Selasa, 29 September 2015

Mengapa Kita Sering Dibenci Orang?



Dibenci adalah kontradiksi dari disukai, dicintai, dikagumi dan tentu saja karena dibenci adalah tidak diinginkan keberadaannya maka keberadaan kita tidak pernah dihargai. Tak hanya itu saja, siapa saja yang bernasip kurang baik ini, tentu kehidupannya akan banyak dicaci. Banyak orang yang tidak menginginkan keberadaan kita, walaupun keberadaan kita tidak mengganggu, tapi karena ada faktor tertentu, ternyata orang-orang di luar kehidupan kita akan selalu mencari masalah, berupaya sekeras-kerasnya bagaimana kita dibenci olehnya. Tak hanya olehnya secara pribadi, lantaran ia akan membawa orang lain turut serta membenci kita.

Nasib nasib, sedih ya jadi orang yang dibenci? 

Fenomena benci membenci, suka menyukai adalah fenomen alami dalam kehidupan sosial. Dalam satu tubuh saja ada banyak keinginan dan pemikiran, apalagi dalam banyak pribadi. Begitu pula ketika berhadapan dengan orang banyak, tentu kita secara tidak sengaja menemukan aneka pribadi yang unik. Sehingga keberadaan mereka seringkali justru menjadi pemicu keberhasilan. Meskipun demikian, lantaran beratnya tekanan dari luar, banyak juga sih yang terjerambab ke lembah kehancuran lantaran tak kuat menahan embargo, tekanan, intimidasi dan teror dari orang-orang yang membencinya.

Kenapa kita bisa dibenci? Apakah mesti karena kita jahat? Ooo tidak. Orang membenci belum tentu karena kejahatan kita. Sehingga jika ditelaah satu persatu, tentu ada beberapa karakter penyebab kita dibenci orang.

Pertama, kita adalah pribadi yang unik

Menjadi pribadi yang unik adalah sebuah anugerah, bahkan orang menyebutnya sebagai bonus atas ciptaan Tuhan atas makhluknya. Seseorang yang memiliki kepribadian yang unik tentu akan berbeda dengan orang lain yang biasa-biasa saja. Pemilik kepribadian unik cenderung menonjol. Baik menonjolnya dari fisik maupun psikis (termasuk pemikiran). 

Boleh saya contohkan salah satu selebritis yang saat ini tengah naik daun, seperti Elly Sugigi, ia memiliki kepribadian yang unik, baik secara fisik yang unik (maaf giginya yang menonjol - tonggos), ternyata hatinya juga baik. Meskipun disakiti oleh beberapa laki-laki, ternyata ia pun tidak menaruh dendam. Laki-laki yang dekat dengannya sepertinya mencintainya dengan sepenuh hati, tapi kenyataannya hanya memanfaatkan uangnya. Tapi luar biasa, meskipun hakekatnya ia telah disakiti, kebaikan hatinya tak menghendaki dirinya membalas kejahatan orang-orang yang telah menyakitinya. Ada juga sosok menteri Susi, yang karena ketegasannya dan keberaniannya menumpas pencurian ikan, maka para pencuri itu memusuhi kebijakan ibu menteri. Wajar, orang yang baik dan benar biasanya memang dipenuhi oleh orang-orang yang tak sepaham.

Ada juga orang difable, tak jarang kita membenci mereka lantaran keunikan tubuhnya, tapi tanpa kita sadari, kita secara tidak sengaja mengagumi kekurangannya itu sebagai kelebihan. Tak sedikit orang yang memiliki keunikan fisik, justru memiliki kehidupan yang lebih baik dari kita. 

Di kantor misalnya, kita selalu merasa memiliki cukup pengalaman dan pengetahuan, jadi seakan-akan kita memang sudah menguasai segala-galanya. Maka tak jarang kita merasa paling tahu. Tapi apa yang terjadi jika orang yang baru memasuki wilayah kerja ternyata memiliki kelebihan? Tak sedikit kita yang justru khawatir atas eksistensinya. Bahkan saking khawatirnya kita sering berfikir "jangan-jangan nanti ia dipromosikan jabatannya." Atau "Jangan-jangan ia menggantikan kedudukan saya". Dan sederet pertanyaan yang absurd dan aneh tatkala menemukan orang yang memiliki kelebihan tertentu.

Orang-orang yang membenci ketika kita memiliki keunikan, niscaya orang tersebut akan mengalami kerugian. Rugi lantaran tak mendapatkan pengalaman baru yang belum pernah ia miliki.

Solusinya, tetaplah menjadi pribadi yang unik, tapi berusaha meyakinkan orang-orang yang membenci anda, bahwa anda adalah orang yang bisa diajak kerjasama. Orang yang selalu bisa menjadi teman terbaik meskipun memiliki banyak keunikan.

Kedua, Kita Mudah Bergaul

Tak jarang sesama teman saling memusuhi lantaran kita merasa tersaingi dalam persahabatan. Tak hanya dalam persahabatan dalam dunia kerja pun acapkali menemukan sosok pribadi yang merasa minder lantaran kita lebih mudah mendapatkan teman. Kolega dan teman kerja yang tak sedikit turut memicu kecemburuan pada seseorang. Tak hanya pada hal-hal yang bersifat umum, pada hal yang bersifat pribadi pun seringkali menjadi pemicu awal kita dibenci.

Seperti juga pengalaman saya, kadang saya begitu mudah bergaul, saya memiliki banyak teman, komunikasi dimana-mana ada, sehingga saya merasa memiliki banyak keluarga. Tapi sayang sekali, keberadaan saya yang mudah bergaul itu justru mengundang kebencian. Ia merasa tersaingi dan menganggap kita akan melupakan dirinya. Padahal tidak ada niat sedikitpun akan melupakan persahabatan meskipun akan ada banyak teman di sisi saya.

