Jumat, 18 April 2014

Pencabulan Anak di JIS, Sekali lagi Tragedi Buruk Pendidikan Indonesia


Jakarta International School


Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag.


Lagi-lagi dan lagi, inilah gambaran runyam yang selalu hadir di tengah-tengah kita. Aura negatif yang seringkali menghiasi laman pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pendidikan bagi orang dewasa, pendidikan ‘tuk anak-anak pun selalu menuai banyak terpaan masalah. Tidak hanya masalah bagaimana kesejahteraan guru dan kurikulum yang tak pernah menemukan jalan terangnya, kasus-kasus kekerasan atas nama “nafsu” pun masih saja menjadi tradisi yang sepertinya sulit dihilangkan.

Kasus kekerasan seksual sejatinya sudah sering terjadi di tengah-tengah pergulatan pendidikan di Indonesia, bahkan hampir setiap detik, kita selalu dikejutkan dengan pemberitaan yang berbua negatif. Terang saja, bangsa ini seperti dibuat geram, kenapa pendidikan di Indonesia selalu menjadi bagian pemberitaan buruk di media? Apakah memang Indonesia akan kehilangan harga dirinya tatkala penghuni negeri inipun secara perlahan seperti kehilangan harga diri. Dan sayangnya prilaku tidak terdidik itu seringkali terjadi di sebuah lembaga pendidikan. Entah kekerasan fisik antara guru dan siswanya, antara siswa dengan siswa lainnya, maupun antara guru dan guru lain yang turut mencoreng kehormatan pendidikan di Indonesia.

Seperti halnya kkasus  kekerasan seksual yang terjadi di Jakarta International School, kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur yang sayang sekali terjadi di sebuah sekolah yang bertaraf internasional dan tentu saja para personil sekolah yang juga memiliki karakter dan jiwa meng-internasional, namun sayang sekali justru di antara personilnya adalah sosok berjiwa kampungan. Demikianlah sepantasnya sebuah lembaga pendidikan yang berlabel internasional justru mencederai makna modernisasi pendidikan yang kini tengah diperjuangkan. Bahkan sepertinya sekolah yang sering disebut “kampungan” karena berada di kampung pun kondisinya tidak separah sekolah ini.

Kasus Sodomi, Fakta Buruk Sekolah Internasional

Mungkin di antara kita tidak akan pernah menduga, kenapa sebuah lembaga yang “katanya” internasional seperti kecolongan dengan adegan kekerasan seksual yang terjadi di JIS? Apakah sebenarnya JIS memang tidak pantas mendapatkan predikat sekolah Internasional? Atau kejadian ini murni karena rata-rata sekolah begitu lalainya tatkala wali siswa sudah menitipkan anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan di sekolah ini? Sepatutnya kondisi ini tak pantas disandangkan pada sekolah yang sejatinya harus modern. Sekolah yang dilengkapi sarana dan prasarana yang modern pula. Dan tentu saja kualitas layanan pendidikan pun sejatinya harus lebih modern dengan sekolah-sekolah pada umumnya. 

Akan tetapi, jika dilihat kasus yang terjadi di JIS sebagai sekolah yang sepatutnya menjadi teladan karena kedisiplinan, kurikulum yang “katanya” hebat karena mendapat julukan internasional, serta dukungan manajemen sekolah yang baik sepatutnya tak menjadikan sekolah ini kecolongan. Bahkan jika diruntut kejadian tersebut ternyata pelakunya adalah seorang tenaga kebersihan (cleaning service) yang sejatinya sedikit sekali kesempatan untuk “menjamah” anak-anak didik mereka lantaran berbeda status pekerjaannya. Yang lebih parah lagi ternyata ada 6 siswa yang telah diperlakukan dengan cara tidak manusiawi ini. Sumber

Sebuah catatan buruk dan prestasi rendah yang sepatutnya dihindari bagi personalia sekolah pada umumnya dan lembaga JIS pada khususnya.

 Pencabulan amat mungkin terjadi jika si pelaku adalah sosok yang selalu mendampingi siswa belajar. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa kredibilitas dan manajemen sekolah patut dipertanyakan. Bahkan pun dapat diduga bahwa predikat internasional sejatinya hanya aksi tipu-tipu penyelenggara pendidikan terhadap pemerintah dan masyarakat. Mereka menamai lembaganya dengan sebutan internasional hanya sebagai kedok untuk mendapatkan legitimasi dan simpati masyarakat. Tentu saja tujuannya agar masyarakat semakin terpedaya dan terkagum-kagum dengan identitas internasional.  Meskipun faktanya sekolah ini tidak layak disebut sekolah internasional karena kasus kekerasan seksual yang sepatutnya tidak terjadi.

Manajemen pendidikan yang mumpuni, seperangkat kurikulum yang boleh jadi melebihi kurikulum sekolah kebanyakan dan pengawasan internal yang superketat sepertinya jauh panggang dari api. Slogan sekolah modern sama sekali tak ditunjukkan oleh sekolah ini. Jakarta Internasional School justru menjadi catatan buruk bagi sekolah-sekolah internasional di Indonesia.

Kasus Pencabulan di JIS, Orang Tua dan Lembaga Pendidikan Mesti Kontrol Diri

Kasus kekerasan seksual yang terjadi di JIS merupakan tamparan buruk bagi martabat pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan yang berjuluk internasional. Karena kejadian ini semakin menjatuhkan kredibilitas pendidikan di Indonesia di mata umum. Tidak hanya masyarakat Indonesia, akan tetapi masyarakat internasional pun sejatinya turut prihatin dengan kasus ini. Dampaknya para orang tua calon siswa di sekolah modern model ini akan berfikir dua kali untuk menyekolahkan di sekolah yang biasanya memberikan tarif mahal untuk sekolah di sekolah ini.

Selain rendahnya pengawasan terhadap para siswanya, tentu saja tarif pendidikan yang tinggi justru menjadi bahaan cemoohan kepada sekolah yang bersangkutan, tak pantas sekolah mahal tapi kualitas amat rendah. Namun demikian, meskipun tidak semua sekolah internasional “bertipe” seperti JIS, akan tetapi akan menurunkan nilai positif dari manajemen sekolah. Sehingga akan ada banyak orang tua yang ingin menyekolahkan di sekolah ini yang harus mengurungkan niat lantaran khawatir kasus yang sama terhadap anak-anak mereka.

Bagi sekolah manapun, baik sekolah Internasional maupun sekolah kebanyakan, hakekatnya tarif yang mahal yang dipatok sekolah tidak dapat dijadikan dasar penilaian bahwa sekolah-sekolah biasa mutunya akan lebih buruk dari sekolah intenasional. Karena ada pula sekolah biasa yang justru memiliki track record yang baik dalam menyelenggarakan pendidikannya. Hal tersebut dibuktikan dengan sederet prestasi yang ditorehkan sekolah-sekolah tersebut.

Catatan akhir dari tulisan ini, hakekatnya lembaga pendidikan apapun, baik sekolah internasional maupun sekolah biasa  memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap keamanan dan kenyamanan warga sekolahnya. Kenyamanan dan keamanan tidak hanya berbentuk gaji yang diterima guru dan karyawannya, akan tetapi bentuk proteksi yang amat ketat terhadap para anak didiknya agar mereka dapat mengenyam pendidikan sesuai dengan harapan siswa dan para orang tua siswa.

