Senin, 17 Oktober 2016

Apakah Anda Benar-benar Seorang Pembaca?

Gambar : Salah satu halaman perpustakaan digital

Apakah Anda seorang maniak membaca? Atau seorang "kutu buku" yang sehari-hari menghabiskan waktu dengan membaca buku? Entah buku apa saja, baik fiksi maupun non fiksi. Tentu kebutuhan akan bahan-bahan bacaan menjadi semakin besar, bukan?

Hoby membaca memang sungguh mengasyikkan, tak hanya mengasyikkan karena dengan hoby membaca hari-hari kita diisi dengan rutinitas yang penuh manfaat. Kita bisa menambah ilmu baru, membuka jendela kehidupan di belahan dunia lain dan tentu saja bisa meningkatkan kemampuan kita secara individu. Semua bisa kita dapatkan dari membaca buku. Buku adalah pengantar pengetahuan kita sebelum benar-benar menjelajah dunia yang lebih nyata. Paling tidak dengan buku, rasa penasaran yang menyelimuti perasaan dapat terobati dengan kehadirannya.

Karena mengasyikkan dan membawa manfaat bagi ketenangan batin, maka sebuah buku pun acap kali diburu hingga tak terbatas jarak dan waktu. Mereka rela menghabiskan waktu dan uang yang tidak sedikit, demi memenuhi hasratnya untuk membaca.

Buku bisa menjadi inspirator bagi pembacanya, dan buku pun bisa mengubah kehidupan umat manusia. Dalam Islam Al-Qur'an disebut dengan Al Kitab artinya Buku, Atau Holly Book, disebut Kitab Suci. Dan Al-Qur'an menjadi satu-satunya buku yang menjadi petunjuk serta pengubah kehidupan umat manusia.

Menurut bahasa, arti Al-Qur'an adalah Bacaan. Maka dari itu, sebagai seorang yang beragama Islam semestinya perbanyak membaca Al-Qur'an. Di sanalah jendela kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia sebagai hambat Tuhan, Allah SWT. Karena dengan membacanya manusia menjadi tenang dan lapang hatinya. Dan di sanalah puncak dari kemukjizatan dari Al Qur'an itu sendiri.

Al-Qur'an adalah buku suci yang berisi kumpulan firman-firman Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW agar menjadi petunjuk kepada seluruh umat manusia. Bukan sekedar tulisan yang berbahasa Arab, tapi lebih itu adalah pintu gerbang di mana setiap orang akan menemukan hakekat kehidupan yang sebenarnya.

Kitab suci dibaca untuk dimengerti dan diamalkan, karena mengerti dan mengamalkan maka seseorang yang sudah mencintainya dan memedomaninya dalam kehidupan sehari-hari maka kehidupannya akan lebih teratur, terarah dan tidak asal-asalan. karena ada Tuhan  yang Maha Kuasa yang memberikan petunjuk yang benar dan lurus bagi keselamatan kehidupan umat manusia.

Begitu pula dengan buku-buku lain yang sejatinya banyak memberikan pengetahuan dan memberikan inspirasi. Namun demikian, bagi penulis Al-Qur'an lah pedoman hidup yang sesungguhnya. Pedoman dalam beragama dan bagaimana membangun interaksi sosial. Pedoman bagaimana meraih cita-cita terbaik sebagai seorang hamba Tuhan. Sedangkan dalam bernegara, Pancasila dan UUD 45 menjadi pondasi bagaimana menjadi warga negara yang baik tentunya.

Terlepas dari semua buku yang ada, seiring perjalanan waktu, ternyata buku-buku yang berupa lembaran-lembaran kertas itu sudah berubah bentuk. Saat ini tulisan dalam kertas itu sudah bertransformasi menjadi lebih modern, yaitu buku elektronik atau digital book. Atau dalam bahasa gaulnya disebut e-book. Buku yang disajikan dengan perantara internet agar semua orang bisa mengakses, mengunduh dan membaca secara on-line. Meski tidak semua yang online itu bisa dibaca secara gratis, tetapi, manfaat buku elektronik itu menjadi lebih kaya dan bisa diakses oleh semua kalangan dan di belahan dunia mana pun.

Peminat buku tak harus jauh-jauh pergi ke Aceh jika ingin membaca tentang sejarah Aceh, atau ke Amerika jika ingin membaca tentang sejarah museum di negara itu. Karena semua sudah tersedia secara online dalam buku elektronik tersebut. Yang pasti, semua buku itu sudah ter-cover secara online sehingga bisa dengan mudah di akses. Yang penting punya akses internet, maka semua bisa dilakukan. Hambatannya adalah di daerah pedalaman yang sulit mengakses lantaran tidak memiliki jaringan internet.




Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, buku versi digital memberikan kemudahan mengakses buku secara gratis

Sudahkah Anda tahu juga bahwa saat ini pemerintah sudah membuat sebuah perpustakaan digital? Mudah-mudahan sudah ya? Karena perpustakaan digital sudah menjadi trend, maka kebutuhan akan buku yang bisa diakses melalui komputer maupun gadget pun saat ini sudah tersedia. Kemudahan tersebut bisa Anda dapatkan di situs http://e-resources.perpusnas.go.id.

Situs milik pemerintah yang berkaitan dengan layanan membaca buku itu menyediakan aneka genre buku dengan penerbit dan negara yang berbeda pula. Seperti buku yang berisi tentang budaya dan keindahan panorama Indonesia disusun oleh Indonesia Heritage Digital Library yang memuat aneka buku yang berkaitan dengan kekayaan budaya di Indonesia. Meskipun belum semuanya terangkum di dalamnya, paling tidak sudah menjawab rasa penasaran akan buku-buku yang diinginkan.
Beberapa nama penerbit yang ikut menjadi sponsor Perpustakan Nasional RI


Ada pula buku yang diterbitkan oleh Alexander Street Press yang memuat buku-buku terbitan luar negeri. Dan masih banyak lagi penerbit-penerbit lain  yang turut mendukung terbentuknya situs perpustakaan digital di Indonesia ini.

Aneka buku digital yang tersedia dalam situs tersebut hakekatnya bisa membantu siapa saja yang ingin menjadikan referensi atau rujukan penelitian, karena selama ini para dosen, mahasiswa maupun guru mengalami kesulitan ketika harus mencari sumber bacaan pendukung penelitiannya. Nah, dengan menjadi salah satu member di e-resources perpusnas.go.id tentu masalah tersebut dapat teratasi.