Tapi itulah faktanya, ketika kita mudah bersosialisasi, ternyata mengundang kecemburuan dari pihak lain. Walaupun kebencian itu hakekatnya tidak beralasan.

Solusi saya, persahabatan semakin dibuat intens, jangan gara-gara memiliki banyak teman lain, kita melupakan teman lama yang hakekatnya sosok terdekat dengan kita.

Ketiga, Karakter mereka yang pembenci

Dibenci orang boleh jadi sebenarnya bukan karena kita memiliki kelebihan di sana-sini, tapi diawali dari sikap negatif orang tersebut yang memang sudah terbentuk sedari kecil. Saya mengatakan sedari kecil, karena ada di antara kita yang justru menjadi sumber penyakit hati ini. Orang tua seringkali tak sadar diri mengajarkan kebencian kepada orang lain. Satu contoh, kita boleh jadi pernah mengatakan "tuh nak, orang itu jelek banget ya? bajunya kumuh. Iih jijik lihat orang itu ya?. Spontan sang anak mengatakan "Iya mah, jijik melihat orang itu." Coba, kalau setiap hari kita hiasi kepribadian anak kita dengan kata-kata negatif ini, bukan tidak mungkin di usia dewasanya kepribadian mereka terbentuk menjadi pribadi pembenci. Sedikit-sedikit jijik, sedikit-sedikit kesel, bahkan ada pula yang disebut dengan "jutex" yaitu nggak suka lihat orang lain seneng.

Kepribadian orang semacam ini terang saja tidak pernah merasa tentram. Dalam kehidupannya selalu dipenuhi permusuhan dan kebencian. Bahkan pernah almarhum KH. Zainuddin MZ seorang mubaligh yang dipanggil da'i sejuta umat ini mengatakan orang yang dengki itu ketika melihat orang beli sepeda, mereka sakit, ketika melihat orang beli motor, ia diopname. Dan ketika melihat orang lain beli mobil ia pun meninggal.
Walah, ada-ada saja ya karakter orang di dunia ini.

Bagaimana kita mesti bersikap? Soo cuek saja, tapi berusaha mendekati dan menjadikan mereka sebagai teman. Tak usah diambil hati meskipun mereka membenci. Syukur2 didoakan agar Allah memberikan rahmat untuk mereka sehingga hatinya dilapangkan.

Keempat, Karena kita suka membuat masalah

Faktor lain kenapa kita senantiasa dibenci salah satunya karena kita hobi membuat masalah. Masih baik jika masalah yang kita buat tidak berimbas pada orang lain. Lah, kalau ternyata orang lain menjadi korban tentu lain ceritanya. Orang membenci kita karena sikap kita yang suka membuat mereka jengkel. Suka mengganggu, usil dan sering membuat onar. Keisengan dan keonaran itu yang lebih parah lagi justru mencelakakan korbannya.

Jika orang lain membenci, tentu faktor ini pemicunya. Jangan salahkan mereka yang membenci lantaran semua diawali dari diri sendiri. Solusinya, mulailah menjadi diri sendiri, tak usah memancing persoalan dan memperkeruh suasana. Menempatkan diri sebagai mahluk bermasyarakat yang senantiasa saling menjaga toleransi antar sesama.

Kata teman-temanku sih katanya benci itu benar-benar cinta, buktinya semakin ia membenci kita hakekatnya ia sangat mencintai kita, tapi gengsi untuk mengakuinya....Enggan mengakui karena merasa mempunyai kelebihan dibanding kita.

Salam

Metro, Lampung, 28-9-2015

Artikel ini pernah ditulis di Kompasiana.com


Minggu, 27 September 2015

Film I Not Stupid Too, Fenomena Pendidikan Anak Saat Ini


Anak adalah segala-galanya, mereka lebih berharga dari apapun yang ada di dunia ini. Jika benar dalam mendidik mereka maka dunia dan isinya akan diraih bersama-sama, tapi jika salah dalam mendidik mereka maka alamat dunia akan tenggelam bersama sirnanya cahaya dari kehidupan mereka.

Itulah sekelumit pesan yang dapat saya tangkap dari film I Not Stupid Too, film yang mengisahkan pergulatan dua sisi yang berbeda antara anak sebagai pribadi maupun sosok yang berada dalam dimensi sosial. Yang sedikit banyak mengingatkan saya sendiri bahwa tak patut membiarkan anak-anak hidup dalam kekosongan dan kesendirian. Hendaknya para orang tua tidak mengabaikan anak-anak mereka demi sebuah pekerjaan.

Sebuah fenomena yang masih banyak terjadi dalam kehidupan keluarga, ketika orang tua meniti karir yang cukup menjanjikan dengan gaji yang fantastis, ternyata mempengaruhi pola hubungan timbal balik antara orang tua dan anak-anaknya. Orang tua merasa paling tahu akan kebutuhan anak-anak mereka, sedangkan anak hanyalah makhluk hidup yang tak memiliki hak untuk mengutarakan harapannya. Anak cenderung skeptis, pendiam, merenung dan menutup diri ketika semestinya orang tua menjadi tempat terbaik bagi mereka tatkala mereka hendak berbagi suka dan duka. Orang tua menjadi tempat yang nyaman bagi anak, tatkala mereka meluapkan isi hatinya. Bukan sebaliknya, anak seperti robot yang tak memiliki kesempatan untuk menyatakan pendapatnya. Bahkan untuk bisa berbagi kasih pun sepertinya amat tidak mungkin dilakukan.

Orang tua menduga dan menganggap, bahwa dengan fasilitas yang mewah dan uang jajan yang cukup sudah mewakili kebutuhan anak. Tidak.... mereka bukanlah benda yang begitu mudahnya disia-siakan.

