Selasa, 29 Maret 2016

Gara-gara Mie Instan, Lahirlah Generasi Instant



Emang ada hubungannya antara mie instant dan generasi instan mas? Lah gak tahu lah yaw.

Akhir-akhir ini muncul berita yang cukup menghebohkan dunia pendidikan kita, beberapa perguruan tinggi odong-odong dibekukan alias dibanned oleh pemerintah lantaran mengeluarkan ijazah palsu. sumber

Perguruan tinggi yang notabene hanya memanfaatkan kebodohan dan ambisi jabatan dengan melalui jalan pintas. Mengikuti pendidikan yang tak pernah kuliah tapi ingin segera lulus dan mendapatkan predikat cumlaude, meski dengan nilai rekayasa dari pihak pengelola. Dampaknya muncullah para lulusan odong-odong ala kambing ompong.

Mereka memiliki ijazah tapi ilmunya amat cetek, dan yang membuat prihatin lagi, mereka tidak malu-malu lagi menempelkan gelarnya di belakang nama. Entah MBA, BBA, BBC, atau Berbeqiu. Yang pasti dengan embel-embel panjang para pejabat kala itu ingin mendapatkan legitimasi dari banyak orang bahwa mereka adalah tokoh yang memiliki pengetahuan dan keilmuan yang tinggi, meski kualitas tidak memenuhi syarat sama sekali. 

Kalau sudah begini ada nggak hubungannya sama mie instant? Coba tanya yang bersangkutan!

Fenomena ijazah palsu memang sudah bertahun-tahun terjadi di negeri ini, negeri yang notabene bangsa yang menjunjung adat ketimuran (katanya), memegang teguh prinsip agama, kejujuran dan akuntabilitas yang tinggi, tapi faktanya masih selalu ada pihak-pihak yang berani menyelenggarakan pendidikan meski tidak pernah terlihat mendidik, tapi nyatanya bisa mengeluarkan ijazah.

Mereka berani menyebarkan selebaran pengumuman penerimaan mahasiswa baru dengan sederet gambar-gambar wisudawan sukses, dan aneka janji beasiswa. Aneka gambar dan iming-iming beasiswa menjadi faktor penting kenapa perguruan tinggi odong-odong ini bisa mendapatkan mahasiswa. Belum lagi, para penyelenggara pendidikan itu memberikan janji kuliah tak perlu masuk, yang penting ada duit segepok maka bisa lulus dweh.

Bahkan kala itu, saya melihat dengan mata kepala sendiri, seorang pegawai negeri (karena dilihat seragamnya adalah seorang pegawai) tiba-tiba datang ke kampung saya karena telah ada janjian dengan salah satu penduduk terkait ijazah pesanan. Sontak saya langsung curiga, bahwa pegawai ini sepertinya pembuat ijazah palsu.
Ia memalsukan ijazah dengan iming-iming uang jutaan rupiah. Pemesan sudah punya usaha, tapi karena ingin naik jenjang menjadi pejabat karena hendak menyalonkan diri sebagai anggota DPRD, maka niat jahat pun muncul. 

Bagaimana kalau saya beli ijazah palsu aja ya? Boleh jadi pertanyaan ini yang berkecamuk dalam pikiran yang bersangkutan. 

Namun untung saja, karena kebetulan si pegawai ini melihat saya ada di depannya, ia pun mengurungkan niatnya memberikan ijazah aspal itu kepada pemesan, dan si pemesan, sedikit ketakutan lantaran takut saya laporkan sebagai transaksi ilegal. 

Saya melihat antara pembuat dan pembeli ijazah ada hubungan kausalitas, si pembuat tidak akan mendapatkan order kalau tidak pandai-pandai menyusun strategi pemalsuan dan bekerjasama dngan kolega agar proses ini lancar jaya, begitu pula dengan si pemesan, yang penting memiliki uang segepok, maka usahanya untuk mendapatkan ijazah aspal sudah bukan impian lagi. Ada gula ada semut. Dan seperti hukum simbiosis mutualisme, keduanya merasakan manfaatnya meskipun berjalan di atas rell yg keliru. 

Sayang sekali usahanya ingin mendaftar sebagai anggota DPRD harus kandas lantaran uang yang diberikan tak cukup untuk membeli perahu. Beruntung ia tidak jadi nyalon, bagaimana kalau sudah kadung nyalon apa nggak berabe itu? Memiliki pemimpin atau wakil rakyat menggunakan ijazah palsu. Boleh jadi karena efek sering makan mie instan ya? Karena setahu saya yang bersangkutan hobi sekali menikmati jenis kuliner ini.

Kasus pemalsuan ijazah penah booming sewaktu belum begitu santer aksi tangkap tangan anggota dewan yang menggunakan ijazah fiktif ini, lantaran para tokoh tersebut menganggap hanya dengan uang segalanya menjadi beres. Tapi oh ternyata, meskipun mereka berusaha menutup kasus dengan segepok uang, faktanya para pengguna ijazah palsu akhirnya tertangkap juga. Ada efek jera yang diberikan kepada para pelaku dan pengguna ijazah ini. 

Bahkan di beberapa dekade yang sudah lalu, publik sering melihat papan nama para wakil rakyat yang memiliki gelar yang teramat panjang, bahkan kalau disambung-sambung ala kereta komuter line di Jakarta.

Bagaimana tidak mengherankan, seorang wakil rakyat yang tidak pernah sekolah karena memang tak sekolah tapi karena banyaknya dukungan dan uangnya juga segunung, kog bisa-bisanya mencalonkan dirinya menjadi wakil rakyat? Aneh kan? Dan yang lebih aneh lagi, sudah tahu calon wakil rakyatnya menggunakan ijazah palsu kog masih dipilih juga? Ee belum lama berselang duduk di kursi empuk itu, tiba-tiba embel-embel di belakang namanya sudah berjejer seperti kereta api.

Saya hanya bisa membayangkan darimana mereka mendapatkan ijazah itu? Dan berapa sih uang yang mereka gelontorkan sehingga pihak perguruan tinggi bisa dengan mudahnya mengeluarkan ijazah itu? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini sampai sejauh ini masih tetap menjadi pertanyaan belaka, toh faktanya fenomena pemalsuan ijazah masih kerap dilakukan. 

Pemalsuan ijazah tidak melulu pada pendidikan formal pada perguruan tinggi, karena fenomena pemalsuan ijazah pun boleh jadi dilakukan pada lembaga-lembaga non formal seperti kejar paket A, B, C atau D yang saat ini diselenggarakan untuk masyarakat yang belum melek pendidikan lantaran kondisi ekonomi dan kesempatan yang tidak mereka dapatkan.

Adapula secara terang-terangan seorang calon kepala desa meminta dibuatkan ijazah paket C karena ingin lolos dalam pencalonan. Uang sekali lagi menjadi alat paling hebat untuk mencapai ambisi kekuasaannya. Sudah tahu calonnya memakai ijazah palsu yang memilih juga mau. Dan aneh lagi pemilik yayasan penyelenggara kebetulan adalah yayasan berkedok agama, kog mau-maunya meloloskan permintaan si pemesan? Benar-benar nggak masuk di ngakal.

Siapa yang salah dalam hal ini? Apakah pemerintah selaku pemilik kebijakan kependidikan? atau pabrik mie instant yang sudah menciptakan generasi-generasi instant ini? Bahkan fenomena ini menjadi bahan sindiran, lah makanannya mie instan bagaimana gak ingin serba insant. Sekolah kepinginnya cepat lulus meski nyontek dan nyogok sekolahnya, hidup kepinginnya makmur, meski tak mau keluar keringat. Mereka mencari uang dengan melakukan kejahatan karena ingin segera hidup kaya raya. Semua diatur sesederhana mungkin agar menjadi mudah. Lagi-lagi generasi insant menjadi awal kehancuran sebuah peradaban.

