Senin, 12 Mei 2014

Dengan Cara Ini Semestinya Siswa Bandel Dihukum (Sebuah Alternatif)

Hentikan kekerasan pada anak, berikanlah hukuman yang mendidik bagi mereka karena mereka generasi terbaik kita




Dengan Cara Ini Semestinya Siswa Bandel Dihukum (Sebuah Alternatif)

Penulis : M. Ali Amiruddin, S.Ag

Di manapun kita berada, tentu seringkali kita temukan prilaku para siswa-siswi yang terlihat bertingkah di luar batas, kadang menyakiti dirinya sendiri, adapula yang terbiasa mem-bully (baca: menyakiti) teman-teman sebayanya. 

Tindakan ini kadang dianggap biasa saja, sehingga para akademisi selalu menganggap mereka melakukan suatu hal yang sewajarnya, dengan alasan usia mereka memang masih abege atau baru memasuki usia pubertas. Antara dunia anak-anak dan dunia  dewasa yang lagi tinggi-tingginya gairah dalam meniti kehidupan. Dan tentu saja energi yang terlampau berlebih yang seringkali tidak termanfaatkan secara optimal.

Namun, jika prilaku mereka sudah kelewat nakal (bandel) ditambah lagi menyakiti teman-temannya secara fisik atau dengan kekerasan yang mengakibatkan korbannya harus di rawat intensif, atau karena prilaku mereka yang sudah kelewat batas karena menggunakan narkoba. Sehingga ada banyak akademisi serta para orang tua yang harus pusing tujuh keliling. Ditambah lagi jika anak-anak ini tidak lagi merasa takut dengan sanksi yang diberikan oleh sekolah sehingga segala macam hukuman seakan-akan tak memperbaiki kondisi yang amat tak patut ini
Dampaknya tidak hanya orang tua, guru saja yang harus kejatuhan masalah mereka, KOMNAS Anak pun sepertinya harus riweuh jika mendapatkan laporan kekerasan yang dilakukan para ABG ini.
Tapi apakah Anda tahu bahwa hakekatnya anak-anak pelajar yang melakukan kenakalan pun sepatutnya dihukum. Dihukum dalam tanda kutip tidak menyakiti fisiknya. Tidak hanya dianjurkan atau dilarang menyakiti fisik, secara psikis pun sepatutnya dihindari. 

Tentu saja bertujuan agar perkembangan fisik dan psikologis si anak tidak mengalami gangguan dan trauma paska hukuman diberikan. Sehingga amat wajar jika para pendidik, akademisi dan professor pendidikan yang berusaha mencari solusi terhadap fenomena kenakalan anak ini.

Penanganan terhadap kenakalan remaja dan prilaku merusak para remaja ini hakekatnya dapat dilakukan dengan proporsional. Namun jika melihat beberapa kasus kenakalan ABG yang justru berdampak diberikan hukuman tahanan ternyata justru tidak menjadikan anak ini lebih baik. 

Anak yang awalnya mengalami goncangan psikis dan perubahan prilaku karena diawali dari perhatian orang tua yang amat minim, tatkala anak-anak ini melakukan perbuatan yang keliru ternyata karena mendapatkan sanksi pidana dan dijebloskan dalam penjara, justru anak-anak ini mendapatkan pengetahuan akan kekerasan yang diperoleh dari para narapidana yang sama-sama mendiami sebuah lapas.

Pantas saja, anak-anak yang masih bau kencur ini secara tidak langsung meniru aktifitas merusak yang dilakukan di dalam lapas. Seperti merokok, kekerasan fisik dan psikis karena mendapatkan perlakuan kasar dari orang-orang sekitarnya, serta pengalaman negatif lain seperti pelecehan seksual. 

Seperti yang diceritakan mantan narapidana bahwa siapapun yang pernah masuk ke dalam lapas, maka anak yang awalnya nakal karena tekanan keluarga yang tidak begitu peduli, harus berubah menjadi kenakalan karena tekanan kekerasan tatkala di lapas. Masih beruntung jika hanya fisik yang diterima. Nah, jika harus mendapatkan perlakuan tidak senonoh misalnya "maaf" disodomi, seperti beberapa prilaku narapidana, hakekatnya hal ini menjadikan trauma yang akan mereka rasakan hingga usia senja.

Didalam lapas, tujuannya anak-anak ini jera dan menjadi baik, tapi justru berubah menjadi brutal, merokok, bahkan ada pula yang tersangkut narkoba lantaran di lapas juga menjadi tempat peredaran barang haram tersebut.

Bayangkan, jika di antara anak-anak yang ditahan tersebut adalah anak-anak kita apa yang akan kita rasakan? Takut, dan kekhawatiran yang akan muncul jika anak-anak kita benar-benar berprilaku tidak senonoh. Apalagi yang lebih parah lagi jika mereka menjadi trauma karena mendapatkan kekerasan secara fisik maupun psikis di dalam lapas, bukan?

Kejahatan kecil karena salah asuh anak, justru akan membunuh karakter terbaik dari anak-anak kita, bahkan justru bisa menjadi benih-benih perusak yang akan memengaruhi kehidupan orang-orang di sekitarnya. Amat mengerikan.

Kesalah pahaman orang tua tatkala anak-anaknya melakukan kesalahan.

Anehnya masyarakat Indonesia ketika berhadapan dengan kenakalan anak-anak mereka, beberapa orang tua justru hanya menyalahkan sekolah yang dianggap tidak bisa mendidik anak-anak mereka. 

Menyalahkan lembaga yang jam tugasnya lebih sedikit daripada tugas dari orang tua anak sendiri.
Orang tua yang semestinya menyadari bahwa keselahan anak adalah kesalahan orang tua pun masih saja ditentang. Bahkan anehnya ketika pihak sekolah memberikan hukuman yang mendidik dengan tugas di sekolah, justru orang tua menganggap guru dan sekolah tidak becus dan dianggap melampaui batas. 

Seperti halnya ketika anak membolos, pihak guru memberikan hukuman dengan anak diperintahkan membersihkan toilet atau membersihkan lingkungan justru orang tua banyak yang protes. Dan anehnya tidak menyadari bahwa dengan memberikan hukuman pekerjaan ringan ini akan mengerti bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus mereka terima. Ada reward dan ada pula punishment. Ada hadiah bagi anak yang berprestasi dan ada hukuman bagi anak-anak yang berbuat kesalahan.

Bahkan anehnya lagi, ketika sang anak dimarahi guru, justru orang tua membela anak dengan membabi-buta. Mereka tidak menyadari bahwa dengan pembelaan orang tua tersebut menjadikan anak semakin percaya diri dengan perbuatan salahnya. Mereka menganggap ada orang yang dapat membela ketika anak berbuat keliru.  Dampaknya anaknya tidak semakin baik justru semakin brutal.

