Kamis, 15 Oktober 2015

Kebakaran Hutan, Kabut Asap, Amarah dan Teguran Tuhan



Kata orang bijak, sebaik-baik menilai persoalan adalah melihat hikmahnya, dan seburuk-buruk penilaian adalah menilai hanya kepada keburukannya. Dan semua yang terjadi hendaknya menjadi pelajaran yang berharga untuk menjadi bahan renungan bersama. Entah bisa diterima atau tidak pernyataan ini, yang pasti semua yang terjadi tidak pernah keluar dari kuasa Ilahi Robbi, Tuhan Yang Maha Kuasa yang selalu menggerakkan alam semesta ini sesuai dengan KuasaNya.

Sampai saat ini kita semua pasti terlihat panik, tak hanya warga yang tengah dalam kondisi kebakaran hutan dan kabut asap saja yang mengalami, karena di daerah lain pun mengalami kepanikan yang sama. Panik lantaran dampak musibah tersebut sudah mengenai wilayah lain, asap membumbung tinggi dan bergerak ke semua arah mengikuti arah mata angin. Dan otomatis, semua yang mendapatkan dampak kebakaran itu mau tidak mau turut menjadi korban pasif. Mereka tak melakukan pembakaran, tapi terkena getahnya.

Tak hanya wilayah lain yang mengenai dampaknya, karena saya yakin pemerintah pun hakekatnya panik dengan apa yang terjadi, meskipun ketermbatan merespon bencana itu sebagai bencana nasional sempat mendapatkan cibiran dari berbagai pihak. Padahal sejatinya, pemerintah hendak memberikan hukuman kepada pelaku pembakaran dan kelalaian masyarakat yang membiarkan pembakaran hutan itu berlangsung bertahun-tahun tanpa diprotes masyarakat sekitar. Sehingga ketika kebakaran itu benar-benar meluas maka sudah dapat dipastikan semua yang berada di wilayah itu pun akan mengalami kerugian akibat asap yang menyesakkan itu.

Meskipun demikian, meskipun pemerintah dianggap lalai, faktanya pemerintah pun tidak menutup mata dan memberikan solusi dengan melihat langsung ke wilayah bencana itu. Tak hanya duduk diam di kursi kepresidenan namun benar-benar turun gunung agar bisa melihat dampak yang ditimbulkan. Kenapa ini dilakukan? Karena presiden sebelum-sebelumnya serasa seorang raja yang kurang begitu respons terhadap setiap keluhan. Rakyat ingin pemimpinnya turun ke bawah (turba) agar pemimpin ini bisa melihat rakyatnya di berbagai daerah. Meskipun hakekatnya para wakil beliau seperti para menteri dan pegawai dinas terkait di daerah pun sebenarnya sudah harus mewakili tugas-tugas dari pemerintah pusat. Apalagi saat ini otonomi daerah memberikan hak seluas-luasnya kepada daerah untuk mengatur dan mengelola daerahnya. Mengeluarkan kebijakan terkait persoalan perkebunan dan kehutanan, serta kebijakan pengelolaan keuangan. 

Namun sayang sekali, sampai sejauh ini, ternyata kebijakan lebih dari otonomi daerah sudah disalahgunakan, pemerintah pusat yang sudah memberikan kewenangan daerah agar mengatur rumah tangganya sendiri ternyata masih saja merengek agar diperhatikan pemerintah pusat. Selain itu, terkait keuangan, korupsi di daerah ternyata semakin lama semakin membudaya. Terbukti Gubernur Riau menjadi tersangka. Itulah salah satu bukti, bahwa selama ini otonomi daerah justru menjadikan alat untuk mencari kekayaan bagi pengelola keuangan daerah. Pemerintah yang sudah memberikan kebijakan lebih kepada daerah terkait bagaimana menangani bencana pun harus dibuat repot. Uang daerah bukannya untuk mengantisipasi setiap bencana, ternyata dikorupsi. Dampaknya ya sekarang ini, di saat uang daerah sudah habis dikorupsi para pejabat daerah, maka ketika bencana kebakaran melanda, mereka pun tidak bisa berbuat banyak. Sekali lagi pemerintah daerah seperti menipu dan mengakali pemerintah pusat dengan status otonomi daerah. Sedangkan pemerintah pusat selalu saja mendapatkan getahnya. Bagaimana ini?

Bencana kebakaran, mungkin saja alam tengah marah akibat amarah rakyat di negeri ini

Bukankah kita tahu, bahwa alam ini pun bisa marah, seperti halnya manusia yang juga bisa marah. Alam ini marah lantaran sudah dieksploitasi oleh manusia dengan sesuka hati. Mereka menganggap dengan membakar hutan, merambahnya dan merusaknya untuk diperjual belikan tanpa tindakan preventif terkait kerusakannya, tentu saja menjadi salah satu penyebab kenapa bencana kebakaran semakin mewabah.

Sudah cukup menyalahkan pemerintah pusat karena dianggap tidak becus mengurus daerah lantaran daerah itu sudah mandiri dan seharusnya bisa mengantisipasi setiap bencana yang terjadi didaerah. Ibarat sepasang pengantin yang sudah harus membina keluarga sendiri, membangun rumah sendiri dan mengelola keuangan serta seabrek persoalan rumah tangganya tanpa campur tangan pihak lain. Sehingga otonomi daerah pun semestinya harus termanifestasi dari pola kedewasaan dalam mengantisipasi dan menangani setiap bencana. Meskipun demikian, musyawarah dan urun rembuk terkait persoalan yang tidak mampu diatasi sendiri pun tetap menjadi kewajiban agar hubungan antara pusat dan daerah selalu harmonis. Karena setiap daerah pun acapkali tidak mampu mengatasi masalahnya sendiri, tak hanya persoalan kebakaran dan kabut asap, karena persoalan gaji pegawai saja acapkali mengemis pada pemerintah pusat.

Dan terkait musibah bencana kebakaran itu, bukankah kita juga mesti mawas diri, dan sadar bahwa setiap tindakan yang merusak alam tentu dampaknya akan buruk sekali. Boleh jadi kebakaran kali ini adalah akumulasi dari emosi alam terkait tindakan arogan manusia di dalamnya yang ingin mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan. Alam pun bisa marah, begitu pula Tuhan pun bisa murka akibat ulah tangan-tangan manusia. Sedari kita mengenal dunia pendidikan, kita selalu diajarkan arti kehati-hatian kalau tidak ingin terkena celaka. Pun para pendidik mengajarkan bahwa merusak hutan dampaknya akan berbahaya. Menebang pohon akan terjadi banjir dan erosi. Membakar hutan akan terjadi kerusakan lainya juga. Boleh jadi pelajaran berharga ini sudah kita lupakan lantaran kita sudah terlalu haus dan rakus ingin mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan dampak yang terjadi.

