Senin, 23 Maret 2015

Radikalisme Berpotensi Menyerang Anak-anak Kita, Ini Solusinya

Fenomena radikalisme di Indonesia semakin marak terjadi, seperti yang beberapa hari masih hangat-hangatnya dibicarakan tentang eksodusnya WNI ke negara Suriah demi bergabung dengan ISIS. Menyusul dengan berita tentang telah masuknya gerakan ini di wilayah Lampung khususnya Kab. Mesuji, seperti diberitakan oleh Metro TV, (21/3). 

Tentu kejadian ini membuat bangsa ini prihatin, baik bagi masyarakat yang bersinggungan langsung dengan para korban, bahkan lebih dari itu menjadi catatan penting bahwa pemerintah Indonesia harus mawas diri dan introspeksi diri mengapa fenomena radikalisme yang disebarkan oleh ISIS bisa diikuti oleh warga negaranya.

Ancaman ISIS tidak bisa dianggap sepele, karena secara terang-terangan gerakan radikalisme yang disebarkan ternyata menuai banyak korban, tak hanya masyarakat yang berkonflik langsung dengan ISIS, karena umat Islam sendiri banyak yang dibidik dan dijadikan anggota rekrutan. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, tak hanya merekrut umat Islam yang notabene kurang begitu memahami konsep jihad ini, karena TNI, Polri dan Banser pun menjadi sasaran ancaman dari kelompok yang sering disebut sebagai kaum ekstrimis.

Dengan banyaknya umat Islam yang tergerus keyakinannya dengan mengikuti ajaran ISIS ini, tentu membuka mata batin kita, sejauh mana peran pemerintah, khususnya kementrian agama dan para ulama dalam mensikapi dan mengambil langkah-langkah tepat untuk mengendalikan penyebaran gerakan yang tentu saja sangat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Apakah pemerintah sudah benar-benar mengantisipasi dan bekerja sekuat tenaga menyadarkan masyarakat yang belum menjadi korban terkait dampak negatif jika paham rekalisme ini menjalar di bumi pertiwi? Tentu saja langkah-langkah strategis yang patut diambil adalah sepatutnya bangsa ini bergandengan tangan mencegah dehumanisasi ala radikalisme yang disebarkan oleh ISIS.

Sebagaimana disampaikan Khofifah Indar Parawansa bahwa "Kaum ibu memiliki sensitivitas dalam mengenali perilaku dan perubahan sikap anak-anaknya, karena itu kaum ibu rumah tangga bisa menangkal paham radikal yang mengarah pada terorime, seperti ISIS," Sebagaimana dilansir oleh WartaEkonomi, (23/3). 

Hal tersebut disampaikannya setelah memberikan ceramah dalam Pengajian Akbar Hari Lahir Ke-69 Muslimat NU di Pendopo Dipokusumo, Purbalingga, Jawa Tengah. 

Paham radikalisme sudah ditentang oleh Pengurus Besar Nahdhtul Ulama (PBNU) dan secara terang-terangan menolak ISIS. Imbuh menteri sosial ini yang saat ini masih menjabat sebagai Ketua Umum PP Muslimat NU ini.
Tentu saja, segala macam statement tentang penolakan radikalisme hanya sebatas teori dan debat semata, namun belum menyentuh pada persoalan yang sebenarnya. 

Dengan tindakan nyata dengan melibatkan semua elemen masyarakat, baik NU, Muhammadiyah, dan Non Government Organization (NGO) lainnya agar bersinergi membangun kerjasama yang harmonis demi membendung paham radikal ini masuk ke bumi Indonesia.


Anak-anak Sekolah menjadi sasaran empuk radikalisme

Paham radikalisme, hakekatnya bisa dimiliki oleh semua penganut agama, bahkan kaum atheis sangat berpotensi memiliki ciri-ciri radikalisme dengan bentuk pergerakannya yang cenderung merusak dan membunuh siapa saja yang bukan anggotanya.

Begitu pula radikalisme yang dikembangkan oleh ISIS saat ini, tentu buah dari kesalahan persepsi dari makna perjuangan (jihad) menegakkan agama Islam. Boleh jadi akibat dari tumbukan-tumbukan situasi yang cukup dramatis akibat perang yang berkecamuk di kawasan tanah arab, khususnya Irak dan Syuriah. Sehingga mau tidak mau, munculnya paham radikalisme ini merupakan ekses negatif dari pergolakan politik yang cukup menguras energi masyarakat yang bersangkutan.

Meskipun munculnya radikalisme ini sudah sejak lama terjadi, seperti ikhwanul muslimin yang sempat mengoyak perdaiaman di Mesir beberapa waktu lalu, tentu buntutnya hampir semua negara jika dimasuki paham radikal ini akan berdampak sama, terjadi konflik kepentingan dengan mengatasnamakan idealisme kelompok dan aliran secara sempit yang turut memperkeruh suasana yang terjadi. Dan yang cukup memprihatinkan lagi, jika radikalisme ini menyusupi kawasan edukasi yang semestinya dihindari. Anak-anak sekolah yang semestinya dijauhkan dari paham ini ternyata sejauh ini sudah banyak memakan korban, seperti kasus beberapa anak yang turut serta dalam aksi eksodus ke Suriah dengan alasan bergabung dengan ISIS. Seperti diberitakan di beberapa media massa baru-baru ini.

Apalagi, belum lama ini pula di wilayah Jombang, Jawa Timur, telah beredar buku-buku yang mengajarkan kekerasan, membunuh orang lain yang tidak sependapat dan tidak sepaham. Buku tersebut mengajarkan dibolehkannya membunuh jika orang tersebut dianggap syirik. Padahal konsep hukum Indonesia amat jauh dari apa yang telah disampaikan dalam buku agama bagi anak-anak SMA tersebut.

Paling tidak, mulai saat ini, penyebaran radikalisme begitu mudah terjadi, apalagi media sosial, baik facebook, youtube, twitter dan lain-lain menjadi sarana yang paling efektif dalam menyebarkan konsep tersebut kepada semua kalangan. Baik orang tua maupun anak-anak sekalipun.

Peran masyarakat sejauh ini yang bisa dilakukan

Terlepas dari apa yang dilakukan oleh pemerintah melalui kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), namun bagi masyarakat hendaknya bertindak pro aktif dengan membendung arus radikalisme ini. Misalnya selalu melaporkan setiap gerak-gerik yang menjurus pada tindakan radikal, pesan-pesan sensitif yang bermuara pada perekrutan pada kelompok ISIS dan yang paling penting adalah selalu berkoordinasi dengan apara penegak hukum, tokoh masyarakat, aparat daerah dan para pengelola pendidikan agar anak-anak Indonesia terbebas dari pengaruh ideologi yang menyesatkan ini.

