Minggu, 16 Juni 2024

Meriahnya Pentas Seni dan Gelar Karya di SLB Negeri Metro

 

Gambar : Pembukaan Pentas Seni dan Gelar Karya pada Kelulusan Siswa SLBN Metro, 12 Juni 2024


"Dunia selalu tampak lebih cerah ketika Anda baru saja membuat sesuatu yang sebelumnya tidak ada." - Neil Gaiman,  "Kreativitas sama pentingnya dengan literasi." - Ken Robinson 


Dua kalimat motivasi di atas yang juga menjadi inspirasi dan motivasi siapa saja yang ingin meningkatkan pendidikan anak-anak, karena dari merekalah peradaban manusia itu akan diwujudkan. 

Yap, itulah pengantar dari sebuah catatan positif ketika kami mengadakan sebuah acara yang dilaksanakan setahun sekali di sekolah kami SLB Negeri Metro.  

Di hari Rabu, 12 Juni 2024 lalu, perhelatan yang direncanakan jauh-jauh hari alhamdulillah dapat terlaksana dengan sangat baik dan mendapatkan apresiasi dari wali murid.

Kegiatan tersebut adalah Pentas Seni dan Gelar Karya dalam rangka kelulusan siswa kelas 6, 9 dan 12. Merupakan agenda tahunan yang berawal dari hasil rapat bersama pihak sekolah, komite dan wali murid dengan dukungan masyarakat sekitar. 

Dengan musyawarah yang cukup antusias maka acara kelulusan tersebut pun berlangsung dengan meriah dan menampilkan hasil karya serta pentas seni dari murid-murid yang memang ingin dan mau menampilkan karya seni mereka.

Ada beragam persoalan yang awalnya muncul dalam rapat terkait bagaimana bentuk kegiatannya, namun dengan musyawarah bersama, kesepakatan pun terjadi dan semua wali murid sangat mendukung penuh kegiatan tersebut.

Salah satu penampilan anak-anak SLBN Metro (doc. pribadi)

Pentas Seni dan Gelar Karya, meningkatkan dukungan orang tua dalam pendidikan anak-anaknya

Pentas seni dan gelar karya ini sejatinya kali kedua dilaksanakan di SLB Negeri Metro, di tahun sebelumnya kami pun menyelenggarakan kegiatan yang sama, namun dengan format yang seadanya. Hal tersebut karena kurang adanya pelibatan wali murid dalam kegiatannya. Wali murid awalnya kurang begitu mengetahui manfaat dari kegiatan Pentas Seni dan Gelar karya bagi murid-murid. Sehingga kegiatan tersebut terlaksana dengan meriah meskipun masih kurang variatif.

Sesi foto sebelum anak-anka tampil (doc. pribadi)

Gambar penampilan anak-anak (doc. pribadi)

Sedangkan di tahun ini, semua elemen sekolah, komite serta wali murid dan anak-anak turut dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Seperti bagaimana menyusun perencanaan kegiatan, mengakomodir gagasan yang diberikan ke pihak sekolah, serta menampung segala masukan yang bermanfaat dari pihak mana pun. 

Pada hakikatnya kegiatan ini murni hajat wali murid yang ingin mengapresiasi dan menunjukkan kebahagiaan mereka ketika anak-anak mereka telah menyelesaikan pendidikan di setiap jenjangnya. Sekolah adalah fasilitator dan mendukung sepenuhnya kegiatan yang ada agar berimplikasi pada peserta didik. Bahkan karena kegiatan ini, diharapkan motivasi dari murid dan wali murid semakin meningkat.

Sesi tampilan anak-anak SLBN Metro (Doc. pribadi)

Hal tersebut adalah sebuah manifestasi dari kegiatan sekolah yang merujuk pada Kurikulum Nasional yang mana salah satu penerapannya adalah melibatkan semua elemen masyarakat dalam mendukung kegiatan sekolah.

Dengan adalah kolaborasi dari semua warga sekolah, murid dan wali murid tentu merupakan implementasi dari manajemen sekolah berbasis aset. Warga sekolah, wali murid dan pihak lain yang mendukung kegiatan tersebut merupakan wujud dari optimalisasi pemafaatan aset di sekolah dan masyarakat, sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.

Karya murid-murid SLBN Metro (doc. pribadi)

Meningkatkan partisipasi murid dalam kegiatan

Betapa senang dan bangganya ketika menyaksikan anak-anak mau menunjukkan bakat dan kemampuan mereka dalam bidang seni. Ada beberapa seni tari kreasi dan tari budaya dari Lampung yang mereka tampilkan, yang semua itu adalah manifestasi dari olah kreativitas anak-anak berkebutuhan khusus yang ingin menunjukkan kemampuannya di hadapan semua orang. 

Keberanian anak-anak menunjukkan bakat mereka tentu merupakan capaian pembelajaran di sekolah, di mana salah satu kesuksesan pendidikan adalah kemandirian anak serta kemampuan anak menunjukkan kreativitas dan keberanian tampil di hadapan umum. Tentu saja ini sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila, yaitu : Beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, Berkebinekaan global, Gotong royong, Mandiri dan Bernalar Kritis. Semua itu terwujud dalam kolaborasi dari kegiatan ini.

Sumber doc. pribadi

Memang, setiap anak belum semua berkesempatan menampilkan kreativitas mereka, tapi paling tidak setiap anak turut serta mendukung dan menikmati setiap bagian kegiatan dengan rasa bahagia.

Sejak mereka memasuki dunia pendidikan, tentu ada peningkatan dari tiap jenjang pendidikannya. Baik dari yang bersifat sederhana sampai yang begitu kompleks ketika menduduki tingkatan SMA. Itu semua bisa diamati dan dinilai oleh siapa pun. 

