Selasa, 23 Januari 2018

Fenomena Bumi Bulat dan Konspirasi Flat Earth, Antara Benar dan Salah



Beberapa akhir dasa warsa ini, sejak munculnya teori flat earth tahun 1956,  masyarakat kita-khususnya masyarakat yang melek internet dan televisi- di Indonesia bahkan dunia, disibukkan dan dihebohkan dengan munculnya konspirasi flat earth. Di beberapa video (youtube) menunjukkan reaksi penolakan atas konsep baku teori bumi bulat. Sebuah konspirasi yang meneguhkan diri bahwa mereka menolak pernyataan ahli sains tentang bumi berbentuk bulat dan pendapat-pendapat lain dari para ahli sains terkemuka.

Para pendukung dan pembuat konspirasi flat earth beranggapan bahwa apa yang ditulis dan diterbitkan ahli sains (saintis)  beberapa tahun yang silam adalah kebohongan (fake). Dengan berbagai alasan dan fanta-fakta logis para penolak globe eart itu membuat sebuah tantangan para saintis, betapa banyak hal yang meragukan dari beberapa hasil temuan dan penelitian. Bahkan banyak hal yang sengaja dibuat untuk mengelabui masyarakat dunia tentang proyek NASA yang nilai kontraknya milyaran dolar AS itu.

Tentu saja, dengan pernyataan para pembuat konspirasi flat earth itu ingin memperoleh informasi yang benar-benar valid dan logis atau realistis terhadap hasil temuan yang juga sudah dipublikasikan hingga saat ini. Termasuk bagaimana mereka meragukan bahwa bentuk bumi bulat, matahari sebagai pusat tata surya dan penghitungan gerhana matahari dan bulan.

Dengan beberapa gambar penampakan bumi yang bulat itu, yang menurut para pembuat konspirasi adalah gambar yang dihasilkan dari efek CGI, sehingga gambar yang dihasilkan seperti aslinya. Dan beberapa keanehan pendaratan astronot di bulan yang dalam beberapa video seperti mengupas informasi bahwa proyek yang dibuat oleh tim ahli dari AS itu juga adalah kebohongan.

Tidak hanya ahli sains dari AS, karena para ahli dari Rusia (dulu Unisoviet) dan negara lain hanyalah bualan-bualan yang justru menunjukkan bahwa negara-negara tersebut tengah membuat kebohongan.
Entahlah, mengapa kelompok pendukung ide flat earth (bumi datar) itu seperti di blow up, ada maksud apa mereka melakukannya? Apakah ada maksud politis agar para peneliti AS mempunyai alasan untuk melakukan penelitian ulang dengan biaya yang tidak sedikit itu? Atau ada konspirasi lain yang kita tidak tahu.

Konspirasi Flat earth, Proyek Nasa dan Penjajahan Israel atas Palestina

Sebagai bagian masyarakat, mendapatkan informasi yang begitu kontradiktif dengan aneka informasi yang ada, tentu menjadi pemikiran tersendiri. Antara percaya dan tidak percaya sepertinya teori itu sengaja dibuat dengan proyek tertentu agar masyarakat tidak lagi fokus membicarakan hasil penelitian NASA terhadap planet MARS yang katanya bisa menjadi tempat kedua setelah bumi. Padahal secara logika, jika MARS itu memang bisa menjadi tempat tinggal baru bagi manusia bumi tentu saat ini pun seharusnya masyarakat AS sudah berlomba-lomba tinggal di planet baru itu.

Namun faktanya, sampai sekarang garapan proyek yang sungguh besar pun urung dapat dilakukan.
Selain yang berkaitan dengan proyek planet MARS, ternyata seiring dengan konspirasi Flat earth ternyata Yahudi Israel sudah memanjangkan jari-jari kekuasaannya pada tanah Palestina, persis seiring dengan munculnya konspirasi itu sedikit demi sedikit tanah Palestina mereka kuasai. Dan sungguh miris ternyata saat ini kemerdekaan yang sebenarnya hanya mitos bagi bangsa Israel terus saja amat sulit diperoleh bangsa Palestina. Dan anehnya, Amerika Serikat sendiri melalui Donald Trump sudah mengakui bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel padahal publik dunia pun mengakui bahwa Ibukota Israel ada di Tel Aviv.

Fakta politik yang mencengangkan dan sungguh di luar pemikiran bangsa-bangsa dunia, khususnya negara-negara Islam.

Selain ada strategi politik yang dimainkan, ternyata membuka mata kita, bahwa bagi AS, bangsa Palestina yang merdeka dan mendapatkan haknya sebagai bangsa berdaulat hanyalah isapan jempol belaka. Justru yang masyarakat lihat adalah setiap hari ada saja pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan tentara Israel terhadap masyarakat Palestina dan jumlahnya sampai saat ini sudah diluar logika kemanusiaan.

Menanggapi antara Flat earth dan Globe Earth antara salah dan benar

Sampai saat ini para pembuat konspirasi masih berusaha keras melakukan upaya untuk membuktikan bahwa bumi itu datar, dan mereka meyakini dengan yakin bahwa apa yang diperlihatkan oleh NASA adalah kebohongan. Dengan mencari pendapatan sendiri, kelompok flat earth ini ingin membuktikan bahwa bumi memang datar dengan meluncurkan sebuah roket ke luar angkasa. Meskipun pernah dirilis oleh salah satu media informasi ternyata ujicoba tersebut ternyata gagal.  Boleh jadi tidak mudah untuk menerbangkan roket dan tentu saja biayanya tidak murah. Butuh dana milyaran dolar pula agar proyek yang disebut sebagai “pembuktian” datarnya bumi itu dapat dilakukan.

Sedangkan para saintis yang meyakini bumi itu bulat pun sudah menancapkan pengetahuan yang sering disebut dengan peseudo sains, perkiraan atau hayalan yang seolah-olah sebuah pengetahuan. Pengetahuan tentang bumi yang menurut para sains pendukung bumi bulat sudah mendarah daging di hati masyarakat dunia tentang kebenarannya, meskipun kebenaran yang dibuktikan belum sepenuhnya bisa dipertanggung jawabkan. Jika bumi memang bulat semestinya para ahli sains bisa meyakinkan kelompok flat earth bahwa bumi memang bulat, bukan berbentuk lonjong atau bentuk lain misalnya.

