Jumat, 25 Desember 2020

Jangan Lecehkan Tubuhnya Yang Gendut. Cerita Berlatar Film Imperfect

 


Jangan Lecehkan Tubuhnya Yang Gemuk. Cerita berlatar film Imperfect


Tahukah Anda, setiap orang adalah istimewa. Setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Bisa jadi kelebihan itu sama, tapi ada sisi lain yang tetap berbeda. 


Misalkan si A dan si B memiliki bakat menyanyi, ternyata karakter vocal mereka berbeda . Si A bersuara nge-bass dan si B Sopran misalnya. Itu semua adalah salah satu contoh bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda.


Atau misalnya dua sosok itu adalah kembar siam sekalipun, mereka adalah dua insan yang berbeda sifat asasinya. Dengan keunikan yang berbeda, justru akan menjadi warna yang selaras dengan keadaan manusia di alam semesta ini.

 

Apalagi, dalam diri seseorang memiliki kekurangan dan kelebihannya. Seperti jika kita menemukan sosok yang pemikirannya cerdas, ramah, baik dengan orang, supel dan suka  kegiatan sosial, ternyata fisiknya dianggap orang sebagai sesuatu yang buruk dan nggak seksi, Kenapa? Karena tubuhnya gemuk semenjak kecil. Hingga dewasa, hobi doyan makan coklatnya semakin memperbesar kondisi tubuhnya.

Keberadaan tubuh yang tidak langsing dan singset dianggap sebagai fisik yang tidak seksi.


Hampir setiap orang menganggap tubuh yang gemuk adalah "cacat". Padahal gemuk dan tidaknya tubuh seseorang bukanlah hal yang  baik untuk dijadikan bahan bully-an dan menjadi ajang untuk menunjukkan kata-kata yang menjurus pada penghinaan fisik seseorang (body shamming).


Tak perlu saya menunjukkan pasal penghinaan yang bisa dijatuhi sanksi oleh pengadilan, karena hakekatnya seitiap manusia ingin melihat orang lain terlihat sempurna di hadapannya-meskipun belum tentu itu disukai dirinya sendiri,  dan meskipun akan memuculkan beragam reaksi atas bullying tersebut.


Membaca kasus bullying dalam film Imperfect


Sepertinya kata-kata ini bisa menimbulkan emosi bagi yang bersangkutan. Yaitu kata-kata sindiran, umpatan atau pelecean secara oral yang mengakibatkan sang korban merasa direndahkan dan dijatuhkan harga dirinya.

Seperti "awas ada karung beras." Hei, kamu mau beli kado apa buat temen kita yang mau melahirkan? Kan ada yang lagi hamil." Atau mengatakan bahwa sosok yang gendut dianggap sebagai badut.


Terang saja ungkapan-ungkapan yang bersifat bullying ini bisa merendahkan derajat kemanusiaan dan merendahkan nilai-nilai kehormatan dari yang bersangkutan.


Seseorang yang dibilang memiliki fisik sempurna, ternyata isi kepalanya sungguh tidak secantik dan se seksi tubuhnya. Bahkan orang yang dianggap gendut atau gemuk itu justru memiliki kecerdasan yang sangat bermanfaat bagi perusahaan.

Meskipun pada saat terjadi percakapan seolah-olah si gendut tidak memiliki kesempatan yang sama dengan si wanita seksi. 


Dengan kata lain, karena ingin memenuhi permintaan dari sang Bos, sosok yang memiliki tubuh gemuk inipun merasa terpaksa  untuk mengecilkan tubuh agar bisa mewakili perusahaan. Walaupun memiliki keceradasan yang tidak diragukan lagi, namun  karena fisik yang dianggap tidak seuai dengan kebutuhan kerja,  ia tertantang untuk mengecilkannya. Dengan risiko selama sebulan harus bisa mengubah keadaan tubuhnya.


Dengan kerja keras dan dukungan semua orang, akhirnya si gemuk inipun berhasil menguruskan tubuh dan mendapatkan fasilitas yang keren di perusahannya.


Namun demikian, film imperfect sebenarnya justru menggap bahwa gemuk itu tidak egaliter, dengan memaksanya memiliki tubuh yang lebih kurus. It's okey lantaran tuntutan pekerjaan, tapi jika kegemukan itu dianggap seuatu yang buruk, maka sosok tersebut sudah merendahkan nilai kemanusiaan.  Gemuk dan kurus adalah sama keduduannya, yang berbeda adalah perannya dalam kehidupan masyarakatnya.