Portal PUPNS, Cara jitu menjaring ijazah palsu

Beberapa bulan ini, tepatnya September pemerintah membuat kebijakan kepada pegawai negeri sipil agar mendaftar dan mengisi sederet kolom perintah di portal PUPNS. Tujuannya untuk melakukan update data dan pemetaan kepada guru-guru terkait bidang tugasnya. Tentu kebijakan ini berdampak positif bagi para abdi negara ini. Meskipun di antara mereka ada yang terlihat gagap termasuk saya sendiri lantaran sulitnya mengakses situs tersebut. Entah karena sibuknya jaringan, atau servernya yang perlu diupgrade ulang. Belum lagi guru-guru senior yang biasanya main mengupah kepada operator internet, maka keberadaan PUPNS ini cukup merepotkan.
Namun sekali lagi, karena kebijakan ini menyeluruh dan harus di follow up maka mau tidak mau kebijakan ini harus dilaksanakan.

Diperkirakan hingga Desember pendataan guru akan selesai dan bagi yang tidak segera melakukan update data maka yang bersangkutan dianggap berhenti atau mengundurkan diri.
Terlepas dari itu semua, yang turut menjadi perhatian adalah ketika update data itu benar-benar dilakukan tentu pegawai yang bersangkutan harus mencantumkan ijazahnya tersebut. Dan bukan tidak mungkin, ajab ada ijazah palsu yang dikantongi kementrian. Dan benar, semenjak diluncurkannya portal PUPNS itu, sudah ada ribuan ijasah yang dianggap ilegal alias palsu. Dengan alasan perguruan tinggi tersebut dianggap fiktif. sumber

Terang saja, karena dianggap fiktif lantaran tidak mengantongi izin dari Kemenristek Dikti, maka sudah dapat dipastikan semua aktifitas yang PT itu lakukan harus dibekukan, dan risikonya mahasiswa yang sudah kadung mengikuti perkuliahan harus dirumahkan untuk sementara waktu. Sampai ada kebijakan lain yang ditelurkan oleh pemerintah terkait PT yang dianggap fiktif ini. Dan sampai sekarang sudah ada 12 perguruan tinggi yang ditutup lantaran dianggap mengeluarkan ijazah palsu. Sumber dan sumber

Dan tentu saja, jika pemerintah sendiri sudah menjaring ribuan ijazah palsu, maka dimungkinkan pemilik ijazah tersebut dapat diberhentikan dari pekerjaannya. Masih beruntung sekedar diberhentikan, bagaimana jika dituntut sebagai tindakan pemalsuan dokumen negara? Wah bisa tambah runyam kan?

Oalah mie insant.... kenapa engkau jadi kambing hitam?


Jumat, 25 Maret 2016

Ojo Dumeh, Jangan Pernah Merendahkan Orang Lain


Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan segudang kelebihan dan kemuliaan, maka tak pantas jika mereka direndahkan atau dilecehkan. Apalagi yang merendahkan belum tentu lebih baik dari yang direndahkan

Pernahkah anda menemukan situasi terjepit, kesulitan dan dirundung kesusahan? Mungkin saja anda yang berada di sana pernah mengalaminya bukan? Seandainya anda belum pernah mengalami hal yang semacam ini, tentu saja anda pernah melihat suatu bentuk pelecehan dan perendahan harkat dan martabat manusia. Atau justru anda sendirilah yang pernah melakukannya? Maaf jika di antara anda di dunia ini pernah melakukannya tapi anda lupa bahwa ada pihak yang tersakiti dan dikecewakan hingga seakan-akan hidup ini tiada harganya lagi.
Serupalah dengan syair lagu Armada yang berjudul Hargai Aku. Lagu yang pernah hits dan menjadi best song dan nada sambung pribadi terlaris kala itu.

Tapi, tulisan ini bukan untuk membicarakan band Armada atau lagu yang sampai saat ini masih enak untuk didengarkan ini. Enak didengarkan bagi anda yang tengah merasa melow, sedih dan kecewa karena pernah dan atau sedang disakiti oleh seseorang.

Bolehlah saya tulis sedikit syair lagunya ya?

Seringkali kau merendahkanku
melihat dengan sebelah matamu
aku bukan siapa-siapa
Selalu saja, kau anggapku lemah
merasa hebat, dengan yang kau punya
kau sombongkan itu semua... 
dst...

Coba, jika kita bandingkan dengan keadaan yang sering terjadi di sekitar kita, dan betapa penulis pun pernah mengalami sendiri tatkala dilecehkan lantaran ketiadaan ekonomi. Kami menikah dalam keadaan tidak membawa apa-apa yang hanya bermodalkan cinta dan keyakinan.

Kemiskinan kala itu ternyata menjadikan kami menjadi bahan hinaan. Coba bayangkan ketika kita hendak bersilaturrahmi, ternyata pintu rumah ditutup seketika, tanpa terucap sedikitpun kata-kata dari pemilik rumah. 

Padahal kehadiran kita murni ingin bersilaturrahmi lantaran kami adalah tetangga dekat. Dalam ketidak pahaman kami, si pemilik rumah seketika itu menutup pintu seakan-akan enggan menerima tamu selayaknya menganggap kami seorang pengemis. Ia begitu saja membuang muka dan seperti menganggap kami begitu hina. 

Kejadian itu benar-benar menyayat hati kami, dan kami menganggap pemilik rumah yang saya anggap cukup mampu secara materi ini tidak sedikit pun merasa sungkan tatkala memperlakukan kami yang hendak bertamu ke rumahnya. Saya tidak habis pikir kesalahan apakah hingga kami begitu direndahkan seperti ini.

Namun demikian, kami tidak menaruh dendam, lantaran kami menyadari, bahwa kami memang golongan rendahan, guru honorer dengan gaji kecil dan menumpang hidup di perumahan dinas yang sudah reot lantaran sudah lapuk di sana-sini. Saya ikhlas diperlakukan demikian. Toh memang kami orang miskin yang tak layak untuk dihormati. Itu pendapatku kala itu.

Tak hanya itu, sewaktu kami begitu dekat dengan seorang guru pula, kami begitu menganggap beliau seperti saudara sendiri. Karena ekonomi yang pas-pasan kami pun sering membantu pekerjaan sang guru itu dengan karena kebaikan mereka kepada keluarga kami. Dan ternyata karena kedekatan kami justru mengundang kecemburuan pihak keluarga sang guru tersebut. Dan terucaplah cacian dan hinaan kepada kami "kamu mendekati pak P hanya ingin mengambil bagian dari hartanya bukan?. Dah gak usah kesini-sini!"

Seketika itu pula sakit rasanya hati kami karena mendapatkan perlakuan kasar dan cukup merendahkan ini. Istriku di rumah menangis sejadi-jadinya, ia tak menyangka usahanya ingin membantu orang lain justru mendapatkan hinaan yang cukup merendahkan. Meskipun dalam membantu itu kami tidak pernah meminta bayaran. Namun begitu selaku suami, saya berusaha menenangkan diri sang istri, sabar dik, mungkin karena kita miskin mereka seolah-olah menganggap kita tidak punya harga diri. Sabar semoga Allah memberikan kita rezeki yang lebih agar lepas dari keterpurukan.

Seketika itu kami sudah tidak berhubungan lagi dengan keluarga pak P, dan saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi di sana demi menjaga harga diri kami. Tapi, entah siapa yang membocorkan kejadian itu, istri pak P justru marah-marah kepada keluarganya dan memohonkan maaf atas sikap yang kurang baik terhadap kami.

Sekali lagi kami ikhlas karena kami orang miskin. Namun demikian, sampai saat ini kami tetap menjalin silaturrahmi dengan Pak P lantaran kami merasa berterima kasih sudah dianggap keluarga sendiri. Sedangkan saudaranya yang menghina kami menyadari apa yang dilakukannya adalah kesalahan.