Sedangkan masyarakat umum (awam) sampai saat ini hanya berkiblat pada teori sains yang sudah turun temurun diwariskan hingga anak cucu bahwa bumi memang bulat. Mau tidak mau setiap orang yang sudah mengenyam pendidikan pun mempercayai pendapat ini, meskipun kadangkala saat ini kadang masih diragukan kebenarannya karena beberapa fakta yang juga ditunjukkan oleh pendukung teori flat earth.

Yang pasti, entah benar atau justru salah, pengakuan para konspirator bumi datar pun sejatinya mempunyai kesempatan yang sama luasnya untuk membuktikan kepercayaan mereka, dengan cara-cara yang benar sesuai dengan ilmu sains. Sehingga anggapan bahwa pendapat sains terkemuka dan ilmu pengetahuan yang sampai saat ini sdh dianggap “pasti dan benar” pun tidak lagi diragukan kebenarannya. Jika untuk tuduhan para “kaum bumi datar” seperti yang disematkan pada para pengungkap teori konspirasi itu ternyata tidak juga bisa dibuktikan, maka teori-teori yang mereka pertanyakan sampai saat ini tidak bisa dibantah begitu saja.

Salam

Senin, 26 Juni 2017

Idul Fitri, Saatnya Rajut Kembali Persaudaraan Sejati



Gambar :  https://bocahbancar.files.wordpress.com

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, suara takbir bergema, berkumandang di seluruh pelosok negeri. Di Indonesia dan di seluruh belahan dunia suara takbir dikumandangkan karena hari raya Idul Fitri telah datang. Hari di mana umat Islam telah mencapai kemenangan setelah sebulan penuh berjuang mengendalikan hawa nafsu. Nafsu yang muncul dari dalam diri berupa menahan diri dari makan minum dan nafsu-nafsu lain yang meliputi diri manusia.

Ketika sebulan penuh digembleng dengan rasa lapar dan dahaga, dibatasinya tingkah polah manusia yang mengandung kemudharatan dan dicegahnya diri berbuat dari hal-hal yang dilarang, seperti amarah, permusuhan dan segala macam yang diharamkan. Sebulan berlalu rasa-rasanya tak cukup untuk menggambarkan betapa bulan suci Ramadhan yang begitu mulia itu harus meninggalkan kita. Dan kini, hari-hari kembali menjelang untuk kembali menjadi tempat aktualisasi diri apakah selama sebulan itu mampu melahirkan manusia-manusia muslim yang benar-benar beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, dan apakah kembali membangun kembali fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Di sebelas bulan berikutnyalah yang akan membuktikan apakah kita bisa menjalaninya dengan baik atau justru sebaliknya.

Ada yang sungguh membekas dalam diri ini, bahwa di bulan-bulan lalu, sebelum diri dan jiwa ini digembleng dengan puasa Ramadhan, ternyata terlalu banyak permusuhan-permusuhan di antara umat. Entah umat Islam dengan umat Islam lainnya, atau umat Islam dengan umat agama lain karena persoalan politis. Begitu banyak kita membaca dan melihat status-status penuh kebencian dan komentar-komentar bernada miring yang semakin memperkeruh suasana kekeluargaan. Memecah belah komitmen kita untuk saling membuka diri dan menerima perbedaan. Karena urusan politis, kita seperti sekumpulan masyarakat yang sudah tidak lagi nyaman untuk hidup dengan saudaranya seiman maupun sebangsa dan setanah air.

Di bulan yang penuh rahmat dan ampunan umat Islam diuji dan dilatih menahan diri untuk tidak saling membenci tidak saling menyakiti, karena sebaliknya umat Islam harus menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Menebarkan rasa kasih sayang kepada semua saudaranya seiman dan saudara sebangsa, karena itu semua adalah perwujudan manifestasi dari tingginya kualitas iman dan ketakwaan kita sebagai umat Islam.

Islam boleh berbeda-beda firqah, aliran dan mazhab, tapi nilai ketakwaan menjadi pondasi utama memperkokoh rasa persatuan dan kesatuan Islam dan tentu saja persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Konsep persaudaraan Islam yang dijabarkan dalam Al Qur'an dan Hadits sudah jelas dan tidak bisa ditawar-tawar lagi, bahwa "umat Islam adalah saudaranya umat Islam lainnya". dan "Umat Islam diibaratkan sebagai satu tubuh di mana satu bagian sakit maka bagian tubuh yang lainnya turut merasakan kepedihan dan kesakitan. Dan tentu saja umat Islam seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya. Iman adalah pondasi atau dasar yang mesti kuat, karena tanpa pondasi yang kuat maka bangunan itu akan runtuh. Dan persatuan adalah soko gurunya, karena tanpa soko guru maka bangunan negeri ini pun akan runtuh berkeping-keping.

Ketika Idul Fitri telah menjelang, maka insan-insan yang "kotor" karena memperturutkan hawa nafsu yang diharamkan mudah-mudahan kembali fitrah sebagai hamba Allah yang menebarkan kasih sayang kepada semua makhlukNya. Mencintai saudaranya seperti dia mencintai saudaranya sendiri karena tidak sempurna iman seorang muslim jika rasa cintanya kepada saudaranya tidak seperti dia mencintai dirinya sendiri.

Kepada semua saudara yang pernah menyakiti, atau yang tersakiti marilah saling membuka hati untuk saling memaafkan dan mengikhlaskan segala kekhilafan saudaranya.

Minal Aidin Wal Faidzin, Taqobalallahu minna wa minkum
Selamat hari raya Idul Fitri
Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan sebelas bulan kemudian di terima Allah SWT, dan kita semua menjadi manusia-manusia yang bertakwa.

Aamiin aamiin aamiin ya Mujibassaailiin. Aamiin Yaa Robbal 'Alamiin




Kamis, 30 Maret 2017

Jika Tak Ingin Membahagiakan, Jangan Kau Nikahi Wanita

Gambar : gopixpic.com


Apakah anda hendak menikah? Mungkin tahun ini atau dalam waktu dekat lagi anda ingin melakukan pernikahan. Atau beberapa tahun kemudian ketika anda sudah merasa matang, siap dan cukup bekal dalam menjalin pernikahan. Jika "ya" mudah-mudahan niat suci itu benar-benar akan terlaksana dan anda termasuk calon pengantin yang suatu saat nanti menjadi keluarga SAMARA atau sakinah, mawwadah dan rahmah.

Pernikahan yang benar-benar menjadi idaman semua orang. pernikahan yang dirajut atas niatan suci ingin mengabdi kepada Al Kholiq, dan pernikahan yang benar-benar ingin mengukuti sunnah Rasulullah SAW. 

