan salah

Semua perilaku memiliki alasan

Menanyakan keyakinan

Kita semua memiliki motivasi internal



Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sesi restitusi. Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan secara fleksibel agar murid memahami bagaimana menerapkan strategi kontrol diri dalam dalam pendidikannya.


Lalu apa langkah yang dibuat dalam segitiga restitusi?




Mesntabilkan Identitas 

Pada tahap ini seorang guru memastikan bahwa murid menyadari bahwa setiap orang berpotensi melakukan kesalahan dan menjelaskan bahwa murid tersebut bukanlah satu-satunya yang bisa berbuat salah.

Hal ini bertujuan untuk memancing kejujuran murid atas kesalahan yang boleh jadi tidak sengaja mereka  lakukan. Dan apabila kesalahan itu dilakukan, paling tidak dia mengakui bahwa perilakunya sungguh tidak tepat.


Validasi tindakan yang salah

Pada tahap ini yang bisa dilakukan adalah menanyakan mengenai alasan mengapa sang murid melakukan perbuatan itu kemudian memancing persepsi sang murid tentang upaya efektif yang dapat ia lakukan.

Hal ini dimaksudkan bahwa setiap anak menyadari apa yang dilakukan cukup beralasan meskipun alasan itu tidak menguntungkan pihak lain, karena sebagai pembelaan atas keinginan pribadi. Namun secara sadar guru dapat mengarahkan bahwa apa yang menjadi alasan tersebut sangat merugikan pihak lain. 


Menanyakan keyakinan

Setelah murid mengakui kesalahannya dan mengetahui alasan mereka melakukan itu tahap selanjutnya adalah menanyakan terkait keyakinan kelas yang telah dibuat bersama-sama. Apakah ada pelanggaran atas keyakinan kelas itu? Dan apa yang murid inginkan setelah memahami kembali terhadap keyakinan kelas yang telah buat sebelumnya dan membuat langkah-langkah yang tepat untuk menyelesaikan persoalan mereka secara mandiri dan bertanggung jawab.


Dengan strategi restitusi diharapkan murid dapat memahami bahwa diri sendirilah yang semestinya memahami apa-apa yang tepat dan tidak tepat dilakukan dalam proses pembelajaran atau bagaimana mereka berperilaku sesuai keyakinan kelas yang telah dibuat. Dan secara bertanggung jawab akan menjalankan keyakinan kelas itu bersama-sama murid-murid yang lainnya.



Kamis, 10 Maret 2022

Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu


Ilustrasi seorang guru sedang mengajar di depan murid-muridnya (dokumen pribadi)


Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu

Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag.



Pernahkah Anda membandingkan antara guru masa kini dan guru masa lampau? Atau sekedar ingin mengamati perkembangan peradaban pendidikan di era daun dengan internet saat ini? 


Jawabannya adalah ketulusan berbagi. Meskipun tidak bisa juga menjustifikasi bahwa guru lama lebih baik dan guru sekarang kurang baik. Karena dulu dan sekarang pun tergantung personalnya. Baik dan enggak adalah karakter.


Memang sih perubahan zaman dan fenomena yang melingkupinya akan selalu sama dengan yang kita alami sendiri, sebab karena minimnya pengetahuan kita akan kondisi masyarakatnya.


Sama dengan pemahaman kita bagaimana seorang pendidik yang menurut banyak orang dianggap sosok yang gak terlalu butuh sanjungan, penghargaan yang bersifat klise atau pangkat yang hanya sebagai penghias pundaknya.


Ternyata pendapat itu bisa sejalan dengan apa yang kita alami sendiri. Seseorang yang seharusnya selalu memberikan secercah cahaya kegelapan bagi orang-orang di sekitarnya ternyata banyak yang eman-eman dan menilai segalanya hanya dengan materi. Uang masih menjadi tolak ukur penghargaan atas prestasinya.


Kenapa orang berkompeten harus dermawan ilmu dan gak melulu mengejar materi? Kenapa pula keterampilan dan kemampuannya seolah-seolah barang antik dan mahal yang harus disembunyikan dan dinikmati sendiri meskipun seharusnya semua pengetahuan semestinya dibagi secara free? Bukan justru menumpuk-numpuk pengetahuan, menyimpannya dalam karya-karya penelitian, tapi kosong kebermanfaatannya.


Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kita urai saja satu persatu ya.


Kenapa orang kompeten harus dermawan ilmu?


Jawabannya semakin ilmu itu dibagi, maka ilmunya pun akan bertambah. Bukan justru semakin habis. Selayaknya pisau kalau diasah akan semakin tajam. Beda kalau disimpan, tentu akan berkarat.


Faktanya semakin tinggi ilmu seseorang tidak menjamin pula kebermanfaatannya. Banyak yang berilmu justru menyimpan ilmunya sendiri tanpa membagi pada siapa pun.


