Minggu, 05 Mei 2024
Pawai menyambut idul fitri 1444 H di Metro
Rabu, 25 Oktober 2023
Koneksi Antar Materi Modul 3.3. Pengelolaan Kegiatan/Program yang Berdampak Positif pada Murid
| Gambar : layarmaya.id |
Koneksi Antar Materi Modul 3.3. Pengelolaan Kegiatan/Program yang berdampak positif pada murid
Oleh : M. Ali Amiruddin, S.Ag.
Guru SLB Negeri Metro
CGP Angkatan 8 Kota Metro
Pembelajaran pada Modul 3.3. ini adalah merupakan topik pembelajaran yang membuat saya merasa sangat bersyukur dan merasa lebih percaya diri, karena dengan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru, saya memahami bagaimana mengelola kegiatan atau program yang berdampak positif pada murid.
Saya terus menggali pengetahuan, pemahaman dan berusaha terus mempraktikkan konsep ini di kelas saya, meskipun belum sepenuhnya terlaksana, paling tidak saya mendapatkan inspirasi bahwa anak-anak berkebutuhan khusus pun bisa menempatkan dirinya dalam student agency. Seperti ketika belajar mereka bisa memberikan gagasan sederhana terkait materi yang dipelajari, memilih apa media dan proses pembelajarannya, serta mereka merasa menjadi bagian dari pembelajaran itu dan melakukannya dengan senang hati, bersemangat dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan tentu saja semakin menguatkan motivasi saya dalam pembelajaran agar murid-murid merasakan kebahagiaan (well being) dalam setiap perencanaan, proses dan produk yang dihasilkan dari pembelajaran yang dilakukan. Dan sebagai guru saya semestinya terus belajar dan meningkatkan pemahaman serta mempraktikkan pengelolaan program yang benar-benar melibatkan murid.
Hal tersebut saya rasakan ketika sebelumnya saya belum begitu memahami hakikat pembelajaran yang seharusnya sesuai dengan Filosofi KHD bahwa pendidikan itu menuntun murid sesuai dengan kodrat alam dan zamannya sebagai manusia dan makhluk masyarakat, serta bagaimana membawa murid mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan budi pekerti yang luhur. Maka pada fase ini saya semakin menyadari bahwa ketika pembelajaran itu mesti berpihak pada murid maka pembelajaran itu menempatkan murid sebagai pemimpin dirinya sendiri dan menjadikannya sebagai subjek pembelajaran. Mengelola program dengan sebaik-baiknya dan seoptimal mungkin aset yang dimiliki oleh sekolah.
Aset yang ada di sekolah adalah sumber kehidupan pengelolaan pendidikan, yang mengikutsertakan seluruh elemen dalam sekolah itu, baik kepala sekolah, guru-guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, komunitas praktisi dan orang tua sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem sekolah yang berkualitas.
Seperti halnya dipahami bahwa murid adalah anak-anak yang memiliki kebutuhan dan potensi yang semestinya didorong agar menempatkan dirinya sebagai agen pendidikan. Dalam ekosistem pendidikan yang baik selalu menempatkan murid sebagai mitra dalam proses pendidikan itu sendiri.
Menempatkan murid sebagai student agency atau kepemimpinan murid yakni menempatkan murid sebagai pribadi yang memiliki voice atau suara, pendapat, gagasan dan ide yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan. Murid tidak hanya memiliki gagasan, namun bisa memperjuangkan gagasannya agar menjadi inovasi dari bagian program yang dijalankan sekolah. Murid tidak hanya berpendapat atau membuat ide, tapi murid didorong mampu dan konsisten mengambil bagian dari proses atau program yang dijalankan.
Selain memiliki suara, gagasan atau ide, sebagai pemimpin pembelajaran murid didorong memiliki pilihan-pilihan terhadap program atau kegiatan di sekolah, baik berupa kegiatan intra kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler. Murid memahami bahwa pilihan tersebut adalah tepat dan sesuai dengan hak individu yang memiliki kemampuan memilih apa yang disukai, dengan catatan tetap harus dengan bimbingan guru dan mengikuti kesepakatan kelas dan sekolah dan asas yang sesuai dengan nilai-nilai keberpihakan pada murid.