Sebagaimana dijelaskan dalam kitab suci-Nya sebagai berikut: 

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
(Qs. Ar. Ruum (30) : 21)

Ayat di atas sudah sangat jelas bahwa di antara tanda kekuasaan Allah adalah dengan diciptakan para wanita untuk menjadi pasangan kehidupan agar di dalamnya terwujudlah rasa kasih dan sayang, kehidupan yang tenteram. Dan hakekatnya bersatunya dua insan tersebut supaya bisa meneruskan garis keturunan yang banyak. Semua itu hanya bisa diterima bagi orang-orang yang berpikir atau memiliki akal fikiran.

Tetapi, apakah dengan kewajiban menikah itu semata-mata untuk memperoleh kesenangan semata? Seperti halnya yang kita pahami bahwa ada di antara kita yang menikah karena ingin memperoleh kesenangan pemenuhan kebutuhan biologis semata, padahal lebih dari itu adalah adanya rasa tanggung jawab untuk bisa memenuhi hak dan kewajibannya baik secara jasmani maupun rohani. Kebutuhan sebagai individu pun hubungannya sebagai hamba Allah SWT.

Ada kecenderungan di abad ini, seorang pria dan wanita yang hendak melangsungkan pernikahan seringkali tidak memahami batas-batas hak dan kewajibannya. Maka tak jarang di antara mereka justru saling melepaskan diri dari tanggung jawabnya. Lebih mementingkan hak yang ingin dipenuhi tapi kewajibannya justru diabaikan.

Kekerasan demi kekerasan acapkali terjadi, baik dari kekerasan jasmani berupa pemukulan dan penyiksaan pada kedua belah pihak. Meskipun kekerasan ini tidak hanya dilakukan oleh kaum pria, karena di abad inipun kekerasan banyak dilakukan oleh kaum wanita. 

Meskipun prosentasenya masih jauh di bawah kekerasan yang dilakukan pria, tentu menjadi gambaran yang tidak layak terjadi jika melihat kembali tujuan pernikahan itu. Terjalinnya rasa kasih dan sayang di antara keduanya. 

Selain kekerasan jasmani atau fisik, pun kekerasan rohani atau psikis masih saja terjadi. Seperti contoh secara sengaja mengucapkan kata-kata yang menyakiti perasaan keduanya. Misalkan "kamu sudah bertahun-tahun menikah dengan aku gak juga bisa memberikan aku anak!" Atau dilakukan oleh wanita "kamu jadi pria lemah, gak bisa memuaskan kebutuhanku (impoten). penghasilan kecil dan tidak mencukupi. untuk apa kita menikah kalau hanya dibuat sengsara." 

Betapa kata-kata yang sungguh menyakitkan itu adalah gambaran kekerasan psikis yang kerap terjadi, baik sang pria selaku pelakunya atau justru menjadi korbannya. 

Semua itu adalah gambaran bahwa kekerasan demi kekerasan masih saja menjadi bumbu dalam rumah tangga. Bumbu memang perlu demi keharmonisan rumah tangga, tapi jika berujung pada sikap menyakiti pasangannya justru menjadi tidak sejalan dengan tujuan pernikahan itu sendiri.

Kebutuhan pernikahan mencakup semuanya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Kebutuhan biologis maupun materi yang tidak bisa dianggap sepele. Meskipun ada saatnya untuk mampu menahan diri dari hasrat yang berlebihan atas perkara-perkara tersebut di atas. Yang pasti semuanya meski berjalan secara realistis dan harmonis agar tercipta keluarga yang dicita-citakan.

Menghindari kata-kata keji dan kekerasan fisik demi kehidupan yang lebih tenang dan damai

Boleh jadi ada yang menganggap tak semudah diucapkan ketika berumah tangga. Apalagi bagi pasangan yang semuanya menjalin cinta bukan karena ibadah. Mereka melakukan pernikahan semata-mata pelampiasan hasrat seksual semata atau status sosial semata.

Mereka mencintai pasangannya bukan karena berharap Ridho Allah SWT, tapi sebaliknya hanya sebagai simbol prestice, atau juga sebagai sarana agar bisa mendapatkan pasangan yang kaya, keturunan bangsawan atau karena ingin segera melepaskan masa lajangnya. Tapi mereka lupa bahwa pernikahan itu bukan hanya untuk kehidupan duniawi saja, karena kehidupan akhirat adalah tujuan yang paling utama.

Karena dasar-dasar pernikahan yang bersifat keduniawian (kedonyan) acapkali pasangan pernikahan mudah retak di tengah jalan. Hanya karena bentuk tubuh yang tak lagi indah, cantik atau tampan, dengan seketika itu muncullah kata-kata yang sungguh tidak nyaman untuk didengarkan. Sumpah serapah dan umpatan-umpatan keji begitu mudah terlontar dari kedua pasangan. Padahal sebelum-sebelumnya yang muncul adalah untaian kata-kata pujian yang menggelorakan semangat cinta dan sayang. Tapi ketika semua yang diimpikan telah diperoleh, atau hilang seiring dengan bertambahnya usia, maka muncullah kata-kata yang tak layak untuk diucapkan. Sungguh tidak menyenangkan bukan?

Persepsi yang salah dalam memandang kebahagiaan

Para ahli kejiwaan berpendapat bahwa kebahagiaan berasal dari batin atau hati seseorang. Khususnya bagi pemegang teguh agama, mereka mendapatkan kebahagiaan tidak semata-mata karena memiliki harta. Bahkan harta boleh jadi menjadi elemen kedua setelah penghambaan kepada Tuhan. Betapa kebahagiaan diperoleh karena kedekatan kepada Sang Pencipta, meskipun kadang kehidupannya sederhana ternyata kehidupan mereka sangat sejahtera. Berbeda dengan kaum hedonis yang menilai kebahagiaan semata-mata jika kepentingan duniawiyah terpenuhi, meskipun kepentingan ukhrawi ditinggalkan. Hedonisme menganggap bahwa kebahagiaan kebanyakan diukur oleh banyaknya harta dan kesenangan akan sex.

Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya. di dalam lingkungan penganut paham ini, hidup dijalani dengan sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. (sumber)

Pendapat di atas sangat jelas menyebutkan bahwa hedonisme adalah pandangan hidup yang semata-mata mementingkan urusan dunia dan menjadikannya tujuan utama. Hal ini disebabkan karena bagi penganut paham hedonisme kehidupan hanya sekali, maka bersenang-senanglah dan menganggap kehidupan di alam akhirat tidak ada.