Dan kita lupa bahwa dalam kitab suci pun dijelaskan bahwa setiap kerusakan di muka bumi ini akibat ulah tangan-tangan (kotor) manusia yang melakukannya. Jangan salahkan Tuhan atau alam mengapa bencana itu datang, tapi salahkan kita sendiri karena kita terlalu rakus ingin menguasai alam semesta ini dengan angkuhnya. Seandainya kita mendapatkan getahnya, tentu saja kita terlalu abai dan membiarkan kejahatan terhadap alam ini bertubi-tubi datang. Kita seolah-olah tidak peduli dan masa bodoh dengan prilaku merusak ini. Bahkan seakan-akan kita hendak menginginkan keuntungan dari segala macam eksploitasi ini.

Bolehlah saya tunjukkan firman Tuhan terkait kerusakan di muka bumi. Dzoharol fasadu fil barri wal bahri bimaa katsabat aidinnasi liyudiqohum ba'dlo ladzi 'amilu la'allahum yarjiuun. (Telah tampak kerusakan di darat dan dilaut akibat ulah tangan-tangan manusia, Allah menghendaki mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) Surat Arruum ayat 41.
Sehingga dapat dijadikan mafhum, bahwa semua yang terjadi ini jika dikaitkan dengan agama, tentu adalah sebuah hukuman atau peringatan agar manusia segera kembali ke jalan yang benar. Tidak melakukan pengerusakan dengan membakar hutan, dan menjaga keanekaragaman hayati demi kelangsungan kehidupan manusia selanjutnya.

Belum lagi kita melihat begitu banyak letupan amarah-amarah rakyat di negeri ini, semuanya berusaha memperturutkan hawa nafsu ingin memerangi, tempat-tempat ibadah dirusak dan dibakar. Karena berbeda suku saling mencelakai, melakukan kekerasan atas nama sekte tertentu. Padahal sudah dijelaskan pula dalam kita suci bahwa Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan suku-suku agar saling mengenal. Tak perlu lagi memperturutkan emosi demi sebuah pemahaman pribadi. Sehingga apapun yang terjadi di negeri ini, boleh jadi memang merupakan pelajaran agar kita semua kembali ke jalan yang benar, tidak saling menyakiti dan tidak merusak alam semesta. 

Mudah-mudahan dengan bencana ini, menjadi pelajaran berharga, bahwa di kemudian hari kita tidak terlena atau serakah memperturutkan ambisi untuk memanfaatkan alam dengan rakusnya tanpa mempertimbangkan dampak yang akan terjadi di kemudian hari.

Salam

Metro, Lampung, 14-10-2015


Kamis, 08 Oktober 2015

Rindu Film G 30 S PKI, Sejarah Kelam Indonesia Tempo Dulu

Monumen Pancasila Sakti

Baru beberapa hari ini bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kesaktian Pancasila, tepatnya tanggal 1 Oktober yang diperingati setiap tahun. Peringatan atas terjadinya tragedi pemberontakan G 30 S PKI yang turut menyisakan kepedihan hingga kini lantaran pahlawan-pahlawan kemerdekaan turut menjadi korban. Korban dari sebuah kebiadaban atas ambisi kekuasaan kala itu. Lubang buaya sebagai tempat di mana para korban kejahatan kemanusiaan itu ditemukan, pun menyisakan tanda tanya besar, kenapa saat ini sejarah penting ini seperti ditinggalkan? Ada apa ini? Dalam kebimbangan itu fikiranku menggelayut menyusuri pelajaran sejarah yang pernah saya dapatkan di bangku sekolah kala itu.
Ada banyak tanda tanya besar, siapa sebenarnya dalang di balik itu semua. Apakah Presiden Soekarno atau justru Soeharto yang beberapa tahun silam pemberitaan terkait keterlibatan mantan Presiden Suharto dalam tragedi lubang buaya itu sempat menyeruak. Menyeruak pra lengsernya kepemimpinan sentralistik otoritarianisme selama 30 tahun. Soekarno yang sejatinya adalah Pahlawan kemerdekaan turut menjadi korban penyebaran isu keterlibatan beliau dalam kejadian kelam itu. Sedangkan Suharto pun sama nasibnya lantaran dituduh melibatkan diri atau terlibat dalam insiden berdarah yang menewaskan orang-orang terbaik di negeri ini. Sosok seperti Jend. A. Yani yang sejatinya adalah sosok yang turut berjuang dalam kemerdekaan ternyata turut menjadi korban kebiadaban ini. Sejarah oh sejarah, kenapa kebiadaban ini selalu saja muncul di negeri ini.
Menurut catatan sejarah, ada banyak korban G 30 S PKI. Paling tidak 10 orang penting di negeri ini menjadi korban. Jika disebutkan nama satu persatu seperti; Jend. Ahmad Yani • MayJend. D.I. Panjaitan • AIP. K.S. Tubun • Brig Jend. Katamso • Let.Jend. M.T. Haryono • Kapt. Pierre Tendean • Let. Jend. Soeprapto • Let. Jend. Siswondo Parman • Kol. Sugiono • Mayjend. Sutoyo Siswomiharjo (wikipedia). Bahkan jika diruntut berdasarkan informasi para sesepuh yang menjadi korban mereka, tentulah ada ratusan kiyai dan tokoh-tokoh agama yang turut menjadi korban kebiadaban mereka.
Meskipun di beberapa media seperti Wikipedia menjelaskan bahwa dalang pembunuhan beberapa jendral itu adalah Soekarno, namun saya tidak menampik, di balik pembunuhan para jendral kala itu ada motif terselubung. Pemimpin negara difitnah, diadu domba dan dijadikan tumbal ambisi seorang penganut paham komunisme kala itu. Sungguh sebuah kejahatan kemanusiaan yang sungguh menyakitkan.
Film G 30 S PKI Mengisahkan Tragedi Berdarah Pemberontakan Komunis di negeri ini
Fenomena kejahatan kemanusiaan yang merenggut banyak korban itu dibuat film berjudul G 30 S PKI, Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia. Saya melihat beberapa adegan yang turut membuat bregidik bulu kuduk, bagaimana seorang Aidit Cs. melakukan gerakan bawah tanah dengan mengumpulkan beberapa teman sepemahaman. Ingin melakukan gerakan pemberontakan. Hingga pada akhirnya genap sudah aksi penculikan beberapa jendral dan berakhir di lubang buaya. Tak hanya kekejaman terhadap para petinggi militer di negeri ini, karena para kiyai, masyarakat umum menjadi korban. Bahkan siapapun yang tidak mendukung gerakan itu dianggap musuh dan mesti dihabisi. Kejam sekali ya?
Semua adegan dibuat selayaknya kejadian kala itu, meskipun hanyalah sebuah film, tapi film itu hakekatnya sebagai peringatan betapa komunisme memiliki rekam jejak yang tragis. Sama tragisnya dengan aksi terorisme yang mengatasnamakan gerakan Negara Islam, yang entah siapakah yang membentuk kelompok radikal itu. Sepertinya ada pihak yang ingin menyudutkan Islam dengan ajaran kekerasan. Padahal aksi terorisme hakekatnya bukanlah ajaran Islam yang sebenarnya.
Meskipun ada perasaan takut, ngeri karena aksi kebiadaban itu diperlihatkan seperti aslinya, namun dengan memahami sejarah kelam negeri ini, akan menjadi catatan penting bahwa negeri kita harus waspada terhadap aksi pemberontakan yang menggunakan ideologi asing yang ingin merusak Pancasila sebagai sendi bernegara kita.
Sayang sekali, film G 30 S PKI saat ini tidak lagi ditayangkan semenjak era reformasi, dengan alasan bahwa film itu dianggap memutarbalikkan fakta. Mereka yang tidak menghendaki beredar dan diputarnya film G 30 S PKI beralasan bahwa yang sejatinya gembong PKI adalah Soeharto itu sendiri. Makanya kala itu muncul pula beberapa buku yang mengisahkan keterkaitan mantan Presiden RI ke-2 itu dengan aneka tragedi di lubang buaya yang merenggut nyawa para pajabat teras Angkatan Darat.
Tak hanya pejabat teras Angkatan Darat yang menjadi korban, lantaran betapa banyaknya para Kyai, Ustadz dan para tokoh agama di daerah yang diculik dan dibunuh jika tak mau mengakui sebagai anggota PKI. Meskipun pada akhirnya, pemberantasan pengikut PKI ternyata turut memunculkan pro dan kontra, lantaran di antara mereka yang menjadi anggota PKI bukan sebab keinginan sendiri, akan tetapi dipaksa dan tidak mengetahui bahwa PKI adalah partai komunis yang memiliki cita-cita merebut kekuasaan dan mengubah Pancasila.
Beberapa tahun silam saya masih menemukan seorang imam mushola yang notabene agamanya sangat baik, ternyata pernah menjadi korban pemaksaan identitas oleh PKI kala itu, hingga berujung anak-anaknya tidak bisa menjadi pegawai pemerintah lantaran dianggap keturunan komunis. 
Kejadian tragis yang menyisakan sejarah kelam, seorang anak yang tidak tahu menahu apa itu PKI ternyata harus mendapatkan diskriminasi lantaran persoalan yang tidak pernah ia pahami.
Terlepas dari itu semua, mengapa kejadian kelam itu mesti dihilangkan dari memori kita? Apakah salah jika sebuah kejahatan itu diingat kembali agar tidak ada lagi pengulangan sejarah, lantaran kejamnya kejahatan mereka? Bukan bermaksud mengorek luka lama, tapi sebagai media pengingat bahwa segala bentuk kejahatan atas nama ideologi lain selain Pancasila adalah kejahatan. Sama berlakunya kejahatan terorisme yang mengatasnamakan Islam yang juga mesti ditumpas dari negeri ini.
Pemutaran Film G 30 S PKI sebagai penguatan pemahaman akan sejarah bangsa
Tidak dapat ditampik dan dipungkiri bahwa aneka persoalan di negeri ini sepantasnya diabadikan, dijadikan bahan renungan dan pelajaran bahwa fenomena kejahatan itu sangat menyakiti hati penghuni negeri ini. Kejahatan atas nama ideologi semestinya tak boleh berulang kembali. Indonesia dibangun atas dasar Pancasila, dan selamanya akan tetap teguh memegang prinsi ini. Jika ada pihak-pihak yang hendak mengganti Pancasila dengan ideologi lain, tentu saja menjadi awal munculnya tragedi memilukan dan kebiadaban baru yang semestinya dihanguskan.
Gerakan 30 September PKI adalah peristiwa kelam negeri ini, semoga saja dengan melihat kembali sejarah kelam itu menjadi pelajaran bagi anak-anak muda agar tidak terpengaruh pada ideologi asing yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang menyatu dalam hati rakyat di negeri ini.
Akan tetapi yang mesti menjadi renungan kita, apakah kita masih memegang teguh ideologi Pancasila dalam hati sanubari kita? Atau kita justru melupakannya? Entahlah.
Salam
Metro Lampung, 4-10-2015

