Rabu, 30 Maret 2016

Astaghfirullah, Sampai Kapan Kita Benci Presiden?


Janganlah jadi penghasut, pendengki dan pemfitnah, jika tak ingin seluruh kebaikan yg diperbuat akan lenyap seketika laksana kayu terbakar api




Tiba-tiba saya tertarik dengan status dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, akun ini adalah akun resmi milik Kementerian yang mengurus bidang  pendidikan di negeri ini. Di mana status tersebut menceritakan bahwa Presiden Jokowi mengundang guru-guru SMP dan SMA untuk hadir ke istana. Presiden mengundang para guru beliau sebagai bagian penghormatan kepada sosok guru yang pernah berjasa mendidik sang Presiden hingga beliau tumbuh menjadi pemimpin di negeri ini. Undangan tersebut adalah puncak acara Peringatan Hari Guru Nasional yang digelar tanggal 24 November 2015.

Statusnya kurang lebih seperti ini:

“Kisah Guru Presiden Jokowi Saat Diundang Makan Siang di Istana
Puncak Peringatan Hari Guru Nasional, yang digelar pada 24 November 2015, menjadi hari yang istimewa bagi sebelas guru yang datang dari Solo. Mereka adalah guru-guru dari Presiden Joko Widodo saat duduk di bangku SMP dan SMA. Ke-11 guru itu diundang secara khusus ke Istora Senayan untuk menghadiri Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2015. Presiden bahkan mengistimewakan guru-gurunya itu dengan mengundang mereka dalam jamuan makan siang di Istana Negara.” Lebih lengkapnya silakan dibuka di Akun facebook Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. disini, atau disini

Sejenak saya membaca status itu tidak ada yang salah, tapi yang salah atau keliru mencerna lebih tepatnya adalah sebuah komentar yang ditulis oleh Romli Ali Aan. Beliau mengomentari status Kemendikbud RI dengan pernyataan begini:

“kasian guru SD nya di LUPAKAN”

Komentar itu sepertinya biasa-biasa saja, lantaran boleh jadi pak Romli ini hanya menanyakan kenapa guru SD nya tidak diundang juga. Namun sayang sekali redaksi komentar yang ditulis pak Romli cukup menyentak guru-guru lain yang juga berkomentar. Dengan kata di LUPAKAN dengan huruf besar, tentu ada point tersendiri yang cenderung sarkasme, atau kasar.

Karena komentar kasar itu, akhirnya para pengguna facebook pun berkomentar beragam:

Margareta Lestari Bkn berarti di lupakan keles. iri aje lu
Romli Ali Aan bkn iri ... Knpa gk diUNDANG jg ... ? Lagian gk masalah bagi aku ...
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Guru SDnya banyak yg sudah tua dan tidak kuat pergi ke Jakarta. Bahkan ada yg sudah meninggal.
Margareta Lestari Noh BACAAAAAAA huehehehe
Romli Ali Aan pdhal jnjg SD ke SMP hx 3 thn ...
Margareta Lestari Aduh kamu ga percayaan bgt sih. Kamu ajalah yg jadi presiden huehehehe
Risky Setiawan guru sd saya juga sdh ada yg meninggal 3thn yg lalu, padahal usia saya 21 apalagi dengan guru pak jokowi yg udah selama itu.
dst... 

Meski guru-guru dan pengguna facebook lain mencibir apa yang dikatakan pak Romli tersebut, ternyata pihak admin dari akun Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI  tersebut menjawab dengan jelas:

“Guru SDnya banyak yg sudah tua dan tidak kuat pergi ke Jakarta. Bahkan ada yg sudah meninggal.”

Tampaklah komentar atau jawaban atas pertanyaan Pak Romli tersebut sudah jelas dan tak perlu diperdebatkan apalagi munculnya syuudzon.  Syuudzun yang muncul seakan-akan Pak Romli menganggap Presiden Jokowi tidak mengundang para guru SD beliau, dengan alasan telah melupakan. Padahal dari jawaban Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI itu jelas sekali bahwa para guru SD sudah diundang namun karena kondisi usia yang boleh jadi sudah renta, bahkan ada yang sudah meninggal dunia, maka sudah tidak mungkin lagi bertandang ke Istana demi memenuhi undangan sang Presiden sekaligus siswanya dahulu.

Dari pernyataan Kementerian sudah jelas dan tak perlu menjadi silang pendapat, lantaran jika diperpanjang justru niat awal ingin berbagi informasi, justru menjadi ajang saling menghujat. Pak Romli justru seperti “emoh” mengakui bahwa sebenarnya beliau sudah mengerti bahwa guru-guru yang tidak hadir ke istana lantaran sudah sepuh, tapi karena faktor X yang disebabkan persoalan kekalahan pasca Pilpres, ternyata membuat emosi Pak Romli semakin terlihat.

Dengan semangat menggebu-gebu berusaha menjatuhkan wibawa Presiden, tapi secara kurang jantan beliau tidak mau mengakui bahwa apa yang dijelaskan oleh admin tersebut sudah cukup jelas.

Akibat ketidaterimaan dari Pak Romli Ali Aan tersebut, hampir semua komentator menganggap pak Romli sakit hati, lantaran kekecewaan beliau pasca Pilpres 2014 lalu.

Kenapa kita terbiasa melecehkan Presiden di media sosial?

Pembaca budiman tentu saja sudah tahu, bahwa komentar-komentar dan status di media sosial semestinya dijaga dan disaring dahulu sebelum di enter hingga menjadi status dan komentar yang menghebohkan.

Dari komentar miring yang saya baca di beberapa komentar teman facebook, terlihat sekali bahwa kondisi emosi mereka kurang begitu sehat lantaran menunjukkan kebencian kepada pemimpinnya hingga berlarut-larut. Bahkan saking bencinya, karena gelap mata, ketika ada orang asing yang ikut menambahi komentar panas, mereka pun menjadi gelap mata. Tak sadar rakyat ini telah diadudomba oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Cukup sudah kebencian kepada Presiden, karena beliau ada pilihan rakyat. Seandainya tidak suka dengan aktivitas apapun yang dilakukan oleh presiden, datanglah ke istana, sampaikan keluhan dan aduan yang tentu saja akan diterima sebagai masukan yang berharga.

Apalagi kita memahami, bahwa siapun yang menjadi pemimpin, mau tidak mau adalah pemimpin rakyat yang harus dihormati. Sama pentingnya kehormatan diri kita di hadapan orang lain.
Yang menjadi catatan di sini adalah, hakekatnya menjadi orang baik akan selalu banyak yang tidak suka, apalagi menjadi orang jahat. Apalagi di dunia ini penuh dengan orang-orang pendengki yang setiap hari mengumbar kebencian kepada pihak-pihak yang tidak disukai.


Salam



Baca juga ya mas brooo

http://www.kompasiana.com/maliamiruddin/mimpi-lampung-yang-damai_5660c80ea123bd140eea2b27

Nasyid, Dimanakah Kini?