Pertanyaannya bolehkan kita mencitai dunia? Jawabannya tentu boleh asalkan kecintaan kepada dunia dan kesenangan di dalamnya selalu lebih besar kecintaannya pada ladang akhirat. Karena kehidupan dunia hanyalah sementara sedangkan akhirat amatlah kekal. 

Ironisnya paham hedonisme ini pun sudah mulai mewabah pada masyarakat yang menganut agama. Padahal bagi seorang yang beragama mencintai dunia hakekatnya demi ingin mengecap kenikmatan akhirat atau alam baka. Mereka selalu mempertimbangkan konsekuensi akibat dari prilaku selama di dunia yang akan diperolehnya nanti di alam keabadian.

Di antara masyarakat menengah ke atas, yang notabene kehidupan mereka mulai sejahtera ternyata begitu sulitnya menjaga kebahagiaan rumah tangganya. Sang pria merasa sudah memberikan segalanya, atau semampunya ternyata di pihak lain sang wanita merasa tidak pernah cukup dengan apa yang diberikan. Akhirnya keretakan rumah tangga pun terjadi. Dengan alasan yang amat absurd begitu mudahnya mereka saling meninggalkan karena kebutuhan akan kenikmatan duniawi yang berkaitan dengan harta dan sex tidak terpenuhi. Mereka melupakan bahwa hakekat kebahagiaan adalah ketika keduanya saling menjaga, melindungi dan memenuhi setiap kebutuhan jasmani dan rohani dalam bingkai keikhlasan dan penerimaan. Bersyukur dengan apa yang diberikan dengan tanpa menuntut sesuatu yang mustahil didapatkan.

Menghendaki kebahagiaan hakekatnya sesuai dengan Firman Allah, barang siapa yang bertakwa kepada Allah maka akan diberikan jalan keluar dari segala persoalan hidupnya, dan diberikanlah rezeki dari arah yang tidak diduga-duga.

Janji Allah sangat jelas dan pasti, bahwa barang siapa yang mau bertakwa kepadaNya, berpasrah diri dan memohon kebahagiaan yang hakiki, maka kebahagiaan yang dirindukan akan benar-benar diberikan.

Menyerahkan kehidupan ini secara utuh kepada sang Khalik akan berdampak pada kebahagiaan sejati yang hakekatnya diidam-idamkan oleh semua pasangan pernikahan.

Wallahu a'lam






Rabu, 29 Maret 2017

Benarkah Politik Bisa Pisah dari Agama?

retorics.blogspot.com

Akhir-akhir ini saya begitu terhenyak dengan pernyataan bahwa "pisahkanlah Agama dari Politik". Tanpa menyebut siapa sebenarnya yang memiliki gagasan ini, yang pasti ada rasa cemburu dan khawatir jika suatu saat nanti para politisi benar-benar ingin memisahkan agama dari visi politik mereka. Menurut saya selaku masyarakat awam adalah sungguh mengerikan dan mengkhawatirkan.

Bolehlah ada yang beranggapan bahwa "politik itu kejam jadi gak usahlah politik bawa-bawa agama" atau "politik itu kotor jadi jangan kotori agama dengan politik". Meskipun pernyataan ini dapat diterima oleh salah satu pihak, tapi di pihak lain tentu akan banyak pertentangan. Politik adalah bagaimana mengelola sebuah negara, dan apabila politik benar-benar dilepaskan dari agama maka sama halnya negeri itu berdiri di luar kendali agama. Kalau diibaratkan seperti negara-negara penganut ateis, maka wajar saja jika nilai-nilai agama ditinggalkan. Toh mereka tak beragama dan bagi mereka akhirat itu tidak ada. Menurut mereka ajaran agama adalah "candu" dan mesti ditinggalkan.

Aneh, dan sama sekali tidak bisa diterima akal, atau nalar. Paling tidak untuk nalar saya sangat tidak menerima. Karena bagi saya, agama sebagai kendali atas prilaku manusia dalam bermasyarakat, pun dalam menyongsong kehidupan untuk akhiratnya. Apalagi bagi negara ber "Ketuhanan Yang Maha Esa" maka tak elok jika agama hendak disingkirkan. Puncaknya segala sesuatu yang berlabel "agama" khususnya "Islam" akan dianggap "candu" dan tak layak untuk dianut dan dijalankan isinya.

Meskipun prinsip Ketuhanan hakekatnya dikembalikan pada agama masing-masing, tapi jika prinsip Ketuhanan itu ditinggalkan maka amat jelas babak akhirnya.

Akan banyak orang yang berpolitik tak lagi memandang etika, norma dan aturan agama, karena sudah tidak ada lagi kaidah yang mengaturnya. Semua orang ingin bebas semau sendiri tanpa dibatasi. Saat berkampanye dengan cara curang pun dianggap biasa saja. Saling fitnah dan adu domba boleh jadi sudah biasa. Dan klimaksnya dasar negara yang berketuhan itu bisa jadi didaur ulang. Sesuatu yang sungguh miris dan menakutkan.

Dan bolehlah yang berargumen bahwa saat ini para politisi mayoritas beragama Islam, kenapa masih korupsi, masih bermain politik uang dan masih melakukan aksi curang dalam banyak hal. Memperkaya diri dengan cara yang tidak patut dengan mengambil yang bukan haknya. Tentu ini adalah sebuah kondisi yang memalukan dan tidak dapat ditolerir.

Kejahatan pelanggaran hukum "agama" sampai kapanpun harus ada konsekuensinya. Siapa yang berbuat harus bertanggung jawab secara hukum. Meskipun faktanya sampai sejauh ini kasus korupsi masih cukup masif dan teramat sulit diberantas. Hal ini karena terlalu sederhananya hukuman yang diberikan kepada pelaku korupsi sedangkan mereka mengaku beragama Islam.

Dalam Islam sudah jelas, bahwa segala sesuatu di dunia ini diatur dan dijalankan untuk memperoleh kemakmuran di dunia dan tentu kemakmuran di akhirat sebagai tujuan akhir perjalanan manusia. Bekerjalah "berpolitiklah" seolah-olah akan hidup selamanya dan beribadahlah seolah-olah engkau akan mati esok hari. Dan tentu semua manusia akan mati, entah masyarakat awam seperti saya atau politisi sekalipun.