Sebagai orang tua, hendaknya lebih serius lagi dalam mengontrol tontonan, bacaan serta teman-teman jejaring sosial yang dikhawatirkan menjerumuskan pada aksi terorisme, sekaligus memberikan pemahaman yang benar terkait konsep Islam yang selalu mengajarkan kasih sayang pada semua makhlukNya.

Salam

Sumber: Dari berbagai media.

Nak, Andaikan Engkau Tahu Sakitnya Ibumu Melahirkanmu


Kasih Ibu Sepanjang Masa, I Love U Soo Much Mom (Gambar: mobavatar.com)



Kasih ibu sepanjang masa, tak terbalas oleh apapun yang diberikan oleh anak-anaknya. Mencintai ibu dan menghormatinya adalah kemuliaan dan kehormatan sebagai orang yang beriman



Nak, Andaikan Engkau Tahu Sakitnya Ibumu Melahirkanmu

Suatu ketika anak-anak kog keceplosan kata-kata kasar yang sebenarnhya amat jarang ia lontarkan, bahkan amat mungkin tidak melontarkan kata-kata itu kepada ibunya. Sebab, kedekatannya kepada saya selaku ayahnya tak lebih baik kepada ibunya. Tapi entah, ada problem apa dengan teman-temannya kog seketika itu ia membentak ibunya, "mamak iki, dipanggil kog gak denger-denger!".

Sontak saja, mendengar kata-kata ketus itu, ibunya sedikit  marah, dan balik mengatakan bahwa ucapan itu tidak sopan dilontarkan kepada ibunya. Seketika itu pula, kata-kata sedikit kasar keluar dari lisan istriku. Kenapa tiba-tiba sang ibu dan anak yang biasanya rukun kog tiba-tiba mengeluarkan ucapan yang kurang baik di dengar oleh tetangga. Tak kusangka, anak yang seusia SD ini sudah berani membentak ibunya. Ada apa ini? Apakah terlalu sering ia di-bully teman-temannya di sekolah? 
Sepertinya tidak. Karena, anak sulung kami cukup berani dan tak lembek jika berhadapan dengan anak-anak yang kurang baik meski laki-laki sekalipun.

Entahlah, saya cuma mengelus dada, kenapa anak yang biasanya baik-baik saja kog tiba-tiba sentimen dan marah-marah pada ibunya.

Saya yang kebetulan di dekatnya hanya bisa memberikan pesan padanya, "Nak, bagaimanapun ibumu tetaplah ibu. Jangan engkau membentak meskipun kadang kesel karena ibu sering marah-marah karena kebandelanmu. Meskipun engkau kecewa dengan ibu, ingatlah bahwa ketika masa mengandungmu selama sembilan bulan sepuluh hari ibu sudah sangat susah, capek dan lelah. Di tambah lagi ia tetap mengurus adikmu yang juga butuh disayang. Pernahkah kau tahu bahwa melahirkanmu ibu bertaruh antara hidup dan mati. Jika ibu selamat, bisa jadi engkau yang tiada. Atau sebaliknya, boleh jadi engkau yang selamat ibu yang akan tiada.

Mendengar pesan ayahnya, diapun tertegun, diam beribu bahasa. Terlihat penyesalan dalam dirinya. Dan alhamdulillah efek lingkungan yang merusak dapat kami batasi dengan bimbingan secukupnya.
Tapi selaku orang tua, saya tetap memaklumi bahwa anak-anak memang kejiwaannya masih labil. Apalagi kadangkala tanpa sepengetahuan saya ia menonton acara TV yang berisi pem-bully-an. Kata-kata penuh umpatan.

Pernah saya memberikan peringatan, jika suatu saat TV akan saya gadaikan daripada melihat tontonan yang tidak baik. Kadang saya berfikir apa lebih baik tak usah memiliki televisi jika akibatnya seperti ini. Masih bagus jika disaat menonton orang tua bisa mendampingi dan memberikan pencerahan, repotnya jika saat tak ada di rumah, dampaknya sangat berbahaya bagi pembentukan kepribadian mereka.

Begitupula ketika ibu memarahi anaknya, tentu ada sebab kesalahan yang dilakukan anak. Ibu merasa berhak memperingatkan dan memperbaiki kesalahan mumpung masih di usia dini. Tentu marah inipun dalam koridor kontrol diri dan tetap memegang prinsip psikologis anak.

Ibu tetaplah ibu, dalam keseharian kita acapkali sang ibu terlihat marah. Tentu karena anak-anak yang seringkali membandel. Membantah jika dimintai tolong dan tak mau mendengar jika diberikan saran yang baik. Kecewanya lagi jika apa yang dilakukan mereka tak berbuah manis. Minimal rasa syukur, pujian dan senyum kepada ibu mereka karena telah melakukan pekerjaan di rumah.

Memang, ibunya anak-anak lebih banyak di rumah, daripada mengurus pekerjaanya, karena ia sudah mewakilkan pada guru lain di sekolah. Sedangkan kerelaannya di rumah karena anak-anak lebih banyak membutuhkan perhatiannya.

Itu pula yang saya sampaikan, bahwa apalah artinya pekerjaan di luar dengan uang yang banyak, jika anak-anak terlantar. Kadang, orang tua yang sudah perhatian, mencurahkan kasih sayangnya sepenuh hati saja masih mendapatkan perlakuanyang kurang baik dari anak-anaknya. Apalagi jika sang ibu jarang sekali memperhatian perkembangan anak-anaknya. Tentu akibatnya dapat diduga, anak melawan dan bertindak kasar karena merasa kurang mendapatkan didikan dan kasih sayang.

Anak lebih banyak diasuh oleh pembantu (asisten rumah tangga) yang tentu tak kan sama dengan cara orang tua kadung dalam mengurus anak-anaknya.

Begitu pula akhir-akhir ini, para ibu sepertinya begitu dihargai dan dicintai ketika mereka masih muda dan tubuhnya masih kokoh untuk mencari rezeki. Tapi, tatkala para ibu ini sudah tua renta, mereka pun acapkali jadi bahan umpatan, celaan dan hinaan dari anak-anaknya. Dalam bahasa jawabanya, naliko wong tuwo sugih anak dadi rojo, nanging naliko anak seng sugih, wong tuwo dadi babu (ketika orang tua kaya, anak jadi raja, namun ketika anak yang kaya, orang tua menjadi budak). 

