Kamis, 10 Maret 2022

Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu


Ilustrasi seorang guru sedang mengajar di depan murid-muridnya (dokumen pribadi)


Guru Kompeten adalah Guru Dermawan Ilmu

Penulis: M. Ali Amiruddin, S.Ag.



Pernahkah Anda membandingkan antara guru masa kini dan guru masa lampau? Atau sekedar ingin mengamati perkembangan peradaban pendidikan di era daun dengan internet saat ini? 


Jawabannya adalah ketulusan berbagi. Meskipun tidak bisa juga menjustifikasi bahwa guru lama lebih baik dan guru sekarang kurang baik. Karena dulu dan sekarang pun tergantung personalnya. Baik dan enggak adalah karakter.


Memang sih perubahan zaman dan fenomena yang melingkupinya akan selalu sama dengan yang kita alami sendiri, sebab karena minimnya pengetahuan kita akan kondisi masyarakatnya.


Sama dengan pemahaman kita bagaimana seorang pendidik yang menurut banyak orang dianggap sosok yang gak terlalu butuh sanjungan, penghargaan yang bersifat klise atau pangkat yang hanya sebagai penghias pundaknya.


Ternyata pendapat itu bisa sejalan dengan apa yang kita alami sendiri. Seseorang yang seharusnya selalu memberikan secercah cahaya kegelapan bagi orang-orang di sekitarnya ternyata banyak yang eman-eman dan menilai segalanya hanya dengan materi. Uang masih menjadi tolak ukur penghargaan atas prestasinya.


Kenapa orang berkompeten harus dermawan ilmu dan gak melulu mengejar materi? Kenapa pula keterampilan dan kemampuannya seolah-seolah barang antik dan mahal yang harus disembunyikan dan dinikmati sendiri meskipun seharusnya semua pengetahuan semestinya dibagi secara free? Bukan justru menumpuk-numpuk pengetahuan, menyimpannya dalam karya-karya penelitian, tapi kosong kebermanfaatannya.


Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kita urai saja satu persatu ya.


Kenapa orang kompeten harus dermawan ilmu?


Jawabannya semakin ilmu itu dibagi, maka ilmunya pun akan bertambah. Bukan justru semakin habis. Selayaknya pisau kalau diasah akan semakin tajam. Beda kalau disimpan, tentu akan berkarat.


Faktanya semakin tinggi ilmu seseorang tidak menjamin pula kebermanfaatannya. Banyak yang berilmu justru menyimpan ilmunya sendiri tanpa membagi pada siapa pun.


 Adakalanya cenderung protektif dan seolah-olah hanya sosok yang dianggap kompeten inilah yang harus mengetahui segala-galanya. 


Ironisnya jika ingin berbagi, banyak pula yang harus berbiaya mahal. Masih beruntung membagi meskipun tidak gratis. Sayangnya sudah tidak gratis, ilmunya pun hanya setengahnya.


Tidak salah memang yang beranggapan bahwa ilmu itu mahal. Toh, memang mencari ilmu juga waktunya lama dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Tapi memiliki prinsip segalanya harus memakai uang juga saya kira kurang patut. Gak haram, tapi menurut kaca mata etika sangat kebangetan.


Dengan kata lain, untuk apa memiliki banyak pengetahuan, jika hanya milik sendiri dan dikonsumsi sendiri. Padahal ilmu pun adalah amanah yang harus ditebarkan ke khalayak. Itu menurut kacamata agama.


Kenapa pula hasil penelitian tidak berdaya guna?


Suatu ketika saya dapati sosok yang memiliki segudang pengalaman penelitian dan lomba guru berprestasi, sayangnya ketika ditanya hasil penelitian dan bagaimana mengaplikasikannya justru jawabannya negatif. Seolah-olah pengalaman itu mahal dan gak semudah itu kita membaginya. Padahal sebuah hasil penelitian sepatutnya bermanfaat pula. 


Kita memang lelah meneliti, namun kalau semua dinilai dengan materi, apa bedanya anda dengan berdagang ilmu. Semakin bagus penelitian, semakin layak dinilai mahal. Semakin bisa dipatenkan, semakin sedikit yang bisa menikmatinya.