Belum lagi betapa naifnya orang tua, tatkala anak mulai melakukan tingkah yang negatif, orang tua justru menyalahkan dengan membabi buta, ada sikap apriori tatkala menanggapi keluhan sang anak. Tatkala anak hendak mengatakan "Pah, Mah, aku butuh kalian. Aku kesepian di rumah". Pun orang tua selalu mengatakan "Papah dan Mamah sudah sibuk bekerja, membanting tulang mencarikan uang dan kebutuhanmu, kan? Kenapa kamu tidak mengerti juga?. Seperti itulah bentuk otoritarianisme dalam keluarga. Anak sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk berbicara dan menyampaikan isi hatinya.

Seperti dalam sampul film tersebut, tiga anak yang dilakban mulutnya, sekan-akan pertanda bahwa anak benar-benar tak memiliki hak untuk berbicara.

Kondisi semacam ini, sebenarnya banyak terjadi di sekitar kita, orang tua yang sukses dalam pekerjaannya, ternyata tak berbanding lurus dengan kesuksesannya di rumah. Justru dapat dibilang gagal. Anak terlihat kocar-kacir tak tentu arah. Mereka seperti tak memiliki pegangan hidup lantaran orang tua mereka sama sekali tidak memperdulikannya. Waktu kebersamaan mereka setengahnya sudah digantikan dengan uang-uang dan uang.

Tak hanya orangtua yang semestinya para guru mendidiknya para siswanya dengan benar karena para gurupun hakekatnya adalah orangtua pengganti saat mereka berada di sekolah.

Mendidik mereka selayaknya seperti anak sendiri. Mencintai mereka dengan tulus dan penuh kasih sayang.
Bahkan dalam ajaran agama Islam menjelaskan bahwa anak-anak adalah perhiasan sekaligus fitnah yang menguji orang tua serta orang-orang di sekitarnya agar mengerti bahwa mereka adalah amanah yang tak pantas untuk diabaikan. Film yang sepatutnya hanyalah tontonan pun hakekatnya bisa memberikan pelajaran berharga.

Ada beberapa nilai edukasi yang sepatutnya dipahami terhadap anak, antara lain:

Anak adalah pribadi yang unik dan menarik. Namun dari sisi uniknya ini anak-anak seperti kertas putih yang berkembang pengetahuannya sebatas apa yang dia pahami sesuai usia mereka. Sehingga mereka mengenal segala sesuatu berdasarkan apa yang dilihat dan dirasakannya. Tatkala anak adalah seperti kertas putih maka selayaknya diisi dengan coretan dan lukisan yang indah saja.

Ketika coretan kotor sudah merusak pribadi sang anak, maka dapat dipastikan atau dimungkinkan perkembangan anak dipengaruhi oleh apa yang ia pahami. Mereka akan bertumbuh sesuai dengan materi yang telah disusupkan dalam jiwa sang anak bahkan bisa berakibat fatal bagi masa depan mereka.

Orang tua bukanlah sosok teroris yang selalu meneror jiwa anak dengan kekerasan. Mereka butuh dipahami, dicintai dan didukung sepenuhnya pertumbuhan mereka dengam segenap jiwa dan raga. Biarkan anak berkembang sesuai dengan bakat mereka bukan atas keinginan orang tuanya sekalipun. Tak pantas pula intimidasi dan diskriminasi dialami anak dalam proses pendidikan mereka.

Disamping orang tuanya para guru sejatinya sosok yang juga memberikan pengarih terhadap perkembang anak didiknya.

Selama ini ada guru seringkali menganggap para siswanya seperti sebuah robot yang bisa dipaksa mengikuti kehendak dan cara guru dala mendidik mereka. Padahal anak memiliki potensi, bakat dan juga kelebihan yang sepantasnya dikembangkan secara optimal, mendengar aspirasi mereka agar proses pendidikan sejalan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Memahami anak tak cukup hanya dengan fasilitas yang mewah sedangkan orangtuanya terlalu asyik dengam dunia mereka sendiri. Anak melihat orang tuanya kadang ketika sarapan pagi sedangkan mereka kembali tatkala anak telah tertidur pulas.

Sekali lagi, anak adalah pribadi yang istimewa. Karena keistewaan inilah Tuhan menitipkan mereka kepada orang tua, guru, dan orang-orang disekitarnya agar anak dapat tumbuh dengan wajar dan mencapai cita-citanya demi masa depan dirinya pun terhadap bangsanya.

Salam

Metro, Lampung 

Tulisan ini sudah dipublikasikan di Kompasiana.com dengan sedikit editing dan penambahan.

divine-music.info

Senin, 31 Agustus 2015

Bapak Marwoto, 25 Tahun Mengabdi, Kini Dapat Hasilnya

Beruntung sekali saya berkenalan dengan seorang bapak dengan dua orang anak ini. Seorang bapak yang saya temukan ketika hendak mengikuti upacara HUT RI ke-70 beberapa waktu lalu. Bapak Marwoto namanya, seorang PNS yang telah memiliki dua orang anak. Seorang pegawai yang saat usianya sudah kepala empat ini bertempat tinggal di Lampung Tengah.

Sejenak dalam perkenalan dan obrolan singkat kami, diceritakanlah bahwa beliau setahun lalu diangkat sebagai PNS di wilayah Kota Metro tepatnya di SMPN 1 Metro.
Bapak Marwoto, Staf TU SMPN 1 Metro


Meski hanya percakapan basa-basi, tapi dari pembicaraan tersebut, tersirat sebuah kesabaran yang beliau jalani cukup lama sebelum beliau sah menjadi PNS di dinas pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga. Bagaimana tidak, sejak beliau bekerja sebagai honorer tahun 1991 sebagai penjaga sekolah di sekolah tersebut, beliau tetap gigih berjuang dan bertahan dalam kesabaran mengabdi dalam institusi pendidikan yang sampai saat ini menjadi primadona di kota kecil ini.