Bagaimana menjadi member Perpustakaan Republik Indonesia versi digital ini?

Penulis belum lama menjadi member dari perpustakaan digital ini, kira-kira sebulan baru mendaftarkan diri. Ide untuk mendaftarkan diri diperoleh dari seorang sahabat melalui WA. Karena tertarik maka saya mencoba dan ternyata sukses menjadi member.

Untuk menjadi member caranya :

1.Mendaftarkan diri menjadi member

Anda bisa mendaftarkan diri melalui http://keanggotaan.pnri.go.id, atau dengan mengunjungi gedung layanan Perpusnas di Jalan Salemba Raya 28 Jakarta Pusat / Jalan Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat.

2. Mengisi biodata yang sudah disediakan sampai selesai
3. Kalau sudah mendaftar Anda akan mendapatkan kode pasword yang bisa dibuka setiap kali Anda ingin mengakses perpustakaan tersebut dengan membuka situs http://e-resources.perpusnas.go.id/



4. Anda sudah menjadi anggota yang siap-siap menelan semua konten buku sesuai dengan minat dan kebutuhan Anda.

Selamat mencoba ya!

Salam






Minggu, 16 Oktober 2016

Apakah Gegara Ahok Kita Putus Persahabatan?


Gambar : berawan.com




Beberapa hari ini media sosial begitu ramai perdebatan, cacian, puja-puji maupun pencitraan-pencitraan yang sepertinya silih berganti seperti musim penghujan dan kemarau yang juga silih berganti.

Aneka perdebatan yang berawal dari pernyataan yang tidak tepat oleh seorang calon gubernur ternyata tidak hanya berdampak pada konflik internal dan eksternal dalam agama Islam itu sendiri, karena muara dari perdebatan yang panjang itu mengarah pada mengaburnya makna kebersamaan, persaudaraan dan persahabatan yang sekian lama ingin dibina.

Perjuangan untuk meraih keharmonisan dalam perbedaan itu tidaklah mudah, karena selalu saja tersulut oleh persoalan persoalan yang sebenarnya bukan termasuk wilayah persahabatan itu sendiri, karena murni wilayah hukum dan meja hijaulah yang akan menuntaskannya.

Namun sayang sekali, karena nila setitik rusaklah susu sebelanga. Persahabatan dan persaudaraan yang baik harus terkoyak oleh satu orang yang "bermasalah". Persaudaraan yang baik mesti musnah oleh seorang pemimpin yang ambisius dan tidak lagi bisa mengontrol ucapan sendiri. Padahal apalah pentingnya gara-gara persoalan hukum, masyarakat kecil menjadi ribut. Toh, nanti pihak aparat penegak hukum yang akan bekerja menuntaskannya.

Hukum tetaplah jalan, dan persahabatan serta persaudaraan jangan sampai dirusak oleh kepentingan politik.

Apakah rela memutuskan persahabatan hanya gara-gara Ahok?

Boleh jadi ini menjadi pertanyaan dalam sanubari masing-masing rakyat Indonesia. Nggak jauh-jauh deh membicarakan Indonesia yang rakyatnya jutaan ini, karena di lingkup media sosial saja sepertinya menunjukkan riuh rendah dan kekisruhan yang semakin mencolok. Padahal apa sih yang mesti diributkan? Kalau persoalan memilih pemimpin Islam, ya sudah cukup selesai sampai di sini. Dan kalau kaitan hukum, 'kan sudah ada aparat penegak hukumnya. Tidah usah memanas-manasi suasana dengan status-status yang nggak jelas banget. Karena itu akan semakin memperkeruh suasana. Ini Indonesia dan bukan Suriah yang porak-poranda karena adu domba media habul yang tidak jelas siapa pemiliknya.

Tak hanya di media sosial, dalam organisasi sendiri boleh jadi antara warga NU mengalami perselisihan hingga tak saling bertanya lagi. Adapula dari golongan Muhammadiyah yang juga tak lagi sejalan. Semua karena perbedaan persepsi bahwa urusan politik tidak seharusnya merusak nilai-nilai persaudaraan. Politik boleh kejam, tapi hati kita jangan sadis.

Begitu pula sesama NU atau sesama Muhammadiyah boleh jadi berbeda cara pandang terkait kasus yang tengah digulirkan. Karena kapasitas masing-masing berbeda. Jadi cukup aparat penegak hukumlah yang berbicara.

Meributkan persoalan hukum dengan mengorbankan persahabatan adalah sebuah kesalahan. Dan persahabatan itu akan selalu ada jika tidak dicampuri oleh kepentingan sesaat. Pandangan politik boleh beda, tapi rumah bersama jangan dikorbankan.

Hanya orang bodoh yang bermusuhan gara-gara politik

Dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu, begitu dalam pikirannya tentu penuh rahasia. Karena boleh jadi saat ini kita tengah bersahabat dengan apik, karena persoalan Ahok tiba-tiba menunjukkan egosentrisme. Menilai kesalahan atau membela seseorang bukan karena murni kesalahannya tapi karena perbedaan agamanya.

Jangan mentang-mentang yang muslim tiba-tiba memusuhi yang non Islam karena berbeda cara pandang, dan begitu pula yang non Islam jangan memusuhi yang muslim gara-gara membela orang yang dianggap "seagama". Padahal agama apapun kalau melakukan kesalahan maka harus dihukum. Tak perlu dihubung-hubungkan agamanya apa dan sukunya apa, karena persoalan ini tidak akan selesai.

Meninggalkan teman yang mengundang kekisruhan

Bersahabatan adalah baik, tapi bersahabat yang membawa kebaikan. Jikalau ditemukan sahabat yang membawa kekisruhan ada baiknya ditinggalkan saja sementara. Kembali disapa jika kondisinya sudah stabil lagi. Karena betapa tidak baiknya memiliki sahabat yang justru membuat urusan menjadi semakin sengkarut.


Namun demikian, persoalan hukum memang kadang membutuhkan dukungan elemen masyarakat bawah agar aparat penegak hukum terbuka matanya hingga benar-benar mengadili orang yang salah secara tepat dan adil. Sehingga tidak ada ruang kasak-kusuk di tingkat elit demi meloloskan dan membebaskan orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan.

Sama seperti ungkapan Untuk apa berebut tulang tanpa daging, jika masih ada bongkahan emas di balik itu semua. Meributkan persoalan hukum dengan mengorbankan persaudaraan dan persahabatan yang lama terjalin dengan amat baiknya.