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Cerita Singkat Mengikuti Pelatihan Assessment di Hotel Harmoni One, Batam

Hotel Harmoni One Batam, Sesaat setelah sesi selesai, guru-guru diperkenankan beristirahat dan mengabadikan moment penting untuk oleh-oleh dirumah, Hotel di mana guru  digembleng dalam sebuah pendidikan dan pelatihan (dok.pribadi)


Beberapa bulan yang lalu, alangkah berbahagianya aku karena mendapatkan tugas mengikuti diklat assessment yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Luar Biasa, kegiatan ini secara kontinyu diadakan untuk memberikan bekal, bimbingan dan pendidikan khusus bagi guru agar bisa melakukan assessment di kelasnya, khususnya sekolah agar mereka bisa menjalankan tugasnya dengan pengetahuan, keterampilan dan pendidikan yang diperoleh selama mengikuti diklat. 

Pengalaman berharga yang cukup membuat saya bangga, karena pemerintah memberikan kesempatan kepada kami (khususnya saya) dalam mengikuti aneka kegiatan penting ini. Mudah-mudahan guru-guru lain bisa merasakan kesempatan yang sama agar usaha mengembankan tugas sebagai pendidik menjadi mudah dan tak terkendala kesiapan sumber daya manusia. Sumberdaya manusia yang semestinya diupdate karena bertambahnya tuntutan profesionalisme. Selain tuntutan profesionalisme, tentu saja sejumlah pendidikan itu akan meningkatkan derajat pendidikan dan pendidik agar setara dengan bangsa lain.

Terlepas dari itu semua, ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan ketika saya mendapatkan tugas mewakili sekolah dalam diklat terebut. 

1. Mendapatkan ilmu baru

Terus terang, sebagai guru yang meskipun sudah melanglang buana dalam kependidikan wal bil khusus mendidik anak-anak sekolah, tentu dianggap memiliki kecukupan informasi terkait bidang tugasnya. Bahkan seandainya disamaratakan dengan guru lain, boleh jadi semua guru dianggap cukup dengan pengetahuan selama menempuh pendidikan formal (kuliah) sebelumnya. Sehingga acapkali para guru itu tidak atau kurang tertarik untuk menggali lagi terkait bidang tugasnya. Seperti yang saya dapatkan ini, selama saya menjadi guru, saya kurang begitu menguasai konsep assessmen bagi calon anak-anak didik. Terlebih lagi bagi anak berkebutuhan khusus, tentu saja pengetahuan dan pelatihan ini sejurus dengan upaya semua guru dalam menggembleng pengetahuannya agar lebih profesional. Dan selaras pula program pemerintah terkait pendidikan kedinasan yang dikelola bagi guru demi memperoleh standar profesionalisme bagi guru dalam bidang tugasnya tentunya.




Suasana serius ketika acara atau sesi akan dimulai (dok.pribadi)


Alhamdulillah, jika hendak disepadankan,  kesempatan yang boleh jadi sekali seumur hidup itu tidak dapat dinilai dengan uang. Ilmu adalah segala-galanya, dan keterampilan dalam bidang tugasnya adalah bagian terpending yang mesti dimiliki semua guru.'