Melakukan pengamatan para pekerja sekolah, baik pengamatan prilaku yang mereka miliki. Tentu saja sebelum mereka bekerja dan setelah mereka menjadi karyawan di sekolah tersebut. Dan yang lebih penting lagi adalah mengadakan evaluasi terhadap manajemen sekolah. Harapannya kasus pencabulan / kekerasan tersebut tidak terulang kembali di masa yang akan datang.


divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Ujian Nasional Sebagai Bagian Pemerataan Pendidikan

Ilustrasi: Anak-anak sedang mengikuti ujian nasional SMA/SMK sederajat / Kompas.com
Oleh: M. Ali Amiruddin, S.Ag
Benarkah ujian nasional awal kehancuran generasi? Dan apakah benar karena ujian nasional generasi muda jadi hancur? Beberapa pertanyaan inilah yang sampai detik ini masih saja terbang di awang-awang. Tidak pernah turun ke bumi dan menemukan jawaban yang pasti. Semua berdasarkan asumsi dan berawal dari beberapa kejadian yang menimpa anak negeri. Generalisasi yang kelewat batas bahwa karena ujian nasional anak Indonesia menjadi gagal dan kehancuran karakter.

Sepatutnya pertanyaan tersebut dicari akar masalahnya, kenapa para penggiat hak asasi dan sebagian anggota dewan ada yang mencibir adanya ujian nasional, karena berdasarkan informasi di beberapa media bahwa karena ujian nasional menjadi stress, putus asa bahkan ada yang harus bunuh diri karena ketakutan yang dialami anak-anak sekolah kita. Meskipun beberapa kejadian tersebut bisa dijadikan alasan ditentangnya ujian nasional, toh faktanya tidak semua anak “menderita” karena ujian nasional. Karena masih banyak anak-anak yang enjoy karena ada ujian. Hal tersebut berlaku pada anak-anak yang benar-benar konsisten belajar dan ingin menggali ilmu dan tidak semata-mata mengejar ijazah.

Bahkan ketika kita mau mengamati sekolah-sekolah pada umumnya yang menggunakan aturan yang ketat namun tidak memaksa, anak-anak ini tetap saja antusias mengikuti ujian nasional. Serasa seperti bernostalgia di masa aliyah dahulu. Meski saya tak cerdas seperti anak sekolah negeri tapi saya mungkin yang terlalu percaya diri kalau pasti lulus.

Tidak hanya karena anak-anak memang konsentrasi belajar sejak sekolah dasar, tapi memang menjadikan sekolah sebagai kebutuhan. Jadi wajar jika mau sekolah tentu saja ya mengharapkan pinter. Bukan hanya DDTL (datang, duduk, tidur dan lulus) namun benar-benar ingin mengenyam pendidikan yang tinggi. Seperti apa yang menjadi kata mutiara Bung Karno kurang lebih “bermimpilan setinggi langit, karena meskipun engkau jatuh kau akan jatuh di antara bintang-bintang”. Dan sayapun mengingat Hadits Nabi “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri china” atau Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan dari sejak buaian hingga ke liang lahat”. Dan benar, semenjak anak-anak orang tua sudah mengajarkan kita agar mau mengenyam pendidikan. Toh, tujuannya adalah mendapatkan ilmu pengetahuan.

Lalu, apa hubungan menuntut ilmu dengan ujian nasional? Jelas ada hubungan, jika kita sudah belajar mati-matian dan ingin mendapat pengakuan bahwa kita benar-benar berhasil menggali ilmu tersebut, tentu saja kita harus diuji. Tak dipaksa justru kita sendiri yang harus meminta ujian itu. Seperti halnya seorang prajurit atau seorang yang belajar pencak silat, maka dia sendiri akan meminta “dijajal” atau istilah kerennya diuji karena merasa sudah menguasai segala ilmu sang guru. Setelah siswa perguruan tersebut lulus maka dia dipersilahkan turun gunung.

Menuntut ilmu wajib dan kebutuhan begitu juga ujian adalah kewajiban dan kebutuhan yang semestinya kita terima dan semestinya kita butuhkan. Bukan malah menjadikan ujian nasional sebagai momok yang harus ditakuti.

Saya teringat kata-kata Pak JK, tatkala berdiskusi di salah satu TV swasta beberapa waktu lalu, bahwa ujian nasional itu perlu untuk mengetahui sejauh mana negara ini mampu mendidik warganya secara merata dan ingin mengevaluasi sejauh mana mereka menyerap ilmu yang diberikan.

Jadi jangan salahkan ujian nasional karena anak-anak stress atau bunuh diri, tapi kenapa mereka bisa menjadi stress dan bunuh diri itulah faktor yang harus dicari akar permasalahannya.

Jika sekolah dijadikan sebuah bagian kehidupan dan sebagai sarana menimba ilmu sekaligus sarana rekreasi, maka keberadaan ujian nasional tidak akan menjadi beban. Justru selain sebagai kompetisi, ujian nasional juga untuk menaikkan gengsi bahwa mereka telah mendapatkan ilmu yang mereka butuhkan. Tidak sekedar ijazah yang tak berguna.

Ujian Nasional dan Kebutuhan Dasar Masa Depan

Ujian nasional dengan segala pernak-pernik reaksi beragam menunjukkan bahwa sampai saat ini masyarakat Indonesia tidak memahami manfaat ujian nasional. Dengan kata lain selama ini kita tidak sadar bahwa kita bersekolah itu untuk mengenyam pendidikan dan memperoleh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Bahkan masyarakat sendiri seakan-akan tidak menyadari bahwa mereka mereka bisa menjadi orang suksespun karena diuji karena dievaluasi sejauh mana materi sudah terserap.

Para penolak ujian nasional tidak menyadari bahwa mereka sukses menjadi seorang intelek atau pejabat pun berawal dari sekolah dan pernah diuji. Bukannya mendukung ujian nasional tapi justru merendahkan program pemerintah ini dengan teori-teori pembodohan yang menunjukkan dirinya sangat-sangat bodoh. Mereka mengeneralisasi bahwa gara-gara ujian anak-anak jadi stress padahal faktanya bukan karena ujian anak-anak menjadi stress. Tapi awal stress anak karena tidak siap mengikuti ujian.

Kenapa mereka tidak siap? karena selama mengenyam pendidikan mereka sama sekali tidak mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk ujian nasional. Soal-soal ujian nasional seringkali tidak sesuai dengan apa yang mereka dapatkan di sekolah. Bahkan adapula mereka tidak siap karena sekolah sama sekali tidak mengikuti aturan kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Seakan-akan lembaga pendidikan sebagai ajang menjadi penghasilan dan uang proyek tapi kering dari isi dan prestasi.

Mereka berlomba-lomba membuat lembaga pendidikan, tapi di dalamnya tidak menjadi sarana mendidik sesuai dengan apa yang akan diujikan bagi mereka. Dampaknya mereka belajar pun seringkali malas-malasan ditambah lagi para guru yang tidak kompeten serta sarana dan prasarana belajar yang tidak berstandar. Wajar saja semua itu menjadi awal gagalnya anak menempuh ujian. Padahal sepatutnya soal-soal dalam ujian nasional sudah sesuai dengan kurikulum yang diajarkan di sekolah. Nah, jika ternyata siswa gagap melihat soal ujian nasional berarti ada yang salah dari keduanya. Apakah sekolah tersebut tidak bermutu atau soal ujian nasional yang kelewat susah yang tidak mampu diselesaikan oleh siswa?

Jika benar sekolah tersebut tidak bermutu dengan mengesampingkan proses pendidikannya di sekolah maka sepatutnya sekolahpun dievaluasi bagaimana kinerja personil sekolah apakah sudah sesuai dengan standar nasional atau tidak. Jika persoalannya karena perangkat pendidikan dan sarana prasarana yang tidak bermutu maka tanggung jawab pemerintah untuk mencukupi kebutuhan sekolah, tanpa terkecuali.’

Namun jika persoalannya karena soal ujian yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan berarti BSNP yang mesti diinvestigasi jangan-jangan mereka hanya mengcopy soal-soal standar negara lain tanpa melihat kondisi faktual pendidikan di Indonesia. Sebuah ironi jika BSNP yang bertanggung jawab menyusun kurikulum dan perangkat ujian nasional mesti salah dalam memberikan soal ujian. Soal-soal dianggap terlalu tinggi dan para siswa sama sekali tidak pernah mengenal format soal. Dampaknya ada seorang yang berprestasi ternyata nilainya malah jeblog. Wajar karena soal-soal yang diujikan tidak sesuai dengan kurikulum.