Sebuah kesalahan anak sejatinya tidak perlu diberikan pembelaan dari orang tuanya. Toh, pendidikan dan hukuman yang diberikan sang guru karena ingin anak mendapatkan perlakuan yang sama dan tidak ada kesan ada anak yang istimewa di antara anak-anak lainnya.

Adapula yang justru menyakiti dan memukuli sang anak ketika mereka melakukan kesalahan. Dampaknya sang anak semakin berperangai buruk dan memiliki trauma yang berkepanjangan. Anak tidak lagi mengenal bagaimana mereka harus berbuat tapi justru melampiaskan kekesalahannya dengan melakukan kekeliruan yang berkepanjangan.

Kedua tipe orang tua di atas sejatinya menjadi potret kenakalan anak-anak sekolah menjadi parah. Orang tua yang tidak mendukung guru dan sekolah dalam menanamkan pendidikan bagi anak-anaknya justru memberikan kesempatan bagi anak menjadi semakin buruk perangainya.

Bagaimana Hukuman Yang Pantas diberikan kepada anak?

Anak-anak yang sudah kadung terlibat pada pergaulan yang menyimpang, hakekatnya pun harus dikembalikan pada kebiasaan yang mendidik mereka untuk hidup mandiri. 

Memberikan bimbingan batin dan perhatian yang tulus kepada anak-anak ini. Karena amat tidak mungkin ketika anak-anak diharapkan menjadi anak yang mandiri, justru orang tua dan orang-orang disekitarnya justru menghukum dengan hukuman yang tak patut. Jika orang tua tak mampu mendidik secara ekslusif, maka ada baiknya menyerahkan kepada seseorang yang pantas menjadi orang tua asuh. 

Orang tua asuh yang bisa menjadi tempat mereka belajar menjadi diri sendiri, dan diberikan tugas yang tidak hanya menghukum, akan tetapi memberikan mereka pengalaman hidup bagaimana hidup mandiri. Mereka mendapatkan bekal keterampilan dan juga mendidik mereka menjadi lebih dewasa.

Setiap pekan orang tua mengamati perkembangan anaknya, baik menanyakan apa yang telah mereka lakukan dan pengalaman apa yang telah mereka dapatkan. Dan secara kontinyu orang tua tersebut mengontrol anak dan mengevaluasi sejauh mana perkembangan kemandirian mereka.

Misalnya, titipkan anak mereka pada petani yang akan mengajarkan bagaimana mereka mengelola perkebunan, meski hal ini tak lazim, tapi hanya langkah pendidikan dengan cara menghukum tapi mendidik inilah sejatinya yang bisa dilakukan terhadap anak-anak yang sudah kadung terpengaruh pergaulan yang tidak benar. Menempatkan mereka pada dunia pekerjaan yang justru melatih mereka memahami hakekat sebuah pekerjaan justru akan mengurangi sedikit banyak ketergantungan anak terhadap orang tua dan mengajarkan mereka menjadi diri sendiri.

Bisa juga ditempat di sektor-sektor lain yang tentu saja bukan untuk memperkerjakan mereka tapi melatih mereka mengenal dunia yang butuh tenaga dan pikiran dan tidak semata-mata dihabiskan usia mereka pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Akan lebih baik jika anak-anak nakal tersebut dihukum dengan cara learning by doing dan working by learning dengan ditangani oleh masyarakat yang memiliki kesanggupan untuk membekali mereka dengan keterampilan.

Point pertama, anak akan terlepas dari pergaulan bebas dan point kedua mereka menjadi mengenal dunia mereka seperti apa adanya. Tidak menjadikan mereka ternina bobokkan dengan situasi yang amat mudah untuk ditempuh. Memanfaatkan energi yang berlebih pada sebuah pekerjaan yang mereka harus belajar untuk menjadi diri sendiri.

Anak-anak menjadi kelewat nakal dengan seabrek konflik kepribadian hakekatnya diawali dari perhatian dan kepedulian dari orang tua, lingkungan dan pemerintah. Sehingga dengan perhatian yang cukup dan membekali mereka dengan segenap pendidikan budi pekerti dan pengalaman di luar kelas pun dapat mengurangi dampak kenakalan remaja.

Salam


divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Kamis, 08 Mei 2014

Pernahkah Anda Tahu, Betapa Bahagianya Ketika Dirindukan Siswa Kita?


Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag.

Siapapun Anda, sepertinya tidak ada yang tak mau kalau dirinya dicintai. Dan tak kan ada pula yang tak ingin dirindukan. Terutama oleh anak-anak kita sendiri tentunya dan anak-anak didik kita di sekolah. Sepertinya anggapan saya akan sama. Baik Anda seorang single parent maupun double parent. Baik Anda seorang guru sekolah formal maupun guru di tempat kursus sekalipun. 

Dan saya pun dapat menduga, pastilah kita semua yang merasa mereka sebagai guru, guru bagi keluarganya dan guru bagi siswa-siswinya, akan begitu bergairah jika anak-anak didik kita selalu menanti kedatangan kita. Sosok yang selalu mengerti apa yang menjadi curahan hati para anak didik kita dan tentunya anak-anak yang benar-benar merasakan kedekatan dengan kita yang dianggap sebagai wakil atau orang tua kedua setelah mereka meninggalkan orang tua kandung demi mengenyam pendidikan.

Mungkin sepertinya tidak mudah menjadi sosok yang dirindukan ya? Kalau keluarga kita yang pasti akan merindukan kehadiran kita tatkala keberadaan kita bisa menjadi pelindung dan pemberi dukungan atas apa yang mereka lakukan. Kita hidup di antara anggota keluarga yang dinamis. Tawa yang selalu menghinggapi meskipun ada kalanya tangis menjadi bumbu tatkala kita berada di tengah-tengah mereka.

Begitu pula kita sebagai orang tua kedua, tatkala anak-anak didik kita membutuhkan perhatian yang tulus dari gurunya, tentulah karena mereka menghendaki wakil dari orang tuanya tersebut dapat mencintai dan memperhatikan dirinya tatkala tengah haus akan ilmu pengetahuan. Haus akan pendidikan budi pekerti dan perhatian, dan haus akan kasih sayang yang akan mengakar dalam hati nurani mereka anak-anak yang polos dan butuh bimbingan.

Memang sepertinya mudah, meskipun di antara satu guru yang berhasil membina para siswanya hingga sukses menempuh pendidikan selanjutnya, ternyata ada ribuan guru yang telah gagal membekali anak didiknya untuk mencintai dirinya sendiri dan mencintai orang-orang di sekitarnya. 