2. Mengenal tokoh-tokoh pendidikan

Kiranya saya jarang atau boleh jadi belum bertemu dengan banyak tokoh pendidikan di negeri ini. Jika hendak disebutkan tentu amat banyak tokoh yang menjadi vigur, inspirator dan motivator serta sosok yang turut membangun sistem pendidikan di negeri ini.

Kelompok peserta memperagakan teknik assessment (doc. pribadi)


Alasannya tentulah karena saya belum pernah diundang secara resmi bertemu dengan tokoh-tokoh penting itu.  Terkecuali dalam lingkup pelatihan dan lomba yang diadakan oleh pemerintah. Tentu secara langsung saya bisa bertemu, bertanya dan berdiskusi terkait persoalan kependidikan, terutama pendidikan bagi anak-anak luas biasa.

Hal ini tentu saja sebuah kehormatan, seorang guru dari kampung ini bisa bertemu dengan sosok-sosok panutan yang bisa menjadi support dan motivator dalam melaksanakan tugas kedinasan dan pengabdian sebagai pelayan masyarakat.

3. Mengenal guru-guru teladan dari penjuru pelosok negeri


Diwaktu luang, guru-guru pun boleh berfoto2 ria di luar gedung sebagai bentuk keakraban antar peserta (doc. pribadi)

Alhamdulillah selama saya mengikuti aneka pendidikan dan latihan tersebut, saya selalu menyempatkan diri  berkenalan dengan guru-guru bagi anak berkebutuhan khusus. Entah dari Aceh, Padang, Pontianak, Manado sampai ke Papua, Bali, NTB dan seluruh perwakilan dari sekolah luar biasa dan sekolah khusus yang membentang dari Sabang sampai Merauke. 

Beruntungnya dari peserta yang hadir, rata-rata mereka adalah lulusan pendidikan jurusan ke-PLB-an, jadi saya bisa saling berdiskusi terkait bidang tugasnya.

Tentu saja dengan kesempatan itu, kami bisa berbagi pengalaman terkait bidang tugasnya, bagaimana kelebihan dan kekurangan selama melaksanakan tugas, dan tentu saja aneka kekayaan baik flora dan fauna serta masakan yang tentu saja mengundang selera ingin mencicipinya. Teramat banyak jika hendak disampaikan dengan kata-kata. Betapa negeri ini sungguh kaya raya.



4. Merasakan nikmatnya naik pesawat terbang

Mungkin ada di antara pembaca yang mengenyek saya, karena dikira saya nggumunan dan heran dengan pesawat terbang. Ya pastilah saya nggumunan lantaran saya sejak lahir dari golongan proletar, kurang mampu dan stempel kekurangan yang selalu menyelimuti keluarga saya. Jadi ketika saya mendapatkan kesempatan naik moda transportasi mahal ini, tentu sebuah kehormatan dan kebanggan.

Berbeda 180 derajat bagi guru-guru yang berasal dari golongan mampu, atau minimal petani yang memiliki berhektar-hektar karet atau sawit. Tentu menggunakan kendaraan elit ini tidaklah sulit. Tapi bagi saya yang dari masyarakat bawah, tentu amat mahal dan eman-eman jika uang belanja harus digunakan untuk membeli tiket pesawat. Bisa-bisa gaji sebulan habis untuk sekali naik pesawat ini.
Bersyukur saya mendapatkan tugas sebagai guru ABK, coba kalau tidak, tentu harus berpikir dua kali jika ingin naik kendaraan yang lumayan mahal ini. Ternyata ini salah satu nikmat Tuhan yang diberikan kepada kami guru-guru bagi anak berkebutuhan khusus. Nikmat dan kehormatan yang setara dengan beratnya tugas yang diberikan kepada kami. Terima kasih atas semuanya.

5. Menginap di hotel berkelas

Bagi saya, mengikuti pelatihan yang diselenggarakan pemerintah pusat tidak harus berada di tempat yang mewah dan biaya yang super mahal. Tapi apa boleh buat, jika kenyataannya mencari tempat yang layak untuk menampung wakil daerah, guru-guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus ini tidaklah mudah. Jadi tetap saja pemerintah memerlukan tempat  yang layak, strategis dan accessable demi suksesnya hajat tersebut.
Malam hari setelah sessi, berkesempatan dengan hiburan dari daerah setempat (doc. pribadi)

Dan sudah pasti, guru yang berasal dari kampung ini bisa menikmati lezatnya masakan hotel mewah, ruang tidur yang lumayan bagus bahkan teramat bagus menurut ukuran di kampung saya, serta fasilitas lain yang disiapkan demi memperlancar kegiatan tersebut.

Siapapun yang diundang, adalah sebuah kehormatan yang tak ternilai harganya jika diukur dengan uang. Belum pernah saya bermimpi bisa diundang kementerian untuk mengikuti pelatihan di tempat mewah seperti itu. Terimakasih banyak pada pemerintah yang sudah memberikan kehormatan yang tak terhingga ini.

Mudah-mudahan guru lain mendapatkan kesempatan yang sama ya? Insha Allah.

6. Mengenal daerah tujuan wisata

Terus terang, mengikuti aneka pelatihan niatan awal adalah mengenal aneka daerah dan masakan khasnya. Karena untuk mengenal suatu daerah yang sama sekali asing dari penglihatan saya tentu sebuah kesempatan yang tak bisa saya abaikan. Selain mengenal aneka daerah, masakan dan penduduk di wilayah setempat, tentu saya bisa menikmati aneka tujuan wisata yang tersebar di beberapa daerah. Meskipun untuk bisa mengunjungi tempat wisata hanya bisa dilakukan setelah acara selesai, jadi panitia memberikan kesempatan untuk mengunjungi tempat tertentu yang biasanya dilakukan secara berkelompok dan ada yg dikoordinir panitia penyelenggara.


Aksi jeprat-jepret mumpung ada di Batam

Namun demikian, kunjungan tersebut tidak boleh melampaui surat tugas yang diberikan oleh dinas terkait.


7. Mendapatkan sertifikat

Ada yang menjadi tujuan ketika seseorang mengikuti diklat, selain ilmu yang bermanfaat juga menginginkan mendapatkan sertifikat bukti kelulusan. Tentu saja sertifikat itu diperoleh setelah lulus pre test, post test serta kedisiplinan dalam kegiatan.
Dengan nilai 1 setiap sertifikat, tentu menjadi tambahan jika guru ingin mengusul naik pangkat dan jabatan selanjutnya.

8. Mendapatkan uang saku

Siapa sih yang nggak ingin mendapatkan uang? Bohong kalau ada yang menolaknya, karena sifat manusia membutuhkan uang. Apalagi dalam setiap kegiatan sudah dipersiapkan uang saku plus uang jalan yang digunakan untuk mengganti uang transport yang kita keluarkan sebelumnya.
Jadi beruntung sekali ya bisa memperoleh ilmu, teman, pengalaman, sertifikat dan tentu uang yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga di rumah.