Grup nasyid Hijjaz (hot.detik.com)


Kala itu, kira-kira 1980 an musik nasyid banyak bermunculan di belantara musik di negeri ini. Saking nge hits nya musik nasyid, pada akhirnya bermunculan nasyid-nasyid baru yang terus tumbuh bak cendawan di musim hujan. 

Sebuah kolaborasi penyanyi ala koor atau paduan suara lantaran penyanyi nasyid digaungi oleh beberapa personil yang memiliki ke khasan suara. Dengan kolaborasi yang ciamik itu terciptalah musik yang mendayu-dayu dan menyusuri relung rindu akan cahaya Ilahi. Musik yang tak sekedar sebagai alat penghibur, namun lebih dari itu sebagai pembangkit ruh-ruh kekuatan akan makna cinta ilahi dan saling berkasih sayang dengan sesama manusia.

Musik nasyid biasanya hanya diiringi oleh tabuhan rebana atau alat musik perkusi serta suara dari pemainnya, atau disebut accapella. Masing-masing personil mempunyai suara yang khas dan menjadikan alunan musik nasyid menjadi sangat nyaman untuk di dengarkan.

Penulis masih teringat dengan group nasyid Hijaz, grup nasyid dengan empat orang personil ini sempat merajai musik nasyid di tanah air. Saya masih ingat kala itu lagu yang sempat booming adalah "doa pagi" dengan diawali oleh kicauan burung pertanda semangat menyongsong suasana pagi hari. Hijjaz adalah grup nasyid yang berasal dari Malaysia yang sempat tenar juga di bumi Indonesia. Ada pula lagu Cahaya Ilahi yang memberikan nasehat tentang kecintaan pada Ilahi. Hijjaz mengingatkan saya pada sebuah nada lantunan Alqur'an yang disebut qiroah. 

Jika boleh saya boleh tulis salah satu dari lagu Hijaz:

Bismikallahumma nad’u….
fy ghuduwwi wa rowa…
laka minna kullu hamdin…
fy masaain wa shobah…
hablana minka rosyada…
wahdina subulas sholah…
inna takwallahi nuurun,, wa thoriiqun lil falah…

Dengan namaMu Ya Allah…
kami meminta pada waktu pagi dan petang…
bagiMu segala pujian pada waktu pagi dan petang…
karuniakan kepada kami dari sisiMu petunjuk…
tunjukkan kami jalan kebaikan…
Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah adalah Cahaya dan Jalan menuju kejayaan… sumber


Ada ghirah atau semangat yang dipancarkan dari lagu-lagu nasyid, termasuk lagu dari Hijaz ini, mereka membuka album lagunya dengan doa pembuka pagi sebagai bentuk penyemangat menatap kehidupan. Dzikir dan doa dipanjatkan kepada Tuhan agar diberikan cahaya dan jalan menuju kejayaan.

Sebuah titipan nilai-nilai kebaikan bagi pendengarnya. Setiap muslim semestinya menyongsong paginya dengan semangat untuk berusaha memperoleh kemuliaan dan kesuksesan. Namun kesuksesan itu janganlah pernah melepaskan nama Tuhan sebagai bentuk ketakwaan sekaligus sandaran diri bahwa tidak ada kesuksesan tanpa pertolonganNya.

Adapula grup nasyid Snada, Raihan, dan masih banyak lagi grup musik nasyid yang juga sempat meramaikan jagat musik di tanah air. Nasyid hakekatnya diawali oleh adanya larangan bermain musik dengan alat musik modern, jadi untuk mengisi kekosongan kreatifitas dalam bermusik, grup-grup nasyid memadukan alunan musik perkusi (hadrah atau rebana) dengan tambahan suara-suara personilnya.

Saya merasa nyaman ketika mendengarkan suara nasyid, lantaran alunannya selalu mengingatkan diri bahwa siapapun itu khususnya umat Islam harus saling berkasih-kasihan, saling menyayangi dan menciptakan perdamaian di bumi pertiwi. Meski demikian, ternyata banyak juga musik nasyid yang isinya seperti propaganda perang, propaganda untuk berjihad dengan menumpahkan darah ala mujahidin.

Musik yang menyeru untuk jihad ini boleh jadi terinspirasi dari aneka perang dan serangan-serangan yang dialami umat Islam di dunia. Seperti peperangan antara Palestina dan Israel, dan perang-perang lain yang hakekatnya merupakan perang perebutan wilayah perbatasan. Namun ada beberapa pendapat yang hakekatnya juga merupakan perang agama.

Meski nada-nada dalam lagu nasyid yang lumayan keras itu, boleh jadi merupakan seruan untuk berjihad secara umum, karena manifestasi jihad bukan semata-mata untuk mengangkat senjata tapi berjihad dengan ilmu dan harta yang dimiliki.

Nasyid yang menggelora semangat, kemana dikau kini

Nasyid, ketika masih menggeloranya semangat bermusik yang islami, hampir di setiap pelosok negeri alunan musik nasyid bisa didengarkan. Tak hanya didengarkan, karena hampir di tiap-tiap sekolah yang disitu ada kelompok Rohani Islam (Rohis) musk nasyid menjadi trend. Anak-anak yang tergabung dalam kelompok remaja muslim ini bersemangat mengembangkan musik nasyid sebagai alternatif hiburan tatkala musik-musik islami seperti kurang diminati. 

Bahkan, karena begitu tingginya semangat membuat grup nasyid, hingga event-event perlombaan ditingkat sekolah banyak dilakukan. Efeknya semakin bermuncullah grup-grup nasyid yang baru dan dirintis hingga perkembangan nasyid semakin meluas.

Tapi entah, musik nasyid yang sejatinya amat tenang dalam menyebarkan ajaran kedamaian ini, justru banyak ditunggai oleh kelompok-kelompok radikal, mereka menciptakan lagu demi mempropagandakan perang. Tanpa melihat duduk persoalannya, akhirnya pemuda-pemuda muslim yang belum mengerti hakekat nasyid itu sendiri menjadi terpengaruh.

Muncullah kelompok-kelompok pemuda Islam yang menjadi radikal. Mereka menetang demokrasi dan kepemimpinan di negeri ini, dengan dalih tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pemahaman tentang khilafah semakin dihembuskan ke berbagai kalangan. Dampaknya sekarang, ruh Islam yang menyejukkan sedikit banyak terkotori oleh pemahaman-pemahan radikal yang justru merusak citra Islam yang rahmat itu sendiri.

Aku rindu munculnya grup nasyid-nasyid baru, nasyid yang menggelorakan perdamaian, cinta kasih, saling tolong menolong antar sesama hingga nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin semakin terasa.