Mereka gagal bukan karena semua siswanya tidak lulus ujian. Atau ada di antara anak didiknya yang harus tertinggal kelas. Tapi kegagalan para guru ini tatkala para siswanya justru bosan dengan kehadiran pendidiknya. Guru dianggap sebagai sosok malaikat pembunuh (killer) menakut-nakuti anak didiknya dengan ancaman tak dinaikkan kelas. Dan sosok guru yang selalu mengabaikan perhatiannya untuk mendidik mereka. Sekali lagi mereka tak hanya butuh transfer ilmu pengetahuan (kognitif) saja dengan sederet nilai tinggi. Akan tetapi lebih dari itu mereka merindukan sosok pendidik sekaligus sebagai pemimpin yang mengayomi. Bahkan lebih dari itu gurunya diharapkan menjadi sosok yang akan mengobati kerinduan akan kasih sayang dan perhatian tatkala para orang tua mereka harus sibuk meniti karir dan mencari rezeki.

Masih Adakah Guru Yang Dirindukan Siswanya?

Pertanyaan ini pun sejatinya akan dapat kita jawab. Melihat fenomena kejahatan anak-anak didik kita yang benar-benar jauh dari kata wajar. Semua orang pun harus dibuat gamang, apa gerangan yang harus dilakukan melihat fenomena yang menyesakkan ini? Bahkan adapula yang harus mencari-cari kembali metode apakah sepatutnya yang harus digunakan para gurunya agar pada anak didiknya kembali menjadi anak-anak yang menyejukkan. Anak-anak yang benar-benar kembali seperti seusia mereka. Bukan anak-anak keji yang selalu menyakiti dan bertindak anarki.

Mengingat begitu besar peran guru saat ini- bahkan saya anggap peran guru melebihi peran orang tuanya – di mana keberadaan mereka benar-benar harus menjadi orang tua tatkala para orang tua kandung mereka harus mencari penghasilan. Meniti karir dan tentu saja mengejar kesuksesan. Maka keberadaan guru menjadi mesti dan harus bisa mewakili para orang tuanya tatkala mereka berada di sekolah. Meskipun hakekatnya akan sia-sia saja jika di sekolah diperlakukan sebagai manusia tapi di rumah selayaknya benda hiasan rumah. Sehari-harinya  mereka bermain tanpa pengawasan orang tua. Seakan orang tua begitu abainya mengingat segala  macam permainan diberikan tapi sentuhan ruhani (kejiwaan) berbentuk perhatian dan kasih sayang teramat minim mereka dapatkan.

Anak-anak mereka di rumah seperti hewan-hewan peliharaan yang sepatutnya hanya diberi makan dan uang jajan. Tapi hati mereka gersang dari perhatian dan kasih sayang.

Dari sinilah, keberadaan guru semakin tertuntut. Tak hanya menjadi team pengajar, tapi juga seorang pendidik dan pembelajar. Mendidik para siswanya agar berbudipekerti yang luhur, mendidik mereka agar mampu hidup mandiri tatkala dunia ini penuh sesak dengan kompetisi mencari rezeki. Dan ketika mereka harus siap hidup dalam gegap gempitanya kehidupan glamour. Tak hanya mendidik, tapi menjadikan mereka belajar menjadi diri sendiri, makhluk sosial dan sebagai hamba Tuhan. Agar mereka pantas hidup dan sukses menjalani kehidupan yang serba sulit dengan kesiapan mental dan pengalaman yang memadai. Sesuai dengan jenjang yang kini di hadapi anak-anak didiknya. Tatkala di usia dini, maka guru sepatutnya mampu menyuguhkan ilmu dan pengalaman yang akan tertanam dalam sanubari dan ketika merekadewasa para siswanya pun siap menjadi anak-anak yang terlatih.

Saya pun belum menjadi guru yang mereka harapkan, tapi betapa indahnya tatkala dihari-hari kita mendidik mereka, kita selalu dinati dan dirindukan. Guru yang selalu dirindukan ibarat awan yang bersiap-siap menyiramkan air hujan yang menghidupkan segalanya. Dan bagaikan matahari yang menyirani di saat gelap gulita.

Guru Tak Hanya Cerdas, Tapi Benar-benar Berjiwa Pendidik

Amat salah jika kita beranggapan guru saat ini kurang berpendidikan. Dan tidak tepat jika pendidikan para guru saat ini di bawah rata-rata bukan? Tentu. Karena saat ini standar pendidikan minimal sarjana strata satu, dan lebih dari itu jika para guru ini kembali menuntut ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Dan tentu saja kita pun menolak jika kita dianggap guruyang tak layak mendidik karena dianggap pengalaman kita yang kurang baik. Karena rata-rata guru di Indonesia sudah mengikuti seabrek pendidikan dan pelatihan yang cukup demi membekali para pendidik ini agar sukses dalam mendidik para siswanya. Bukan sukses para guru karena mendapatkan tiket perjalan umroh atau naik haji dan uang saku yang tinggi karena berhasil memenangkan lomba. Dan bukan pula kesuksesan guru karena bisa hidup bermewah-mewah dengan bergonta-ganti kendaraan pribadi. Meski tak dilarang tapi bukan itu sejatinya kesuksesan seorang guru.

Kesuksesan guru tidak hanya dilihat dari guru yang mentereng karena dipanggil profesor atau karena kekayaannya yang berlimpah. Tapi bagaimana mereka menyukseskan anak-anakdidiknya. Mereka mampu mementuk setiap diri dan jiwa anak didik berdasarkan keteladanan danpengetahuan yang dicontohkan para gurunya. Bukan sekedar deretan nilai tinggi dikelas. Memang tidak mudah, tapi kita yakin semua guru Indonesia akan bisa melakukannya.

Tak ada alasan lagi guru harus mangkir dari jabatannya saat mendidik siswanya, dan tak ada alasan lagi persoalan ekonomi menghambat kinerja guru. Karena memang saat ini pemerintah sudah memperhatikan kita para guru Indonesia. Meskipun belum sepenuhnya hidup sejahtera. Tapi inilah prestasi yang telah diberikan kepada para guru, tinggal guru yang harus membalas kebaikan ini dengan menjadi pengajar, pendidik, pelatih dan pembina anak didiknya menjadi anak-anak yang berguna bagi bangsa dan negaranya.

Kasus Emon Adalah Kesalahan Guru dan Orang tua Serta Masyarakat di Lingkungannya

Emon, seorang pria yang telah mencabuli beberapa anak hingga 80an anak, sepatutnya menjadi tempat untuk berkaca diri. Dan sepertinya tidak hanya Emon yang telah melakukan tindakan keliru ini. Karena diluar sana ada banyak lagi orang tua yang harus berduka karena kehilangan anak-anak yang dicintainya. Anak-anak yang semestinya mewarisi kehidupan orang tuanya. Apakah semata-mata kesalahan Emon? Tentu tidak bukan?.