Satu lagi, tatkala saya dan istri sama-sama masih berkuliah, saya dan istri seringkali dihina dan direndahkan dengan kata-kata pernuh ejekan "alah Li .. li mbok yo ora usah kuliah. kuliah iku intuke opo, paling ora dadi pegawe gor ngentek-ngentekne duwet wae. (Alah Li (memanggilku) untuk apa kuliah,kuliah dapatnya apa, paling nggak dadi pegawai dan ngabis-ngabisin uang saja).

Di kesempatan lain pun dilontarkan kata-kata merendahkan dengan angkuhnya "jaman saiki arep dadi pegawe ki nggo duwet, dukun lan dekeng." Saya hanya terdiam dan menerima hinaan itu dengan ikhlas. Dan alhamdulillah ternyata saat ini orang-orang yang menghina itu kini malu dengan sendirinya. Mereka tidak menyangka kami diberikan nikmat oleh Allah mendapatkan pekerjaan yang banyak diimpikan banyak orang.

Bahkan kami pun tidak menyangka, anak petani miskin ini kog bisa menjadi pegawai negeri. Padahal kala itu untuk menjadi seorang pegawai negeri membutuhkan biaya sedikitnya 100 juta saja. Sedangkan kami, apa yang akan kami gadaikan demi mendapatkan SK itu?

Ada pula hinaan yang saya sendiri alami, seorang pengusaha yang sungguh tega melontarkan cacian dan hinaan tatkala saya menjadi salah satu karyawannya. Dengan merendahkan beliau memPHK saya tanpa alasan yang jelas. Tak hanya memberhentikan saya, karena beliau pun menghina keluarga saya lantaran kami adalah keluarga kurang mampu. Dan mu'jizat pun datang, ia yang dahulu menghina, kini jatuh miskin dan usahanya bangkrut lantaran terlilit hutang. Keluarga morat-marit dan keinginan untuk naik haji pun pupus sudah lantaran tak memiliki biaya. Tanah berhekta-hektar sudah disita bank, sedangkan rumah satu-satunya pun sudah tergadaikan. Saya hanya bergumam, betapa Allah itu Maha Kuasa, Dia mudah sekali membalikkan keadaan kehidupan seseorang bila Dia ingin melakukannya. Bahkan isyarat itu dijelaskan dalam Al Qur'an dalam surat Yaasiin "Innama amruhu idza arooda syai'an an yaquulu lahu kun fayakun. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka ia akan mengatakan "kun" jadi, maka jadilah ia.

Berbekal keyakinan itu, maka kami pun tak berani merendahkan orang lain yang kehidupannya tak seberuntung kami, kami menyadari bahwa kehidupan ini tidaklah kekal. Ketika berada di bawah tak seharusnya merendahkan diri sendiri, dan ketika di atas tak sepatutnya merendahkan orang lain. Meskipun kami belum sejahtera lantaran kehidupan yang sederhana, tapi bagi kami kekayaan itu letaknya di dalam hati dan mensyukuri apa yang Tuhan beri.

Hinaan dan celaan, ketika jabatan pangkat membutakan mata

Tidak ada satupun yang bersedia menerima hinaan dan celaan bukan? Akibat kondisi ekonomi yang kurang mapan, kenyataan itu justru seringkali kita dapatkan.
Bagaimana sikap seorang bos terhadap bawahannya yang begitu amat merendahkan. Dengan keangkuhannya ia merendahkan orang-orang di bawahnya. Tak hanya hinaan, lantaran ancaman akan dipecat dari pekerjaan jika melawan menjadi senjata ampuh melemahkan karyawannya itu.

Begitu pula betapa banyak seorang majikan yang menghina sang pembantu lantaran ia hanya seorang pekerja kasar. Tak berpikir bahwa segala macam kesibukan di rumah sudah diringankan lantaran dibantu oleh seorang asisten rumah tangganya. Ia lupa, jika mereka yang dihina ini resign dan tak lagi mau menjadi pembantu, tentu ia akan merasa kerepotan ketika harus berhadapan dengan beban kesibukan.

Ada pula seorang kepala sekolah yang acapkali merendahkan seorang guru honorer lantaran ia merasa selayaknya seorang penguasa. Guru honorer diberikan bayaran yang sangat murah sedangkan pekerjaannya melampaui guru-guru lainnya. Bahkan acapkali kepala sekolah memperlakukan para guru honorer ini seperti pembantu yang tak mengenal waktu. Ia tak menyadari bahwa guru yang honor itu sejatinya juga memiliki keluarga dan menghidupi mereka. Jika upah tak seberapa dan waktu yang diberikan teramat panjang, bukankah ia mematikan kehidupan keluarganya?

Sayang sekali banyak pimpinan di negeri ini yang berpola kepemimpinan demikian. Mereka merekrut karyawan untuk membantu perusahaannya, tapi ketika perusahaan menjadi makmur dan bersar, pekerja-pekerja yang bekerja puluhan tahun itu diberhentikan begitu saja. Masih beruntung jika ia memberikan kompensasi. Nah, jika sudah mem-PHK tidak juga memberikan kompensasi apakah bukan sebuah kejahatan?

Jangan pernah menganggap orang lain rendah dan menghina serta melecehkan mereka, lantaran setiap manusia terlahir ke dunia tanpa membawa sehelai benangpun. Hanya Tuhanlah yang memberikan mereka kelebihan hingga kehidupan mereka menjadi sejahtera.

Ikhlas menerima hinaan dan celaan, kunci meraih Ridho Tuhan

Menerima hinaan dan celaan dengan ikhlas hakekatnya amat sulit dilakukan, lantaran setiap manusia tak berhak untuk direndahkan. Jangankan manusia, semutpun akan menggigit jika diinjak-injak. Maka tak sulit kita menemukan seseorang yang tiba-tiba naik pitam dan melakukan pembunuhan pada majikan lantaran kejahatan yang dilakukan pada pekerjanya. Ia memberikan gaji kecil tapi perlakuan tidak senonoh kerap dilakukannya. Hati tak terima dan memberontak, betapa diri ini tak pantas untuk dihina dan direndahkan. Namun sayang sekali, karena ketidak terimaan yang berujung kejahatan justru akan memperburuk keadaan. Seandainya kami yang dihina ini membalas dengan kekejian pula, bukankah itu tindakan bodoh yang justru merugikan diri sendiri? Kita mendapatkan hinaan, dan kita pula mendapatkan hukuman akibat kejahatan kita.

Oleh karena itu, sebaik-baik manusia biasa adalah selalu ikhlas meskipun mendapatkan celaan dan hinaan dari orang lain. Tak perlu marah apalagi melakukan balasan. Justru celaan dan hinaan itu menjadi cambuk berharga bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang melebihi mereka dengan usaha dan ketekunan serta do’a mudah-mudahan Tuhan mengabulkan usaha kita.

Salam

Ketika Anak Memiliki Bakat dan Kecenderungan yang Berbeda

Setiap anak dikaruniai kelebihan dan kekurangan, dengan kelebihan itu semestinya bisa diberdayakan hingga mencapai kemampuan yang optimal demi masa depannya yang lebih baik


Alhamdulillah kami memiliki tiga orang anak, yang sulung lebih suka bidang seni, seperti menyanyi, menari, mewarnai dan aktifitas yang berkaitan dengan seni. Bahkan hampir setiap hari kegiatannya menyanyi, meskipun kemampuan olah vokalnya masih terbatas. Tapi kalau diajak berpikir ala matematis tidak sepenuhnya berminat, bahkan cenderung mudah bosan. Kalau diajarkan tentang berhitung yang rumit-rumit biasanya mudah capek. Pokoknya sedikit sekali minatnya.

Sedangkan anak kedua lebih hobi pada gerak fisik seperti hobinya berenang, tapi ia juga menyukai tantangan, seperti ketika menginginkan layang-layang ketika orang tuanya tidak segera membelikan, maka saya perhatikan sang anak justru membuatnya sendiri dengan lidi, dan dibentuklah menjadi layang-layang. Hasil produksi ala anak-anak yang saya anggap sudah sangat baik dari segi kreatifitas. 