Semua anak menunjukkan peningkatan potensi yang dimiliki dan menunjukkan bakatnya masing-masing, yang boleh jadi bagi sebagian orang dianggap mustahil. Tapi inilah anak-anak istimewa dengan segudang potensi yang dimilikinya. Ketika orang tua telah mengarahkan pendidikannya, maka guru menuntun tumbuh kembang anak-anak ketingkat terbaiknya. 

Ki Hajar Dewantara pernah berkata bahwa pendidikan itu menuntun tumbuh kembang murid sesuai dengan kodratnya, baik kodrat alam maupun zamannya agar mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.

Pemberian sambutan ketua panitia (dok. pribadi)

Perwakilan wali murid tengah memberikan sambutan (doc. pribadi)

Hal ini disampaikan pula dalam sambutan dari Ketua Panitia, Plt. Kepala Sekolah dan perwakilan wali murid, di mana disampaikan bahwa ada banyak kemajuan yang dimiliki anak-anak. Dan karena didikan yang tulus dan sabar dari guru-gurunya maka anak-anak istimewa ini dapat berkembang derajat kemampuannya secara optimal sesuai dengan kebutuhan dan potensi yang dimiliki. 

Bahkan perwakilan wali murid pun menyampaikan perasaan haru atas pencapaian kemampuan dari anak-anak didik di sekolah ini.

Sekolah mempunyai kewajiban memberikan layanan dan fasilitas terbaiknya bagi perjalanan pendidikan dan latihan anak-anak didiknya, sedangkan guru memfasilitasi belajar para anak didiknya sedangkan wali murid dan masyarakat sekitar adalah mendukung anak-anak agar terus belajar dan meningkatkan potensi terbaiknya. 

Plt. Kepala SLB Negeri Metro tengah memberikan sambutan (doc. pribadi)

Pada akhirnya, Pentas Seni dan Gelar Karya ini adalah sebagian dari wujud implementasi kurikulum merdeka dan implementasi pendidikan yang berpusat dan berpihak pada murid. 

Muridlah yang menciptakan beragam jenis kegiatan, dan merekalah yang terus didorong menjadi pihak yang bisa menyukseskan kegiatan tersebut dengan menunjukkan skill dan kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam sebuah pergelaran di sekolah dengan dukungan semua pihak.

Semoga di tahun depan, kegiatan ini bisa terlaksana dengan lebih meriah dan tentu saja membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

Seperti kata-kata motivasi di awal tulisan ini, bahwa dengan kehadiran kita dalam berkreasi dan berkreativitas, akan menciptakan dunia yang lebih cerah dan kemampuan dalam kreativitas sama pentingnya dengan literasi.

Salam

Metro, 13 Juni 2024

Lulus Sekolah Adalah Akhir Segalanya, Benarkah?

Gambar : Plt. Kepala SLBN Metro, Murid dan Guru Kelas tengah berfoto bersama (doc. pribadi)


Kita mungkin pernah berpikir bahwa lulus sekolah adalah akhir segala-galanya. Atau mungkin menganggap bahwa dengan kelulusan tersebut  maka masalah kehidupan telah selesai. Sungguh ini adalah penilaian yang kurang tepat ya?

Yap, ketika kita menduga bahwa berakhirnya masa pendidikan adalah akhir sebuah perjalanan menuntut ilmu, ternyata pendapat ini tidak semuanya benar. Mengapa? Karena persoalan-persoalan ketika bersekolah pastilah akan ditemukan lagi pasca menyelesaikan pendidikannya. 

Hal tersebut dimulai dari seperti persoalan apakah nanti setelah lulus sekolah akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi? Atau ingin mengakhiri pendidikan dan mulai bekerja? Atau banyak fakta yang kurang enak dirasakan oleh lulusan SMA misalnya, ketika mereka terpaksa atau dituntut untuk segera menikah, baik karena dijodohkan atau tuntutan dan kondisi kehidupan keluarga yang kurang beruntung.

Beberapa pilihan yang boleh jadi "rumit" ini memang selalu saja terjadi, kita sebagai generasi tua pun pernah mengalami gejolak dan fenomena konflik batin. Apakah meneruskan pendidikan, putus sekolah dan mencari pekerjaan, atau "terpaksa" menikah karena dorongan dari orang tua.

Dari ketiga persoalan itu tidak mudah diurai masalahnya dan tidak sulit pula untuk dicarikan jalan tengahnya.

Namun dari tulisan ini adalah sekedar ingin menggali, apakah dengan lulus dari pendidikan dengan serta merta lepas dari tanggung jawab atau kewajiban sebagai manusia yang harus belajar sepanjang hayat dan menghadapi persoalan lain dalam kehidupannya?

Pertanyaan tersebut tentu saja bermula dari masalah diantaranya karena banyak anak yang terkadang kurang mampu memutuskan apakah ingin melanjutkan pendidikan atau justru stop dan mengakhiri proses pendidikannya dengan mencari pekerjaan.

Persoalannya sebenarnya ada dua hal:

Pertama, bagi anak-anak yang berprestasi sejatinya pemerintah telah memberikan bantuan bagi murid yang kurang mampu secara ekonomi berupa PIP (Program Indonesia Pintar). 

Program ini sejatinya sangat membantu bagi murid-murid yang ingin melanjutkan program pendidikannya di perguruan tinggi. Dengan prestasi yang dimiliki ranking di sekolahnya, mereka lebih berkesempatan mendapatkan beasiswa atau keringanan biaya pendidikan. Maka tak sedikit anak-anak kurang mampu yang mampu melanjutkan belajarnya sampai ke perguruan tinggi. Kesempatan emas jika mereka adalah murid yang berprestasi. 

Nah, bagaimana dengan murid yang kurang berprestasi atau kemampuannya rendah, tentu berharap mendapatkan kesempatan di sekolah negeri juga harus berpikir dua kali. Meskipun saat ini sistem penerimaan sekolah berdasarkan zonasi, namun tingkat kemampuan anak cukup menjadi persoalan tersendiri bagi anak-anak dalam melanjutkan pendidikan.