Ketika keluarga terdekat pun melakukan body shaming


Pernahkah Anda mendengar seorang ibu yang mengatakan "Ih, anak ibu kog hitam sih? Beda sama adikmu. Tubuhnya bagus dan kulitnya bersih,  sedangkan kamu hitam legam. Atau dengan mengatakan ibu gemuk, awas bajuunya pada robek. Atau ada lagi yang mengatakan badan kog kurus kayak tiang listrik aja.


Itu semua adalah  contoh-contoh pernyataan-pernyataan atau perkataan yang merendahkan dan melecehkan fisik seseorang. Padahal tidak ada yang boleh merendahkan derajat kemanusiaanya.


Body memang beda, kulit memang tidak putih, dan bentuk tubuh mungkin tidak sexy, namun hakekatnya mereka semua sama di hadapan Tuhan. Bukan hanya fisik yang pantas mendapatkan penilaian, tapi bagaimana mereka berprilaku yang baik dengan lingkungannya, adalah salah satu nilai plus bagi manusia lainnya. Salam

Rabu, 23 Desember 2020

Ketika Dua Kubu Melebur Jadi Satu

 Ketika Dua Kubu Melebur Jadi Satu

Gambar : Pasangan kontestan Pilpres 2019 (Sumber: Kompas.com)


Dunia perpolitikan di negeri +62 sepertinya tidak lepas dari fenomena yang mengitarinya. Sampai-sampai hampir setiap saat publik dibuat tercengang dengan pergerakan bidak catur yang dimainkan para politisi. Apakah ini sebuah kebetulan, coba-coba atau memang sudah lazim dalam dunia yang cukup menguras emosi para pendukungnya.


Sebagaimana publik melihat betapa panasnya aura Pilpres 2019 yang membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana tidak merinding, jika masa-masa kampanye, pemungutan suara dan keputusan final siapa yang layak lolos di panggung kekuasaan. Dan benar, pergolakan di tingkat bawah ketika pengumuman hasil Pilpres diumumkan ternyata publik pun bergolak. Sampai-sampai ada gerakan massa pendukung kedua calon yang berusaha menyampaikan aspirasi dan protes atas fenomena Pilpres yang menurut sebagian pendukung dilaksanakan tidak fair.

   

Hingga endingnya adalah bentrokan massa dan ada beberapa orang yang harus mengalami kekerasan fisik oleh aparat karena ada gerakan yang dianggap menuggangi gerakan damai demonstrasi tersebut.


Beruntungnya, meskipun demonstrasi sempat terjadi bentrokan dan terlihat huru-hara, nyatanya publik masih bisa didinginkan suasananya, tidak sampai membuat kerusakan yang lebih frontal. Saya melihat konflik dua kubu yang melibatkan aparat keamanan tentu merupakan sebuah ekses dari proses demokrasi. Di saat aksi protes itu berjalan damai dan ternyata ada pihak yang menunggangi, maka akibatnya bisa ditebak, jika tidak dapat diredam maka efeknya bisa kepanjangan. Publik dan aparat keamanan bisa terjadi bentrokan yang lebih parah dan bahkan bisa chaos. Bayangkan saja jika aparat yang seharusnya melindungin dan mengayomi rakyat ternyata harus adu fisik dengan rakyat yang diayomi dan dilindungi, tentu menjadi preseden buruk bagi penegakan demokrasi di negeri ini.


Konflik partai politik, tokoh yang bertanding, dan pendukung adalah satu bab yang secara alamiah terbentuk, sebagai manifestasi dari perjalanan panjang negeri ini yang usianya lebih dari 75 tahun. Negeri ini sudah bisa dibilang sepuh atau tua, tapi masih tua bagian kulitnya, sedangkan di dalamnya masih perlu digembleng menjadi lebih dewasa.