Beberapa hal itu tentu saja menjadi pemicu guru,kenapa setiap guru menginginkan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan latihan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Mendapatkan kesempatan yang sama sehingga profesionalisme guru semakin merata.

Terlepas dari itu semua, sungguh sebuah kehormatan yang diberikan pemerintah terhadap para abdi negara ini karena telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi mereka dalam mengembangkan profesionalisme dalam bidang tugasnya.


Salam

Metro, Lampung, 8-10-2015


Selasa, 06 Oktober 2015

Ketika Orang tua tak Mengenal Anak Sendiri

Ketika Orangtua Tak Kenal Anak Sendiri
Ada yang mengatakan "gampang ya jadi orang tua, anak-anak pada patuh dan ikut aturan keluarga. Menurut dan membantu yang dibutuhkan ayah dan ibu mereka". Tapi ada juga yang mengatakan "sulitnya jadi orang tua, harus memenuhi kebutuhan, pendidikan, belum lagi karakter anak yang berbeda-beda. Ditambah lagi kalau anak memiliki keinginan yang berbeda pula, tentu kerumitan hidup dalam keluarga semakin terasa". Ada juga yang begitu permisif mengatakan bahwa "biarkan saja anak-anak mengikuti kehendak atau keinginan mereka, orang tua tak perlu turut campur apa yang ingin mereka lakukan. Mau apa aja terserah mereka yang penting orang tinggal mengawasi."
Apakah pernyataan-pernyataan tersebut salah atau benar? Tentu dikembalikan pada pribadi masing-masing dalam memandang konsep pendidikan bagi anak-anaknya. Apalagi semua itu dipengaruhi tingkat pendidikan, lingkungan di mana mereka tinggal, pola hidup yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, atau faktor kejiwaan yang dimiliki yang bersangkutan.
Bagi yang menganggap remeh persoalan anak, tentu mereka memandang bahwa persoalan anak hanyalah persoalan sepele, tak usah dibikin pusing apalagi membuat riweuh kata orang Sunda, atau sak karepe kata orang Jawa. Padahal kesuksesan anak adalah kesuksesan orang tua, dan kegagalan anak pun menjadi awal kegagalan orang tua.
Bagaimana dengan yang menganggap persoalan anak adalah persoalan yang rumit? Tentu didasarkan pada pengaruh kepedulian terhadap masa depan anak. Bukan bermaksud menafikan faktor kesuksesan keluarga lain yang menganggap "gampang" mengelola anak-anaknya, lantaran ekonomi yang cukup mapan, tapi mengelola anak juga tak hanya faktor ekonomi yang menentukan. Ada beragam faktor yang turut memicu bagaimana anak-anaknya sukses di kemudian hari.
Kita seringkali terjebak pada pola asuh yang diwariskan orang tua kita yang sangat "kaku" meskipun kaku di sini bukan berarti salah lantaran seringkali melihat anak-anak yang dididik dengan cara "kaku" leterlek tersebut ternyata banyak yang mendapatkan kesuksesan. Misalnya keluarga A, dia mendidik anak-anaknya berpedoman pada pengetahuan turun temurun yang diwariskan hingga anak cucu, ternyata kehidupan mereka lebih baik dibandingkan kehidupan keluarga B yang mendidik anak-anaknya menurut selera sang anak. Dunia modern menjadi kiblat bagaimana mereka mendidik anak-anaknya. Keluarga sangat menjunjung warisan leluhur dan kebudayaan yang dianggap "ndeso, kolot maupun kampungan" ternyata kehidupan lebih baik. Berbeda dengan keluarga B, yang notabene sangat dipengaruhi oleh kehidupan modern kekinian.
Meskipun tak sedikit keluarga sukses yang berkiblat dengan pola asuh era kekinian yang lebih modern. Anak-anak dibiarkan memilih apa yang diinginkan tanpa mendapatkan pertentangan dari orang tua mereka. Disebutlah keluarga ini sebagai keluarga masa kini. Tapi sayang sekali, kesuksesan keluarga B hanya dipandang dari segi ekonomi yang berkecukupan bahkan mewah. Mereka tak melihat bagaimana anak-anak mereka bekerja, halal atau haram. Bagaimana anak-anak mereka bergaul, bercengkrama dengan lawan jenis dan bagaimana mereka menilai pergaulan anak-anaknya dengan lingkungan sekitar, apakah menggunakan tata krama dan sopan santun? Sepertinya hal ini tidak dilakukan. Bahkan keluarga B cenderung kurang peduli dengan orang lain lantaran mereka banyak disibukan pada persoalan keluarga sendiri yang dibentuk ala kehidupan modern. Meskipun ala modern ini tak juga bisa disalahkan lantaran ada pula yang menggunakan teori modern ternyata masih memegang kendali adat dan tradisi. Meskipun saat ini jumlahnya dapat dihitung jari.
Resiko keluarga yang menggunakan tradisi "kolot" tersebut, tentu sering mendapatkan cibiran dari generasi muda saat ini. Orang tua dianggap tak berpendidikan dan kurang pengalaman. Padahal sejatinya pengalaman hidup tak melulu faktor pendidikan yang tinggi, tapi perjalanan hidup mereka bersama keluarga dan lingkungan inilah yang sejatinya pengalaman yang berharga.
Padahal, semakin keluarga itu dianggap "kolot" semakin menjaga nilai-nilai kebaikan yang tentu saja diwariskan oleh keluarga mereka semenjak dahulu. Pola asuh pun tak bergeser karena arus modernisasi saat ini. Meskipun tak sedikit pula yang menggunakan konsep "lawas" dalam pendidikan anak-anaknya ada juga yang tak meraih kesuksesan lantaran ada faktor kemajuan di abad ini yang tidak mereka ikuti. Dulu gudel harus nurut kebo, saat ini kebo harus nurut gudel. Artinya dulu sang anak harus mutlak ikut apa kata orang tua, tanpa bisa memilih yang disukai, sedangkan saat ini orang tua harus nurut apa kata anak meskipun orang tua kurang setuju. Itulah konsep kehidupan keluarga di era kekinian. Apakah kehidupan orang dulu semuanya baik, dan kehidupan sekarang semuanya kurang baik? Tentu tidak bisa menilai secara sekilas lantaran semua memiliki kelebihan dan kekurangan.
Bagaimana jadinya jika orangtua tak kenal anak sendiri?
Mengenal anak di sini dimaksudkan ketika orang tua tidak mengenal karakter, kondisi dan keinginan sang anak. Mereka menganggap anak adalah milik mereka yang bisa dibentuk dan buat apapun yang mereka inginkan. Seolah-olah anak tidak memiliki jiwa, akal dan keinginan. Mereka dipandang sebagai makhluk hidup yang tak memiliki keinginan.
Orang tua acapkali bersikap destruktif, kurang melakukan pendekatan persuasif, apalagi pedagogik. Destruktif di sini kecenderungannya jika sang anak memiliki keinginan A, maka orang tua justru menghalang-halangi keinginan anak ini dengan cara frontal. Jika tak nurut ayah sama ibu, maka lebih baik keluar dari rumah ini. Seperti itulah gambaran otoritarianisme di dalam keluarga yang cenderung menafikan hak-hak anak. Anak tidak memiliki pilihan sedikitpun lantaran orang tua yang "kaku" dan menganggap bahwa anak adalah sosok yang "bodoh" dan tak layak membantah apa yang dikatakan orang tua mereka. Padahal seperti yang saya tulis di awal tulisan ini, tidak semua yang kolot itu baik dan tidak semua yang modern itu buruk. Tergantung situasi dan kondisi yang mengiringi keluarga tersebut.
Kalau kekolotan itu bisa diterima semua pihak tentu akan berbeda penilaiannya dibandingkan dengan modern yang sama sekali keluar dari ranah kehidupan yang baik, atau sebaliknya.
Saya gambarkan di sini sebagai contoh keluarga Joni (bukan nama sebenarnya) orang tua dengan satu anak ini termasuk kategori sukses secara materi. Paling tidak di kampung sudah dianggap kaya. Tapi anehnya orang tua justru membiarkan pergaulan modern dalam tanda kutip kurang baik dilakukan dan menjadi kebiasaan anaknya. 
Konsumsi minum-minuman keras sudah dianggap biasa, bahkan orang tuanya pun tak kalah hobinya dengan minuman keras yang notabene dilarang agamanya sendiri. Sayang sekali kebiasaan kurang baik kurang mendapatkan respon lingkungan yang cenderung permisif dengan gaya hidup modern yang keliru ini. Dampaknya justru kehidupan modern ini menjerat pada pola hidup yang menentang agama dan adat ketimuran ini. Tentu faktornya adalah karena tidak mau dianggap terlalu mencampuri urusan rumah tangga orang. Satu kesalahan yang sejatinya sangat berbahaya.
Di sisi lain, ada yang terlalu protektif, bahkan terkait urusan jodohpun tidak ada kata menolak jika orang tua sudah memiliki pilihan sendiri terkait urusan rumah tangga ini. Dampaknya ada di antara mereka yang sukses menjalin kehidupan rumah tangganya, namun ada juga yang gagal.
Sang anak memiliki cita-cita pun akhirnya kandas lantaran egoisme orang tua yang tak melihat potensi sang anak. Namun ada juga yang harus menyesal lantaran orang tua yang kurang peduli terhadap anak-anaknya. Orang tua permisif sedangkan anak kurang bisa menempatkan mana yang baik dan mana yang buruk bagi kehidupan mereka.
Di era kekinian, kolot maupun modern hakekatnya pola asuh yang hampir sama, hanya zamannya yang berbeda. Kadang orang-orang yang dianggap kolot justru berhasil menata kehidupan anak-anaknya, dan yang modern justru gagal. Atau sebaliknya yang kolot justru menjerat dan mengungkung anak-anaknya dalam kehidupan yang menurut orang tua baik, tapi hakekatnya buruk bagi anak-anaknya. Anak tak punya pilihan dan cenderung terpaksa menjalani hidup ala kehidupan orang tua. 
Yang pasti, kolot atau modern hakekatnya adalah pilihan hidup yang hendak dijalani, tentu saja dipengaruhi oleh situasi dan kondisi serta agama yang melingkupi masing-masing personal. Baik atau buruk adalah urusan kita. Kita yang memilih, menentukan dan kita pulalah yang akan meraih dampak dari pilihan kita, bukan? Kalau merasa memiliki adat, budaya dan agama, tentu akan berusaha tidak keluar dari ketiga aturan ini. Salam

