Selasa, 13 Mei 2014

Lomba Menulis-3 tingkat Nasional tahun 2014 tentang ABK, PLK dan Pensif

Dengan bangga, dalam rangka peningkatan pelayanan Pendidikan Khusus (PK) dan Pendidikan Layanan Khusus (PLK), maka Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar (Dit.PPK-LK Dikdas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk ketiga kalinya mengadakan "Lomba Menulis PK-PLK tingkat Nasional tahun 2014" tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), Pendidikan Layanan Khusus (PLK) dan Pendidikan Inklusif (Pensif) yang ditujukan kepada wartawan (cetak/ online/ elektronik), pelajar/mahasiswa dan masyarakat umum.

Agar sesuai dengan tema yang dimaksud di atas maka peserta harus membaca/ memahami tentang siapa saja yang disebut ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) yaitu anak yang mesti dilayani pada PK-PLK sesuai dengan amanat UU Sistem Pendidikan Nasional No.20/2003 Pasal 32 Ayat 1 tentang Pendidikan Khusus (PK) dan Pasal 32 Ayat 2 tentang Pendidikan Layanan Khusus (PLK), silahkan KLIK:
Tentang PK-PLK



KRITERIA PENILAIAN

Karya jurnalistik akan dinilai berdasarkan kriteria:
1. Muatan Inspirasi (Inspiratif)
2. Objektivitas dan keberimbangan
3. Kedalaman dan kelengkapan
4. Akurasi
5. Cara penyampaian

PETUNJUK TEKNIS, SYARAT dan KETENTUAN PENGIRIMAN:

1. Seluruh karya tulisan pelajar/mahasiswa, wartawan dan masyarakat umum berupa artikel/opini/feature maupun "berita-feature" (berita berkisah, dan bukan berita biasa) telah termuat di media cetak (koran/ tabloid/ majalah) di daerahnya masing-masing, dan dipublikasikan di media online/blog pada periode terbit/tayangan Januari 2013 hingga Juni 2014.

2. Karya penulisan bisa dikirim 1-15 (satu hingga lima belas) judul naskah. Namun juri hanya mengambil salah satu karya naskah terbaik dari masing-masing peserta lomba.

3. Karya tulis yang dimuat di media massa tersebut merupakan guntingan kliping lengkap yang di-photo copy, berikut tercantum nama media penerbit, halaman terbitan dan tanggal terbitan dengan rapi dan jelas terbaca, hal ini sebagai bukti karya penulisan peserta yang telah dimuat di media massa.

4. Bagi artikel yang pernah ditayangan di media online (website atau blog) cukup di-print sesuai dengan halaman media online tersebut dengan melampirkan “alamat link” media online tersebut.

5. Sedangkan peserta yang memiliki artikel/opini/feature yang belum pernah dimuat/ belum sempat dimuat di media lokal, bisa mengirimkan karyanya kepada panitia namun tetap orisinil dan bukan jiplakan tulisan milik orang lain. Hanya saja, bagi peserta yang naskahnya termuat di media cetak lokal atau nasional dengan mengirimkan bukti klipingan media tersebut maka akan memperoleh langsung point plus oleh dewan juri.

6. Setiap peserta wajib mengirim salinan karya penulisan tersebut berupa file teks microsoft word. Masing-masing karya penulisan mencantumkan pada bagian atas judul naskah, berupa:
  • nama media massa yang menayangkan naskah tsb,
  • tanggal terbitan media cetak/ tayangan pada media online,
  • halaman yang memuat naskah tersebut,
  • nama penulis/peserta,
7. Selain itu, data-data di atas dimasukan ke dalam CD beserta data pelengkap lainnya, yaitu:
  • Scan identitas diri peserta (KTP/SIM/ Kartu Pelajar/Mahasiswa),
  • Profesi peserta kini (yang diketik di Ms-Word),
  • Asal media/ institusi peserta bekerja/ lembaga pendidikan (yang diketik di Ms-Word),
  • Nomor ponsel peserta (yang diketik di Ms-Word).
  • File jpeg pas foto diri peserta terbaru (ukuran 4x6 cm atau ukuran poscard resolusi/DPI 300),
  • Alamat lengkap domisili peserta (yang diketik di Ms-Word),
  • Email peserta (yang diketik di Ms-Word),
  • Nomor rekening bank peserta + nama bank + alamat cabang bank, yang diketik di Ms-Word (kesalahan mencantumkan nomor rekening bank merupakan tanggung jawab peserta itu sendiri)
  • Salinan naskah-naskah lomba tersebut yang diketik di Ms-Word.
Bila syarat point 6-7 ini tidak dikirim, maka materi lomba yang dikirim dari peserta tersebut akan didiskualifikasi.

8. Kemudian kirimkan ke panitia lomba beserta photo copy guntingan kliping (tidak perlu kliping asli) ke dalam amplop coklat (ukuran A4/ F4/ Folio). Sementara untuk naskah yang ditayangan di media online cukup di-print sesuai dengan halaman media online tersebut.

9. Karya jurnalistik dikirim cap pos atau mengirim langsung mulai 1-15 Juli 2014 dengan amplop coklat (ukuran A4/ F4/ Folio) yang mencantumkan tulisan pada bagian kiri-atas amplop: LOMBA TULIS PK-PLK 2014.

10. Artikel atau materi yang dilombakan diatas dipastikan oleh peserta tidak akan berbenturan dengan hak paten/hak siar/hak publikasi dari pihak lain. Dan apabila dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain, maka hal itu menjadi tanggung jawab peserta, dan tidak dapat dilimpahkan kepada juri atau panitia ataupun Dit.PPK-LK Dikdas.
 

Alamat pengiriman (klik):
Kepada Panitia Lomba Penulisan Jurnalistik.Subdit Program dan Evaluasi.Direktorat PPK-LK DIKDAS, Kemdikbud.Jl Raya Fatmawati, Cipete.Jakarta Selatan.


HADIAH:

• Juara I : Rp. 6.350.000 dan 1 buah laptop
• Juara II : Rp. 5.200.000
• Juara III : Rp. 4.100.000
• 6 Tulisan Favorit masing-masing : Rp. 500.000
seluruh hadiah dipotong pajak

Nama pemenang akan diumumkan pada website www.pk-plk.com, para pemenang juara pertama, kedua, dan ketiga akan diundang pada acara Gebyar Lomba PK-PLK Pendidikan Dasar untuk penyerahan hadiah pada pertengahan bulan November 2014. Hasil penulisan terbaik akan diarsipkan secara online; dibukukan; ataupun diterbitkan di media Dit.PPK-LK Dikdas Kemdikbud.[\]
Diposkan 1st January oleh PK-PLK

sumber : www.pk-plk.com 

Senin, 12 Mei 2014

Memformat Ulang Ujian Nasional. Perlukah?



Berbicara tentang UN sepertinya memang tidak berujung. Di samping karena penuh pro dan kontra, tentu saja karena teramat rumit sistem dan teknis pelaksanaannya. Sehingga sepantasnya sarana untuk menilai prestasi akademik siswa ini diperbincangkan lebih mendalam oleh para akademisi di tanah air. Tentu saja harapannya agar UN benar-benar mengukur prestasi siswa dan tidak hanya kegiatan rutin yang hanya menghambur-hamburkan uang negara.