Selain itu student agency memberikan peluang dan mendorong murid untuk menjadi owner atau pemilik kegiatannya, dan dengan konsekuensi murid-murid akan bertanggung jawab atas program yang telah direncanakan dan dilaksanakan dengan semangat kemandirian, kolaboratif yang bertanggung jawab.
Pendidikan yang menempatkan murid sebagai student agency akan menempatkan murid dalam lingkungan yang membantu tumbuh kembang murid dalam mencapai kemandirian, kemampuan bersosialisasi dan menjalin kolaborasi dengan pihak lain dan juga mewujudkan kepemimpinan murid agar sukses di masa depannya.
Ada 3 sentra pendidikan, yaitu pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat, yang pada implementasinya akan bersinggungan dengan keterlibatan murid dalam proses pendidikannya. Ketiga lingkungan ini akan sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan kepemimpinan murid.
Kemudian keterkaitan modul 3.3 dengan modul 1.1 bahwa pendidikan adalah sesuai kodrat alam dan zamannya sebagai manusia dan makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat. Tentu saja sangat berkaitan. Dimana ketika dalam pendidikan menempatkan murid menempatkan posisinya sesuai kodratnya dimana pendidikan itu adalah proses memerdekakan murid dan menuntun tumbuh kembang murid sesuai dengan kodrat masing-masing. Dengan menempatkan murid sebagai student agency maka proses pendidikan tersebut sejalan dengan filosofi KHD.
Bagaimana dengan modul 1.2, dimana guru memiliki nilai dan peran dalam pembelajaran, yaitu berpihak pada murid, mandiri, reflektif, inovatif dan kolaboratif dan peran guru adalah menjadi pemimpin pembelajaran, sebagai coaching bagi guru lain, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid. Tentu saja hal tersebut berkaitan erat dengan modul 3.3. di mana dalam modul ini mendorong kepemimpinan murid, guru sebatas menuntun, mendampingi dan memfasilitasi kebutuhan belajar murid agar proses pembentukan kepemimpinan murid dapat berjalan dengan baik.
Dengan modul 1.3, dimana guru harus mampu melakukan prakarsa perubahan dalam sebuah visi guru penggerak, yang tentu saja sangat berkaitan dengan bagaimana mengimplementasikan prakarsa perubahan tersebut dengan menempatkan murid sebagai agen dalam program yang dibuat oleh guru atau sekolah. Dari prakarsa guru dan berkolaborasi dengan murid terkait ide, pilihan dan kepemilikan maka akan mendukung proses mewujudkan visi guru penggerak dan kepemimpinan murid di dalam programnya.
Keterkaitan antara modul 3.3 dan modul 1.4 adalah bahwasanya dengan menempatkan murid sebagai student agency dan melibatkan kolaborasi dengan seluruh warga sekolah dan komunitas sekolah, tentu akan mewujudkan budaya positif di sekolah dan budaya positif adalah nilai-nilai kebajikan universal yang akan menjadi karakter baik bagi perwujudan kepemimpinan murid.
Sedangkan modul 3.3 berkaitan erat dengan modul 2.1 yaitu bahwa pengelolaan program yang berdampak positif pada murid tentu akan berkaitan pula dengan bagaimana guru mampu melakukan pembelajaran berdiferensiasi, bawa setiap kebutuhan dan potensi anak terfasilitasi dengan baik dan dengan perbedaan-perbedaan tersebut semakin meneguhkan pemahaman bahwa dengan program yang berdampak positif pada murid tentu saja akan bersinggungan bagaimana guru dan sekolah memfasilitasi perbedaan-perbedaan baik suara, pilihan maupun kepemilikan pada murid. Dan itu menjadi sumber daya yang baik bagi menciptakan ekosistem pendidikan yang positif dan dinamis. Sedangkan modul 2.2. pembelajaran sosial emosional menempatkan murid dalam student agency (kepemimpinan murid) akan memberikan dampak yang positif dalam pemenuhan kebutuhan akan mengenal diri sendiri, mengelola diri sendiri, mengenal orang lain, melakukan kolaborasi, memiliki empati
dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. hal itu sejalan dengan konsep kepemimpinan murid, yaitu: voice, choice dan ownership di dalam lingkungan yang menuntun tumbuh kembang kemandirian dan kolaborasi serta kepemimpinan dalam diri murid-murid.