Serunya Karnaval HUT RI Ke-70 Siswa SLBN Metro Lampung

Serunya Karnaval HUT RI ke-70 Siswa SLBN Metro Lampung
Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-70 ini sungguh lebih bermakna bagi keluarga besar SLB N Metro Lampung. Tak hanya seperti tahun-tahun sebelumnya, karena di tahun ini kemeriahan menyambut hari bersejarah lepasnya Indonesia dari jajahan asing ini semakin semarak. Biasanya hanya berisi lomba-lomba antar siswa, kini, anak-anak ini mengisinya dengan karnaval sebagai wujud kebahagiaan karena telah diberikan nikmat kemerdekaan dan mengisinya dengan sesuatu yang bermanfaat.
Tepatnya di pagi hari, Sabtu, 15 Agustus 2015, anak-anak berkebutuhan khusus bersama para guru tumpah ruah di sekolah dan di sepanjang jalan Sumbersari Bantul ini dengan aneka riasan yang tak kalah serunya dengan pesta menyambut Hari Proklamasi yang diadakan oleh masyarakat pada umumnya.

Sekian hari melakukan persiapan yang cukup matang tapi sederhana, maka di hari itu anak-anak benar-benar berani unjuk gigi dengan aneka penampilan tak kalah dengan anak-anak lainnya. Bahkan menurut pengamatan kami, ketika anak-anak berkebutuhan khusus ini turun ke jalan dengan aneka riasan, ternyata kemeriahannya tak kalah jauh dari sekolah umum lainnya.
Meriahnya karnaval SLBN Metro 2015 (doc. pribadi)
Karnaval ini hakekatnya adalah puncak dari kegiatan lomba yang diadakan bagi anak-anak SLB N Metro. Dan tentu saja tujuannya agar mengingatkan serta memupuk kembali semangat persatuan dan kesatuan di saat Indonesia tengah diterpa oleh isu perbedaan dan pertikaian. Apalagi selama ini anak-anak berkebutuhan khusus sedikit banyak menjadi bagian yang dianggap berbeda oleh sebagian orang. Nah, dengan event semacam ini, tentu menjadi saat yang tepat untuk menunjukkan jati diri bahwa anak-anak berkebutuhan khusus pun bisa seperti lainnya.
Mereka memiliki negeri ini dan berhak mencintai serta merawatnya meski dalam perbedaan di mana-mana. Itulah misi adanya perlombaan dan karnaval (pawai) yang digelar meski dengan persiapan yang ala kadarnya.
Meriahnya karnaval SLBN Metro 2015 (doc. pribadi)
Prinsipnya, anak ABK adalah anak-anak yang juga bisa menjadi bagian dari bangsa ini. Mereka mampu berkiprah dan berjuang serta membangun bangsa ini dengan kemampuan yang dimiliki. Tak mau terpaku serta menonton saja gegap gempita menyambut hari kemerdekaan itu.
Dan seperti biasa, karnaval itu sebenarnya puncak dari seabrek kegiatan yang telah dilaksanakan di hari-hari sebelumnya. Tak perlu bermodal besar, yang penting kami puas bahwa ternyata kami ada dan bisa berdaya guna serta ikut andil dalam meriahnya pesta kemerdekaan itu.
Di antara mereka, terlihat ada yang memakai pakaian adat, ada yang memakai pakaian kerja, Pramuka, pakaian seni bela diri dan lain sebagainya yang juga semakin membuat semarak kegiatan tersebut.
Persiapan karnaval siswa SLBN Metro Lampung (doc. pribadi)
Tak hanya anak-anak yang turut serta dalam karnaval itu, karena para orang tua pun turut antusias mendampingi sekaligus larut dalam sukacita perayaan kemerdekaan itu. Bukti bahwa orang tua anak-anak ABK juga ingin menunjukkan bahwa mereka peduli pada anak-anak luar biasa, seperti halnya anak-anak pada umumnya yang bisa menjadi kembangga bagi orang tua mereka.
Akhirnya, perayaan HUT RI ke 70 ini menjadi moment penting untuk menyatukan kembali semangat persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Selepas kegiatan karnaval akhirnya panitia memberikan hadiah kepada peserta yang paling antusias dan unik sebagai penghargaan atas kreatifitas mereka dalam memeriahkan acara karnaval.
Salam