Semua diasosiasikan ke prinsip dagang. Kalau mau dapat ilmu, maka kamu harus membayar mahal. Kalau ingin pendidikan bermutu, bayarannya juga harus gede. Bahkan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya.


Ada juga yang berprinsip, kalau mau mendapatkan ilmu, maharnya juga besar. Sampai-sampai orang lain sulit memetik buah ilmunya itu. 


Karya yang lelah dibuat hanya tersimpan di otak pemiliknya, bertumpuk-tumpuk di gudang dan dinilai sebagai aset berharga yang bisa membuat kaya. 


Uang lagi yang menjadi visi dan misi kehidupannya. Sebuah ironi bukan?


Senin, 04 Januari 2021

Film The House Maid, Ketika Kesadisan Dibalas Kesadisan

 



Film The House Maid. Ketika Kesadisan Dibayar Kesadisan


Sejahat-jahatnya orang adalah orang yang tidak mau memberikan maaf pada orang lain yang melakukan kesalahan. Dan lebih jahat lagi adalah sosok yang mau melampiaskan dendam karena kesalahan orang lain di masa lalu.


Dan ternyata kejahatan masa lalu tercatat dalam memori otak dua sosok anak yang dengan kedua matanya melihat bagaimana orang tuanya dibantai tanpa rasa ampun karena hendak melarikan diri.


Dengan diawali oleh seorang wanita (Linh) yang tengah mencari pekerjaan. Hingga suatu ketika ia mendapati rumah besar yang sudah kuno di tengah-tengah perkebunan karet. 


Dengan pakaian basah karena hujan, sang wanita muda ini mencoba menawarkan diri untuk bekerja di rumah besar dan megah itu. Ternyata kedatangannya disambut seorang perempuan setengah baya (Ny. Han) yang kemudian memberinya beberapa potong pakaian pengganti. Kemudian ia dipersilahkan bermalam di rumah besar itu sebagai persetujuan bahwa ia diterima bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan syarat masa percobaan beberapa hari. 


Sejak awal para penonton memang disuguhi oleh adegan yang menyeramkan, diawali oleh gambaran kisah di perkebunan milik orang Perancis (keluarga Kapten Laurent) tersebut yang ternyata telah meninggalkan banyak kisah menyeramkan.


Ada banyak pembunuhan yang dilakukan penjaga perkebunan itu jika para pekerja tidak bisa bekerja atau hendak kabur karena tidak lagi betah atas tekanan pekerjaan yang berat. 


Rumah yang nampak angker jika dipandang dari depan dan penampakan perkembunan karet yang juga menyiratkan adanya unsur mistis, ternyata disebabkan kisah pilu dan menyedihkan dari para korbannya. Semua telah diceritakan oleh sosok perempuan  setengah baya yang dipercaya sebagai kepala pengurus rumah besar itu.


Sejak awal saya belum menangkap kisah apa dibalik cerita itu, dan menganggap bahwa wanita muda yang melamar pekerjaan hanyalah sosok yang tersesat dan membutuhkan pekerjaan di rumah tersebut. Eh, ternyata wanita muda itu adalah salah satu dari dua anak kakak beradik yang menaruh dendam pada pemilik perkebunan karena kedua orang tuanya tewas dibantai dan dikuburkan di tengah-tengah perkebunan itu.


Dua anak yang kini tumbuh dewasa ternyata masih menyimpan dendam masa lalu dan ingin membalaskan dendam orang tuanya karena dibantai dengan kejam oleh wanita paruh baya yang menerimanya bekerja serta sosok penjaga yang terkenal sadis mau menghabisi siapapun yang mau melarikan diri.


Kesadisan-kesadisan ditunjukkan pada para pekerja tanpa ampun. baik dengan menghabisinya secara langsung atau dihukum dengan cara dipasung dan tidak memberinya makan. Tak pelak karena pekerja itu dipasung dan tidak diberikan makanan secuil pun, akhirnya para pekerja itu mati kelaparan.


