Senin, 14 Desember 2020

Benarkah Tribunnews[dot]com Dihack atau Dibajak?

Tangkapan layar tribunnews.com (dokumen pribadi)


Baru kali ini mata saya terbelalak atau dibuat kaget, lantaran sebuah situs atau media berita online nasional sudah tidak bisa dibuka. 

Situs berita online tersebut adalah Tribunnews.com dengan alamat https://www.tribunnews.com/regional/2020/11/09/dapat-bantuan-bedah-rumah-dari-pemerintah-keluarga-ini-tak-punya-uang-untuk-bayar-tukang-bangunan

Saya tidak sengaja membuka-buka situs atau berita, lantaran penasaran dengan informasi bahwa bantuan bedah rumah yang berasal dari pemerintah justru membuat satu keluarga bercerai. Alasannya karena tidak mampu membayar ongkos tukang bangunan.

Entah sejak kapan kejadian ini saya kurang begitu mengetahui, lantaran tak sengaja ketika berselancar di dunia maya dan bertanya-tanya terkait bantuan bedah rumah, ternyata beritanya sudah tidak bisa diakses. Dan anehnya lagi di halaman berita itu muncul tayangan yang tidak biasa dengan tulisan Hacked By Astarganz dan ditengahnya tertulis "Aku menyukai seseorang sayangnya keduluan :(.  Sedangkan di akhir gambar tertulis @Exploiters-Team!-GalauCrew-Mr.BlackX12.

Melihat situs yang terkenal ini diretas, saya menduganya karena ada pihak yang iseng atau ngerjain lantaran beritanya terlihat menyudutkan pihak tertentu atau memiliki tendensi bahwa bantuan pemerintah yang seharusnya untuk membantu warga miskin yang butuh rumah, ternyata harus mengalami kenyataan pahit harus cekcok dan berujung pada perceraian.

Sejak pertama kali tulisan ini ditayangkan, saya belum melihat membaca rilis dari pihak Tribunnews..com apakah status peretasan itu murni karena iseng atau karena faktor lain. Dan ketika saya buka kembali statusnya masih sama dan belum pulih seperti sedia kala.

Semoga saja tribunnews.com segera pulih dari peretasan. 

Link:

https://www.tribunnews.com/regional/2020/11/09/dapat-bantuan-bedah-rumah-dari-pemerintah-keluarga-ini-tak-punya-uang-untuk-bayar-tukang-bangunan




Jumat, 04 Desember 2020

Cara mengatasi lele yang mati mendadak, auto sehat

Selamat pagi teman-teman peternak lele. Semoga usaha kita sukses selalu ya. 

Kali ini saya ingin membagi pengalaman bagaimana mengatasi lele yang tiba-tiba mati atau banyak yang mengambang.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, silakan tonton video berikut ini sampai habis.




Cara Mudah Merekam Layar Ponsel Gak Pake Ribet

Bagaimana ya cara merekam layar? Kok, saya susah melakukannya.

Pernahkan Anda curhat atau mendengar curhatan teman, kalau mereka sulit merekam layar ponselnya? Yap. Sepertinya kita akan pernah mengalami kesulitan.

Inginnya merekam layar ponsel cukup menekan tombol min (-) plus power, nyatanya yang tersimpan hanya berbentuk foto. Padahal inginnya gak hanya foto, tapi video pun seharusnya bisa kita rekam dengan mudah.

Nah, jika Anda menemukan masalah cara merekam video pada layar ponsel, maka cukup gunakan aplikasi Mobizen dalam ponsel android kita semua bisa dikerjakan dengan mudah.




https://youtu.be/I5ZcNFx-8VE

Rabu, 26 Agustus 2020

Guru Menulis dan Terapi Lelah

 




GURU MENULIS DAN TERAPI LELAH


 

Dalam dunia pendidikan, sosok guru menjadi salah satu soko guru yang mendukung berhasilnya tujuan pendidikan itu sendiri. Karena berjalannya roda pendidikan dan aktualisasi pelaksanaan tujuan pendidikan itu juga dipengaruhi oleh guru.  Maka dari itu, keberadaan guru, sangatlah bersentuhan dengan aneka rencana, tugas dan target-target yang harus dipenuhi secara optimal.

Guru adalah sosok yang setiap harinya bergelut dengan profesi yang sangat menguras energi. Bagaimana mereka setiap hari harus menyusun rencana pembelajaran, melakukan tatap muka dengan pembelajaran bersama para siswanya, melakukan evaluasi atau penilaian, serta refleksi, yang semua itu membutuhkan kerja keras guru dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Sebagaimana dijelaskan oleh Jamal Ma’mur Asmani, bahwa “Guru adalah aktor utama perubahan di tengah masyarakat. Guru juga kreator kader-kader masa depan yang mewarnai peradaban manusia. Besar tanggung jawab guru harus didukung oleh kualitas sumberdaya manusia yang memadai, baik wawasan, skill, moral, kapasitas, dan integritas keilmuannya. Kualitas tesebut akan mendorong guru untuk berbuat dan berkarya yang terbaik demi keharuman individu, bangsa dan dunia.”