Sehingga bagi anak-anak yang "pintar", memiliki banyak peluang menempuh pendidikan yang setinggi-tingginya. Tidak sedikit di antara mereka bisa menempuh pendidikan sampai S-3 di luar negeri, meskipun kehidupan keluarganya hanyalah pekerja dengan penghasilan yang amat minim.

Berbeda sekali dengan anak-anak yang kurang kemampuannya, dan motivasi belajarnya juga amat lemah. Hal  ini tentu menjadi kendala untuk bisa melanjutkan ke tahapan berikutnya.

Anak-anak yang tidak begitu mampu memperoleh prestasi akademik, solusinya adalah mendapatkan kursus gratis dari pemerintah yang juga saat ini telah diberikan pada anak-anak putus sekolah atau anak-anak lulusan SMA yang tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Balai Latihan Kerja (BLK) memberikan kesempatan mendapatkan beragam keterampilan yang dibutuhkan.

Namun, bagi yang tidak mau sama sekali melanjutkan pendidikan meskipun keluarga mereka berada, maka solusinya adalah membuka usaha swasta sebagai petani, pedagang atau justru bekerja sebagai wirausaha mandiri atau sebagai pekerja swasta baik di dalam negeri maupun di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI/TKW). Ada banyak negara yang menampung keahlian mereka dengan gaji yang cukup menggiurkan. 

Persoalan kedua adalah ketika anak-anak yang telah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA ini tidak memiliki dorongan internal, orang tua pun tak memiliki biaya cukup untuk menyekolahkan anaknya dan rerata keluarga ini telah pasrah dengan keadaan. Solusinya adalah mereka akan bekerja di sektor non formal dengan sedikit kemampuan dengan penghasilan yang kurang layak, bahkan jika mereka adalah perempuan, banyak di antara mereka yang harus segera dinikahkan di usia yang cukup dini.

Hal ini mungkin dimaksudkan untuk mengurangi beban keluarga. Tentu saja karena dengan menikahkan anak-anaknya, akan membuka kesempatan mereka untuk mandiri dan mulai mengurus keluarga. Meskipun faktanya banyak pernikahan di usia dini yang justru menjadi beban keluarga dan masyarakat. Bahkan ada di antara mereka yang mengalami perceraian.

Lulus sekolah adalah muncul masalah yang lebih besar jika tidak memiliki keterampilan

Mengapa dapa dikatakan bahwa lulus sekolah itu justru akan menimbulkan masalah baru, jika para lulusannya tidak memiliki keterampilan? Sebab jika ingin mendapatkan penghasilan yang layak, kemampuan atau skill tertentu harus dimiliki lulusan SMA ini. 

Berbeda dengan para lulusan SMK atau SLB dengan program keterampilan, lebih menjanjikan skill yang bisa mereka manfaatkan dalam membuat lapangan pekerjaan atau mencari pekerjaan berbasis jasa. 

Seperti misalnya jasa servis kendaraan, menjahit, pertukangan, atau produk tata boga, batik, souvenir dan sebagainya. Program ini jika dilihat dari sisi kebutuhan masyarakat tidak ada matinya atau berlangsung lama dan bermanfaat sepanjang kehidupan asalkan didukung oleh keterampilan menyikapi kebutuhan produksi dan pemasarannya.

Bagaimana saat ini sekolah-sekolah kejuruan dan Sekolah Luar Biasa (SLB) atau sekolah khusus telah memberikan beragam keterampilan yang dibimbing oleh guru-guru dan pelatih yang profesional dengan sertifikat atau ijazah keterampilan yang sesuai dengan bidang tugasnya.

Para guru ini secara langsung telah mempersiapkan murid-muridnya agar menjadi insan yang mandiri dan siap menghadapi kemajuan zaman dan bersaing dalam usaha dengan masyarakat lainnya. Tinggal apakah keberadaan mereka tetap mendapatkan dukungan dari orang tua, lingkungan atau pemerintah dan dunia usaha. 

Jika dukungan ini terus ada kita akan terus bisa berharap kesempatan para lulusannya untuk mendapatkan kehidupan lebih baik pasti di depan mata.

Sebaliknya jika para lulusan ini tidak mempunyai akses-akses keterampilan dan kesiapan skill, tentu menjadi masalah serius. 

Jika mereka melanjutkan ke perguruan tinggi pun nanti akan berhadapan dengan persoalan pekerjaan atau bagaimana membuka lapangan kerja dengan penghasilan yang layak. 

Paling tidak jika mereka bisa menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dengan spesifikasi yang sesuai dengan dunia kerja, mereka bisa bersaing dengan perusahaan pemerintah (BUMN), mendaftar jadi ASN baik PNS maupun P3K atau perusahaan swasta.

Dukungan Sektor Usaha Swasta dan Pemerintah adalah yang paling dibutuhkan

Kembali pada persoalan bagaimana mereka menjalani kehidupan setelah lulus sekolah seperti paparan di awal tulisan ini, tentu kita akan membutuhkan beberapa solusi, baik dari pemerintah maupun swasta.

Pertama, berikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja baik di sektor formal, nonformal maupun informal yang ada di lingkungannya. 

Hal ini sedikit banyak memberikan peluang bagi lulusannya untuk terus berdikari dan berkegiatan secara produktif demi masa depan yang lebih baik. 

Bisa saja mereka turut bekerja di sektor konstruksi meskipun skill yang minim, namun yang perlu dipertimbangkan adalah besaran penghasilan yang harus layak bagi kehidupan. Selain itu fasilitas kesehatan pun semestinya tidak diabaikan.

Kedua, dukungan orang tua amatlah penting. Jika putra-putrinya adalah siswa berprestasi maka dukung untuk  terus mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, karena ada program beasiswa bagi mereka yang berprestasi namun berasal dari masyarakat kurang mampu. 