Kualitas Pendidikan ditunjang Kelengkapan Sarana Prasarana Pendidikan

Jika menelaah betapa saat ini sebuah kejadian dianggap sebagai representasi dari dampak adanya ujian nasional, maka sepatutnya kita melihat kondisi riil bangsa Indonesia. Kita seringkali menyalahkan ujian nasional tapi kita sendiri tidak pernah menilai bagaimana kualitas pendidikan di Indonesia. Bagaimana sebuah lembaga pendidikan dan kelengkapan sarana dan prasarana di dalamnya. Serta bagaimana peran orang tua dalam mendukung pendidikan anak-anaknya.

Karena bagaimanapun ujian nasional tak perlu menjadi momok apabila para siswa sudah mendapatkan materi sesuai dengan kebutuhan mereka, mereka merasakan pendidikan sebagai sarana belajar yang tidak menyesakkan, mereka bebas berekspresi ditunjang komunikasi yang baik antara para guru dan siswa-siswanya. Nah, jika ternyata sarana prasarana sudah mencukupi, guru-guru sudah profesional, kurikulum sudah sesuai dengan yang hendak diujikan, serta komunikasi yang baik antara guru, siswa dan orang tua juga sudah baik. Maka tak perlu lagi mempermasalahkan ujian nasional.

Ujian nasional hakekatnya satu dari beberapa komponen keberhasilan sebuah studi, karena dengan ujian nasional semua peserta didik di seluruh penjuru Indonesia mendapatkan pendidikan yang sama tanpa perbedaan. Antara sekolah kota dan di kampung sarana dan prasarannya pun sepatutnya tidak ada perbedaan agar kualitas SDM di Indonesia tidak berbeda antara di wilayah perkotaan dan perdesaan. Dampak positifnya setiap warga negara di manapun mereka berada mereka akan mendapatkan pendidikan yang sama, kurikulum yang sama, kualitas yang sama dan kebijakan pendidikan yang sama pula tanpa membeda-bedakan antara satu wilayah dengan wilayah yang lain.

Dampak jika Ujian Nasional ditiadakan

Sekali lagi ujian nasional ya untuk menguji, apakah si anak lulus apa belum dan mengetahui sejauh mana materi sudah diserap siswa. Jadi ujian nasional akan benar-benar bermanfaat jika diikuti beberapa komponen yang menyertainya sebagaimana pembahasan di atas.

Terlepas dari pelanggaran hukum karena korupsi proyek ujian nasional, semua sudah menjadi kewenangan KPK untuk mengusut kasus korupsi tinggal dibuat prosedur penyelenggaraannya agar tidak memberikan ruang untuk melakukan korupsi.

Kembali pada persoalan jika Ujian Nasional tidak diadakan, maka dampaknya para siswa semakin merasakan kebebasan yang berlebihan, euphoria karena tidak ada ujian. Dampaknya lagi para siswa ini tidak akan tertuntut untuk belajar lebih giat, karena mereka merasa tak akan diuji dan pasti lulus meski mereka tidak mengerjakan soal ujian dari pemerintah. Mereka akan bersekolah dengan semaunya, dan menjadikan sekolah sebagai tempat kongkow-kongkow yang minim prestasi.

Sulitnya pemerintah menata arah kebijakan terkait pendidikan, karena sekolah sendiri mengelola sistem pendidikan semau-maunya, tanpa ada kontrol pemerintah. Tentu saja bagi sekolah yang sudah kadung disiplin dan berprestasi ada atau tidak adanya ujian nasional tidak akan menjadi persoalan, toh sekolah mereka sudah modern dan berkualitas. Tapi bagaimana dengan sekolah yang tidak disiplin dan guru-gurunya tidak profesional? Justru tidak adanya ujian nasional semakin menjerumuskan siswa-siswa di sekolah model ini ke pada situasi tak tentu arah. Mereka mendidik siswanya semau gue, karena tak tertuntut adanya evaluasi yang disamakan. Padahal status pendidikan hakekatnya sama, baik dari sarana prasaraan, guru, kurikulum pun sepatutnya tidak dibeda-bedakan. Jadi prestasi semua sekolah pun akan merata tidak dibeda-bedakan.

Meskipun terkadang prestasi amat beragam, tapi adanya kurikulum nasional tersebut memberikan kesempatan yang sama di pelosok negeri untuk mendapatkan kualitas pendidikan yang sama tanpa terkecuali. Jangan karena di kota mendapatkan perlakuan yang istimewa sedangkan di kampung seperti tidak difikirkan. Seperti yang terjadi saat ini.

Akhir kata, Ujian Nasional bukanlah momok yang harus ditakuti jika semua perangkat pendidikan berjalan harmonis dan dinamis. Lulus dan tidak lulus pun sepatutnya bukan untuk menjustifikasi bahwa siswa tersebut tidak layak mendapat pekerjaan. Karena suksesnya bangsa inipun tak terlepas dari perhatian pemerintah terhadap kemampuan mendidik warganya agar mandiri, dan berbudi pekerti yang luhur serta memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa.

Salam

Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Kompasiana.com
url : 

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info




Kamis, 17 April 2014

Upacara Bendera Merah Putih, Antara Nasionalisme dan Pembentukan Karakter


Upacara bendera 17 Agustus 2016 (madina.go.id)


Upacara bendera adalah aktifitas rutin yang dilaksanakan oleh lembaga pemerintahan maupun akademisi. Baik tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Tidak memandang sekolah negeri maupun swasta, baik di pelosok desa maupun di perkotaan.

Upacara yang dilaksanakan setiap hari Senin ini tentu saja merupakan kegiatan yang bermanfaat untuk membentuk kepribadian yang baik.

Tujuan diadakan upacara bendera, selain sebagai tolok ukur pengamalan Pancasila dan nasionalisme warga negaranya, juga sebagai sarana pembentukan karakter.

Karakter positif yang akan membangun generasi muda menjadi generasi positif, memiliki pandangan positif dan kinerja yang juga positif. Agar negara ini dibangun oleh anak-anak negeri yang berkepribadian positif.


Upacara bendera, tatkala Indonesia baru saja menikmati masa-masa kemerdekaan, tidak ada satu warga negara yang tidak mau melaksanakan upacara bendera ini. Mereka beralasan sebagai wujud rasa cinta kepada negaranya dan bentuk loyalitas bagi terjaganya bendera merah putih dari ancaman penjajah.

Tentu saja dengan semangat nasionalisme yang dibangun. Nasionalisme yang tidak hanya sebatas kata-kata namun lebih dari itu wujud kecintaan kepada negerinya dan sikap yang gigih dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.


Seiring perjalanan waktu, saat ini, upacara bendera dianggap sebagai kegiatan yang bersifat formalitas dan dianggap tidak penting. Alasannya, di antara warga negara ini memandang upacara bendera dianggap sebagai hal yang membuang-buang waktu. Hanya berdiri di lapangan, berbaris dan menghormati bendera merah putih saja.

Padahal makna yang tersirat maupun tersurat dari pelaksananaan upacara bendera tidak sekedar sebagai acara rutin semata. Namun lebih dari itu, wujud dari semangat ke-Indonesiaan dan kebangsaan yang muncul dari karakter positif dari anak negeri.

Bukan formalitas dan sikap meniru dari para pendahulunya, apalagi hanya dianggap sebagai melaksanakan kewajiban sebagai seorang siswa atau pegawai negeri saja.

Namun, sebagaimana dapat kita lihat dari pelaksanaan upacara sendiri, selain ketika peringatan 17 Agustus setiap tahun, pun tatkala upacara bendera setiap hari Senin dilaksanakan secara ogah-ogahan dan malas-malasan.