Perkebunan yang semula menjadi tempat bekerja, ternyata menjadi ladang pembantaian manusia-manusia tidak berdosa oleh penjaga perkebunan, wanita pengurus rumah besar itu dan penjaga lain yang membantu aksinya, serta kematian seorang wanita pemilik perkembunan itu yang tidak tahu penyebabnya serta jasadnyapun tidak diketemukan.


Semua orang yang dibantai digambarkan menjadi sosok yang terus meneror para pekerja dan pemilik perkebunan. Hingga secara perlahan satu persatu orang yang terlibat pembunuhan turut tewas karena dibantai oleh hantu perempuan (Madame Camille) yang konon jasadnya tidak diketemukan itu, yang ternyata pemerannya adalah wanita muda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.


Setelah semua pelaku kejahatan tersebut tewas, akhirnya adik kakak pun bertemu dan memutuskan mencari kuburan kedua orang tuanya. Dan ternyata di sebelah pohon besar jasad kedua orang tuanya diketemukan dengan mendapati sebuah bandul kalung yang menunjukkan bahwa kerangka jasad itu adalah benar orang tua yang telah dibantai dengan sadis.


Kisah inipun diakhiri dengan ditinggalkannya rumah tersebut dalam keadaan kosong dan adanya penampakan sosok wanita di jendela yang merupakan mendiang wanita pemilik perkebunan itu.


Meskipun film ini horor, ternyata di dalamnya selalu saja dibumbui adegan erotis. Namun tetap saja memberikan kesan horor karena ujung dari kisah asmara itu adalah kematian. Seperti tewasnya sang pemilik perkebunan (Kapten Laurent) karena dibunuh wanita pekerja yang ternyata telah dicintainya dan ternyata telah membuat keduanya menjalin asmara. Mereka saling mencintai, namun sayangnya harus tewas karena dibunuh kekasihnya sendiri karena dirasuki roh Madam Cammile yang kematiannya sangat misterius.


Ketika Kejahatan dibalas Kejahatan


Kita mengenal sebuah tayangan film di mana dalam ide ceritanya tentang balas dendam. Pada mulanya sosok tersebut adalah orang yang baik-baik saja, tapi karena telah mengalami kejahatan dan kekerasan fisik atau psikis, sosok tersebut berubah menjadi seorang penjahat yang kejam.


Sama seperti dalam film The  House Maid ini, pemeran utama memerankan sebagai sosok anak yang tumbuh dewasa dengan segunung dendam dalam hatinya karena keluarganya telah dihabisi dengan sadis.


Boleh jadi kita menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang dianggap remah karena korbannya sudah di alam kubur, tapi pada sisi lain ada sosok lain yang bisa jadi menyimpan sakit hati atau dendam yang dendam itu tidak akan terbalas sebelum ia membalaskan dendamnya.


Ada banyak kisah lain di sekitar kita, di mana satu keluaga disantet sampai tujuh turunan karena pernah disakiti atau karena telah menghancurkan usahanya. 


Pelaku kejahatan karena balas dendam hakekatnya karena akumulasi rasa sakit hati yang kemudian membuncah. Apalagi korban kejahatan itu adalah orang tua sendiri yang diperlakukan secara tidak manusiawi.


Pada akhirnya, kisah film ini murni tontonan meskipun mengandung "pesan" yang negatif, karena mempertontonkan kekerasan dan kesadisan yang berakibat aksi balas dendam dengan kesadisan yang sama.


Tontonan itu hanya pantas ditonton oleh orang dewasa yang sudah memahami bahwa ini hanyalah tontonan yang tidak seharusnya ditiru dan dijadikan inspirasi atas sebuah aktivitas kejahatan.


Teruslah menjadi orang yang baik dan selalu memaafkan orang-orang di sekitarmu. Karena dengan memaafkan, maka hatimu akan menjadi tenang dan tentram. Dan bagi korban kejahatan, mereka akan mendapatkan balasan surga karena telah dianiaya tanpa dosa. Sedangkan yang memaafkan pun akan mendapatkan kebaikan dalam hidupnya di dunia dan akhirat.