Orang tua memang bisa mendorong anak-anaknya untuk menempuh pendidikan lebih tinggi, tetapi masalahnya adalah ketika UKT yang justru semakin mahal, tentu ini menjadi batu sandungan bagi mereka yang ekonominya rendah.

Ketiga, saat ini kebijakan pemerintah telah jelas bahwa setiap orang mendapatkan kesempatan pekerjaan sesuai kualifikasi dan kebutuhan perusahaan. Bahkan bagi anak-anak berkebutuhan khusus, ada formasi 2 persen atau lebih bagi mereka yang ingin mendaftar di sektor formal. 

Sayangnya peraturan pemerintah ini tidak serta merta dijalankan oleh pemilik usaha, alasannya mereka belum bisa menyiapkan sektor mana yang harus diberikan dengan kondisi yang terbatas. Padahal ada banyak hal yang dilakukan oleh lulusan ini, baik anak-anak pada umumnya atau anak-anak berkebutuhan khusus yang kini telah memiliki keterampilan.

Keempat, berikan kesempatan pada lulusan untuk membuka usaha sendiri, baik sebagai pemilik usaha kecil-kecilan dengan bantuan dari pemerintah atau modal dengan bunga ringan yang saat ini masih sangat mereka butuhkan.

Kelima, adanya dukungan pasar dari produk-produk yang dihasilkan, karena dengan adanya pasar yang terbuka, hasil karya dari para lulusan pasti akan terserap, dan tentu saja akan memberikan kesempatan mereka mengembangkan usahanya menjadi lebih maju dengan dukungan pelatihan atau mentoring dari pemerintah agar usaha mereka bisa layak di pasaran.

Kiranya lulus sekolah bukanlah sesuatu yang menyenangkan tapi bisa juga menjanjukan. Asalkan setelah lulus dapat terus produktif dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki dan tidak hanya berpangku tangan.  Hal itu karena memang pasca lulus sekolah masih ada tantangan dan peluang yang harus terus dicari dan dikembangkan demi kehidupan masa depannya.

Jika kita sudah merasa yakin bahwa dengan lulus akan seperti apa, dan akan berbuat apa untuk masa depan, ini tentu adalah harapan orang tua, masyarakat dan negara. Karena para lulusan ini mampu menentukan masa depan mereka dengan kemampuan yang dimiliki. Salam

Rabu, 25 Oktober 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.3. Pengelolaan Kegiatan/Program yang Berdampak Positif pada Murid

Gambar : layarmaya.id


Koneksi Antar Materi Modul 3.3. Pengelolaan Kegiatan/Program yang berdampak positif pada murid


Oleh : M. Ali Amiruddin, S.Ag.

Guru SLB Negeri Metro

CGP Angkatan 8 Kota Metro





Pembelajaran pada Modul 3.3. ini adalah merupakan topik pembelajaran yang membuat saya merasa sangat bersyukur dan merasa lebih percaya diri, karena dengan mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru, saya memahami bagaimana mengelola kegiatan atau program yang berdampak positif pada murid. 


Saya terus menggali pengetahuan, pemahaman dan berusaha terus mempraktikkan konsep ini di kelas saya, meskipun belum sepenuhnya terlaksana, paling tidak saya mendapatkan inspirasi bahwa anak-anak berkebutuhan khusus pun bisa menempatkan dirinya dalam student agency. Seperti ketika belajar mereka bisa memberikan gagasan sederhana terkait materi yang dipelajari, memilih apa media dan proses pembelajarannya, serta mereka merasa menjadi bagian dari pembelajaran itu dan melakukannya dengan senang hati, bersemangat dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.


Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan tentu saja semakin menguatkan motivasi saya dalam pembelajaran agar murid-murid merasakan kebahagiaan (well being) dalam setiap perencanaan, proses dan produk yang dihasilkan dari pembelajaran yang dilakukan. Dan sebagai guru saya semestinya terus belajar dan meningkatkan pemahaman serta mempraktikkan pengelolaan program yang benar-benar melibatkan murid.


Hal tersebut saya rasakan ketika sebelumnya saya belum begitu memahami hakikat pembelajaran yang seharusnya sesuai dengan Filosofi KHD bahwa pendidikan itu menuntun murid sesuai dengan kodrat alam dan zamannya sebagai manusia dan makhluk masyarakat, serta bagaimana membawa murid mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan budi pekerti yang luhur. Maka pada fase ini saya semakin menyadari bahwa ketika pembelajaran itu mesti berpihak pada murid maka pembelajaran itu menempatkan murid sebagai pemimpin dirinya sendiri dan menjadikannya sebagai subjek pembelajaran. Mengelola program dengan sebaik-baiknya dan seoptimal mungkin aset yang dimiliki oleh sekolah.


Aset yang ada di sekolah adalah sumber kehidupan pengelolaan pendidikan, yang mengikutsertakan seluruh elemen dalam sekolah itu, baik kepala sekolah, guru-guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, komunitas praktisi dan orang tua sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem sekolah yang berkualitas.


Seperti halnya dipahami bahwa murid adalah anak-anak yang memiliki kebutuhan dan potensi yang semestinya didorong agar menempatkan dirinya sebagai agen pendidikan. Dalam ekosistem pendidikan yang baik selalu menempatkan murid sebagai mitra dalam proses pendidikan itu sendiri.


Menempatkan murid sebagai student agency atau kepemimpinan murid yakni menempatkan murid sebagai pribadi yang memiliki voice atau suara, pendapat, gagasan dan ide yang bermanfaat bagi kemajuan pendidikan. Murid tidak hanya memiliki gagasan, namun bisa memperjuangkan gagasannya agar menjadi inovasi dari bagian program yang dijalankan sekolah. Murid tidak hanya berpendapat atau membuat ide, tapi murid didorong mampu dan konsisten mengambil bagian dari proses atau program yang dijalankan.