Hanya Nabi yang Tak Marah Ketika Dihina, Catatan Bagi Sang Penghina

Akhir-akhir ini kog berita semakin hangat-hangat kuku saja. Bahkan tak hanya hangat karena mengundang reaksi panas dari penyimaknya. Tentulah semua berita itu ada yang bisa langsung direspons dengan negatif atau positif tapi ada juga yang semestinya direspon secara perlahan-lahan kemudian diresapi untuk dicari nilai kebaikannya.
Berita dan suara-suara sumbang tentang dibahasnya pasal penghinaan terhadap presiden sampai sejauh ini masih penuh pro dan kontra. Ada yang mendukung pasal itu, ada pula yang menolak mentah-mentah, dengan beribu-ribu alasan yang bersifat subyektif maupun obyektif.
Kembali ke laptop.
Apa sih yang membuat orang begitu keras bereaksi terhadap pasal penghinaan presiden? Apakah karena emosinya yang tersulut jika rasa kesal dan ketidak terimaan akan kebijakan pemerintah ternyata harus berhadapan dengan pasal kriminal itu? Atau murni rasa kecewa karena ternyata selama ini kebijakan pemerintah dianggap tak sehati?
Entahlah. Saya pun kurang mengerti kenapa sikap kontra ternyata lebih banyak dari pro-nya.
Yang kontra mengatakan bahwa ketika pasal penghinaan presiden disahkan, maka dampaknya akan tidak mungkin akan mengkritik presiden jika salah. Sehingga para pemberi alasan itu beranggapan kalau sampai mereka berbicara tentang kesalahan presiden tentu ancamannya dipidana. Mudah-mudahan tidak keliru.
Yang pro tentu beranggapan bahwa setiap orang memiliki aturan terhadap siapa saja. Tak hanya pejabat negara saja, lantaran kepada semua makhluk pun sudah diatur bagaimana kita dalam bersikap. Jangankan sama pejabat negara, sesama saudara kandung saja semestinya mempunyai etika sopan santun dalam berucap. Apalagi terhadap orang yang dituakan dan dinomorsatukan lantaran seorang figur negara.
Berbicara pro dan kontra tersebut, bolehlah saya memberikan argumentasi sedikit dan mudah-mudahan saya tidak diamuk oleh orang-orang yang kontra pasal penghinaan presiden tersebut. Dan berharap tulisan ini hanya membuang rasa jengah saya melihat fenomena komentar di media sosial yang begitu drastisnya melancarkan kebenciannya terhadap pasal yang dianggap karet tersebut.
1. Setiap orang tentu pernah salah, tapi bukan berarti yang salah pantas dilecehkan
Percaya atau tidak, dan anda setuju atau tidak itu hak pribadi masing-masing. Bahwa setiap orang pastilah mempunyai salah, apalagi manusia biasa, orang-orang yang bergelar wali saja pastinya pernah melakukan kesalahan. Itu manusiawi kecuali Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Maka tidak ada alasan untuk menyalahkanNya lantaran kebenaran mutlak milikNya.
Namun demikian, ketika orang bersalah apakah mau dilecehkan? Dihina dengan bahasa yang hewan pun tak pantas mendapatkannya? Apalagi wujud protes yang ditujukan kepada seorang pejabat negara, tentu semestinya harus lebih dilaras kembali. Pantas dan tidakkah apa yang ingin diucapkan itu? Kembali kepada masing-masing orang. Yang pasti siapa yang mau dilecehkan dan tak marah, maka silahkan mendaftar dan saya jadikan vigur yang benar-benar selevel seorang Nabi.
Hanya Nabilah yang tetap sabar dan tersenyum dan bersyukur, meskipun dalam jalan dakwahnya kerap mendapatkan hinaan dan celaan dari orang-orang di sekitarnya. Kalau Anda bisa seperti Nabi yang mau dilecehkan, maka saya acungi jempol sepuluh.
2. Mengkritik bukan berarti menghina dan merendahkan
Saya teringat beberapa waktu lalu, bahwa anak seorang penjual sate hampir saja masuk bui lantaran di media sosial memposting gambar tak senonoh terhadap presiden Jokowi. Saya pun akan mengelus dada, jika apa yang ditampakkan dalam gambar itu gambar yang "amit-amit" tak pantas ditujukan kepada manusia. Apalagi tokoh dalam gambar itu adalah tokoh yang semestinya dihormati.
Saya pun akan menuntut sampai ke neraka sekalipun, jika foto saya disalah gunakan dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bagaimana dengan Anda?
3. Indonesia adalah negara yang memegang adat ketimuran yang memegang nilai sopan santun
Coba bayangkan, jika kita selaku anak mengumpat orang tua kita dengan sebutan bod*h. Kira-kira pantas apa tidak? Tentu tidak bukan? Lantaran boleh jadi kita mengatakan Bod*h lantaran kita belum mengerti maksud yang sebenarnya.
Kita mengkritik kepala negara yang notabene pantas dihormati dengan perkataan yang menjijikkan dan memilukan perasaan. Bahkan sampai saat ini gambar tak senonoh itu pastilah ada yang menyimpannya sebagai bahan tertawaan.
Tak hanya satu orang yang menertawakan, karena ada jutaan orang yang menyaksikan dan ikut menertawakan presiden karena postingan yang tidak senonoh itu.
Yang pasti, jagalah sopan santun dan harga dirimu, sebelum bertindak tidak sopan kepada orang lain.
4. Mengutarakan kritik tak semestinya merendahkan
Poin ini yang saya pikir lebih mulia lantaran akan teramat baik jika berusaha tidak merendahkan orang jika diri ini masih penuh kekurangan. Apalagi pribahasa mengatakan gajah di pelupuk mata tak tampak kuman di seberang lautan tampak.
Kiranya itu saja, mudah-mudahan tidak ada yang marah dan kecewa dengan tulisan ini. Dan jika ada salah saya mohon maaf sebesar-besarnya. Salam