Terang saja pelaksanaan upacara yang sepatutnya dilaksanakan dengan penuh khidmat dan meresap dalam sanubari anak negeri, ternyata tidak bermakna apa-apa. Terbukti, selain ada banyak sekolah yang tidak melaksanakan upacara, selain itu semangat para peserta upacara pun hanya karena takut mendapat hukuman.

Sikap malas-malasan tidak hanya terjadi pada para siswanya, guru-guru dan pegawai serta pejabat pemerintahan pun seperti tidak menghargai bangsanya, tidak mengindahkan aturan tata laksana upacara bendera. Dampaknya ada banyak siswa maupun guru serta pegawai pemerintahan yang bisa membolos dari kegiatan ini lantaran sikap malas dan tak memahami makna upacara bendera.

Hal ini diperparah oleh tidak adanya sanksi tegas dari para pimpinan dari masing-masing satuan tugas atau satuan kerja di dinas atau kantor pemerintahan lainnya.

Dampaknya, semakin lama semakin terasa kering dari isi, miskin dari pemahaman dan tak membekas dalam semangat kebangsaa dan ke-Indonesiaan bagi anak negeri.

Apakahkah manfaat upacara bendera? Dan teladan apa yang dapat dicontoh oleh siswa?

Upacara bendera hakekatnya tidak hanya pekerjaan yang sia-sia atau formalitas belaka. Karena di dalamnya mempunyai manfaat yang cukup kompleks.

Manfaat tersebut dapat dirasakan apabila bangsa ini benar-benar memahami hakekat upacara bendaera sebagai bagian pembentukan karakter (character building) bagi tumbuh kembangnya nasionalisme dan generasi muda yang tangguh, disiplin, jujur dan bertanggung jawab.

Selain pembentukan karakter nasionalisme, mereka akan ditanamkan nilai kebersamaan, persatuan dan kesatuan dan penghormatan kepada para pemimpin. Pemimpin yang sepatutnya dihormati tidak hanya dalam sikap hormat ketika upacara saja, lebih dari itu menghormati dan menghargai pemimpinnya dengan penghormatan yang tulus.

Upacara bendera juga membentuk sikap disiplin, kesetiaan, ketundukan kepada para pemimpinnya dengan tunduk semata-mata karena aturan dan hukum yang benar.

Selain itu, upacara bendera untuk melatih mencintai sikap perjuangan dan patriotisme para pahlawan yang telah gugur di medan tempur maupun para pejuang yang saat ini masih mengabdi bagi bangsanya. Baik pahlawan yang memanggul senjata dan berkorban dengan darahnya, pejuang dengan harta, tapi juga para pahlawan yang berjuang dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi semua orang.

Salam

Rabu, 16 April 2014

Penggunaan Media Cepat Tepat Aritmatika, Cara Simpel Belajar Matematika



Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag





Masih teringat dalam pikiran saya  ketika masih bersekolah di SD, di mana pada saat itu hampir setiap minggu di televisi nasional (TVRI) menayangkan lomba cerdas cermat. Cerdas-cermat yang sengaja dikemas untuk memacu motivasi anak-anak seumuran saya untuk belajar. Dan, alhamdulillah saat itu, hanya TVRI saja yang menyuguhkan acara yang mendidik. Ya karena kebetulan Indonesia hanya memiliki TVRI saja. Selebihnya televisi dari luar negeri yang hanya bisa ditonton menggunakan antena parabola.
Meskipun dahulu sempat booming dan acap kali mengundang penonton yang berjibun, ternyata bertahun-tahun diadakan tidak sedikitpun rasa bosan menghampiri saya. Boleh jadi karena rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang tinggi tatkala melihat teman-teman perwakilan dari sekolah-sekolah terbaik mampu mewakili sekolah mereka. Dampaknya tentu ada banyak anak berprestasi yang dapat dididik dengan cara disiplin di sekolah unggulan.

Karena rasa penasarannya hati dengan ajang mengolah kecerdasan dan kompetisi edukasi ini saya pun dipercaya oleh sekolah untuk mengikuti perlombaan tingkat sekolah, kebetulan lomba Lomba Cerdas Cermat Al-Qur’an. Meskipun saat itu saya tergolong baru mengikuti lomba tersebut, alhamdulillah mampu melibas banyak pesaing dan mampu memenangkan juara ke-3 Sekecamatan Purbolinggo.

Bangga dan bersyukur bisa mengikuti event yang menurut saya sangat bermanfaat untuk memacu minat anak-anak sekolah agar belajar lebih giat. Meskipun pasca kekalahan saya dan hanya mendapatkan juara ke-3 dengan hadiah cuman sebuah jam dinding namun saya bangga bisa membawa nama baik sekolah. Entah jam dindingnya masih ada nggak ya? Entahlah. Yang penting saya sudah menorehkan prestasi mewakili sekolah kecil yang telah membina dan mendidik saya selama ini.

Berbicara mengenai Lomba Cerdas Cermat, meski saat ini televisi daerah pun masih tetap mengadakan dengan hadiah mencapai jutaan rupiah. Namun, hakekat dari perlombaan itu bukan semata-mata mendapatkan hadiah atau beasiswa saja. Karena akan percuma saja jika perlombaan yang menarik ini hanya bertujuan mengejar hadiah sedangkan prestasi dan peserta ya itu-itu saja tidak ada yang berubah. 

Akan tetapi, dampak positifnya tentu saja di era  puncak  acara cerdas cermat, banyak anak berprestasi yang meraih beasiswa di sampai ke perguruan tinggi. Bahkan saat ini perlombaan tersebut sudah tembus tingkat internasional. Bangga sekali bukan?..

Namun tulisan kali ini bukan membicarakan acara cerdas cermat yang saat ini sudah kalah dengan acara sinetron percintaan dan film horor yang sama sekali tidak mendidik. Akan tetapi, saya ingin menyampaikan terkait alat peraga pendidikan Cepat Tepat Aritmatika. 

Media ini didesain dan dibuat untuk melatik kecerdasan anak. Baik anak-anak sekolah reguler, maupun untuk dimainkan di rumah. Dengan desain simple dan dapat digunakan sehingga dengan sekali instruksi, anak-anak akak mampu menggunakannya. Sangat mudah dan simple.  Dengan menggunakan tenaga listri baterai dua buah, empat orang anak akan dapat menggunakannya dengan sangat menyenangkan.

Alat ini diproduksi oleh Pudak Sccientific Bandung, Jawa Barat Indonesia. Dengan sistem tekan tomboll dan suara yang dihadirkan, anak-anak secara tidak langsung mengenal bahasa dan tentu saja melatih kerja motorik anak. Anak akan mampu menjawab sesuai pertanyaan dan jenis pertanyaan yang ada dalam media ini.

Selain mudah, media ini juga disusun berdasakan polanya, baik penjumlahan, pengurangan, perkalian maupun pembagian. Jadi bagi anak-anak sekolah dasar khususnya tinggat pemula, permainan ini sangat bermanfaat dan tentu saja aman serta mudah digunakan.



Keunggulan Media Cepat Tepat Aritmatika

Sebagaimana tertulis di penjelasan alat ini, bahwa keunggulan alat ini adalah untuk mengembangkan:
1.       Kemampuan berpikir secara kritis.
2.       Kemampuan mendengarkan.
3.       Kemampuan dalam operasi bilangan.

Selain dari keunggulan alat ini, karena alat ini membantu siswa / anak-anak dalam pembelajaran aritmatika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Dengan mendorong anak pada proses bermain secara interaktif agar tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai. 

Media ini sengaja saya gunakan karena mendapatkan bantuan dari pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus yang tentu saja setiap sekolah mendapatkannya. Selain sebagai alat bermain, tentu saja melatih kecerdasan anak dalam matematika.

Jika setiap sekolah baik negeri maupun swasta, baik dikota maupun di desa memiliki media sejenis ini, saya yaqin pendidikan di Indonesia akan lebih maju dan tentu saja proses pendidikan lebih menyenangkan dan mencapai prestasi yang optimal.