Pernah suatu ketika saya terkejut dan kagum, kog anak yang masih sekolah taman kanak-kanak ini sudah bisa membuat layang-layang. Ia bisa meniru layang aslinya dengan menggantikannya dengan bahan lain dari lidi. Karena biasanya layang-layang dibuat dari bilahan bambu yang diraut dan dihubungkan dengan benang kemudian diberikan samak kertas minyak. Meskipun hanya dari lidi, tapi kemampuan ini sungguh mengagumkan. Paling tidak bagi anak-anak usia dini.

Sedangkan anak yang ketiga saat ini memang belum kelihatan tapi amat menyukai permainan lain. Yang pasti memang saat ini dari ketiga anak ini memiliki kecenderungan berbeda. Namun bersyukurnya, ketiga anak-anak kami begitu menyukai alam bebas, mereka suka bergaul dengan banyak teman. Semuanya tidak pernah dibatasi namun tetap dikontrol agar keselamatan anak dalam bermain tetap terjaga.

Dengan melihat aneka kecenderungan dan bakat ini, tentu membutuhkan dukungan dari orang tua, khususnya kami sendiri yang berusaha menuruti keinginan anak yang positif ini. Seperti ketika berlibur anak-anak menyukai bermain ke kolam renang, maka kami pun mengarahkan mereka melakukan kegiatan itu. Meskipun harus selalu didampingi agar lebih aman. Selain itu, mengarahkan bakat dan kecenderungan tidak harus dengan biaya yang mahal, lantaran berenang di kolam renang yang murah pun tersedia, hanya dengan ongkos Rp 5000 anak-anak bisa menikmati kesenangannya berenang.

Begitu pula aktifitas yang berhubungan dengan seni, maka sedini mungkin berusaha mengarahkan mereka pada kegiatan yang mengasah kemampuan seni, seperti misalnya kegiatan lomba mewarnai, membuat kreasi menempel (kolase) dengan bahan sisa, atau limbah kertas yang bisa dimanfaatkan. Bahkan daun-daunan yang hakekatnya tidak bermanfaat pun sebenarnya bisa dijadikan bahan yang amat penting bagi pengembangan kemampuan anak dalam sebuah kreatifitas seni.

Menurut teori perkembangan, perbedaan kemampuan itu berkaitan dengan pengaruh kinerja otak kiri dan kanan. Yang manakah yang mempengaruhi di antara keduanya. Atau justru kedua bagian otak ini bisa saling bersinergi jadi cenderung lebih seimbang. Meskipun di usia dini kemampuan dan bakat serta kecenderungan masih bersifat dinamis alias berkembang dan berubah-ubah tergantung masa pertumbuhannya lantaran dipengaruhi pula oleh pendidikan dan lingkungannya, namun melihat variasi hobi ini menunjukkan adanya perbedaan bakat dan kecenderungan yang berbeda. 

Setiap anak memiliki bakat yg berbeda yg harus dikembangkan (viva.co.id)

Usia anak-anak dini hakekatnya adalah usia emas (golden age) dimana pada masa ini, kemampuan motorik dan fisik anak dipengaruhi jenis dan seberapa banyak aktifitas yang dilakukan anak. Baik aktivitas secara fisik maupun otak anak. Selain itu aktifitas psikis pun tidak boleh diabaikan karena dimensi psikis (kejiwaan) turut menjadi bagian penting perkembangan anak selanjutnya.

Jika melihat perbedaan bakat dan kecenderungan jika dikaitkan dengan cara berfikir otak, menurut beberapa dominasi otak dibedakan menjadi dua.

Otak Kanan

Menurut teori dominasi otak kanan dan otak kiri, sisi kanan otak berfungsi terbaik jika digunakan pada tugas yang ekspresif dan keratif. Beberapa kemampuan yang populer terkait dengan sisi kanan otak meliputi:
  • Mengenali wajah
  • Mengekspresikan emosi
  • Musik dan selera seni
  • Membaca emosi
  • Warna
  • Gambar dan imajinasi
  • Penyatuan
  • Intuisi
  • Kreativitas
  • Subyektifitas
  • Mengontrol tubuh bagian kanan
  • Bentuk 3 dimensi
Otak Kiri
Sisi kiri otak di anggap mahir dalam tugas yang melibatkan logika, bahasa dan berpikir analitis. Otak kiri sering digambarkan lebih baik dalam:
  • Obyektifitas
  • Bahasa
  • Logika
  • Berbicara
  • Menulis
  • Berpikir kritis
  • Ketrampilan Angka-angka
  • Matematika/ketrampilan ilmiah
  • Menganalisa
  • Penalaran
  • Mengontrol tubuh bagian kiri
  • Pertimbangan. Sumber
Jika melihat perbedaan fungsi dari kedua sisi otak ini, tentu menjadi menarik jika anak-anak memiliki bakat tertentu dan orang tua mampu mengasahnya dengan aneka permainan yang merangsang kemampuan mereka. 

Merangsang kemampuan otak serta mengembangkan bakat serta kecenderungan anak hakekatnya menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan. Sehingga, dengan rangsangan yang tepat tentu bisa mengarahkan kemana semestinya anak-anak ini dikembangkan. 

Mengembangkan bakat anak tidak harus dengan biaya mahal

Jika melihat dunia modern saat ini, segala macam permainan hakekatnya banyak yang instant, sehingga kurang bisa merangsang kemampuan kinerja otak dan fisik anak, seperti permainan elektronik yang justru menjadikan anak sedikit melakukan gerakan. Hanya mata, telinga dan tangan yang biasanya banyak digunakan. Sedangkan gerak fisik amat sedikit diasah. Anak bisa bertahan selama berjam-jam demi sebuah game oline, atau bermain video game yang cenderung sedikit sekali kreatifitas dan gerak fisik. Padahal permainan yang membutuhkan kreatifitas biasanya merupakan kombinasi gerak fisik, psikis dan otaknya.

Meskipun bermain game online tidak dilarang karena juga bisa meningkatkan kecerdasan anak, namun memberikan batasan agar tidak berlebih-lebihan amat dibutuhkan. Perlulah diisi dengan kegiatan lain di lingkungan sekitar agar mereka mampu bersosialisasi dengan baik.

Anak dirangsang mengembangkan kecerdasan otak, fisik yang bergerak serta kesabaran tingkat tinggi demi menyelesaikan sebuah kreasi tertentu. Otak anak berkembang dengan menemukan aneka persoalan serta bagaimana menyelesaikan persoalan itu. Fisik anak bergerak ke sana kemari demi mencari bahan-bahan untuk membuat kreasi, dan tentu saja kejiwaan anak akan terbentuk menjadi sosok yang ulet, telaten dan sabar hingga produk yang ingin dihasilkan benar-benar terwujud nyata.

Seperti yang anak kami lakukan, meskipun hanya sebuah layang-layang dari lidi dan bentuknya pun tidak sepenuhnya utuh seperti buatan orang dewasa, namun yang menjadi kebanggan adalah ketika anak mau berusaha membuat dan menyelesaikannya tanpa memikirkan seberapa bagus hasilnya. Anak mau berusaha dan bekerja keras disertai kesabaran adalah kombinasi yang kompleks pada tahap perkembangan mereka.

Hal-hal seperti ini, tentu banyak juga dialami oleh anak-anak lainnya, tergantung kecenderungan dan bakat masing-masing. Seperti misalnya ketika anak memiliki bakat dalam bidang bahasa, tentu anak tersebut menyukai hal-hal yang berhubungan dengan aktifitas membaca dan mendengar, dan mereka biasanya lebih lancar ketika berbicara. 

Menemukan kosa kata baru begitu mudahnya diingat dan dengan mudahnya menyampaikannya kepada orang lain.
Menggunakan bahan-bahan sisa tapi bisa dimanfaatkan akan memupuk rasa kepedulian terhadap alam semesta, mereka menyadari bahwa semua yang ada di sekitarnya adalah benda yang bisa dimanfaatkan. Hanyalah orang-orang di sekitarnya yang bisa membantu anak-anak ini dalam mengembangkan ide kreatifitasnya. 