Ada banyak sisi yang menjadikan si Emon melakukan tindakan biadab. Boleh jadi peran guru-gurunya yang kurang mengerti akan masa lalu yang juga pernah dialami si Emon. Bahkan para psikolog beranggapan bahwa apa yang dialami si Emon karena selama ini dia seperti kehilangan keluarganya.Penderitaan karena pernah diperlakukan secara tidak manusiawi tetap tersimpan di dalam lubuk hatinya, tanpa perhatian sedikitpun dari orang-orang disekitarnya termasuk para gurunya.

Maka akan sangat wajar, jika pengalaman mengerikan tersebut justru menjadi jeratan kejiwaan yang menyimpang terhadap diri Emon. Apalagi guru dan orang tua justru lebih memilih tak peduli bahkan menutupi karena dianggap sebagai aib.

Itulah Emon, dan ada pula seorang anak karena pisang goreng rela membunuh adik kelasnya. Tanpa rasa bersalah, mereka seperti melampiaskan ekspresi kekejian yang diperoleh dari media dan lingkungannya. Dan sederet kasus yang di alami anak-anak Indonesia. Mudah-mudahan saja hal ini tidak terulang lagi.

Betapa para anak didik tersebut benar-benar membutuhkan dukungan batin agar mereka siap menghadapi tekanan hidup dan kehidupan. Tak hanya bekal ilmu teoritis yang sama sekali tak mengena dan tak membekali budi pekerti bagi  mereka.

Kami para orang tua, dan sekaligus para guru bagi anak-anak kami dan keluarga serta anak-anak didik kami. Memohon pada Tuhan semoga kami bisa menjalankan titah ini dan mengabdikan sepenuh pengabdian mempersiapkan anak-anak didik menjadi anak-anak yang siap menghadapi kehidupan yang serba keras dengan budi pekerti yang luhur dan jiwa yang mantap.

Jumat, 18 April 2014

Pencabulan Anak di JIS, Sekali lagi Tragedi Buruk Pendidikan Indonesia


Jakarta International School


Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag.


Lagi-lagi dan lagi, inilah gambaran runyam yang selalu hadir di tengah-tengah kita. Aura negatif yang seringkali menghiasi laman pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pendidikan bagi orang dewasa, pendidikan ‘tuk anak-anak pun selalu menuai banyak terpaan masalah. Tidak hanya masalah bagaimana kesejahteraan guru dan kurikulum yang tak pernah menemukan jalan terangnya, kasus-kasus kekerasan atas nama “nafsu” pun masih saja menjadi tradisi yang sepertinya sulit dihilangkan.

Kasus kekerasan seksual sejatinya sudah sering terjadi di tengah-tengah pergulatan pendidikan di Indonesia, bahkan hampir setiap detik, kita selalu dikejutkan dengan pemberitaan yang berbua negatif. Terang saja, bangsa ini seperti dibuat geram, kenapa pendidikan di Indonesia selalu menjadi bagian pemberitaan buruk di media? Apakah memang Indonesia akan kehilangan harga dirinya tatkala penghuni negeri inipun secara perlahan seperti kehilangan harga diri. Dan sayangnya prilaku tidak terdidik itu seringkali terjadi di sebuah lembaga pendidikan. Entah kekerasan fisik antara guru dan siswanya, antara siswa dengan siswa lainnya, maupun antara guru dan guru lain yang turut mencoreng kehormatan pendidikan di Indonesia.

Seperti halnya kkasus  kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School, kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang sayang sekali terjadi di sebuah sekolah yang bertaraf internasional dan tentu saja para personil sekolah yang juga memiliki karakter dan jiwa meng-internasional, namun sayang sekali justru di antara personilnya adalah sosok berjiwa kampungan. Demikianlah sepantasnya sebuah lembaga pendidikan yang berlabel internasional justru mencederai makna modernisasi pendidikan yang kini tengah diperjuangkan. Bahkan sepertinya sekolah yang sering disebut “kampungan” karena berada di kampung pun kondisinya tidak separah sekolah ini.

Kasus Sodomi, Fakta Buruk Sekolah Internasional

Mungkin di antara kita tidak akan pernah menduga, kenapa sebuah lembaga yang “katanya” internasional seperti kecolongan dengan adegan kekerasan seksual yang terjadi di JIS? Apakah sebenarnya JIS memang tidak pantas mendapatkan predikat sekolah Internasional? Atau kejadian ini murni karena rata-rata sekolah begitu lalainya tatkala wali siswa sudah menitipkan anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan di sekolah ini? Sepatutnya kondisi ini tak pantas disandangkan pada sekolah yang sejatinya harus modern. Sekolah yang dilengkapi sarana dan prasarana yang modern pula. Dan tentu saja kualitas layanan pendidikan pun sejatinya harus lebih modern dengan sekolah-sekolah pada umumnya. 

Akan tetapi, jika dilihat kasus yang terjadi di JIS sebagai sekolah yang sepatutnya menjadi teladan karena kedisiplinan, kurikulum yang “katanya” hebat karena mendapat julukan internasional, serta dukungan manajemen sekolah yang baik sepatutnya tak menjadikan sekolah ini kecolongan. Bahkan jika diruntut kejadian tersebut ternyata pelakunya adalah seorang tenaga kebersihan (cleaning service) yang sejatinya sedikit sekali kesempatan untuk “menjamah” anak-anak didik mereka lantaran berbeda status pekerjaannya. Yang lebih parah lagi ternyata ada 6 siswa yang telah diperlakukan dengan cara tidak manusiawi ini. Sumber

Sebuah catatan buruk dan prestasi rendah yang sepatutnya dihindari bagi personalia sekolah pada umumnya dan lembaga JIS pada khususnya.

 Pencabulan amat mungkin terjadi jika si pelaku adalah sosok yang selalu mendampingi siswa belajar. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas dan manajemen sekolah patut dipertanyakan. Bahkan pun dapat diduga bahwa predikat internasional sejatinya hanya aksi tipu-tipu penyelenggara pendidikan terhadap pemerintah dan masyarakat. Mereka menamai lembaganya dengan sebutan internasional hanya sebagai kedok untuk mendapatkan legitimasi dan simpati masyarakat. Tentu saja tujuannya agar masyarakat semakin terpedaya dan terkagum-kagum dengan identitas internasional.  Meskipun faktanya sekolah ini tidak layak disebut sekolah internasional karena kasus kekerasan seksual yang sepatutnya tidak terjadi.