 Adakalanya cenderung protektif dan seolah-olah hanya sosok yang dianggap kompeten inilah yang harus mengetahui segala-galanya. 


Ironisnya jika ingin berbagi, banyak pula yang harus berbiaya mahal. Masih beruntung membagi meskipun tidak gratis. Sayangnya sudah tidak gratis, ilmunya pun hanya setengahnya.


Tidak salah memang yang beranggapan bahwa ilmu itu mahal. Toh, memang mencari ilmu juga waktunya lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi memiliki prinsip segalanya harus memakai uang juga saya kira kurang patut. Gak haram, tapi menurut kaca mata etika sangat kebangetan.


Dengan kata lain, untuk apa memiliki banyak pengetahuan, jika hanya milik sendiri dan dikonsumsi sendiri. Padahal ilmu pun adalah amanah yang harus ditebarkan ke khalayak. Itu menurut kacamata agama.


Kenapa pula hasil penelitian tidak berdaya guna?


Suatu ketika saya dapati sosok yang memiliki segudang pengalaman penelitian dan lomba guru berprestasi, sayangnya ketika ditanya hasil penelitian dan bagaimana mengaplikasikannya justru jawabannya negatif. Seolah-olah pengalaman itu mahal dan gak semudah itu kita membaginya. Padahal sebuah hasil penelitian sepatutnya bermanfaat pula. 


Kita memang lelah meneliti, namun kalau semua dinilai dengan materi, apa bedanya anda dengan berdagang ilmu. Semakin bagus penelitian, semakin layak dinilai mahal. Semakin bisa dipatenkan, semakin sedikit yang bisa menikmatinya.


Semua diasosiasikan ke prinsip dagang. Kalau mau dapat ilmu, maka kamu harus membayar mahal. Kalau ingin pendidikan bermutu, bayarannya juga harus gede. Bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.


Ada juga yang berprinsip, kalau mau mendapatkan ilmu, maharnya juga besar. Sampai-sampai orang lain sulit memetik buah ilmunya itu. 


Karya yang lelah dibuat hanya tersimpan di otak pemiliknya, bertumpuk-tumpuk di gudang dan dinilai sebagai aset berharga yang bisa membuat kaya. 


Uang lagi yang menjadi visi dan misi kehidupannya. Sebuah ironi bukan?


Senin, 04 Januari 2021

Film The House Maid, Ketika Kesadisan Dibalas Kesadisan

 



Film The House Maid. Ketika Kesadisan Dibayar Kesadisan


Sejahat-jahatnya orang adalah orang yang tidak mau memberikan maaf pada orang lain yang melakukan kesalahan. Dan lebih jahat lagi adalah sosok yang mau melampiaskan dendam karena kesalahan orang lain di masa lalu.


Dan ternyata kejahatan masa lalu tercatat dalam memori otak dua sosok anak yang dengan kedua matanya melihat bagaimana orang tuanya dibantai tanpa rasa ampun karena hendak melarikan diri.


Dengan diawali oleh seorang wanita (Linh) yang tengah mencari pekerjaan. Hingga suatu ketika ia mendapati rumah besar yang sudah kuno di tengah-tengah perkebunan karet. 


Dengan pakaian basah karena hujan, sang wanita muda ini mencoba menawarkan diri untuk bekerja di rumah besar dan megah itu. Ternyata kedatangannya disambut seorang perempuan setengah baya (Ny. Han) yang kemudian memberinya beberapa potong pakaian pengganti. Kemudian ia dipersilahkan bermalam di rumah besar itu sebagai persetujuan bahwa ia diterima bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan syarat masa percobaan beberapa hari. 


Sejak awal para penonton memang disuguhi oleh adegan yang menyeramkan, diawali oleh gambaran kisah di perkebunan milik orang Perancis (keluarga Kapten Laurent) tersebut yang ternyata telah meninggalkan banyak kisah menyeramkan.


Ada banyak pembunuhan yang dilakukan penjaga perkebunan itu jika para pekerja tidak bisa bekerja atau hendak kabur karena tidak lagi betah atas tekanan pekerjaan yang berat. 


Rumah yang nampak angker jika dipandang dari depan dan penampakan perkembunan karet yang juga menyiratkan adanya unsur mistis, ternyata disebabkan kisah pilu dan menyedihkan dari para korbannya. Semua telah diceritakan oleh sosok perempuan  setengah baya yang dipercaya sebagai kepala pengurus rumah besar itu.


Sejak awal saya belum menangkap kisah apa dibalik cerita itu, dan menganggap bahwa wanita muda yang melamar pekerjaan hanyalah sosok yang tersesat dan membutuhkan pekerjaan di rumah tersebut. Eh, ternyata wanita muda itu adalah salah satu dari dua anak kakak beradik yang menaruh dendam pada pemilik perkebunan karena kedua orang tuanya tewas dibantai dan dikuburkan di tengah-tengah perkebunan itu.