Salam

Sumber

Foto 

Selasa, 29 Maret 2016

Manfaat Membaca Buku, Membuang Kebiasaan Menggosip

Kegiatan membaca akan lebih berharga dan bermakna dibandingkan membicarakan aib orang lain (menggosip). (Gambar : ceritaanda.viva.co.id)


Akhir-akhir ini, paling tidak menurut pengamatan saya, tak lebih dari 10 persen dari ibu rumah tangga yang doyan menelan konten buku. Bukan menelan kertasnya ya.... tapi melumat isi yang dihadirkan dari buku-buku yang bermanfaat. Paling tidak memanfaatkan waktu luang dengan menggali pengetahuan baru. "Eh emang kegiatan ibu-ibu itu kagak ribet to? Kata sebagian ibu. Nggak liat apa kalau sudah di rumah, semua pekerjaan ya saya kerjakan sendiri. Dari subuh hingga subuh lagi pekerjaan tak juga kelar." Begitu pula para bapak, kadang sekarang malah kayak ibu-ibu, pindah-pindah tempat yang digosipin ya tentang perempuan. Syukur-syukur kalau yang diobrolin persoalan kebutuhan dan bagaimana mencari penghasilan, tentu akan lebih bermanfaat.

Ada juga di antara mereka yang justru beralasan daripada membaca buku mending membuat kegiatan lain yang menghasilkan uang. Idep-idep menambah income keluarga daripada melamun di rumah. Kalau bapak-bapak mah alasannya paling-paling "walah mas, daripada baca buku mending macul (mencangkul)". Maklum di tempat saya kebanyakan adalah para petani. Meskipun ada di antara mereka guru yang nyambi menjadi petani lantaran untuk mengisi kegiatan di siang hari. Jadi kegiatan hari-hari ya diisi dengan bekerja di sekolah dan memungut rezeki 
lain di persawahan.

Bagaimana dengan perempuan di sekitar kita, apakah juga masih malas membaca buku? Mudah-mudahan kebiasaan buruk yang nganggur tanpa aktifitas yang positif segera diberangus oleh kehidupan yang lebih baik. Membaca atau melakukan kegiatan positif dengan menghasilkan karya yang bisa bermanfaat, minimal bagi dirinya sendiri.

Tentu saja kegiatan membaca maupun membuat aktifitas positif memiliki dampak yang positif pula. Baik untuk kemajuan pengetahuan dan pengalaman, juga tak kalah pentingnya mendapatkan ilmu baru yang bisa menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari.

Karena kesibukan, tak sempat membaca buku

Membudayakan membaca hakekatnya saat ini masih didominasi masyarakat perkotaan. Para perempuan muda serta ibu-ibu pun sudah banyak bergelut dengan buku. Bahkan ada di antara mereka yang sudah berlangganan koran, majalah dan aneka buku untuk mengisi aktivitas harian mereka. Tentu saja alasannya amat beragam, bisa karena faktor hiburan, mencari pengetahuan terkait urusan masak memasak, cara mengurus rumah tangga dan ada pula yang hanya ingin ikut-ikutan. Bahkan ada pula yg berlangganan majalah bisnis atau buku-buku tentang bisnis dan cara mengelola bisnis yang baik.

Terlepas dari alasan kenapa mereka yang hoby mengoleksi buku dan membaca, kebiasaan membaca merupakan aktivitas yang bermanfaat dibandingkan membicarakan orang lain. Apalagi sampai-sampai membicarakan suaminya sendiri. Ealah suami sendiri kog digosipin? 

Problem ketiadaan waktu untuk membaca seringkali karena kesibukan yang mendera. Contoh, jika mereka seorang guru, di malam harinya harus mempersiapkan rencana program pembelajaran, media dan seabrek kebutuhan untuk pekerjaannya. Belum lagi jika ada PR lain yang harus diselesaikan terkait berkas-berkas yang harus dipersiapkan. Sudah begitu subuh-subuh hari harus mempersiapkan kebutuhan suami dan anak-anak untuk sarapan, tentu saja kesibukan ini menjadi persoalan tersendiri kenapa para perempuan (khususnya) sulit membagi waktu untuk membaca buku. Apalagi memang karena tidak hobi membaca. Jangankan membaca, memegang bukunya saja sudah gak sempat. Belum lagi jika memiliki anak yang banyak, tentu semakin repot saja. 

Kecuali bagi mereka yang sudah memiliki asisten rumah tangga, tentu banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk berjibaku dengan buku. Saaya salut dengan ibu-ibu yang saat ini menjadi kompasianer, selain sibuk dengan pekerjaannya, suami dan anak-anak, ternyata masih sempat membaca dan menulis artikel untuk dibagikan kepada pembaca.

Sebuah kegiatan yang tidak mudah untuk melakukannya. Meskipun adapula yang justru lebih fokus pada urusan bisnis, di pagi hingga menjelang senja mereka bekerja di kantor misalnya, di malam harinya masih sempat mengurus bisnisnya. Luas biasa.

Membaca dan menulis artikel di kompasiana atau di blog sendiri, dampaknya terhadap aktifitas sehari-hari

Membuat kegiatan yang bermanfaat memang mengasikkan. Selain mengasikkan tentu menambah ilmu serta pengalaman baru yang diperoleh ketika bersosialisasi bersama orang-orang yang se-ide dan se-hoby. Mereka bisa saling berbagi tulisan serta saling berdiskusi dengan yang lainnya. Sehingga secara simultan, kebiasaan menulis dan berdiskusi ini turut mengasah kemampuan berpikir. Lebih khusus mereka-mereka yang ingin memfokuskan dirinya sebagai seorang penulis. Tentu kegiatan pokok selain pekerjaan rutin adalah membaca dan menulis. 

Bahkan di antara mereka ada yang menghabiskan waktu mengikuti aneka seminar, workshop dan kegiatan lain yang bertujuan menambah pengetahuan mereka. Apalagi seseorang yang aktif dalam pergaulan dan komunitas diskusi hakekatnya seperti gabah yang saling berbenturan dengan gabah. Gabah kering itu masuk ke dalam mesin penggilingan dan melalui proses kesekan antara gabah maka gabah kering tadi menjadi beras yang bersih. Begitu pula aktifitas di kompasiana. Jika di dalamnya hanya sharing-menulis dan menulis- tapi tidak ada connecting dan saling berdiskusi terkait topik yang dibicarakan, sepertinya kurang memberikan pengaruh yang positif. 

Menulis di kompasiana atau di blog pribadi pun tak semudah seperti membuat surat cinta, lantaran apa yang ditulis hakekatnya berdasarkan informasi yang dibaca, dan dari sumber lain yang menjadi bahan penguatnya.

Namun sayang sekali, kadang saya turut prihatin dengan rekan-rekan kompasianer lain, kebanyakan menanggapi sebuah artikel keluar dari ranah yang dibicarakan. Komentar yang sejatinya bisa menjadi forum diskusi bisa melebar hingga muncul perdebatan yang kurang bermanfaat. Dampaknya karena perdebatan itu tak juga menemui jalan tengah, akhirnya muncullah kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Di mana-mana melakukan sindiran lantaran ingin menjatuhkan pihak lawan. Dan yang lebih parah lagi, bisa sampai beradu fisik lantaran perbedaan pendapat. Wah jadi kacau semuanya.

Tapi itulah dunia maya, kadang tulisan tidak mewakili apa yang dipikirkan. Berebda sekali dengan dunia nyata, apa yang diucapkan tentu langsung jelas terdengar dan bisa langsung diklarifikasi agar tidak terjadi silang pendapat.
Padahal sejatinya, nimbrung dalam media sosial sebesar kompasiana ini adalah satu tujuan ingin saling mengenal dan sukur-sukur bisa menambah persaudaraan. Membuat relasi bisnis dan membangun usaha bersama-sama. Minimal usaha dalam menerbitkan buku. Tapi jika komunikasi yang awalnya indah ini sudah disusupi kepentingan "X" maka otomatis manfaat yang ingin dicapai justru hilang tak berbekas.