Bagaimana dengan hubungan antara modul 3.3 dan 2.3? Tentu saja memiliki hubungan yang sangat erat. Yaitu ketika pengelolaan program yang berpihak pada murid dan mendorong kepemimpinan murid tentu akan bersinggungan dengan proses coaching. Di mana proses coaching adalah bagaimana coache mampu menggali gagasan dari coachee dalam menyelesaikan masalah-masalahnya dan kemajuan di masa depan, maka hal ini akan erat kaitannya dalam mendorong murid dalam menggali potensinya, dengan gagasan-gagasan, pilihan dan kepemilikan akan program yang direncanakan dan diaplikasikan dengan penuh rasa tanggung jawab. Ketika program tersebut menempatkan coaching akademik sebagai metode menyelesaikan masalah, maka proses kepemimpinan murid akan dapat terwujud dengan optimal..Murid dapat menempatkan dirinya sebagai pemimpin bagi diri dirinya sendiri maupun orang lain dalam pembelajarannya dengan sikap merdeka dan bertanggung jawab.
Keterkaitan antara modul 3.3 dan 3.1 adalah sangat erat, Bahwa menempatkan murid sebagai student agency akan bersinggungan dengan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Di mana setiap pengambilan keputusan semestinya berpihak pada murid, dapat dipertanggungjawabkan dan tentu saja memiliki nilai-nilai kebajikan.
Murid didorong mampu memimpin dirinya sendiri dan bagaimana mereka dapat mengambil keputusan yang tepat dalam rangka menyuarakan gagasan, pilihan dan kepemilikan program sekolah yang nantinya akan mendukung proses pembentukan kepemimpinan pada murid.
Hubungan antara modul 3.3 dan modul 3.2 adalah bahwa dalam mengelola ekosistem pendidikan semestinya selalu berdasarkan pada potensi atau aset dan sumberdaya yang dimiliki sekolah, sedangkan aset atau sumberdaya sekolah di antaranya adalah murid-murid yang mampu berkolaborasi dengan komunitas sekolah dan semua pihak terkait dengan pengembangan sekolah. Maka dari itu ketika sekolah mampu memberdayakan aset sekolah, maka secara tidak langsung akan memberdayakan potensi dari murid-muridnya yang tentu saja mewujudkan student agency secara nyata.
Dengan keterkaitan dengan modul-modul tersebut seharusnya kegiatan atau program menempatkan murid sebagai pemimpin dirinya sendiri yang mampu memberikan gagasan, pilihan dan kepemilikan program tersebut dengan rasa senang dan bertanggung jawab.Dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan proses evaluasi semestinya terus melibatkan murid yang nantinya akan memberikan dampak positif bagi murid baik ketika sekolah maupun ketika telah lulus dan berbaur dengan lingkungan sekitarnya.
Program sekolah yang baik semestinya berdasarkan gagasan murid, pilihan murid dan menempatkan murid sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri dalam mengelola program sekolah. Sekolah dan guru seharusnya terus mendorong student agency serta mengoptimalkan sumber daya sekolah serta menggerakkan kolaboratif komunitas sekolah mengoptimalkan peran serta dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, wali murid dan masyarakat sekitar demi mewujudkan sosok yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila sosok yang menjadi pemimpin di masa depan.
Sebagai kalimat pungkasan dari tulisan ini, saya mengutip pendapat Bp. Zulfikri selaku Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Plt. Kapuskurjar) dalam artikel Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi menyebutkan bahwa “Tolok ukur keberhasilan Kurikulum Merdeka adalah dari keceriaan (kebahagiaan) anak dan kemampuan mereka berkolaborasi menyelesaikan beragam persoalan. Bagaimana lembaga pendidikan mampu menciptakan budaya perilaku positif dalam mencetak SDM yang berkualitas dari waktu ke waktu sebagaimana nilai yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila.” (Kurikulum Merdeka Membangun Potensi Siswa sesuai Fitrahnya, 18 Februari 2022)
Salam dan Bahagia.