Selain memiliki suara, gagasan atau ide, sebagai pemimpin pembelajaran murid didorong memiliki pilihan-pilihan terhadap program atau kegiatan di sekolah, baik berupa kegiatan intra kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstrakurikuler. Murid memahami bahwa pilihan tersebut adalah tepat dan sesuai dengan hak individu yang memiliki kemampuan memilih apa yang disukai, dengan catatan tetap harus dengan bimbingan guru dan mengikuti kesepakatan kelas dan sekolah dan asas yang sesuai dengan nilai-nilai keberpihakan pada murid.


Selain itu student agency memberikan peluang dan mendorong murid untuk menjadi owner atau pemilik kegiatannya, dan dengan konsekuensi murid-murid akan bertanggung jawab atas program yang telah direncanakan dan dilaksanakan dengan semangat kemandirian, kolaboratif yang bertanggung jawab.


Pendidikan yang menempatkan murid sebagai student agency akan menempatkan murid dalam lingkungan yang membantu tumbuh kembang murid dalam mencapai kemandirian, kemampuan bersosialisasi dan menjalin kolaborasi dengan pihak lain dan juga mewujudkan kepemimpinan murid agar sukses di masa depannya.


Ada 3 sentra pendidikan, yaitu pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat, yang pada implementasinya akan bersinggungan dengan keterlibatan murid dalam proses pendidikannya. Ketiga lingkungan ini akan sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan kepemimpinan murid.


Kemudian keterkaitan modul 3.3 dengan modul 1.1 bahwa pendidikan adalah sesuai kodrat alam dan zamannya sebagai manusia dan makhluk sosial atau makhluk bermasyarakat. Tentu saja sangat berkaitan. Dimana ketika dalam pendidikan menempatkan murid menempatkan posisinya sesuai kodratnya dimana pendidikan itu adalah proses memerdekakan murid dan menuntun tumbuh kembang murid sesuai dengan kodrat masing-masing. Dengan menempatkan murid sebagai student agency maka proses pendidikan tersebut sejalan dengan filosofi KHD.


Bagaimana dengan modul 1.2, dimana guru memiliki nilai dan peran dalam pembelajaran, yaitu berpihak pada murid, mandiri, reflektif, inovatif dan kolaboratif dan peran guru adalah menjadi pemimpin pembelajaran, sebagai coaching bagi guru lain, menggerakkan komunitas praktisi, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid. Tentu saja hal tersebut berkaitan erat dengan modul 3.3. di mana dalam modul ini mendorong kepemimpinan murid, guru sebatas menuntun, mendampingi dan memfasilitasi kebutuhan belajar murid agar proses pembentukan kepemimpinan murid dapat berjalan dengan baik.


Dengan modul 1.3, dimana guru harus mampu melakukan prakarsa perubahan dalam sebuah visi guru penggerak,  yang tentu saja sangat berkaitan dengan bagaimana mengimplementasikan prakarsa perubahan tersebut dengan menempatkan murid sebagai agen dalam program yang dibuat oleh guru atau sekolah. Dari prakarsa guru dan berkolaborasi dengan murid terkait ide, pilihan dan kepemilikan maka akan mendukung proses mewujudkan visi guru penggerak dan kepemimpinan murid di dalam programnya.


Keterkaitan antara modul 3.3 dan modul 1.4 adalah bahwasanya dengan menempatkan murid sebagai student agency dan melibatkan kolaborasi dengan seluruh warga sekolah dan komunitas sekolah, tentu akan mewujudkan budaya positif di sekolah dan budaya positif adalah nilai-nilai kebajikan universal yang akan menjadi karakter baik bagi perwujudan kepemimpinan murid.


Sedangkan modul 3.3 berkaitan erat dengan modul 2.1 yaitu bahwa pengelolaan program yang berdampak positif pada murid tentu akan berkaitan pula dengan bagaimana guru mampu melakukan pembelajaran berdiferensiasi, bawa setiap kebutuhan dan potensi anak terfasilitasi dengan baik dan dengan perbedaan-perbedaan tersebut semakin meneguhkan pemahaman bahwa dengan program yang berdampak positif pada murid tentu saja akan bersinggungan bagaimana guru dan sekolah memfasilitasi perbedaan-perbedaan baik suara, pilihan maupun kepemilikan pada murid. Dan itu menjadi sumber daya yang baik bagi menciptakan ekosistem pendidikan yang positif dan dinamis. Sedangkan modul 2.2. pembelajaran sosial emosional menempatkan murid dalam student agency (kepemimpinan murid) akan memberikan dampak yang positif dalam pemenuhan kebutuhan akan mengenal diri sendiri, mengelola diri sendiri, mengenal orang lain, melakukan kolaborasi, memiliki empati

dan mampu mengambil keputusan secara bertanggung jawab. hal itu sejalan dengan konsep kepemimpinan murid, yaitu: voice, choice dan ownership di dalam lingkungan yang menuntun tumbuh kembang kemandirian dan kolaborasi serta kepemimpinan dalam diri murid-murid. 


Bagaimana dengan hubungan antara modul 3.3 dan 2.3? Tentu saja memiliki hubungan yang sangat erat. Yaitu ketika pengelolaan program yang berpihak pada murid dan mendorong kepemimpinan murid tentu akan bersinggungan dengan proses coaching. Di mana proses coaching adalah bagaimana coache mampu menggali gagasan dari coachee dalam menyelesaikan masalah-masalahnya dan kemajuan di masa depan, maka hal ini akan erat kaitannya dalam mendorong murid dalam menggali potensinya, dengan gagasan-gagasan, pilihan dan kepemilikan akan program yang direncanakan dan diaplikasikan dengan penuh rasa tanggung jawab. Ketika program tersebut menempatkan coaching akademik sebagai metode menyelesaikan masalah, maka proses kepemimpinan murid akan dapat terwujud dengan optimal..Murid dapat menempatkan dirinya sebagai pemimpin bagi diri dirinya sendiri maupun orang lain dalam pembelajarannya dengan sikap merdeka dan bertanggung jawab.