Kala itu, kurang lebih 25 tahun yang lalu, beliau menjalani hari-hari sebagai honorer dengan gaji awal sebesar 30 ribu rupiah, kemudian selama masa pengabdian, akhirnya beliau menikmati gaji honorer sebesar 700 rb sampai beliau diangkat menjadi PNS. Dengan gaji yang tak seberapa dan tempat kerja yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya tentu bukan bersoalan gampang. Tak hanya berhadapan dengan lelahnya pekerjaan, karena perjalanan menuju dan pulang ke rumah juga tak mudah. Apalagi jalan-jalan di wilayah ini tidak semua bagus. Meski sudah banyak yang di aspal, tapi lubang menganga di sana-sini. Tentu saja pekerjaan itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Hanya orang-orang yang kuat mental dan fisik yang tak lemah yang siap menjalani hari-hari berat tersebut demi mengabdi sekaligus mencari penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Kadang saya membayangkan, kog bisa dengan gaji seuprit itu beliau mencukupi kehidupan rumah tangganya? Kalau bukan karena nikmat Tuhan, tentu sulit diterima logika.

Saya tidak dapat membandingkan dengan kehidupan saya sendiri, meski saya pernah menjalani honorer kurang lebih enam tahun, ternyata tak mudah juga menjalaninya. Apalagi jika dibandingkan dengan apa yang dialami oleh bapak Marwoto ini.

Meski dengan gaji yang teramat kecil ternyata tak memupus semangat beliau dalam membantu sekolah ini, meski hanya seorang penjaga sekolah, bukan berarti pekerjaan beliau bisa dianggap mudah lantaran keamanan sekolah dan warganya menjadi tanggung jawab beliau. Dalam hati saya salut, ternyata di antara para honorer termasuk saya sendiri yang pernah menjalaninya, ternyata ada yang lebih lama dan berat lagi tugasnya ketika saya berjumpa dengan beliau.

Bahkan, ketika saya teringat bagaimana saya pernah mengeluh lantaran saya honor hanya bermodalkan sepeda butut, saya mengayuh sepeda saya sejauh 5 km, tapi ternyata beliau justru lebih jauh lagi dan medan tugasnya juga tak mudah.

Kesabaran bapak Marwoto, Cermin bagi Honorer lain

Selain saya bandingkan dengan kehidupan saya sendiri ketika menjalani tugas saya sebagai honorer, ternyata masih ada saja honorer yang mengeluhkan nasib mereka. Setiap melakukan pembicaraan selalu saja curhatan terkait kapan masuk ke seleksi PNS dan kapan diangkat menjadi PNS adalah salah satu trend pembicaraan. Tak hanya di dunia nyata, karena di dunia maya-media sosial- seakan-akan menjadi hiasan yang tak kan lengkap jika status ini tidak terlontar.

Dalam hati saya kecut, kenapa para honorer saat ini selalu saja memperbincangkan kebijakan pengangkatan PNS bagi mereka. padahal ketiak saya telusuri, ada di antara mereka yang baru saja lima tahun mengabdi dengan honor yang saya yakin jauh lebih besar dari gaji pak Marwoto. Tapi honorer tersebut justru selalu menyampaikan keluhannya di medsos. Tanpa tedeng aleng-aleng mencela kebijakan pemerintah terkait pengangkatan honorer dan seakan-akan pemerintah telah salah kenapa mereka tak juga diangkat menjadi PNS.

Saya maklum, karena memang tak mudah jadi honorer. Lantaran saya sendiri mengalami pahit getirnya menjadi honorer dengan gaji 150 rb dengan menghidupi satu orang istri dan satu orang anak kala itu, bahkan ada sahabat saya yang dengan 300 rb menggantungkan hidup keluarganya dari dana BOS yang notabene teramat kecil. Padahal di antara mereka ada yang memiliki 3 atau 4 orang anak.

Tapi, sayang sekali, dengan gaji tak seberapa itu, mereka para honorer tidak mencari penghasilan lain yang bisa mencukupi kebutuhan harian selain honor yang tak seberapa. Ya misalnya bekerja atau membuat usaha sampingan yang lebih pasti daripada terlalu menggangtungkan diri pada honor tersebut.
Namun demikian, jika melihat begitu gigihnya bapak Marwoto ini, tentu para honorer akan malu dan paling tidak mawas diri, ternyata ada yang lebih sulit menghadi pekerjaan sebagai honorer dibandingkan diri mereka sendiri. Tak hanya menghujat kebijakan pemerintah, tapi harus menimbang situasi bahwa menjadi honor memang benar-benar mengabdi. Bekerja dengan menyumbangkan tenaga dan pemikiran bahkan biaya demi negeri yang tengah membangun ini.

Menjadi honorer, tidak semestinya patah arang

Tak mudah memang menjalani kehidupan sebagai honorer dengan gaji kecil, apalagi masa pengabdiannya membutuhkan waktu yang tidak sedikit, ada yang hingga puluhan tahun bahkan dua puluh lima tahun dijalani demi ingin diangkat sebagai PNS. 

Seperti halnya bapak Marwoto yang sejatinya boleh jadi pernah merasakan getirnya menjadi honorer, dengan menjalani masa-masa sulit itu ternyata tak menyurtkan langkahnya demi mengabdi sebagai penjaga sekolah. Dan alhamdulillah di tahun 2014, beliau diangkat dan saat ini bekerja sebagai staf administrasi di sekolah yang selama ini beliau mengabdikan diri.

Selamat bekerja tuk bapak Marwoto, semoga dengan status sebagai PNS ini menjadikan Anda semakin bersemangat lagi, dan dapat menikmati jerih payah yang selama ini dikerahkan demi menjalani proses pengabdian yang cukup panjang.