Selasa, 05 September 2023
Membuat Komunitas Literasi Berbagi dalam Pencapaian Visi Guru Penggerak
Membuat Komunitas Literasi Berbagi dalam Mencapai Visi Guru Penggerak
Oleh : M. Ali Amiruddin, S.Ag.
CGP Angkatan 8 Provinsi Lampung
Bincang-bincang terkait komunitas literasi berbagi (dok. Pribadi)
Hari Rabu yang lalu, 21 Juni 2023 kami yang tergabung dalam kelas 07 CGP Angkatan 8 Provinsi Lampung bertatap muka dalam sebuah lokalarya 1 di Gedung SMK Muhammadiyah 1 Kota Metro.
Semua peserta CGP, Pengajar Praktik, Perwakilan BGP Provinsi Lampung pun turut hadir dalam kegiatan tersebut. Awalnya saya dan teman-teman mungkin memiliki perasaan dan pemikiran yang sama tentang apa isi kegiatan yang akan dilakukan pada saat itu.
Bagi saya setelah memasuki gedung pertemuan tersebut, ada semangat dan keyakinan bahwa setiap kegiatan yang akan dilakukan senantiasa memberikan manfaat bagi diri saya secara pribadi, teman-teman CGP dan nantinya akan berdampak bagi murid-murid di sekolah masing-masing.
Apa yang pertama kami ikuti? Yaitu kami sama-sama merefleksi kembali apa nilai-nilai dan peran guru penggerak. Kami dibuat berkelompok dan setiap kelompok berdiskusi dan berkolaborasi menerjemahkan apa itu nilai dan peran guru penggerak dalam aktivitas sebagai pendidik.
Masing-masing perawakilan mempresentasikan pemahaman kami di depan teman-teman. Kami senang dan bangga karena kami bisa mempresentasikan pemahaman kami tentang nilai dan peran guru penggerak. Satu hal yang kami syukuri adalah kami merasa dibukakan hati dan pikiran, betapa selama ini kami kurang mengerti apa nilai dan peran dari guru penggerak. Dan setelah melewati pendidikan ini, pikiran kami mulai terbuka, betapa nilai dan perannya sangat banyak dan betul-betul bentuk penerapan dari pengejawantaran pendidik di dalam tugasnya.
Setelah presentasi selesai, kami diajak sebuah permainan dengan dibentuk menjadi sebuah lingkaran, dan pengajar praktik menyebutkan sebuah perintah yang nantinya masing-masing peserta menyebutkan orang-orang yang ada di sisinya. Pada saat itu kami mempelajari tentang kepekaan dan kecepatan dalam mengambil keputusan. Kami diajarkan bagaimana cepat menentukan satu hal yang telah diinstrusikan. Dan siapa yang paling cepat dia adalah pemenangnya.
Permaina kedua masih dengan berkelompok, masing-masing kelompok ditunjuk satu orang untuk mencari bola beraneka warna. Sosok pencari bola ditutup matanya dengan masker agar tidak terlihat. Sedangkan teman-teman yang lain memberikan petunjuk dimana bola itu berada. Dan benar, kami merasa senang dan asik dalam memainkannya, sampai-sampai terjadi diskusi dari masing-masing kelompok. Dengan harapan masing-masing kelompok memahami apa tujuan dari permainan itu, yaitu kepemimpinan dan kolaborasi.
Kelompok yang mampu berkolaborasi dan memenej kelompoknya akhirnya dapat memenangkan permainan dengan lebih cepat. Hal ini sejalan dengan prinsip organisasi dan peran sebagai pemimpin pembelajaran, di mana guru harus mampu menuntun murid agar mencapai keberhasilan sesuai dengan apa yang menjadi cita-citanya. Dan bagaimana mampu menggerakkan komunitas praktisi agar komunitas itu bergerak sesuai dengan roll organisasi yang memiliki tujuan yang jelas.