Bersatunya kubu Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi adalah dinamika politik yang arif


Memang benar, bahwa politik itu penuh dengan dinamika, intrik dan fakta-fakta yang sangat menggelikan. Bagi sosok yang menciptakan dan pemain dalam panggung, langkah mereka sebenarnya tidak perlu dirisaukan. Di saat berkompetisi, mereka adalah lawan yang berat. dengan segenap tool mereka kerahkan demi memenangkan kompetisi. Sedangkan bagi publik yang hanya menonton, percaturan politik tentu menjadi sesuatu yang amat rumit, bikin sensitif dan kadang membuat tekanan jantung.

 

Kenapa? Ketika awalnya begitu terbelah pilihan dan komitmen mendukung salah satu pihak, ternyata kondisi berubah 180 derajat dengan saling dekatnya para kompetitor. Fenomena yang mengejutkan sepertu sengatan listrik 220 VA ini tentu membuat publik terkesima dan penuh tanda tanya, "mengapa mereka bisa bergabung? Mengapa bisa berbaur? Kog bisa ya saling rangkulan seolah-olah tidak pernah berperang politik?


Jawabannya adalah inilah fakta atau realitas politik yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Dalam dunia politik semuanya akan cepat berubah dan berganti arah ketika kepentingannya bisa diakomodir. Entah, meskipun ada yang menganggap ini sesuatu yang tidak lazim, faktanya di dunia manapun sebuah sikap politik adalah selalu dinamis. TIdak ada politik yang kaku sampai mengeluarkan urat leher demi kepentingan yang bersifat individual dan kelompok.


Bertemunya Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi, adalah sebuah fenomena yang menarik dan lumrah dalam dinamikan politik. Apalagi tujuan kedua kubu sebenarnya sama, ingin menjaga marwah bangsa dan membangunnya menjadi negara yang  bisa setara dengan bangsa lain di dunia.


Jika cita-cita politik adalah sama-sama ingin membangun bangsa dan menjaga nilai-nilai Pancasila, mengapa perseteruan harus dipendam lama? Bukankah dengan bersatu dan saling merangkul akan tercipta harmoninasi di tingkat grassroot. Masyarakat akan melihat kedua kubu semakin akur dan tidak saling bertempur.


Dan semestinya, jika para petinggi bisa akur dan bisa bekerjasama dalam mengatasi persoalan bangsa yang sangat rumit, mengapa arus bawah tidak ikut senang dengan fenomena yang unik ini?


Bukankan dalam politik itu dikenal dengan istilah kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan? Tidak ada kawan dan musuh abadi, yang ada adalah kepentingan. Dan yang perlu dicatat, jika kepentingan mereka adalah untuk menjaga dan membangun marwah bangsa, tentu pilihan akhir adalah berkolaborasi demi membangun bumi pertiwi. 


Jika antara anjing dan kucing yang katanya musuh abadi saja bisa bersatu, mengapa manusia dengan manusia lainnya yang berakal ini tidak bisa menyatu, seperti air dan gula, atau gula dan kopi. Meskipun di sana selalu saja ada yang terus dianggap paling berjasa, antara air, gula, dan kopi. Meskipun ketiganya berbeda, jika salah satunya tidak ada, maka esensinya adalah hampa.


Ya sudah, gitu aja. Mari nyeruput kopi manis sambil makan singkong goreng.


Salam damai

Senin, 21 Desember 2020

Ketika Kita Harus Bangkit. Bangkit!!

 Ketika Kita Harus Bangkit. Bangkit!!



Tidak ada kehidupan yang berjalan mulus semulus jalan tol. Tidak ada cuaca yang selalu cerah dengan cahaya matahari yang hangat. Karena pada saat yang lain, di saat yang berbeda kita akan mendapati cuaca yang sungguh bikin tak enak hati. Tiba-tiba awan gelap menggulung angkasa. Ada sambaran petir, angin berhembus semakin kencang dan hujan pun jatuh, meskipun diiringi oleh teriakan orang yang kesakitan karena sambaran petir yang maha ganas.


Kejadian yang sungguh aneka rupa itu selalu saja mengundang kesedihan bagi korbannya. Sedangkan bagi yang melihat turut berempati dengan apa yang terjadi, meskipun tak sedikit yang justru mengulum senyum dan tertawa sadis atas musibah tersebut.

Curhatan petani atas kelangkaan pupuk


Itulah senoktah noda dalam kehidupan kita? Yap, tentu saja itulah materi yang selalu saja ada dalam perjalanan kehidupan dunia yang kita pijaki kini.