Maka dari itu, mengingat begitu beratnya beban guru dalam mengaktualisasikan prinsip atau semboyan ing ngarso sung tulodo (didepan memberikan teladan), ing madyo mangun karso (di tengah memberikan dukungan), turwuri handayani (di belakang memberikan dorongan), dengan menerapkannya sebagai fasilitator, motivator dan dinamisator pendidikan, maka sangat memungkikan setiap guru akan mengalami kelelahan dan kejenuhan dalam menjalani rutinitas profesinya.

Sebagaimana yang terjadi pada guru pada umumnya, di saat menjalani segenap tugas keprofesian maka mereka akan menemukan aneka persoalan. Baik persoalan yang berasal dari tugasnya sebagai pendidik, juga persoalan dalam lingkup kehidupan keluarga dan masyarakat. Baik yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi guru dalam mengatasi hambatan belajar pada siswa, juga menghadapi persoalan keluarganya.

Dengan segenap persoalan tersebut apakah seorang guru akan begitu saja menyerah dalam kondisi yang menjadi beban tugas dan kehidupannya? Atau berusaha mencari alternatif terapi yang akan menyembuhkan rasa lelah fisik, fikiran maupun jiwa tenaga profesional ini? Jawabannya tentu tidak, mereka harus sepenuhnya mencari kiat-kiat agar embanan amanah bagi tugas-tugas keprofesian tersebut tidak terkendala. Salah satunya adalah dengan menulis.

Banyak ahli yang mengatakan bahwa  menulis adalah bentuk pengobatan atas tekanan-tekanan dalam kehidupannya. Ada juga berpendapat bahwa menulis sebagai bentuk terapi kejiwaan bagi penyandang tekanan kerja. Dan menulis adalah terapi yang paling murah dan mudah untuk proses relaksasi persoalan yang dihadapinya.

Satu persoalan saja yang bisa dilewati dengan mudah ketika guru merasa jenuh dalam tugasnya, maka mereka akan menulis pengalamannya dalam diary-diary pribadi. Rasa-rasanya beban persoalan dan pengalaman yang boleh jadi kurang baik begitu mudahnya untuk dituliskannya. Satu masalah bisa selesai hanya dengan menuliskannya dalam sebuah catatan kecil tersebut. Apalagi ada guru yang terkadang tidak mau mengungkapkan persoalannya pada orang lain karean alasan privasi.

Lain halnya jika guru tersebut setiap harinya ingin menceritakan semuanya tanpa rasa malu dan tanpa ada yang harus ditutupi ketika menghadapi tekanan dalam pekerjaan misalnya. Maka mereka cukup dengan membagikan cerita keluh kesah kepada orang lain. Meskipun belum tentu juga orang lain akan mampu menyelesaikan persoalan orang lain. Permasalahannya adalah setiap orang memiliki masalah yang sama, dan cenderung tidak mau mendapatkan beban masalah yang sama dari orang lain.

Setelah mereka menuliskannya dalam catatan pribadi, biasanya akan membuat catatan lain yang akan memberikan solusi kongkrit atas persoalan yang dihadapi. Tentu saja ada rentang waktu yang bisa dihabiskan untuk menyelesaikan tahap demi tahap paling sederhana.

Mengatasi persoalan pribadi dengan menuliskannya dalam catatan pribadi merupakan salah satu terapi lelah atas beban tugas yang dihadapi seorang profesional ini.

Selain persoalan yang bersifat individual, seorang guru selalu akan menghadapi gejala-gejala yang mengarah pada persoalan lain dari diri siswanya. Bagaimana siswa menemukan masalah yang ternyata ketika dilakukan pembelajaran konvensional tetap saja mengalami jalan buntu. Maka sang guru mau tidak mau akan mencari alternatif pemecahan masalah dengan membuat penelitian. Mereka melakukan pengamatan secara seksama bagian-bagian mana yang oleh siswa belum dipahami dan belum mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Ditelusuri permasalahan mendasarnya apa, yang kemudian mencari media atau metode pembelajaran yang bisa menjadi solusi atas persoalan siswa.

Setelah menemukan aneka permasalahan, maka guru bisa menentukan satu permasalahan pokok yang dialami siswa. Misalnya siswa tidak bisa membaca kalimat panjang. Maka dengan metode dan media tertentu  guru paling tidak berusaha mencari solusi yang pada akhirnya rasa lelah dalam membimbing siswa dapat terobati.

Pada prinsipnya semua berharap berjalan dengan begitu dinamis. Namun fakta di dunia kerja seringkali bertentangan dengan apa yang guru inginkan.