Permainan ketiga adalah melakukan tebak-tebakan hasil perkalian antara dua orang CGP. Masing-masing peserta secara berpasangan harus cepat menjawab dan mampu mengalahkan lawannya.
Dalam permainan itu ada pelajaran berharga, bahwa seorang pemimpin itu harus cepat dalam mengambil keputusan, karena keputusan itu pun akan menentukan perjalanan sebuah organisasi atau komunitas yang tengah digerakkan.
Kegiatan selanjutnya adalah mengenal Komunitas Praktisi, dimana kami berdiskusi terkait bagaimana mendirikan, merawat dan melakukan langkah kerja dan menjaga agar komunitas itu dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dari diskusi tersebut masing-masing peserta dapat menemukan gambaran betapa membuat komunita itu tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak juga terlalu sulit asal dihadapi dengan keyakinan diri dan ketekunan.
Selanjutnya ada tugas yang harus kami lakukan. Adapun dua pilihan tugas adalah 1. menghidupkan lagi komunitas yang telah ada, 2. membuat komunitas baru.
Akhirnya saya membuat komunitas baru yaitu Komunitas Literasi Berbagi. Dan alhamdulillah setelah kami sampai di sekolah, kami melakukan diskusi dengan guru-guru, kepala sekolah dan anggota komunitas Dewan Kesenian Metro, Pengawas Sekolah, terkait pembentukan komunitas tersebut.
Alhamdulillah akhirnya komunitas itu dapat terbentuk meskipun baru sebatas pembentukan dan membuat program kegiatan, sedangkan untuk pemantapan kegiatan masing dalam jadwal yang belum terlaksana. Rencananya segera mungkin akan kami lakukan diskusi secara tatap maya dan melakukan survey tentang kebutuhan komunitas literasi berbagi tersebut.
Rasa-rasanya dalam waktu sehari itu ingin sekali ditambah waktunya, karena kami sadar dengan kegiatan tersebut adalah wahana untuk refreshing dan relaksasi setelah sebulan mengikuti pendidikan secara daring (maya) bersama teman-teman,PP, Fasilitator dan Instruktur. Maka dari itu dalam pertemuan itu sedikit melemaskan ketegangan dan menggugah pikiran bahwa materi-materi tersebut jika diaplikasikan menjadi sebuah pengetahuan dan pengalaman yang berharga yang nantinya bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas atau ketika kita memang ditunjuk menjadi kepala sekolah.
Semoga segenap ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan benar-benar dapat kami lakukan di sekolah secara pribadi bersama murid-murid saya, serta dapat menciptakan kolaborasi dengan guru dan semua warga sekolah,wali murid atau masyarakat dan pemangku kepentingan, agar kiranya kegiatan itu nanti tercipta komunitas saling mendukung seperti halnya dalam pencapaian visi guru penggerak maupun visi sekolah.
Salam dan Bahagia
Minggu, 09 Juli 2023
TUGAS REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4. BUDAYA POSITIF
Jurnal Refleksi Modul 1.4. Budaya Positif
Menumbuhkan Budaya Positif, Mendukung Pendidikan Yang Raman dan Nyaman Bagi Murid
Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu menuntun kodrat anak sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Jadi pendidikan itu diupayakan menyentuh persoalan anak yang azali dimana mereka perlu bertumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.
Kodrat anak sebagaimana teori konvergensi adalah bahwa anak-anak itu sejak lahirnya ibarat selembar kertas yang telah ada coretannya namun masih samar. Dan orang tua, guru serta lingkungan yang nantinya dapat mempertebal coretan itu menjadi jelas.
Potensi yang dimiliki anak-anak hakikatnya membutuhkan dukungan dan bantuan dari pendidik agar mencapai potensi yang terbaik bagi kehidupannya kelak.
Bahkan keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak dalam menumbuhkembangkan benih-benih kebudayaan, seni, perilaku dan sebagainya.
Hal ini tentu perlu melibatkan keluarga sebagai wahana pendidikan pertama bagi anak-anaknya.