Dua anak yang kini tumbuh dewasa ternyata masih menyimpan dendam masa lalu dan ingin membalaskan dendam orang tuanya karena dibantai dengan kejam oleh wanita paruh baya yang menerimanya bekerja serta sosok penjaga yang terkenal sadis mau menghabisi siapapun yang mau melarikan diri.


Kesadisan-kesadisan ditunjukkan pada para pekerja tanpa ampun. baik dengan menghabisinya secara langsung atau dihukum dengan cara dipasung dan tidak memberinya makan. Tak pelak karena pekerja itu dipasung dan tidak diberikan makanan secuil pun, akhirnya para pekerja itu mati kelaparan.


Perkebunan yang semula menjadi tempat bekerja, ternyata menjadi ladang pembantaian manusia-manusia tidak berdosa oleh penjaga perkebunan, wanita pengurus rumah besar itu dan penjaga lain yang membantu aksinya, serta kematian seorang wanita pemilik perkembunan itu yang tidak tahu penyebabnya serta jasadnyapun tidak diketemukan.


Semua orang yang dibantai digambarkan menjadi sosok yang terus meneror para pekerja dan pemilik perkebunan. Hingga secara perlahan satu persatu orang yang terlibat pembunuhan turut tewas karena dibantai oleh hantu perempuan (Madame Camille) yang konon jasadnya tidak diketemukan itu, yang ternyata pemerannya adalah wanita muda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.


Setelah semua pelaku kejahatan tersebut tewas, akhirnya adik kakak pun bertemu dan memutuskan mencari kuburan kedua orang tuanya. Dan ternyata di sebelah pohon besar jasad kedua orang tuanya diketemukan dengan mendapati sebuah bandul kalung yang menunjukkan bahwa kerangka jasad itu adalah benar orang tua yang telah dibantai dengan sadis.


Kisah inipun diakhiri dengan ditinggalkannya rumah tersebut dalam keadaan kosong dan adanya penampakan sosok wanita di jendela yang merupakan mendiang wanita pemilik perkebunan itu.


Meskipun film ini horor, ternyata di dalamnya selalu saja dibumbui adegan erotis. Namun tetap saja memberikan kesan horor karena ujung dari kisah asmara itu adalah kematian. Seperti tewasnya sang pemilik perkebunan (Kapten Laurent) karena dibunuh wanita pekerja yang ternyata telah dicintainya dan ternyata telah membuat keduanya menjalin asmara. Mereka saling mencintai, namun sayangnya harus tewas karena dibunuh kekasihnya sendiri karena dirasuki roh Madam Cammile yang kematiannya sangat misterius.


Ketika Kejahatan dibalas Kejahatan


Kita mengenal sebuah tayangan film di mana dalam ide ceritanya tentang balas dendam. Pada mulanya sosok tersebut adalah orang yang baik-baik saja, tapi karena telah mengalami kejahatan dan kekerasan fisik atau psikis, sosok tersebut berubah menjadi seorang penjahat yang kejam.


Sama seperti dalam film The  House Maid ini, pemeran utama memerankan sebagai sosok anak yang tumbuh dewasa dengan segunung dendam dalam hatinya karena keluarganya telah dihabisi dengan sadis.


Boleh jadi kita menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang dianggap remah karena korbannya sudah di alam kubur, tapi pada sisi lain ada sosok lain yang bisa jadi menyimpan sakit hati atau dendam yang dendam itu tidak akan terbalas sebelum ia membalaskan dendamnya.


Ada banyak kisah lain di sekitar kita, di mana satu keluaga disantet sampai tujuh turunan karena pernah disakiti atau karena telah menghancurkan usahanya. 


Pelaku kejahatan karena balas dendam hakekatnya karena akumulasi rasa sakit hati yang kemudian membuncah. Apalagi korban kejahatan itu adalah orang tua sendiri yang diperlakukan secara tidak manusiawi.


Pada akhirnya, kisah film ini murni tontonan meskipun mengandung "pesan" yang negatif, karena mempertontonkan kekerasan dan kesadisan yang berakibat aksi balas dendam dengan kesadisan yang sama.


Tontonan itu hanya pantas ditonton oleh orang dewasa yang sudah memahami bahwa ini hanyalah tontonan yang tidak seharusnya ditiru dan dijadikan inspirasi atas sebuah aktivitas kejahatan.


Teruslah menjadi orang yang baik dan selalu memaafkan orang-orang di sekitarmu. Karena dengan memaafkan, maka hatimu akan menjadi tenang dan tentram. Dan bagi korban kejahatan, mereka akan mendapatkan balasan surga karena telah dianiaya tanpa dosa. Sedangkan yang memaafkan pun akan mendapatkan kebaikan dalam hidupnya di dunia dan akhirat.


Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!