Bahkan ada yang lebih ironis, ketika berdiskusi dalam sebuah artikel, munculnya adalah gosip menggosip, maka jadinya masalah yang hakekatnya belum jelas juntrungnya, tiba-tiba membesar dan menjadi runyam. Semakin digosok semakin sip. Itulah hakekat gosip menggosip di dunia maya. Apalagi di dunia nyata tentu lebih parah lagi.

Memperdalam pengetahuan dan mencegah gosip dengan membaca buku

Saat ini menggosip menjadi kebiasaan yang dianggap baik. Tak hanya ibu-ibu yang suka menggosip, lantaran para pria pun banyak yang doyan membicarakan orang ini. Menggosip kalau dalam bahasa Jawa "ngrasani" alias ghibah dalam bahasa arabnya. Jadi menggosip itu tetap tidak memberikan manfaat sama sekali, justru menambah musuh dan menambah dosa. Bahkan dengan menggosip hakekatnya menggerogoti pahala orang yang sudah menggosip. Apa nggak rugi tuh, sudah beramal, beribadah tapi justru amalan ibadahnya tak meninggalkan jejak pahala. Timbulnya justru dosa yang bertambah-tambah. Rugi kan?

Lebih miris lagi, media televisi saat ini sudah banyak menyajikan tayangan yang tidak bermanfaat sama sekali, mengumbar kehidupan rumah tangga orang lain dan menjadikannya sebagai tontonan yang dianggap asyik. Pemilik acara dan pengisi acara hakekantya mendapatkan keuntungan, sedangkan yang digosipin justru mendapatkan kerugian. Nama baiknya tercemar dan keluarganya bisa jadi malah kocar-kacir lantaran dibuli di media massa maupun di dunia nyata. Sedih ya gara-gara gosip kehidupan seseorang menjadi tak nyaman.

Lalu, apa solusinya?

Solusinya ya membaca, menggali pengetahuan dari aneka buku yang banyak beredar di toko-toko buku. Memilih buku yang bermanfaat dan bukan buku yang justru berisi hasutan dan fitnah. Karena kalau salah memilih buku, maka yang terjadi adalah orang-orang yang salah arah dan salah menentukan tujuan hidupnya. Belum lagi jika buku itu justru berisi pencucian otak, maka korbannya akan menjadi sosok-sosok yang berbahaya.

Memilih membaca buku dan berkompasiana daripada menggosip, namun akan lebih bermanfaat lagi memilih buku yang bermanfaat dan melakukan akfitas menulis di blog bersama ini dengan komunikasi banyak arah yang cenderung membawa kemaslahatan bersama.

Salam


Gara-gara Mie Instan, Lahirlah Generasi Instant



Emang ada hubungannya antara mie instant dan generasi instan mas? Lah gak tahu lah yaw.

Akhir-akhir ini muncul berita yang cukup menghebohkan dunia pendidikan kita, beberapa perguruan tinggi odong-odong dibekukan alias dibanned oleh pemerintah lantaran mengeluarkan ijazah palsu. sumber

Perguruan tinggi yang notabene hanya memanfaatkan kebodohan dan ambisi jabatan dengan melalui jalan pintas. Mengikuti pendidikan yang tak pernah kuliah tapi ingin segera lulus dan mendapatkan predikat cumlaude, meski dengan nilai rekayasa dari pihak pengelola. Dampaknya muncullah para lulusan odong-odong ala kambing ompong.

Mereka memiliki ijazah tapi ilmunya amat cetek, dan yang membuat prihatin lagi, mereka tidak malu-malu lagi menempelkan gelarnya di belakang nama. Entah MBA, BBA, BBC, atau Berbeqiu. Yang pasti dengan embel-embel panjang para pejabat kala itu ingin mendapatkan legitimasi dari banyak orang bahwa mereka adalah tokoh yang memiliki pengetahuan dan keilmuan yang tinggi, meski kualitas tidak memenuhi syarat sama sekali. 

Kalau sudah begini ada nggak hubungannya sama mie instant? Coba tanya yang bersangkutan!

Fenomena ijazah palsu memang sudah bertahun-tahun terjadi di negeri ini, negeri yang notabene bangsa yang menjunjung adat ketimuran (katanya), memegang teguh prinsip agama, kejujuran dan akuntabilitas yang tinggi, tapi faktanya masih selalu ada pihak-pihak yang berani menyelenggarakan pendidikan meski tidak pernah terlihat mendidik, tapi nyatanya bisa mengeluarkan ijazah.

Mereka berani menyebarkan selebaran pengumuman penerimaan mahasiswa baru dengan sederet gambar-gambar wisudawan sukses, dan aneka janji beasiswa. Aneka gambar dan iming-iming beasiswa menjadi faktor penting kenapa perguruan tinggi odong-odong ini bisa mendapatkan mahasiswa. Belum lagi, para penyelenggara pendidikan itu memberikan janji kuliah tak perlu masuk, yang penting ada duit segepok maka bisa lulus dweh.

Bahkan kala itu, saya melihat dengan mata kepala sendiri, seorang pegawai negeri (karena dilihat seragamnya adalah seorang pegawai) tiba-tiba datang ke kampung saya karena telah ada janjian dengan salah satu penduduk terkait ijazah pesanan. Sontak saya langsung curiga, bahwa pegawai ini sepertinya pembuat ijazah palsu.
Ia memalsukan ijazah dengan iming-iming uang jutaan rupiah. Pemesan sudah punya usaha, tapi karena ingin naik jenjang menjadi pejabat karena hendak menyalonkan diri sebagai anggota DPRD, maka niat jahat pun muncul. 

Bagaimana kalau saya beli ijazah palsu aja ya? Boleh jadi pertanyaan ini yang berkecamuk dalam pikiran yang bersangkutan. 

Namun untung saja, karena kebetulan si pegawai ini melihat saya ada di depannya, ia pun mengurungkan niatnya memberikan ijazah aspal itu kepada pemesan, dan si pemesan, sedikit ketakutan lantaran takut saya laporkan sebagai transaksi ilegal. 

Saya melihat antara pembuat dan pembeli ijazah ada hubungan kausalitas, si pembuat tidak akan mendapatkan order kalau tidak pandai-pandai menyusun strategi pemalsuan dan bekerjasama dngan kolega agar proses ini lancar jaya, begitu pula dengan si pemesan, yang penting memiliki uang segepok, maka usahanya untuk mendapatkan ijazah aspal sudah bukan impian lagi. Ada gula ada semut. Dan seperti hukum simbiosis mutualisme, keduanya merasakan manfaatnya meskipun berjalan di atas rell yg keliru. 