Kenyataan ini kerap terjadi, bahkan sepertinya saat ini banyak terjadi. Bahkan slogan gudel manut kebo berubah menjadi kebo manut gudel.

Meskipun adapula anak-anak yang masih menyayangi dan mengasuh orangtuanya yang renta dengan perhatian dan kasih sayang yang utuh. Mereka berusaha menjadi anak yang berbakti selagi orang tuanya masih diberikan panjang umur.

Orang tua saat ini, sepertinya menurut saja apa kata anak-anaknya. Meskipun apa yang dikehndaki sang anak tak patut dan dirasa tak layak untuk dilakukan. Apalagi urusan jodoh, orang tua tidak bisa berbuat banyak. Anak diberi tuntunan dan wejangan, justru orang tua dianggap cerewet dan sok tahu. 

Dampaknya banyak anak yang menikah tanpa restu orang tuanya. Tapi, manakala keluarga mereka kacau balau (tak bahagia), mereka berharap belas kasih orang tuanya.

Itulah potret dunia masa kini. Orang tua dianggap orang tua ketika bisa memberikan segalanya. Tapi ketika sudah berusia lanjut, kata-kata  mereka sama sekali tak didengar. Yang lebih menyakitkan lagi jika anak-anaknya mengatakan "jaman saiki ki wes bedo karo jaman mbiyen" (jaman sekarang sudah berbeda dari jaman dulu). Padahal tidak ada yang berubah dari jaman sekarang atau jaman yang telah lalu, hanya manusianyalah yang mengubah jaman menjadi aneh, rumit dan sulit. Segala yang awalnya baik-baik saja acapkali menjadi aneh. Bahkan dianggap ndusun dan ketinggalan jaman.

Dan lebih menyedihkan lagi, karena anak-anaknya sudah sukses, amat sedikit yang mau mengurus orang tuanya. Kebanyakan mereka ditempatkan di panti jompo. Orang tua yang dahulu mengandung, melahirkan dengan taruhan nyawa dan merawatnya menjadi orang yang berguna, ternyata di usia senjanya justru dalam kesepian. Mereka seperti sampah dalam kehidupan anak-anaknya. Na'udzubillah semoga penulis tidak termasuk anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Pada akhirnya, hanyalah anak-anak yang mengerti akan kewajibannya kepada orang tua yang bisa menjadi penolong dan pengasuh orang tuanya tatkala berusia senja.
Semoga kita semua bisa menjaga anak-anak kita dari pengaruh globalisasi informasi yang terlalu banyak dimensi yang merusak generasi muda.

Salam

Kawan Sejati, Ternyata Masih Ada

Kawan sejati senantiasa ada di sisi kita dalam situasi apapun, namun kawan sejati adalah amal, yang akan menemani kita ketika tidak ada lagi kawan dan naungan selain Allah SWT  (katamutiara.web.id)


Kawan Sejati, Ternyata Masih Ada

Katanya saat ini sulit mencari kawan atau teman sejati, karena mereka selalu mengharapkan balas jasa. Bahkan ada yang lebih sinis  lagi mengatakan bahwa saat ini teman hanya mencari keuntungan dari pertemanan, dan cenderung merugikan temannya. Benarkah demikian? Boleh jadi yang mengatakan bahwa tidak ada teman yang sejati pernah disakiti dan ditipu oleh satu-satunya teman. Ia mungkin tidak mencari teman sebanyak-banyaknya. Jadi, seolah-olah dunia ini sempit. Jika sudah berteman satu, maka cukup ia saja yang dijadikan sandaran dikala duka. Teman curhat dikala susah.

Tapi, lain lagi jika temannya tak hanya satu, mereka mencari teman di mana-mana. Bisa lewat medsos, termasuk kompasiana, atau teman yang kebetulan satu profesi. Tentu jika satu teman meninggalkan kita, pastilah ada teman lain yang menggantikan. Eeee ada juga yang memiliki teman, sejam atau dua jam langsung putus hubungan. Tentu ada yang salah dengan diri kita. Apakah kita terlalu protektif, permisif, jutek, mudah usil, atau mudah mengganggu urusan pribadi (privacy). Gak akan betah memiliki teman yang beginian. Apalagi yang mudah iri dan dengki dan tak suka melihat temannya bahagia. Gak bakalan selama hidup memiliki teman. Ya kan?

Banyak teman di sekitar kita,
teman yang bisa mengerti apapun keadaan kita.
Ia selalu hadir meski dalam keadaan duka.
Tapi teman yang terbaik untuk kita adalah Amal Kebaikan.
Karena ia akan menemani kita di saat tidak ada satupun naungan selain Naungan Tuhan

Saya termasuk yang menemukan teman sejati, meski tak pernah bertemu dan jarang bertegur sapa, karena satu profesi kami menjadi teman. Teman sesama guru. Ia teman yang tak ku kenal tapi kebaikan hatinya sungguh mulia.

Kejadian bermula tatkala selesai pelatihan di kota Gudeg Yogyakarta, ndilalah koper saya ketinggalan di bis. Maklum banyak pikiran apalagi sambil membawa siswa yang butuh pendampingan penuh. Tentu acapkali barang bawaan tertinggal. Saya kalut, bingung, sedih dan kecewa dengan diri sendiri. Kog saya bisa bodoh, lupa, pikun dengan bawaan sendiri. Apalagi Yogyakarta adalah kota besar yang tak kan mungkin ada saudara yang menolong. Apalagi meskipun punya keluarga, ternyata tak jelas juga keadaannya. Lepas komunikasi lantaran meninggalnya simbah dan belum mempertemukan dengan keluarga di Yogya.

Saya sudah mencari-cari sampai ke hotel, ternyata barang sudah tidak ada, karena saya menduga barang tersebut dikembalikan ke hotel. Saya sudah pasrah karena tidak mungkin barang saya yang berisi pakaian dan buku-buku akan kembali. Saya sudah mengikhlaskan karena ketika mengontak pihak panitia, ternyata belum memberikan jawaban pasti.

Alhamdulillah saya beruntung. Pak Eko, teman yang saya anggap jauh karena berasal dari Prop. Riau itu ternyata memiliki kebaikan hati yang luar biasa. Kebaikan hatinya tatkala rela mendidik anak ABK ini pun terpancar tatkala mengamankan koper saya yang tertinggal. Padahal bisa saja ia mengaku saja pemilik koper tersebut dan membiarkan pesawat membawanya sampai ke bandara Pekanbaru.