Yang pasti, baik otak kanan atau otak kiri, hakekatnya memiliki kelebihan masing-masing, sehingga bagaimanakah cara kita mengembangkan bakat dan kecenderungan anak akan tergantung pada kondisi keluarga dan lingkungan masing-masing. Begitu pula tingkat ekonominya yang tentu saja memiliki kesempatan yang lebih jika ingin memberikan anak kemampuan yang istimewa dalam bidang tertentu.

Salam

Selasa, 15 Maret 2016

Jakarta yang Mau Pilkada, Kenapa Orang Luar Ikut Heboh?

Gambar : Kompasiana.com


Aneh memang semenjak digulirkannya proyek (hajat) KPU terkait pemilihan Gubernur DKI  Jakarta, ternyata sampai sejauh ini menimbulkan beragam polemik. Polemik terkait kebolehan memilih pemimpin yang tidak seagama - bagi pemeluk Islam, dan polemik terkait gerakan-gerakan yang mengatasnamakan pendukung Ahok maupun yang kontra dengannya. Padahal hajat demokrasi itu baru akan dihelat pada 2017 mendatang.

Pertentangan opini dan cara-cara meraih simpati pun dilancarkan dengan cara-cara yang kadang amat membuat miris. Bagaimana tidak, para netizen yang pada dasarnya bukanlah calon pemilih atau bukan warga Jakarta ternyata ikut nimbrung dalam keramaian media sosial tersebut. Entahlah kenapa hajat demokrasi yang didengung-dengungkan oleh negara yang katanya demokratis ini justru membawa pengaruh buruk dan citra negatif bagi kelangsungan demokrasi itu sendiri. Demokrasi seakan-akan sekedar slogan semata, sedangkan pelaksanaannya masih jauh dari yang diharapkan.

Bagaimana mungkin negara yang sudah mengagungkan konsesi politik ala demokrasi yang katanya mewakili aspirasi rakyat ini seakan-akan berubah menjadi arena tinju. Arena tinju malah lebih baik karena di dalamnya seperti sebuah kebun binatang. Semua ikut sahut menyahut yang kadang tak ada lagi tedeng aling-aling untuk saling merendahkan, melecehkan dan melempar isu-isu SARA yang justru bisa berdampak buruk bagi citra demokrasi yang dibangun itu sendiri.

Bahkan yang aneh lagi, ternyata pihak-pihak yang turut menyuarakan suara "berisik" itu ternyata bukanlah warga Jakarta, yang notabene pemilik wilayah itu. Semua yang mengaku pendukung A atau B berulah seperti musuh bebuyutan. Pendukung A berusaha memunculkan stigma positif calon yang saat ini didukung dengan merendahkan calon B, dan begitu pula sebaliknya. Orang luar ternyata ikut menyoraki dan memanas-manasi suasana, seolah-olah mereka yang berisik itu seperti supporter dan kawanan penonton yang ingin jagoannya menang dengan mengalahkan lawannya hingga babak belur. Padahal apa untungnya buat mereka? Toh mereka tidak akan mendapatkan hak pilih lantaran bukan warga Jakarta. Secara gitu loh, orang Lampung seperti saya ikut saling cemooh dan mencela calon lain dengan alasan yang dibuat-buat.

Isu SARA yang menjadi racun demokrasi

Saya menduga, adanya statemen yang dilontarkan pihak-pihak pendukung dengan mengatasnamakan SARA ini tidak pernah berpikir bahwa apa yang dilakukannya bisa berdampak buruk bagi ketenangan masyarakat. Masyarakat yang tadinya adem ayem lantaran mendapatkan lontaran terkait SARA mereka menjadi ikut terpengaruh. Emosi yang kadang tidak tahu duduk persoalannya.

Masyarakat yang selama ini sudah mulai menikmati makna demokrasi, ternyata sejauh ini sudah teracuni oleh ulah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Entahlah, apakah ada faktor x mengapa mereka melakukan itu? Yang pasti orang-orang yang saling melontarkan persepsi dan opini negatif ini patut dicurigai sebagai para pembuat masalah yang mereka ingin memanfaatkan situasi runyamnya proses demokrasi.

Yang aneh lagi, padahal hajat Pilkada di Jakarta saja belum dimulai, ternyata riak-riak pertentangan SARA sudah mengemuka. Saya khawatir, pesta demokrasi di ibukota itu belum berjalan ternyata kekisruhan sudah muncul, dan berbahaya lagi kalau pihak-pihak yang justru ingin negara ini hancur ternyata berada di balik kekisruhan yang selama ini terjadi.

Terkait hajat Pilkada DKI Jakarta, Kita mesti mawas diri

Menjadi pendukung yang loyal itu sah-sah saja, dan gerakan melemahkan lawan juga merupakan keniscayaan dalam  meraih kemenanga. Tapi amat tidak elok jika hajat pilkada itu justru dikotori oleh ambisi menang tapi merusak kedamaian bumi pertiwi. Dan lebih elok jika para penonton yang di luar Jakarta semestinya mawas diri, jangan memancing-mancing reaksi sosial yang berujung pada ketenangan masyarakat. Biarkan demokrasi itu berjalan sesuai perundang-undangan, boleh independen atau jalur partai, yang penting semua berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dengan tidak mengorbankan kedamaian negeri ini.

Salam

Ini Alasannya Mengapa Makan Tidak Boleh Terburu-buru



Beberapa hari ini dunia netizen dihebohkan dengan tewasnya seorang pemuda lantaran tersedak daging ayam KFC. Pemuda itu menghembuskan nafas terakhir di tengah-tengah ia mengikuti lomba makan ayam goreng krispi milik perusahaan Amerika itu.

Dengan kejadian itu, tentu saja masyarakat spontan dibuat heboh, dengan mengeluarkan statemen macam-macam, antara siapa yang salah dan komentar-komentar yang beragam setelah membaca atau melihat kejadian tersedaknya pria tersebut.

Sebuah pelajaran berharga, dan jangan hanya dilihat saja tanpa diresapi secara mendalam, bahwa apa yang diperintahkan Rosulullah SAW amatlah benar dan tak dapat dipungkiri kebenarannya. Bahwa siapapun yang hendak menyantap makanan atau minuman semestinya mengikuti aturan atau etika agar proses menikmati hidangan itu membawa keberkahan dan keselamatan bagi pelakunya.

Selain karena membawa keberkahan bagi makanan yang dihidangkan, menurut sebuah penelitian baru dari Texas Christian University, makan lebih lambat bisa menurunkan kemungkinan seseorang masih merasakan lapar meskipun baru saja menikmati makanan. Dan bagi pemilik berat badan normal mengonsumsi makanan dengan perlahan dapat mengurangi jumlah kalori yang dikonsumsi, seperti yang dimuat dalam lama Republika.co.id. (09/01/2014)

Dengan demikian, bagi siapa saja yang menikmati makanan, khususnya dengan cara perlahan, mereka akan menikmati manfaat yang ditimbulkan. Seperti merasakan nikmatnya makanan itu dan mereka tidak akan mudah merasakan lapar. Selain itu kalori yang terserap tubuh akan lebih sedikit lantaran makanan yang dikunyah semakin sedikit.

Secara gitu loh, menikmati makanan sejatinya sudah diajarkan oleh Rosulullah SAW bahwa hendaknya kita makan dengan membaca bismillah terlebih dahulu, berdoa agar makanan kita diberkahi dan tentu saja menikmati secara perlahan, dan menggunakan tangan kanan jika tangan kanan masih ada atau lengkap, karena tangan kiri terbiasa untuk membuang kotoran. 

Jika proses itu dilakukan yang terakhir adalah berhentilah makan sebelum perut merasakan kenyang. Karena dengan cara ini, konsumsi kalori dalam tubuh pun akan terkontrol. 

Kenapa makan secara cepat bisa berbahaya?