Sekali lagi, karena begitu pentingnya ujian nasional, maka kaum cendikiawan pun bersama-sama merumuskan teknis ujian nasional yang sepatutnya mewakili item-item persoalan yang sesuai dengan materi pembelajaran. Bagik aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Sehingga mau tidak mau, penyusunan format ulang ujian nasional sangat dibutuhkan. Hal tersebut mengingat karena tingginya tingkat kegagalan lulusan siswa pasca ujian nasional dalam mengikuti arus kompetisi yang semakin sulit.

Sebagaimana kita tahu, saat ini UN masih saja menggunakan format pilihan ganda (Multiple Choice) di mana siswa diberikan kemudahan dalam menjawab soal. Namun sayang sekali justru soal yang katanya “mudah” ini justru semakin menyesatkan alam berpikir para siswa. Pasalnya, saat ini siswahanya dituntut memilih tanpa dituntut untuk menjawab dan menganalisis persoalan dengan bahasanya sendiri. Tidak hanya facumnya pola pikir siswa, karena selama ini ujian nasional justru menjerumuskan siswanya pada sistem hafalan. Padahal sejatinya saat ini persoalan yang muncul bukan hanya bersifat hafalan tapi lebih banyak bersifat praktis. Siswa secar a langsung menangani persoalan yang muncul di lingkungannya.

Meskipun ketika soal PG tidak mesti buruk jika team penyusun soal benar-benar profesional, namum tidak sepatutnya jenis soal melulu multiple choice. Karena jenis soal ini sepertinya sudah sangat usang dan tidak benar-benar mengukur prestasi siswa. Terbukti, mereka menyimpan materi pelajaran dalam memori ingatan mereka tapi meraka sulit sekali mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sehingga sebatutnya ujian nasional tidak berbentuk pilihan ganda, alasan karena saat ini kebutuhan lulusan bukan hanya dinilai siapa orangnya (who) tetapi apa (what) dan how (bagaimana), yakni tidak melihat siapa orangnya melainkan apa keahliannya. Sehingga tudingan banyak pihak bahwa ujian nasional penuh kesia-siaan sepatutnya mulai dikikis bahkan tidak akan terjadi lagi.

Sebenarnya, dengan bentuk soal pilihan ganda memiliki tingkat kemudahan paling tinggi dibandingkan dengan soal essay maupun praktik. Karena dengan bentuk soal pilihan ganda yakni option A sd. D atau E sekalipun soal tersebut tetap terkesan amat mudah. Meskipun tetap saja di antara peserta yang dapat  menyelesaikan soal tersebut ada saja peserta yang bingung mengerjakan soal. Adakalanya kebingungan tersebut disebabkan rumitnya siswa memahami naskah soal, dan bingung karena tingginya standar soal yang diberikan. Soal yang diberikan sepatutnya mudah dipahami dan tak perlu berfikir keras sampai seribu kali sebelum akhirnya dapat menentukan jawabannya dengan tepat.

Kesan soal yang mudah dibaca tapi sulit dimengerti ini seringkali muncul di dalam soal-soal UN sebagaimana pernah dibahas oleh seorang Kompasianer terkait teks soal yang tidak “nyambung” dan dianggap penulis soalnya tidak profesional.

Persoalan pertama terkait soal UN sudah terlihat dari bentuk soalnya  sudah terkesan membingungkan meskipun mudah, kesan keduanya hakekatnya soal itu “sepatutnya” mudah tapi tetap saja rumit. Wajar jika soal-soal tersebut sepertinya sudah dijawab dengan benar, toh hasilnya masih sangat jauh dari harapan. Tetap saja nilai-nilai siswa masih banyak yang rendah. Sudah rendah efek positif dari soalpun masih jauh dari kesan faktual dan aktual.

Mengingat jenis tes bentuk pilihan ganda dianggap terlalu mudah namun rumit, ada baiknya jika soal-soal tersebut difokuskan pada bentuk soal essay dan praktik murni. Ketika pemerintah ingin mengukur kemampuan kognisi dan afeksi siswa dengan soal essay tersebut. Tapi jika ingin mengukur kemampuan psikomotorik tentunya dengan metode praktik saja. Atau soal tertulis ada baiknya dihapuskan atau disesuaikan dengan kebutuhan saja dan diganti dangan praktik. Seperti halnya jika pelajaran Bahasa Indonesia, maka tesnya praktik menulis, membaca, mendengarkan dan berbicara dengan bahasa Indonesia yang benar. Sifatnya individual seperti tatkala kita mendapatkan ujian bahasa Inggris memakai pola praktik langsung di sebuah ruangan audio visual. Anak akan benar-benar bisa menguasai bahasa Indonesia bukan hanya tebak-tebak jawaban ABCDE tapi benar-benar memiliki kemampuan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka bisa menulis, membaca, mendengarkan dan berbicara dengan benar dan tidak hanya mampu menjawab soal pilihan ganda yang dianggap mudah tapi masih saja rumit dan tidak terpusat pada kebutuhan yang diperlukan saat ini.

Begitu pula jika materi tersebut berkaitan keahlian seperti di sekolah-sekolah teknik misalnya SMK pertanian atau teknik mesin, maka soal tersebut murni praktik, teori cukup sepuluh soal saja selebihnya melakukan praktik untuk memberikan kategori. Misalnya mahir, cukup mahir dan kurang mahir. Bagi anak yang sudah mahir sepatutnya diluluskan dan diberikan sertifikat kemahiran dan pantas disebut profesional. Nah, bagi anak ini sudah sepatutnya diberikan kesempatan yang lebih apakah ingin melanjutkan di jenjang pendidikan tinggi atau langsung ditempatkan di sebuah perusahaan. Perusahaan tak perlu khawatir lagi pekerjanya tidak bekerja secara profesional karena keahliannya sudah diuji dengan akurat dan tepat.

Meskipun dimungkinkan dengan pengkatagorian tersebut terkesan tidak adil, namun faktanya di sekolah manapun tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama. Akan tetapi dengan perbedaan kemampuan tersebut hendaknya si anak memiliki alternatif kecenderungan lain yang bisa dikembangkan dalam kehidupan mereka.

Kedepannya diharapkan format ujian nasional benar-benar mengukur aspek keahlian (psikomotorik) tidak seperti bentuk soal-soal yang sampai saat ini digunakan oleh pemerintah. Dengan kata lain merubah sistem ujian dan bentuk (jenis) ujiannya demi melahirkan akibat yang lebih faktual dan aktual ketimbang memburu kemampuan kognisi saja.

Namun demikian, meskipun bentuk soal tersebut hendak mengukur aspek psikomotorik, sebaiknya tidak meninggalkan aspek afeksinya agar setinggi-tingginya keahlian siswa dalam bidang tertentu, para lulusan tetap memegang kearifan diri dan menjunjung tinggi karakter positif dalam dirinya.