Tak dinyana, ketika saya dirundung kecemasan, sembari menunggu waktu penerbangan, beliau tiba-tiba memberitahu saya bahwa ia menemukan sebuah koper. Dan ketika saya tanyakan ciri-cirinya, benar itu milik saya. Lega hati ini karena mendapati guru yang tak pernah saya kenali justru menjadi teman yang baik. Seorang pria yang semula saya anggap aneh karena memiliki fisik yang kurang baik, ternyata hatinya sungguh mulia.

Ketika saya tanyakan, beliau mengatakan koper itu sudah masuk ke bagasi pesawat dan sudah siap meluncur ke Pekanbaru karena daripada koper tersebut hilang, maka beliau berinisiatif menyimpannya.
Saya senang karena sudah ada yang mengakui bahwa ia menemukannya. Akhirnya saya meminta nomor rekening supaya saya bisa mentransfer ganti rugi berapa saya harus mengembalikan biaya pengiriman.

Sekali lagi, bapak ini seperti malaikat yang berhati mulia, meskipun uang pengiriman hendak saya ganti, ternyata beliau justru rela mengirimkannya kembali ke Lampung dengan jasa JNE meski tanpa saya ganti. Sebab beliau menolak tatkala saya tawari ganti rugi.

Saya gak enak hati, tapi mungkin inilah balasan Tuhan, tatkala kita memohon pertolonganNya, ternyata Tuhan menggerakkan hati seseorang untuk menolong saya meski tanpa mendapatkan imbal jasa. Cukup ucapan terima kasih berkat kebaikan hatinya. Padahal jika diganti rugi, biaya pengiriman bisa mencapai 200 ribuan.

Kisah ini hakekatnya benar-benar terjadi, seorang sahabat yang benar-benar sejati. Beliau berteman tanpa meminta balas jasa, dan berharap Tuhan yang akan membalas kebaikan dirinya. Semoga pak Eko dan orang-orang yang berhati emas, mendapatkan tempat yang mulia di sisiNya.

Yakinlah, bahwa dunia ini tak selebar daun kelor dan tak serumit benar yang kusut. Mungkin saat ini Anda merasa dibully, disakiti dan difitnah oleh orang-orang terdekat Anda. Atau ditipu lantaran teman yang telah berkhianat. Tapi Tuhan tidak pernah tidur dan membiarkan hambanya jatuh tersungkur dalam kebinasaan dan kerugian.

Saya pun yakin bahwa di Kompasiana saya bisa mendapatkan teman sejati, teman yang selalu memberikan pencerahan dan inspirasi agar kehidupan kita menjadi semakin baik.

Salam

ISIS, Ketika Makna “Jihad” Disalah Mengerti





Jihad dalam islam adalah jihad untuk cinta, bangun negara dengan semangat rahmatan lil 'alamiin (kasih sayang bagi semesta alam (holebi.info)


ISIS, Ketika Makna “Jihad” Disalah Mengerti

Akhir-akhir ini dunia terlihat goncang dan goyah. Masyarakat yang pada mulanya berfikir normatif kini berubah menjadi pragmatis inkonstitusional. Masyarakat yang mulanya lebih mengedepankan nilai akhlaki, budi pekerti dalam membangun hasanah kehidupan ini, ternyata semakin lama semakin menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Masyarakat bangsa mulai tak lagi mengenal apa itu baik dan buruk, tapi semata-mata berdasarkan cita-cita dan idealisme sempit yang memaksa orang tersebut berbalik arah. Mereka memberontak melawan kemapanan. Namun sayang sekali prilaku seperti ini kebanyakan melawan hukum negara yang sejak awal ditegakkan. Hukum negara yang awalnya bisa menjadi rujukan dan kiblat dalam bernegara.

Para pencari surga berusaha mencari sendiri di mana surga itu berada dan mencari jalan yang dianggap paling baik meskipun acapkali sulit dimengerti, betapa kehidupan ini seperti tak lagi dihargai. Benarkan semua ini buntut dari ketidak puasan rakyat yang seperti dibodohi oleh keadaan? Sehingga pola pikir pun berubah menjadi frontal dan merusak. Mereka menginginkan kebahagiaan di surga, tapi mereka melupakan kebahagiaan di dunia. Konsep pemenuhan aspirasi ukhrawi yang meninggalkan kebahagiaan duniawi.

Pilihan ini memang tidak salah, karena setiap orang berhak untuk memilih kehidupan mana yang ingin dicapai terlebih dahulu, meskipun keinginan ini jangan sampai merugikan orang lain dan justru salah dalam menilai konsep jihad dalam kehidupan yang sebenarnya.


--------

Jika dianalogikan fenomena ISIS dan bergabungnya beberapa orang di negeri ini mungkin buah dari pemaknaan Jihad yang keluar dari koridor yang sebenarnya. Paling tidak menurut penulis sendiri dan dari ajaran suci kitabullah yang cukup mengajarkan banyak hal tentang esensi jihad. Mohon maaf jika ada pihak lain yang berpendapat lain terkait jihad ini. Karena sepengetahuan penulis, jihad tidak semata-mata berperang dan semua orang "dipaksa" untuk turut serta menumpahkan timah panas demi menghabisi lawannya, sedangkan generasi muda yang sejatinya mesti dipersiapkan pendidikannya telah dimanfaatkan oleh kepentingan terselubung dalam balutan jihad ini. Anak-anak yang semestinya dididik dan dibesarkan dengan pengetahuan yang mencukupi agar bisa menjadi rahmat seluruh alam, ternyata dijadikan korban pemaksaan idealisme sempit jihad yang sudah salah kaprah.

Mana mungkin Islam dapat ditegakkan jika generasi mudanya sudah harus berperang? Meskipun sepatutnya mereka menuntut ilmu yang cukup agar kehidupan ini bisa ditegakkan dengan nilai-nilai Islam?

Anak-anak ini tidak lagi anak-anak yang polos yang mesti dididik dengan kasih sayang, pena dan kertas putih yang harus diisi dengan kebaikan. Tapi justru senjata pembunuh, dan konsep perang dan membunuh demi tujuan tersebut. Bagaimana mungkin anak-anak yang tidak mengerti tentang politik dipaksa turut bertempur dan memanggul senjata melawan musuhnya meskipun mereka tak pernah mengerti apa tujuan pasti mereka membunuh.