Bagaimana? Apakah kita mesti putus silaturrahim gara-gara Ahok?

Salam


Sabtu, 15 Oktober 2016

Inilah Kesan Mengikuti Progam Diklat Guru Pembelajar Moda Daring (Dalam Jaringan)

Halaman muka Web Guru Pembelajar Online (https:gurupembelajar.id)

Siapa ya yang sudah  mendengar tentang Guru Pembelajar? Sepertinya semua guru sudah mendengarnya. Sebab ketika Bpk. Anies Baswedan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, sebelum akhirnya beliau dinonaktifkan atau diberhentikan oleh Presiden Jokowi, program ini sudah dihembuskan kepada kalangan pengelola pendidikan. Bukan hanya para guru, karena semua orang yang terlibat dalam dunia pendidikan tentu mendengar program yang baik ini.

Program yang sejatinya digagas untuk menjawab tantangan masa depan dalam dunia pendidikan kita. Dunia pendidikan yang masih dianggap kurang maju dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara khususnya (ASEAN).

Menurut Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Index, EDI), Indonesia menempati urutan ke-69 dari 127 negara pada 2012. (dirilis oleh prestasi.iief.org).

Dengan demikian, kondisi pendidikan di Indonesia masih jauh dari negara-negara maju maupun berkembang termasuk di negara-neggara ASEAN. Oleh karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan indeks pembangunan pendidikan di Indonesia tersebut adalah dengan meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para pendidiknya salah satu caranya dengan mengikut sertakan guru-guru dalam kegiatan guru pembelajar online.

Terlepas siapa yang menggagas program guru pembelajar (GP) tersebut, yang sedianya diikuti oleh semua guru khususnya untuk nilai UKG yang dianggap belum layak, tentu ada banyak kesan yang bisa diceritakan di sini.

Pertama, karena penulis menerima informasi GPO ini awalnya mendengar via percakapan guru-guru dan informasi dari internet yang masih belum sepenuhnya dipahami, sehingga meunculkan kegalauan tersendiri. Bagaimana tidak, program guru pembelajar dengan Moda Daring hakekatnya masih baru, dan kebetulan juga secara resmi belum disosialisasikan oleh dinas terkait. Jadi untuk mengikuti kegiatan yang baru itu cukup membuat hati berdebar-debar dan bimbang, apakah penulis bisa mengikuti kegiatannya dengan konsisten atau sebaliknya.

Boleh jadi perasaan galau pun dialami oleh guru-guru lain. Meskipun untuk teknologi informasi sudah bukan barang baru, tapi ketika berhadapan dengan pembelajaran yang bersifat wajib ini, maka rasa was-was dan gundah menyelimuti diri setiap hari. Apakah penulis bisa mengikuti atau tidak dan bagaimana nanti respons guru pengampu ketika berhadapan dengan peserta yang masih kurang ngeh ini.

Meskipun dalam kegalauan ternyata di sesi pembukaan atau pengantar sampai penutup sudah dilewati, ada kepuasan tersendiri, Bahwa begitu banyak ilmu yang bisa diserap dan diamalkan dalam proses mengemban tugas negara ini.

Kedua, selain rasa galau karena program bimbingan guru ini tergolong baru, tentu pernak pernik yang ada di situs www.gurupembelajar.id itu cukup menguras pikiran. Selain menguras pikiran karena mesti mengenal situs itu secara mendalam, penulis merasa gagap karena tidak mempelajari dari pedoman yang tersedia. Bahwa di dalam situs itu ada modul yang bisa dipelajari dengan cara mandiri. Jadi tidak ada alasan penulis tidak bisa melakukannya. Dan bersyukurnya karena memiliki guru pemangku, maka kesulitan sedikit demi sedikit bisa diatasi.

Ketiga, kesan selanjutnya adalah panik, ketika mendapatkan tenggang waktu mempelajari persesi dengan beberapa hari saja tentu sempat membuat panik. Bagaimana tidak, dengan waktu kurang lebih sepekan guru peserta harus belajar mengenal situs, mengisi beberapa aitem pertanyaan pemula, membuka modul dan mengunduhnya untuk kemudian dipelajari tentu bukan perkara mudah. Selain itu rasa deg-degannya ketika akan memulai tes penilaian diri dan tes sumatif, tentu ada kekhawatiran sendiri, apakah saya bisa mengerjakan tes itu atau justru gagal. Dengan waktu dua menit per soal tentu bukan persoalan gampang menyelesaikan 10 soal per sesi. Sedangkan dalam satu modul ada 4 sesi pembelajaran.

Beruntungnya soal yang sudah selesai itu bisa diulang sekali lagi hingga jawaban kita benar-benar valid untuk kemudian disubmit tanda selesai mengerjakan.  Sayang sekali, meskipun soalnya terlihat mudah ternyata untuk mendapatkan nilai 10 sangatlah sulit. Meskipun tidak mudah ternyata ada saja peserta yang bisa meraih nilai 10 di setiap sesi evaluasi. Salut.

Kepanikan ini tidak hanya yang penulis alami,  karena di luar sana masih banyak guru-guru yang gagap alias gaptek lantaran baru kali inilah mengikuti pelatihan secara online (media daring) atau dalam jaringan.

Keempat, kesan selanjutnya setelah setiap sesi dilalui adalah rasa bangga. Rasa itu muncul karena ternyata begitu banyak ilmu dan informasi yang diberikan kepada penulis khususnya terkait mengidentifikasi anak-anak tuna grahita, bagaimana menggunakan teknologi informasi dalam pembelajaran, permainan bahasa, pemilihan bahan ajar dan lain-lain yang semuanya bisa kita peroleh dengan mudah. Namun demikian, karena waktu belajarnya terlalu pendek, maka para peserta merasa masih perlu banyak belajar lagi hingga pemahamannya semakin sempurna.

Kelima, terjalinnya komunikasi antar peserta. Boleh jadi kesan ini juga dirasakan oleh guru lain pasca mengikuti pelatihan guru pembelajar moda dari ini. Di mana dari sekian peserta ternyata mereka adalah guru-guru SLB yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Kiranya komunikasi antar peserta tidak sebatas moda daring semata, tapi semestinya juga berlanjut menjadi komunikasi atau interaksi yang intensif hingga menjadi komunitas yang solit dalam meningkatkan profesioalisme dalam pembelajaran.