Ironisnya, siapa saja yang menghendaki agama dipisahkan dari politik, mereka menggunakan topeng agama demi memperoleh simpati dari pendukungnya. Bahkan masyarakat awam pun bisa diperdaya dengan penampilan yang sungguh di luar dugaan. Tapi anehnya ketika mereka sudah berkuasa, justru agama malah diinjak-injak dan tidak lagi menjadi ruang untuk mengendalikan diri dari perbuatan yang dilarangnya. Orang yang sekedar Islam KTP pun seolah-olah sudah benar-benar menjalankan agama. Tapi sayang, semua adalah topeng dan tipu muslihat agar masyarakat yang "agamis" ini terperdaya dan memilihnya. Dan setelah menang, wujud aslinya sedikit demi sedikit mulai kelihatan. Mereka hanya memafaatkan ke-awam-an pemilihnya demi mendongkrak suara, tanpa memikirkan betapa kecewanya pemilih karena suaranya dipermainan.

Tapi itulah politik, meskipun berkali-kali masyarakat diperdaya, toh mereka selalu saja berkata: "siapapun yang menang kami tetaplah orang miskin yang gak punya apa-apa."


Bagaimana mungkin agama hendak dipisahkan jika negeri ini dipimpin oleh orang yang beragama, dan betapa tidak masuk di logika jika rakyatnya beragama tapi dipimpin oleh seseorang yang ingin memisahkan agama dari politik. Dalam batin saya sungguh tidak terima.

Puncaknya ketika ketika politik dipisahkan dari agama, maka tujuan dari negara sekuler atau liberal akan terwujud. Bagaimana caranya seorang politisi melakukan cara-cara haram demi tetap berkuasa. Dan musuhnya tentu adalah orang-orang yang beragama. Mereka alergi dengan simbol-simbol Islam dan syariah. Karena dengan prinsip syariah maka ide kapitalisme dan komunisme sedikit banyak akan terancam.

Percaya atau tidak, suatu saat nanti narkoba, miras, pelacuran akan dibebaskan karena tidak ada lagi prinsip syariah agama dalam mengelola negara. Toh yang penting roda negara tetap  jalan meskipun cara yang dilakukan sangat-sangat tidak sesuai dengan agama. Dan contoh kecil sudah terjadi, ketika sebuah kitab suci dilecehkan pun sampai detik ini konsekuensi hukumnya masih diangan-angan.... inget benar dengan lagu dari almarhum sang penyanyi Gombloh ...... hahaha.

Semoga ide memisahkan agama dari politik hanyalah angan-angan dan tak benar-benar terjadi, karena kalau terjadi untuk apa kami dibekali moral, etika dan nilai-nilai agama jika dalam politik justru kami harus membuangnya. Apa nggak sia-sia?

Salam



Jumat, 20 Januari 2017

Anak-anak Berkebutuhan Khusus dan Literasi Sekolah

Anak-anak tengah asyik membaca di ruang perpustakaan


Membangun budaya membaca bagi anak-anak normal pada umumnya sampai sejauh ini menunjukkan peningkatan yang signifikan, tercatat di antara sekolah-sekolah yang didirikan dan yang memiliki kecukupan bahan bacaan, ternyata minat mengunjungi perpustakaan sangat menggembirakan. Dengan situasi ini membuat saya semakin percaya diri, bahwa dengan dukungan semua pihak terkait program "gemar membaca" akan sangat mempengaruhi produktifitas dan kemampuan anak-anak sekolah pada khususnya dalam meningkatkan pengetahuan mereka.

Seperti beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kota Metro Lampung, kebetulan siang hari selepas istirahat, saya melihat anak-anak usia dini yang didampingi orang tua mereka terlihat cukup aktif dengan buku-buku yang ada di hadapan mereka. Entah sekedar melihat-lihat gambar atau sekedar membaca buku cerita.

Adapula orang dewasa yang sepertinya sudah mahasiswa yang juga tengah sibuk dengan buku yang ada di tangan. Bersyukur sekali rasanya jika generasi muda saat ini begitu mencintai buku dan meluangkan waktu untuk mengunjungi perpustakaan dan membaca buku yang bermanfaat.

Selain anak-anak usia dini dan mahasiswa, Adapula siswa-siswi sebuah sekolah menengah yang juga tengah sibuk dengan buku-bukunya, serta ada yang tengah asik melakukan browsing. Membaca buku digital atau sekedar mencari-cari informasi sangat mudah dilakukan karena fasilitas internet wifi juga disediakan.

Anak-anak normal pada umumnya sampai sejauh ini cukup memiliki antusias ketika berhadapan pada program gemar membaca atau literasi yang dicanangkan pemerintah. Bagaimana dengan anak-anak berkebutuhan khusus atau siswa difabel?

Salah satu siswa tengah menggunakan fasilitas komputer di ruang perpustakaan


Anak-anak berkebutuhan khusus dan tantangan program literasi sekolah.

Selain anak-anak normal pada umumnya, jika melihat antusiasme anak-anak berkebutuhan khusus, khususnya siswa-siswi SLB Negeri Metro yang berkunjung ke perpustakaan sekolah, juga cukup tinggi.

Hampir setiap hari anak-anak tersebut terjadwal secara bergantian memasuki ruang perpustakaan demi untuk membaca dan mencari informasi tambahan terkait mata pelajaran yang mereka ikuti. Meskipun dengan waktu yang disediakan sekitar 2 jam, ternyata anak-anak tersebut seperti merasa kekurangan waktu untuk terus membaca dan menggali ilmu yang bermanfaat bagi mereka.

Di samping anak-anak yang tertarik dengan buku bacaan, dengan keberadaan tiga buah komputer yang awalnya didesain sebagai perpustakaan digital ternyata juga memancing minat anak-anak tersebut untuk turut memanfaatkannya. Sayang sekali dari ketiga komputer tersebut, hanya satu unit yang bisa digunakan. Entahlah, bisa jadi karena terlalu lama tidak diaktifkan karena liburan sekolah, jadi komputer tersebut mengalami error program.

Buku-buku yang tersusun di rak-rak buku turut mendukung program literasi sekolah

Bersyukur sekali program literasi sudah digulirkan setahun yang silam dan saat ini kegiatan ini berjalan dengan baik dan didukung oleh fasilitas yang tersedia. Meskipun jika ingin memenuhi segala kebutuhan akan buku, rasa-rasanya keberadaan tersebut masih kurang mencukupi.

