Minggu, 05 Agustus 2012

Toddlers Dance Magic Dance Creations

Meski masih usia dini tapi mereka tetap eksis....terimakasih kepada para guru PAUD Azkiya Sidokerto Bumiratu Nuban Lampung Tengah yang rela berkorban waktu dan tenaga tanpa pamrih mendidik anak-anak masyarakat pinggiran.


Kamis, 28 Juni 2012

Urgensi PLPG Bagi Guru

PLPG adalah Pendidikan dan Latihan Profesionalisme bagi guru baik guru-guru berstatus pegawai negeri sipil atau pegawai swasta, di mana pendidikan dan latihan profesi adalah wahana untuk mengasah kompetensi dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang diampunya secara sistematis, terarah dan kontinyu serta mendalam dengan tujuan untuk menghasilkan guru-guru profesional yang tidak hanya mampu mengajar di kelas dengan sederet administrasi kelas akan tetapi juga berkaitan dengan keseluruhan kompetensi yang mesti dimiliki oleh seorang pendidik. 


Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Th 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil pasal 2 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan dan pelatihan adalah:
  1. Meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatan secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika Pegawai Negeri Sipil (PNS) sesuai dengan kebutuhan instansi.
  2. Menciptakan aparatur yang mampu berperan sebagai pembaharu dan perekat persatuan dan kesatuan bangsa;
  3. memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman, dan pemberdayaan masyarakat;
  4. menciptakan kesamaan visi dan dinamika pola pikir dalam melaksanakan tugas pemerintahan umum dan pembangunan demi terwujudnya pemerintahan yang baik.
Adapun sasaran diklat adalah terwujudnya PNS yang memiliki kompetensi yang memiliki persyaratan jabatan masing-masing.
 
Bertitik tolak pada aturan inilah, maka sebagai guru mempunyai hak dan kewajiban untuk mengembangkan diri baik dalam kepemerintahan maupun dalam bidang edukasi yang diembannya karena dengan pendidikan dan pelatihan itulah fungsi guru sebagai pelayan masyarakat dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Selain undang-undang di atas juga dijelaskan dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 Pasal  1 disebutkan bahwa Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Dengan demikian sebagai guru kemampuan dalam bidang di atas hendaknya dituntut dan diperdalam demi untuk memperoleh kompetensi yang maksimal dengan memiliki seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. 


Net.
Maka dari itu kedudukan dan fungsi seorang guru sangatlah urgen namun demikian hendaklah seorang guru memiliki kemampuan yang mumpuni dalam bidang tugasnya.

Sebagaimana disebutan pasal 8 Undang-undang No. 14 Tahun 2005 bahwa Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. 
Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 Tentang Guru menyebutkan bahwa kompetensi guru adalah sebagai berikut:

1. Kompetensi pedagogik 


Sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kemampuan Guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurangkurangnya meliputi:
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum atau silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2. Kompetensi kepribadian 


Sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:
a. beriman dan bertakwa;
b. berakhlak mulia;
c. arif dan bijaksana;
d. demokratis;
e. mantap;
f. berwibawa;
g. stabil;
h. dewasa;
i. jujur;
j. sportif;
k. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
l. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
m. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.


3. Kompetensi sosial 


Sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kemampuan Guru sebagai bagian dari Masyarakat yang sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:
a. berkomunikasi lisan, tulis, dan/atau isyarat secara santun;
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional;
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua atau wali peserta didik;
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku; dan
e. menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.

4. Kompetensi profesional 


Sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan kemampuan Guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya yang diampunya yang sekurang-kurangnya meliputi penguasaan:
a. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu; dan
b. konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.
 
Adapun kendala yang dihadapi seorang guru mengingat beban tugas serta tuntutan dan teknologi semakin berkembang pesat mengakibatkan beberapa masalah yang timbul berkaitan dengan terbatasnya kemampuan guru dalam bidang pengajaran karena masih banyak guru yang melaksanakan tugasnya dengan cara-cara konvensional yang cenderung ketinggalan jaman dan dianggap tidak layak memenuhi kriteria sebagai guru yang profesional. Hal ini sesuai dengan data yang dihimpun oleh harian Kompas (9/12/2005), guru yang tidak layak mengajar atau tidak layak menjadi guru berjumlah 912.505, yang terdiri atas 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 74.684 guru SMA, dan 63.962 guru SMK. Tercatat 15 persen guru mengajar tidak sesuai dengan keahlian atau bidang yang dimiliki. Selain itu, mutu guru di Indonesia masih jauh dari memadai. 