Sayang sekali usahanya ingin mendaftar sebagai anggota DPRD harus kandas lantaran uang yang diberikan tak cukup untuk membeli perahu. Beruntung ia tidak jadi nyalon, bagaimana kalau sudah kadung nyalon apa nggak berabe itu? Memiliki pemimpin atau wakil rakyat menggunakan ijazah palsu. Boleh jadi karena efek sering makan mie instan ya? Karena setahu saya yang bersangkutan hobi sekali menikmati jenis kuliner ini.

Kasus pemalsuan ijazah penah booming sewaktu belum begitu santer aksi tangkap tangan anggota dewan yang menggunakan ijazah fiktif ini, lantaran para tokoh tersebut menganggap hanya dengan uang segalanya menjadi beres. Tapi oh ternyata, meskipun mereka berusaha menutup kasus dengan segepok uang, faktanya para pengguna ijazah palsu akhirnya tertangkap juga. Ada efek jera yang diberikan kepada para pelaku dan pengguna ijazah ini. 

Bahkan di beberapa dekade yang sudah lalu, publik sering melihat papan nama para wakil rakyat yang memiliki gelar yang teramat panjang, bahkan kalau disambung-sambung ala kereta komuter line di Jakarta.

Bagaimana tidak mengherankan, seorang wakil rakyat yang tidak pernah sekolah karena memang tak sekolah tapi karena banyaknya dukungan dan uangnya juga segunung, kog bisa-bisanya mencalonkan dirinya menjadi wakil rakyat? Aneh kan? Dan yang lebih aneh lagi, sudah tahu calon wakil rakyatnya menggunakan ijazah palsu kog masih dipilih juga? Ee belum lama berselang duduk di kursi empuk itu, tiba-tiba embel-embel di belakang namanya sudah berjejer seperti kereta api.

Saya hanya bisa membayangkan darimana mereka mendapatkan ijazah itu? Dan berapa sih uang yang mereka gelontorkan sehingga pihak perguruan tinggi bisa dengan mudahnya mengeluarkan ijazah itu? Tentu saja pertanyaan-pertanyaan ini sampai sejauh ini masih tetap menjadi pertanyaan belaka, toh faktanya fenomena pemalsuan ijazah masih kerap dilakukan. 

Pemalsuan ijazah tidak melulu pada pendidikan formal pada perguruan tinggi, karena fenomena pemalsuan ijazah pun boleh jadi dilakukan pada lembaga-lembaga non formal seperti kejar paket A, B, C atau D yang saat ini diselenggarakan untuk masyarakat yang belum melek pendidikan lantaran kondisi ekonomi dan kesempatan yang tidak mereka dapatkan.

Adapula secara terang-terangan seorang calon kepala desa meminta dibuatkan ijazah paket C karena ingin lolos dalam pencalonan. Uang sekali lagi menjadi alat paling hebat untuk mencapai ambisi kekuasaannya. Sudah tahu calonnya memakai ijazah palsu yang memilih juga mau. Dan aneh lagi pemilik yayasan penyelenggara kebetulan adalah yayasan berkedok agama, kog mau-maunya meloloskan permintaan si pemesan? Benar-benar nggak masuk di ngakal.

Siapa yang salah dalam hal ini? Apakah pemerintah selaku pemilik kebijakan kependidikan? atau pabrik mie instant yang sudah menciptakan generasi-generasi instant ini? Bahkan fenomena ini menjadi bahan sindiran, lah makanannya mie instan bagaimana gak ingin serba insant. Sekolah kepinginnya cepat lulus meski nyontek dan nyogok sekolahnya, hidup kepinginnya makmur, meski tak mau keluar keringat. Mereka mencari uang dengan melakukan kejahatan karena ingin segera hidup kaya raya. Semua diatur sesederhana mungkin agar menjadi mudah. Lagi-lagi generasi insant menjadi awal kehancuran sebuah peradaban.

Portal PUPNS, Cara jitu menjaring ijazah palsu

Beberapa bulan ini, tepatnya September pemerintah membuat kebijakan kepada pegawai negeri sipil agar mendaftar dan mengisi sederet kolom perintah di portal PUPNS. Tujuannya untuk melakukan update data dan pemetaan kepada guru-guru terkait bidang tugasnya. Tentu kebijakan ini berdampak positif bagi para abdi negara ini. Meskipun di antara mereka ada yang terlihat gagap termasuk saya sendiri lantaran sulitnya mengakses situs tersebut. Entah karena sibuknya jaringan, atau servernya yang perlu diupgrade ulang. Belum lagi guru-guru senior yang biasanya main mengupah kepada operator internet, maka keberadaan PUPNS ini cukup merepotkan.
Namun sekali lagi, karena kebijakan ini menyeluruh dan harus di follow up maka mau tidak mau kebijakan ini harus dilaksanakan.

Diperkirakan hingga Desember pendataan guru akan selesai dan bagi yang tidak segera melakukan update data maka yang bersangkutan dianggap berhenti atau mengundurkan diri.
Terlepas dari itu semua, yang turut menjadi perhatian adalah ketika update data itu benar-benar dilakukan tentu pegawai yang bersangkutan harus mencantumkan ijazahnya tersebut. Dan bukan tidak mungkin, ajab ada ijazah palsu yang dikantongi kementrian. Dan benar, semenjak diluncurkannya portal PUPNS itu, sudah ada ribuan ijasah yang dianggap ilegal alias palsu. Dengan alasan perguruan tinggi tersebut dianggap fiktif. sumber

Terang saja, karena dianggap fiktif lantaran tidak mengantongi izin dari Kemenristek Dikti, maka sudah dapat dipastikan semua aktifitas yang PT itu lakukan harus dibekukan, dan risikonya mahasiswa yang sudah kadung mengikuti perkuliahan harus dirumahkan untuk sementara waktu. Sampai ada kebijakan lain yang ditelurkan oleh pemerintah terkait PT yang dianggap fiktif ini. Dan sampai sekarang sudah ada 12 perguruan tinggi yang ditutup lantaran dianggap mengeluarkan ijazah palsu. Sumber dan sumber

Dan tentu saja, jika pemerintah sendiri sudah menjaring ribuan ijazah palsu, maka dimungkinkan pemilik ijazah tersebut dapat diberhentikan dari pekerjaannya. Masih beruntung sekedar diberhentikan, bagaimana jika dituntut sebagai tindakan pemalsuan dokumen negara? Wah bisa tambah runyam kan?

Oalah mie insant.... kenapa engkau jadi kambing hitam?


Jumat, 25 Maret 2016

Ojo Dumeh, Jangan Pernah Merendahkan Orang Lain


Manusia adalah ciptaan Tuhan dengan segudang kelebihan dan kemuliaan, maka tak pantas jika mereka direndahkan atau dilecehkan. Apalagi yang merendahkan belum tentu lebih baik dari yang direndahkan

Pernahkah anda menemukan situasi terjepit, kesulitan dan dirundung kesusahan? Mungkin saja anda yang berada di sana pernah mengalaminya bukan? Seandainya anda belum pernah mengalami hal yang semacam ini, tentu saja anda pernah melihat suatu bentuk pelecehan dan perendahan harkat dan martabat manusia. Atau justru anda sendirilah yang pernah melakukannya? Maaf jika di antara anda di dunia ini pernah melakukannya tapi anda lupa bahwa ada pihak yang tersakiti dan dikecewakan hingga seakan-akan hidup ini tiada harganya lagi.
Serupalah dengan syair lagu Armada yang berjudul Hargai Aku. Lagu yang pernah hits dan menjadi best song dan nada sambung pribadi terlaris kala itu.