Seorang guru teladan, Arif Rachman pernah berkata “ Kita juga berharap semua hal bisa dikendalikan dengan mudah. Termasuk lingkungan kerja kita. Kita berharap kondisi yang ideal, sehingga semuanya sesuai dengan yang kita harapkan. Tetapi kenyataannya, seringkali kondisi yang kita rasakan berbeda dari yang kita harapkan. (Dalam Arif Rachman, Guru, hal. 86)

Pada saat proses penyelesaian masalah pembelajaran ini, sangat dimungkinkan seorang guru membangun relasi dengan guru lain, atau melibatkan orang tua atau masyarakat, agar persoalan yang muncul bisa diatasi dengan semangat gotong royong memperbaiki masalah secara bersama-sama. Dan tentu saja sangat mendukung proses relaksasi fikiran kita dan tentu terapi persoalan yang ditemui setiap guru dalam mengembangkan tugas “sucinya” yaitu membangun peradaban manusia yang seutuhnya.

Menyelesaikan Tekanan Kerja, dalam Sebuah Karya Tulisan

Secara umum, para guru menganggap pekerjaan mereka biasa saja, tidak ada yang istimewa dan hanya pekerjaan rutin yang tidak memberikan kepuasan batin. Dan tidak sedikit para guru yang menganggap profesi yang digeluti sangat membosankan dan bahkan memuakkan.

Maka tidak jarang seorang guru menjalani rutinitas kerja dengan rasa lelah yang sangat karena terlalu banyak persoalan yang tidak bisa mengurai satu persatu persoalannya. Atau mengalami kebuntuan ketika bidang tugasnya tidak menghasilkan prestasi yang memuaskan. Belum lagi jika dikaitkan dengan penghasilan, seorang guru acapkali mendapati persoalan penghasilan ini menjadi beban yang tidak berujung pada solusi.

Tidak menampik bahwa seberapa penghasilan yang didapat, dianggap tidak mencukupi kebutuhan hidupnya—karena kebutuhan yang juga melonjak. Padahal seberapa pun besarnya gaji yang didapatkan seseorang, jumlah itu tidak akan pernah berhasil memuaskan orang tersebut.Gaji yang bertambah biasanya diiringi dengan keinginan yang bertambah. Bahkan, gaji sering kali satu langkah kalah cepat dibandingkan keinginan atau kemauan. Sangat sedikit orang yang berpikir dan berkata cukup untuk hal yang menjadi keinginannya. (Arif Rahman)

Namun demikian, apakah setiap guru dilarang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih di luar gaji yang diterima? Tentu tidak. Bahkan dalam ajaran Al Qur’an saja disebutkan:

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Bahwa setiap orang diperintahkan bekerja atau memenuhi segala macam kebutuhan hidupnya, dengan cara baik dan halal. Baik itu yang melingkupi tugas pokoknya, atau penghasilan tambahan yang juga membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Maka dari itu, bagaimana seorang guru bisa menyelesaikan persoalan lain terkait kehidupannya, tentu mencari sumber lain yang bisa menjadi alternatif penghasilan yang dapat menunjang kehidupan mereka.  Salah satunya kebiasaan menulis. Mengisi kegiatan menulis yang berhubungan dengan tugas-tugasnya di sekolah dan masyarakat, juga memanfaatkannya sebagai ajang mendapatkan penghasilan yang halal. Menulis dan membukukan setiap moment yang dijalani, untuk mengikat memori atau ingatan dalam sebuah karya yang bermanfaat.

Dengan kata lain, setiap guru adalah manusia yang memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain, mereka membutuhkan kebutuhan materi dan immateri, mereka membutuhkan kenyamanan dalam bekerja dengan target yang terpenuhi, dan membutuhkan kenyamanan kehidupan karena ekonomi yang juga tercukupi. Asalkan tidak mengganggu tugas pokok sebagai tenaga pendidik.

Akhir kata, setiap guru akan mengalami kondisi yang normal dengan masalah kehidupannya. Kelelahan psikis maupun fisik, juga kelelahan dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Maka salah satu solusinya adalah dengan menulis. Menulis yang bisa membangun kualitas guru sebagai tenaga profesional, dan kualitas kehidupannya sebagai manusia yang bermartabat dan mapan dalam finansial.

Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag (Guru SLB Negeri Metro, Lampung)

---------------------------------------

Catatan kaki:

Jamal Ma’mur Asmani, Tips Sukses PLPG Pendidikan dan Latihan Profesi Guru. Diva Press, Jakarta, 2011.

Arif Rachman, Guru, Erlangga, Jakarta, 2015.



 

 

Cerpen: Sahabat Yang Berbeda Jalan Pengabdian

 #Cerpen, Fiksi

Sahabat Yang Berbeda Jalan Pengadian

 


Pagi ini begitu sejuk untuk dirasakan. Angin yang berhembus lembut, menerpa kulit setiap orang di sana. Di sebuah rumah berdinding bambu dengan wujud yang sederhana itu nampak dua orang tengah duduk santai sambil menikmati kopi.

Rumah yang dipenuhi oleh ornamen adat jawa itu nampak sangat terawat. Meskipun sebagian mulai lapuk oleh rayap yang nakal, nyatanya karena ketelatenan pemiliknya, nampak itu tetap terlihat menarik. Memancing siapapun untuk melihatnya karena penasaran.