Fakta inilah yang membuat mata terbelalak ternyata masih banyak guru yang ada di Indonesia merupakan guru yang tidak layak, sehingga pada akhirnya akan berpengaruh pada prestasi siswa-siswanya di sekolah. Mengapa demikian, karena secara tidak langsung kompetensi guru di dalam kelas mempunyai hubungan yang signifikan terhadap prestasi siswa. 

Namun bagaimanakah kriteria guru yang profesional? Menurut H. Endang Komara, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan sseorang yang menjadi sumber penghasilan kehidupan. selain itu, pekerjaan tersebut memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu, serta pendidikan profesi.

Menurut Oemar Hamalik, setiap guru profesional menguasai pengetahuan yang mendalam dalam spesialisasinya. penguasaan pengetahuan ini serta keterampilan-keterampilan lainnya merupakan syarat penting. Oleh sebab itu, ia berkewajiban menyampaikan pengetahuan, pengertian, keterampilan, dan lain-lain kepada murid-muridnya. 

Adapun indikator guru profesional sebagaimana dijelaskan oleh Ahmad Sanusi, yang dikutip oleh Jamal Ma'mur Asmani disebutkan bahwa ciri guru yang profesional adalah sebagai berikut:
  1. Fungsi dan signifikansi sosial. 
  2. Keterampilan dan keahlian.
  3. Perolehan keterampilan dilakukan secara rutin dan bersifat pemecahan masalah.
  4. Batang tubuh ilmu.
  5. Masa pendidikan,
  6. Aprikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional.
  7. Kode etik dalam memperikan pelayanan kepada klien.
  8. Kebebasan dalam memberikan judment.
  9. Tanggung jawab profesional dan otonomi.
  10. Pengakuan dan imbalan.
Sedangkan menurut Soedijarto, guru yang profesional harus memiliki enam kriteria sebagai berikut:
  1. Memahami peserta didik dengan latar belakang kemampuannya.
  2. Menguasai disiplin ilmu sebagai sumber bahan belajar, dan sebagai realism of meaning and ways of knowing.
  3. Menguasai bahan pelajaran.
  4. Memiliki wawasan kependidikan yang mendalam.
  5. menguasai rekayasa dan teknologi pendidikan. 
  6. berkepribadian dan berjiwa Pancasila.
Paparan di atas cukup jelas menjelaskan betapa seorang guru memiliki beban dan tanggung jawab yang berat. Dimana beban dan tanggung jawab itu tidak dapat dilaksanakan hanya dengan kemampuan seadanya "sebisanya" tanpa didasarkan kemampuan dan keahlian (competency) yang sesuai dengan prasarat seorang guru yang profesional. Akan tetapi, bagaimana solusi yang dapat diambil sebagai cara untuk memenuhi kriteria tersebut? Jawabannya adalah dengan Pendidikan dan Latihan Profesi bagi Guru (PLPG). Kemudian apa urgensinya PLPG dalam peningkatan profesionalisme guru? 

Pendidikan dan latihan profesi guru (PLPG) bukan sekedar untuk memenuhi batas skor kelulusan sertifikasi yang pada tahun 2008 sudah dinaikkan menjadi 850. Namun, lebih dari itu, PLPG bertujuan meningkakan kompetensi guru. Pelaksanaan PLPG mengintegrasikan teori dan praktik, serta internalisasi nilai-nilai keagamaan secara inheren. Artinya, para peserta PLPG dikondisikan sedemikian rupa sehingga sepulang mengikuti PLPG mereka benar-benar merasa mengalami perubahan berarti dibanding sebelum mengikuti PLPG. Adapun pengaruh positif PLPG adalah sebagaimana dijelaskan oleh Etik Dwi Sulistiyowati (2010).
  • Menambah teman, serta ajang silaturrahmi dan reuni teman-teman dari berbagai daerah.
  • Dapat membuat perangkat pembelajaran yang baik dan benar.
  • Dapat menerapkan model-model pembelajaran yang inovatif.
  • Memperdalam ilmu dan wawasan mata pelajaran.
  • Menambah motivasi dalam mengajar di kelas.
  • Semakin dapat mengelola kelas dengan baik.
  • Semakin menghargai keberagaman peserta didik.
  • Penguasaan ICT meningkat.
  • Performance/penampilan di depan kelas semakin baik.
  • Semakin menyadari kelemahan dan kekurangan sebagai seorang guru yang baik.
Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan PLPG sangat urgen dan relevan terhadap peningkatan mutu pembelajaran di kelas.  Guru yang mengikuti PLPG akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengubah dan mendobrak dirinya yang semula tidak bisa menjadi bisa, yang semula tidak tahu menjadi tahu, serta dari semula sudah tahu lebih meningkatkan pengetahuannya karena melihat hal-hal yang baru.