Salam

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Kamis, 10 April 2014

Permasalahan Dapodik dan Solusi Penangannya

Dapodik (Data Pokok Pendidikan) merupakan bagian integral dari program pemerintah di bidang pendidikan. Karena dengan Data Pokok Pendidik ini setiap guru baik negeri maupun swasta akan terupdate secara berkala di Kementrian Pendidikan Nasional. Baik yang berkaitan langsung guru tingkat pendidikan dasar (dikdas) maupun tingkat pendidikan menengah (dikmen) semuanya diatur melalui mekanisme yang berlaku.

Data Pokok Pendidikan atau Dapodik adalah sistem pendataan skala nasional yang terpadu, dan merupakan sumber data utama pendidikan nasional, yang merupakan bagian dari Program perancanaan pendidikan nasional dalam mewujudkan insan Indonesia yang Cerdas dan Kompetitif. Karena tanpa perencanaan pendidikan yang matang, maka seluruh program yang terbentuk dari perencanaan tersebut akan jauh dari tujuan yang diharapkan. Untuk melaksanakan perencanaan pendidikan, maupun untuk melaksanaan program-program pendidikan secara tepat sasaran, dibutuhkan data yang cepat, lengkap, valid, akuntabel dan terus up to date. 

Dengan ketersediaan data yang cepat, lengkap, valid, akuntabel dan up to date tersebut, maka proses perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi kinerja program-program pendidikan nasional dapat dilaksanakan dengan lebih terukur, tepat sasaran, efektif, efisien dan berkelanjutan. Sehubungan dengan hal tersebut, Departemen Pendidikan Nasional telah mengembangkan suatu sistem pendataan skala nasional yang terpadu dan disebut dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Dapodik ini dikelola oleh biro PKLN sampai tanggal 30 Maret 2010 diserahterimakan kepada PSP Balitbang.Data pokok pendidikan awalnya dapat diakses melalui situs dapodik.org yaitu data sejak tahun 2006 sampai 2011. Untuk data tahun 2012 tidak tersedia di situs dapodik.org karena situs tersebut telah ditutup sejak 1 Januari 2012.Berdasarkan surat edaran dari Kemdiknas no. 1980/P3/TP/2011 tanggal 14 September 2011 data NPSN dan NISN hanya dapat diakses melalui situs kemdiknas.

Sebagaimana diketahui bahwa sampai saat ini pendataan dapodik sudah ditangani oleh petugas sekolah yang ditunjuk oleh kepala sekolah. Keberadaannya akan selalu dimintai pertanggung jawaban terkait  valid dan tidaknya pendataan guru. Sehingga apapun yang bekaitan dengan kondisi riil guru akan berhubungan seberapa benar dan akuratnya operator dapodik sekolah dalam menginput data.

Pendataan dapodik hakekatnya juga merupakan langkah yang harus ditempuh sekolah agar kondisi sekolah tekait nama personil guru, kepangkatan, tugas guru, rombongan belajar, dan statusnya dalam program sertifikasi guru serta identifikasi lain yang berkaitan dengan guru dapat terkontrol. Termasuk di dalamnya status sertifikat guru yang dikeluarkan oleh pemerintah dapat diketahui oleh guru yang bersangkutan melalui situs dapodik ini. Karena ketika data guru tidak lengkap guru yang bersangkutan tidak akan memperoleh sk tunjangan profesi  sebagai prasarat memperoleh sertifikasi.

Bagaimana dengan guru yang tidak dapat menikmati sertifikasi karena data dapodik guru tidak lengkap? 
Berkaitan dengan tidak cairnya sertifikasi guru karena data tidak lengkap, maka sepenuhnya tanggung jawab guru dan operator sekolah. Karena bagaimanapun juga guru akan selalu berhubungan erat dengan operator sekolah sebagai ujung tombak diakurasinya pendataan dapodik. Nah, jika ternyata data dapodik tidak akurat berarti operator sekolah belum melakukan input data dengan benar.

Meskipun semata-mata bukan kesalahan operator sekolah, karena data yang diberikan oleh guru pun sepatutnya dikoresi dan diteliti isinya. Jangan-jangan berkas yang dijadikan acuan input data ternyata terdapat kesalahan. Semisal jika guru benar-benar mengajar 24 jam namun data jam mengajar wajib sebanyak 24 jam serta jumlah rombongan belajar tidak sesuai, maka sudah otomatis sk mengajar guru sudah sesuai dan apa adanya. Namun jika ternyata jam wajib mengajar perminggu tidak mencukupi berarti guru yang bersangkutan belum memenuhi kewajiban mengajarnya.Pada situasi ini perlu dikonfirmasi kepada kepala sekolah dan operator sekolah sebagai pemangku kebijakan sekolah serta operator dapodik.

Ketika jam mengajar wajib tidak mencukupi 24 jam, dan itu bukan kesalahan tapi karena memang jam yang tidak mencukupi karena jumlah guru yang berlebih, maka guru yang bersangkutan harus mencari tambahan jam lain yang sesuai dengan SK Sertifikasi. Misalnya Pak Badu adalah guru Agama Islam, maka belaupun harus mencari jam tambahan guru Agama Islam di sekolah lain agar jumlah jam mengajarnya mencukupi. 
Jika ternyata guru yang bersangkutan tidak mendapatkan jumlah jam mengajar (JJM) wajib sejumlah 24 jam, maka tunjangan profesi guru pun akan terkendala.
Salam


divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info






Selasa, 08 April 2014

Di Tangan Penyandang Disabilitas, Sampah Gelas Plastik Minuman pun Berguna



Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag

Perlu menjadikan maklum, bahwa anak-anak penyandang disbilitas hakekatnya mempunyai banyak kekurangan. Bahkan jika dilihat dari keseluruhan diri si anak, kebanyakan mereka tidak hanya pemikiran yang mengalami ketermbatan berfikir, karena secara fisikpun mereka sangat jauh berbeda dari saudara-saudaranya yang tidak mengalami kekuarangan yang sama.
Tapi tahukah Anda bahwa sebesar apapun perbedaan dan kekurangan yang dimiliki anak-anak ini, hakekatnya mereka tentulah makhluk Tuhan yang berhak hidup dan berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Tidak hanya anak-anak berprestasi saja yang bisa berbuat positif daripada sekedar mengeluh atas kelemahan yang dimiliki, karena di balik itu mereka dipenuhi segudang prestasi dan kemampuan yang dapat dikelola dan dibina agar benar-benar berdaya guna
.
Melihat fenomena anak-anak penyandang disabilitas, terkhusus pada anak-anak tuna grahita. Seringkali anak-anak ini menjadi tersisih dan terasing dari dunianya. Mereka seperti tidak mendapatkan tempat yang sama ketika bergaul dengan lingkungan. Dan ada pula di antara mereka yang harus membuang seluruh hidupnya dalam pengasingan.

Sebagaimana ditegaskan di atas, bahwa dengan berkarya maka anak-anak penyandang disabilitas mereka menjadi ada. Menjadi topik tulisan yang hendak saya tuangkan dalam tulisan ini.
Anak-anak penyandang disabilitas (kehilangan kemampuan) hakekatnya tidak semerta-merta mereka tak memiliki kemampuan apa-apa. Karena meskipun mereka memiliki tingkat intelegensi yang rendah, fisik yang tak sewajarnya serta kelemahan dalam komunikasi dengan sesamanya, namun hakekatnya mereka masih bisa dibina dan dibimbing dengan kegiatan yang bermanfaat.

Sebagaimana pula siswa-siswa SLB Negeri Metro ini, di saat kegiatan keterampilan, mereka selalu mendapatkan bimbingan kegiatan yang sangat bermanfaat. Tidak hanya dinilai dari hasil karyanya, tapi lebih dari itu ternyata dengan bimbingan dan kegiatan keterampilan menjadikan anak-anak inimenjadi tumbuh sedikit-demi sedikit menjadi anak-anak yang berkembang. Baik perkembangan fisik, maupun rohani. Perkembangan motori halus maupun motorik kasar. Semua terangkum dalam segenap aktifitas yang bermanfaat.