Akan tetapi, lebih baik memanfaatkan yang tersedia dengan optimal, daripada membiarkan buku-buku yang ada hanya tertata dan bertumpuk-tumpuk di rak-rak buku. Sangat disayangkan, bukan?

Buku-buku yang tersedia di rak-rak dan lemari buku sekolah dibiarkan berdebu, dan sepatutnya dimanfaatkan sebagai bahan memperdalam ilmu pengetahuan ketika di dalam buku-buku pegangan guru dan siswa tidak merangkum semuanya.

Seperti pepatah, tidak ada rotan akar pun jadi. Meskipun buku-bukunya belum tersedia semuanya, namun semangat memperkaya pengetahuan dari buku bacaan sangatlah penting dan amat dibutuhkan bagi masyarakat, lebih khusus bagi anak-anak ABK.

Di beberapa kelas disediakan pula fasilitas membaca kelas literasi


Sinergitas antara program budaya literasi dan prestasi siswa SLB N Metro

Melihat antusiasme siswa dalam membaca sejatinya akan meningkatkan kompetensi siswa, termasuk di dalamnya kompetensi siswa ABK dalam membaca. Sebab dengan kebiasaan membaca bagi anak-anak ABK ternyata mempunyai dampak yang cukup signifikan bagi kelangsungan program literasi dan kemampuan siswa dalam berbagai bidang. Seperti beberapa kali anak-anak ABK khususnya SLB N Metro mengikuti lomba cipta baca puisi, dan membaca puisi ternyata bisa tembus dapat juara di tingkat Provinsi Lampung.

Begitu pula lomba menulis yang diadakan oleh pemerintah juga alhamdulillah di tingkat provinsi hasilnya tidak mengecewakan.

Walaupun ketika harus berjuang di tingkat nasional ternyata persaingannya semakin ketat jadi mengalami kegagalan. Yang pasti dengan adanya program literasi di sekolah dan didukung oleh buku-buku yang bermutu dan layak baca, pun menjadi aspek penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Membaca adalah sebuah tradisi yang positif. Jika dikembangkan dan digalakkan, maka keberadaan anak-anak ABK khususnya akan mengalami peningkatan kemandirian dan prestasi yang meningkat.

Membangun budaya literasi di sekolah luar biasa

Seperti yang saya sampaikan tadi, bahwa SLB N Metro di bawah kepemimpinan Ibu Dra. Yuly Hartaty sudah berusaha melengkapi buku-buku yang dibutuhkan siswa. Baik buku bacaan maupun buku pelajaran atau buku pegangan siswa di kelasnya. Termasuk di tahun 2016 ini, sudah menyediakan kelas literasi, Sementara ada empat kelas karena ketersediaan buku yang masih terbatas. Tetapi mudah-mudahan di tahun 2017 ini kelas-kelas literasi segera akan bertambah ke kelas-kelas yang lain.

Program gerakan literasi secara implisit sudah diprogramkan dan dilaksanakan di tiap kelas, seperti lima belas menit sebelum belajar berlangsung siswa-siswi membaca buku dan menceritakan kembali isi buku itu. Tidak seluruhnya tapi sebagian saja untuk kemudian bisa diceritakan pada siswa lain di kelas. Bagi siswa yang kemampuan membacanya masih kurang, dilakukan dengan guru membacakan isi buku atau menceritakannya di depan kelas dan seluruh siswa menyimak dengan tekun dan menanggapi pertanyaan guru.

Anak-anak yang sukses menggondol juara pada ajang lomba desain grafis dan lomba menulis di Tk. Provinsi di SLB PKK Bandar Lampung


Program sebelum belajar berlangsung ternyata memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kemampuan siswa dalam memahami isi cerita, tokoh-tokoh, karakter dan pesan-pesan yang disampaikan dari cerita yang dibaca atau didengarkan.

Semoga saja program gerakan literasi bukan hanya jargon, namun lebih dari itu benar-benar membudayakan gemar membaca dan sasaran akhir anak-anak mampu meneladani isi dari cerita dan menjadi siswa-siswi yang berkarakter baik. Dan sasaran lainnya adalah anak-anak semakin mampu membaca dengan baik, dan mampu mengikuti ajang perlombaan literasi yang diadakan di tingkat sekolah, provinsi maupun nasional.

Salam literasi!


Rabu, 11 Januari 2017

ASN, Jalan Panjang Memiliki Rumah Sendiri

Rumah impian seorang ASN, tapi masih terbatas impian ketika pendapatan tak sebanding dengan kebutuhan Gambar : homedesignpictures.com

Inilah tulisan tentang ASN, Aparatur Sipil Negara kepanjangannya. Seorang yang sempat mengabdi di lembaga tertentu, kemudian berusaha mengikuti test penerimaan PNS (dulu). Mulai dari lowongan Kementerian Agama karena memang sudah memiliki bekal untuk bekerja di sana karena memang pendidikan yang ditempuh sehaluan, dan akhirnya diterima di lembaga bagi anak-anak disabilitas setelah sekian waktu mengabdi di lembaga yang memiliki background yang sama.

Aral rintang tak menyurutkan langkah untuk mengenali, memahami, belajar menangani dan untuk kemudian berusaha menekuni pekerjaan ini denggan ketulusan hati. Bertahun-tahun mengabdi bersama-sama anak-anak yang memiliki hambatan intelektual, fisik, komunikasi dan sosial emosional yang juga memiliki corak yang berbeda.

Menjadi ASN memang membanggakan, dan dulu sempat dielu-elu dan dibangga-banggakan karena kehidupan serba enak dengan fasilitas negara, seperti perumahan, kendaraan tugas, uang tunjangan yang mencukupi, ternyata turut mengundangku agar bisa memasuki wilayah "hangat" itu bersama ribuan bahkan jutaan pegawai lainnya. Bangga bisa duduk bersama orang-orang berseragam, seolah-olah ini adalah kemenangan besar ketika harus berjuang di antara jutaan orang yang ingin bersaing memasuki dunia kerja di pemerintahan ini.

ASN adalah fenomena yang cukup menarik dan menantang, yang semua orang ingin memasukinya, entah dengan cara jujur atau curang semua bisa dilakukan. Tergantung pribadi masing-masing apakah bisa memilih antara yang hak atau batil.