Manajemen pendidikan yang mumpuni, seperangkat kurikulum yang boleh jadi melebihi kurikulum sekolah kebanyakan dan pengawasan internal yang superketat sepertinya jauh panggang dari api. Slogan sekolah modern sama sekali tak ditunjukkan oleh sekolah ini. Jakarta Internasional School justru menjadi catatan buruk bagi sekolah-sekolah internasional di Indonesia.

Kasus Pencabulan di JIS, Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Mesti Kontrol Diri

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di JIS merupakan tamparan buruk bagi martabat pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan yang berjuluk internasional. Karena kejadian ini semakin menjatuhkan kredibilitas pendidikan di Indonesia di mata umum. Tidak hanya masyarakat Indonesia, akan tetapi masyarakat internasional pun sejatinya turut prihatin dengan kasus ini. Dampaknya para orang tua calon siswa di sekolah modern model ini akan berfikir dua kali untuk menyekolahkan di sekolah yang biasanya memberikan tarif mahal untuk sekolah di sekolah ini.

Selain rendahnya pengawasan terhadap para siswanya, tentu saja tarif pendidikan yang tinggi justru menjadi bahaan cemoohan kepada sekolah yang bersangkutan, tak pantas sekolah mahal tapi kualitas amat rendah. Namun demikian, meskipun tidak semua sekolah internasional “bertipe” seperti JIS, akan tetapi akan menurunkan nilai positif dari manajemen sekolah. Sehingga akan ada banyak orang tua yang ingin menyekolahkan di sekolah ini yang harus mengurungkan niat lantaran khawatir kasus yang sama terhadap anak-anak mereka.

Bagi sekolah manapun, baik sekolah Internasional maupun sekolah kebanyakan, hakekatnya tarif yang mahal yang dipatok sekolah tidak dapat dijadikan dasar penilaian bahwa sekolah-sekolah biasa mutunya akan lebih buruk dari sekolah intenasional. Karena ada pula sekolah biasa yang justru memiliki track record yang baik dalam menyelenggarakan pendidikannya. Hal tersebut dibuktikan dengan sederet prestasi yang ditorehkan sekolah-sekolah tersebut.

Catatan akhir dari tulisan ini, hakekatnya lembaga pendidikan apapun, baik sekolah internasional maupun sekolah biasa  memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keamanan dan kenyamanan warga sekolahnya. Kenyamanan dan keamanan tidak hanya berbentuk gaji yang diterima guru dan karyawannya, akan tetapi bentuk proteksi yang amat ketat terhadap para anak didiknya agar mereka dapat mengenyam pendidikan sesuai dengan harapan siswa dan para orang tua siswa.

Melakukan pengamatan para pekerja sekolah, baik pengamatan prilaku yang mereka miliki. Tentu saja sebelum mereka bekerja dan setelah mereka menjadi karyawan di sekolah tersebut. Dan yang lebih penting lagi adalah mengadakan evaluasi terhadap manajemen sekolah. Harapannya kasus pencabulan / kekerasan tersebut tidak terulang kembali di masa yang akan datang.


divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Ujian Nasional Sebagai Bagian Pemerataan Pendidikan

Ilustrasi: Anak-anak sedang mengikuti ujian nasional SMA/SMK sederajat / Kompas.com
Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag
Benarkah ujian nasional awal kehancuran generasi? Dan apakah benar karena ujian nasional generasi muda jadi hancur? Beberapa pertanyaan inilah yang sampai detik ini masih saja terbang di awang-awang. Tidak pernah turun ke bumi dan menemukan jawaban yang pasti. Semua berdasarkan asumsi dan berawal dari beberapa kejadian yang menimpa anak negeri. Generalisasi yang kelewat batas bahwa karena ujian nasional anak Indonesia menjadi gagal dan kehancuran karakter.

Sepatutnya pertanyaan tersebut dicari akar masalahnya, kenapa para penggiat hak asasi dan sebagian anggota dewan ada yang mencibir adanya ujian nasional, karena berdasarkan informasi di beberapa media bahwa karena ujian nasional menjadi stress, putus asa bahkan ada yang harus bunuh diri karena ketakutan yang dialami anak-anak sekolah kita. Meskipun beberapa kejadian tersebut bisa dijadikan alasan ditentangnya ujian nasional, toh faktanya tidak semua anak “menderita” karena ujian nasional. Karena masih banyak anak-anak yang enjoy karena ada ujian. Hal tersebut berlaku pada anak-anak yang benar-benar konsisten belajar dan ingin menggali ilmu dan tidak semata-mata mengejar ijazah.

Bahkan ketika kita mau mengamati sekolah-sekolah pada umumnya yang menggunakan aturan yang ketat namun tidak memaksa, anak-anak ini tetap saja antusias mengikuti ujian nasional. Serasa seperti bernostalgia di masa aliyah dahulu. Meski saya tak cerdas seperti anak sekolah negeri tapi saya mungkin yang terlalu percaya diri kalau pasti lulus.

Tidak hanya karena anak-anak memang konsentrasi belajar sejak sekolah dasar, tapi memang menjadikan sekolah sebagai kebutuhan. Jadi wajar jika mau sekolah tentu saja ya mengharapkan pinter. Bukan hanya DDTL (datang, duduk, tidur dan lulus) namun benar-benar ingin mengenyam pendidikan yang tinggi. Seperti apa yang menjadi kata mutiara Bung Karno kurang lebih “bermimpilan setinggi langit, karena meskipun engkau jatuh kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Dan sayapun mengingat Hadits Nabi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri china” atau Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan dari sejak buaian hingga ke liang lahat”. Dan benar, semenjak anak-anak orang tua sudah mengajarkan kita agar mau mengenyam pendidikan. Toh, tujuannya adalah mendapatkan ilmu pengetahuan.

Lalu, apa hubungan menuntut ilmu dengan ujian nasional? Jelas ada hubungan, jika kita sudah belajar mati-matian dan ingin mendapat pengakuan bahwa kita benar-benar berhasil menggali ilmu tersebut, tentu saja kita harus diuji. Tak dipaksa justru kita sendiri yang harus meminta ujian itu. Seperti halnya seorang prajurit atau seorang yang belajar pencak silat, maka dia sendiri akan meminta “dijajal” atau istilah kerennya diuji karena merasa sudah menguasai segala ilmu sang guru. Setelah siswa perguruan tersebut lulus maka dia dipersilahkan turun gunung.

Menuntut ilmu wajib dan kebutuhan begitu juga ujian adalah kewajiban dan kebutuhan yang semestinya kita terima dan semestinya kita butuhkan. Bukan malah menjadikan ujian nasional sebagai momok yang harus ditakuti.