Di depannya beberapa bunga nampak subur terawat. Bunga mawar yang terus mekar, seperti menyiratkan betapa rumah tersebut selalu memekarkan diri, menghiaskan diri dengan keindahannya. Sama seperti penghuninya yang selalu saja membuat orang-orang di sekitarnya kagum karena kesederhanaannya.

Mereka adalah Amir, seperti orang-orang menyebut namanya kala memanggil. Ia ialah seorang guru ngaji di kampungnya. Setiap sore hari kakinya selalu melangkah ke mushala kecil. Di sana anak-anak sudah menanti untuk belajar abata dari sang guru. Jika soreha hari, anak-anak sudah menanti kehadirannya dengan sabar. Ada banyak senyum yang memancar di sana.

“Mas Amir lagi ngapain to? Ada sosok yang di sisi jalan depan rumah itu tiba-tiba menegur.  Laki-laki itu mengenakan setelan kaos dan celana panjang warna hitam.

“Biasalah, duduk-duduk sambil minum kopi.” Jawabnya sederhana.

“Mau kemana? Kog seperti terburu-buru? tanya Amir lagi.

“Sini lho mas, ngopi bareng kita. Mantap  pagi-pagi ngopi. Ajak Amir pada pria itu. Pria itu adalah Maman, temannya sedesa yang pernah aktif membangun majelis taklim di desanya. Sayangnya beberapa bulan terakhir si Maman mundur dari kepengurusan. Kurang jelas apa masalahnya. Tapi di akhir tugasnya itu Maman memang pernah berdebat soal negeri khilafah. Maman bersikukuh bahwa Indonesia adalah negara yang tidak Islami. Bahkan menurut Maman, sudah tidak layak diikuti.

Mamanpun mengatakan bahwa saat ini bukan untuk banyak teori tentang agama, tapi  mengembankan tugas sucinya dalam berjihad. Nah, pada saat itulah antara Amir dan Maman terjadi percekcokan. Puncaknya mereka pecah kongsi dan kini Maman tidak mau lagi mau mengurus majelis taklim.

“Makasih, Mas? Aku buru-buru mau ke tempat Pamanku. Katanya beliau sakit. Maman menolak ajakan Amir karena memang ada kepentingan.

“Mas, sabar dulu. Saya pingin ngobrol sebentar dengan mas Maman. Dah lama kita gak ketemu kan? Amir kembali meminta Maman untuk mampir sekedar ngobrol sesuatu.

“Waduh, gimana ya? Ya udah, sebentar saja ya? Nampak Maman agak ragu mengiyakan ajakan Amir, tapi karena mereka berteman yang cukup lama, akhirnya Maman pun mengiyakan meskipun sedikit berat.

“Gini lho Mas, aku penasaran sama sampeyan (anda) kenapa sih masih mau ngajar ngaji lagi? Tanya seseorang yang lewat di depan rumahnya. Raut wajah Amir menunjukkan bahwa pikirannya penuh tanda tanya, siapa sosok yang tiba-tiba bertanya itu.

“Maaf, Mas, saya tidak bisa menceritakan di sini. Ada kepentingan yang beda anara saya dan njenengan (anda)

“Ya sudah, saya nggak nanya lagi, wong itu urusan sampeyan. Oh ya, kitakan mau acara tujuh belasan, kira-kira Mas bisa nggak ikutan jadi panitia HUT RI ke-75 kita?” Tanya Amir serius.

“Maaf Mas, aku nggak bisa. Bukan apa-apa, besok saya harus pergi ke Surabaya. Di sana ada acara penting. Jadi kayaknya aku nggak bisa.” Maman menjelaskan.

Sesaat kemudian, segelas kopi panas sudah tersedia di meja di depan mereka. Adik yang dari tadi memegang gitar tua itu berinisiatif membuatkan kopi. Memang dia rajin dan tidak suka disuruh-suruh punya inisiatif melayani tamu. Ya meskipun hanya sekedar minuman kopi.

“Silakan Mas diminum!” Kata sang adik mempersilakan sang tamu menikmati kopi panasnya.

“Iya dik, matur nuwon ya!  Masih panas kok. Nanti kalau sudah hangat pasti saya minum.” Kata Maman sambil tersenyum.

“Saya minta maaf, kalau kemarin-kemarin ribut sama sampeyan. Karena secara prinsip pandangan sampeyan itu keliru. Maaf bukan keliru, tapi kurang tepat lho menurutku. Kita kan Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, kenapa Mas Maman memilih ide khilafah? Amir kembali melanjutkan obrolannya. Sambil mulutnya meminum sedikit-sedikit kopi yang ada di depannya. Asap yang mengepul dari kopi panas itu sudah mulai tidak terlihat.

“Saya berkeyakinan bahwa Pancasila kita sudah tepat dan tidak bisa dilawankan dengan Islam. Lihat saja  dalam sila-sila Pancasila, apa yang diperintahkan dalam agama juga sudah ada di sana.” Papar Amir lagi. Nampak Maman hanya memandangi Amir sedangkan tangannya asik memilin janggutnya yang hanya lima helai rambut. Kepalanya memanggut-manggut.