Namun demikian, PLPG merupakan suatu wadah yang akan mencetak guru-guru profesional yang semuanya tidak akan terlepas dari tanggung jawab pemerintah untuk mengawasi kinerja guru serta memberikan peluang seluas-luasnya kepada guru untuk selalu meningkatkan kemampuan dan kompetensinya dalam pendidikan dalam bentuk forum-forum ilmiah dan diklat-diklat yang secara kontinyu yang diadakan oleh pemerintah selaku stake holder pendidikan nasional dan bagaimana guru-guru lulusan PLPG bekerja lebih profesional sesuai dengan ilmu yang diperolehnya selama mengikuti pendidikan ditambah dengan pendidikan dan pelatihan lain yang relevan di bidang tugasnya.





Salam

Bagaimanakah Cara Mendidik Anak Luar Biasa?

Mengembangkan kemampuan anak ABK semestinya disesuaikan dengan bakat, kelebihan dan kecenderungan masing-masing. Lupakan kelemahannya dan kenali potensi yang dimilikinya

    Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana yang bertujuan agar anak didik dapat hidup mandiri, memiliki beberapa prinsip yang tentu saja memiliki kesamaan namun ada beberapa perbedaan dalam prosesnya disebabkan perbedaan kemampuan fisik maupun psikis yang dialami anak luar biasa baik dalam lingkup anak yang membutuhkan pendidikan khusus maupun anak-anak yang membutuhkan layanan khusus (Anak Berkebutuhan Khusus). Akan tetapi kegiatan pendidikan /pembelajaran yang dilaksanakan adalah untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

Di dalam kelas umum terdapat anak-anak yang memiliki kebutuhan yang berbeda, yaitu anak-anak yang memiliki kelainan (penyimpangan), baik berupa fisik maupun intelektual, sosial, emosional, atau sensoris neurologis dibandingkan dengan anak-anak pada umumnya dan mengimplementasikan prinsip-prinsip khusus sesuai dengan kelainan anak.

1. Prinsip Motivasi (The Principle of motivation)

Guru harus senantiasa memberikan motivasi kepada anak agar tetap memiliki gairah dan semangat yang tinggi dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Oleh sebab itu, dalam pemberian motivasi harus lebih sering guru lakukan secara personal antara anak yang satu dan anak yang lainnya karena masing-masing anak memiliki tingkatan masalah yang berbeda-beda.

2. Prinsip Latar/ Konteks (The principle of background / context)

Adanya sebuah pengenalan antara guru dan muridnya tentu saja akan sangat berarti. hal ini perlu dilakukan dan dipertahankan demi sebuah kelancaran dalam sebuah pencarian jati diri anak tersebut yang secara tidak langsung perlu adanya orang-orang yang bersedia mengerti dan memahami kondisinya serta dalam proses pendidikan karena hal ini bisa menjadi salah satu peran yang tidak kalah pentingnya. Dengan adanya kedekatan antara guru dan muridnya, tentu saja hal ini akan membantu dalam pengenalan seberapa besar kemampuan anak tersebut dan seberapa dalamkah masalah yang menyertainya. Hal ini bertujuan untuk memudahkan guru dalam melakukan proses pembelajaran sesuai dengan porsi masing-masing anak.

3.  Prinsip Keterarahan (The Principle of focus)

Guru harus merumuskan secara mata tujuan kegiatan tersebut secara jelas. Yang tentunya tujuan tersebut baik untuk anak didiknya. Dalam penerapan suatu bahan dan alat yang sesuai dengan kategori anak yang menjadi murid serta guru, harus juga dapat mengembangkan strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai pada anak.

4. Prinsip Hubungan Sosial (The Principle of social relations)

Seorang guru harus mampu mengembangkan metode dan strategi pembelajaran yang mampu untuk mengoptimalkan hubungan timbal balik antara guru dan muridnya, murid. guru, murid dan lingkungannya, serta hubungan timbal balik dari banyak arah.