Menelaah kejadian kematian peserta kebut-kebutan makan daging ayam goreng itu, tentu muncullah pertanyaan, mengapa si peserta bisa mengalami kematian? Apakah makan secara cepat bisa berdampak bahaya?

Tentu saja "ya", lantaran menurut penelitian kesehatan saja, ketika makan saluran tenggorokan dan saluran pernapasan bergantian posisi. Ketika seseorang menelan makanan, maka saluran ke paru-paru akan tertutup oleh klep atau lapisan pembatas atau penutup saluran itu. Itu terjadi secara otomatis jika yang makan itu tidak disertai menghirup napas dan makan secara bersamaan, atau berbicara di saat makan. 

Kejadian tewasnya peserta kompetisi makan cepat KFC itu, tentu disebabkan karena tersumbatnya saluran pernapasan akibat tersedak. Korban tidak menyadari bahwa ketika makan sambil terburu-buru dengan ritme yang cepat dengan memburu diri dengan nafas yang cepat pula, maka otomatis kedua saluran itu akan terbuka secara bersamaan. Maka efeknya tentulah seperti yang akan terjadi. Jika korbannya tidak segera tertolong, otomatis akan meregang nyawa. Miris sekali.

Rosulullah saja melarang seseorang minum sembari bernapas atau meniup minuman dalam bejana, karena itu sangat berbahaya. Sebagaimana tertuang dalam haditsnya.

Yang pasti, jika kita hendak menikmati makanan, maka lebih baik dilakukan secara perlahan dan mengikuti aturan-aturan yang diajarkan oleh Rosulullah seperti yang tertulis di atas. Jangan lupa membaca doa baik sebelum dan sesudah makan merupakan manivestasi rasa syukur kita sebagai hamba Allah yang telah mendapatkan rezeki berupa makanan yang kita makan.

Salam

Jumat, 11 Maret 2016

Silvi dan Keluarga Broken Home



Sebut saja Silvi, anak seorang pegawai perusahaan terkemuka dari negeri Jiran, Malaysia. Anaknya imut, tapi agak cerewet dan juga bandel. Ia sebenarnya adalah sosok yang kalem sekaligus pendiam. Prestasinya luar biasa melejit, hingga memiliki segudang prestasi. Kini dia tidak lagi menjadi imut, tapi menjadi tak jelas juntrungnya. 
Perubahan prilakunya disebabkan karena perceraian orang tua beberapa tahun yang lalu.

Bu Salsa, nama panggilan bagi ibunya, seorang akuntan di salah satu perusahaan eskpedisi. Ia kembali bekerja di sana, setelah beberapa tahun mengundurkan diri lantaran bersuami. Setelah perceraian mereka, bu Salsa kembali bekerja dan lebih banyak bekerja untuk menyambung nafas keluarganya.


Silvi, siswi kelas delapan di salam satu SMP Swasta di Kota Medan ini adalah putri kedua dari tiga bersaudara. Ibunya sibuk bekerja sedangkan ayahnya sudah tidak bersama mereka lagi, karena bercerai dari sang ibu. Kakak dan adiknya bersekolah di luar kota bersama paman di Jogja, sudah satu tahun ini mereka tidak berkumpul lagi. Paling-paling kalau hari lebaran mereka bisa bertemu sekedar melepas rindu. Bisa sih melalui handphone, tapi intensitasnya terbatas dan tidak bisa menyembuhkan rasa rindu yang mendera.


Sepagi itu ia terlihat santai, tidak mempersiapkan perlengkapan sekolah yang hendak ia bawa. Sedari semalam ia asik tidur di kamar, dan tidak mengerjakan PRnya. Padahal tahu sendiri, kalau PR tidak dikerjakan, maka hukuman akan menanti. 


Ibu Butet, guru yang begitu ditakuti karena galaknya. Kalau orang bilang Butet itu guru killer. Mudah sekali memarahi murid-muridnya kalau tugasnya tidak dikerjakan. Apalagi kalau sampai hafalan rumus matematikanya tidak ia kuasai, alamat buruk selama diajar oleh ibu Butet jangan harap hari itu akan terasa menyenangkan. Hukuman pastilah akan ia dapatkan.


Tak hanya Silvi, karena ada anak lain yang turut menjadi korban kekerasan ibu Butet itu. Sebenarnya bukan kekerasan fisik, karena beliau tidak pernah memukul. Tapi kekerasan psikis lah yang paling ditakuti dirinya dan teman-temannya di sekolah. Tak sedikit ibu Butet bilang pada siswanya: "Bodoh, kau! Mana PR gak dikerjakan, berangkat kesiangan, di sekolah juga mengantuk." Dengan mata melotot ia memarahi siswanya lantaran PR yang diberikan tidak dikerjakan.


Suasana belajar yang seharusnya menyenangkan, ternyata amat mengerikan. Selayaknya sebuah penjara. Tidak ada senyum dan tatapan ramah dari sang guru.


Meski begitu, kepala sekolah masih saja mempertahankannya. Karena setahu kepala sekolah, prestasi siswa yang diajarnya lumayan bagus. Menurut pendapat Ibu Butet, semua anak harus bernilai bagus, makanya muridnya harus diajarkan dengan disiplin. Kalau tidak disiplin maka harus dihukum.


Meski begitu anak-anak kelas delapan, itu tak juga merasa lelah untuk belajar, karena memang sikap guru itu tidak sama. Ada yang lemah lembut, sabar, dan penyayang, tak sedikit juga yang keras, mudah membentak, dan adapula yang kadang mau memukul muridnya. 


"Silvi!" Sang ibu memanggil dari ruang makan. Dengan nada keras sang ibu membangunkan lamunannya. Maklum rasa takut itu masih menggelayut dalam pikirannya.


"Buruan sarapan! Seru sang Ibu.


"Jam berapa ini? Tanya ibu, dengan tangan masih memegang piring yang hendak ia letakkan di meja makan. Sedangkan Silvi masih di dalam kamarnya. Dia masih terdiam di atas dipan empuk itu sembari memilin-milin rambutnya.  


"Kog belum sarapan juga? Mamah terlihat jengkel. Sedangkan Silvi tak juga menunjukkan batang hidungnya. Sang ibu semakin lama semakin marah lantaran anak gadisnya tak juga memenuhi panggilan ibu.


"Malah melamun." Tegur ibu lagi dengan nada lumayan ketus.


"Iya, mama. Sabar dikit kenapa sih, Ma!" Septi menjawab teguran ibu.


"Nanti Silvi kena marah bu guru lagi loh." Ibunya kembali mengingatkan.


"Kemarin katanya Silvi di setrap lagi ya?" Tanya sang Ibu sembari ibu meluruskan tempat duduknya. Maklum dari tadi pagi ibunya sudah menyiapkan kudapan sarapan sedangkan Silvi tak juga tertarik untuk menyantap meski sepucuk sendok saja.


"Iya." Silvi agak terkejut ketika tak sengaja pertanyaan itu terlontar dari Ibunya. Sambil keluar rumah dengan wajah kusut. Dengan tubuh gontai dia menemui ibunya di ruang makan dan mengambil secentong nasi bersama lauk. Keduanya terlihat kurang akrab dan tatapannya dingin.


"PR nya sudah dikerjakan?" Ibu terlihat sedikit mengingatkan, sambil memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. 


"Sudah, Ma." Jawab silvi singkat. Padahal waktu itu PRnya sama sekali tidak disentuhnya. Ia sudah tak perduli dengan urusan sekolahnya. Dia lebih banyak tidur atau merokok semalaman.
"Ya sudah, sarapan yang banyak dulu, dulu biar gak sakit perut." 


Belum lama berselang, Ibunya pernah dipanggil pihak sekolah, lantaran Silvi terlibat perkelahian dengan teman kelasnya. Yang mengherankan, ternyata teman ributnya itu laki-laki, tapi memang Silvi tak pernah mundur jika harus beduel dengan teman kelasnya. Lawannya pun acapkali menyerah kalah karena terkena pukulan Silvi. Sama dengan kawannya kali ini, wajahnya penuh luka karena pukulan Silvi. Maklum saja Silvi memang sudah terlatih bela diri semenjak sekolah dasar. Ia pun dulu pernah menjuarai perlombaan tingkat sekolah. 