Salah satu kegiatan yang kami ajarakan adalah bagaimana memanfaatkan sampah dari gelas plastik minuman yang  biasanya hanya dibuang di tempat sampah. Tapi karena kreasi mereka, sampah-sampah yang mengganggu lingkungan inipun disulap menjadi hiasan yang sangat bermanfaat. 
Kegiatan pemanfaat gelas pastik minuman ini difokuskan pada pembuatan bunga-bunga yang benar-benar dihasilkan dari sampah ini. Dengan aneka trik dan cara pemotongan serta menyusunan yang baik, bunga-bunga itupun tercipta. Sebuah karya yang menarik untuk dijadikan 
pelengkap di meja sudut.

Tak hanya berbentuk menjadi bunga-bunga, gelas-gelas plastik itupun dibentuk menjadi tirai (penutup) jendela yang dibuat seperti makhkota bunga. Kadang dibuat seperti motif bintang yang disusun memanjang. Selain sedikit memberikan batas agar jendela tersebut tidak terlalu bebas terbuka. Selain itu menambah apik dan menambah penampilan ruangan yang lebih atraktif.

Setiap hari kami menjadikan benda-benda sisa tersebut menjadi benda-benda yang bermanfaat dan penghias ruang kelas. Bahkan tidak hanya menghiasi ruang kelas karena ada pula yang dapat dibuat menjadi penutup kue-kue yang dibuat sangat menarik.

Meski proses untuk menjadi satu tangkai bunga maupun tirai tidak semudah membalikkan tangan, akibat karena sulitnya mereka berkonsentrasi dan kelemahan intelegensi di tambahlagi secara fisik pun mereka mengalami kekurangan.

Namun demikian, meski dalam kekurangan tidak menghambat usaha kami untuk memberikan semangat untuk menggerakkan tangan-tangan demi sebuah karya yang berguna.
Semoga dengan karya yang sangat sederhana ini, perkembangan motorik anak semakin baik dan semakin membekali mereka dengan keterampilan membuat kerajinan tangan.
Salam

divine-music.info

Senin, 31 Maret 2014

Fenomena Kesulitan Belajar Siswa dan Solusinya



Sumber: bunda-drs.com

Fakta menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran sering diketemukan suatu masalah. Baik yang berasal dari guru, siswa maupun perangkat pembelajaran lain yang memungkinkan terjadinya stagnasi di dalam suatu proses pembelajaran tersebut.

Masalah tersebut berupa komponen pendidikan yang sepenuhnya menunjang mobilitas pembelajaran dan penerimaan siswa terhadap materi pelajaran.  

Ada beberapa komponen penting yang mempengaruhi proses pembelajaran di antaranya:

Guru
 
Jika dilihat dari akar permasalahannya, dalam proses pembelajaran dapat diuraikan sebagai berikut:

Terkendalanya proses pembelajaran disebabkan belum terpenuhinya kompetensi guru dalam pembelajaran sebagaimana Muhammad Asrori menjelaskan bahwa salah satu butir kompetensi guru yang berkaitan langsung dengan proses inovasi pembelajaran adalah kompetensi profesional.

Dalam proses pembelajaran tidak terlepas dengan adanya aktivitas di sekolah yang sebagian besar adalah aktivitas yang direncanakan, bahkan tidak jarang direncanakan secara ketat. Mulai dari penentuan bahan ajar melalui pedoman kurikulum, penentuan buku dan media pembelajaran, penentuan jadwal yang tertentu, sampai prosedur penilaian hasil belajar tertentu, bahkan masih dilengkapi dengan sejumlah peraturan lainnya. Sekolah dengan sengaja didesain untuk memungkinkan murid belajar dengan cara demikian.

Namun, tidak ada seorang murid yang menghabiskan waktunya untuk belajar terus menerus tanpa henti di sekolah dengan seabrek rencana pembelajaran yang telah dibuat guru apalagi isi rencana pembelajaran masih terbatas materi kognitif namun kurang sekali mengarah pada hal-hal yang bersifat afektif dan psikomotor. Sehingga ruang pemikiran siswa lebih pada faktor menghitung, menghafal kering dari ide-ide dan konsep yang dapat diterapkan dalam perilaku dan kehidupan yang berkelanjutan. 

Tidak sedikit siswa mengeluh kepada orang tuanya perihal guru yang tegang, pelajaran yang membosankan dan waktu belajar yang terlalu lama sehingga menghabiskan waktu bermain mereka. Padahal proses pembelajaran yang modern seharusnya anak dibawa dalam lingkaran permainan sekaligus merangsang imajinasi untuk memunculkan ide-ide kreatif yang pada akhirnya anak siap menerima satu tema pembelajaran yang diberikan oleh gurunya dan tidak sekedar diterima sebagai "hafalan" namun lebih menekankan aspek kreatifitas dan kemandirian siswa.

Mendidik itu bukan menjejali dengan materi dengan cara menyusahkan anak didik namun hendaknya anak diarahkan pada model pembelajaran yang menyenangkan, asyik dan menantang selain itu hendaknya jauh dari sifat menakut-nakuti dan membuat siswa tegang menerima materi pembelajaran. 

Kemampuan belajar pada dasarnya telah ada di dalam diri setiap anak yang sangat mempermudah tugas guru dalam melakukan pembelajaran. Artinya secara psikologis dipandang bahwa yang diperlukan adalah kemampuan mengenal kondisi anak didik agar anak dapat memperoleh materi yang sulit namun benar-benar disukai untuk dipelajari.

Perlu muncul kesadaran guru bahwa terkadang anak didik lebih mampu menelaah materi pembelajaran dari pada apa yang diperkirakan guru atau bahkan sebaliknya anak sama sekali tidak mampu menerima materi pembelajaran disebabkan diluar perkembangan nalar siswa. 
Hal ini biasanya ditemui seorang guru pada siswa berkebutuhan khusus maupun siswa yang membutuhkan layanan khusus. Sehingga aspek materi pembelajaran sangat-sangat berkonsentrasi dan dititikberatkan pada sejauhmana siswa mampu menerima materi.

Seyogyanya setiap guru berpandangan bahwa mengajar tidak semudah membalikkan sebelah tangan dan hanya mengawasi siswa. 

Pada aspek ini dimaksudkan walaupun mengajar termasuk tugas yang dianggap ringan dibandingkan pekerjaan lain, namun guru tidak serta merta dapat mengajarkan semau guru, termasuk apa dan bagaimana materi diajarkan akan sangat berkaitan dengan kondisi siswa secara khusus. Dengan kata lain mudah mengarahkan anak didik pada satu materi sekedar mengenal secara logis namun lebih sulit jika anak harus mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Terlebih dahulu memberikan motivasi yang tujuannya adalah bagaimana siswa merasa membutuhkan belajar, bukan karena tuntutan kewajiban belajar. 

Guru harus memotivasi mereka belajar. Hal ini disebabkan karena semakin kuat motivasi belajar anak didik akan semakin besar pula kecenderungan anak dapat menerima bahan pembelajaran dengan gairah, semangat, lebih tekun dan lebih berpeluang anak akan berhasil dalam belajarnya dibandingkan dengan anak-anak yang cenderung bermalas-malasan dan ogah-ogahan dalam belajar.


Guru tidak hanya berperan sebagai center atau pusat pembelajaran. Namun, guru sebagai fasilitator. Hal ini memungkinkan anak akan lebih kreatif. Akan tetapi tidak berarti bahwa guru secara total membiarkan anak didik belajar tanpa didampingi, dibimbing dan diarahkan dan membantu secukupnya agar proses transformasi pengetahuan dapat berjalan lancar dan lebih mandiri. 

Hal ini sejalan dengan konsep belajar humanistik yaitu memanusiakan manusia dalam arti belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.

Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan. Dengan demikian seiringan teori Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. 

Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi. Dengan pertimbangan konsep diatas seorang guru lebih mengedepankan pada sisi real siswa dalam mengakses dan mengimplementasikan diri dalam menerima materi pembelajaran dengan sedikit sekali campur tangan guru.

Siswa

Siswa merupakan pusat kegiatan pembelajaran, dimana pada siswalah tujuan pembelajaran itu akan tercapai. Dalam hal ini terdapat indikator bahwa anak yang mengalami masalah dalam proses pembelajaran banyak ragamnya, salahsatu hal yang paling dikhawatirkan oleh guru adalah secara umum seperti anak tertinggal pelajaran yang berakibat terkendalanya pencapaian keberhasilan belajar siswa. Ada beberapa sebab ketertinggalan pelajaran di antaranya disebabkan oleh kurangnya media pembelajaran, tidak belajar, letih, sakit atau terganggu karena pekerjaan rumah. 

Namun, ada juga terkendala karena anak mengalami kelainan di antaranya tuna grahita yang disebut dengan lambat belajardan kesulitan belajar, menderita kelainan mata dekat (low vision/tuna netra), agak tuli (tuna rungu), atau kaku persendian dan fisik atau disebut tuna daksa dan kelemahan lainnya. Kondisi ini merupakan faktor bawaan dan merupakan salah satu penyebab terkendalanya proses pembelajaran siswa.

Para ahli pendidikan ada yang membedakan anak yang ketinggalan pelajaran dan yang mengalami kesulitan belajar. Di mana dijelaskan bahwa masalah anak yang lamban belajar berbeda-beda, maka sulit untuk menetapkan secara akurat masalah mereka yang sebenarnya, bahkan juga belum ada data angka yang tepat dari hasil terapi bagi anak yang lamban belajar. 

Sebenarnya, masalah ini sangat menarik perhatian para ahli dari berbagai bidang, misalnya para pendidik, psikiater, ahli saraf, dokter anak, dokter spesialis mata dan telinga, juga ahli bahasa. Mereka setelah melihat masalah ini dari sudut pandang yang berbeda-beda, akhirnya secara umum dapat disimpulkan ada dua faktor penyebab anak mengalami kesulitan belajar, yaitu faktor penyakit dan faktor perilaku.

Dari sudut pandang kedokteran, kelambanan anak dalam belajar dianggap berhubungan erat dengan ketidaknormalan dalam otak. Oleh sebab itu, mereka menjelaskan adanya luka pada otak, kurang darah, dan ketidaknormalan dalam saraf sebagai unsur penyebab kelambanan belajar. Dari sudut pandang ahli psikologi, mereka berusaha menyelidiki masalah dari perilaku dan kejiwaan anak yang lamban. Mereka menjelaskan adanya gangguan dalam masalah kognitif, yaitu membaca, menghitung, dan berbahasa.

Departemen Pendidikan Amerika Serikat bagian anak cacat telah menjelaskan standar penentuan bagi anak yang lamban belajar dalam hal penyampaian secara lisan, pengertian secara lisan, penyampaian tertulis, teknik membaca, pengertian membaca, penghitungan matematika, serta kemampuan berpikir logis. Dengan angka IQ, dibedakanlah derajat kelambanan belajar. Bila tidak mencapai nilai standar normal, seorang anak akan dipandang mengalami kelambanan dalam belajar. Tes IQ sendiri telah digunakan secara luas sejak dulu. Meski akhir-akhir ini para ahli mulai meragukan apakah cara penilaian ini dapat dipercaya, namun pada umumnya tingkat kelambanan dalam belajar seorang anak sesuai dengan hasil tes IQ.

Dari sisi pelajaran dan pertumbuhan jasmani hambatan belajar dapat diselidiki.

Segi pelajaran

Dalam segi pelajaran, hambatan bagi anak dapat dilihat dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Pada umumnya bila terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan belajar dengan hasil pelajaran, dapat disimpulkan anak tersebut mengalami kelambanan belajar.

Segi pertumbuhan fisik

Hal ini meliputi beberapa hal: berbicara, berpikir, mengingat, dan hambatan fungsi indra. Hambatan berbicara merupakan hambatan belajar yang sering terdapat pada tingkat anak prasekolah, dan umumnya mengakibatkan anak terlambat bicara. Sedangkan masalah hambatan dalam berpikir terlihat dari anak yang mengalami kesulitan dalam membentuk konsep, mengaitkan apa yang dipikirkan, dan memecahkan masalahnya. 

Seorang anak yang memiliki hambatan dalam mengingat akan kesulitan mengingat apa yang telah ia lihat dan ia dengar, padahal daya ingat merupakan syarat utama untuk belajar. Anak juga tidak mampu memusatkan pikiran pada sesuatu yang harus dipilihnya, ia hanya berlari terus ke sana ke mari, dan tidak memiliki konsentrasi belajar dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan hambatan fungsi indra termasuk hambatan dalam penglihatan dan pendengaran.

Dalam hal ini ada beberapa faktor penyebab terjadinya kesulitan belajar atau lambat belajar di antaranya adalah:
  • Berkesulitan belajar karena faktor psikodinamika. Anak dari kelompok ini mengalami kesulitan belajar karena tidak menyadari, tidak dapat mencamkan atau meniru apa yang didengar, dilihat dan disentuhnya.
  • Berkesulitan belajar karena faktor kelainan persarafan luar. Anak dari kelompok ini mengalami kesulitan belajar karena gangguan penglihatan, gangguan alat pendengaran dan sebagainya.
  • Berkesulitan belajar karena faktor kelainan sistem persarafan pusat. Anak dari kelompok ini mengalami kesulitan belajar karena terdapat kelainan pada otak. 
Dalam dunia kedokteran disebut dengan istilah disfungsi minimal otak yaitu individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat mempengaruhi kemampuan berpikir, membaca, berhitung, dan berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexsia dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.

Selain dari faktor penyebab yang berasal dari dalam diri individu juga terdapat beberapa faktor diluar diri individu di antaranya:

Faktor keturunan

Di Swedia, Hallgren (1950) melakukan penelitian dengan objek keluarga dan menemukan rata-rata anggota keluarga tersebut mengalami kesulitan dalam membaca, menulis, dan mengeja. Kesimpulannya, hal tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan. Ahli lainnya, Hermann (1959), mempelajari dan membandingkan anak-anak kembar yang berasal dari satu sel telur. Ia memperoleh kesimpulan bahwa anak kembar dari satu sel itu lebih mempunyai kesamaan dalam hal kesulitan membaca daripada anak kembar dari dua sel telur.  

Fungsi otak kurang normal
Ada pendapat yang menyatakan bahwa anak yang lamban belajar mengalami masalah pada saraf otaknya. Pendapat ini telah menjadi perdebatan yang cukup sengit. Beberapa peneliti menganggap bahwa terdapat kesamaan ciri pada perilaku anak yang lamban belajar dengan anak yang abnormal. Hanya saja, anak yang lamban belajar memiliki adanya sedikit tanda cedera pada otak. Oleh sebab itu, para ahli tidak terlalu menganggap cedera otak sebagai penyebabnya, kecuali ahli saraf membuktikan masalah ini. Mereka menyebutnya sebagai "disfungsi otak" ketimbang "cedera otak". Sebenarnya, sangatlah sulit untuk memastikan bahwa keadaan itu disebabkan oleh cedera otak.

Masalah organisasi berpikir

Anak yang lamban belajar akan mengalami kesulitan dalam menerima penjelasan tentang dunia luas. Mereka tidak mampu berpikir secara normal. Misalnya, anak yang sulit membaca akan sulit pula merasakan atau menyimpulkan apa yang dilihatnya. Para ahli berpendapat bahwa mereka perlu dilatih berulang-ulang, dengan tujuan meningkatkan daya belajarnya.