Jika ternyata sistem ujian benar-benar mengukur keahlian para siswa, maka pemerintah sudah menjadikan lembaga pendidikan di negeri ini sebagai kawah candra dimuka, atau tempat penggemblengan diri baik pengetahuan (pemahaman) penghayatan dalam pembentukan karakter dan kemampuan mengamalkan (mempraktikkan) keahliannya dalam kehidupan sehari-hari. Lebih khusus tatkala mereka harus memasuki dunia kerja.

Para lulusan tidak hanya dipersiapkan sebagai pengangguran. Sebagaima para lulusan SMA saat ini yang masih menyimpan kebingungan kemana mereka akan melangkah. Apakah berhenti sekolah atau melanjutkan ke perguruan tinggi. 

Ketika mereka menghendaki berhenti di jenjang SMA atau perguruan tinggi,  faktanya sama sekali “tidak siap pakai” ketika memasuki dunia kerja. Meskipun adakalanya para ahli pendidikan menganggap tingkat SMA hanya sebagai batu loncatan untuk menempuh pendidikan tinggi, tapi sepatutnya meskipun mereka tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi, kemampuan mereka sesuai dengan latar belakang pendidikannya bisa diandalkan dan dapat dipertanggung jawabkan. 

Jangan sampai anak-anak lulus SMK Permesinan misalnya sama sekali tidak bisa memperbaiki motor yang rusak. Karena sehari-harinya mereka dididik dan dilatih mengenal mesin dan bagaimana menangani masalah kerusakan mesin.

Hal tersebut kemungkinan karena kemampuan mereka masih berupa aspek kognisi saja sedangkan aspek afektif dan psikomororik masih amat rendah. Sehingga pendidikan yang hanya berhasil mentransfer ilmu kongnisi saja semestinya dibuang jauh-jauh. Sekali lagi karena kompetisi dunia kerja menuntut para siswa menjadi personal yang siap pakai dan siap kerja.

Kebijakan yang salah terkait siswa berprestasi

Saya tidak hendak mencela atau merendahkan sistem perekrutan siswa berprestasi yang dilakukan pemerintah. Karena semua merupakan kebijakan tertinggi kementrian pendidikan dan pemerintah tentunya. Namun paling tidak kita akan mengetahui bahwa adakalanya pemerintah, khususnya kementrian pendidikan tidak cepat-cepat mengambil langkah kongkrit tatkala berhubungan dengan siswa-siswi berprestasi.

Masih teringat bagaimana pemerintah membuka IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) yang mencetak generasi muda terbaik untuk ditempatkan sebagai calon pemimpin di daerah, siswa yang direkrut adalah siswa yang memiliki prestasi tinggi di sekolahnya. Agenda pemerintah cukup berhasil dengan melahirkan para lulusan yang siap ditempatkan di beberapa kantor pemerintahan. Namun sayangnya sistempendidikan di IPDN justru pernah menorehkan luka bagi orang tua siswa karena kekerasan yang dilakukan di dalamnya. Tidak hanya kekerasan yang dialami, ternyata IPDN justru dipenuhi oleh tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan civitas akademinya. Itulah potret yang baik namun berakhir buruk dari sistem pendidikan kedinasan di Indonesia.

Sayang sekali, pendidikan yang sepatutnya merata untuk segala bidang keahlian, ternyata masih berkutat pada urusan kepemerintahan saja. Dan lebih disayangkan lagi ternyata lulusan dari IPDN pun tetap saja belum menjamin mereka benar-benar berkarakter positif. Mereka ahli dalam pemerintahan tapi mental kejujuran mereka masih rendah.

Mendahulukan lulusan terbaik bangsa untuk dididik secara keras di sekolah pemerintahan, tapi melupakan siswa-siswa yang berprestasi dari jujuran keahlian lain. Satu sisi pemerintah begitu concern melahirkan lulusan ahli pemerintahan, tapi masih minim sekali perhatian terhadap keahlian lainnya. Terbukti mahasiswa IPDN mendapatkan tiket bekerja di lembaga pemerintahan sedangkan mahasiswa ITB masih sulit mengembangkan dirinya lantaran mereka justru lebih suka bekerja sebagai pegawai negeri yang jauh dari konsep awal terkait pendidikan yang mengacu ranah psikomotorik. Mudah-mudahan dugaan saya meleset. Karena sampai saat ini ITB masih saya anggap sekolah tinggi yang melahirkan generasi muda berpotensi mengembangkan teknologi sesuai dengan jurusan yang ditempuh. 

Tidak hanya ITB, karena IPB pun seharusnya menciptakan generasi yang dapat menjadikan pertanian Indonesia maju ternyata sampai saat ini seperti jauh panggang dari api.
Tekhnologi kita yang selalu ketinggalan dan pertanian kita yang juga semakin jauh dari bangsa lain. Sebuah kekeliruan jangkan panjang yang ternyata menjadikan bangsa ini semakin terperosok ke lubang kemiskinan.

Semoga saja dengan memformat ulang sistem dan teknis UN akan berdampak sistemik terhadap lahirnya generasi-generasi tangguh yang siap pakai dan siap kerja, karena apalah artinya jika seperangkat pendidikan yang dibangun tidak benar-benar up to date terhadap tingginya permintaan SDM yang semakin tinggi.

Salam


Kejahatan Terhadap Anak Merajalela dan Rendahnya Kepedulian Kita

Potret kekerasan pada anak selalu saja terjadi, bahkan hampir setiap detik ada anak-anak yang menjadi korban kekerasan orang-orang di lingkungannya. Tanpa bisa dicegah dan sepertinya sulit untuk dihentikan. Ada apa ini?

Kejahatan Terhadap Anak Merajalela dan Rendahnya Kepedulian Kita
Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag.

Trenyuh jika melihat berita di sana-sini terjadi kekerasan dan pelanggaran hukum. Tidak hanya media audio visual, internet dan media cetak seakan-akan sengaja atau tidak menjadikan berita kekerasan sebagai headline di kolom beritanya. Dan seketika itu juga oplah pun akan terjual secara signifikan. Tidak hanya media terbitan, media berita digital pun semakin banyak pengunjung. Itulah harapannya, ingin beritanya menjadi terkenal dan koran / majalah laris manis. Karena semakin laris maka uang pun akan deras mengalir di kantung perusahaan penerbitan tersebut.

Tak hanya perusahaan penerbitan yang bisa tertawa kegirangan karena kenaikan omzet yang signifikan, karena pembaca pun sepertinya selalu haus akan berita-berita yang berisi dengan kekerasan, anarkisme dan konflik di tengah masyarakat. Bahkan melihat berita akhir-akhir ini terkait pelecehan seksual terhadap anak, para pecinta berita pun bisanya sebatas memberikan penilaian negatif dan banyak pula kata-kata miring terlontar terkait perbuatan “bejad” yang dilakukan. Tapi tak pernah sadar bahwa sebejat-bejat apapun pelaku kejahatan segalanya memiliki sumber dan sebab musabab yang turut menjadi pemicunya.