Salam

Minggu, 03 Januari 2021

Memory 2020, Dari Covid-19, Konflik Agama Sampai Kasus Korupsi

 Memory 2020, Dari Covid-19, Konflik Agama Sampai Kasus Korupsi


Dua hari sudah kita meninggalkan tahun penuh fenomena dan warna. Selayaknya tahun-tahun lain yang juga telah dilewati bersama, ternyata menyisakan memory yang juga menguras emosi kita.


Sungguh, meskipun kita hendak mengabaikan memori tersebut, nyatanya sampai beberapa tahun kemudian, setiap detik dan moment begitu sangat memberikan makna, baik makna positif maupun negatif. 


Yang pasti, terlepas ada makna positif dan negatifnya, hendaklah selalu menjadi bahan evaluasi dan renungan betapa setiap kejadian dalam kehidupan ini memiliki hikmah tersendiri.


Berbincang tentang Covid-19, sebuah realita virus yang bukan abal-abal.


Pernahkah Anda berpikir bahwa muncul isu yang dihembuskan oleh banyak orang terkait sebuah serangan virus? Isu tersebut begitu massif disebarkan oleh banyak orang terkait keberadaan virus. Di mana isu yang berkembang adalah ada yang pro dan kontra. Ada isu yang mendukung informasi sebaran virus yang sudah merenggut banyak jiwa ini. Begitu pula begitu massifnya isu yang dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu, bahwa virus ini hanyalah bualan semata. Bahkan sampai-sampai mereka yang menyangsikan kebenaran adanya virus tersebut menawarkan diri untuk ditulari virus ini.

 

Dua fenomena sebaran isu yang bertolak belakang ini tentu memancing banyak argumen atau pendapat. Antara percaya dan tidak. Antara ingin melihat langsung sosok yang terpapar dan siapa yang kebal virus. 


Bahkan, karena penolakan untuk mempercayai adanya virus tersebut di sambut dengan penolakan pemberian vaksin pada si pelaku. Padahal fakta-fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa virus ini amatlah nyata dan sudah merenggut banyak korban jiwa.


Terlepas adanya informasi yang menyesatkan terkait oknum rumah sakit yang memalsukan kondisi pasien, seharusnya informasi yang sudah valid tentang keberadaan virus tetap ditanggapi dengan positif. Jika informasi ini sudah dianggap positif, maka mau tidak mau, dengan segala macam cara berusaha menghindari serangan virus ini. Baik dengan 3 M (Mencuci tangan dengan sabun, Menjauhi kerumunan/Menjaga jarak, dan Memakai masker), pun diiringi dengan doa semoga virus ini segera berlalu dan aktivitas bisa produktif lagi seperti semula.


Sayangnya, karena ulah oknum yang tidak mempercayai adanya virus ini, akibatnya virus inipun sulit dibendung. Kita meyakini di 2020 sebaran virus sudah berhenti, karena mematuhi protokol kesehatan. Faktanya sampai tahun berganti, virus ini belum juga sirna. Publik dibuat bingung mengapa virus ini tidak juga berhenti dan anak-anak sekolah tidak juga bisa beraktivitas secara normal. Itu semua karena merasa kebal dan tidak mempercayai informasi apapun terkait pandemik Covid-19.


Coba saja, jika setiap orang memiliki persepsi yang sama untuk mencegah penularan virus dan mengatasi persoalan penduduk yang mengiringi akibat persoalan virus ini, tentu masalah tidak berlarut-larut.


Persepsi terhadap Covid-19 sejak lama sudah terbelah. Kepercayaan publik terkait informasi yang berbeda pun seperti terkoyak karena banyak oknum yang memunculkan opini menyesatkan terkait virus ini. Bahkan ketika kita hendak mendapatkan vaksin saja kita sudah berbeda pandangan, antara siapa yang divaksin dan keandalan vaksin. 


Padahal, beberapa tahun silam pun kita sudah berdebat terkait banyak vaksin terkait halal dan haramnya, dan berdebat akan dampak negatif dari vaksin tersebut. 