Persis dengan beragam curhatan-curhatan kecil para petani, pedagang, nelayan, pemulung, dan bahkan pejabat sekalipun. Mereka memiliki curhatan kecil yang boleh jadi hanya tersembunyi dalam renung sanubari. Ketika curhatan itu lahir, maka ada beragam reaksi, seperti apa yang terjadi kebanyakan. Tapi ketika curhatan itu disembunyikan dan cukup dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu, maka sedikit sekali reaksi yang muncul. Hanyalah dirinya sendiri yang merasakan semuanya, dan hanya Tuhanlah yang dianggap bisa menyelesaikan setiap beban masalah kehidupan. Bahkan ada sebuah adagium, "jangan pernah berharap pada makhluk, karena kamu akan kecewa."


Apa yang sebenarnya ingin saya sajikan dari tulisan ini, tidak lain dan tidak bukan adalah bahwa setiap manusia memiliki beban kehidupan. Dan solusi dari persoalan tersebut tidak semua bisa memberikan konstribusi. 


Dengan kata lain, selebar-lebarnya senyum seseorang, pasti ada celah amarah dan kepedihan dari sudut hatinya, dan sesedih-sedihnya hati, akan ada ruang untuk menebarkan cahaya kebahagiaan.


Senada dengan aneka keluhan saat ini, di saat pandemi covid-19 masih saja menghantui dan sampai kini belum benar-benar pergi, ternyata masih menyisakan kegalauan tersendiri atas apa yang kini terjadi.  Para pelaku usaha banyak yang meluapkan rasa terdalam mereka mengapa kondisinya tidak juga membaik, seperti harga singkong yang masih rendah dan terpuruk, harga sayuran yang juga jatuh meskipun berat dalam membudidayakannya, dan lebih mirisnya pupuk juga masih langka. Seperti apa yang disampaikan para petani dalam sebuah group pertanian.

 

TIdak hanya yang berkaitan dengan persoalan tanam menanam, karena persoalan niaga juga terkena imbasnya. Ketika para petani mengeluh dengan kondisi saat ini, dan mereka terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang dengan mengurangi belanja di luar, ketika bahan makanan pokok masih bisa ditanam sendiri. Serta kebutuhan primer lainnya yang ternyata belum begitu butuh diganti. Semua itu adalah kondisi yang menyertai atas musibah covid-19 saat ini.


Di tempat lain dengan suasana yang berbeda, para orang tua yang mengeluhkan bagaimana keadaan anak-anaknya yang terlihat (maaf) bodoh karena terlalu lama bermain gadget. Meskipun nilai raport mereka bagus, nyatanya ketika ditanya pun mereka  tidak paham. Ekonomi orang tua yang terseok-seok, harus ditambah dengan beban pulsa dan listrik yang membengkak. Kebutuhan lain meningkat tapi penghasilan menurun drastis.


Di luar itu, para pengelola negara pun mengeluhkan keadaannya tentang timing kegiatan yang seharusnya terlaksana dengan baik, harus mengalami penyesuaian kondisi tanpa diduga-duga. Bahkan proyeksi program yang menguras isi uang negara, ternyata harus terhambat pelaksanaannya karena hantaman bencana pandemi yang sudah membunuh banyak korban ini. Padahal, secara realnya, ketika program sudah digulirkan dengan menyedot uang negara, tentu seharusnya berjalan normal, agar pengelolaan negara tidak menjadi timpang.


Contoh kecil saja, ketika negara sudah membangun bandara dengan nilai modal yang fantastis, karena bencana ini, semua menjadi terhambat. Bahkan banyak sisi yang bisa dikatakan bangkrut atau merugi. Lalu siapa yang mau disalahkan? Tentu tidak ada, kan? Karena semua ini diluar kemampuan manusia untuk mencegahnya. 


Kalaupun seandainya pandemi ini adalah serangan perang biologis, nyatanya semua negara mendapatkan imbasnya. Siapa yang tidak mengalami kerugian? Nggak ada. Bolehlah beranggapan ada beberapa negara yang bersih dari terkontaminasi pandemi ini, tapi faktanya seluruh dunia terhubung satu sama lain. Semua kebutuhan negara saling membutuhkan asupan dari negara lain.