5. Prinsip Belajar Sambil Bekerja (The Principle of Learning by doing)

Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan praktik dan percobaan secara mandiri, baik dengan cara pengamatan, penelitian, dan sebagainya, sehingga anak dapat berkembang sendiri dan guru hanya mengarahkan proses belajar anak. Tujuannya agar anak dapat menghadapi dan mengatasi stiap masalah yang mungkin akan sering mereka jumpai.

6. Prinsip Individualisasi (The principle of individualization)

Dalam prinsip ini, guru perlu mengenal kemampuan awal dan karakter setiap anak secara mendalam baik dari segi kemampuan maupun ketidakmampuannya dalam menyerap materi pelajaran. Kecepatan maupun kelambatannya dalam belajar, dan perilakunya sehingga setiap kegiatan pembelajaran masing-masing anak mendapat perhatian dan perlakuan yang sesuai.

7. Prinsip Menemukan (Finding principles)

Prinsip ini memancing siswa untuk terlihat secara aktif, baik fisik, mental, sosial, atau emosional. Untuk itu, peran guru  sangat diperlukan di sini untuk mengembangkan strateginya demi membuat anak didiknya menjadi lebih terpancing dan bersemangat untuk belajar, dan mengenal apa yang guru terangkan kepada mereka.

8. Prinsip Pemecahan Masalah (Problem solving principle)

Anak dilatih untuk mencari data, menganalisis dan memecahkan masalah tersebut sesuai dengan kemampuan masing-masing dan guru sebaiknya tidak begitu memaksakan anak tersebut agar tidak menjadi beban. Prinsip ini merangsang anak untuk berpikir keras dan melatih anak untuk tidak menyerah dalam keadaan apapun.

Senin, 03 Oktober 2011

Psikiatri Anak

Psikiatri Anak (child psychiatry) adalah "the branch of psychiatry that deals with the diagnosis, treatment, and prevention of mental and emotional disorders in children".
The American Heritage® Medical Dictionary Copyright © 2007, 2004 by Houghton Mifflin Company. Published by Houghton Mifflin Company.


Dalam ilmu kedokteran, psikiatri anak relatif masih sangat muda dan baru diakui sebagai suatu subspesialisasi dalam psikiatri dewasa sejak kira- kira 25 tahun yang lalu, meskipun sebenamya psikiatri anak sebagai ilmu tidak berkembang dari psikiatri dewasa. Demikian juga ia tidak berkembang dari pediatri. Dalam perkembangan psikiatri anak, pediatri sama sekali tidak mengambil bagian. 

Berbeda dari psikiatri dewasa, kepribadian seorang anak masih sedang tumbuh dan berkembang, sehingga tingkah laku-nyapun akan berubah-ubah sesuai dengan tahap perkembang- annya. Juga seorang anak tidak dapat dianggap sebagai seorang individu tersendiri oleh karena ia masih sangat tergantung dari orang-orang di sekitamya, terutama orang tuanya. 

Kelainan tingkah laku yang dialami oleh anak biasanya lebih cepat di- rasakan oleh orang-orang di sekitarnya, sedangkan si anak sendiri mungkin tidak merasa terganggu oleh tingkah lakunya. 


Psikiatri anak mempelajari kelainan-kelainan tingkah laku yang timbul pada anak dan remaja, mencari penyebab dari timbulnya kelainan tersebut, dan kemudian melakukan terapi, yaitu mencoba mengubah tingkah laku anak yang menyimpang tadi menjadi normal kembali. 

Untuk dapat mengerti tingkah laku anak yang normal dan membedakannya daripada tingkah laku yang menyimpang, maka sangatlah penting untuk mempelajari secara mendalam tentang: 


  1. Perkembangan anak secara fisik, emosional, sosial maupun intellektual, sejak ia dilahirkan sehingga akhirnya menjadi manusia yang dewasa. 
  2. Peranan keluarga. Dalam perkembangan seorang anak peran keluarga sangat besar artinya dan mempunyai pengaruh yang timbal balik dengan tingkah laku sianak. 
  3. Lingkungan sosiokultural dimana si anak dibesarkan juga mempunyai pengaruh yang penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Oleh karena itu psikiatri anak berhubungan erat dengan ilmu-ilmu sosial yang lain. 
  4. Pengetahuan mengenai penyakit organis maupun psikis yang secara langsung maupun tak langsung dapat mengaki- batkan gangguan mental/tingkah laku. 
PERKEMBANGAN ANAK 
 
Seperti telah disebutkan di atas, untuk dapat menilai apakah tingkah laku seorang anak itu normal, maka diperlukan suatu pengetahuan yang mendalam mengenai perkembangan anak. Para ahli berpendapat bahwa setiap anak dalam perkem- bangannya ke arah dewasa melalui tahap-tahap perkembangan 

Sumber : anakluarbiasa.com

Game Bantu Penanganan Anak Autis

Inggris- Anak-anak autis cenderung apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Sebuah cara unik pun telah dikembangkan untuk membantu anak-anak ini untuk berinteraksi, yakni lewat game komputer. 