Kala itu Silvi termasuk anak yang tidak suka ribut. Ia lebih banyak mengalah dan tidak mengabaikan gangguan temannya. Ia seringkali murung lantaran sering dibully. Pernah suatu ketika ia tidak masuk sekolah selama seminggu. Ia tidak mau makan, keluar kamar pun kalau mau ke toilet. Mandi pun jarang. 


Sikapnya berbanding terbalik 180 derajat seperti itu setelah ayah dan ibunya bercerai. Entah ada masalah apa, keluarga yang tadinya begitu tenang tiba-tiba berubah drastis. Keluarganya yang terlihat bahagia, kehidupan yang berkecukupan, ternyata tidak bertahan lama.


***


Ayah Silvi menyebutnya Bu Tini. Nama itu ia dapatkan ketika keduanya bertemu di sebuah lobi. Tini diperkenalkan kepada sang Ayah oleh bos perusahaan di mana ia bekerja. 


Awalnya keduanya tampak biasa saja, karena baru saja berkenalan. Tapi entahlah tiba-tiba Tini menjadi tertarik dengan ayah Silvi. Percakapan semakin intens karena keduanya menjadi manajer dan sekretaris yang tentu keduanya sering bertemu.


"Selamat pagi, Pak!" Tini menyapa Pak Dadi dengan ramah, matanya terlihat tajam menatap Pak Dadi.


"Selamat pagi. Bu Tini!. Pak Dadi menjawab sapaan Tini.


"Ah, saya jadi malu." Seloroh Tini.


"Jangan panggil saya Ibu sih, Pak!." Tini terlihat tersipu-sipu dan tersenyum menggoda. Nampak ia pandai sekali memancing perhatian pak Dadi. Sedangkan Pak Dadi tak terlalu meladeni sekretarisnya. Ia ingat sekali kata-kata Silvi anak gadisnya itu, "pah, jangan pernah deketin wanita lain ya pak!. Kasihan sama ibu." 


"Pak Dadi!"


"Oh ya, maaf, saya lupa. Barusan kita ngomong apa ya? Terlihat Pak Dadi gugup sekali. Tapi ia berusaha rilex sambil kembali meneruskan pembicaraan.


"Ah, Pak Dadi, tadi 'kan saya minta jangan dipanggil Bu Tini. Tini menjelaskan sambil merapihkan pakaniannya.


"Lah terus saya harus memanggil siapa, Ibu Tini? Tanya Pak Dadi terlihat menanggapi dengan serius. Sedangkan dirinya tengah membaca sebuah dokumen. Tini tengah membawa sebuah map, dengan ada lembaran kertas di dalamnya. Sepertinya itu surat resmi yang harus ditanda tangani oleh Pak Dadi.


Sambil mendekati meja Pak Dadi, Tini menyambut uluran tangan Pak Dadi yang mengajaknya bersalaman.


"Panggil saya Tini saja, Pak." Tini terlihat menawarkan diri.


"Ah, Ibu Tini ini main-main. Kita baru berkenalan dan kita adalah sesama pekerja di perusahaan ini. Sepertinya kita harus bersikap profesional.


"Silahkan!" Mana dokumen yang harus saya tanda tangani? Pak Dadi berusaha mengalihkan perhatiannya. Sedangkan TIni terus saja memandangi wajah Pak Dadi. Pak Dadi tampak cuek. Sedangkan Tini tersenyum seakan-akan memang menaruh hati.


"Maaf, Ibu Tini, saya sudah memiliki istri, jadi tolong bersikap yang baik ya!, Saya juga atasan Anda. Jangan macam-macam! Tak disangka Pak Dadi menaikkan nada suaranya. Tini pun terhenyak, tak menyangka kalau manajernya itu ternyata tidak suka kalau ia menggoda. 

"Maaf, Pak Dadi. Sekali lagi saya minta maaf."  Tini terlihat panik.


"Sudahlah, silahkan, kalau ada keperluan lain. Soalnya saya juga masih ada pekerjaan." Pak Dedi tampak kembali membaca dokumen yang tadinya sempat ia baca.


***


Di senja itu, Pak Dadi menelepon istrinya untuk berpamitan bahwa akan ada lemburan di kantor. Istrinya mengiayakan. 

Memang benar, pak Dadi memang mengerjakan tugas-tugasnya terkait laporan yang akan disampaikan kepada pemilik perusahaan.Tini membantu dengan mempersiapkan dokumen dan catatan-catatan.


"Pak Dadi, apa sudah punya istri? Celetuk Tini memecah suasana yang tengah sibuk sore itu.


"Apa dikira saya masih bujangan? Pak Dadi menimpali.


"Bukan begitu pak, maksud saya, bapak masih gagah dan kayak masih bujangan." Tini berusaha bersikap ramah tapi menggoda pak Dadi. Sedangkan pak Dadi ternyata juga menaruh hati dengan kecantikan Tini. Entahlah, tiba-tiba persaan Pak Dadi menggelora, dan keduanya tak sadar saling tumbuh rasa cinta.


Obrolan mereka terus berlanjut, dan pekerjaan selesai. Keduanya berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.


Tapi ternyata, tak disangka Pak Dadi semakin tertarik dengan Tini. Bagaimana tidak tertarik, Tini selalu saja menggoda seakan-akan mencintai Pak Dadi. Hampir tiap malam, keduanya saling bercengkrama melalui telephon. Istri pak Dadi tak pernah tahu, kalau suaminya justru menaruh hati terhadap sekretaris barunya itu.


Tiba-tiba, Bu Salsa, memergoki pak Dadi tengah berkencan di sebuah hotel. Terlihat sekali kalau acara itu bukan acara meeting selayaknya acara kantoran. Karena mereka hanya berdua dan suasananya cukup romantis. Keduanya terlihat bercakap-cakap secara intens. Pak Dadi memagang tangan Tini dan sebaliknya Tini mengumbar senyum dan tatapan mata tajam ke arah Pak Dadi.  
Suasana mesra sekali. 

Padahal sepengetahuan Bu Salsa, Pak Dadi hendak melakukan rapat di kantor karena akan ada job dengan bonus yang lumayan besar. Ee tak disangka suamiinya justru tengah asik dengan sekretarisnya di hotel itu.

Di luar dugaan mereka, Bu Salsa terlihat naik pitam dan melihat ke arah keduanya. Tak lama menahan emosi, Bu Salsa, menemui keduanya sembari marah marah.


"Ooo, begini ya, pekerjaan di kantor yang katanya meeting itu? Dasar laki-laki sialan!" Bu Salsa memaki suaminya dengan suara keras. Sedangkan tamu hotel terlihat memperhatikan konflik keduanya. Scurity hotel segera menemui meja yang terlihat gaduh itu. Tak lama ketiganya dimohon tenang untuk menjaga ketenangan hotel.


Tak lama kemudian, Tini pergi dengan raut wajah malu, dan Pak Dadi serta istrinya meninggalkan hotel dengan wajah merah padam.


Di luar hotel bu Salsa masih memarahi suaminya, dan meminta untuk bercerai.


"Dah, kalau ayah sudah gak cinta lagi sama aku dan anak-anak, lebih baik kita bercerai saja!" Nada penuh emosi ditunjukkan oleh bu Salsa sebagai bentuk luapan amarah yang menggelora. 
Pak Dadi masih tidak percaya, kenapa pertemuannya dengan Tini diketahui oleh Istrinya. Ia terlihat bingung dan malu, lantaran akibat labrakan sang istri, pihak hotel dan tamu-tamu hadir terlihat menyeringai, seakan-akan mengejek pak Dadi.