Keterkaitan antara modul 3.3 dan 3.1 adalah sangat erat, Bahwa menempatkan murid sebagai student agency akan bersinggungan dengan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Di mana setiap pengambilan keputusan semestinya berpihak pada murid, dapat dipertanggungjawabkan dan tentu saja memiliki nilai-nilai kebajikan.

Murid didorong mampu memimpin dirinya sendiri dan bagaimana mereka dapat mengambil keputusan yang tepat dalam rangka menyuarakan gagasan, pilihan dan kepemilikan program sekolah yang nantinya akan mendukung proses pembentukan kepemimpinan pada murid.


Hubungan antara modul 3.3 dan modul 3.2 adalah bahwa dalam mengelola ekosistem pendidikan semestinya selalu berdasarkan pada potensi atau aset dan sumberdaya yang dimiliki sekolah, sedangkan aset atau sumberdaya sekolah di antaranya adalah murid-murid yang mampu berkolaborasi dengan komunitas sekolah dan semua pihak terkait dengan pengembangan sekolah. Maka dari itu ketika sekolah mampu memberdayakan aset sekolah, maka secara tidak langsung akan memberdayakan potensi dari murid-muridnya yang tentu saja mewujudkan student agency secara nyata.


Dengan keterkaitan dengan modul-modul tersebut seharusnya kegiatan atau program menempatkan murid sebagai pemimpin dirinya sendiri yang mampu memberikan gagasan, pilihan dan kepemilikan program tersebut dengan rasa senang dan bertanggung jawab.Dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan proses evaluasi semestinya terus melibatkan murid yang nantinya akan memberikan dampak positif bagi murid baik ketika sekolah maupun ketika telah lulus dan berbaur dengan lingkungan sekitarnya.


Program sekolah yang baik semestinya berdasarkan gagasan murid, pilihan murid dan menempatkan murid sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri dalam mengelola program sekolah. Sekolah dan guru seharusnya terus mendorong student agency serta mengoptimalkan sumber daya sekolah serta menggerakkan kolaboratif komunitas sekolah mengoptimalkan peran serta dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, wali murid dan masyarakat sekitar demi mewujudkan sosok yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila sosok yang menjadi pemimpin di masa depan.


Sebagai kalimat pungkasan dari tulisan ini, saya mengutip pendapat Bp. Zulfikri selaku Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Plt. Kapuskurjar) dalam artikel Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi menyebutkan bahwa “Tolok ukur keberhasilan Kurikulum Merdeka adalah dari keceriaan (kebahagiaan) anak dan kemampuan mereka berkolaborasi menyelesaikan beragam persoalan. Bagaimana lembaga pendidikan mampu menciptakan budaya perilaku positif dalam mencetak SDM yang berkualitas dari waktu ke waktu sebagaimana nilai yang terkandung dalam Profil Pelajar Pancasila.” (Kurikulum Merdeka Membangun Potensi Siswa sesuai Fitrahnya, 18 Februari 2022)


Salam dan Bahagia.


Selasa, 05 September 2023

Membuat Komunitas Literasi Berbagi dalam Pencapaian Visi Guru Penggerak

Membuat Komunitas Literasi Berbagi dalam Mencapai Visi Guru Penggerak

Oleh :  M. Ali Amiruddin, S.Ag.

CGP Angkatan 8 Provinsi Lampung


Bincang-bincang dengan rekan sejawat terkait komunitas literasi berbagi

Bincang-bincang terkait komunitas literasi berbagi (dok. Pribadi)

Hari Rabu yang lalu, 21 Juni 2023 kami yang tergabung dalam kelas 07 CGP Angkatan 8 Provinsi Lampung bertatap muka dalam sebuah lokalarya 1 di Gedung SMK Muhammadiyah 1 Kota Metro. 

Semua peserta CGP, Pengajar Praktik, Perwakilan BGP Provinsi Lampung pun turut hadir dalam kegiatan tersebut. Awalnya saya dan teman-teman mungkin memiliki perasaan dan pemikiran yang sama tentang apa isi kegiatan yang akan dilakukan pada saat itu.

Bagi saya setelah memasuki gedung pertemuan tersebut, ada semangat dan keyakinan bahwa setiap kegiatan yang akan dilakukan senantiasa memberikan manfaat bagi diri saya secara pribadi, teman-teman CGP dan nantinya akan berdampak bagi murid-murid di sekolah masing-masing.

Apa yang pertama kami ikuti? Yaitu kami sama-sama merefleksi  kembali apa nilai-nilai dan peran guru penggerak. Kami dibuat berkelompok dan setiap kelompok berdiskusi dan berkolaborasi menerjemahkan apa itu nilai dan peran guru penggerak dalam aktivitas sebagai pendidik.

Masing-masing perawakilan mempresentasikan pemahaman kami di depan teman-teman. Kami senang dan bangga karena kami bisa mempresentasikan pemahaman kami tentang nilai dan peran guru penggerak. Satu hal yang kami syukuri adalah kami merasa dibukakan hati dan pikiran, betapa selama ini kami kurang mengerti apa nilai dan peran dari guru penggerak. Dan setelah melewati pendidikan ini,  pikiran kami mulai terbuka, betapa nilai dan perannya sangat banyak dan betul-betul bentuk penerapan dari pengejawantaran pendidik di dalam tugasnya.

Setelah presentasi selesai, kami diajak sebuah permainan dengan dibentuk menjadi sebuah lingkaran, dan pengajar praktik menyebutkan sebuah perintah yang nantinya masing-masing peserta menyebutkan orang-orang yang ada di sisinya. Pada saat itu kami mempelajari tentang kepekaan dan kecepatan dalam mengambil keputusan. Kami diajarkan bagaimana cepat menentukan satu hal yang telah diinstrusikan. Dan siapa yang paling cepat dia adalah pemenangnya.