Itulah fakta-fakta yang tidak bisa dianggap sebelah mata, bahwa bencana virus ini adalah bencana bagi seluruh dunia. Tak pantas lagi saling menyalahkan.


Ketika semua orang mesti bangkit dari keterpurukan.


Ketika bencana begitu saja menghantam, dan ketika kerugian dialami oleh banyak orang, langkah yang paling tepat adalah bangkit lagi dari keterpurukan itu. Sama seperti ketika seseorang sudah memiliki perencanaan yang matang dari poin a, maka mereka akan memiliki alternatif untuk bangkit dengan poin b dengan planing yang lain.


Ketika petani mengeluhkan harga singkong yang murah, selain mengharapkan pemerintah membuat kebijakan kenaikan harga, ternyata karena kebijakan ekonomi saat ini karena sistem ekonomi pasar, maka peran pemerintah pun sangatlah sulit untuk mengendalikan harga-harga. Pelaku pasar, seperti sudah menempati posisi yang paling kuat untuk mengendalikan harga. Imbasnya para petani pun kesulitan mengantisipasi harga-harga yang fluktuatif itu.


Padahal, jika petani sendiri punya perencanaan produksi dan memiliki persatuan kuat untuk mengendalikan harga di pasaran, sepertinya para spekulan dan pemilik pasar yang memiliki modal besarpun akan mengalami masalah serius. Selain berpindah komoditi dengan variasi harga yang jauh lebih tinggi, ketergantungan petani pada satu komoditis saja bisa dihindari.


Seharusnya petani adalah raja dari komoditas mereka sendiri, dan bukan sebaliknya, hanya sebagai buruh yang dipaksa berproduksi, sedangkan harga-harga ditentukan orang lain. Dan memanfaatkan jaringan bisnis yang kuat itu, mereka akan membuat para spekulan ambruk dan berpikir dua kali untuk mempermainkan harga.


Para petani, nelayan dan semua pelaku produksi, adalah aset penting dalam ekonomi kita. Jika mereka bangkit dari keterpurukan ini, maka ekonomi pun akan bangkit. Namun jika sebaliknya, maka ekonomi pun akan runtuh dan siap-siap tetap berada dalam ketiak para pemilik modal, yang sebenarnya jumlah mereka amatlah sedikit dibandingkan jutaan orang petani lainnya yang semestinya memiliki nilai tawar yang juga tinggi. 


Namun, kebangkitan produsen-produsen tersebut akan tetap tidak berhasil, jika pemilik birokrasi dan perundang-undangan belum benar-benar berpihak pada hasil karya anak sendiri. Salam

Senin, 14 Desember 2020

Benarkah Tribunnews[dot]com Dihack atau Dibajak?

Tangkapan layar tribunnews.com (dokumen pribadi)


Baru kali ini mata saya terbelalak atau dibuat kaget, lantaran sebuah situs atau media berita online nasional sudah tidak bisa dibuka. 

Situs berita online tersebut adalah Tribunnews.com dengan alamat https://www.tribunnews.com/regional/2020/11/09/dapat-bantuan-bedah-rumah-dari-pemerintah-keluarga-ini-tak-punya-uang-untuk-bayar-tukang-bangunan

Saya tidak sengaja membuka-buka situs atau berita, lantaran penasaran dengan informasi bahwa bantuan bedah rumah yang berasal dari pemerintah justru membuat satu keluarga bercerai. Alasannya karena tidak mampu membayar ongkos tukang bangunan.

Entah sejak kapan kejadian ini saya kurang begitu mengetahui, lantaran tak sengaja ketika berselancar di dunia maya dan bertanya-tanya terkait bantuan bedah rumah, ternyata beritanya sudah tidak bisa diakses. Dan anehnya lagi di halaman berita itu muncul tayangan yang tidak biasa dengan tulisan Hacked By Astarganz dan ditengahnya tertulis "Aku menyukai seseorang sayangnya keduluan :(.  Sedangkan di akhir gambar tertulis @Exploiters-Team!-GalauCrew-Mr.BlackX12.

Melihat situs yang terkenal ini diretas, saya menduganya karena ada pihak yang iseng atau ngerjain lantaran beritanya terlihat menyudutkan pihak tertentu atau memiliki tendensi bahwa bantuan pemerintah yang seharusnya untuk membantu warga miskin yang butuh rumah, ternyata harus mengalami kenyataan pahit harus cekcok dan berujung pada perceraian.