Penumbuhan Budaya Positif Bagi Anak
Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif. Di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter murid. Budaya positif perlu dibangun di dalam kelas atau sekolah.
Hal ini dimaksudkan bahwa dalam penumbuhan dimensi kodrati anak pun akan berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan yang universal. Di mana murid perlu mengetahui tentang nilai-nilai kebajikan, seperti beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, saling menghormati, disiplin diri, empati, peduli, saling tolong menolong, berkolaborasi, bernalar kritis dan sebagainya yang tercermin dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu: 1) Berketuhanan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) Mandiri, 3) Bergotong Royong, 4) berkebhinekaan global,5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.
Keenam nilai Profil Pelajar Pancasila tersebut sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal yang disebutkan di atas.
Lalu bagaimana nilai-nilai kebajikan universal itu dapat terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari oleh murid, baik di sekolah maupun di rumah dan lingkungan? Kegiatannya adalah dengan pembiasaan budaya positif.
Hal-hal yang bisa dilakukan dalam menuntun kodrat anak dengan nilai-nilai kebajikan universal yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila adalah dengan keyakinan kelas.
Keyakinan kelas adalah sebuah nilai-nilai kesepakatan yang dihasilkan dari hasil diskusi kolaboratif. Dengan keyakinan kelas tersebut akan memberi aturan setiap orang dalam kelas atau setiap warga sekolah dalam menjalani rutinitas pembelajarannya.
Setia warga kelas atau warga sekolah memegang prinsip di dalam kesepakatan kelas itu dengan dasar kontrol diri. Dengan kontrol diri seorang guru atau kepala sekolah akan menempatkan para siswa sebagai sosok yang memegang kendali dirinya sendiri. Mereka meyakini bahwa keyakinan kelas itu adalah sebuah cara mengatur setiap komponen di sekolah sesuai dengan batas-batas yang sudah disepakati.
Sebut saja ketika murid meyakini bahwa saya harus berdisiplin dalam masuk kelas / sekolah, maka si murid akan mengikuti kesepakatan itu sebagai aturan baku yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan ketika murid melakukan pelanggaran, maka mereka harus melihat dimana letak keyakinan kelas yang mereka langgar dan bagaimana mengatasi persoalan yang mereka hadapi.
Melakukan pembiasaan-pembiasaan diri dalam melakukan aktivitas pembelajaran dengan penuh bertanggung jawab, mandiri dan merdeka juga menjadi sumber aturan yang disepakati secara bersama-sama yang pada akhirnya akan menjadi budaya positif bagi para murid dan semua warga sekolah.
Dalam teori kontrol setiap murid dikehendaki memahami apa letak kesalahan yang telah dilakukan. Mereka menyadari bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesenangan, kehormatan, keamanan, kenyamanan dan sebagainya. Namun semua hak itu tentu dibatasi oleh hak-hak orang lain yang tidak boleh dilanggar.
Bilamana mereka memahami tentang konsep ini maka murid-murid akan menyadari bahwa apa yang dilakukannya seharusnya penuh dengan tanggung jawab.
Dan kemampuan untuk mengenali hak dan kewajibannya perlu didasari oleh motivasi dalam dirinya sendiri. Guru hanya memantau bagaimana murid-murid dapat melakukan kontrol diri tanpa ada dorongan dari siapapun, mereka bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang dilakukan.
Penerapan Segitiga Restitusi dalam Penumbuhan Budaya Positif
Restitusi adalah salah satu cara dalam menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. Maka dari itu setiap guru diharapkan dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid dalam berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.
Diane Gossen dalam Bukunya Restitution School Discipline (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orang tua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitution/restitution triangle.
Prinsip-utama Teori Kontrol Metode Restitusi
Langkah
Teori Kontrol
Menstabilkan identitas
Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan
Validasi tindakan salah
Semua perilaku memiliki alasan
Menanyakan keyakinan
Kita semua memiliki motivasi internal
Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sesi restitusi. Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan secara fleksibel agar murid memahami bagaimana menerapkan strategi kontrol diri dalam dalam pendidikannya.
Lalu apa langkah yang dibuat dalam segitiga restitusi?