Permaina kedua masih dengan berkelompok, masing-masing kelompok ditunjuk satu orang untuk mencari bola beraneka warna. Sosok pencari bola ditutup matanya dengan masker agar tidak terlihat. Sedangkan teman-teman yang lain memberikan petunjuk dimana bola itu berada. Dan benar, kami merasa senang dan asik dalam memainkannya, sampai-sampai terjadi diskusi dari masing-masing kelompok. Dengan harapan masing-masing kelompok memahami apa tujuan dari permainan itu, yaitu kepemimpinan dan kolaborasi.

Kelompok yang mampu berkolaborasi dan memenej kelompoknya akhirnya dapat memenangkan permainan dengan lebih cepat. Hal ini sejalan dengan prinsip organisasi dan peran sebagai pemimpin pembelajaran, di mana guru harus mampu menuntun murid agar mencapai keberhasilan sesuai dengan apa yang menjadi cita-citanya. Dan bagaimana mampu menggerakkan komunitas praktisi agar komunitas itu bergerak sesuai dengan roll organisasi yang memiliki tujuan yang jelas.

Permainan ketiga adalah melakukan tebak-tebakan hasil perkalian antara dua orang CGP. Masing-masing peserta secara berpasangan harus cepat menjawab dan mampu mengalahkan lawannya. 

Dalam permainan itu ada pelajaran berharga, bahwa seorang pemimpin itu harus cepat dalam  mengambil keputusan, karena keputusan itu pun akan menentukan perjalanan sebuah organisasi atau komunitas yang tengah digerakkan.

Kegiatan selanjutnya adalah mengenal Komunitas Praktisi, dimana kami berdiskusi terkait bagaimana mendirikan, merawat dan melakukan langkah kerja dan menjaga agar komunitas itu dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dari diskusi tersebut masing-masing peserta dapat menemukan gambaran betapa membuat komunita itu tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak juga terlalu sulit asal dihadapi dengan keyakinan diri dan ketekunan.

Selanjutnya ada tugas yang harus kami lakukan. Adapun dua pilihan tugas adalah 1.  menghidupkan lagi komunitas yang telah ada, 2. membuat komunitas baru. 

Akhirnya saya membuat komunitas baru yaitu Komunitas Literasi Berbagi. Dan alhamdulillah setelah kami sampai di sekolah, kami melakukan diskusi dengan guru-guru, kepala sekolah dan anggota komunitas Dewan Kesenian Metro, Pengawas Sekolah, terkait pembentukan komunitas tersebut.

Alhamdulillah akhirnya komunitas itu dapat terbentuk meskipun baru sebatas pembentukan dan membuat program kegiatan, sedangkan untuk pemantapan kegiatan masing dalam jadwal yang belum terlaksana. Rencananya segera mungkin akan kami lakukan diskusi secara tatap maya dan melakukan survey tentang kebutuhan komunitas literasi berbagi tersebut.

Rasa-rasanya dalam waktu sehari itu ingin sekali ditambah waktunya, karena kami sadar dengan kegiatan tersebut adalah wahana untuk refreshing dan relaksasi setelah sebulan mengikuti pendidikan secara daring (maya) bersama teman-teman,PP, Fasilitator dan Instruktur. Maka dari itu dalam pertemuan itu sedikit melemaskan ketegangan dan menggugah pikiran bahwa materi-materi tersebut jika  diaplikasikan menjadi sebuah pengetahuan dan pengalaman yang berharga yang nantinya bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas atau ketika kita memang ditunjuk menjadi kepala sekolah.

Semoga segenap ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan benar-benar dapat kami lakukan di sekolah secara pribadi bersama murid-murid saya, serta dapat menciptakan kolaborasi dengan guru dan semua warga sekolah,wali murid atau masyarakat dan pemangku kepentingan, agar kiranya kegiatan itu nanti tercipta komunitas saling mendukung seperti halnya dalam pencapaian visi guru penggerak maupun visi sekolah.

Salam dan Bahagia

Minggu, 09 Juli 2023

TUGAS REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4. BUDAYA POSITIF

 

Jurnal Refleksi Modul 1.4. Budaya Positif



Menumbuhkan Budaya Positif, Mendukung Pendidikan Yang Raman dan Nyaman Bagi Murid



Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan itu menuntun kodrat anak sesuai dengan kodrat alam dan zamannya. Jadi pendidikan itu diupayakan menyentuh persoalan anak yang azali dimana mereka perlu bertumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.


Kodrat anak sebagaimana teori konvergensi adalah bahwa anak-anak itu sejak lahirnya ibarat selembar kertas yang telah ada coretannya namun masih samar. Dan orang tua, guru serta lingkungan yang nantinya dapat mempertebal coretan itu menjadi jelas.


Potensi yang dimiliki anak-anak hakikatnya membutuhkan dukungan dan bantuan dari pendidik agar mencapai potensi yang terbaik bagi kehidupannya kelak.


Bahkan keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak dalam menumbuhkembangkan benih-benih kebudayaan, seni, perilaku dan sebagainya.


Hal ini tentu perlu melibatkan keluarga sebagai wahana pendidikan pertama bagi anak-anaknya.


Penumbuhan Budaya Positif Bagi Anak


Budaya positif adalah suatu pembiasaan yang bernilai positif. Di dalamnya mengandung sejumlah kegiatan yang mampu menumbuhkan karakter murid. Budaya positif perlu dibangun di dalam kelas atau sekolah.


Hal ini dimaksudkan bahwa dalam penumbuhan dimensi kodrati anak pun akan berkaitan dengan nilai-nilai kebajikan yang universal. Di mana murid perlu mengetahui tentang nilai-nilai kebajikan, seperti beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, mandiri, saling menghormati, disiplin diri, empati, peduli, saling tolong menolong, berkolaborasi, bernalar kritis dan sebagainya yang tercermin dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu: 1) Berketuhanan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, 2) Mandiri, 3) Bergotong Royong, 4) berkebhinekaan global,5) bernalar kritis, dan 6) kreatif.