Itu semua adalah situasi keterbelahan publik terkait pandemi Covid-19. 


2020 adalah tahun kelam, karena di tahun ini banyak jatuh korban jiwa dari banyak kalangan. Dan 2020 adalah tahun di mana publik seperti dibuat bingung terkait informasi yang beredar di masyarakat.


Semoga saja di 2020 menjadi pelajaran bahwa kita harus kembali bersatu dalam persepsi bahwa virus ini harus dilawan dan bukan malah menganggapnya tidak ada atau sebagai kawan.


Munculnya konflik agama, bukti kita masih belum dewasa


Sejak mula kita lahir di bumi pertiwi, kita sudah diperkenalkan dengan aneka agama, tak perlu kita mengurai lagi agama apa yang sudah ada di negeri ini, karena sejarah sudah menceritakan bahwa kita hidup di tengah keberagaman agama.


Sayangnya, meskipun kita sudah memahami bahwa saudara kita berbeda agama, faktanya masih terus saja timbul pertikaian dan konflik antar agama. Bahkan tidak hanya dengan agama yang berbeda, dengan yang seagama saja masih berdebat mana yang paling benar dan paling pantas masuk surga. Padahal setiap hamba hanya diperintahkan untuk beribadah secara ikhlas dan memasrahkan semuanya kepada Sang Khaliq dengan apa yang diyakininya. Jikalau keyakinan sudah dianggap benar, maka yakini saja apa yang sudah dianggap benar tanpa melukai keyakinan yang berbeda. 


Jika setiap individu atau kelompok merasa tidak mau diganggu, maka sebaiknya menjaga kelompok masing-masing dan tidak saling mengganggu. Meskipun diwajibkan mengajak, toh cara mengajak juga jangan memaksa. Seperti apa yang diwahyukan Tuhan bahwa tidak ada paksaan dalam agama.


Jika setiap orang merasa sudah sesuai apa yang diyakininya, maka sebaiknya berjalan saja sesuai rel yang dipahami tanpa melintasi jalan kendaraan lain, apalagi merusak keyakinan orang tanpa memahami apa yang dipahami orang lain.


Kedewasaan kita dalam agama hakekatnya saling memahami potensi dari sebuah perbedaan sudut pandang dari agama-agama. Dan jika sudut pandang itu dipaksa untuk sama, maka konflik akan terjadi.


Korupsi oh korupsi, sungguh menyayat hati


2020 masih menyisakan banyak tanya, mengapa virus ini tidak juga musnah, dan mengapa masih ada saja yang tega "mengembat" uang negara. Apalagi uang itu dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan masyarakat di tengah pandemi. Padahal, dalam situasi yang tidak menentu ini, seharusnya banyak pihak  yang "waras" betapa psikis masyarakat tengah dalam situasi yang darurat.


Psikis yang cukup darurat itu disebabkan karena kondisi yang menjerat karena terdampak covid-19,  seperti PHK, Kesulitan mencari penghidupan dan kejenuhan karena terlalu lama di rumah.


Sayangnya di tengah konflik psikis masyarakat, masih ada saja yang mau mengambil keuntungan dari persoalan yang ada. 


Reaksi apa yang kemudian muncul karena aksi pihak curang ini? Tentu menanggapinya dengan beragam tanya, mengapa tega ya dana sosial dikorupsi? Dan kenapa bisa menyelam sambil minum air di tengah-tengah pandemi ini?


Situasi yang sulit ini ternyata tidak menyadarkan kita betapa saat ini kondisinya tengah darurat. Atau karena menganggap bahwa saat inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi psikis masyarakat yang tengah panik karena pandemi. Di saat masyarat bingung dengan keadaan, ternyata ada pihak yang mengambil keuntungan.


Sungguh 2020 adalah tahun yang penuh fenomena yang menguras energi kita. Ada banyak asa yang terkubur dan hancur karena pandemi yang tak juga berakhir, dan banyak pihak yang tertawa di dalam musibah ini. Sungguh miris.