Mesntabilkan Identitas
Pada tahap ini seorang guru memastikan bahwa murid menyadari bahwa setiap orang berpotensi melakukan kesalahan dan menjelaskan bahwa murid tersebut bukanlah satu-satunya yang bisa berbuat salah.
Hal ini bertujuan untuk memancing kejujuran murid atas kesalahan yang boleh jadi tidak sengaja mereka lakukan. Dan apabila kesalahan itu dilakukan, paling tidak dia mengakui bahwa perilakunya sungguh tidak tepat.
Validasi tindakan yang salah
Pada tahap ini yang bisa dilakukan adalah menanyakan mengenai alasan mengapa sang murid melakukan perbuatan itu kemudian memancing persepsi sang murid tentang upaya efektif yang dapat ia lakukan.
Hal ini dimaksudkan bahwa setiap anak menyadari apa yang dilakukan cukup beralasan meskipun alasan itu tidak menguntungkan pihak lain, karena sebagai pembelaan atas keinginan pribadi. Namun secara sadar guru dapat mengarahkan bahwa apa yang menjadi alasan tersebut sangat merugikan pihak lain.
Menanyakan keyakinan
Setelah murid mengakui kesalahannya dan mengetahui alasan mereka melakukan itu tahap selanjutnya adalah menanyakan terkait keyakinan kelas yang telah dibuat bersama-sama. Apakah ada pelanggaran atas keyakinan kelas itu? Dan apa yang murid inginkan setelah memahami kembali terhadap keyakinan kelas yang telah buat sebelumnya dan membuat langkah-langkah yang tepat untuk menyelesaikan persoalan mereka secara mandiri dan bertanggung jawab.
Dengan strategi restitusi diharapkan murid dapat memahami bahwa diri sendirilah yang semestinya memahami apa-apa yang tepat dan tidak tepat dilakukan dalam proses pembelajaran atau bagaimana mereka berperilaku sesuai keyakinan kelas yang telah dibuat. Dan secara bertanggung jawab akan menjalankan keyakinan kelas itu bersama-sama murid-murid yang lainnya.
Selasa, 06 Juni 2023
Minggu, 28 Mei 2023
Kamis, 10 Maret 2022
Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu
![]() |
| Ilustrasi seorang guru sedang mengajar di depan murid-muridnya (dokumen pribadi) |
Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag.
Pernahkah Anda membandingkan antara guru masa kini dan guru masa lampau? Atau sekedar ingin mengamati perkembangan peradaban pendidikan di era daun dengan internet saat ini?
Jawabannya adalah ketulusan berbagi. Meskipun tidak bisa juga menjustifikasi bahwa guru lama lebih baik dan guru sekarang kurang baik. Karena dulu dan sekarang pun tergantung personalnya. Baik dan enggak adalah karakter.
Memang sih perubahan zaman dan fenomena yang melingkupinya akan selalu sama dengan yang kita alami sendiri, sebab karena minimnya pengetahuan kita akan kondisi masyarakatnya.
Sama dengan pemahaman kita bagaimana seorang pendidik yang menurut banyak orang dianggap sosok yang gak terlalu butuh sanjungan, penghargaan yang bersifat klise atau pangkat yang hanya sebagai penghias pundaknya.
Ternyata pendapat itu bisa sejalan dengan apa yang kita alami sendiri. Seseorang yang seharusnya selalu memberikan secercah cahaya kegelapan bagi orang-orang di sekitarnya ternyata banyak yang eman-eman dan menilai segalanya hanya dengan materi. Uang masih menjadi tolak ukur penghargaan atas prestasinya.
Kenapa orang berkompeten harus dermawan ilmu dan gak melulu mengejar materi? Kenapa pula keterampilan dan kemampuannya seolah-seolah barang antik dan mahal yang harus disembunyikan dan dinikmati sendiri meskipun seharusnya semua pengetahuan semestinya dibagi secara free? Bukan justru menumpuk-numpuk pengetahuan, menyimpannya dalam karya-karya penelitian, tapi kosong kebermanfaatannya.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kita urai saja satu persatu ya.
Kenapa orang kompeten harus dermawan ilmu?