Bahkan yang lebih naif adalah, ketika saat ini barangkali kita tengah menghujat dan mengecam tindakan kejahatan tersebut. Tiba-tiba bisa jadi justru kita atau orang-orang di sekeliling kita adalah pelakunya. Na’udzubillah semoga  saja tidak terjadi.

Tapi mau tidak mau dan mungkin atau tidak semua bisa terjadi. Jika situasi lagi apes semua menjadi mudah untuk dilakukan. Tak pernah kita berfikir bahwa suatu saat kita akan menjadi korban atau justru pelaku kejahatannya, bukan? Sekali lagi semoga semua penyuka berita dan pembaca yang budiman dijauhkan oleh Tuhan dari kejahatan yang sama.

Sebentar saja coba kita amati dan renungkan dengan seksama, apa sih penyebab terjadinya sederet kejahatan di sekitar kita? Apakah murni kejahatan orang lain atau justru kita menjadi penyebab utama kenapa kejahatan tersebut terus saja terjadi?

Seseorang melakukan kejahatan pun tidak datang dengan tiba-tiba. Ada penyebab awal yang menjadikannya melakukan kejahatan. Sebagaimana para psikolog dan ahli pendidikan serta ahli agama mengatakan bahwa dalam diri manusia memiliki sifat baik dan buruk. Nah, jika ternyata media, masyarakat dan lingkungannya menjadi penyebab terjadinya kejahatan tentu saja sifat jahat tersebut menjadi dominan.

Seseorang hakekatnya merupakan sosok yang tak berdosa, karena siapapun yang dilahirkan seperti kertas putih. Tapi makhluk yang bersih tersebut ternyata hidup dan dibesarkan dalam lingkungan yang mendukung mereka untuk menjadi jahat.

Adanya keluarga, ternyata keluarganya pun tak pernah mengerti kondisi anaknya yang tengah berkembang. Belum lagi keluarga justru merasa cuek, bahkan memberikan media-media yang justru menciptakan mesin-mesin kejahatan di dalam keluarga mereka. Dan itu semua tanpa mereka sadari meski apa yang mereka lakukan seringkali sudah mendatangkan korban.

Keluarga yang tak mendidik dan memberikan media yang mendidik pula, ditambah lagi lingkungan yang juga menjadi tempat pembelajar yang paling mudah untuk mereka mengadaptasi prilaku keji. Tak hanya peniruan yang berlangsung bertahun-tahun, ketika mereka harus hidup dalam kehidupan yang bebaspun masyarakat seperti tak peduli.

Mereka seperti hidup sendiri-sendiri tanpa rasa asah, asih dan asuh. Jangankan peduli dengan perhatian atas keberadaan mereka. Kitapun seperti enggan untuk terlibat secara jauh tatkala di lingkungan kita penuh dengan ironi dan kejahatan yang sudah mewabah. Diam dan hidup dalam individualistik pragmatis. Dampaknya semakin lama jiwa-jiwa yang bersih ini semakin mencari-cari bagaimana karakter yang dapat  mereka tiru dan ikuti sebagai sandaran kehidupan mereka.

Mudahnya kita menghujat pelaku kejahatan, tapi kita tak pernah mengerti bahwa diri kita, dan saudara-saudara sebangsa ini hakekatnya sudah tidak (kurang) lagi memiliki kepedulian. Mereka seperti hidup dalam keterasingan. Puncaknya, meskipun mereka bermasyarakat, bergaul dan mengenyam pendidikan, semua seperti sia-sia.Karena ketidak pedulian kita akan persoalan yang terjadi di tengah-tengah kita.

Tatkala sebagian orang menghendaki kekerasan dijauhkan dari masyarakat, ternyata ada kelompok lain yang justru menghendaki kekerasan itu merajalela.

Tatkala sebagian masyarakat sudah mendidik lingkungannya dengan budi pekerti, toh di antara kita justru menyebarkan tontonan anarkisme, kekerasan seksual, kita tidak segan-segan mau menjual narkoba demi mengeruk kekayaan. Dan tatkala pelaku kejahatan tersebut di hukum, kita lagi yang menghendaki para penjual ini dibiarkan bebas. Sekali lagi semua kesalahan kita. Kita yang menjadikan persoalan tersebut terus muncul.

Bagaimana kejinya kita tatkala membiarkan media yang mempertontonkan adegan perzinahan dan aksi brutal, padahal kita tahu dengan tontonan yang tidak mendidik tersebut akan semakin banyak anak-anak yang menikmati tontonan tersebut tanpa bisa menyaringnya. Seandainya ada sebagian yang menghendaki pemblokiran situs-situs porno, maka ada pihak lain yang justru melawan dan menentang kebijakan tersebut dengan alasan melanggar hak-hak asasi manusia.

Itulah potret kejahatan yang boleh jadi akan selalu muncul di tengah-tengah kita tanpa kita sadari sebelumnya. Semua hakekatnya karena kita tak peduli, kita terlalu naif dengan diri sendiri dan menganggap bahwa kita hanya dapat hidup dengan sendirinya tanpa mempertimbangkan faktor lingkungan sekitar kita. Padahal mau tidak mau kita tetap berada di dalam masyarakat yang benar-benar kompleks.

Kita hanya bisa menghujat, dan kita hanya bisa menilai apa yang terjadi pada orang lain. Tanpa kita mau berbuat apa-apa untuk menolong keterpurukan generasi ini karena ulah globalisasi yang justru akan menjadi mesin perusak jika kita semua tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Yakinlah, kejahatan ini takkan pernah berakhir dan justru semakin parah, jika kita semua hanya bisa menonton, menilai, menghujat dan tak memberikan solusi apa-apa atas apa yang terjadi. (maa)

Salam

Dengan Cara Ini Semestinya Siswa Bandel Dihukum (Sebuah Alternatif)

Hentikan kekerasan pada anak, berikanlah hukuman yang mendidik bagi mereka karena mereka generasi terbaik kita




Dengan Cara Ini Semestinya Siswa Bandel Dihukum (Sebuah Alternatif)

Penulis : M. Ali Amiruddin, S.Ag

Di manapun kita berada, tentu seringkali kita temukan prilaku para siswa-siswi yang terlihat bertingkah di luar batas, kadang menyakiti dirinya sendiri, adapula yang terbiasa mem-bully (baca: menyakiti) teman-teman sebayanya. 

Tindakan ini kadang dianggap biasa saja, sehingga para akademisi selalu menganggap mereka melakukan suatu hal yang sewajarnya, dengan alasan usia mereka memang masih abege atau baru memasuki usia pubertas. Antara dunia anak-anak dan dunia  dewasa yang lagi tinggi-tingginya gairah dalam meniti kehidupan. Dan tentu saja energi yang terlampau berlebih yang seringkali tidak termanfaatkan secara optimal.