“Sudahlah mas, kita gak usah berdebat lagi. Saya sudah capek menjelaskan prinsip saya. Intinya negeri kita harus berbentuk khilafah. Titik. Maaf saya permisi! Nampak wajah Maman sedikit memerah. Ada hal yang tidak ia suka dari percakapan itu. Entahlah apa karena perbedaan pandangan dan keras hatinya Maman yang selalu mengatakan bahwa Pancasila tidak tepat bagi Islam. Sedangkan menurut Amir, Islam sudah sesuai dengan Pancasila. Pancasila adalah dasar bernegara, sedangkan rakyatnya yang harus bisa mengamalkannya secara murni dan konsekuen.

Maman beranjak pergi, sedangkan kopi yang dihidangkan masih menyisakan tiga perempat gelas. Hanya sedikit yang diminum Maman.

“Mas, kenapa dia begitu? Tanya si adik yang dari tadi asik dengan tangannya yang tengah memainkan gitar tua.

“Nggak tahu juga ya. Semenjak dia ikut organisasi yang gak dikenali itu, tiba-tiba dia berubah radikal. Aku sebagai temannya hanya bisa mengingatkan. Dulu dia sangat rajin ke masjid dan berjamaah. Ikut mengurus majelis taklim sama-sama dengan Mas. Tetapi setelah beberapa bulan nggak ketemu, sikap dia berubah 180 derajat. Aku bingung gimana menyadarkannya. Padahal pak Kyai saja sudah menjelaskan dengan disertai dalil-dalil yang kuat, tapi masih saja pahamnya tidak berubah.” Amir kembali menyeruput kopinya yang mulai dingin.

Seminggu kemudian ...

“Mas, aku tadi malam dengar suara pengumuman. Pengumuman orang meninggal kayaknya.” Tanya sang Adik penasaran.

Kala itu adik dan kakak itu tengah membersihkan halaman dair rumput. Memang setiap Jumat mereka bertugas bersih-bersih halaman. Makanya halaman mereka begitu terawat. Tak ada satupun sampah dan rumput yang tumbuh di sana. Ada rumput yang dibiarkan hidup, yaitu rumput Jepang. Rumput yang sengaja ditanam untuk menghiasi rumah sederhana mereka.

Seseorang tiba-tiba mengowes sepeda dengan agak cepat. Tiba-tiba berhenti di hadapan mereka.

“Mas, kok nggak layat (takziyah)?” Tanya pria itu dengan suara cepat.

“Emang siapa yang meninggal? Tanya Amir.

“Pengurus majelis taklim yang dulu mas,  Mas Maman itu lho. Yang sudah lama nggak ke masjid lagi.” Terakhir ketemu seminggu lalu katanya dia mau ke Surabaya. Katanya ada pertemuan penting.Ndilalah pagi ini ada pengumuman katanya beliau meninggal.” Jelasnya.

Seketika itu, ia pun masuk ke dalam rumah untuk mandi dan berencana bertakziah. Nggak nyangka hidup Maman begitu cepat. Seketika itu matanya tertarik pada tayangan televisi. Sebuah runing teks nampak di layar tvnya menyiarkan sekilas berita. Isinya “Telah tewas tertembak pasukan Datasemen 88. Seseorang berinisial Ujang, Alias Umar Alias Maman. Korban tertembak di bagian dada karena melawan petugas ketika hendak ditangkap di perumahan elit di kawasan Jalan Dr. Sutomo, Surabaya.”

Seketika itu hatiku berdegub kencang. Mengamati tayangan berita dan running text yang begitu cepat berganti dengan berita lain. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada sahabatku Maman yang kini diketahui telah tewas. 

“Apakah Maman temanku itu salah satu korbannya?" Tanya Amir dalam hati.

Seketika itu dia mengelus dada, jika benar berita itu, sungguh dugaan rasa takutnya Amir pada temannya sudah terbukti bahwa dia salah memilih jalan dalam bernegara.

“Walah Maman-maman, kok kamu ngeyel toh? Ya Allah, Semoga saja arwahnya diterima di sisi-Mu. Aamiin.”

Tamat

 

 

Selasa, 25 Agustus 2020

Omnibus Law, Berdemo Disaat Pandemi Ciptakan Masalah Baru Penanganan Covid-19?

 

Beberapa hari ini kita begitu terseret ke dalam arus program legislasi untuk memuluskan Rencana Undang-Undang Cipta Kerja (RUU Ciptaker atau Omnibus Law). Ada banyak hal yang membuat banyak pihak mengalami pro dan kontra, antara menyetujui RUU tersebut, atau justru menolaknya.

Di pihak yang mendukung tentu akan begitu antusias memberikan support atas disahkannya RUU Cipta Kerja tersebut, dengan alasan pada saat ini keberadaan RUU tersebut sangat mendesak dan sangat dibutuhkan oleh calon pencari kerja. Apalagi ekses pandemi covid-19 meninggalkan banyak persoalan terkait pemutusan hubungan kerja (PHK), yang terjadi pada beberapa perusahaan nasional.