Sejak pertama kali tulisan ini ditayangkan, saya belum melihat membaca rilis dari pihak Tribunnews..com apakah status peretasan itu murni karena iseng atau karena faktor lain. Dan ketika saya buka kembali statusnya masih sama dan belum pulih seperti sedia kala.

Semoga saja tribunnews.com segera pulih dari peretasan. 

Link:

https://www.tribunnews.com/regional/2020/11/09/dapat-bantuan-bedah-rumah-dari-pemerintah-keluarga-ini-tak-punya-uang-untuk-bayar-tukang-bangunan




Jumat, 04 Desember 2020

Cara mengatasi lele yang mati mendadak, auto sehat

Selamat pagi teman-teman peternak lele. Semoga usaha kita sukses selalu ya. 

Kali ini saya ingin membagi pengalaman bagaimana mengatasi lele yang tiba-tiba mati atau banyak yang mengambang.

Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, silakan tonton video berikut ini sampai habis.




Cara Mudah Merekam Layar Ponsel Gak Pake Ribet

Bagaimana ya cara merekam layar? Kok, saya susah melakukannya.

Pernahkan Anda curhat atau mendengar curhatan teman, kalau mereka sulit merekam layar ponselnya? Yap. Sepertinya kita akan pernah mengalami kesulitan.

Inginnya merekam layar ponsel cukup menekan tombol min (-) plus power, nyatanya yang tersimpan hanya berbentuk foto. Padahal inginnya gak hanya foto, tapi video pun seharusnya bisa kita rekam dengan mudah.

Nah, jika Anda menemukan masalah cara merekam video pada layar ponsel, maka cukup gunakan aplikasi Mobizen dalam ponsel android kita semua bisa dikerjakan dengan mudah.




https://youtu.be/I5ZcNFx-8VE

Rabu, 26 Agustus 2020

Guru Menulis dan Terapi Lelah

 




GURU MENULIS DAN TERAPI LELAH


 

Dalam dunia pendidikan, sosok guru menjadi salah satu soko guru yang mendukung berhasilnya tujuan pendidikan itu sendiri. Karena berjalannya roda pendidikan dan aktualisasi pelaksanaan tujuan pendidikan itu juga dipengaruhi oleh guru.  Maka dari itu, keberadaan guru, sangatlah bersentuhan dengan aneka rencana, tugas dan target-target yang harus dipenuhi secara optimal.

Guru adalah sosok yang setiap harinya bergelut dengan profesi yang sangat menguras energi. Bagaimana mereka setiap hari harus menyusun rencana pembelajaran, melakukan tatap muka dengan pembelajaran bersama para siswanya, melakukan evaluasi atau penilaian, serta refleksi, yang semua itu membutuhkan kerja keras guru dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Sebagaimana dijelaskan oleh Jamal Ma’mur Asmani, bahwa “Guru adalah aktor utama perubahan di tengah masyarakat. Guru juga kreator kader-kader masa depan yang mewarnai peradaban manusia. Besar tanggung jawab guru harus didukung oleh kualitas sumberdaya manusia yang memadai, baik wawasan, skill, moral, kapasitas, dan integritas keilmuannya. Kualitas tesebut akan mendorong guru untuk berbuat dan berkarya yang terbaik demi keharuman individu, bangsa dan dunia.”

Maka dari itu, mengingat begitu beratnya beban guru dalam mengaktualisasikan prinsip atau semboyan ing ngarso sung tulodo (didepan memberikan teladan), ing madyo mangun karso (di tengah memberikan dukungan), turwuri handayani (di belakang memberikan dorongan), dengan menerapkannya sebagai fasilitator, motivator dan dinamisator pendidikan, maka sangat memungkikan setiap guru akan mengalami kelelahan dan kejenuhan dalam menjalani rutinitas profesinya.

Sebagaimana yang terjadi pada guru pada umumnya, di saat menjalani segenap tugas keprofesian maka mereka akan menemukan aneka persoalan. Baik persoalan yang berasal dari tugasnya sebagai pendidik, juga persoalan dalam lingkup kehidupan keluarga dan masyarakat. Baik yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi guru dalam mengatasi hambatan belajar pada siswa, juga menghadapi persoalan keluarganya.