Tapi, bukan tentang nikmatnya menjadi ASN, bukan itu. Tapi perjalanan yang cukup sulit menurutku ketika harus memiliki rumah sendiri. Rumah sederhana yang dibangun di tanah sendiri. Tak perlu menyewa atau mengontrak, dan tak mau terbebani biaya kredit setiap bulan. Karena menurut kami ini adalah beban yang cukup berat untuk dipikirkan. Tak perlu mewah dan gelamor, yang penting atap tidak bocor, tempat tidur yang nyaman dan lantai yang tenang ketika kaki-kaki kami ingin berpijak setelah lelah bekerja seharian. Itulah cita-cita sederhana yang mudah-mudahan 2017 ini benar-benar tercapai sesuai dengan mimpi ini.

Berat bagi kami, meskipun bagi mereka yang berkantung tebal amatlah ringan, ketika harus mengumpulkan energi untuk kemudian siap memulai memondasi rumah, dan menghayalkan rumah mungil nan nyaman dan asri bisa benar-benar terwujud. Seperti pertanyaan yang selalu terlontar dari anak-anak kami "Pak, kapan sih kita punya rumah sendiri?", dan sederet mimpi kecil mereka yang ingin dihargai lantaran tak lagi mengontrak di rumah orang. Dan alhamdulillah sekarang cita-cita kecil itu mulai berwujud.

Sebenarnya kami sudah memiliki rumah, meskipun rumah tua dan bobrok yang kami beli dengan harga murah, dan harus kami jual kembali lantaran berada di perkampungan yang tak aman untuk ditinggali. Perampok dan teror maling selalu menggentayangi fikiran kami. Bagaimana tidak, jika setiap hari ada saja hewan ternak yang hilang. Tak hanya ternak, karena tanaman pun ikut dijarah demi memenuhi kantung perutnya.

Akhirnya dengan berat hati, kugadaikan kembali milik kami, dan kumulai menikmati tinggal di rumah seorang PNS yang cukup sederhana dan dermawan. Rumah yang sekian tahun tak pernah ditinggali dan harus direnovasi kecil-kecilan agar layak ditempati. Bertahun-tahun di rumah ini kami menikmati kehidupan ala PNS yang katanya pekerjaan yang menjanjikan itu. Entahlah, apakah karena kami tak seberuntung mereka yang bisa dengan mudahnya mengoleksi rumah, kendaraan mewah, dan memiliki ansuransi dimana-mana. Tapi tidak dengan kami, rasa-rasanya memang inilah cawan rezeki yang paling pantas untuk kami miliki.

Tepat ditahun 2017 inilah mimpi ini kami wujudkan, meskipun bentuknya belum selayak rumah di deretan perumahan ibukota, tapi memiliki rumah sendiri adalah idaman. Meskipun diseantero negeri tengah berkeluh kesah karena harga-harga semakin melambung tinggi sedangkan gaji sudah tidak memenuhi kantung lagi.

Alhamdulillah, setelah berusaha mendapatkan pembiayaan dari bantuan subsidi pemerintah yang ternyata gagal, sungguh sangat mengetuk jiwa kami bahwa janganlah terus berharap pada orang lain atau siapapun, karena rezeki hanyalah Allah SWT yang punya. Terus meraih impian di antara cemoohan orang. Bahwa kenapa menjadi PNS kalau "kere". Tapi biarlah itu semua hanyalah lolongan-lolongan anjing di jalanan ketika kafilah harus tetap berlalu.

Bersama tiadanya sang belahan jiwa karena harus melalui proses mencari sesuap nasi di rantau orang, kami goreskan catatan-catan hidup yang tetap indah agar menjadi cahaya bagi harapan kebahagiaan di kehidupan selanjutnya.

Yang pasti, hidup itu adalah pilihan, namun manusia hanya terbatas memilih sedangkan penentu utamanya adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Salam


Senin, 09 Januari 2017

Kelompok Wanita Tani (KWT) Solusi Permasalahan Mahalnya Cabai


Gambar: Salah satu cara budidaya tanaman sayur di pekarangan (batampos.co.id)




Akhir-akhir ini, bangsa Indonesia tengah dihadapkan dengan beragam persoalan. Baik persoalan SARA, politik luar negeri dengan Australia terkait pelecehan salah satu prajurit mereka yang melecehkan Pancasila.

Begitu pula dengan negara-negara lain yang belum lama ini menjadi topik diskusi di berbagai media nasional. Semua kondisi yang melingkupi tentu saja mempengaruhi stabilitas sosial dan politik di negeri ini.

Adapula persoalan imigran ilegal dari China yang sampai sejauh ini membuat keresahan anak negeri. Serta pro dan kontra terkait pekerja asing lain yang juga membanjiri perusahaan-perusahaan di Indonesia yang jumlahnya seperti tidak terkendali. 

Tidak hanya persoalan sosial dan politik, karena adapula persoalan ekonomi yang tak kalah rentannya jika dihadapan pada kondisi masyarakat saat ini. Naiknya harga sembako yang semakin meroket, terutama yang sangat santer adalah naiknya harga cabai yang tembus di atas ratusan ribu ripuah, yang sedikit banyak cukup menimbulkan pro dan kontra pula di kalangan masyarakat bawah. Antara suka dan tidak suka, sepakat dengan kenaikan atau pasrah dengan keadaan menjadikan kebutuhan dasar masyakat itu turut memicu keresahan.

Namun demikian, hakekatnya semua persoalan yang terjadi tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan merupakan hubungan kausalitas yang selalu saja muncul di tengah-tengah kita.

Ketika persediaan cabai di masyarakat tengah menurun, tentu berdampak harga-harga yang melambung tinggi. Apalagi nilai tukar dolar yang terus naik disertai aneka bencana yang terjadi hingga hasil panen petani menjadi menurun drastis. Semua itu akan berdampak pada keberadaan bahan pokok tersebut di masyarakat.

Masih cukup dimengerti jika kenaikan itu berkaitan dengan nilai dolar yang terus mempermainkan nilai mata uang Rupiah kita, karena kenaikan dolar tergantung siapa pemilik dolar, dan seberapa besar perputaran rupiah di masyarakat karena semua itu juga sangat berkaitan.

Namun demikian, terlepas dari nilai dolar terhadap harga kebutuhan pokok khususnya cabai tentu akan lebih elok jika menyerahkan fenomena keuangan dunia di tangan pihak-pihak yang lebih mengerti, berwenang dan berkepentingan. Masyarakat hanyalah pelaku pasar kelas bawah yang tinggal menunggu perintah dari petinggi di negeri ini. Apapun yang terjadi mereka akan selalu menerima imbasnya, entah dengan sadar atau tidak disadari sebelumnya.