Semoga saja, para honorer lain bisa belajar dari beliau dengan tetap bersemangat membangun negeri ini meski dengan ilmu dan tenaga yang tidak sedikit. Yakinlah bahwa usaha mereka mendapatkan balasan yang setimpal di hadapan Tuhan. amiin

Salam

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Jumat, 10 Juli 2015

Mengasah Kepekaan Anak Dengan Berpuasa

Selamat datang bulan suci penuh berkah Ramadhan Karim (gambar: kabargue.com)

Alhamdulillah, hari ini sudah memasuki sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Bulan penuh barokah, rahmat dan ampunan ini. 

Bulan di mana di dalamnya orang-orang beriman diwajibkan berpuasa sebagai manifestasi atau perwujudan penghambaan secara totalitas. Dan harapannya dengan amaliah puasa itu, diharapkan setiap orang yang menjalankannya mendapatkan predikat takwa.

Sebagaimana tertuang dalam firman Allah SWT surat Al Baqoroh ayat 183:



Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Berpijak pada ayat inilah, setiap umat Islam diwajibkan menjalankan ajaran suci ini demi memperoleh kesempurnaan sebagai mukmin sejati sehingga kita bisa menjalankannya dengan totalitas dan keikhlasan tanpa merasa terbebani apalagi merasa menderita atas ujian kesabaran dalam lapar, haus serta segala macam larangan yang melingkupinya.

Sudah lebih setengah perjalanan semua pernak-pernik amaliah dilaksanakan demi merengkuh segenap keutamaan yang ada dalam bulan suci Ramadhan ini. Keutamaan yang tidak dapat diperoleh di bulan-bulan lainnya. Karena di dalamnya ada malam yang lebih utama dari seribu bulan yaitu malam lailatul qadar.

Bulan Ramadhan seperti yang tersimpul dalam keutamaan bulan ini adalah berfungsi sebagai bulan pembelajaran. Di mana setiap orang Islam dapat menjadikan bulan Ramadhan ini sebagai proses pembelajaran terhadap fenomena alam dan masyarakat di sekitar kita. Tak hanya untuk orang-orang yang dewasa, karena anak-anakpun hakekatnya mendapatkan pelajaran agar memiliki kepekaan terhadap persoalan di sekitarnya.

Kepekaan terhadap kehidupan orang-orang di sekitarnya merupakan dimensi yang tak boleh diabaikan. Bagaimana sang anak bisa peduli terhadap kesulitan orang-orang tak mampu. Bahkan tak hanya orang tak mampu, lantaran di dalam bulan suci ini memberikan kesempatan untuk saling berbagi kepada semua kalangan. Bahkan tak hanya kepada sesama umat Islam, karena anjuran berbagi semestinya pun untuk semua penduduk bumi tanpa memandang warna kulit dan agama. Tentu saja harapannya dengan saling berbagi ini, terciptalah romantisme masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan dengan niat semoga saja dengan langkah kecil itu menjadi ladang amal sekaligus media dakwah bagi orang-orang di sekitarnya.

Apalagi dalam Islam, dakwah hakekatnya tak hanya materi-materi ceramah di masjid atau mushola dan media massa seperti televisi dan radio, lantaran dakwah semestinya menyentuh persoalan riil yang ada di masyarakat. Menyumbang yang bisa disumbangkan meskipun sebutir kurma atau uang seribu rupiah merupakan wujud bukti kepekaan terhadap masyarakat di sekitarnya.

Dan semestinya, ketika dakwah bil qouli itu dijalankan, maka semestinya setelahnya dakwah bil fi'li (perbuatan) bun dilaksanakan agar kesempurnaan dakwah benar-benar tercermin dan dapat dirasakan manfaatnya bagi seluruh umat manusia, minimal orang-orang di sekitarnya.

Berpuasanya anak-anak, bukti bahwa Allah SWT mengajarkan mereka untuk peduli sesama

Dalam Islam, kewajiban berpuasa hakekatnya disandangkan hanya kepada orang-orang yang sudah dewasa, sehingga bagi anak-anak, puasa Ramadhan hanya sebagai bahan latihan agar mereka terbiasa menjalankannya ketika nanti usia mereka sudah memasuki masanya kewajiban ini dilaksanakan. 

Terlebih lagi, ibadah puasa menjadi bagian pendidikan kepada anak agar senantiasa bersikap sabar, jujur, peduli lingkungan dan tentunya mengajarkan tentang nilai kasih dan sayang kepada umat manusia.

Seperti halnya ketika keluarga kita memberikan semangkuk cendol atau kolak kepada tetangga, sang anak biasanya menanyakan untuk apa kog makanan itu diberikan sama tetangga? Tentu saja kita akan menjelaskan bahwa di bulan Ramadhan ini adalah saat terbaik untuk berbagi rezeki. Berbagi kebahagiaan dari sebagian rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Meskipun berbuat baik tak hanya di bulan Ramadhan, tapi bagi pendidikan anak, tentu saja aktifitas terbaik dari orang tuanya akan menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Apalagi dibulan Ramadhan ini, setiap ibadah yang kita laksanakan dilipatgandakan pahalanya di sisi Allah, sehingga menjadi motifasi positif bagi umat Islam dalam menunaikan ibadah mulia ini.

Oleh karena itu, secara tidak langsung, sang anak meskipun tidak diperintah, akan mengerti bahwa sebagai umat Islam semestinya saling mencintai dan menyayangi umat lain dengan berwujud memberikan hidangan sekedarnya. Tak hanya ketika kita mau memberikan sebagain kecil dari hidangan yang suguhkan tentu bisa juga ketika kita mengajarkan sedekah kepada orang yang tak punya agar anak-anak kita bisa menjadikan teladan dalam kehidupan mereka.