Saya teringat kata-kata Pak JK, tatkala berdiskusi di salah satu TV swasta beberapa waktu lalu, bahwa ujian nasional itu perlu untuk mengetahui sejauh mana negara ini mampu mendidik warganya secara merata dan ingin mengevaluasi sejauh mana mereka menyerap ilmu yang diberikan.

Jadi jangan salahkan ujian nasional karena anak-anak stress atau bunuh diri, tapi kenapa mereka bisa menjadi stress dan bunuh diri itulah faktor yang harus dicari akar permasalahannya.

Jika sekolah dijadikan sebuah bagian kehidupan dan sebagai sarana menimba ilmu sekaligus sarana rekreasi, maka keberadaan ujian nasional tidak akan menjadi beban. Justru selain sebagai kompetisi, ujian nasional juga untuk menaikkan gengsi bahwa mereka telah mendapatkan ilmu yang mereka butuhkan. Tidak sekedar ijazah yang tak berguna.

Ujian Nasional dan Kebutuhan Dasar Masa Depan

Ujian nasional dengan segala pernak-pernik reaksi beragam menunjukkan bahwa sampai saat ini masyarakat Indonesia tidak memahami manfaat ujian nasional. Dengan kata lain selama ini kita tidak sadar bahwa kita bersekolah itu untuk mengenyam pendidikan dan memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Bahkan masyarakat sendiri seakan-akan tidak menyadari bahwa mereka mereka bisa menjadi orang suksespun karena diuji karena dievaluasi sejauh mana materi sudah terserap.

Para penolak ujian nasional tidak menyadari bahwa mereka sukses menjadi seorang intelek atau pejabat pun berawal dari sekolah dan pernah diuji. Bukannya mendukung ujian nasional tapi justru merendahkan program pemerintah ini dengan teori-teori pembodohan yang menunjukkan dirinya sangat-sangat bodoh. Mereka mengeneralisasi bahwa gara-gara ujian anak-anak jadi stress padahal faktanya bukan karena ujian anak-anak menjadi stress. Tapi awal stress anak karena tidak siap mengikuti ujian.

Kenapa mereka tidak siap? karena selama mengenyam pendidikan mereka sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk ujian nasional. Soal-soal ujian nasional seringkali tidak sesuai dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah. Bahkan adapula mereka tidak siap karena sekolah sama sekali tidak mengikuti aturan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Seakan-akan lembaga pendidikan sebagai ajang menjadi penghasilan dan uang proyek tapi kering dari isi dan prestasi.

Mereka berlomba-lomba membuat lembaga pendidikan, tapi di dalamnya tidak menjadi sarana mendidik sesuai dengan apa yang akan diujikan bagi mereka. Dampaknya mereka belajar pun seringkali malas-malasan ditambah lagi para guru yang tidak kompeten serta sarana dan prasarana belajar yang tidak berstandar. Wajar saja semua itu menjadi awal gagalnya anak menempuh ujian. Padahal sepatutnya soal-soal dalam ujian nasional sudah sesuai dengan kurikulum yang diajarkan di sekolah. Nah, jika ternyata siswa gagap melihat soal ujian nasional berarti ada yang salah dari keduanya. Apakah sekolah tersebut tidak bermutu atau soal ujian nasional yang kelewat susah yang tidak mampu diselesaikan oleh siswa?

Jika benar sekolah tersebut tidak bermutu dengan mengesampingkan proses pendidikannya di sekolah maka sepatutnya sekolahpun dievaluasi bagaimana kinerja personil sekolah apakah sudah sesuai dengan standar nasional atau tidak. Jika persoalannya karena perangkat pendidikan dan sarana prasarana yang tidak bermutu maka tanggung jawab pemerintah untuk mencukupi kebutuhan sekolah, tanpa terkecuali.’

Namun jika persoalannya karena soal ujian yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan berarti BSNP yang mesti diinvestigasi jangan-jangan mereka hanya mengcopy soal-soal standar negara lain tanpa melihat kondisi faktual pendidikan di Indonesia. Sebuah ironi jika BSNP yang bertanggung jawab menyusun kurikulum dan perangkat ujian nasional mesti salah dalam memberikan soal ujian. Soal-soal dianggap terlalu tinggi dan para siswa sama sekali tidak pernah mengenal format soal. Dampaknya ada seorang yang berprestasi ternyata nilainya malah jeblog. Wajar karena soal-soal yang diujikan tidak sesuai dengan kurikulum.

Kualitas Pendidikan ditunjang Kelengkapan Sarana Prasarana Pendidikan

Jika menelaah betapa saat ini sebuah kejadian dianggap sebagai representasi dari dampak adanya ujian nasional, maka sepatutnya kita melihat kondisi riil bangsa Indonesia. Kita seringkali menyalahkan ujian nasional tapi kita sendiri tidak pernah menilai bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia. Bagaimana sebuah lembaga pendidikan dan kelengkapan sarana dan prasarana di dalamnya. Serta bagaimana peran orang tua dalam mendukung pendidikan anak-anaknya.

Karena bagaimanapun ujian nasional tak perlu menjadi momok apabila para siswa sudah mendapatkan materi sesuai dengan kebutuhan mereka, mereka merasakan pendidikan sebagai sarana belajar yang tidak menyesakkan, mereka bebas berekspresi ditunjang komunikasi yang baik antara para guru dan siswa-siswanya. Nah, jika ternyata sarana prasarana sudah mencukupi, guru-guru sudah profesional, kurikulum sudah sesuai dengan yang hendak diujikan, serta komunikasi yang baik antara guru, siswa dan orang tua juga sudah baik. Maka tak perlu lagi mempermasalahkan ujian nasional.

Ujian nasional hakekatnya satu dari beberapa komponen keberhasilan sebuah studi, karena dengan ujian nasional semua peserta didik di seluruh penjuru Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama tanpa perbedaan. Antara sekolah kota dan di kampung sarana dan prasarannya pun sepatutnya tidak ada perbedaan agar kualitas SDM di Indonesia tidak berbeda antara di wilayah perkotaan dan perdesaan. Dampak positifnya setiap warga negara di manapun mereka berada mereka akan mendapatkan pendidikan yang sama, kurikulum yang sama, kualitas yang sama dan kebijakan pendidikan yang sama pula tanpa membeda-bedakan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.

Dampak jika Ujian Nasional ditiadakan

Sekali lagi ujian nasional ya untuk menguji, apakah si anak lulus apa belum dan mengetahui sejauh mana materi sudah diserap siswa. Jadi ujian nasional akan benar-benar bermanfaat jika diikuti beberapa komponen yang menyertainya sebagaimana pembahasan di atas.