Namun, jika prilaku mereka sudah kelewat nakal (bandel) ditambah lagi menyakiti teman-temannya secara fisik atau dengan kekerasan yang mengakibatkan korbannya harus di rawat intensif, atau karena prilaku mereka yang sudah kelewat batas karena menggunakan narkoba. Sehingga ada banyak akademisi serta para orang tua yang harus pusing tujuh keliling. Ditambah lagi jika anak-anak ini tidak lagi merasa takut dengan sanksi yang diberikan oleh sekolah sehingga segala macam hukuman seakan-akan tak memperbaiki kondisi yang amat tak patut ini
Dampaknya tidak hanya orang tua, guru saja yang harus kejatuhan masalah mereka, KOMNAS Anak pun sepertinya harus riweuh jika mendapatkan laporan kekerasan yang dilakukan para ABG ini.
Tapi apakah Anda tahu bahwa hakekatnya anak-anak pelajar yang melakukan kenakalan pun sepatutnya dihukum. Dihukum dalam tanda kutip tidak menyakiti fisiknya. Tidak hanya dianjurkan atau dilarang menyakiti fisik, secara psikis pun sepatutnya dihindari. 

Tentu saja bertujuan agar perkembangan fisik dan psikologis si anak tidak mengalami gangguan dan trauma paska hukuman diberikan. Sehingga amat wajar jika para pendidik, akademisi dan professor pendidikan yang berusaha mencari solusi terhadap fenomena kenakalan anak ini.

Penanganan terhadap kenakalan remaja dan prilaku merusak para remaja ini hakekatnya dapat dilakukan dengan proporsional. Namun jika melihat beberapa kasus kenakalan ABG yang justru berdampak diberikan hukuman tahanan ternyata justru tidak menjadikan anak ini lebih baik. 

Anak yang awalnya mengalami goncangan psikis dan perubahan prilaku karena diawali dari perhatian orang tua yang amat minim, tatkala anak-anak ini melakukan perbuatan yang keliru ternyata karena mendapatkan sanksi pidana dan dijebloskan dalam penjara, justru anak-anak ini mendapatkan pengetahuan akan kekerasan yang diperoleh dari para narapidana yang sama-sama mendiami sebuah lapas.

Pantas saja, anak-anak yang masih bau kencur ini secara tidak langsung meniru aktifitas merusak yang dilakukan di dalam lapas. Seperti merokok, kekerasan fisik dan psikis karena mendapatkan perlakuan kasar dari orang-orang sekitarnya, serta pengalaman negatif lain seperti pelecehan seksual. 

Seperti yang diceritakan mantan narapidana bahwa siapapun yang pernah masuk ke dalam lapas, maka anak yang awalnya nakal karena tekanan keluarga yang tidak begitu peduli, harus berubah menjadi kenakalan karena tekanan kekerasan tatkala di lapas. Masih beruntung jika hanya fisik yang diterima. Nah, jika harus mendapatkan perlakuan tidak senonoh misalnya "maaf" disodomi, seperti beberapa prilaku narapidana, hakekatnya hal ini menjadikan trauma yang akan mereka rasakan hingga usia senja.

Didalam lapas, tujuannya anak-anak ini jera dan menjadi baik, tapi justru berubah menjadi brutal, merokok, bahkan ada pula yang tersangkut narkoba lantaran di lapas juga menjadi tempat peredaran barang haram tersebut.

Bayangkan, jika di antara anak-anak yang ditahan tersebut adalah anak-anak kita apa yang akan kita rasakan? Takut, dan kekhawatiran yang akan muncul jika anak-anak kita benar-benar berprilaku tidak senonoh. Apalagi yang lebih parah lagi jika mereka menjadi trauma karena mendapatkan kekerasan secara fisik maupun psikis di dalam lapas, bukan?

Kejahatan kecil karena salah asuh anak, justru akan membunuh karakter terbaik dari anak-anak kita, bahkan justru bisa menjadi benih-benih perusak yang akan memengaruhi kehidupan orang-orang di sekitarnya. Amat mengerikan.

Kesalah pahaman orang tua tatkala anak-anaknya melakukan kesalahan.

Anehnya masyarakat Indonesia ketika berhadapan dengan kenakalan anak-anak mereka, beberapa orang tua justru hanya menyalahkan sekolah yang dianggap tidak bisa mendidik anak-anak mereka. 

Menyalahkan lembaga yang jam tugasnya lebih sedikit daripada tugas dari orang tua anak sendiri.
Orang tua yang semestinya menyadari bahwa keselahan anak adalah kesalahan orang tua pun masih saja ditentang. Bahkan anehnya ketika pihak sekolah memberikan hukuman yang mendidik dengan tugas di sekolah, justru orang tua menganggap guru dan sekolah tidak becus dan dianggap melampaui batas. 

Seperti halnya ketika anak membolos, pihak guru memberikan hukuman dengan anak diperintahkan membersihkan toilet atau membersihkan lingkungan justru orang tua banyak yang protes. Dan anehnya tidak menyadari bahwa dengan memberikan hukuman pekerjaan ringan ini akan mengerti bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi yang harus mereka terima. Ada reward dan ada pula punishment. Ada hadiah bagi anak yang berprestasi dan ada hukuman bagi anak-anak yang berbuat kesalahan.

Bahkan anehnya lagi, ketika sang anak dimarahi guru, justru orang tua membela anak dengan membabi-buta. Mereka tidak menyadari bahwa dengan pembelaan orang tua tersebut menjadikan anak semakin percaya diri dengan perbuatan salahnya. Mereka menganggap ada orang yang dapat membela ketika anak berbuat keliru.  Dampaknya anaknya tidak semakin baik justru semakin brutal.

Sebuah kesalahan anak sejatinya tidak perlu diberikan pembelaan dari orang tuanya. Toh, pendidikan dan hukuman yang diberikan sang guru karena ingin anak mendapatkan perlakuan yang sama dan tidak ada kesan ada anak yang istimewa di antara anak-anak lainnya.

Adapula yang justru menyakiti dan memukuli sang anak ketika mereka melakukan kesalahan. Dampaknya sang anak semakin berperangai buruk dan memiliki trauma yang berkepanjangan. Anak tidak lagi mengenal bagaimana mereka harus berbuat tapi justru melampiaskan kekesalahannya dengan melakukan kekeliruan yang berkepanjangan.

Kedua tipe orang tua di atas sejatinya menjadi potret kenakalan anak-anak sekolah menjadi parah. Orang tua yang tidak mendukung guru dan sekolah dalam menanamkan pendidikan bagi anak-anaknya justru memberikan kesempatan bagi anak menjadi semakin buruk perangainya.

Bagaimana Hukuman Yang Pantas diberikan kepada anak?

Anak-anak yang sudah kadung terlibat pada pergaulan yang menyimpang, hakekatnya pun harus dikembalikan pada kebiasaan yang mendidik mereka untuk hidup mandiri. 

Memberikan bimbingan batin dan perhatian yang tulus kepada anak-anak ini. Karena amat tidak mungkin ketika anak-anak diharapkan menjadi anak yang mandiri, justru orang tua dan orang-orang disekitarnya justru menghukum dengan hukuman yang tak patut. Jika orang tua tak mampu mendidik secara ekslusif, maka ada baiknya menyerahkan kepada seseorang yang pantas menjadi orang tua asuh. 