Kekurangan gizi

Berdasarkan penelitian terhadap anak dan binatang, ditarik suatu kesimpulan bahwa ada kaitan yang erat antara kelambanan belajar dengan kekurangan gizi. Walau pendapat tersebut tidak seluruhnya benar, tetapi banyak bukti menyatakan bila pada awal pertumbuhan seorang anak sangat kekurangan gizi, keadaan itu akan memengaruhi perkembangan saraf utamanya, dan tentunya membawa dampak yang kurang baik dalam proses belajar.

Faktor lingkungan

Pengaruh lingkungan, gangguan nalar, dan emosi, ketiganya mempunyai ciri khas yang sama, yaitu dapat mengakibatkan kesulitan belajar. Yang dimaksud dengan faktor lingkungan ialah hal-hal yang tidak menguntungkan yang dapat mengganggu perkembangan mental anak, misalnya keluarga, sekolah, masyarakat, dan lain-lain. Gangguan tersebut mungkin berupa kepedihan hati, tekanan keluarga, dan kesalahan dalam menangani anak. Meskipun faktor ini dapat memengaruhi, tetapi bukan merupakan satu-satunya faktor penyebab terjadinya hambatan. Yang pasti, faktor tersebut bisa mengganggu ingatan dan daya konsentrasinya. Dan dari pengalaman dapat dipetik pelajaran bahwa lingkungan yang tidak menguntungkan sedikit banyak bisa memengaruhi kecepatan belajar.

Pengembangan secara keseluruhan

Usahakan agar anak mau mengembangkan bakatnya sebagai upaya mengalihkan perhatiannya dari kelemahan pribadi yang telah membuat mereka kecewa dan apatis. Pengalaman dalam pelbagai hal akan membuat anak mengembangkan kemampuannya, dan pengalaman yang sukses akan membangun konsep harga diri yang sehat.

Pemeliharaan sejak dini

Bila faktor lingkungan merupakan penyebab utama mundurnya daya ingat dalam berpikir, pencegahan awalnya mungkin dengan mengubah lingkungan masyarakat dan lingkungan belajarnya. Perawatan sejak dini juga akan bermanfaat untuk pencegahan. Dalam suatu penelitian, setiap anak tinggal di dalam kamar yang berbeda dan hidup bersama dengan orang dewasa. Mereka mendapat perawatan yang khusus serta cermat dari para perawat wanita yang berpendidikan rendah. Dari hasil tes IQ terlihat adanya kemajuan. Dari sini dapat disimpulkan perawatan dini dan pemeliharaan secara khusus dapat menolong mengurangi tingkat kelambanan belajar.

Lembaga pendidikan khusus atau umum

Suatu penelitian dilakukan untuk membuktikan apakah dalam upaya untuk menolong, anak yang lamban belajar sebaiknya bergabung dalam lembaga pendidikan khusus atau lembaga pendidikan umum. Hasilnya, tidak diperoleh suatu kepastian karena adanya perbedaan pendapat. Kesimpulannya, dari segi nalar tidak ditemukan adanya peningkatan ketika anak berada di lembaga pendidikan khusus. Hasil belajarnya pun tidak lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bergabung di lembaga pendidikan umum. Dalam hal pergaulan, mereka yang ada di lembaga pendidikan umum mungkin mengalami perasaan seperti diasingkan oleh teman-temannya, tetapi di sana mereka dapat memiliki harga diri yang lebih tinggi daripada yang mengikuti pendidikan di lembaga khusus. Bagi anak yang lamban belajar, yang terpenting bukanlah di mana mereka disekolahkan, tetapi bagaimana mereka mendapatkan pengaturan lingkungan belajar yang ideal.

Memberikan pelajaran tambahan

Sekolah dapat mengatur atau menambah guru khusus untuk menolong kebutuhan belajar anak. Dapat juga dengan menyediakan program belajar melalui komputer. Dengan demikian, mereka dapat belajar tanpa tekanan dan memperoleh kemajuan yang sesuai dengan kemampuan diri sendiri. B.F. Skinner mengatakan bahwa penggunaan mesin mengajar akan sangat bermanfaat bagi mereka. Dewasa ini komputer telah menjadi alat pendidikan yang populer. Tempat ibadah atau sekolah dapat menggunakannya untuk mendidik anak yang lamban belajar. Namun demikian semua disesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak tentunya.

Latihan indra

Kesulitan belajar bagi anak yang lamban berhubungan erat dengan intelektualitasnya. Jadi, penting juga untuk memberikan beberapa teknik latihan indra kepada mereka.
  1. Latihan indra. 
Dengan latihan ini anak dilatih untuk mengenal lingkungan melalui penglihatan, pendengaran, atau perabaan. Misalnya, mengenal benda melalui perbedaan bentuk atau suara. Dengan mata tertutup anak diajak untuk mengenal bentuk, kasar, atau halus suatu benda. Semua latihan tersebut dapat mempertajam indra anak.
  1. Latihan koordinasi 
Hal-hal yang termasuk dalam latihan koordinasi ialah menggunting, mewarnai, meronce, mengikat, melakukan estafet, atau gerakan lainnya. Latihan tersebut kemudian disatukan dengan gerakan dalam kehidupan sehari-hari seperti: memakai atau menanggalkan sepatu, menyikat gigi, menyisir rambut, menuang air, dan sebagainya.
  1. Latihan konsentrasi
     
Melalui latihan ini anak dilatih untuk memerhatikan rangsangan-rangsangan yang ada di luar, melalui permainan, nyanyian, meniru gerakan guru, bermain kartu, atau berkejar-kejaran untuk melatih konsentrasinya.
  1. Latihan keseimbangan
     
Rasa keseimbangan akan menenteramkan emosi anak dan menolong melatih gerak-gerik tubuh mereka. Misalnya, belajar berbaris, menari, menaiki papan titian, senam irama, dan sebagainya.
Prinsip belajar
Semua usaha yang melatih anak untuk meningkatkan daya belajarnya, sebaiknya memerhatikan prinsip dan keterampilan belajar.
  1. Usahakan agar anak lebih banyak mengalami sukacita karena keberhasilannya. Hindarkan kegagalan yang berulang-ulang.
  2. Dorong anak untuk mencari tahu jawaban yang benar atau salah dengan usahanya sendiri. Dengan demikian, anak dapat dipacu semangatnya untuk belajar.
  3. Beri dukungan moril atas setiap perubahan sikap anak agar mereka puas. Kadang-kadang berilah hadiah kepada anak.
  4. d. Perhatikan taraf kemajuan belajar anak, jangan sampai kurang tantangan dan terlalu banyak mengalami kegagalan.
  5. Lakukan latihan secara sistematis dan bertahap sehingga mencapai kemajuan belajar.
  6. Boleh memberikan pengalaman berulang yang cukup, tetapi jangan diberikan dalam jangka pendek.
  7. Jangan merencanakan pelajaran yang terlampau banyak bagi murid.
  8. Gunakan teknik bahasa yang melibatkan lebih banyak penggunaan indra.
  9. Lingkungan belajar yang sederhana akan mengurangi rangsangan yang tidak diinginkan. Aturlah tempat duduk sedemikian rupa agar mereka tidak merasa terganggu.
Dukungan orang tua
Dorongan dan bantuan orang tua erat hubungannya dengan hasil belajar anak yang lamban. Bila dalam mengulangi apa yang dipelajari di sekolah, orang tua bekerja sama dengan guru dalam memberikan metode dan pengarahan yang sama, tentu akan diperoleh hasil yang lebih baik. Bila memungkinkan, ibu boleh meminta izin untuk mengamati proses belajar mengajar di sekolah.
Kerjasama Guru dan Orangtua 

Kerjasama guru dengan orang tua hendaknya selalu ditingkatkan untuk memacuperkembangan anak yang mengalami kesulitan belajar. Dengan kerjasama ini perkembangan siswa secara periodik dapat diamati dan dilakukan penanganan yang lebih spesifik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Salam
___________________

Oleh : M. Ali Amiruddin, S.Ag.

Dari berbagai sumber

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!