Dengan segenap persoalan tersebut apakah seorang guru akan begitu saja menyerah dalam kondisi yang menjadi beban tugas dan kehidupannya? Atau berusaha mencari alternatif terapi yang akan menyembuhkan rasa lelah fisik, fikiran maupun jiwa tenaga profesional ini? Jawabannya tentu tidak, mereka harus sepenuhnya mencari kiat-kiat agar embanan amanah bagi tugas-tugas keprofesian tersebut tidak terkendala. Salah satunya adalah dengan menulis.

Banyak ahli yang mengatakan bahwa  menulis adalah bentuk pengobatan atas tekanan-tekanan dalam kehidupannya. Ada juga berpendapat bahwa menulis sebagai bentuk terapi kejiwaan bagi penyandang tekanan kerja. Dan menulis adalah terapi yang paling murah dan mudah untuk proses relaksasi persoalan yang dihadapinya.

Satu persoalan saja yang bisa dilewati dengan mudah ketika guru merasa jenuh dalam tugasnya, maka mereka akan menulis pengalamannya dalam diary-diary pribadi. Rasa-rasanya beban persoalan dan pengalaman yang boleh jadi kurang baik begitu mudahnya untuk dituliskannya. Satu masalah bisa selesai hanya dengan menuliskannya dalam sebuah catatan kecil tersebut. Apalagi ada guru yang terkadang tidak mau mengungkapkan persoalannya pada orang lain karean alasan privasi.

Lain halnya jika guru tersebut setiap harinya ingin menceritakan semuanya tanpa rasa malu dan tanpa ada yang harus ditutupi ketika menghadapi tekanan dalam pekerjaan misalnya. Maka mereka cukup dengan membagikan cerita keluh kesah kepada orang lain. Meskipun belum tentu juga orang lain akan mampu menyelesaikan persoalan orang lain. Permasalahannya adalah setiap orang memiliki masalah yang sama, dan cenderung tidak mau mendapatkan beban masalah yang sama dari orang lain.

Setelah mereka menuliskannya dalam catatan pribadi, biasanya akan membuat catatan lain yang akan memberikan solusi kongkrit atas persoalan yang dihadapi. Tentu saja ada rentang waktu yang bisa dihabiskan untuk menyelesaikan tahap demi tahap paling sederhana.

Mengatasi persoalan pribadi dengan menuliskannya dalam catatan pribadi merupakan salah satu terapi lelah atas beban tugas yang dihadapi seorang profesional ini.

Selain persoalan yang bersifat individual, seorang guru selalu akan menghadapi gejala-gejala yang mengarah pada persoalan lain dari diri siswanya. Bagaimana siswa menemukan masalah yang ternyata ketika dilakukan pembelajaran konvensional tetap saja mengalami jalan buntu. Maka sang guru mau tidak mau akan mencari alternatif pemecahan masalah dengan membuat penelitian. Mereka melakukan pengamatan secara seksama bagian-bagian mana yang oleh siswa belum dipahami dan belum mendapatkan hasil belajar yang maksimal. Ditelusuri permasalahan mendasarnya apa, yang kemudian mencari media atau metode pembelajaran yang bisa menjadi solusi atas persoalan siswa.

Setelah menemukan aneka permasalahan, maka guru bisa menentukan satu permasalahan pokok yang dialami siswa. Misalnya siswa tidak bisa membaca kalimat panjang. Maka dengan metode dan media tertentu  guru paling tidak berusaha mencari solusi yang pada akhirnya rasa lelah dalam membimbing siswa dapat terobati.

Pada prinsipnya semua berharap berjalan dengan begitu dinamis. Namun fakta di dunia kerja seringkali bertentangan dengan apa yang guru inginkan.