Benarkah misi jihad yang saya kategorikan dengan misi bunuh diri bagi anak-anak dan orang-orang awam yang tak paham tentang politik benar-benar akan mencapai cita-cita jihadiyah dan surga? Sedangkan di pihak lain orang-orang yang dibunuh sejatinya juga ada di antara mereka yang seagama? ISIS menghendaki Islam tegak dengan khilafah, mereka memaksa kondisi ini berubah drastis menjadi seperti kekhalifahan, meskipun faktanya khalifah Islam di era sebelumnya telah musnah, hancur tinggal puing-puing sejarah. kekhalifahan Islam tinggal nama karena politik yang justru membuat sesama saudaranya saling bermusuhan.

Penulis prihatin, kasus hilangnya beberapa orang dari Indonesia ternyata telah bergabung bersama ISIS, meskipun fakta menyebutkan beberapa orang yang ditahan ternyata berbeda dengan yang diduga hilang. Tapi paling tidak, bukti otentik menyebutkan bahwa beberapa dokumen perjalanan (visa) telah dipalsukan dan menggunakan nama lain demi memuluskan rencananya bergabung bersama ISIS.

Dan tadi malam, diberitakan bahwa ada 57 warga di Kab. Mesuji dinyatakan hilang. Mereka menjadi korban kejahatan radikal mengatasnamakan agama. Menurut media tersebut, warga ini direkrut menjadi pasukan perang ISIS. Mereka direkrut dengan dalih umroh gratis, perjalanan wisata gratis, dan modus-modus lain yang hakekatnya dilakukan untuk mengelabui masyarakat yang minim pendidikan. 

Betapa cerdiknya ulah perekrut ini dalam menjalankan aksinya.

Anehnya, meskipun konsep jihad ini berhubungan dengan hal ikhwal membela agama Islam, kenapa prosesnya justru menipu dan melakukan pemalsuan identitas? Benarkah Islam menghalalkan cara-cara haram demi tujuan suci?

Saya menduga, rekruitment yang dilakukan ISIS hakekatnya sangat terorganisir. Mereka sengaja mengeceh umat Islam dengan janji-janji palsu khilafah. Padahal semuanya semata-mata tujuan semu yang hanya ingin menghabisi Islam dari dalam.

Ada faktor adu domba di dalamnya. Umat Islam di seluruh penjuru bumi dengan terpaksa harus membunuh umat muslim lainnya yang tidak sepaham dengan konsep yang diajarkan ISIS. Khilafah Islam ala mereka sudah dianggap rumus pasti bahwa Islam benar-benar bisa ditegakkan. Meski semuanya masih remang-remang. Apakah kehadiran Muhammad SAW semata-mata mengajarkan berbunuh-bunuhan dan memaksakan kehendak demi suksesnya cita-cita khilafah tersebut? Anda lebih tahu jawabannya.

Pemerintah sepertinya lambat mengatasi arus gerakan ISIS dari dalam

Sepertinya pemerintah saat ini terlihat lalai, mereka bisa begitu mudahnya direkrut bergabung dengan ISIS tanpa ada gerakan pasti mencegah arus rekruitment ini terjadi. Pembicaraan terkait ISIS hanya di forum-forum ilmiah dan diskusi-diskusi di media.

Sejak pertama kali fenomena ISIS merebak, pemerintah sepertinya juga masih jalan di tempat. Buntutnya beberapa warganya yang dinyatakan hilang dan ada yang ditangkap lantaran aksi mereka yang mencurigakan. Mereka ditangkap karena dianggap memasuki wilayah di mana ISIS saat ini berkuasa.

Mau tidak mau, mulai saat ini pemerintah harus semakin jeli dan teliti, buka mata dan buka telinga. Apakah arus rekruitmen ISIS ini masih saja terjadi? Lakukan langkah konstruktif dengan melibatkan anggota masyarakat. Itu jika pemimpin negeri ini peduli akan nasib rakyatnya. Mereka tak membiarkan umat Islam di negeri ini justru menjadi korban kesalahan pahaman tentang memaknai Jihad yang sesungguhnya. Wallahu a'lam bish shawab

Salam

Jumat, 20 Maret 2015

Lagi-lagi, Pelanggan Smartfren Jadi Korban


Slogan smartfren yang katanya anti lelet, meski sampai saat ini sering lelet dan pulsa sering pula raib (marketeers.com)
Hari ini, (18/03) kasus kerugian yang dialami oleh pelanggan Smartfren muncul lagi. Kerugian materi akibat transaksi paket data internet tak sesuai dengan yang diharapkan. Paket internet sudah didaftarkan, tapi volume masih kosong dan pulsa pun sudah raib entah kemana.

Kejadian ini dialami seorang pemilik counter Topas, pengisian pulsa smartfren di salah satu wilayah di Kota Metro. Entah berapa kali penjual pulsa ini telah kehilangan uangnya karena raib tak jelas entah kemana.
Menurut penuturannya pulsa yang lenyap ini diawali oleh pulsa yang sudah masuk ketika di paketkan ternyata justru pulsanya hilang. Padahal ia sudah mengikuti aturan pendaftaran via sms sesuai dengan yang diberikan pihak smartfren. Paket data sudah diminta, tapi kuota internet bulanan tak juga dapat dinikmati. Saya melihat raut sedih dan kecewa, lantaran penghasilan hari itu harus dikorbankan oleh sebab proses pendaftaran paket data yang tak berhasil.

Beliau sudah berusaha mendaftarkan jenis paket yang disediakan smarfren, tapi justru tidak membuahkan hasil. Kebetulan sinyal yang seringkali lemot ini, jatuh pada taraf yang sangat rendah. Sedangkan paket yang sedianya dapat dinikmati pelanggannya harus diganti dengan pulsa baru dengan resiko menanggung kerugian per isian 50 ribu.

Smartfren, sebagai salah satu perusahaan jasa telekomunikasi yang cukup booming dengan beragam produk jasa dan layanan, ternyata sampai sejauh ini belum menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap layanan pelanggan. Baik terkait pengaduan dan keluhan kualitas sinyal yang buruk, paket pulsa yang sering kali terpotong tanpa diketahui sebabnya, dan sinyal yang cenderung lemot. Pernah pula saya melaporkan keluhan sinyal yang lemot via sms pelanggan, ternyata jawabannya tetap sama, bahwa kualitas sinyal dianggap tidak bermasalah. Meski faktanya tidak seperti yang disampaikan.