Beberapa kesan ini hakekatnya sebagian kecil dari sekian banyak kesan yang mesti diungkapkan. Karena betapapun banyak kekurangan, sebuah program yang baik semestinya diapresiasi hingga terus dibenahi menjadi program yang benar-benar mewadahi bagi guru dalam meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran yang nantinya berdampak pada prestasi siswa yang lebih optimal.

Salam

Web Guru Pembelajar Online : https://gurupembelajar.id



Rabu, 12 Oktober 2016

Beberapa Olahan Singkong yang Perlu Dilestarikan

Gambar : Singkong salah satu kekayaan nusantara mesti dilestarikan (www.gen22.net)


Sebagaimana tulisan saya terdahulu, bahwa singkong merupakan salah satu bahan makanan yang bisa diolah sebagai pengganti beras. Di saat beras lumayan mahal karena harus mengimport dari luar negeri, keberadaan singkong menjadi sangat penting. Apalagi saat ini, dimana tanah-tanah persawahan mulai menyempit, maka dampaknya untuk memenuhi kebutuhan beras akan sulit dilakukan. Meskipun pemerintah berusaha mencapai swasembada beras tapi melihat stok beras nasional yang selalu kurang, menunjukkan bahwa saat ini keberadaan singkong tidak boleh diabaikan.

Terbukti  meskipun dalam keadaan panen raya, ternyata beras-beras import selalu saja memenuhi toko-toko sembako di negeri ini. Kondisi ini tentu menjadi alasan mengapa keberadaan singkong mesti diperhatikan lagi. Menjadikan singkong bukan hanya produk pengganti, karena bisa menjadi bahan makanan pokok yang amat baik bagi kesehatan.

Singkong adalah produk istimewa yang sejauh ini diabaikan begitu saja. Kita lebih memilih beras lantaran dianggap lebih baik. Padahal dilihat dari kandungan gizinya, singkong dan beras tidak seberapa jauh perbedaannya. Kedua bahan tersebut mengandung karbohidrat yang dibutuhkan oleh tubuh. Dan sayangnya masyarakat kita sudah kadung menganggap padi lebih baik dari singkong. Stigma yang salah yang semestinya tidak terjadi.

Dengan kata lain seolah-oleh kalau menghidangkan singkong di meja dianggap sebagai kelas bawah, padahal tidak ada kelas-kelasan dalam sebuah makanan. Kecuali nilai gizi atau penampilan yang ada.

Boleh jadi masyarakat saat ini cenderung menilai makanan dari penampilan semata, misalnya ketika disodori dua makanan, pertama singkong rebus dengan roti, masyarakat kita biasanya memilih roti. Padahal boleh jadi roti mengandung senyawa yang kurang baik. Seperti pengawet, pewarna dan pemanis buatan. Sedangkan singkong rebus, murni tidak menggunakan bahan pengawet, hanya ditambah dengan garam sebagai penambah rasa agar tidak terlalu hambar.

Beberapa hal inilah sejatinya yang memicu masyarakat menghindar dari makanan tradisional. Makanan tradisional amat baik untuk kesehatan tapi ditinggalkan karena mengikuti trend dan penampilan semata. Dan yang lebih naif lagi ternyata masyarakat selalu membandingkan dengan produk luar negeri yang kadang tidak tahu kandungan gizinya. Bahkan ada pula yang lebih ekstrim memberikan penilaian secara membabi buta, seperti kalau dari luar negeri sudah pasti bagus. Serta membandingkan makanan dengan harga yang ditawarkan.

Terkait harga juga menjadi fenomena aneh, satu gelas teh di buat sendiri seringkali dianggap tidak layak dibandingkan teh yang dibuat di restoran dengan harga yang jauh lebih mahal. Padahal semua teh adalah sama, justru teh buatan sendiri lebih sehat karena kita bisa mengontrol kebutuhan tubuh kita.


Adapun kandungan gizi singkong tidak bisa dianggap remeh, selain mengandung karbohidrat sebagai unsur utama, singkong mengandung protein, lemak, zat besi, vitamin B1, fosfor, kalsium, vitamin C dan bahan lain yang ada di dalamnmya. Sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di bawah ini:

Sumber : singkongday.wordpress.com


Beberapa hal di atas bisa menjadi alasan mengapa beberapa olahan singkong perlu dilestarikan. Singkong adalah kekayaan yang akan tetap ada jika masyarakat membudidayakannya. Dan tentu nilainya akan lebih berharga.

Adapun olahan singkong yang perlu dilestarikan adalah:

1. Getuk

Getuh merupakan olahan dari singkong yang lezat. Dengan pengolahan yang mudah, singkong bisa lebih bernilai dan layak dihidangkan di meja makan atau meja tamu. Tak hanya dihidangkan di rumah sendiri, karena getuk juga menjadi jajanan pasar. Sayangnya getuk belum bisa merambah pasar modern seperti swalan. Jika ada mungkin amat terbatas penjualannya.


Gambar: Getuk (startravelinternational.com)


Olahan ketika digigit rasanya pulen dan manis dan bisa dikombinasi dengan bahan lain misalnya coklat, tentu getuk menjadi olahan singkong yang lebih baik. Agar rasa manis tidak berlebihan, tentu pemberian gula disesuaikan dengan kebutuhan.  Dan tentu saja pewarnaan dengan warna yang aman menjadikan getuk memancing rasa lapar bagi yang melihatnya.

Saat ini keberadaan getuk sedikitnya mulai tergerus oleh zaman, masyarakat kita lebih menyukai makanan import seperti donat, dan roti dibandingkan makanan asli Indonesia ini.

Terang saja, karena semakin sedikit yang menikmati, maka penjual getuk semakin sulit dicari. Padahal sebagai kekayaan kuliner negeri ini, jangan sampai kekayaan yang berlimpah ini hilang karena produk-produk luar negeri.

Pengolahan yang lebih modern dan pengemasan yang baik akan meningkatkan penjualan getuk.

2. Kelanting

Jaman dulu, kelanting menjadi primadona muda-mudi ketika mereka bercengkrama. Rasa yang gurih dan sensasi gigitan klanting menjadikan klanting laris dipasaran.Saat ini klanting semakin variatif, karena bisa dikombinasi dengan keju atau coklat dengan harga yang sesuai maka klanting akan tetap lestari.
Meskipun demikian, faktor gengsi membuat klanting semakin ditinggalkan dan lebih memilih produk import.