Terlepas dari pelanggaran hukum karena korupsi proyek ujian nasional, semua sudah menjadi kewenangan KPK untuk mengusut kasus korupsi tinggal dibuat prosedur penyelenggaraannya agar tidak memberikan ruang untuk melakukan korupsi.

Kembali pada persoalan jika Ujian Nasional tidak diadakan, maka dampaknya para siswa semakin merasakan kebebasan yang berlebihan, euphoria karena tidak ada ujian. Dampaknya lagi para siswa ini tidak akan tertuntut untuk belajar lebih giat, karena mereka merasa tak akan diuji dan pasti lulus meski mereka tidak mengerjakan soal ujian dari pemerintah. Mereka akan bersekolah dengan semaunya, dan menjadikan sekolah sebagai tempat kongkow-kongkow yang minim prestasi.

Sulitnya pemerintah menata arah kebijakan terkait pendidikan, karena sekolah sendiri mengelola sistem pendidikan semau-maunya, tanpa ada kontrol pemerintah. Tentu saja bagi sekolah yang sudah kadung disiplin dan berprestasi ada atau tidak adanya ujian nasional tidak akan menjadi persoalan, toh sekolah mereka sudah modern dan berkualitas. Tapi bagaimana dengan sekolah yang tidak disiplin dan guru-gurunya tidak profesional? Justru tidak adanya ujian nasional semakin menjerumuskan siswa-siswa di sekolah model ini ke pada situasi tak tentu arah. Mereka mendidik siswanya semau gue, karena tak tertuntut adanya evaluasi yang disamakan. Padahal status pendidikan hakekatnya sama, baik dari sarana prasaraan, guru, kurikulum pun sepatutnya tidak dibeda-bedakan. Jadi prestasi semua sekolah pun akan merata tidak dibeda-bedakan.

Meskipun terkadang prestasi amat beragam, tapi adanya kurikulum nasional tersebut memberikan kesempatan yang sama di pelosok negeri untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang sama tanpa terkecuali. Jangan karena di kota mendapatkan perlakuan yang istimewa sedangkan di kampung seperti tidak difikirkan. Seperti yang terjadi saat ini.

Akhir kata, Ujian Nasional bukanlah momok yang harus ditakuti jika semua perangkat pendidikan berjalan harmonis dan dinamis. Lulus dan tidak lulus pun sepatutnya bukan untuk menjustifikasi bahwa siswa tersebut tidak layak mendapat pekerjaan. Karena suksesnya bangsa inipun tak terlepas dari perhatian pemerintah terhadap kemampuan mendidik warganya agar mandiri, dan berbudi pekerti yang luhur serta memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa.

Salam

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana.com
url : 

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info




Kamis, 17 April 2014

Upacara Bendera Merah Putih, Antara Nasionalisme dan Pembentukan Karakter


Upacara bendera 17 Agustus 2016 (madina.go.id)


Upacara bendera adalah aktifitas rutin yang dilaksanakan oleh lembaga pemerintahan maupun akademisi. Baik tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Tidak memandang sekolah negeri maupun swasta, baik di pelosok desa maupun di perkotaan.

Upacara yang dilaksanakan setiap hari Senin ini tentu saja merupakan kegiatan yang bermanfaat untuk membentuk kepribadian yang baik.

Tujuan diadakan upacara bendera, selain sebagai tolok ukur pengamalan Pancasila dan nasionalisme warga negaranya, juga sebagai sarana pembentukan karakter.

Karakter positif yang akan membangun generasi muda menjadi generasi positif, memiliki pandangan positif dan kinerja yang juga positif. Agar negara ini dibangun oleh anak-anak negeri yang berkepribadian positif.


Upacara bendera, tatkala Indonesia baru saja menikmati masa-masa kemerdekaan, tidak ada satu warga negara yang tidak mau melaksanakan upacara bendera ini. Mereka beralasan sebagai wujud rasa cinta kepada negaranya dan bentuk loyalitas bagi terjaganya bendera merah putih dari ancaman penjajah.

Tentu saja dengan semangat nasionalisme yang dibangun. Nasionalisme yang tidak hanya sebatas kata-kata namun lebih dari itu wujud kecintaan kepada negerinya dan sikap yang gigih dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.


Seiring perjalanan waktu, saat ini, upacara bendera dianggap sebagai kegiatan yang bersifat formalitas dan dianggap tidak penting. Alasannya, di antara warga negara ini memandang upacara bendera dianggap sebagai hal yang membuang-buang waktu. Hanya berdiri di lapangan, berbaris dan menghormati bendera merah putih saja.

Padahal makna yang tersirat maupun tersurat dari pelaksananaan upacara bendera tidak sekedar sebagai acara rutin semata. Namun lebih dari itu, wujud dari semangat ke-Indonesiaan dan kebangsaan yang muncul dari karakter positif dari anak negeri.

Bukan formalitas dan sikap meniru dari para pendahulunya, apalagi hanya dianggap sebagai melaksanakan kewajiban sebagai seorang siswa atau pegawai negeri saja.

Namun, sebagaimana dapat kita lihat dari pelaksanaan upacara sendiri, selain ketika peringatan 17 Agustus setiap tahun, pun tatkala upacara bendera setiap hari Senin dilaksanakan secara ogah-ogahan dan malas-malasan.

Terang saja pelaksanaan upacara yang sepatutnya dilaksanakan dengan penuh khidmat dan meresap dalam sanubari anak negeri, ternyata tidak bermakna apa-apa. Terbukti, selain ada banyak sekolah yang tidak melaksanakan upacara, selain itu semangat para peserta upacara pun hanya karena takut mendapat hukuman.

Sikap malas-malasan tidak hanya terjadi pada para siswanya, guru-guru dan pegawai serta pejabat pemerintahan pun seperti tidak menghargai bangsanya, tidak mengindahkan aturan tata laksana upacara bendera. Dampaknya ada banyak siswa maupun guru serta pegawai pemerintahan yang bisa membolos dari kegiatan ini lantaran sikap malas dan tak memahami makna upacara bendera.

Hal ini diperparah oleh tidak adanya sanksi tegas dari para pimpinan dari masing-masing satuan tugas atau satuan kerja di dinas atau kantor pemerintahan lainnya.

Dampaknya, semakin lama semakin terasa kering dari isi, miskin dari pemahaman dan tak membekas dalam semangat kebangsaa dan ke-Indonesiaan bagi anak negeri.

Apakahkah manfaat upacara bendera? Dan teladan apa yang dapat dicontoh oleh siswa?

Upacara bendera hakekatnya tidak hanya pekerjaan yang sia-sia atau formalitas belaka. Karena di dalamnya mempunyai manfaat yang cukup kompleks.