Karena PHK tersebut tentulah membutuhkan dukungan dari semua pihak agar di tengah bencana covid-19 ini para pengangguran bisa menikmati kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan baru sebagai penyokong kehidupan mereka.

Sedangkan bagi yang menolak, dengan alasan RUU  Cipta Kerja tersebut dianggap mendukung pekerja asing. Padahal faktanya hanya berapa persen saja pekerja yang direkrut dari luar negeri, sedangkan selebihnya semua lini perusahaan memperkerjaan pekerja domestik.

Dan sebenarnya pekerja yang masuk ke tanah air merupakan ekses terbukanya kran pekerjaan di seluruh negara dunia. Lihat saja berapa banyak tenaga kerja Indonesia yang sudah bekerja bertahun-tahun di luar negeri? Banyak bukan? Kondisi tersebut tentu saja akan bersinggungan dengan kepentingan sebuah perusahaan asing tersebut, yaitu pada saat ini mereka pun membutuhkan banyak pekerja dari negara lain untuk proses produksi di negaranya. Baik pekerja di perusahaan manufaktur maupun pekerja yang diperkerjakan di rumah tangga.

Yang perlu dipahami bahwa saat ini jumlah pekerja dari Indonesia (TKW/TKI) menurut BPS jumlahnya mencapai 276.553 orang, dan setiap tahun terus bertambah, meskipun di era covid-19 ini jumlahnya ternyata menurun sejumlah 2,5%.  (Kompas,28-4-2020)

Jumlah tersebut menyebar ke banyak negara, termasuk China, Jepang, Taiwan, Hongkong dll. Mereka berasal dari berbagai penjuru tanah air mencari sesuap nasi dan untuk mengubah nasib lantaran gaji yang lebih tinggi jika dinilai dengan nilai rupiah atau nilai tukar dolar.

Bagaimana dengan jumlah pekerja asing di Indonesia, menurut data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), jumlah tenaga asing yang sudah masuk di Indonesia sebesar  98.902 orang (kontan.co.id, 12-5-2020)

Jumlah tersebut masih jauh dari tenaga kerja Indonesia yang ada di Indonesia. Jadi jika kita menganggap tenaga kerja asing sudah menguasai lahan mencari uang di negeri sendiri, sepertinya patut dievaluasi lagi.

 

Berdemo dikala Pandemi Covid-19, efektifkah atau sebaliknya?

Sebagaimana terjadi beberapa hari ini banyak pihak yang menolak ditetapkan RUU Cipta Kerja (Omnibus Law) ini dengan alasan yang subyektif. Menurut pihak yang kontra, bahwa penetapan RUU tersebut seakan-akan terburu-buru karena tengah di masa pandemi covid-19.

Sayangnya pihak yang kontra tersebut justru melakukan aksi penolakan dengan cara pengerahan massa-baik terorganisir maupun individual, yang ternyata justru bisa mengundang masalah baru, yaitu bertambahnya cluster baru penyebaran covid-19.

Sebagaimana dirilis berbagai media nasional, bahwa 25 Agustus 2020 bahwa dengan adanya rencana disahkan undang-ndang Cipta Kerja, Priseden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) ingin mengerahkan buruh dalam demo besar-besar demi menolak disahkanknya RUU Cipta Kerja ini. Sebuah tindakan yang tidak tepat di saat pandemi covid-19 saat ini.

Padahal  kita tahu, DKI. Jakarta masih menjadi kawasan penyebaran Covid-19 yang masih cukup memprihatinkan. Apalagi para pendemo bisa saja datang dari kawasan yang saat ini masih menjadi cluster atau wilayah penyebaran.

Dapat diduga, bahwa setelah aksi demo yang melibatkan banyak orang serta melupakan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, justru para pendemo bisa saja menjadi salah satu korbannya. Bahkan lebih bahaya lagi jika mereka tertular di tempat demo dan kembali ke rumah masing-masing dengan status sebagai orang tanpa gejala. Atau orang yang tertular virus tapi selama beberapa hari tidak menunjukkan gejala penyakitnya.

Efek negatif pertama bisa ditebak, para pesertademo secara tidak langsung membawa atau sebagai transmiter virus yang justru akan mengenai keluarga sendiri. Baik orang tua maupun anak-anak.

Bolehlah mungkin merasa sehat dan baik-baik saja, tapi faktanya banyak keluarga yang tidak tahu menahu persoalan demo tiba-tiba justru terjangkiti virus ini.

Bagaimana dengan larangan berkumpul di tempat umum?

Sebagaimana dirilis Kompas, 23 Maret 2020, bahwa Kapolda Metro Jaya Irjen Nana Sudjana mengatakan, orang-orang yang memaksa berkumpul di tengah wabah Covid-19 bisa saja dikenai sanksi pidana.