Klanting dengan rasa yang gurih  (www.doyankuliner.com)


3. Kripik

Beruntung kripik saat ini menjadi semakin modern. Tidak sulit kita menemukan keripik singkong dengan aneka rasa dijajakan di swalayan, tentu dengan merek yang lebih modern. Dengan penampilan bungkus dan rasa yang beraneka itu keberadaan kripik singkong tetap terjaga keberadaannya.
Kripik dengan rasa pedas menggugah selera (Selbyfood.blogspot.com)

Kripik adalah kuliner nusantara yang jangan tergerus jaman. Jaman boleh berubah, tapi keripik semestinya tetap abadi di dada penghuni bangsa ini.

4. Sawut

Sawut adalah olahan tradisional dari singkong, jenis singkong yang dipilih tentu singkong yang tidak mengandung racun. Ada beberapa singkong yang beracun yang dalam pemafaatannya perlu berhati-hati dan tepat. Jenis singkong yang mengandung racun seperti N-30, Pandesi dan lain-lain. Jenis singkong ini memang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan industri besar.
Sawut dihidangkan dengan cara yang lebih menarik (resepmasakanlengkap.blogspot.com)


Untuk membuat sawut tidak sulit, ambil singkong yang manis dan tidak beracun, dikupas, dicuci hingga bersih, diparut memakai parutan khusus sawut. Setelah diparut dikukus hingga matang. Dalam mengukus bisa ditambahkan gula dan parutan kelapa agar lebih nikmat.

5. Krupuk singkong

Tidak sulit kita menemukan krupuk singkong. Biasanya konsumen membeli kerupuk jenis ini untuk dihidangkan dalam sebuah pesta pernikahan. Khususnya di perkampungan krupuk jenis ini masih mudah didapatkan.


Kerupuk singkong yang siap digoreng (dokter-ikm.blogspot.com

6. Gatot

Gatot disini bukan Gatot Brajamusti ya? Hehe. Tapi gatot  olahan makanan. Gator juga merupakan hasil olahan dari singkong, namun singkong terlebih dahulu dijemur hingga mengering kemudian dikukus dan diberi taburan parutan kelapa.

Rasanya yang unik menjadikan gatot salah satu alternatif kuliner nusantara.

Gatot siap untuk disantap (janaloka.wordpress.com)


7. Klepon

Semenjak sekola dasar saya menemukan klepon ini dijajakan di warung-warung makanan. Atau dibawa keliling dari satu tempat ke tempat lainnya. Dibuat sperti bekel dan diisi dengan gula dengan warna warni maka klepon menjadi santapan yang lezat untuk dinikmati.

Klepon yang lezat siap memanjakan lidah Anda (akumilo99.blogspot.com)

Akan tetapi, seiring perjalanan waktu, produk olahan singkong, seperti kerupuk singkong, klepon dan lain-lain sepertinya hampir punah dan saat ini  sudah mulai digantikan dengan bahan lain. Boleh jadi karena mungkin rasanya lebih gurih. Padahal kerupuk singkong pun kalau pengolahannya kreatif dengan aneka rasa maka kerupuk ini akan tetap berjaya. Tak perlu menggantikan bahan lain karena kerupuk singkong juga tidak kalah gurihnya.

8. Tiwul

Tiwul adalah makanan olahan dari singkong yang sampai saat ini masih berjaya. Banyak olahan tiwul, seperti tiwul dengan campuran gula merah dan parutan kelapa di atasnya, tiwul dengan sayuran dan lauk pedas, atau tiwul goreng dengan rasa yang lezat. Semua masih bisa dinikmati asalkan masyarakat dan kita peduli untuk melestarikan makanan asli Indonesia ini.


Beberapa olahan singkong ini sejatinya merupakan kekayaan kuliner nusantara. Kita boleh bangga dengan kekayaan yang berlimpah ini, tapi alangkah bangganya jika masyarakatnya mencintai dan melestarikan keberadaannya. Tidak tergoda oleh produk luar negeri yang sejatinya kandungan gizinya kita tidak tahu.

Kitalah yang bisa menjaganya dengan selalu meletakkan di meja-meja makan, meja tamu dan ruang-ruang rapat pemerintahan dan menikmatinya dengan rasa bangga. Karena tanpa upaya ini, maka keberadaan makanan ini lambat laun akan punah dan tinggal sejarah.

Tulisan ini belum semuanya mengangkat olahan dari singkong, karena boleh jadi di tempat lain di penjuru negeri ini, singkong menjadi olahan yang lebih banyak variasinya dan lebih menarik untuk dihidangkan.

Apakah Anda tertarik untuk mengolah dan menikmati sajian dari bahan singkong?

Salam

Selasa, 11 Oktober 2016

Tiwul, Penganan "Ndeso" yang Naik Pangkat

Gambar : Tiwul Urap, Salah satu cara menghidangkan tiwul

 
Nusantara selalu saja menarik untuk tempat bermanja dan bernostalgia. Bagaimana tidak, karena di negeri ini segalanya ada. Baik yang berhubungan dengan budaya, khususnya bahan pangan yang berserak di seluruh penjuru negeri. Juga aneka cara masyarkatnya meraciknya menjadi menarik dan menggoda.

Berbicara mengenai bahan pangan yang sampai sejauh ini masih sering penulis temukan adalah tiwul. Yap, tiwul adalah olahan makanan dari singkong atau ubi kayu yang dibuat dengan cara tradisional. Olahan makanan ini berasal dari ubikayu yang dikupas dulu, kemudian di jemur hingga kering menjadi gaplek. Setelah ditumbuk dan di ayak agar mendapatkan butiran-butiran kecil, dimasak (dikukus) hingga matang dan siap dikonsumsi.

Cara pembuatan makanan yang tidak terlalu sulit tapi ribet. Istilah Jawanya "ruwet" alias rumit karena membutuhkan ketelatenan. Jadi membuat tiwul ini sejatinya tidaklah sulit seperti yang dibayangkan, tinggal melihat, mencoba sebentar insyaAllah akan bisa melakukannya.

Tiwul merupakan kreasi bahan olahan makanan dari singkong yang awalnya sebagai bahan makanan pokok selain beras (nasi). Karena menanam singkong lebih mudah dibanding padi, maka masyarakat perdesaan lebih membudidayakan singkong. Saat ini singkong termasuk bahan makanan yang cukup diminati berbagai kalangan. Selain karena murah, rasanya yang enak, karena kandungan gula yang sedikit menjadi alternatif bahan konsumsi bagi orang-orang yang menderita diabetes.