Tapi, tulisan ini bukan untuk membicarakan band Armada atau lagu yang sampai saat ini masih enak untuk didengarkan ini. Enak didengarkan bagi anda yang tengah merasa melow, sedih dan kecewa karena pernah dan atau sedang disakiti oleh seseorang.

Bolehlah saya tulis sedikit syair lagunya ya?

Seringkali kau merendahkanku
melihat dengan sebelah matamu
aku bukan siapa-siapa
Selalu saja, kau anggapku lemah
merasa hebat, dengan yang kau punya
kau sombongkan itu semua... 
dst...

Coba, jika kita bandingkan dengan keadaan yang sering terjadi di sekitar kita, dan betapa penulis pun pernah mengalami sendiri tatkala dilecehkan lantaran ketiadaan ekonomi. Kami menikah dalam keadaan tidak membawa apa-apa yang hanya bermodalkan cinta dan keyakinan.

Kemiskinan kala itu ternyata menjadikan kami menjadi bahan hinaan. Coba bayangkan ketika kita hendak bersilaturrahmi, ternyata pintu rumah ditutup seketika, tanpa terucap sedikitpun kata-kata dari pemilik rumah. 

Padahal kehadiran kita murni ingin bersilaturrahmi lantaran kami adalah tetangga dekat. Dalam ketidak pahaman kami, si pemilik rumah seketika itu menutup pintu seakan-akan enggan menerima tamu selayaknya menganggap kami seorang pengemis. Ia begitu saja membuang muka dan seperti menganggap kami begitu hina. 

Kejadian itu benar-benar menyayat hati kami, dan kami menganggap pemilik rumah yang saya anggap cukup mampu secara materi ini tidak sedikit pun merasa sungkan tatkala memperlakukan kami yang hendak bertamu ke rumahnya. Saya tidak habis pikir kesalahan apakah hingga kami begitu direndahkan seperti ini.

Namun demikian, kami tidak menaruh dendam, lantaran kami menyadari, bahwa kami memang golongan rendahan, guru honorer dengan gaji kecil dan menumpang hidup di perumahan dinas yang sudah reot lantaran sudah lapuk di sana-sini. Saya ikhlas diperlakukan demikian. Toh memang kami orang miskin yang tak layak untuk dihormati. Itu pendapatku kala itu.

Tak hanya itu, sewaktu kami begitu dekat dengan seorang guru pula, kami begitu menganggap beliau seperti saudara sendiri. Karena ekonomi yang pas-pasan kami pun sering membantu pekerjaan sang guru itu dengan karena kebaikan mereka kepada keluarga kami. Dan ternyata karena kedekatan kami justru mengundang kecemburuan pihak keluarga sang guru tersebut. Dan terucaplah cacian dan hinaan kepada kami "kamu mendekati pak P hanya ingin mengambil bagian dari hartanya bukan?. Dah gak usah kesini-sini!"

Seketika itu pula sakit rasanya hati kami karena mendapatkan perlakuan kasar dan cukup merendahkan ini. Istriku di rumah menangis sejadi-jadinya, ia tak menyangka usahanya ingin membantu orang lain justru mendapatkan hinaan yang cukup merendahkan. Meskipun dalam membantu itu kami tidak pernah meminta bayaran. Namun begitu selaku suami, saya berusaha menenangkan diri sang istri, sabar dik, mungkin karena kita miskin mereka seolah-olah menganggap kita tidak punya harga diri. Sabar semoga Allah memberikan kita rezeki yang lebih agar lepas dari keterpurukan.

Seketika itu kami sudah tidak berhubungan lagi dengan keluarga pak P, dan saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi di sana demi menjaga harga diri kami. Tapi, entah siapa yang membocorkan kejadian itu, istri pak P justru marah-marah kepada keluarganya dan memohonkan maaf atas sikap yang kurang baik terhadap kami.

Sekali lagi kami ikhlas karena kami orang miskin. Namun demikian, sampai saat ini kami tetap menjalin silaturrahmi dengan Pak P lantaran kami merasa berterima kasih sudah dianggap keluarga sendiri. Sedangkan saudaranya yang menghina kami menyadari apa yang dilakukannya adalah kesalahan.

Satu lagi, tatkala saya dan istri sama-sama masih berkuliah, saya dan istri seringkali dihina dan direndahkan dengan kata-kata pernuh ejekan "alah Li .. li mbok yo ora usah kuliah. kuliah iku intuke opo, paling ora dadi pegawe gor ngentek-ngentekne duwet wae. (Alah Li (memanggilku) untuk apa kuliah,kuliah dapatnya apa, paling nggak dadi pegawai dan ngabis-ngabisin uang saja).

Di kesempatan lain pun dilontarkan kata-kata merendahkan dengan angkuhnya "jaman saiki arep dadi pegawe ki nggo duwet, dukun lan dekeng." Saya hanya terdiam dan menerima hinaan itu dengan ikhlas. Dan alhamdulillah ternyata saat ini orang-orang yang menghina itu kini malu dengan sendirinya. Mereka tidak menyangka kami diberikan nikmat oleh Allah mendapatkan pekerjaan yang banyak diimpikan banyak orang.

Bahkan kami pun tidak menyangka, anak petani miskin ini kog bisa menjadi pegawai negeri. Padahal kala itu untuk menjadi seorang pegawai negeri membutuhkan biaya sedikitnya 100 juta saja. Sedangkan kami, apa yang akan kami gadaikan demi mendapatkan SK itu?

Ada pula hinaan yang saya sendiri alami, seorang pengusaha yang sungguh tega melontarkan cacian dan hinaan tatkala saya menjadi salah satu karyawannya. Dengan merendahkan beliau memPHK saya tanpa alasan yang jelas. Tak hanya memberhentikan saya, karena beliau pun menghina keluarga saya lantaran kami adalah keluarga kurang mampu. Dan mu'jizat pun datang, ia yang dahulu menghina, kini jatuh miskin dan usahanya bangkrut lantaran terlilit hutang. Keluarga morat-marit dan keinginan untuk naik haji pun pupus sudah lantaran tak memiliki biaya. Tanah berhekta-hektar sudah disita bank, sedangkan rumah satu-satunya pun sudah tergadaikan. Saya hanya bergumam, betapa Allah itu Maha Kuasa, Dia mudah sekali membalikkan keadaan kehidupan seseorang bila Dia ingin melakukannya. Bahkan isyarat itu dijelaskan dalam Al Qur'an dalam surat Yaasiin "Innama amruhu idza arooda syai'an an yaquulu lahu kun fayakun. Jika Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka ia akan mengatakan "kun" jadi, maka jadilah ia.