Ada banyak hal di bulan Ramadhan ini yang menjadi media untuk mengajarkan kepada mereka hakekat nilai ketakwaan ketika umat Islam berpuasa. Berpuasa tak hanya mampu menahan lapar dan haus belaka, tapi wujud nyata kepedulian kepada sesama adalah manifestasi nilai ketakwaan itu sendiri.

Tidak berbuka puasa dengan berlebih-lebihan mengajarkan kesederhanaan

Sudah bukan menjadi rahasia umum, bahwa di saat bulan Ramadhan, kita tergoda dan tergiur dengan sederet kebutuhan, apalagi kebutuhan untuk berbuka puasa. Semeja hidangan biasanya dihidangkan dengan menu yang bervariasi. 

Kondisi ini, tentu saja menjadi pelajaran yang kurang baik bagi anak-anak muslim, tatkala agama mengajarkan tentang kesederhanaan, ternyata di antara kita justru mengajarkan pemborosan dan sikap berlebih-lebihan. Tentu saja  kebiasaan ini kurang bisa ditiru lantaran anak-anak membutuhkan teladan yang baik, seperti apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Beliau menikmati tiga butir kurma saja demi mengganjal perut yang kosong setelah menunaikan puasa seharian.

Bagaimana dengan dengan kita? Apakah kita juga mengajarkan kesederhanaan kepada anak-anak kita? Atau justru sebaliknya kita justru mewariskan budaya pemborosan dan berlebih-lebihan demi memuaskan nafsu yang dikekang selama seharian.

Semoga saja, kita menjadi bagian dari orang tua yang senantiasa mengajarkan kesalehan kepada anak-anak kita. Tak hanya berbentuk ibadah wajibnya saja, melainkan wujud ibadah sunah dan ibadah sosial yang akan membawa mereka menjadi manusia-manusia berbudi pekerti luhur dan menjadi umat Islam yang mantap dalam memegang teguh agama ini.


Salam


Sabtu, 13 Juni 2015

Angeline, Ketika Amanah Tuhan Tak Lagi Dijaga



Prihatin sekali ketika saya melihat berita di beberapa media yang mengisahkan kepiluan seorang anak angkat (adopsi) yang ternyata harus mendapatkan siksaan hingga berujung kematian. Siksaan secara psikis maupun fisik diterima seorang anak yang berumur delapan tahun. Anak-anak yang sejatinya adalah amanah Tuhan yang semestinya dijaga agar mereka bertumbuh seperti anak-anak lainnya.

Angeline, anak usia dini yang sejatinya amat polos dan lembut tatkala harus merasakan kehidupan yang amat mengerikan dalam hidupnya. Ia disiksa selayaknya tak memiliki kehormatan, di hukum jiwanya seakan-akan tak memiliki rasa. Entahlah, apakah pelakunya adalah sosok yang memiliki jiwa dan rasa? Apakah pelakunya adalah sosok yang tak pernah memikirkan betapa keji dan biadabnya prilaku mereka tatkala anak yang masih muda ini harus diperlakukan tidak senonoh. Sungguh pelakunya adalah orang-orang yang tersesat jiwanya dan semestinya mendapatkan penerangan (hidayah) agar mereka kembali ke jalan yang diridhai Tuhan.

Anak yang sejatinya diadopsi oleh orang lain yang sepatutnya mendapatkan didikan dengan kasih sayang. Tak hanya terpenuhinya kebutuhan jasmani saja, karena batinnya pun membutuhkan belaian dari orang-orang di sekitarnya. Terutama seorang ibu yang meskipun hanya sebatas sebagai ibu angkat pun sepatutnya tidak menganggap mereka sebagai anak lain. Cukup sudah mereka lepas dari kasih sayang orang tua kandung, tapi jangan pula kesendiriannya harus digantikan dengan kekerasan yang hingga berujung kematian itu.

Agustinus Tai yang semestinya bisa mengayomi dan menyayangi, seorang yang sejatinya sepantasnya dipanggi kakak atau ayah, ternyata begitu teganya melakukan kekerasan hingga tewas dan menguburkannya di belakang rumah demi menghilangkan jejak.

Begitu pula ibu angkatnya yang sejatinya menjadi tempat tumpuan kasih sayang serta tempat berbagi rasa suka dan duka,  ternyata seolah-olah membiarkan anak angkatnya harus meregang nyawa di tangan seorang pembantunya sendiri yang semestinya pun harus menjaganya.

Seorang ibu yang semestinya memiliki jiwa yang lembut dan penuh kesabaran, ternyata diduga memiliki gangguan jiwa. Bahkan menurut penelitian dokter, ia dikatagorikan sebagai seorang psikopat. Sosok yang memiliki kepribadian ganda. Ketika berhadapan dengan kedua anak kandungnya ia seperti penuh cinta dan kasih, tapi ketika berhadapan dengan anak angkatnya, justru wanita ini menunjukkan prilaku yang keji.

Bahkan menurut media, ibu angkatnya pun sering memarahi Angelina dan memukuli anak angkatnya ini seakan-akan si anak adalah karung pasir yang siap dipukul dan ditendang oleh seorang petinju. Ada apa gerangan dengan orang-orang yang berprilaku keji ini. Apakah kepribadian mereka benar-benar sudah lepas dari ranah kemanusiaan yang semestinya menyayangi orang-orang di sekitarnya?