Penulis mengingat betapa menikmati tiwul itu butuh kesabaran, pada waktu masih belasan tahun, dimana penulis tinggal di perkampungan yang rata-rata adalah petani singkong. Jadi konsumsi sehari-hari adalah tiwul.  Meski demikian ternyata proses pembuatan tiwul cukup menyita waktu.

Sebab untuk menikmati tiwul mesti melalui proses yang panjang. Berbeda jika singkong hanya direbus atau dibuat getuk lindri, pembuatan tiwul lebih lama lantaran membutuhkan berhari-hari hingga bisa dinikmati. Misalnya untuk mendapatkan tiwul satu kilogram saja harus menyiapkan setidaknya dua kilogram singkong basah bahkan lebih, karena singkong basah mengandung banyak air, dan melalui proses pengeringan itu berat singkong menyusut banyak.

Setelah dikupas singkong tadi dijemur. Jika panasnya cukup terik, singkong tadi bisa kering dalam waktu satu hari. Setelah itu direndam hingga semalam agar bisa empuk untuk kemudian ditumbuk. Nah, jika sudah ditumbuk sampai hancur, kemudian diayak atau dibuat menjadi butiran-butiran kecil seperti manik-manik, dan setelah semuanya jadi kemudian di jemur lagi.

Jika hendak memasak, butiran tiwul tadi dipususi (dicuci dengan air) untuk menghilangkan kotoran yang melekat seperti serat singkong yang turut terolah.

Beberapa saat kemudian setelah di masak (di dang) tiwul sudah siap dihidangkan. Cara menghidangkan caranya ditaruh di tempat yang lebar agar cepat menguap dan mendingin dan agar tidak lengket. Dengan lauk sambal ikan asing dan daun singkong atau sayuran lain di rebus maka tiwul bisa dinikmati.

Itulah bagaimana masyarakat tempo dulu menikmati singkong dengan cara dibuat tiwul.

Saat ini tiwul mulai naik pangkat

Era tempo dulu, tiwul memang termasuk makanan kelas rendahan atau makanan orang desa. Padahal sejarahnya makanan ini dibawa oleh masyarakat Jawa yang transmigrasi ke pulau-pulau di seluruh nusantaran. Termasuk di Sumatera masyarakat Jawa masih melestarikan tiwul ini. Meskipun sebagian masyarakat yang sudah maju lebih memilih nasi atau roti daripada makanan tradisional ini. Jika mereka kangen, maka cukup mencarinya di kedai-kedai yang masih bertebaran di pasar-pasar tradisional.

Menariknya, meskipun tiwul dianggal murahan dan ndeso, ternyata saat ini keberadaannya sudah semakin diminati. Saya temukan di sebuah restoran juga disiapkan tiwul ini. Entah apa karena pesanan dari pelanggan atau apa. Yang pasti ternyata tiwul masih cukup digemari.

Selain di restoran, rumah makan, atau kedai, tiwul saat ini harganya juga mulai mahal. Dulu untuk menikmati sepiring tiwul cukup dengan uang dua ribu rupiah. Sekarang untuk satu porsi bisa mencapai dua belas ribu rupiah. Harga yang cukup mahal untuk ukuran masyarakat kampung seperti saya.

Boleh jadi mahalnya harga tiwul karena singkong juga relatif mahal yang mencapai harga 1.500 per kilogram. Meskipun saat ini harga singkong sudah turun hanya 500 per kilogram, ternyata harga tiwul masih bertahan. Selain karena harga bahan baku yang mahal, boleh jadi karena proses pembuatannya yang rumit dan perlu kesabaran.

Meskipun saat ini teknologi sudah modern, sepertinya masyarakat lebih memilih cara-cara tradisional karena dianggap lebih enak dinikmati.

Bangganya lagi, karena tiwul sebagai bahan makanan pengganti yang sedianya digagas oleh pemerintah sebagai alternatif kelangkaan beras dimana beras saat ini sudah mulai jarang dan kebanyakan import.

Untuk para pengusaha makanan, ada baiknya Anda mencoba kuliner tradisional ini sebagai alternatif santapan yang unik. Selain unik bagi pengidap diabetes disarankan menggunakan tiwul sebagai bahan makanan pengganti nasi karena kadar gulanya lebih rendah.

Salam



Minggu, 09 Oktober 2016

Ahok Panik Melawan 2 Kandidat Ganteng, Salah Ambil Jurus Mabuk

Ahok (republika.co.id)


Masih hangat fenomena pelecehan Ahok terhadap ayat Al Qur'an yaitu surat Al Ma'idah ayat 51, yang intinya agar umat Islam memilih yang seiman atau jangan memilih pemimpi kafir. Yaitu pemimpin yang ingkar pada Firman Allah SWT. Pemimpin yang berani melanggar Titah-titahNya. Sedangkan umat Islam memaknai tidak memilih yang kafir berarti otomatis "harus" memilih pemimpin yang muslim. Meskipun dalam tataran politik ada hal-hal yang membuat perbedaan pemaknaan tentang "kafir" itu sendiri.

Ahok mengatakan bahwa umat Islam jangan mau dibodohi dengan surat Al Ma'idah ayat 51 agar tidak memilihnya. Pernyataan itu disampaikan ketika melakukan pertemuan dengan warga di Kepulauan Seribu.

Akibat pernyataan yang "kelewatan dan asbun (asal bunyi)" ini,  terang saja memancing emosi  umat Islam. Tak hanya umat Islam di Jakarta saja yang marah karena di daerah lain pun merasakan hal yang sama. Amarah lantaran kitab suci yang diagung-agungkan dan dipedomani umat Islam ini telah dilecehkan. Dampaknya, sampai saat ini posisi Ahok semakin tersudut dan sulit. Karena kata-kata sedikit, namun menyakitkan, maka rusaklah kepercayaan masyarakat muslim terhadap gubernur DKI. Jakarta yang juga saat ini tengah mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di provinsi tersebut.

Terlepas dari itu semua, penulis melihat ada kepanikan yang muncul dari wajah Ahok, dimana sebagai calon dari petahana ternyata sepak terjangnya sudah terbaca bahwa ia ingin memanfaatkan fasilitas negara dengan enggan menurut aturan PKPU bahwa pejabat daerah yang hendak mencalonkan diri sebagai calon kepala daerah atau wakilnya semestinya mengambil cuti atau mengundurkan diri.