Jawabannya semakin ilmu itu dibagi, maka ilmunya pun akan bertambah. Bukan justru semakin habis. Selayaknya pisau kalau diasah akan semakin tajam. Beda kalau disimpan, tentu akan berkarat.
Faktanya semakin tinggi ilmu seseorang tidak menjamin pula kebermanfaatannya. Banyak yang berilmu justru menyimpan ilmunya sendiri tanpa membagi pada siapa pun.
Adakalanya cenderung protektif dan seolah-olah hanya sosok yang dianggap kompeten inilah yang harus mengetahui segala-galanya.
Ironisnya jika ingin berbagi, banyak pula yang harus berbiaya mahal. Masih beruntung membagi meskipun tidak gratis. Sayangnya sudah tidak gratis, ilmunya pun hanya setengahnya.
Tidak salah memang yang beranggapan bahwa ilmu itu mahal. Toh, memang mencari ilmu juga waktunya lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi memiliki prinsip segalanya harus memakai uang juga saya kira kurang patut. Gak haram, tapi menurut kaca mata etika sangat kebangetan.
Dengan kata lain, untuk apa memiliki banyak pengetahuan, jika hanya milik sendiri dan dikonsumsi sendiri. Padahal ilmu pun adalah amanah yang harus ditebarkan ke khalayak. Itu menurut kacamata agama.
Kenapa pula hasil penelitian tidak berdaya guna?
Suatu ketika saya dapati sosok yang memiliki segudang pengalaman penelitian dan lomba guru berprestasi, sayangnya ketika ditanya hasil penelitian dan bagaimana mengaplikasikannya justru jawabannya negatif. Seolah-olah pengalaman itu mahal dan gak semudah itu kita membaginya. Padahal sebuah hasil penelitian sepatutnya bermanfaat pula.
Kita memang lelah meneliti, namun kalau semua dinilai dengan materi, apa bedanya anda dengan berdagang ilmu. Semakin bagus penelitian, semakin layak dinilai mahal. Semakin bisa dipatenkan, semakin sedikit yang bisa menikmatinya.
Semua diasosiasikan ke prinsip dagang. Kalau mau dapat ilmu, maka kamu harus membayar mahal. Kalau ingin pendidikan bermutu, bayarannya juga harus gede. Bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.
Ada juga yang berprinsip, kalau mau mendapatkan ilmu, maharnya juga besar. Sampai-sampai orang lain sulit memetik buah ilmunya itu.
Karya yang lelah dibuat hanya tersimpan di otak pemiliknya, bertumpuk-tumpuk di gudang dan dinilai sebagai aset berharga yang bisa membuat kaya.
Uang lagi yang menjadi visi dan misi kehidupannya. Sebuah ironi bukan?
-
Suasana pagi di Sawah Viral Jalan Proklamasi Kota Metro yang sampai saat ini menjadi tempat tongkrongan (Gambar; M. Ali Amiruddin) "Jik...
-
Halaman muka Web Guru Pembelajar Online (https:gurupembelajar.id) Siapa ya yang sudah mendengar tentang Guru Pembelajar? Sepertinya s...
-
Rumah impian seorang ASN, tapi masih terbatas impian ketika pendapatan tak sebanding dengan kebutuhan Gambar : homedesignpictures.com ...
Featured Post
Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya
Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...
Game
Belajar Bilangan 1 - 20
1. Mengenal Bilangan
2. Urutkan dari yang Terkecil
Klik angka secara berurutan:
3. Membandingkan Bilangan
Pilih tanda yang benar:
5 ❓ 10Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)
Game 1
PETUALANGAN CODING
❓ CARA BERMAIN
1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.
2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.
3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.
4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.
5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!
⚙ PENGATURAN
Tingkat Kesulitan Saat Ini:
Tingkat: MUDAH
🎉 HASIL PERMAINAN 🎉
HEBAT!
PETUALANGAN CODING
❓ CARA BERMAIN
1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.
2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.
3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.
4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.
5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!
⚙ PENGATURAN
Tingkat Kesulitan Saat Ini:
Tingkat: MUDAH