Jika kita hendak menertawai apa yang terjadi, tentu bukanlah sesuatu yang bijak. Tapi berusaha mengintrospeksi dan berkaca diri adalah langkah paling tepat agar tidak turut serta dalam arus kegelian ini.


Biarlah 2020 tahun penuh musibah, tapi 2021 ini adalah tahun penuh harapan. Semoga di tahun ini semua yang direncanakan dapat direalisasikan dengan baik.


Seperti kemarin, ketika di tahun paceklik kita sulit menikmati bubur ayam, semoga di tahun ini, kita masih bisa menikmati singkong goreng dengan kopi kental manis.


Salam

Jumat, 25 Desember 2020

Jangan Lecehkan Tubuhnya Yang Gendut. Cerita Berlatar Film Imperfect

 


Jangan Lecehkan Tubuhnya Yang Gemuk. Cerita berlatar film Imperfect


Tahukah Anda, setiap orang adalah istimewa. Setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Bisa jadi kelebihan itu sama, tapi ada sisi lain yang tetap berbeda. 


Misalkan si A dan si B memiliki bakat menyanyi, ternyata karakter vocal mereka berbeda . Si A bersuara nge-bass dan si B Sopran misalnya. Itu semua adalah salah satu contoh bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda.


Atau misalnya dua sosok itu adalah kembar siam sekalipun, mereka adalah dua insan yang berbeda sifat asasinya. Dengan keunikan yang berbeda, justru akan menjadi warna yang selaras dengan keadaan manusia di alam semesta ini.

 

Apalagi, dalam diri seseorang memiliki kekurangan dan kelebihannya. Seperti jika kita menemukan sosok yang pemikirannya cerdas, ramah, baik dengan orang, supel dan suka  kegiatan sosial, ternyata fisiknya dianggap orang sebagai sesuatu yang buruk dan nggak seksi, Kenapa? Karena tubuhnya gemuk semenjak kecil. Hingga dewasa, hobi doyan makan coklatnya semakin memperbesar kondisi tubuhnya.

Keberadaan tubuh yang tidak langsing dan singset dianggap sebagai fisik yang tidak seksi.


Hampir setiap orang menganggap tubuh yang gemuk adalah "cacat". Padahal gemuk dan tidaknya tubuh seseorang bukanlah hal yang  baik untuk dijadikan bahan bully-an dan menjadi ajang untuk menunjukkan kata-kata yang menjurus pada penghinaan fisik seseorang (body shamming).


Tak perlu saya menunjukkan pasal penghinaan yang bisa dijatuhi sanksi oleh pengadilan, karena hakekatnya seitiap manusia ingin melihat orang lain terlihat sempurna di hadapannya-meskipun belum tentu itu disukai dirinya sendiri,  dan meskipun akan memuculkan beragam reaksi atas bullying tersebut.


Membaca kasus bullying dalam film Imperfect


Sepertinya kata-kata ini bisa menimbulkan emosi bagi yang bersangkutan. Yaitu kata-kata sindiran, umpatan atau pelecean secara oral yang mengakibatkan sang korban merasa direndahkan dan dijatuhkan harga dirinya.

Seperti "awas ada karung beras." Hei, kamu mau beli kado apa buat temen kita yang mau melahirkan? Kan ada yang lagi hamil." Atau mengatakan bahwa sosok yang gendut dianggap sebagai badut.


Terang saja ungkapan-ungkapan yang bersifat bullying ini bisa merendahkan derajat kemanusiaan dan merendahkan nilai-nilai kehormatan dari yang bersangkutan.


Seseorang yang dibilang memiliki fisik sempurna, ternyata isi kepalanya sungguh tidak secantik dan se seksi tubuhnya. Bahkan orang yang dianggap gendut atau gemuk itu justru memiliki kecerdasan yang sangat bermanfaat bagi perusahaan.

Meskipun pada saat terjadi percakapan seolah-olah si gendut tidak memiliki kesempatan yang sama dengan si wanita seksi. 