Alasan inilah boleh jadi membuat Ahok panik dan pusing tujuh keliling. Belum lagi dengan desakan dan penolakan dari kalangan bawah (grass root) akibat penggusuran yang dilakukan Gubernur yang tekenal keras dan frontal ini. Tentu saja karena arus bawah sudah melakukan perlawanan maka Ahok menduga suara arus bawah yang hakekatnya bisa menjadi kantung suara justru bisa berantakan entah kemana dan mereka bisa saja memilih dua calon yang lain yaitu Anies - Uno atau Agus - Silviana.

Selain karena panik dengan aneka desakan dari aturan tentang pilkada dan  penolakan dari arus bawah, ternyata kepanikan Ahok disebabkan dua calon lawannya adalah bukan orang sembarangan.

Keduanya merupakan tokoh politik yang sudah kenyang dengan pengalaman. Selain ganteng dan cantik, usia mereka masih tergolong muda sehingga mau tidak mau Ahok menjadi kurang percaya diri. Anies Baswedan sudah pernah menduduki Mendikbud di era Jokowi dan Sandiaga Uno adalah seorang pengusaha sukses. Sedangkan calon lain yang masih muda adalah Agus Harimurti dan Silviana adalah dua sosok yang juga kenyang pengalaman.

Agus adalah sosok muda yang masih segar untuk menjadi pemimpin daerah sedangkan wakilnya juga memiliki pendidikan yang juga tinggi. Dengan bekal pendidikan kemiliteran yang disiplin, maka bisa menjadi ruang untuk mengejawantahkan ide-ide konstruktif demi kemajuan ibukota.

Kedua calon pesaing ini memakai cara-cara yang santun dan ramah demi mendapatkan suara rakyat. Berbeda 180 derajat dengan cara-cara Ahok yang cukup kasar dan frontal.

Beberapa faktor inilah yang justru memancing kepanikan Ahok. Dampaknya Ahok ingin menggunakan jurus mabuk tapi justru terlalu banyak meminum Arak. Akibatnya cara berpikirnya tidak lagi terukur dan lepas kendali.

Hebatnya jurus mabuk hanya di dalam film

Benarkah jurus mabuk masih layak ditiru dalam perpolitikan di abad ini? Seolah memancing energi lawannya agar lawannya bertekuk lutut karena kecapean atau kelelahan. Si pendekar mabuk memanfaatkan kemabukannya untuk menipu lawannya. Lawan beranggapan gerakan si pendekar sudah benar tapi ternyata salah duga. Karena salah duga maka aneka pukulan dan tendangan justru mengenai lawannya hingga lawannya jatuh.

Jika melihat jurus mabuk di film-film China saya selaku penggemar film ini hanya bisa melihat sebagai hiburan karena memang unik. Tapi jika jurus mabuk ini dijadikan contoh calon kandidat yang hendak bersaing, tentu merupakan preseden buruk. Mereka ingin menjatuhkan lawannya tanpa didasari kesadaran. Dan sudah pasti mereka merencanakan program kerjanya didasarkan pada aksi mabuk. Sedangkan mabuk itu hilang kewarasannya.

Ahok mungkin berpendapat dengan jurus mabuk ia bisa memenangkan laga, tapi sayang sekali justru menyakiti calon pemilihnya. Belum lagi kitab suci umat Islam yang dijadikan mainan, maka alamat buruk bisa terjadi padanya.

Kalau Ahok ingin mendapatkan kembali simpati warga Jakarta, entah akan memilih atau tidak semestinya ia meminta maaf karena telah salah berucap. Karena tidak ada manusia yang tidak luput dari salah dan khilaf.  Salam


Melecehkan Al-Qur'an, Ahok Menggali Lubang Sendiri

Sumber: kupang.tribunnews.com



Miris sekali fenonema saat ini. Ahok yang sampai seajauh ini  dianggap oleh pengagumnya sebagai sosok yang sering berbicara kasar ini, eh tiba-tiba terkena karmanya sendiri. Karma yang sejatinya amat dekat pada sosok-sosok yang banyak membuat angkara murka. 

Orang yang begitu dielu-elukan oleh pemilihnya karena dianggap tokoh yang bisa membangun ibukota dengan konsep yang cerdas nyatanya di akhir periode ini justru memancing kontradiksi. Tanpa disadari atau mungkin sudah terstigma dalam fikiran tentang umat Islam dan ayat-ayat dalam Al Qur'an, tanpa disengaja menyebut bahwa Al Qur'an sudah membodohi rakyat karena melarang memilih Ahok yaitu surat Al Maidah ayat 51 . Sebagaimana banyak dirilis oleh media mainstream dan diupload di youtube.com.

Padahal dalam ayat itu sudah jelas memang umat Islam dilarang memilih pemimpin kafir di antara mereka. Mengapa? Karena bagaimanapun hebatnya orang yang sudah menyekutukan Tuhan maka dia berarti sudah menghianati cintanya terhadap Tuhannya. Dan sudah dapat dipastikan golongan ini akan menghianati pemilihnya, atau bangsanya sendiri.

Semua orang berhak menentukan pilihannya, karena kesamaan agamanya tanpa harus dibuat ragu. Karena keimanan seseorang bersumber dari kitab suci yang dipedomaninya. Dan semua agama pun meyakini hal ini. Jadi amat wajar jika umat Islam memilih pemimpin yang Islam pula.

Apalagi pemimpin akan berkaitan dengan agamanya, jika umat Islam maka secara otomatis memikirkan bagaimana membangun umatnya pula. Meskipun dalam perjalanannya nanti tidak boleh diskriminatif dengan pemeluk agama lain lantaran itu melanggar undang-undang.

Ibarat kata, bagaimana bisa diharapkan kepemimpinannya membela agama Islam jika dia sendiri antipati dengan agama ini. Meskipun berkoar-koar tidak boleh mengatasnamakan SARA tapi di lain waktu selalu menggunakan simbol agama demi meraih suara dan bertindak diskriminatif.

Terbukti, meskipun masyarakat Jakarta dari golongan bawah sudah berbondong-bondong memilih tokoh ini, ternyata justru diperlakukan tidak manusiawi, digusur dan dipaksa untuk menempati rumah susun yang harus menyewa. Padahal sebelumnya di antara mereka ada yang sudah memiliki tempat tinggal, tapi dengan terpaksa harus meninggalkan rumahnya sendiri demi harus mengontrak di sebuah rumah susun.