Apa dikira dengan melakukan kekerasan terhadap anak mereka akan begitu saja bisa menikmati udara bebas? Dan apakah mereka menyangka bahwa dengan melampiaskan amarah terhadap anak kecil dan memukulinya akan memuaskan hatinya dan membuat kehidupan menjadi lebih terhormat? Sungguh salah kaprah pemahaman ini. Orang-orang yang bergaya modern seperti ini justru seringkali salah dalam menilai sesuatu, ia beranggapan dengan melakukan kekerasan terhadap anak kehormatannya akan tetap terjaga dan ia menganggap bahwa dengan menghakimi si anak dengan segenap kekerasan akan memuaskan hatinya? Ternyata tidak, bukan? Justru dengan prilaku keras terhadap anak menyeretnya pada tindakan yang melanggar sifat kodrati kemanusiaan dan tentu saja melanggar hukum. Baik agama maupun hukum negara.

Jangankan lepas dari jeratan hukum dunia yang akan ia dapatkan, hukum akhirat yang teramat sakit tentu saja akan ia temui di hadapan malaikat jabaniyah yang siap menghukum setiap hamba Tuhan yang berdosa dengan hukuman yang setimpal.

Perbuatan keji, biadab dan tak berprikemanusiaan tentu saja akan berakhir pada hukum Tuhan, hukum negara dan tentu saja hukum sosial yang tak kan terlupakan.

Kejahatan terhadap Angeline, seorang anak yang semestinya mendapatkan kebahagiaan bersama orang-orang yang dicintainya, tentu saja menjadi catatan buruk. Tak hanya catatan buruk di negeri ini, karena juga akan menjadi mimpi buruk yang mudah saja terjadi lagi terhadap anak-anak lain. Tak hanya anak angkat yang notabene tak memiliki aliran darah dari ibu angkatnya. Karena kejahatan dan kekerasan terhadap anak pun boleh jadi akan terjadi pada anak kandungnya. Seperti halnya yang telah terjadi akhir-akhir ini, seorang ibu tega menyiksa, dan membunuh anak kandungnya sendiri lantaran tak mampu menahan emosi lantaran sang anak yang terus saja menangis dan rewel karena permintaannya tidak terpenuhi.

Bahkan tak hanya karena rewelnya anak, karena himpitan ekonomi dan tekanan dan gaya hidup yang semakin tak terjangkau menjadi awal persoalan munculnya masyarakat dengan jiwa-jiwa kerdil dan memiliki kepribadian yang keji. Seperti halnya ibu angkat Angeline yang diduga memiliki kelainan jiwa, psikopat tepatnya.

Anehnya, meskipun kepribadian ibu angkat (Margriet) tersebut tergolong dan dikategorikan gangguan jiwa, ternyata begitu mudahnya ia mengadobsi anak. Bahkan disebut-sebut belakangan ini dengan cara yang tidak sesuai aturan. Apakah karena faktor uang, seorang wanita psikopat ini bisa dengan mudahnya mengambil anak orang untuk dirawat? Entahlah. Yang pasti, seseorang yang hendak mengadobsi anak semestinya memiliki kepribadian yang baik dan ekonomi yang mencukupi ketika harus mengurus anak angkatnya.

Tak hanya persoalan kepribadian yang baik serta ekonomi yang mapan, karena seseorang yang menjadi ibu adopsi, tentu melalui uji kepribadian dan kejiwaan yang akan menjadi bahan penilaian apakah mereka bisa mengadopsi anak atau tidak. Nah, jika hasil uji kejiwaan ini ternyata berhasil, maka si calon ibu angkat ini berhak mengabdopsi anak yang diinginkan. Itupun harus selalu diawasi dan dikontrol apakah kondisi kejiwaannya tetap stabil atau justru labil lantaran pengaruh himpitan ekonomi dan persoalan sosial lainnya.

Semoga pelaku kekerasan terhadan Angeline dan anak-anak lainya, akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan semoga pula menjadi pelajaran agar kita semua bisa menjadi orang tua kandung maupun angkat yang selalu menjaga anak-anaknya. Merawat mereka dengan kasih sayang serta melindungi mereka dari kejahatan orang-orang yang tidak berprikemanusiaan.

Sepatutnya para ibu dan ibu-ibu angkat lain bisa mencerna dan mengambil hikmah dari puisi ini:

Anak Kita

anak kita
titipan Tuhan untuk kita
kita jaga hingga dewasa
temukan diri sendiri kala sempurna

anak kita
bukan benda mati meski tak berdaya
bukan semata rangka berbalut daging dan kulit tanpa rasa
mereka adalah hamba yang memiliki jiwa

anak kita
puaskan dirinya dengan cinta
banggakan hatinya dengan kehormatan

anak kita
mereka tak seperti hewan
tak jua laksana gerabah yg siap dipajang
hanya pelengkap hidup dikala senggang

anak kita
meski tak sempurna janganlah kau siksa
arogansi jiwamu kala tersesat narkoba
dihina dina dgn siksamu meruda paksa


Salam.

Metro, 13 Juni 2015

Rujukan : http://news.detik.com/read/2015/06/13/072806/2941328/10/kapolda-bali-dari-hasil-tes-margriet-psikopat

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Kamis, 11 Juni 2015

Film Keluarga Cemara, Cermin Kesederhanaan



Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga. Selamat pagi emak, selamat pagi abah. Mentari ini berseri indah. Terima kasih emak, terima kasih abah Penuh hati berkata dari kami putra putri yang siap berbakti.
 
Lirik Lagu Keluarga Cemara

Masih ingat sewaktu usia masih tingkat SLTP,  di putarlah film nasional yang sampai saat ini tidak dapat dilupakan karena penuh dengan inspirasi positif. Film yang mengisahkan tentang kesederhanaan sebuah keluarga, orang tua dan anak-anak yang bergumul dalam komunikasi yang banyak arah, di bumbui adab dari masing-masing lakon sepertinya tidak dapat dilupakan. Karena film tersebut selain mencerminkan keluarga Indonesia yang utuh, juga menampilkan pola keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang tercermin dalam bertutur kata antara anggota keluarganya.