Sayangnya pada pada 26 Juni 2020, Kapolri Jenderal Idham Aziz juga mencabut maklumat nomor MAK/2/III/2020 tentang Kepatuhan Terhadap Kebijakan Pemerintah dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona ( Covid-19) yang dikeluarkan pada Maret 2020. Padahal penambahan korban covid-19 masih belum menunjukkan penurunan.

Pada akhirnya keputusan untuk membatalkan larangan tersebut bisa berimbas pada pembentukan klaster baru bagi penyebaran covid-19.

Ada beberapa bentuk tindakan pengumpulan massa yang dimaksud dalam maklumat itu, yaitu pertemuan sosial, budaya, keagamaan, seminar, kegiatan konser, festival, resepsi keluarga, kegiatan olahraga dan kesenian, unjuk rasa, pawai, dan jasa hiburan.

Dengan demikian telah jelas bahwa hakekatnya penolakan RUU Cipta Kerja adalah tidak tepat karena justru mempersulit dibukanya lapangan kerja baru, sedangkan saat ini banyak korban PHK dan masyarakat umum masih membutuhkan pekerjaan bagi kehidupan mereka.

Ditambah lagi adanya demo besar-besaran justru bisa menjadi sumber maut atas penyebaran covid-19, yang sampai sejauh ini belum diketemukan obatnya.

Terlepas dari larangan atau tidak terkait berkumpul masyarakat yang tentu saja akan menimbulkan kerumunan massa, jika melihat kondisi pandemi saat ini selayaknya dihindari demi mencegah terbentuknya klaster baru.

Melakukan gugatan melalui mekanisme Makhkamah Konstitusi

Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan hak-hak yang sama dalam hukum. Bagaimana mereka melakukan gugatan pada sebuah rencana undang-undang yang hendak disahkan. Lantaran lembaga untuk melakukan gugatan materi atas sebuah produk perundang-undangan ada dalam ranah Mahkamah Konstitusi (MK).

Lembaga tersebut yang bisa menerima setiap penolakan tersebut dan kemudian dikaji apakah RUU itu bisa  disahkan atau justru dibatalkan.

Sehingga dengan menyampaikan gugatan yang dirasa perlu, sebenarnya lebih tepat dibandingkan dengan pengerahan massa. Risikonya adalah bisa munculnya kekerasan massa dan lebih berisiko lagi adanya penularan covid-19.

Kita semua menyadari bahwa setiap produk perundang-undangan selalu muncul pro dan kontra. Dan tentu saja lebih baik menghindari hal-hal yang berisiko tersebut dengan menggunakan saluran institusi yang lebih efektif demi menyalurkan aspirasi. Menghindari penyebaran virus yang tentu saja semua orang tidak menghendakinya.

Salam

Senin, 24 Agustus 2020

6 (Enam) Hal Yang Merusak Hubungan Rumah Tangga


Ilustrasi Pernikahan (hipwee.com)


Pernikahan adalah ikatan suci yang disyariatkan Tuhan dalam Al Qur’an dan termasuk dari separuh agama seseorang. Bahkan Rasulullah SAW pun memberikan contoh bagaimana  beliau menjalani pernikahan. Tentu saja sesuai dengan syariat Islam.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Annisa ayat: 1)

Betapa Allah SWT sudah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan agar saling berjodoh dan agar bisa mengembangbiakkan keturunan yang dari keduanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

 “Menikah adalah sunnahku, barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku berarti bukan dari golonganku. Hendaklah kalian menikah, sungguh dengan jumlah kalian aku akan berbanyak-banyakkan umat. Siapa memiliki kemampuan harta hendaklah menikah, dan siapa yang tidak hendaknya berpuasa, karena puasa itu merupakan tameng.”

 

Lalu 6 hal apakah yang bisa merusak bahtera rumah tangga?

1. Ketidakjujuran

Kejujuran adalah hal yang paling penting dalam menjaga bahtera rumah tangga agar tetap aman dan selamat dalam menjalaninya. Karena kejujuran merupakan kunci pokok adanya sikap keterbukaan antara pasangan suami istri.

Kadangkala kejujuran hanya di bibir saja.  Sang suami atau sang istri sama-sama menyembunyikan hal-hal yang seharusnya dibicarakan. Karena tanpa keterbukaan maka kedua belah pihak akan timbulnya kecurigaan.

2. Kecurigaan

Acapkali suami istri menyembunyikan informasi yang mereka miliki. Seperti teman-teman lamanya yang kebetulan masih menjalin silaturrahmi, atau teman barunya yang ternyata terikat bisnis atau usaha yang dikerjakan bersama-sama.

Hubungan komunikasi dengan dengan orang lain seharusnya jangan menjadi sumber munculnya kecurigaan sepasang suami istri tersebut. Seperti halnya menyimpan nomer ponsel yang sengaja dikiaskan namanya, memberikan kunci pada ponselnya yang kebetulan keduanya tidak saling mengetahui. Apalagi foto seorang wanita / pria yang pasangannya sama sekali tidak mengenalnya. Bisa berabe jadinya ya???