Manfaat tersebut dapat dirasakan apabila bangsa ini benar-benar memahami hakekat upacara bendaera sebagai bagian pembentukan karakter (character building) bagi tumbuh kembangnya nasionalisme dan generasi muda yang tangguh, disiplin, jujur dan bertanggung jawab.

Selain pembentukan karakter nasionalisme, mereka akan ditanamkan nilai kebersamaan, persatuan dan kesatuan dan penghormatan kepada para pemimpin. Pemimpin yang sepatutnya dihormati tidak hanya dalam sikap hormat ketika upacara saja, lebih dari itu menghormati dan menghargai pemimpinnya dengan penghormatan yang tulus.

Upacara bendera juga membentuk sikap disiplin, kesetiaan, ketundukan kepada para pemimpinnya dengan tunduk semata-mata karena aturan dan hukum yang benar.

Selain itu, upacara bendera untuk melatih mencintai sikap perjuangan dan patriotisme para pahlawan yang telah gugur di medan tempur maupun para pejuang yang saat ini masih mengabdi bagi bangsanya. Baik pahlawan yang memanggul senjata dan berkorban dengan darahnya, pejuang dengan harta, tapi juga para pahlawan yang berjuang dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi semua orang.

Salam

Rabu, 16 April 2014

Penggunaan Media Cepat Tepat Aritmatika, Cara Simpel Belajar Matematika



Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag





Masih teringat dalam pikiran saya  ketika masih bersekolah di SD, di mana pada saat itu hampir setiap minggu di televisi nasional (TVRI) menayangkan lomba cerdas cermat. Cerdas-cermat yang sengaja dikemas untuk memacu motivasi anak-anak seumuran saya untuk belajar. Dan, alhamdulillah saat itu, hanya TVRI saja yang menyuguhkan acara yang mendidik. Ya karena kebetulan Indonesia hanya memiliki TVRI saja. Selebihnya televisi dari luar negeri yang hanya bisa ditonton menggunakan antena parabola.
Meskipun dahulu sempat booming dan acap kali mengundang penonton yang berjibun, ternyata bertahun-tahun diadakan tidak sedikitpun rasa bosan menghampiri saya. Boleh jadi karena rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi tatkala melihat teman-teman perwakilan dari sekolah-sekolah terbaik mampu mewakili sekolah mereka. Dampaknya tentu ada banyak anak berprestasi yang dapat dididik dengan cara disiplin di sekolah unggulan.

Karena rasa penasarannya hati dengan ajang mengolah kecerdasan dan kompetisi edukasi ini saya pun dipercaya oleh sekolah untuk mengikuti perlombaan tingkat sekolah, kebetulan lomba Lomba Cerdas Cermat Al-Qur’an. Meskipun saat itu saya tergolong baru mengikuti lomba tersebut, alhamdulillah mampu melibas banyak pesaing dan mampu memenangkan juara ke-3 Sekecamatan Purbolinggo.

Bangga dan bersyukur bisa mengikuti event yang menurut saya sangat bermanfaat untuk memacu minat anak-anak sekolah agar belajar lebih giat. Meskipun pasca kekalahan saya dan hanya mendapatkan juara ke-3 dengan hadiah cuman sebuah jam dinding namun saya bangga bisa membawa nama baik sekolah. Entah jam dindingnya masih ada nggak ya? Entahlah. Yang penting saya sudah menorehkan prestasi mewakili sekolah kecil yang telah membina dan mendidik saya selama ini.

Berbicara mengenai Lomba Cerdas Cermat, meski saat ini televisi daerah pun masih tetap mengadakan dengan hadiah mencapai jutaan rupiah. Namun, hakekat dari perlombaan itu bukan semata-mata mendapatkan hadiah atau beasiswa saja. Karena akan percuma saja jika perlombaan yang menarik ini hanya bertujuan mengejar hadiah sedangkan prestasi dan peserta ya itu-itu saja tidak ada yang berubah. 

Akan tetapi, dampak positifnya tentu saja di era  puncak  acara cerdas cermat, banyak anak berprestasi yang meraih beasiswa di sampai ke perguruan tinggi. Bahkan saat ini perlombaan tersebut sudah tembus tingkat internasional. Bangga sekali bukan?..

Namun tulisan kali ini bukan membicarakan acara cerdas cermat yang saat ini sudah kalah dengan acara sinetron percintaan dan film horor yang sama sekali tidak mendidik. Akan tetapi, saya ingin menyampaikan terkait alat peraga pendidikan Cepat Tepat Aritmatika. 

Media ini didesain dan dibuat untuk melatik kecerdasan anak. Baik anak-anak sekolah reguler, maupun untuk dimainkan di rumah. Dengan desain simple dan dapat digunakan sehingga dengan sekali instruksi, anak-anak akak mampu menggunakannya. Sangat mudah dan simple.  Dengan menggunakan tenaga listri baterai dua buah, empat orang anak akan dapat menggunakannya dengan sangat menyenangkan.

Alat ini diproduksi oleh Pudak Sccientific Bandung, Jawa Barat Indonesia. Dengan sistem tekan tomboll dan suara yang dihadirkan, anak-anak secara tidak langsung mengenal bahasa dan tentu saja melatih kerja motorik anak. Anak akan mampu menjawab sesuai pertanyaan dan jenis pertanyaan yang ada dalam media ini.

Selain mudah, media ini juga disusun berdasakan polanya, baik penjumlahan, pengurangan, perkalian maupun pembagian. Jadi bagi anak-anak sekolah dasar khususnya tinggat pemula, permainan ini sangat bermanfaat dan tentu saja aman serta mudah digunakan.



Keunggulan Media Cepat Tepat Aritmatika

Sebagaimana tertulis di penjelasan alat ini, bahwa keunggulan alat ini adalah untuk mengembangkan:
1.       Kemampuan berpikir secara kritis.
2.       Kemampuan mendengarkan.
3.       Kemampuan dalam operasi bilangan.

Selain dari keunggulan alat ini, karena alat ini membantu siswa / anak-anak dalam pembelajaran aritmatika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Dengan mendorong anak pada proses bermain secara interaktif agar tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai. 

Media ini sengaja saya gunakan karena mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus yang tentu saja setiap sekolah mendapatkannya. Selain sebagai alat bermain, tentu saja melatih kecerdasan anak dalam matematika.

Jika setiap sekolah baik negeri maupun swasta, baik dikota maupun di desa memiliki media sejenis ini, saya yaqin pendidikan di Indonesia akan lebih maju dan tentu saja proses pendidikan lebih menyenangkan dan mencapai prestasi yang optimal.

Salam

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!