Padahal menurut visinya, smartfren berusaha memberikan kepuasan pelanggan, tapi toh faktanya sampai saat ini, kualitas sinyal justru semakin menurun. Tak hanya sinyal yang sering lemot, karena sinyal pun sering terputus tanpa sebab. Proses download yang mesti gagal, bahkan lebih mengecewakan lagi, tatkala proses aktivasi dapodik dan Padamu Negeri ternyata sinyal sangat jauh dari yang diharapkan. Hingga tengah malam, proses aktivasi tersebut baru bisa dirampungkan.

Beberapa keluhan yang dialami oleh pemilik counter tersebut pun acapkali saya alami sendiri, seperti halnya di tahun 2013 yang lalu, ketika saya membeli modem baru smartfren. Kebetulan kerabat menitipkan uangnya agar membelikannya modem smartfren. Dan kebetulan modem tipe baru. Awalnya kerabat tak mempersoalkan harganya karena masih terjangkau di kantong. Tapi yang membuat beliau kecewa karena belum genap sehari semalam modem itu digunakan ternyata sudah tak dapat digunakan. Entah, apakah produk tersebut bajakan, palsu atau tiruan. Yang pasti modem tersebut dibeli dari toko elektronik, handphone dan pulsa yang cukup besar. Saya tak curiga jika produk tersebut palsu, lantaran ada label resminya.

Tapi, ketika produk tersebut belum dipakai selama sepekan sudah rusak, maka sudah dapat diduga produk tersebut sepertinya memang belum sempurna. Jadi sepantasnya produk smartfren lebih diperbaharui lagi demi kepuasan pelanggan.

Ketika modem tersebut rusak, saya pun mengembalikannya ke toko di mana saya membeli. Dan kebetulan juga masih garansi jadi saya berharap modem tersebut bisa ditukar dengan yang baru.

Sayang sekali, harapan untuk segera mendapatkan penggantian, ternyata harus menunggu lama hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai-sampai saya tak enak hati dianggap menipu karena modemnya tak juga diambil. Karena tak sabar ingin segera menggunakan modem tersebut, kerabat pun akhirnya meminta modem yang baru di toko lain, padahal modem yang garansi tersebut belum juga saya dapatkan. Padahal berulang kali ditanyakan. Entahlah, apa memang teknis penggantian dengan garansi tersebut membutuhkan waktu lama?

Kekecewaan berulang kembali, tiga hari yang lalu(15/3) pulsa yang dibeli tiba-tiba raib. Padahal sudah didaftarkan paketannya. Si pemilik counter juga berkilah bahwa ia sudah memberikan pulsa yang dibeli dan sudah mendaftarkannya. Saya percaya dengan keterangan beliau, karena modem tersebut saya tinggal semalaman agar proses paketisasi bisa berjalan normal. Tapi, anehnya justru pulsa hilang dan paket dapat tidak dapat saya nikmati.

Saya pun tak enak hati, tapi apa daya, pulsa yang dibeli seharga 50 ribu, yang sedianya cukup untuk satu bulan berselancar di dunia maya harus lekang tak tahu di mana rimbanya.

Beruntung pemilik counter mau berbaik hati, ia merelakan modalnya raib demi mengganti pulsa yang tak jelas keberadaannya. Dua kali kejadiannya ini menimpanya. Dan sayang sekali meskipun itu kesalahan operator, ternyata pihak smartfren tak mau tahu bahwa pelanggannya banyak yang dirugikan.

Pesan kepada pihak Smarfren

Smarfren adalah satu-satunya yang sampai saat ini saya gunakan, karena sebelumnya sudah menggunakan layanan internet melalui provider lain. Dan saya mendapati awal peluncurannya smartfren cukup memuaskan. Tapi sayang sekali, akhir-akhir ini justru sangat mengecewakan.

Tak hanya pemilik counter dan saya yang harus menanggung kerugian, karena ada pihak lain yang turut menjadi korban sinyal yang tak stabil.

Mudah-mudahan, di kemudian hari, kejadian ini tidak terulang lagi. Sayang sekali bukan, jika para pelanggan berpindah ke lain hati karena layanan smartfren yang tak menghargai loyalitas pelanggannya?
Mohon maaf jika tulisan ini kurang berkenan, karena kesetiaan saya menggunakan layanan smartfren.

Salam

Membegal, Ketika Nyawa Tak Lagi Berharga

Aksi begal akhir-akhir ini semakin marak, buntutnya polisi mengerahkan aksi sigap untuk menangkap para pelaku kejahatan ini. Gambar sebuah spanduk peringatan tentang bahaya begal (depoklik.com)


Miris dan trenyuh melihat berita akhir-akhir ini. Tak hanya di televisi, di radio, internet dan sepertinya semua media termasuk koran kelas kampung memberitakan tentang maraknya aksi pencurian, penodongan, perampokan dengan kekerasan. Kejahatan yang biasanya disandangkan terhadap ulah pelaku yang memaksa merampas kendaraan korbannya disertai ancaman menyakiti hingga berujung mengambil nyawa korbannya jika melawan.

Itulah trending berita akhir-akhir ini. Seakan-akan semua media sengaja memberitakan betapa ulah para pembegal ini sudah melampaui batas. Benar, ulah mereka sangat melampaui batas. Karena tak sedikit dari para korban, khususnya pengendara sepeda motor, yang harus kehilangan hartanya. Bahkan tak hanya harta, jika nasib sial tengah menghampiri, maka nyawa pun ikut raib ditangan para pelaku.

Meskipun beberapa netizen menganggap isu kejahatan pembegalan ini hanya pengalihan issue sesaat tatkala Polri dan KPK dihadapkan pada kasus korupsi yang tengah melilit. Paling tidak, kejahatan di jalan raya ini sudah sangat memprihatinkan.

Dan yang lebih ironis serta miris lagi ternyata setiap pelaku kejahatan di jalan raya ini diidentikkan dengan orang Lampung, padahal tak hanya dari kota ini saja para pelaku kejahatan ini tumbuh dan berkembang, tapi juga dari daerah-daerah lain yang tak sedikit melancarkan aksinya.