****


Anak-anak yang tadinya terlihat tenang, tiba-tiba menangis dan terlihat sekali kepanikan dan kegaduhan mereka. Silvi menjadi salah satu anak yang merasakan kekecewaan lantaran ayahnya justru berselingkuh dengan wanita lain.


"Mah, ada apa dengan ayah? Kenapa kalian bertengkar? 


"Sekarang kalian akan tahu, bahwa ayahmu itu sudah berselingkuh dan mencintai wanita lain." 


"Katanya mau meeting, tiba-tiba ketika mamah datangi kantor tak tahunya malah berada di hotel sedang bermain dengan sekretarisnya. Pria macam apa dia? Terlihat sekali nada amarah bu Salsa sudah tak lagi bisa diredam.

Rasa kecewa pun tertumpah dari raut wajah kedua anaknya yang lain. Tak henti-hentinya mereka menangis.


Sesaat berselang, Pak Didi meninggalkan rumah dengan membawa koper berisi penuh pakaian. Ibunya terlihat kacau dan wajah yang acak-acakan. Niatnya untuk menggugat suaminya sudah bulat. Meskipun Pak Dadi sudah meminta maaf dan berniat tidak akan mengulangi perbuatannya.  
Dan sebulan kemudian, setelah melalui proses persidangan dan mediasi, ternyata pernikahan pak Dadi dan Istrinya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Keduanya bersepakat bercerai. Entah apa yang menjadi alasan Bu Salsa kenapa tidak mau kembali menerima suaminya. Mungkin wataknya yang keras, jadi dia tidak bisa dibohongi meskipun sekali saja.


***


Bu Salsa sudah merelakan suaminya. Namun dampaknya, ternyata Silvi seperti kehilangan sosok yang dicintai. Kehidupannya terlihat kacau. Ia sudah tak mau bersekolah lagi, meskipun saudaranya yang lain masih bersekolah, kondisinya amat memprihatinkan.


Meskipun bu Salsa sudah bekerja lagi, faktanya rumah tangga mereka tidak seperti dulu lagi. Rumah yang dulu besar, kini menjadi kecil lantaran dijual untuk melunasi hutang keluarga selama tidak berayah lagi. Mobil yang dahulunya biasa mengantar mereka ke sekolah, sekarang tinggal kenangan.


Tak disangka, Silvi yang dulu terlihat ceria, kini menjadi sosok perempuan yang nakal. Setiap hari ia habiskan untuk senang-senang dengan teman-temannya. Entah minum-minuman keras, atau menghisap narkoba. Pelampiasan rasa kesalnya lantaran keluarga yang dicintainya hancur berantakan.


@@@


Rabu, 25 November 2015

25 November, Tatkala Guru Tak Sekedar Butuh Sanjungan



Hari ini, tepatnya 25 November 2015, di seantero bumi Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Hari di mana diperingatinya sebuah pengorbanan dari seorang yang berjasa bagi pendidikan di negeri ini. Para generasi muda terdidik yang sejatinya sudah banyak ditelurkan oleh pengabdian guru secara maraton, menjadi para pemimpin yang membangun persada bumi pertiwi.

Pada hari ini juga, ketika semua cerdik pandai, para tokoh di negeri ini serta semua masyarakat dari berbagai kalangan memperingati hari bersejarah ini, seyogyanya mendoakan para guru tersebut, agar mereka terus berkarya, berbenah dan bercermin diri demi memperoleh kualitas seorang profesional yang tidak dipandang sebelah mata.


Bangsa ini boleh bangga, karena para pemimpin hebat telah terlahir di negeri ini, seperti Soekarno, Muhammad Hatta, Soeharto, Habibie, Gusdur, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono, dan presiden ke tujuh ini Joko Widodo adalah sederet nama-nama tokoh yang mendunia dan mengharumkan bangsa Indonesia di kancah international. Serta tokoh-tokoh lain yang jumlahnya tidak terhitung lagi.

Mereka terlahir dari para ibu yang mendedikasikan seluruh hidupnya, dan mereka terlahir dari kawah candradimuka yang dibangun oleh para guru. Waktu yang teramat panjang guna melahirkan tokoh-tokoh bertalenta itu. Dan tentu saja pengorbanan dan jasa-jasa yang tak bisa dinilai dengan materi jika melihat betapa berharganya peran guru bagi kesuksesan mereka.

Namun demikian, sudahkah kita menatap para guru ini dengan penuh cinta? Atau sekedar membela mereka tatkala mereka dirundung kesusahan?


Para guru tak semestinya hanya dipuji-puji selayaknya benda bertuah, dan tak hanya disanjung-sanjung nilai sejarahnya seperti sebuah arca. Mereka lebih dari sekedar bangun materi yang tersimpul antara kulit, tulang dan daging. Tapi mereka adalah sosok-sosok yang akan menjadi sumber cahaya bagi lahirnya generasi terbaik di negeri ini. Bahkan seandainya orang-orang kaya dan pemimpin ini melupakan guru, niscaya cahaya pengabdian tulus guru tetap terukir indah di relung jiwa penghuni bangsa ini. Mereka adalah kepanjangan Nabi, karena pendidikan karakter dan sosok yang akan membangun bumi ini terlahir dari mereka.

Guru, Ketika Muridnya Tertawa, Para Guru Seringkali Menangis

Pernahkah kita sadar, sebagai generasi muda yang telah dididik, kita seringkali mengabaikan nasib guru? Betapa sulitnya perjuangan guru untuk kita para generasi muda, hingga kita benar-benar menjadi sosok yang berguna bagi nusa dan bangsanya. Di saat diamnya, para guru senantiasa mendoakan kesuksesan para anak didiknya, dan dikala marah, hakekatnya karena mereka sadar bahwa pundak bangkitnya negeri ini ada di tangan kita.


Kita selalu saja wajib menuntut para guru bekerja dengan semaksimal mungkin, tapi kita lupa di tengah jerih payahnya perjuangan mereka, deraian air mata seringkali menjadi bumbu wajib perjalanan mereka dalam pengabdian. Hujan panas menghampiri, lelah dan kucuran keringat membasahi tubuhnya, tapi mereka tetaplah seorang guru yang pantang mengeluh di hadapan para anak didiknya.

Pun tatkala para anak didiknya telah meraih kesuksesan, ternyata para guru inipun seringkali hidup dalam kesusahan. Mereka tak menghitung lagi betapa cucuran keringat sudah tidak berharga lagi dibandingkan kesuksesan yang akan diraih anak didiknya.

Itu semua adalah cita-cita guru, mereka mengabdi, bekerja kadang tak mengenal waktu, hanya untuk satu tujuan demi suksesnya generasi penerusnya. Karena merekalah yang akan meneruskan estapet pemerintahan di negeri ini, hingga menjadi bangsa yang adil dan makmur.

Peringatan Hari Guru, Ingatlah bahwa Guru mesti sejahtera

Peringatan Hari Guru Nasional adalah moment penting yang mengingatkan kita betapa di tangan para gurulah negeri ini tetap berdiri kokoh. Di tangan gurulah generasi terbaik akan terlahir. Begitu pula di tangan guru lah negeri ini berjaya.

Apalah artinya hari guru selalu diperingati jika hingga detik ini keberadaan mereka selalu dinomorduakan. Ketika para politisi atau pejabat hidup dengan bergeliman kekayaan dan kemewahan, ternyata guru hidup dalam kekurangan.

Adalah baik memuliakan guru dengan seremonial, tapi kita lupa bahwa Guru tak butuh dengan seremonial, mereka membutuhkan perhatian dari kita para anak didiknya. Sudahkah kita memikirkan bagaimana guru bisa sejahtera?

Semoga di peringatan Hari Guru Nasional ini, guru menjadi sosok yang lebih istimewa, merekalah yang seharusnya menerima manisnya kesuksesan para generasi muda, bukan justru dicibir jika mereka menuntut kesejahteraan.

Salam

Selamat Hari Guru 25 November 2015
Semoga Guru Semakin Berjaya

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!