Orang tua asuh yang bisa menjadi tempat mereka belajar menjadi diri sendiri, dan diberikan tugas yang tidak hanya menghukum, akan tetapi memberikan mereka pengalaman hidup bagaimana hidup mandiri. Mereka mendapatkan bekal keterampilan dan juga mendidik mereka menjadi lebih dewasa.

Setiap pekan orang tua mengamati perkembangan anaknya, baik menanyakan apa yang telah mereka lakukan dan pengalaman apa yang telah mereka dapatkan. Dan secara kontinyu orang tua tersebut mengontrol anak dan mengevaluasi sejauh mana perkembangan kemandirian mereka.

Misalnya, titipkan anak mereka pada petani yang akan mengajarkan bagaimana mereka mengelola perkebunan, meski hal ini tak lazim, tapi hanya langkah pendidikan dengan cara menghukum tapi mendidik inilah sejatinya yang bisa dilakukan terhadap anak-anak yang sudah kadung terpengaruh pergaulan yang tidak benar. Menempatkan mereka pada dunia pekerjaan yang justru melatih mereka memahami hakekat sebuah pekerjaan justru akan mengurangi sedikit banyak ketergantungan anak terhadap orang tua dan mengajarkan mereka menjadi diri sendiri.

Bisa juga ditempat di sektor-sektor lain yang tentu saja bukan untuk memperkerjakan mereka tapi melatih mereka mengenal dunia yang butuh tenaga dan pikiran dan tidak semata-mata dihabiskan usia mereka pada hal-hal yang tidak bermanfaat. Akan lebih baik jika anak-anak nakal tersebut dihukum dengan cara learning by doing dan working by learning dengan ditangani oleh masyarakat yang memiliki kesanggupan untuk membekali mereka dengan keterampilan.

Point pertama, anak akan terlepas dari pergaulan bebas dan point kedua mereka menjadi mengenal dunia mereka seperti apa adanya. Tidak menjadikan mereka ternina bobokkan dengan situasi yang amat mudah untuk ditempuh. Memanfaatkan energi yang berlebih pada sebuah pekerjaan yang mereka harus belajar untuk menjadi diri sendiri.

Anak-anak menjadi kelewat nakal dengan seabrek konflik kepribadian hakekatnya diawali dari perhatian dan kepedulian dari orang tua, lingkungan dan pemerintah. Sehingga dengan perhatian yang cukup dan membekali mereka dengan segenap pendidikan budi pekerti dan pengalaman di luar kelas pun dapat mengurangi dampak kenakalan remaja.

Salam


divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Kamis, 08 Mei 2014

Pernahkah Anda Tahu, Betapa Bahagianya Ketika Dirindukan Siswa Kita?


Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag.

Siapapun Anda, sepertinya tidak ada yang tak mau kalau dirinya dicintai. Dan tak kan ada pula yang tak ingin dirindukan. Terutama oleh anak-anak kita sendiri tentunya dan anak-anak didik kita di sekolah. Sepertinya anggapan saya akan sama. Baik Anda seorang single parent maupun double parent. Baik Anda seorang guru sekolah formal maupun guru di tempat kursus sekalipun. 

Dan saya pun dapat menduga, pastilah kita semua yang merasa mereka sebagai guru, guru bagi keluarganya dan guru bagi siswa-siswinya, akan begitu bergairah jika anak-anak didik kita selalu menanti kedatangan kita. Sosok yang selalu mengerti apa yang menjadi curahan hati para anak didik kita dan tentunya anak-anak yang benar-benar merasakan kedekatan dengan kita yang dianggap sebagai wakil atau orang tua kedua setelah mereka meninggalkan orang tua kandung demi mengenyam pendidikan.

Mungkin sepertinya tidak mudah menjadi sosok yang dirindukan ya? Kalau keluarga kita yang pasti akan merindukan kehadiran kita tatkala keberadaan kita bisa menjadi pelindung dan pemberi dukungan atas apa yang mereka lakukan. Kita hidup di antara anggota keluarga yang dinamis. Tawa yang selalu menghinggapi meskipun ada kalanya tangis menjadi bumbu tatkala kita berada di tengah-tengah mereka.

Begitu pula kita sebagai orang tua kedua, tatkala anak-anak didik kita membutuhkan perhatian yang tulus dari gurunya, tentulah karena mereka menghendaki wakil dari orang tuanya tersebut dapat mencintai dan memperhatikan dirinya tatkala tengah haus akan ilmu pengetahuan. Haus akan pendidikan budi pekerti dan perhatian, dan haus akan kasih sayang yang akan mengakar dalam hati nurani mereka anak-anak yang polos dan butuh bimbingan.

Memang sepertinya mudah, meskipun di antara satu guru yang berhasil membina para siswanya hingga sukses menempuh pendidikan selanjutnya, ternyata ada ribuan guru yang telah gagal membekali anak didiknya untuk mencintai dirinya sendiri dan mencintai orang-orang di sekitarnya. 

Mereka gagal bukan karena semua siswanya tidak lulus ujian. Atau ada di antara anak didiknya yang harus tertinggal kelas. Tapi kegagalan para guru ini tatkala para siswanya justru bosan dengan kehadiran pendidiknya. Guru dianggap sebagai sosok malaikat pembunuh (killer) menakut-nakuti anak didiknya dengan ancaman tak dinaikkan kelas. Dan sosok guru yang selalu mengabaikan perhatiannya untuk mendidik mereka. Sekali lagi mereka tak hanya butuh transfer ilmu pengetahuan (kognitif) saja dengan sederet nilai tinggi. Akan tetapi lebih dari itu mereka merindukan sosok pendidik sekaligus sebagai pemimpin yang mengayomi. Bahkan lebih dari itu gurunya diharapkan menjadi sosok yang akan mengobati kerinduan akan kasih sayang dan perhatian tatkala para orang tua mereka harus sibuk meniti karir dan mencari rezeki.

Masih Adakah Guru Yang Dirindukan Siswanya?

Pertanyaan ini pun sejatinya akan dapat kita jawab. Melihat fenomena kejahatan anak-anak didik kita yang benar-benar jauh dari kata wajar. Semua orang pun harus dibuat gamang, apa gerangan yang harus dilakukan melihat fenomena yang menyesakkan ini? Bahkan adapula yang harus mencari-cari kembali metode apakah sepatutnya yang harus digunakan para gurunya agar pada anak didiknya kembali menjadi anak-anak yang menyejukkan. Anak-anak yang benar-benar kembali seperti seusia mereka. Bukan anak-anak keji yang selalu menyakiti dan bertindak anarki.

Mengingat begitu besar peran guru saat ini- bahkan saya anggap peran guru melebihi peran orang tuanya – di mana keberadaan mereka benar-benar harus menjadi orang tua tatkala para orang tua kandung mereka harus mencari penghasilan. Meniti karir dan tentu saja mengejar kesuksesan. Maka keberadaan guru menjadi mesti dan harus bisa mewakili para orang tuanya tatkala mereka berada di sekolah. Meskipun hakekatnya akan sia-sia saja jika di sekolah diperlakukan sebagai manusia tapi di rumah selayaknya benda hiasan rumah. Sehari-harinya  mereka bermain tanpa pengawasan orang tua. Seakan orang tua begitu abainya mengingat segala  macam permainan diberikan tapi sentuhan ruhani (kejiwaan) berbentuk perhatian dan kasih sayang teramat minim mereka dapatkan.