Berbekal keyakinan itu, maka kami pun tak berani merendahkan orang lain yang kehidupannya tak seberuntung kami, kami menyadari bahwa kehidupan ini tidaklah kekal. Ketika berada di bawah tak seharusnya merendahkan diri sendiri, dan ketika di atas tak sepatutnya merendahkan orang lain. Meskipun kami belum sejahtera lantaran kehidupan yang sederhana, tapi bagi kami kekayaan itu letaknya di dalam hati dan mensyukuri apa yang Tuhan beri.

Hinaan dan celaan, ketika jabatan pangkat membutakan mata

Tidak ada satupun yang bersedia menerima hinaan dan celaan bukan? Akibat kondisi ekonomi yang kurang mapan, kenyataan itu justru seringkali kita dapatkan.
Bagaimana sikap seorang bos terhadap bawahannya yang begitu amat merendahkan. Dengan keangkuhannya ia merendahkan orang-orang di bawahnya. Tak hanya hinaan, lantaran ancaman akan dipecat dari pekerjaan jika melawan menjadi senjata ampuh melemahkan karyawannya itu.

Begitu pula betapa banyak seorang majikan yang menghina sang pembantu lantaran ia hanya seorang pekerja kasar. Tak berpikir bahwa segala macam kesibukan di rumah sudah diringankan lantaran dibantu oleh seorang asisten rumah tangganya. Ia lupa, jika mereka yang dihina ini resign dan tak lagi mau menjadi pembantu, tentu ia akan merasa kerepotan ketika harus berhadapan dengan beban kesibukan.

Ada pula seorang kepala sekolah yang acapkali merendahkan seorang guru honorer lantaran ia merasa selayaknya seorang penguasa. Guru honorer diberikan bayaran yang sangat murah sedangkan pekerjaannya melampaui guru-guru lainnya. Bahkan acapkali kepala sekolah memperlakukan para guru honorer ini seperti pembantu yang tak mengenal waktu. Ia tak menyadari bahwa guru yang honor itu sejatinya juga memiliki keluarga dan menghidupi mereka. Jika upah tak seberapa dan waktu yang diberikan teramat panjang, bukankah ia mematikan kehidupan keluarganya?

Sayang sekali banyak pimpinan di negeri ini yang berpola kepemimpinan demikian. Mereka merekrut karyawan untuk membantu perusahaannya, tapi ketika perusahaan menjadi makmur dan bersar, pekerja-pekerja yang bekerja puluhan tahun itu diberhentikan begitu saja. Masih beruntung jika ia memberikan kompensasi. Nah, jika sudah mem-PHK tidak juga memberikan kompensasi apakah bukan sebuah kejahatan?

Jangan pernah menganggap orang lain rendah dan menghina serta melecehkan mereka, lantaran setiap manusia terlahir ke dunia tanpa membawa sehelai benangpun. Hanya Tuhanlah yang memberikan mereka kelebihan hingga kehidupan mereka menjadi sejahtera.

Ikhlas menerima hinaan dan celaan, kunci meraih Ridho Tuhan

Menerima hinaan dan celaan dengan ikhlas hakekatnya amat sulit dilakukan, lantaran setiap manusia tak berhak untuk direndahkan. Jangankan manusia, semutpun akan menggigit jika diinjak-injak. Maka tak sulit kita menemukan seseorang yang tiba-tiba naik pitam dan melakukan pembunuhan pada majikan lantaran kejahatan yang dilakukan pada pekerjanya. Ia memberikan gaji kecil tapi perlakuan tidak senonoh kerap dilakukannya. Hati tak terima dan memberontak, betapa diri ini tak pantas untuk dihina dan direndahkan. Namun sayang sekali, karena ketidak terimaan yang berujung kejahatan justru akan memperburuk keadaan. Seandainya kami yang dihina ini membalas dengan kekejian pula, bukankah itu tindakan bodoh yang justru merugikan diri sendiri? Kita mendapatkan hinaan, dan kita pula mendapatkan hukuman akibat kejahatan kita.

Oleh karena itu, sebaik-baik manusia biasa adalah selalu ikhlas meskipun mendapatkan celaan dan hinaan dari orang lain. Tak perlu marah apalagi melakukan balasan. Justru celaan dan hinaan itu menjadi cambuk berharga bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang melebihi mereka dengan usaha dan ketekunan serta do’a mudah-mudahan Tuhan mengabulkan usaha kita.

Salam

Ketika Anak Memiliki Bakat dan Kecenderungan yang Berbeda

Setiap anak dikaruniai kelebihan dan kekurangan, dengan kelebihan itu semestinya bisa diberdayakan hingga mencapai kemampuan yang optimal demi masa depannya yang lebih baik


Alhamdulillah kami memiliki tiga orang anak, yang sulung lebih suka bidang seni, seperti menyanyi, menari, mewarnai dan aktifitas yang berkaitan dengan seni. Bahkan hampir setiap hari kegiatannya menyanyi, meskipun kemampuan olah vokalnya masih terbatas. Tapi kalau diajak berpikir ala matematis tidak sepenuhnya berminat, bahkan cenderung mudah bosan. Kalau diajarkan tentang berhitung yang rumit-rumit biasanya mudah capek. Pokoknya sedikit sekali minatnya.

Sedangkan anak kedua lebih hobi pada gerak fisik seperti hobinya berenang, tapi ia juga menyukai tantangan, seperti ketika menginginkan layang-layang ketika orang tuanya tidak segera membelikan, maka saya perhatikan sang anak justru membuatnya sendiri dengan lidi, dan dibentuklah menjadi layang-layang. Hasil produksi ala anak-anak yang saya anggap sudah sangat baik dari segi kreatifitas. 

Pernah suatu ketika saya terkejut dan kagum, kog anak yang masih sekolah taman kanak-kanak ini sudah bisa membuat layang-layang. Ia bisa meniru layang aslinya dengan menggantikannya dengan bahan lain dari lidi. Karena biasanya layang-layang dibuat dari bilahan bambu yang diraut dan dihubungkan dengan benang kemudian diberikan samak kertas minyak. Meskipun hanya dari lidi, tapi kemampuan ini sungguh mengagumkan. Paling tidak bagi anak-anak usia dini.

Sedangkan anak yang ketiga saat ini memang belum kelihatan tapi amat menyukai permainan lain. Yang pasti memang saat ini dari ketiga anak ini memiliki kecenderungan berbeda. Namun bersyukurnya, ketiga anak-anak kami begitu menyukai alam bebas, mereka suka bergaul dengan banyak teman. Semuanya tidak pernah dibatasi namun tetap dikontrol agar keselamatan anak dalam bermain tetap terjaga.

Dengan melihat aneka kecenderungan dan bakat ini, tentu membutuhkan dukungan dari orang tua, khususnya kami sendiri yang berusaha menuruti keinginan anak yang positif ini. Seperti ketika berlibur anak-anak menyukai bermain ke kolam renang, maka kami pun mengarahkan mereka melakukan kegiatan itu. Meskipun harus selalu didampingi agar lebih aman. Selain itu, mengarahkan bakat dan kecenderungan tidak harus dengan biaya yang mahal, lantaran berenang di kolam renang yang murah pun tersedia, hanya dengan ongkos Rp 5000 anak-anak bisa menikmati kesenangannya berenang.