Dengan kata lain, karena ingin memenuhi permintaan dari sang Bos, sosok yang memiliki tubuh gemuk inipun merasa terpaksa  untuk mengecilkan tubuh agar bisa mewakili perusahaan. Walaupun memiliki keceradasan yang tidak diragukan lagi, namun  karena fisik yang dianggap tidak seuai dengan kebutuhan kerja,  ia tertantang untuk mengecilkannya. Dengan risiko selama sebulan harus bisa mengubah keadaan tubuhnya.


Dengan kerja keras dan dukungan semua orang, akhirnya si gemuk inipun berhasil menguruskan tubuh dan mendapatkan fasilitas yang keren di perusahannya.


Namun demikian, film imperfect sebenarnya justru menggap bahwa gemuk itu tidak egaliter, dengan memaksanya memiliki tubuh yang lebih kurus. It's okey lantaran tuntutan pekerjaan, tapi jika kegemukan itu dianggap seuatu yang buruk, maka sosok tersebut sudah merendahkan nilai kemanusiaan.  Gemuk dan kurus adalah sama keduduannya, yang berbeda adalah perannya dalam kehidupan masyarakatnya.


Ketika keluarga terdekat pun melakukan body shaming


Pernahkah Anda mendengar seorang ibu yang mengatakan "Ih, anak ibu kog hitam sih? Beda sama adikmu. Tubuhnya bagus dan kulitnya bersih,  sedangkan kamu hitam legam. Atau dengan mengatakan ibu gemuk, awas bajuunya pada robek. Atau ada lagi yang mengatakan badan kog kurus kayak tiang listrik aja.


Itu semua adalah  contoh-contoh pernyataan-pernyataan atau perkataan yang merendahkan dan melecehkan fisik seseorang. Padahal tidak ada yang boleh merendahkan derajat kemanusiaanya.


Body memang beda, kulit memang tidak putih, dan bentuk tubuh mungkin tidak sexy, namun hakekatnya mereka semua sama di hadapan Tuhan. Bukan hanya fisik yang pantas mendapatkan penilaian, tapi bagaimana mereka berprilaku yang baik dengan lingkungannya, adalah salah satu nilai plus bagi manusia lainnya. Salam

Rabu, 23 Desember 2020

Ketika Dua Kubu Melebur Jadi Satu

 Ketika Dua Kubu Melebur Jadi Satu

Gambar : Pasangan kontestan Pilpres 2019 (Sumber: Kompas.com)


Dunia perpolitikan di negeri +62 sepertinya tidak lepas dari fenomena yang mengitarinya. Sampai-sampai hampir setiap saat publik dibuat tercengang dengan pergerakan bidak catur yang dimainkan para politisi. Apakah ini sebuah kebetulan, coba-coba atau memang sudah lazim dalam dunia yang cukup menguras emosi para pendukungnya.


Sebagaimana publik melihat betapa panasnya aura Pilpres 2019 yang membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana tidak merinding, jika masa-masa kampanye, pemungutan suara dan keputusan final siapa yang layak lolos di panggung kekuasaan. Dan benar, pergolakan di tingkat bawah ketika pengumuman hasil Pilpres diumumkan ternyata publik pun bergolak. Sampai-sampai ada gerakan massa pendukung kedua calon yang berusaha menyampaikan aspirasi dan protes atas fenomena Pilpres yang menurut sebagian pendukung dilaksanakan tidak fair.

   

Hingga endingnya adalah bentrokan massa dan ada beberapa orang yang harus mengalami kekerasan fisik oleh aparat karena ada gerakan yang dianggap menuggangi gerakan damai demonstrasi tersebut.


Beruntungnya, meskipun demonstrasi sempat terjadi bentrokan dan terlihat huru-hara, nyatanya publik masih bisa didinginkan suasananya, tidak sampai membuat kerusakan yang lebih frontal. Saya melihat konflik dua kubu yang melibatkan aparat keamanan tentu merupakan sebuah ekses dari proses demokrasi. Di saat aksi protes itu berjalan damai dan ternyata ada pihak yang menunggangi, maka akibatnya bisa ditebak, jika tidak dapat diredam maka efeknya bisa kepanjangan. Publik dan aparat keamanan bisa terjadi bentrokan yang lebih parah dan bahkan bisa chaos. Bayangkan saja jika aparat yang seharusnya melindungin dan mengayomi rakyat ternyata harus adu fisik dengan rakyat yang diayomi dan dilindungi, tentu menjadi preseden buruk bagi penegakan demokrasi di negeri ini.