Ada upaya yang saat ini cukup kongkrit yang sejauh ini dilaksanakan oleh pemerintah adalah pembentukan perkumpulan bagi para  ibu-ibu yang notabene adalah petani. Tepatnya ibu rumah tangga yang merangkap sebagai petani karena kebetulan suaminya adalah petani pula. Yaitu dibentuknya Kelompok Wanita Tani (KWT) yang saat ini sudah banyak di didirikan di kalangan masyarakat perdesaan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 273/kpts/OT.160/4/2007/tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani, maka Kelompok Wanita Tani menjadi salah satu program alternatif memberdayakan para ibu tani agar berdaya guna, berdikari, dan membangun kerjasama dalam kelompok pertanian. Bekerja sama dalam kelompok pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian secara ekonomi dan tentu saja muaranya agar meningkatkan derajat ekonomi para petani.

Kerjasama tersebut tentu saja tidak hanya berkaitan dengan tanaman cabai yang saat ini tengah santer pemberitaannya, tentu ada objek tanam yang juga meluas pada produk lain yang bisa diberdayakan lagi. Seperti tanaman sayuran, buah-buahan, pertanian dan perkebunan skala rumahan pun bisa dilakukan. Itu semua merupakan visi, misi Kementerian Pertanian yang hakekatnya bukan hanya isapan jempol belaka, namun bisa benar-benar tumbuh dan berkembang meningkatkan kemampuan protektif masyarakat tani dalam menghadapi naik turunnya harga bahan pokok yang sampai sejauh ini masih sulit diatasi.

Jika pelaksanaan program kementerian ini disambut dengan hangat, dan dilaksanakan oleh para pemangku kebijakan serta masyarakat bawah khususnya petani, tentu saja pernyataan Menteri Pertanian baru-baru ini bahwa jika harga cabai malah maka menanam di rumah tentu menjadi solusi jitu dan cerdas. Bahkan jika benar-benar berkembang secara luas, maka Kelompok Usaha Tani bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya, karena bisa mengikuti arus fluktuasi harga yang selalu berubah dengan keuntungan yang juga melimpah.

Menaman cabai di rumah, alternatif ketahanan pangan bagi rakyat

Betapa positifnya program pertanian dari Kementerian Pertanian tersebut, dimana jika setiap rumah tangga bisa menanam cabai minimal 5 pot, dengan bibit yang berkualitas dan cara penanaman yang baik tentu bisa menghasilkan cabai yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari, apalagi lebih dari lima pot, maka bisa dijual ke warung tetangga.

Begitu pula dengan tanaman lain selain cabai yang juga variannya cukup banyak yang hakekatnya amat mudah dibudidayakan.

Tidak hanya produk tanaman, karena produk perikanan pun bisa dibudidayakan di pekarangan rumah. Seperti memelihara lele, gurami, belut dalam kolam-kolam kecil atau drum sekalipun bisa dilakukan. Ayam buras hakekatnya juga bisa dipelihara. Itu semua bisa dibudidayakan oleh masyarakat petani di pekarangan rumah dengan media tanam yang tidak perlu luas.

Tidak salah dengan apa yang disampaikan oleh Bapak Menteri Pertanian :

“Terlalu cengeng kita, kalau harga cabai naik saja kita teriak-teriak, kita harus mulai menanam per rumah tangga, habis masak kalau masih ada sisa biji cabai buang saja di tanah atau tanam di pot, nanti juga menghasilkan,” kata Amran Sulaiman. (possore.com)

Semua persoalan pangan bisa diatasi dengan pemberdayaan petani, khususnya ibu-ibu yang secara kontinu dibina oleh pemerintah dan didukung tokoh-tokoh desa, tapi semua itu menjadi isapan jempol belaka jika di masyarakat petani justru masih mengandalkan produk dari pedagang yang semestinya bisa ditanam atau diproduksi sendiri.

Pelaksanaan Kelompok Wanita Tani (KWT) yang penuh batu sandungan

Sebagaimana paparan pendahuluan tulisan ini, bahwa KWT menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan hakekatnya benar-benar bisa menuai hasil jika aktualisasinya mendapatkan dukungan penuh dari semua pihak. Seperti misalnya ketika proses pembentukan dan pembinaan benar-benar disupport oleh aparat berwenang tentu saja kendala yang ada bisa diatasi secara bersama-sama.

Lain lagi dengan pembentukan KWT di Kelurahan Sumbersari, LK-1, ternyata sedikit banyak mengalami hambatan, dimana proses perizinan cukup mendapatkan pertentangan dari oknum pegawai, pun juga mendapatkan pertentangan dari Ketua Kelompok Tani setempat. Hal ini disampaikan oleh salah satu masyarakat yang kebetulan hendak mendirikan KWT ternyata proses yang berbelit-belit dan terkesan dipersulit.

Adanya oknum pegawai yang sengaja mempersulit dengan alasan yang dibuat-buat.

Tentu saja, harapan besar agar kelompok-kelompok pertanian itu terus tumbuh menjadi agak terkendala. Karena sulitnya proses pembentukan maka pada saat ini keberadaannya pun masih belum terlihat.

Persoalan ini tentu saja boleh jadi menjadi salah satu dari sekian persoalan dari pembentukan KWT di seluruh Indonesia. Terkait prosedur yang berbelit-belit, perizinan yang cukup dipersulit dan sistem yang menjadikan independensi kelompok tani bagi para ibu-ibu atau wanita ini menjadi persoalan yang cukup rumit. Belum lagi kasus pungli yang cenderung terjadi ketika pemerintah menggulirkan dana bantuan bagi masyarakat tersebut.

Meskipun ada yang mengalami kendala, ternyata di wilayah lain mengalami kemajuan yang berarti dan mendapatkan apresiasi dari pemerintah setempat. Hal inilah yang semestinya menjadi contoh agar kedepannya segala persoalan prosedur perizinan lebih dipermudah lagi.

Padahal jika berpijak pada peraturan menteri di atas, maka persoalan di tingkat bawah tidak akan menjadi kendala yang berarti. Karena jika proses pembentukan dan pembinaannya benar-benar didukung semua pihak, maka program pemerintah terkait pengentasan kemiskinan dan menciptakan kemandirian masyarakat di bidang pangan akan dapat tercapai secara optimal.

Salam

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!