Anak-anak mereka di rumah seperti hewan-hewan peliharaan yang sepatutnya hanya diberi makan dan uang jajan. Tapi hati mereka gersang dari perhatian dan kasih sayang.

Dari sinilah, keberadaan guru semakin tertuntut. Tak hanya menjadi team pengajar, tapi juga seorang pendidik dan pembelajar. Mendidik para siswanya agar berbudipekerti yang luhur, mendidik mereka agar mampu hidup mandiri tatkala dunia ini penuh sesak dengan kompetisi mencari rezeki. Dan ketika mereka harus siap hidup dalam gegap gempitanya kehidupan glamour. Tak hanya mendidik, tapi menjadikan mereka belajar menjadi diri sendiri, makhluk sosial dan sebagai hamba Tuhan. Agar mereka pantas hidup dan sukses menjalani kehidupan yang serba sulit dengan kesiapan mental dan pengalaman yang memadai. Sesuai dengan jenjang yang kini di hadapi anak-anak didiknya. Tatkala di usia dini, maka guru sepatutnya mampu menyuguhkan ilmu dan pengalaman yang akan tertanam dalam sanubari dan ketika merekadewasa para siswanya pun siap menjadi anak-anak yang terlatih.

Saya pun belum menjadi guru yang mereka harapkan, tapi betapa indahnya tatkala dihari-hari kita mendidik mereka, kita selalu dinati dan dirindukan. Guru yang selalu dirindukan ibarat awan yang bersiap-siap menyiramkan air hujan yang menghidupkan segalanya. Dan bagaikan matahari yang menyirani di saat gelap gulita.

Guru Tak Hanya Cerdas, Tapi Benar-benar Berjiwa Pendidik

Amat salah jika kita beranggapan guru saat ini kurang berpendidikan. Dan tidak tepat jika pendidikan para guru saat ini di bawah rata-rata bukan? Tentu. Karena saat ini standar pendidikan minimal sarjana strata satu, dan lebih dari itu jika para guru ini kembali menuntut ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Dan tentu saja kita pun menolak jika kita dianggap guruyang tak layak mendidik karena dianggap pengalaman kita yang kurang baik. Karena rata-rata guru di Indonesia sudah mengikuti seabrek pendidikan dan pelatihan yang cukup demi membekali para pendidik ini agar sukses dalam mendidik para siswanya. Bukan sukses para guru karena mendapatkan tiket perjalan umroh atau naik haji dan uang saku yang tinggi karena berhasil memenangkan lomba. Dan bukan pula kesuksesan guru karena bisa hidup bermewah-mewah dengan bergonta-ganti kendaraan pribadi. Meski tak dilarang tapi bukan itu sejatinya kesuksesan seorang guru.

Kesuksesan guru tidak hanya dilihat dari guru yang mentereng karena dipanggil profesor atau karena kekayaannya yang berlimpah. Tapi bagaimana mereka menyukseskan anak-anakdidiknya. Mereka mampu mementuk setiap diri dan jiwa anak didik berdasarkan keteladanan danpengetahuan yang dicontohkan para gurunya. Bukan sekedar deretan nilai tinggi dikelas. Memang tidak mudah, tapi kita yakin semua guru Indonesia akan bisa melakukannya.

Tak ada alasan lagi guru harus mangkir dari jabatannya saat mendidik siswanya, dan tak ada alasan lagi persoalan ekonomi menghambat kinerja guru. Karena memang saat ini pemerintah sudah memperhatikan kita para guru Indonesia. Meskipun belum sepenuhnya hidup sejahtera. Tapi inilah prestasi yang telah diberikan kepada para guru, tinggal guru yang harus membalas kebaikan ini dengan menjadi pengajar, pendidik, pelatih dan pembina anak didiknya menjadi anak-anak yang berguna bagi bangsa dan negaranya.

Kasus Emon Adalah Kesalahan Guru dan Orang tua Serta Masyarakat di Lingkungannya

Emon, seorang pria yang telah mencabuli beberapa anak hingga 80an anak, sepatutnya menjadi tempat untuk berkaca diri. Dan sepertinya tidak hanya Emon yang telah melakukan tindakan keliru ini. Karena diluar sana ada banyak lagi orang tua yang harus berduka karena kehilangan anak-anak yang dicintainya. Anak-anak yang semestinya mewarisi kehidupan orang tuanya. Apakah semata-mata kesalahan Emon? Tentu tidak bukan?.

Ada banyak sisi yang menjadikan si Emon melakukan tindakan biadab. Boleh jadi peran guru-gurunya yang kurang mengerti akan masa lalu yang juga pernah dialami si Emon. Bahkan para psikolog beranggapan bahwa apa yang dialami si Emon karena selama ini dia seperti kehilangan keluarganya.Penderitaan karena pernah diperlakukan secara tidak manusiawi tetap tersimpan di dalam lubuk hatinya, tanpa perhatian sedikitpun dari orang-orang disekitarnya termasuk para gurunya.

Maka akan sangat wajar, jika pengalaman mengerikan tersebut justru menjadi jeratan kejiwaan yang menyimpang terhadap diri Emon. Apalagi guru dan orang tua justru lebih memilih tak peduli bahkan menutupi karena dianggap sebagai aib.

Itulah Emon, dan ada pula seorang anak karena pisang goreng rela membunuh adik kelasnya. Tanpa rasa bersalah, mereka seperti melampiaskan ekspresi kekejian yang diperoleh dari media dan lingkungannya. Dan sederet kasus yang di alami anak-anak Indonesia. Mudah-mudahan saja hal ini tidak terulang lagi.

Betapa para anak didik tersebut benar-benar membutuhkan dukungan batin agar mereka siap menghadapi tekanan hidup dan kehidupan. Tak hanya bekal ilmu teoritis yang sama sekali tak mengena dan tak membekali budi pekerti bagi  mereka.

Kami para orang tua, dan sekaligus para guru bagi anak-anak kami dan keluarga serta anak-anak didik kami. Memohon pada Tuhan semoga kami bisa menjalankan titah ini dan mengabdikan sepenuh pengabdian mempersiapkan anak-anak didik menjadi anak-anak yang siap menghadapi kehidupan yang serba keras dengan budi pekerti yang luhur dan jiwa yang mantap.

Jumat, 18 April 2014

Pencabulan Anak di JIS, Sekali lagi Tragedi Buruk Pendidikan Indonesia


Jakarta International School


Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag.


Lagi-lagi dan lagi, inilah gambaran runyam yang selalu hadir di tengah-tengah kita. Aura negatif yang seringkali menghiasi laman pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pendidikan bagi orang dewasa, pendidikan ‘tuk anak-anak pun selalu menuai banyak terpaan masalah. Tidak hanya masalah bagaimana kesejahteraan guru dan kurikulum yang tak pernah menemukan jalan terangnya, kasus-kasus kekerasan atas nama “nafsu” pun masih saja menjadi tradisi yang sepertinya sulit dihilangkan.