Keenam nilai Profil Pelajar Pancasila tersebut sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal yang disebutkan di atas. 

Lalu bagaimana nilai-nilai kebajikan universal itu dapat terejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari oleh murid, baik di sekolah maupun di rumah dan lingkungan? Kegiatannya adalah dengan pembiasaan budaya positif.


Hal-hal yang bisa dilakukan dalam menuntun kodrat anak dengan nilai-nilai kebajikan universal yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila adalah dengan keyakinan kelas.


Keyakinan kelas adalah sebuah nilai-nilai kesepakatan yang dihasilkan dari hasil diskusi kolaboratif. Dengan keyakinan kelas tersebut akan memberi aturan setiap orang dalam  kelas atau setiap warga sekolah dalam menjalani rutinitas pembelajarannya.


Setia warga kelas atau warga sekolah memegang prinsip di dalam kesepakatan kelas itu dengan dasar kontrol diri. Dengan kontrol diri seorang guru atau kepala sekolah akan menempatkan para siswa sebagai sosok yang memegang kendali dirinya sendiri. Mereka meyakini bahwa keyakinan kelas itu adalah sebuah cara mengatur setiap komponen di sekolah sesuai dengan batas-batas yang sudah disepakati.


Sebut saja ketika murid meyakini bahwa saya harus berdisiplin dalam masuk kelas / sekolah, maka si murid akan mengikuti kesepakatan itu sebagai aturan baku yang mereka ciptakan sendiri. Bahkan ketika murid melakukan pelanggaran, maka mereka harus melihat dimana letak keyakinan kelas yang mereka langgar dan bagaimana mengatasi persoalan yang mereka hadapi.


Melakukan pembiasaan-pembiasaan diri dalam melakukan aktivitas pembelajaran dengan penuh bertanggung jawab, mandiri dan merdeka juga menjadi sumber aturan yang disepakati secara bersama-sama yang pada akhirnya akan menjadi budaya positif bagi para murid dan semua warga sekolah.



Dalam teori kontrol setiap murid dikehendaki memahami apa letak kesalahan yang telah dilakukan. Mereka menyadari bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesenangan, kehormatan, keamanan, kenyamanan dan sebagainya. Namun semua hak itu tentu dibatasi oleh hak-hak orang lain yang tidak boleh dilanggar.


Bilamana mereka memahami tentang konsep ini maka murid-murid akan menyadari bahwa apa yang dilakukannya seharusnya penuh dengan tanggung jawab.


Dan kemampuan untuk mengenali hak dan kewajibannya perlu didasari oleh motivasi dalam dirinya sendiri. Guru hanya memantau bagaimana murid-murid dapat melakukan kontrol diri tanpa ada dorongan dari siapapun, mereka bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang dilakukan.


Penerapan Segitiga Restitusi dalam Penumbuhan Budaya Positif


Restitusi adalah salah satu cara dalam menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. Maka dari itu setiap guru diharapkan dapat menerapkan restitusi dalam membimbing murid dalam berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.


Diane Gossen dalam Bukunya Restitution School Discipline (2001) telah merancang sebuah tahapan untuk memudahkan para guru dan orang tua dalam melakukan proses untuk menyiapkan anaknya untuk melakukan restitusi, bernama segitiga restitution/restitution triangle.


Prinsip-utama Teori Kontrol Metode Restitusi



Langkah

Teori Kontrol

Menstabilkan identitas

Kita semua akan melakukan hal terbaik yang bisa kita lakukan

Validasi tindakan salah

Semua perilaku memiliki alasan

Menanyakan keyakinan

Kita semua memiliki motivasi internal



Ketiga strategi tersebut direpresentasikan dalam 3 sesi restitusi. Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan secara fleksibel agar murid memahami bagaimana menerapkan strategi kontrol diri dalam dalam pendidikannya.


Lalu apa langkah yang dibuat dalam segitiga restitusi?




Mesntabilkan Identitas 

Pada tahap ini seorang guru memastikan bahwa murid menyadari bahwa setiap orang berpotensi melakukan kesalahan dan menjelaskan bahwa murid tersebut bukanlah satu-satunya yang bisa berbuat salah.

Hal ini bertujuan untuk memancing kejujuran murid atas kesalahan yang boleh jadi tidak sengaja mereka  lakukan. Dan apabila kesalahan itu dilakukan, paling tidak dia mengakui bahwa perilakunya sungguh tidak tepat.


Validasi tindakan yang salah

Pada tahap ini yang bisa dilakukan adalah menanyakan mengenai alasan mengapa sang murid melakukan perbuatan itu kemudian memancing persepsi sang murid tentang upaya efektif yang dapat ia lakukan.

Hal ini dimaksudkan bahwa setiap anak menyadari apa yang dilakukan cukup beralasan meskipun alasan itu tidak menguntungkan pihak lain, karena sebagai pembelaan atas keinginan pribadi. Namun secara sadar guru dapat mengarahkan bahwa apa yang menjadi alasan tersebut sangat merugikan pihak lain. 


Menanyakan keyakinan

Setelah murid mengakui kesalahannya dan mengetahui alasan mereka melakukan itu tahap selanjutnya adalah menanyakan terkait keyakinan kelas yang telah dibuat bersama-sama. Apakah ada pelanggaran atas keyakinan kelas itu? Dan apa yang murid inginkan setelah memahami kembali terhadap keyakinan kelas yang telah buat sebelumnya dan membuat langkah-langkah yang tepat untuk menyelesaikan persoalan mereka secara mandiri dan bertanggung jawab.


Dengan strategi restitusi diharapkan murid dapat memahami bahwa diri sendirilah yang semestinya memahami apa-apa yang tepat dan tidak tepat dilakukan dalam proses pembelajaran atau bagaimana mereka berperilaku sesuai keyakinan kelas yang telah dibuat. Dan secara bertanggung jawab akan menjalankan keyakinan kelas itu bersama-sama murid-murid yang lainnya.



Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!