Konflik partai politik, tokoh yang bertanding, dan pendukung adalah satu bab yang secara alamiah terbentuk, sebagai manifestasi dari perjalanan panjang negeri ini yang usianya lebih dari 75 tahun. Negeri ini sudah bisa dibilang sepuh atau tua, tapi masih tua bagian kulitnya, sedangkan di dalamnya masih perlu digembleng menjadi lebih dewasa.


Bersatunya kubu Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi adalah dinamika politik yang arif


Memang benar, bahwa politik itu penuh dengan dinamika, intrik dan fakta-fakta yang sangat menggelikan. Bagi sosok yang menciptakan dan pemain dalam panggung, langkah mereka sebenarnya tidak perlu dirisaukan. Di saat berkompetisi, mereka adalah lawan yang berat. dengan segenap tool mereka kerahkan demi memenangkan kompetisi. Sedangkan bagi publik yang hanya menonton, percaturan politik tentu menjadi sesuatu yang amat rumit, bikin sensitif dan kadang membuat tekanan jantung.

 

Kenapa? Ketika awalnya begitu terbelah pilihan dan komitmen mendukung salah satu pihak, ternyata kondisi berubah 180 derajat dengan saling dekatnya para kompetitor. Fenomena yang mengejutkan sepertu sengatan listrik 220 VA ini tentu membuat publik terkesima dan penuh tanda tanya, "mengapa mereka bisa bergabung? Mengapa bisa berbaur? Kog bisa ya saling rangkulan seolah-olah tidak pernah berperang politik?


Jawabannya adalah inilah fakta atau realitas politik yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Dalam dunia politik semuanya akan cepat berubah dan berganti arah ketika kepentingannya bisa diakomodir. Entah, meskipun ada yang menganggap ini sesuatu yang tidak lazim, faktanya di dunia manapun sebuah sikap politik adalah selalu dinamis. TIdak ada politik yang kaku sampai mengeluarkan urat leher demi kepentingan yang bersifat individual dan kelompok.


Bertemunya Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi, adalah sebuah fenomena yang menarik dan lumrah dalam dinamikan politik. Apalagi tujuan kedua kubu sebenarnya sama, ingin menjaga marwah bangsa dan membangunnya menjadi negara yang  bisa setara dengan bangsa lain di dunia.


Jika cita-cita politik adalah sama-sama ingin membangun bangsa dan menjaga nilai-nilai Pancasila, mengapa perseteruan harus dipendam lama? Bukankah dengan bersatu dan saling merangkul akan tercipta harmoninasi di tingkat grassroot. Masyarakat akan melihat kedua kubu semakin akur dan tidak saling bertempur.


Dan semestinya, jika para petinggi bisa akur dan bisa bekerjasama dalam mengatasi persoalan bangsa yang sangat rumit, mengapa arus bawah tidak ikut senang dengan fenomena yang unik ini?


Bukankan dalam politik itu dikenal dengan istilah kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan? Tidak ada kawan dan musuh abadi, yang ada adalah kepentingan. Dan yang perlu dicatat, jika kepentingan mereka adalah untuk menjaga dan membangun marwah bangsa, tentu pilihan akhir adalah berkolaborasi demi membangun bumi pertiwi. 


Jika antara anjing dan kucing yang katanya musuh abadi saja bisa bersatu, mengapa manusia dengan manusia lainnya yang berakal ini tidak bisa menyatu, seperti air dan gula, atau gula dan kopi. Meskipun di sana selalu saja ada yang terus dianggap paling berjasa, antara air, gula, dan kopi. Meskipun ketiganya berbeda, jika salah satunya tidak ada, maka esensinya adalah hampa.


Ya sudah, gitu aja. Mari nyeruput kopi manis sambil makan singkong goreng.


Salam damai

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!