Meskipun penulis sendiri mengakui mendapatkan laporan, cerita bahkan informasi berita lokal, baik cerita dari keluarga sendiri yang hampir menjadi korban kejahatan ini, tapi alangkan naifnya jika semua pelaku kejahatan adalah orang Lampung. Tentu karena penulis sendiri adalah warga kota ini. Kami sekeluarga menetap di daerah ini, beranak pinak, mencari rezeki dan membangun keluarga di daerah yang super rawan karena kejahatan. Sehingga tak patut pula jika nama Lampung seakan-akan diplat merah oleh instansi manapun. Tak hanya oleh kepolisian, di perusahaan-perusahaan swasta pun jika pendaftar berasal dari kota ini, maka acapkali tertolak. Selalu saja warga Lampung menjadi target penilaian sebagai warga yang "kurang baik", tak bermoral dan kejam. Paling tidak itulah penilaian media dan perusahaan-perusahaan yang terlihat pilih-pilih pekerjanya.

Hal tersebut terbukti dari tetangga penulis sendiri, yang sengaja berusaha mendaftar menjadi karyawan sebuah perusahaan di Jabodetabek, apalah daya, namanya tak pernah muncul sebagai salah satu karyawan yang diterima. Kadang terlihat tak adil atau diskriminatif. Apa salah kami warga Lampung yang "baik" jika stempel penjahat sudah mendarah daging?

Dampak terbesarnya ketika para pembegal tertangkap tangan secara serempak masyarakat secara membabuta mengadili pelaku tanpa ampun, mereka dibakar massa yang menaruh amarah lantaran pelaku yang kerap kali menghabisi korbannya.

Sekali lagi, cap Lampung menjadi platform yang saat ini kami terima lantaran segelintir orang dari daerah ini yang melakukan kejahatan. Padahal belum tentu juga si pembegal tersebut dari daerah ini, bukan?

Selain sulitnya mencari pekerjaan di negeri orang, ternyata di kampung sendiri pun sulit mendapatkan penghasilan yang memadai sesuai dengan upah yang wajar. Lagi-lagi terkait penetapan UMP, UMK yang tak sebanding dengan daerah lain yang lebih maju. Tentu hal inilah yang boleh jadi pemicu kenapa kejahatan di daerah ini semakin lama semakin merajalela.

Apakah sebagai warga Lampung kami senang dianggap daerah "penjahat". Apakah kami ridho jika kepolisian sudah memberikan stempel merah bahwa pelaku kejahatan di jalan raya tersebut identik dengan Lampung? Tidak. Kami tak sepakat dengan stempel itu. Kami menyadari bahwa stempel merah tersebut justru membunuh karakter Lampung yang sebenarnya adalah baik. Masyarakat Lampung tidak hanya diisi oleh para pembegal dan penjahat, karena di daerah ini banyak pula anak-anak yang berprestasi dan diakui dunia.

Masyarakat Lampung dihuni oleh banyak etnis, yang hakekatnya kami sudah saling berbaur. Hidup berdampingan secara damai. Namun, akhir-akhir ini terkait lemahnya tanggung jawab kepolisian yang seharusnya menciptakan rasa aman, justru membiarkan pelaku kajahatan dibiarkan berkeliaran tanpa dibina dan diberikan solusi terkait penyebab kenapa mereka melakukan kejahatan.

Pemerintah seperti abai, tak memikirkan penyebab kenapa kejahatan selalu saja tumbuh. Selalu saja rakyat yang sebenarnya amat heterogen ini menjadi korban dari ketidak tanggapan pemeritan dalam menerima keluhan akibat sulitnya mendapatkan pekerjaan. Selalu saja jika tindakan nekat sudah dilakukan, maka sudah dapat dimungkinkan satu persatu pelaku kejahatan bertambah dan terus tumbuh bak cendawan di musim hujan.

Apa yang dilakukan pemerintah? baik daerah maupun pusat? Sepertinya sebatas janji-janji semu yang ingin menyejahterakan rakyatnya. Rakyat sudah sekian lama menanti kepastian hidup dan jaminan kesejahteraan, tapi sekali lagi, mereka selalu kecewa dan menelan pil pahit akibat para wakilnya justru berpesta pora menikmati kemewahan dan fasilitas yang serba komplit.

Para pembegal dan korbannya hakekatnya seperti tak lagi dianggap. Para penjahat ini yang sejatinya karena faktor ekonomi yang menghimpit harus melakukan aksi brutalnya terhadap saudaranya sendir, padahal korbannya pun boleh jadi menjadi calon-calon penjahat baru yang bisa saja tumbuh tatkala kondisi ekonomi tak pula menunjukkan peningkatan yang signifikan.

Ketika mereka berbuat lantaran tekanan ekonomi dan sulitnya mencari penghasilan, ternyata masyarakat pun mengadilinya dengan hukum massa. Mereka dibakar hidup-hidup dan anehnya kadang korban pembakaran ini bukan pelaku yang sebenarnya. Sebuah kesalahan fatal tatkala melihat fenomena kajahatan di negeri ini. Kejahatan yang seperti gundukan gunung api yang siap-siap saja membakar apapun jika kondisi ekonomi tak berubah.

Mereka para pelaku tak takut lagi meskipun nyawa mereka korbankan demi hasil rampasan, dan korbannya pun berinisiatif sama, mereka tak segan-segan menghabisi pelaku jika telah tertangkap.

Tak ada lagi hukum yang benar-benar absolut melindungi warganya. Semua serba remang-remang dan abu-abu. Siapa yang dibela dan dilindungi pun tak jelas. Ketika rakyat kecil yang membutuhkan penghasilan pun acapkali menjadi korban dan mudah untuk diekskusi, tapi coba lihat, ketika aparat penegak hukum ini berhadapan dengan penjahat kelas KAKAP, Gembong Narkoba, Korupsi, seakan-akan mengalami dilema. Untuk mengadili seorang gembong narkoba yang memiliki kekayaan milyaran pun begitu berlama-lama. koruptor yang jelas-jelas membunuh banyak rakyat, bisa mudahnya melenggang bebas tanpa hukuman.

Apalagi akhir-akhir ini, KPK yang sejatinya pengadil kejahatan korupsi pun seperti dikebiri. Buru-buru para tersangka mengajukan pra peradilan. Buntut dari suksesnya Budi Gunawan lepas dari jeratan KPK. Mereka para koruptor bisa tertawa sumringah dengan kekayaan hasil korupsi. Tapi para penjahat di jalanan yang hakekatnya karena ekonomi, harus meregang nyawa. Para korban kejahatan pun mendapat getahnya, akibat tak meratanya kesejahteraan, para korban kejahatan inipun menjadi bulan-bulanan para pelaku.