Kasus kekerasan seksual sejatinya sudah sering terjadi di tengah-tengah pergulatan pendidikan di Indonesia, bahkan hampir setiap detik, kita selalu dikejutkan dengan pemberitaan yang berbua negatif. Terang saja, bangsa ini seperti dibuat geram, kenapa pendidikan di Indonesia selalu menjadi bagian pemberitaan buruk di media? Apakah memang Indonesia akan kehilangan harga dirinya tatkala penghuni negeri inipun secara perlahan seperti kehilangan harga diri. Dan sayangnya prilaku tidak terdidik itu seringkali terjadi di sebuah lembaga pendidikan. Entah kekerasan fisik antara guru dan siswanya, antara siswa dengan siswa lainnya, maupun antara guru dan guru lain yang turut mencoreng kehormatan pendidikan di Indonesia.

Seperti halnya kkasus  kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School, kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang sayang sekali terjadi di sebuah sekolah yang bertaraf internasional dan tentu saja para personil sekolah yang juga memiliki karakter dan jiwa meng-internasional, namun sayang sekali justru di antara personilnya adalah sosok berjiwa kampungan. Demikianlah sepantasnya sebuah lembaga pendidikan yang berlabel internasional justru mencederai makna modernisasi pendidikan yang kini tengah diperjuangkan. Bahkan sepertinya sekolah yang sering disebut “kampungan” karena berada di kampung pun kondisinya tidak separah sekolah ini.

Kasus Sodomi, Fakta Buruk Sekolah Internasional

Mungkin di antara kita tidak akan pernah menduga, kenapa sebuah lembaga yang “katanya” internasional seperti kecolongan dengan adegan kekerasan seksual yang terjadi di JIS? Apakah sebenarnya JIS memang tidak pantas mendapatkan predikat sekolah Internasional? Atau kejadian ini murni karena rata-rata sekolah begitu lalainya tatkala wali siswa sudah menitipkan anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan di sekolah ini? Sepatutnya kondisi ini tak pantas disandangkan pada sekolah yang sejatinya harus modern. Sekolah yang dilengkapi sarana dan prasarana yang modern pula. Dan tentu saja kualitas layanan pendidikan pun sejatinya harus lebih modern dengan sekolah-sekolah pada umumnya. 

Akan tetapi, jika dilihat kasus yang terjadi di JIS sebagai sekolah yang sepatutnya menjadi teladan karena kedisiplinan, kurikulum yang “katanya” hebat karena mendapat julukan internasional, serta dukungan manajemen sekolah yang baik sepatutnya tak menjadikan sekolah ini kecolongan. Bahkan jika diruntut kejadian tersebut ternyata pelakunya adalah seorang tenaga kebersihan (cleaning service) yang sejatinya sedikit sekali kesempatan untuk “menjamah” anak-anak didik mereka lantaran berbeda status pekerjaannya. Yang lebih parah lagi ternyata ada 6 siswa yang telah diperlakukan dengan cara tidak manusiawi ini. Sumber

Sebuah catatan buruk dan prestasi rendah yang sepatutnya dihindari bagi personalia sekolah pada umumnya dan lembaga JIS pada khususnya.

 Pencabulan amat mungkin terjadi jika si pelaku adalah sosok yang selalu mendampingi siswa belajar. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas dan manajemen sekolah patut dipertanyakan. Bahkan pun dapat diduga bahwa predikat internasional sejatinya hanya aksi tipu-tipu penyelenggara pendidikan terhadap pemerintah dan masyarakat. Mereka menamai lembaganya dengan sebutan internasional hanya sebagai kedok untuk mendapatkan legitimasi dan simpati masyarakat. Tentu saja tujuannya agar masyarakat semakin terpedaya dan terkagum-kagum dengan identitas internasional.  Meskipun faktanya sekolah ini tidak layak disebut sekolah internasional karena kasus kekerasan seksual yang sepatutnya tidak terjadi.

Manajemen pendidikan yang mumpuni, seperangkat kurikulum yang boleh jadi melebihi kurikulum sekolah kebanyakan dan pengawasan internal yang superketat sepertinya jauh panggang dari api. Slogan sekolah modern sama sekali tak ditunjukkan oleh sekolah ini. Jakarta Internasional School justru menjadi catatan buruk bagi sekolah-sekolah internasional di Indonesia.

Kasus Pencabulan di JIS, Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Mesti Kontrol Diri

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di JIS merupakan tamparan buruk bagi martabat pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan yang berjuluk internasional. Karena kejadian ini semakin menjatuhkan kredibilitas pendidikan di Indonesia di mata umum. Tidak hanya masyarakat Indonesia, akan tetapi masyarakat internasional pun sejatinya turut prihatin dengan kasus ini. Dampaknya para orang tua calon siswa di sekolah modern model ini akan berfikir dua kali untuk menyekolahkan di sekolah yang biasanya memberikan tarif mahal untuk sekolah di sekolah ini.

Selain rendahnya pengawasan terhadap para siswanya, tentu saja tarif pendidikan yang tinggi justru menjadi bahaan cemoohan kepada sekolah yang bersangkutan, tak pantas sekolah mahal tapi kualitas amat rendah. Namun demikian, meskipun tidak semua sekolah internasional “bertipe” seperti JIS, akan tetapi akan menurunkan nilai positif dari manajemen sekolah. Sehingga akan ada banyak orang tua yang ingin menyekolahkan di sekolah ini yang harus mengurungkan niat lantaran khawatir kasus yang sama terhadap anak-anak mereka.

Bagi sekolah manapun, baik sekolah Internasional maupun sekolah kebanyakan, hakekatnya tarif yang mahal yang dipatok sekolah tidak dapat dijadikan dasar penilaian bahwa sekolah-sekolah biasa mutunya akan lebih buruk dari sekolah intenasional. Karena ada pula sekolah biasa yang justru memiliki track record yang baik dalam menyelenggarakan pendidikannya. Hal tersebut dibuktikan dengan sederet prestasi yang ditorehkan sekolah-sekolah tersebut.

Catatan akhir dari tulisan ini, hakekatnya lembaga pendidikan apapun, baik sekolah internasional maupun sekolah biasa  memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keamanan dan kenyamanan warga sekolahnya. Kenyamanan dan keamanan tidak hanya berbentuk gaji yang diterima guru dan karyawannya, akan tetapi bentuk proteksi yang amat ketat terhadap para anak didiknya agar mereka dapat mengenyam pendidikan sesuai dengan harapan siswa dan para orang tua siswa.

Melakukan pengamatan para pekerja sekolah, baik pengamatan prilaku yang mereka miliki. Tentu saja sebelum mereka bekerja dan setelah mereka menjadi karyawan di sekolah tersebut. Dan yang lebih penting lagi adalah mengadakan evaluasi terhadap manajemen sekolah. Harapannya kasus pencabulan / kekerasan tersebut tidak terulang kembali di masa yang akan datang.


divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!