Studio animator yang merancang game komputer kartun ini adalah Catalyst Video. Mereka mengembangkan game komputer yang diberi nama Space Place untuk penyandang autis. menghadirkan 12 cerita yang berfokus pada kaitan antara emosi dan ekpresi wajah.

Menurut Nik Lever, managing director Catalyst, anak penyandang autis bermasalah dengan pengenalan emosi. Game ini diharapkan menjadi alat bantu bagi orang tua dan guru untuk membangun kemampuan empati pada anak autis.


 
 

"Dengan menggunakan alat bantu semacam ini secara teratur, anak penyandang autis dapat mengembangkan kepekaan dan emosi mereka sehingga dapat menerapkannya dalam situasi yang berbeda," ujar Lever, seperti dikutip detikINET dari Tameside Advertiser, Jumat (25/7/2008).

Lebih lanjut Lever menambahkan bahwa anak-anak yang menyandang autis kemungkinan besar akan menyukai program macam Thomas the Tank Engine dan Roary the Racing Car. Kami menyediakannya di internet. Sembari menonton, mereka dapat meningkatkan kemampuan sosialnya.


Space Place direkomedasikan oleh psikolog Dr Janine Spencer, yang mendirikan Centre for Research in Infant Behaviour lab di Brune University.


"Space Place sungguh fantastis, ekspresi wajah karakter menunjukkan emosi penting untuk menguatkan
cerita," tandas Dr Janine Spencer.

divine-music.info

Selasa, 13 September 2011

Olimpiade Sains Nasional Antara Kecerdasan dan Character Building (Pembentukan Sikap)


Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag.


OSN (Olimpiade Sains Nasional) di Manado Provinsi Sulawesi Utara telah dicanangkan pemerintah dan kini masih berlangsung dari tanggal 11 s.d 15 September 2011 meski yang per bagi anak berkebutuhan khusus (SLB) khususnya SMALB dan pertama dilaksanakan hal ini memberikan angin segar terhadap upaya nyata dalam membuka dan memperkecil pandangan bahwa anak-anak Luar Biasa tidak dapat berdaya guna dan melakukan apa-apa bagi kehidupan mereka. 

Sebagaimana sebagian masyarakat yang belum mengerti dan memahami hakekat anak luar biasa memandang mereka sebagai orang kedua karena keterbatasannya ternyata mulai memiliki tempat yang setara di negeri ini sebagai bagian dari anak-anak negeri yang berhak mendapatkan perhatian.






Ini terbukti ketika diadakan event-event yang sama, baik tingkat lokal maupun nasional, muncul beberapa anak yang memiliki bakat istimewa yang ternyata selama ini belum muncul kepermukaan, disebabkan kurang koncernnya sebagian masyarakat lebih khusus orang tua untuk mendorong anak-anak mereka menjadi lebih baik dan maju, bahkan di level internasional pun anak-anak SLB (anak luar biasa) dapat menjuarai berbagai even perlombaan dengan mengalahkan pesaingnya dari negera-negara maju.

Kenyataan ini mestinya memberikan motivasi kepada orang tua dan pelaku pendidikan pada khususnya untuk lebih memperhatikan sarana dan prasarana yang menunjang pencapaian prestasi anak-anak luar biasa khususnya dalam bentuk perlombaan seperti halnya OSN (Olimpiade Sains Nasional) PK-LK.

Pendidikan sains melatih anak untuk selalu jujur, teliti, disiplin dan konsekwen dalam sikap yang mestinya dimanifestasikan dalam kehidupan ketika hidup bersama masyarakat di sekelilingnya dan ini akan menjadi pondasi yang kuat bagi anak dan sekaligus menjadi jiwa yang baik bagi perkembangan kedewasaan..