Begitu pula aktifitas yang berhubungan dengan seni, maka sedini mungkin berusaha mengarahkan mereka pada kegiatan yang mengasah kemampuan seni, seperti misalnya kegiatan lomba mewarnai, membuat kreasi menempel (kolase) dengan bahan sisa, atau limbah kertas yang bisa dimanfaatkan. Bahkan daun-daunan yang hakekatnya tidak bermanfaat pun sebenarnya bisa dijadikan bahan yang amat penting bagi pengembangan kemampuan anak dalam sebuah kreatifitas seni.

Menurut teori perkembangan, perbedaan kemampuan itu berkaitan dengan pengaruh kinerja otak kiri dan kanan. Yang manakah yang mempengaruhi di antara keduanya. Atau justru kedua bagian otak ini bisa saling bersinergi jadi cenderung lebih seimbang. Meskipun di usia dini kemampuan dan bakat serta kecenderungan masih bersifat dinamis alias berkembang dan berubah-ubah tergantung masa pertumbuhannya lantaran dipengaruhi pula oleh pendidikan dan lingkungannya, namun melihat variasi hobi ini menunjukkan adanya perbedaan bakat dan kecenderungan yang berbeda. 

Setiap anak memiliki bakat yg berbeda yg harus dikembangkan (viva.co.id)

Usia anak-anak dini hakekatnya adalah usia emas (golden age) dimana pada masa ini, kemampuan motorik dan fisik anak dipengaruhi jenis dan seberapa banyak aktifitas yang dilakukan anak. Baik aktivitas secara fisik maupun otak anak. Selain itu aktifitas psikis pun tidak boleh diabaikan karena dimensi psikis (kejiwaan) turut menjadi bagian penting perkembangan anak selanjutnya.

Jika melihat perbedaan bakat dan kecenderungan jika dikaitkan dengan cara berfikir otak, menurut beberapa dominasi otak dibedakan menjadi dua.

Otak Kanan

Menurut teori dominasi otak kanan dan otak kiri, sisi kanan otak berfungsi terbaik jika digunakan pada tugas yang ekspresif dan keratif. Beberapa kemampuan yang populer terkait dengan sisi kanan otak meliputi:
  • Mengenali wajah
  • Mengekspresikan emosi
  • Musik dan selera seni
  • Membaca emosi
  • Warna
  • Gambar dan imajinasi
  • Penyatuan
  • Intuisi
  • Kreativitas
  • Subyektifitas
  • Mengontrol tubuh bagian kanan
  • Bentuk 3 dimensi
Otak Kiri
Sisi kiri otak di anggap mahir dalam tugas yang melibatkan logika, bahasa dan berpikir analitis. Otak kiri sering digambarkan lebih baik dalam:
  • Obyektifitas
  • Bahasa
  • Logika
  • Berbicara
  • Menulis
  • Berpikir kritis
  • Ketrampilan Angka-angka
  • Matematika/ketrampilan ilmiah
  • Menganalisa
  • Penalaran
  • Mengontrol tubuh bagian kiri
  • Pertimbangan. Sumber
Jika melihat perbedaan fungsi dari kedua sisi otak ini, tentu menjadi menarik jika anak-anak memiliki bakat tertentu dan orang tua mampu mengasahnya dengan aneka permainan yang merangsang kemampuan mereka. 

Merangsang kemampuan otak serta mengembangkan bakat serta kecenderungan anak hakekatnya menjadi bagian penting dalam proses pertumbuhan. Sehingga, dengan rangsangan yang tepat tentu bisa mengarahkan kemana semestinya anak-anak ini dikembangkan. 

Mengembangkan bakat anak tidak harus dengan biaya mahal

Jika melihat dunia modern saat ini, segala macam permainan hakekatnya banyak yang instant, sehingga kurang bisa merangsang kemampuan kinerja otak dan fisik anak, seperti permainan elektronik yang justru menjadikan anak sedikit melakukan gerakan. Hanya mata, telinga dan tangan yang biasanya banyak digunakan. Sedangkan gerak fisik amat sedikit diasah. Anak bisa bertahan selama berjam-jam demi sebuah game oline, atau bermain video game yang cenderung sedikit sekali kreatifitas dan gerak fisik. Padahal permainan yang membutuhkan kreatifitas biasanya merupakan kombinasi gerak fisik, psikis dan otaknya.

Meskipun bermain game online tidak dilarang karena juga bisa meningkatkan kecerdasan anak, namun memberikan batasan agar tidak berlebih-lebihan amat dibutuhkan. Perlulah diisi dengan kegiatan lain di lingkungan sekitar agar mereka mampu bersosialisasi dengan baik.

Anak dirangsang mengembangkan kecerdasan otak, fisik yang bergerak serta kesabaran tingkat tinggi demi menyelesaikan sebuah kreasi tertentu. Otak anak berkembang dengan menemukan aneka persoalan serta bagaimana menyelesaikan persoalan itu. Fisik anak bergerak ke sana kemari demi mencari bahan-bahan untuk membuat kreasi, dan tentu saja kejiwaan anak akan terbentuk menjadi sosok yang ulet, telaten dan sabar hingga produk yang ingin dihasilkan benar-benar terwujud nyata.

Seperti yang anak kami lakukan, meskipun hanya sebuah layang-layang dari lidi dan bentuknya pun tidak sepenuhnya utuh seperti buatan orang dewasa, namun yang menjadi kebanggan adalah ketika anak mau berusaha membuat dan menyelesaikannya tanpa memikirkan seberapa bagus hasilnya. Anak mau berusaha dan bekerja keras disertai kesabaran adalah kombinasi yang kompleks pada tahap perkembangan mereka.

Hal-hal seperti ini, tentu banyak juga dialami oleh anak-anak lainnya, tergantung kecenderungan dan bakat masing-masing. Seperti misalnya ketika anak memiliki bakat dalam bidang bahasa, tentu anak tersebut menyukai hal-hal yang berhubungan dengan aktifitas membaca dan mendengar, dan mereka biasanya lebih lancar ketika berbicara. 

Menemukan kosa kata baru begitu mudahnya diingat dan dengan mudahnya menyampaikannya kepada orang lain.
Menggunakan bahan-bahan sisa tapi bisa dimanfaatkan akan memupuk rasa kepedulian terhadap alam semesta, mereka menyadari bahwa semua yang ada di sekitarnya adalah benda yang bisa dimanfaatkan. Hanyalah orang-orang di sekitarnya yang bisa membantu anak-anak ini dalam mengembangkan ide kreatifitasnya. 

Yang pasti, baik otak kanan atau otak kiri, hakekatnya memiliki kelebihan masing-masing, sehingga bagaimanakah cara kita mengembangkan bakat dan kecenderungan anak akan tergantung pada kondisi keluarga dan lingkungan masing-masing. Begitu pula tingkat ekonominya yang tentu saja memiliki kesempatan yang lebih jika ingin memberikan anak kemampuan yang istimewa dalam bidang tertentu.

Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!