Karena pernyataan yang sudah menyinggung umat Islam itu, muncullah beragam reaksi kekecewaan karena Ahok sudah melecehkan umat Islam dan tentu Al Qur'an itu sendiri. Bahkan tak hanya umat Islam yang geram, karena para tokoh agama termasuk MUI memberikan pernyataan kecewa karena Ahok sudah melakukan tindakan provokatif SARA. Yang tentunya bisa berujung sentimen kepada agama tertentu karena ungkapan yang amat tidak layak diucapkan itu. Maka sewajarnya, hukum yang semestinya sebagai panglima harus mengadili tindakan yang amat rendah ini.

Dengan hadirnya video penghinaan Ahok itu maka mau tidak mau umat Islam pun mulai berpikir bahwa selama ini memang Ahok telah melecehkan umat Islam dan tanpa sadar terlontar kata-kata bahwa ia benar-benar tidak ingin umat Islam mempedomani Al-Qur'an.

Ahok geram karena dianggap memfitnah, padahal rekaman video menunjukkan bahwa Ahok benar-benar telah melecehkan Kita Suci umat Islam tersebut.  Dan faktanya tidak ada bukti bahwa penguploud video sudah merekayasa, karena justru Ahok sendirilah yang sudah memancing-mancing persoalan SARA, di masa-masa ibukota hendak menyelengarakan hajat Pilkada.

Masyarakat muslim pun menyatakan kekecewaannya, meskipun ada beberapa orang yang justru membelanya habis-habisan. Dengan alasan yang bersifat klise meyakinkan semua orang bahwa Ahok tidak bermaksud menghina. Meskipun sudah jelas bahwa kata-kata yang dilontarkan itu benar-benar pelecehan.

Bagaimana tidak melecehkan, kalau secara terang-terangan mengatakan bahwa surat Al Maidah ayat 51 itu membodohi warga agar tidak memilihnya. Padahal apa yang disampaikan dalam AlQur'an adalah kebenaran.


Ketika berbicara tidak menggunakan etika, maka keruntuhan adalah akibatnya

Perlahan tapi pasti, konsentrasi masyarakat saat ini mulai ke arah yang lebih fokus. Di mana di awal-awal pencalonannya begitu banyak umat Islam yang berusaha netral terhadap para calon Kepala Daerah yang tidak memandang agamanya, ternyata sejauh ini semakin terpecah.

Keterpecahan ini diawali oleh sikap dan kata-kata yang tidak layak diucapkan oleh seorang Ahok sebagai calon kepala daerah meskipun seorang petahana. Dan seandainya saat ini masih menjadi pejabat daerah, tapi dukungan masyarakat bisa saja melorot dan anjlok ke dasar yang paling bawah. Semua disebabkan karena kata-kata Ahok yang menghina kita suci Al Qur'an.

Andaikan saja Ahok tidak memunculkan sikap sentimentil dan bersinggungan dengan SARA maka reaksi penolakan massa tidak akan terjadi. Meskipun ia tetap teguh mengatakan tidak melecehkan tapi nasi sudah menjadi bubur, dan umat Islam sudah terlanjur kecewa dan tahu betapa selama ini Ahok berusaha menjauhkan umat Islam dari agamanya. Ahok ingin umat Islam tidak lagi berpedoman pada Al-Qur'an dengan alasan Pancasila. Padahal selama ini masyarakat meyakini bahwa Pancasila pun berkiblat pada Al Qur'an.


Hal lain yang patut dicermati dari reaksi masyarakat ini adalah karena ucapan yang dilontarkan jelas-jelas menyinggung perasaan umat Islam, maka dampaknya akan menjatuhkan kredibilitas Ahok di mata publik khususnya Umat Islam. Karena secara peta politik, umat Islam tetap menjadi pemilih terbanyak. Meskipun pada tataran pemilihan saat ini suara umat Islam sudah terpecah antara Anis - Uno dan Agus - Silviana yang tentu masih memunculkan segala macam kemungkinan.

Kalau putaran pertama pemilih sudah bertekad bulat memilih yang seagama maka berdampak pada peroleh suara pada kedua calon tersebut akan semakin bulat dan kemungkinan besar Ahok kehilangan suaranya. Kecuali ada permainan politik yang biasanya ada permainan curang yang berakibat pada perubahan suara di tingkat TPS.

Ketika hendak berlaga, tahan diri untuk tidak menyulut SARA

Sekali lagi masalah SARA merupakan masalah pelik dan rumit serta sensitif di luar persoalan sukuisme, karena selama ini kebanyakan pemilih akan memilih calon yang berasal dari satu agama. Apalagi memilih sesama agama adalah keharusan dan kebutuhan agar kebijakan publik pun memperhatikan nilai-nilai agama yang dianut.

Seperti bagaimana Ahok berusaha melegalkan peredaran miras di Ibukota, yang dengan alasan peredaran dibatasi hanya wilayah-wilayah tertentu. Padahal dalam Islam, miras adalah haram dan sejatinya harus dijauhi dan dilarang peredarannya. Jika hendak dilegalkan tentu melawan aturan undang-undang dan kitab suci sendiri.

Belum lagi pernah munculnya wacana dibuatkan perda tentang peredaran daging anjing. Meskipun terjadi penolakan, ternyata sikap Ahok ini pun memancing umat Islam. Hal-hal yang sensitif inilah yang memunculkan sentimen SARA dalam Pilkada, karena pada prinsipnya agama apapun yang dianut maka akan mempengaruhi sebuah kebijakan daerah itu.

Begitu pula terkait ucapan Ahok terhadal Al Qur'an, karena imanlah umat Islam tersulut emosi dan bereaksi karena kitab sucinya telah dilecehkan. Persoalan yang sejatinya tidak perlu muncul ketika masyarakat harus menahan diri dari persoalan SARA justru Ahok sendiri justru melakukan pelecehan kitab suci secara terang-terangan. Dampaknya tentulah umat Islam akan berantipati dan menarik dukungannya pada pemilihan kepala daerah DKI Jakarta 2017 mendatang.

Boleh jadi Ahok menganggap tidak bermasalah ketika proses Pilkada nanti, tapi suara umat Islam tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena secara de-facto umat Islam akan tersinggung jika agama dan kitab sucinya dilecehkan.

Salam damai



Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!