Ada beberapa segi manfaat di adakan even-even perlombaan, di antaranya:
  1. Ada bentuk kepedulian bahwa anak-anak luar biasa tetap perlu mendapatkan tempat yang sama di mata masyarakat.
  2. Pengalaman siswa dalam even perlombaan dari segi prestasi semakin menaingkatkan motivasi siswa untuk selalu meningkatkan kemampuannya dalam bidang pengetahuan tertentu.
  3. Sains mengajarkan siswa untuk mencintai alam, termasuk manusia termasuk makhluk yang mendiami alam semesta.
  4. Anak akan lebih mengenal Tuhannya dengan demikian akan terpatri dalam hati dengan pengalaman diperoleh secara langsung akan dimanifestasikan dalam kehidupan bermasyarakat dengan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
  5. Bertemunya anak-anak luar biasa dalam satu even memberikan kesempatan mereka bersosialisasi dengan teman-teman lainnya yang dengan demikian akan tercipta hubungan saling harmonis dan memupuk rasa persaudara bersama satu bangsa di tengah hiruk-pikuknya perbedaan pandangan masyarakat Indonesia. 

Dengan demikian semua berharap bahwa pelaksanaan OSN (Olimpiade Sains Nasional) tidak hanya sebagai ritual tahunan yang hanya menghabiskan uang negara, akan tetapi benar-benar akan menjadikan anak-anak negeri ini mencintai alam semesta dan semakin terpacu untuk menggali lebih dalam akan hakekat dan rahasia-rahasia Tuhan yang ada dalam penciptaannya. semoga.... 

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info






Kamis, 05 Mei 2011

Anak Autis Kerap Jadi "Korban" Salah Asuh Orang Tua


Ahli kejiwaan Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ mengatakan anak penderita autis, yakni kelainan bawaan dicirikan dengan tindakan yang super aktif, seringkali menjadi "korban" orang tuanya yang memaksakan mereka untuk menjadi seperti anak normal.

"Kasihan anak penderita autis dipaksakan menjadi layaknya anak normal dengan tanpa didahului penanganan khusus. Tindakan itu justru dapat memperparah sisi kejiwaan si anak," kata Prof Suryan di Denpasar, Senin.

Guru besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu menyebutkan, anak autis bukan berarti abnormal, melainkan anak yang perlu mendapat perhatian dan pemahaman yang lebih mendalam dari ayah dan ibunya.
"Seringkali para orang tua yang anaknya autis menganggap bahwa buah hatinya itu 'sakit', sehingga tetap memaksakan kehendaknya agar si anak dapat berlaku ini dan itu," katanya.

Prof Suryani mengatakan, jarang ada orang tua yang mau menilai atau memahami bahwa perbuatan mereka sendiri yang sesungguhnya telah membuat penderitaan si anak autis malah menjadi semakin memburuk.

Dengan menjadikan anak sebagai "korban" keinginan orang tua, lanjut dia, bisa menyebabkan proses menormalkan penderita autis akan menjadi semakin lama.

Ia mengatakan, anak berkebutuhan khusus ini nantinya bisa menjadi normal dan bahkan menjadi anak-anak hebat jika orang tuanya mau bersikap tenang, menerima apa adanya, sembari memberikan pendidikan yang tepat. "Kalau anak autis itu sangat mengganggu orang lain, mungkin pertama-tama anak ini diberikan pendidikan di sekolah khusus. Tetapi setelah mendapat penanganan, mereka nantinya dapat bersekolah dibaurkan dengan anak-anak normal," ungkapnya.

Pimpinan Suryani Institute for Mental Health ini menyarankan kepada para orang tua yang anaknya menderita autis, dapat mengikuti pendidikan guna memiliki pemahaman tentang kondisi anak yang demikian. "Sebelum memulai program bagi anak-anaknya, orang tua sebaiknya mengikuti pendidikan dahulu hingga adanya pemahaman tentang kondisi si anak yang sebenarnya," ujarnya.

Menurut dia, anak autis perlu penanganan yang khusus, dan bila tetap dibiarkan apa adanya, apa yang akan terjadi kelak pada mereka. "Tentunya di luar yang kita harapkan," ujarnya.

Suryani mengungkapkan, sekolah-sekolah yang ada di Pulau Dewata, umumnya belum ada yang siap menerima atau mendidik anak yang menderita autis. "Jangankan bisa melayani anak-anak yang berkebutuhan khusus, guru-guru yang ada sekarang, menangani peserta didik yang normal saja sudah kewalahan," kata Prof Suryani.

Sumber: http://Republika Online 

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!