Rakyat seperti diteror, tak hanya ulah teroris, tapi ulah pelaku kejahatan, baik di jalan raya maupun di kantoran. Ekonomi yang tak juga menunjukkan peningkatan ternyata menjadi penyebab tinggi kejahatan di jalan raya.

Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diperbuat, selain mencari keselamatan sendiri-sendiri. Jika pemerintah tak juga mengabulkan harapan rakyatnya, aparat penegak hukum seakan-akan buta dan tuli, maka jalan yang paling baik adalah jaga diri sendiri dan berusaha untuk tidak berharap lebih pada aparat penegak hukum.

Dan jangan dianggap sepele, jika kejahatan bukannya berkurang, karena kondisi ekonomi  yang tak juga menunjukkan kebaikannya bagi rakyat bawah.

Namun demikian, semoga dengan semakin banyaknya pengungkapan aksi pembegalan, akan membuka cakrawala berpikir semua orang bahwa sebaik-baiknya membuat strategi kejahatan, kebenaran tetaplah akan terungkap. Sehingga semakin sedikit bahkan hilang sama sekali keinginnan memperoleh kekayaan dengan cara menyakiti saudaranya sendiri. Masih banyak cara yang lebih baik dalam mencari rezeki yang halal dan barokah.

Salam


Minggu, 22 Februari 2015

Film Final Destination 4, Antara Kematian dan Bukti Lemahnya Manusia

Gambar : Film Final Destination 4 dengan pemeran utamanya (imdblino.blogspot.com)


Sebuah kejadian yang sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita. Tatkala tanpa diduga dan disangka kita yang tak pernah mengerti apa yang akan terjadi ternyata dihindarkan oleh Tuhan dari musibah bahkan dijauhkan dari bencana. Sebuah keajaiban dan semua itu terjadi di luar nalar manusia.

Tulisan ini bukan berupa sanggahan atau penolakan, akan tetapi merupakan ilustrasi dari kisah yang diceritakan oleh saudari Aulia Gurdi dengan judul artikelnya “Amazing! Dua Kali Suharso Monoarfa Lolos dari Kecelakaan Pesawat!” sebuah kisah perjalanan seseorang yang bernama Suharso Moarfa seorang mantan Menpera yang sampai dua kali mengalami keselamatan dan terhindar dari kecelakaan pesawat.

Kembali dari ide tulisan saudari Aulia Gurdi yang  telah diganjar oleh admin Kompasiana sebagai Trending Article, saya teringat sebuah film yang cukup menegangkan namun seru dan memancing adrenalin penontonnya tatkala menyaksikan Film Final Destination 4. Sebuah film yang bergenre supranatural horor merupakan serangkaian film destination yang telah diluncurkan sebelumnya. Filmnya mengambil ide cerita tentang tragedi kematian manusia. Seperti sebuah pengejawantahan dari Firman  Tuhan bahwa setiap yang bernyawa pastilah akan menemui kematian.

Kematian sebagai rahasia Tuhan, cukup menakutkan tapi tak harus ditakuti karena kedatangannya pasti terjadi. Meskipun seseorang tersebut berusaha untuk menghindarinya dalam bahasa film tersebut memotong siklus kematian dengan berusaha menyelamatkan manusia lain, nyatanya tak ada kuasa manusia untuk mencegahnya kematian itu tetaplah datang tanpa diduga kapan waktunya.
Film yang disutradarai oleh Eric Bress ini telah dirilis tanggal 28 Agustus 2009 di Amerika Serikat. Film ini dibintangi oleh Shantel Van Santen (Lori Milligan), Bobby Campo ( Nick O’Banon), Nick Zano (Hunt Wynorski) dan Haley Webb (Janet Cunningham). Pemain muda berbakat dengan penguasaan karakter yang cukup apik dan layak jika disebut sebagai aktor dan aktris profesional.

Film ini mengambil peran Nick O’Banon sebagai seorang pria yang mampu membaca setiap tragedi yang terjadi, finalnya berdasarkan kemampuan supranatural tersebut dia mampu melihat memprediksi siapa saja orang-orang yang akan mengalami kematian. Meskipun Nick O’Banon hendak mencegah kematian teman-temannya dan orang-orang yang dianggap akan mengalami kematian yang sama seperti urutan kejadian dalam fikirannya.

Kejadian yang menegangkan diawali di sebuah Sirkuit atau perlombaan balapan mobil yang ternyata sirkuit tersebut telah menyimpan kenangan tragis berupa kecelakaan yang berbuntut kematian para pembalapnya. Ternyata efek domino dari kecelaan yang terjadi di arena sirkuit tersebut justru mengimbas pada para penonton yang ikut terlibat pada kejadian kecelakaan yang mengerikan. 
Nick O’Banon yang mempunyai kemampuan supranatural baru menyadari bahwa dirinyalah yang sejatinya mampu menghindarkan kematian orang-orang tersebut dengan cara memotong urutan kematian tersebut dengan berbagai cara termasuk menyelamatkan orang lain. Karena Nick anggap dengan cara itu si calon korban akan terhindar dari hari kematiannya.

Meskipun segala upaya telah dilakukannya ternyata kematian demi kematian pun tetap saja menghampiri tanpa diduga dengan cara apa kematian itu akan datang, sampai akhirnya Nick, Lori dan Janet menganggap bahwa usaha mereka menghindarkan diri dari kematian hakekatnya adalah justru sebagai sebuah cara bagi kematian mereka. Seperti dalam dialog akhir kisah mereka “Bagaimana jika kita tidak mengubah apapun (Nick)? Bagaimana jika keberadaan kita di sini saat ini adalah rencananya sejak awal? (Nick). Hingga akhirnya ajalpun menjemput setelah sebuah truk menabrak mereka yang tengah asyik menikmati saat-saat terbebas dari kematian.
Kisah tragis dari sekian usaha  untuk menghindari kematian ternyata tak berbuah manis, karena sekuat apapun usaha manusia maka kematian akan datang dan menjemput mereka.

Dalam Islam kematian seseorang sudah ditentukan oleh Tuhan di catatan kehidupan manusia (Lauh Mahfudz) di mana tidak ada yang bisa meminta didahulukan atau dimundurkan. Semua terlepas dari kemampuan manusia untuk menghindarinya. Tak ada yang tahu kapan ajal itu datang. Sehingga, sepatutnya manusia mempersiapkan hari berakhirnya hidup manusia itu dengan persiapan amal kebaikan yang cukup.

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!