Seorang guru teladan, Arif Rachman pernah berkata “ Kita juga berharap semua hal bisa dikendalikan dengan mudah. Termasuk lingkungan kerja kita. Kita berharap kondisi yang ideal, sehingga semuanya sesuai dengan yang kita harapkan. Tetapi kenyataannya, seringkali kondisi yang kita rasakan berbeda dari yang kita harapkan. (Dalam Arif Rachman, Guru, hal. 86)

Pada saat proses penyelesaian masalah pembelajaran ini, sangat dimungkinkan seorang guru membangun relasi dengan guru lain, atau melibatkan orang tua atau masyarakat, agar persoalan yang muncul bisa diatasi dengan semangat gotong royong memperbaiki masalah secara bersama-sama. Dan tentu saja sangat mendukung proses relaksasi fikiran kita dan tentu terapi persoalan yang ditemui setiap guru dalam mengembangkan tugas “sucinya” yaitu membangun peradaban manusia yang seutuhnya.

Menyelesaikan Tekanan Kerja, dalam Sebuah Karya Tulisan

Secara umum, para guru menganggap pekerjaan mereka biasa saja, tidak ada yang istimewa dan hanya pekerjaan rutin yang tidak memberikan kepuasan batin. Dan tidak sedikit para guru yang menganggap profesi yang digeluti sangat membosankan dan bahkan memuakkan.

Maka tidak jarang seorang guru menjalani rutinitas kerja dengan rasa lelah yang sangat karena terlalu banyak persoalan yang tidak bisa mengurai satu persatu persoalannya. Atau mengalami kebuntuan ketika bidang tugasnya tidak menghasilkan prestasi yang memuaskan. Belum lagi jika dikaitkan dengan penghasilan, seorang guru acapkali mendapati persoalan penghasilan ini menjadi beban yang tidak berujung pada solusi.

Tidak menampik bahwa seberapa penghasilan yang didapat, dianggap tidak mencukupi kebutuhan hidupnya—karena kebutuhan yang juga melonjak. Padahal seberapa pun besarnya gaji yang didapatkan seseorang, jumlah itu tidak akan pernah berhasil memuaskan orang tersebut.Gaji yang bertambah biasanya diiringi dengan keinginan yang bertambah. Bahkan, gaji sering kali satu langkah kalah cepat dibandingkan keinginan atau kemauan. Sangat sedikit orang yang berpikir dan berkata cukup untuk hal yang menjadi keinginannya. (Arif Rahman)

Namun demikian, apakah setiap guru dilarang untuk mendapatkan penghasilan yang lebih di luar gaji yang diterima? Tentu tidak. Bahkan dalam ajaran Al Qur’an saja disebutkan:

“Apabila Telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (Al Jumuah: 10)

Bahwa setiap orang diperintahkan bekerja atau memenuhi segala macam kebutuhan hidupnya, dengan cara baik dan halal. Baik itu yang melingkupi tugas pokoknya, atau penghasilan tambahan yang juga membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Maka dari itu, bagaimana seorang guru bisa menyelesaikan persoalan lain terkait kehidupannya, tentu mencari sumber lain yang bisa menjadi alternatif penghasilan yang dapat menunjang kehidupan mereka.  Salah satunya kebiasaan menulis. Mengisi kegiatan menulis yang berhubungan dengan tugas-tugasnya di sekolah dan masyarakat, juga memanfaatkannya sebagai ajang mendapatkan penghasilan yang halal. Menulis dan membukukan setiap moment yang dijalani, untuk mengikat memori atau ingatan dalam sebuah karya yang bermanfaat.

Dengan kata lain, setiap guru adalah manusia yang memiliki kehidupan yang sama dengan orang lain, mereka membutuhkan kebutuhan materi dan immateri, mereka membutuhkan kenyamanan dalam bekerja dengan target yang terpenuhi, dan membutuhkan kenyamanan kehidupan karena ekonomi yang juga tercukupi. Asalkan tidak mengganggu tugas pokok sebagai tenaga pendidik.

Akhir kata, setiap guru akan mengalami kondisi yang normal dengan masalah kehidupannya. Kelelahan psikis maupun fisik, juga kelelahan dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Maka salah satu solusinya adalah dengan menulis. Menulis yang bisa membangun kualitas guru sebagai tenaga profesional, dan kualitas kehidupannya sebagai manusia yang bermartabat dan mapan dalam finansial.

Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag (Guru SLB Negeri Metro, Lampung)

---------------------------------------

Catatan kaki:

Jamal Ma’mur Asmani, Tips Sukses PLPG Pendidikan dan Latihan Profesi Guru. Diva Press, Jakarta, 2011.

Arif Rachman, Guru, Erlangga, Jakarta, 2015.



 

 

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!