Ketertutupan informasi ini bisa memicu kecurigaan yang berkepanjangan dan bisa berkakhir negatif tentunya.

3. Ketidakpedulian

Siapa sih yang tidak ingin mendapatkan perhatian dari pasangan sendiri? Sepertinya tidak ada ya Sahabat. Sebab setiap orang yang mau menyerahkan kehidupannya pada orang lain karena mereka ingin mendapatkan perhatian dan bukan malah ketidak pedulian. Ingin diperhatikan dan bukan dicuekin.

Jika setiap pasangan merasa tidak peduli dan merasa hubungan itu dingin maka menjadi tanda-tanda hancurnya rumah tangga semakin dekat.

Apa yang terjadi jika masing-masing merasa cuek? Kemungkinan pernikahan itu menjadi hambar dan endinya masing-masing mencari tempat bercurhat ria, tempat mengadukan nasib atau suasa batinnya. Akibatnya tentu menjadi tidak baik bagi kelangsungan mahligai rumah tangga bukan?

4. Ketertutupan

Setiap manusia mempunyai sifat yang tidak sama, ada yang suka dengan keterbukaan dan tidak sedikit yang suka dengan ketertutupan. Watak seseorang yang tertutup biasanya diiringi dengan kurangnya intensitas komunikasi dengan pasangannya. Ada pula yang ingin menyembunyikan rahasianya. Bisa jadi rahasia pribadi, keluarga, atau kondisi perusahaannya. Adapula yang sengaja menutup diri karena merasa telah berdosa melakukan tindakan yang dilarang oleh agama atau negara. Misalnya telah melakukan hubungan terlarang, melakukan korupsi atau penggelapan dan atau ingin menjaga perasaa pasangannya karena mempunyai kelemahan tertentu seperti penyakit yang diderita.

Padahal pernikahan itu adalah suatu manifestasi yang diberikan tuhan untuk saling mengenal satu sama lain. Saling curhat dan peduli, dan saling membuka diri.

Memberanikan diri untuk membuka diri adalah awal kehidupan menjadi lebih bahagia. Lepas dari tekanan batin karena masalah yang menghimpit. Dan merupakan langkah awal untuk mencari solusi.

5. Terlalu bebas

Siapa sih yang tidak ingin hidup bebas? Semua tentu ingin mendapatkan kebebasan. Baik dalam jalinan komunikasi maupun hubungan personal dengan banyak orang.

Akan tetapi yang perlu disadari bahwa tidak ada kebebasan tanpa batasan. Apalagi agama atau tata nilai sosial kita mengajarkan adanya batasan-batasn yang tidak boleh dilanggar oleh umatnya.

Bagaimana sebuah rumah tangga akan menjadi bahagia jika masing-masing pihak tidak bisa mengontrol dan menjaga diri dari hal-hal yang liar dan tanpa batas itu?

Bisa jadi pasangan kita mungkin menyukai petualangan, atau jalan-jalan dengan biaya yang tidak sedikit. Atau mengoleksi barang-barang mewah tanpa mengontrol penting atau nggaknya. Maka yang terjadi adalah sikap semau gue atau seenak udele dewe.

Adapula yang masing-masing ingin bebas keluar malam, ngeclubing, hura-hura, foya-foya dan selalu menghabiskan waktu dengan minuman keras atau narkoba. Tentu ini lebih berbahaya.

Sikap ini bisa memicu hubungan yang disharmonis atau renggang antara kedua pasangan.

Namun berbeda kondisi jika sepasang suami istri ini memiliki keinginan dan hobi yang sama tentu tidak menjadi persoalan. Asal positif tentu keinginan dan hobi itu sah-sah saja untuk disalurkan, bukan?

6. Jauh dari nilai agama dan moral

Agama adalah benteng pernikahan, tanpa agama kehidupan pernikahan akan terasa kering dan gersang. Laju pernikahan menjadi teromabang ambing tak jelas arah dan tujuannya. Maka jika hendaknya menjadikan pernikahan itu harmonis selama-lamanya, hendaklah selalu berpegang dan berpedoman pada agama Allah.

Semoga dengan petunjuk yang benar, pernikahan akan selalu saja romantis dan hingga penghujung waktu hingga maut menjemput.

Demikian tadi keenam hal yang bisa merusak hubungan mahligai rumah tangga. Pasangan yang sejatinya ingin menjadi keluarga sakinah, mawwadah wa rahmah akan mengalami kehancuran jika keenam hal ini tidak dihindari.

Yang pasti, baik buruknya pasangan dan bagaimana mereka menjalaninya akan disesuaikan dengan selera masing-masing dalam satu ikatan komitmen yang sama, namun harus berpegang teguh pada nilai-nilai luhur agama.

Kita semua tidak ingin kan menjalani hubungan yang hanya seumur jagung? Yap, semua pernikahan menginginkan kehidupan yang langgeng, dan berharap hingga tua nanti.

Tonton juga Videonya ya!

https://youtu.be/Odu09z2RwgA


Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!