Prihatin, Ketika Anak Didikku Membawa Alat Kontrasepsi


Prihatin, Ketika Anak Didikku Membawa Alat Kontrasepsi

Betapa pagi itu serasa heran  dan mengejutkanku. Tepatnya di awal aku melaksanakan tugas lagi setelah beberapa pekan menikmati hidangan liburan bersama keluarga ketika akhir puasa dan idul fitri yang kebetulan akhir masa tahun pelajaran. Tentu kejadian yang saya anggap amat mengherankan lantaran salah satu anak didik yang kebetulan siswa baru di kelasku lantaran baru saja berganti kelas. Seorang anak yang dikategorikan difable, anak berkebutuhan khusus tersebut membawa alat kontrasepsi di dalam kantung tas sekolahnya.
Meskipun tubuhnya cukup tambun alias terlihat besar, tapi kemampuan kognisinya amat rendah. Apalagi kejiwaannya, tentu amat labil dan sepatutnya mendapatkan kontrol dari orang-orang di sekitarnya. Maklum, anak-anak difable khususnya tuna grahita, memiliki kecenderungan kecerdasan di bawah rata-rata anak normal. Jadi keberadaan orang-orang di sekitarnya dalam melakukan pengawasan amat dibutuhkan.
Tak perlu ditulis di sini apa jenisnya, yang pasti alat kontrasepsi itu tak layak dibawa oleh anak sekolah khususnya anak di bawah umur. Apalagi anak yang terus terang masih dini jika harus mengenal salah satu benda terlarang bagi anak-anak sekolah tersebut lantaran bisa disalahgunakan.
Awalnya, saya seperti biasa melaksanakan tugas di pagi cerah itu dengan canda tawa, senda gurau dan bertanya terkait liburan sekolah. Dan tak lama saya meminta anak-anak menggambarkan salah satu benda yang ia temukan ketika berlebaran, semisal kue atau benda-benda lainnya.
Ternyata, dengan sangat polos, sang anak justru menjawab bahwa ia tak membawa perlengkapan belajarnya. Saya kurang percaya dengan pernyataan si anak, maka saya berusaha mengecek ke dalam tas sekolah. 
Tak disangka dan diduga, tas yang semula biasanya berisi peralatan sekolah, hanya beberapa buku sedangkan alat belajar seperti pena, pensil, penghapus serta krayon sama sekali tidak tersedia. Dan  yang lebih terkejutnya lagi, ternyata di dalamnya justru tersimpan alat kontrasepsi.
Dalam keterkejutan tersebut, saya pun berusaha menghubungi anggota keluarganya dan mengkonfirmasikan apa yang sudah saya temui. Tak perlu menunggu lama, sang pengantar (yang kebetulan kakaknya) mengatakan bahwa alat kontrasepsi itu mungkin milik kakaknya yang kebetulan lupa tidak diamankan. Terlihat dari raut wajahnya perasaan malu dan bersalah lantaran menemukan sesuatu yang hakekatnya tak pantas dilihat anak-anak.
Seketika itu, saya pun menyampaikan nasehat agar orang tua atau keluarganya memeriksa kembali bawaan anak ketika hendak berangkat sekolah. Jadi jangan sampai sang anak yang tujuan awalnya untuk menuntut ilmu, ternyata justru mendapatkan pengetahuan yang belum sepantasnya ia dapatkan.
Ketika Anak Hendak Bersekolah, Kemana Orang Tua Mereka?
Kejadian itu membuat hati saya kecewa sekaligus mengelus dada. Mengapa sang anak yang memang memiliki kondisi kejiwaan yang labil dan kemampuan intelegensinya amat rendah justru kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Apakah anak-anak model ini memang layak mendapatkan stempel kelas dua? Jadi dari segi perhatian selalu di nomorduakan? Nggak kan?

Kalau faktanya demikian, tentu kondisi ini sungguh memilukan. Lantaran seorang anak dengan berbagai karakter dan pembawaan dirinya tentu merupakan sama-sama amanah Tuhan yang harus diperhatikan secara concern atau serius.
Jangan beralasan bahwa anak-anak difable (ABK) maka semua orang menganggapnya berbeda. Mereka seringkali dianggap sebagai sosok yang tak pantas dilayani dan diperhatikan seperti anak-anak pada umumnya. Tentu kondisi ini bentuk dari lemahnya kesadaran orang tua (khususnya) terhadap keberadaan anak-anak mereka. Maka tak ayal, ketika anak yang hendak bersekolah senantiasa diperiksa barang bawaannya di malam hari dan paginya ternyata apa yang dibawa luput dari perhatian.
Apa jadinya, jika anak-anak yang hakekatnya memerlukan perhatian lebih ini justru menggunakan benda terlarang pada hal-hal yang berbahaya. Sungguh kejadian yang mengerikan yang bisa saja terjadi.
Selain alat kontrasepsi yang semestinya dijauhkan dari anak-anak, karena selama ini banyak terjadi anak yang membawa handphone justru berisi konten dewasa yang tak patut dikonsumsi anak-anak. Ada lagi anak seolah yang justru tidak membawa buku di dalam tasnya, melainkan beberapa senjata yang hendak digunakan untuk tawuran. Seperti kejadian beberapa waktu yang telah lalu di Jakarta, seorang anak tanpa sepengetahuan orang tuanya terlibat perkelahian dan tawuran hingga merenggut nyawa siswa lainnya.
Sebuah kejadian tragis semestinya tidak bisa diabaikan begitu saja.
Tak perlulah dituntut terlalu disiplin karena kedisiplinan yang terlalu juga bisa memancing reaksi emosional anak yang justru tak baik bagi kehidupan mereka. Namun demikian, ketika orang tua membiarkan anak-anaknya bersekolah tanpa pengawasan yang intensif terkait barang bawaannya, tentu hal ini dapat berdampak buruk bagi kelangsungan pendidikan mereka.
Beruntung, saya selaku guru kelasnya berusaha memberikan perhatian terkait perlengkapan siswa, karena harapannya anak dengan kelemahan intelegensi dan kejiwaan ini tidak lepas kontrol dari semua pihak.
Bagaimana jadinya, jika sang anak tiba-tiba mencoba-coba menggunakan alat kontrasepsi itu bersama teman-temannya? Atau justru membawa senjata tajam yang tanpa sepengetahuan gurunya melukai teman-temannya? Saya tidak bisa membayangkannya.

Atau yang lebih mengerikan lagi jika tidak disangka-sangka justru anak-anak kita menjadi bagian pengedar narkoba, lantaran kepolosannya yang tidak mengetahui bahwa benda-benda itu amat berbahaya. Sungguh hal yang tak pernah kita harapkan.
Semoga saja, semua orang tua, termasuk gurunya selalu melakukan pengawasan yang ekstra terhadap anak-anaknya. Sehingga harapannya dengan pengawasan yang ekstra ini, dampak negatif dari benda-benda berbahaya tak terjadi pada anak-anak sekolah. Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!