Film Keluarga Cemara diproduksi sekitar tahun 1990 an oleh Atmo Production dan mulai di putar pertama kali oleh stasiun RCTI pada tahun 1996 oleh Atmo Production. Film ini merupakan film yang diangkat dari kisah dalam buku Keluarga Cemara karangan Arswendo Atmowiloto dengan para pemain di antaranya Novia kolopaking, Lia Waroka, Adi Kurdi, Anneke Putri serta pemain-pemain lain yang ikut membantu terselesainya film yang bergenre keluarga tersebut. Film tersebut mengisahkan bagaimana peran seorang ayah Abah yang sangat perhatian kepada keluarganya, sabar dan bertanggung jawab, sosok ibu Ema yang menjadi panutan bagi anak-anaknya serta anak-anak yang amat patuh dan rukun serta mencintai keluarganya.

Apa sebenarnya yang menarik dari film tersebut sehingga pantas untuk menjadi rujukan film-film saat ini?

Film yang pernah jaya pada masanya ternyata dapat menginspirasi banyak keluarga agar kehidupan mereka selalu mencerminkan kehidupan yang apa adanya. Tanpa unsur glamour, tanpa menunjukkan kemewahan yang seakan-akan nyata, serta orang tua yang senantiasa perhatian kepada anaknya. Sebaliknya anak-anak yang hormat, patuh dan mencintai orang tuanya sehingga terwujudlah keluarga yang menjadi idam-idaman semua orang.

Dalam alur cerita menunjukkan bahwa hakekatnya keluarga adalah segalanya seperti ungkapan rumahku adalah surgaku karena kehidupan berjalan apa adanya, masing-masing anggota saling mencintai dan mengasihi sehingga tidak ada percekcokan panjang yang dapat berakibat fatal. Karena semua konflik dapat diselesaikan dengan cara kepala dingin dan kekeluargaan.

Jika melihat fenomena keluarga modern saat ini, di mana kehidupan glamour menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga era kekinian, dengan seabrek konflik dan pertentangan di dalamnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat kota. Bahkan sesuatu yang semestinya menjadi aib dalam sebuah keluarga justru dipertontonkan dengan sangat gamblang tanpa memandang siapa penontonnya dan bagaimana pengaruh yang akan ditimbulkan jika film denga format keluarga "acak-acakan" tersebut menjadi tontonan sehari-hari. Maka yang terjadi adalah anak-anak "bau kencur" yang tidak mengenal sama sekali konsep sebuah film yang akan menjadi korban.

Ini terlihat, semenjak bebasnya televisi menyiarkan film, sinetron yang "kurang mendidik" yang muncul adalah anak-anak seakan-akan bebas dalam bergaul, kekerasan antar remaja di mana-mana serta konflik keluarga yang berujung pada perceraian. Anak berani kepada orang tuanya, dan orang tua yang tega meninggalkan anak-anaknya demi sebuah kepuasan duniawi semata.

Jika melihat fenomena tersebut sepertinya para seniman perfilman seperti dibutuhkan kembali peran mereka untuk memproduksi film atau sinetron yang mencerminkan kehidupan yang diidam-idamkan setiap orang film yang menjadi suguhan bagi segala umur, mendidik dan tidak terkesan mengada-ada serta mencerminkan kehidupan yang sederhana.



Salam



Sabtu, 06 Juni 2015

(Catatanku) Perjalanan Panjang Bersama Anak-anak ABK



Beberapa tahun silam, saat itu usiaku masih belasan tahun, karena aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya sering diajak silaturrahmi oleh Bapak ke tetangga-tetanggaku. Bapak tak memilih-milih teman bermain lantaran bagi beliau semua orang adalah saudara, meskipun kadang berbeda latar belakangnya.

Tak hanya perbedaan latar belakangnya, karena faktor fisik pun tak menghalangi bapak untuk menjalin komunikasi dengan orang-orang yang berbeda kondisi fisiknya sekalipun.

Kebetulan di suatu waktu, bapak mengajakku bermain di salah satu tempat kursus (balai latihan kerja) bagi para penyandang disabilitas (difable). Rerata mereka memiliki fisik yang kurang sempurna. Lebih tepatnya menurut para ahli kelemahan fisik tersebut dinamakan tuna daksa. Yaitu salah satu jenis kelemahan dan kekurangan yang ditandai tidak sempurna dan kurang ata tidak sama sekali berfungsi salah satu atau sebagian dari fisiknya. Misalnya kaki, tangan, atau seluruh tubuhnya misalnya. Yang jelas tuna daksa memiliki kelemahan secara fisik. Walaupun adapula yang menyatakan bahwa tuna daksa tidak semata-mata kelemahan fisik semata tapi saraf motoriknya yang juga terganggu.

Apapun itu, yang pasti mereka yang memiliki kelemahan fisik itu, saya melihatnya justru begitu sempurna. Mereka bisa melakukan pekerjaan orang-orang pintar kebanyakan tanpa dibantu. Jangankan orang lain, saya sendiri kayaknya tidak bisa melakukan pekerjaan mereka.

Apa sih pekerjaan dan aktifitas mereka?

Para penyandang difable tersebut ternyata memiliki kemampuan tekhnik elektro yang baik. Saya kurang paham awal mula mereka diajarkan tentang bagaimana memperbaiki alat-alat elektronik tersebut. Nyatanya radio yang diberikan bapak untuk diperbaiki ternyata bisa digunakan lagi.

Tak hanya radio, televisi dan beberapa alat elektronik lain begitu mudahnya diotak-atik dan kemudian diservis lagi agar bisa menyala dan digunakan oleh pemiliknya. Dalam hati saya salut dan tertarik untuk mengenal mereka lebih dekat. Meskipun saat itu usiaku benar-benar masih bau kencur.
Saya tidak sungkan, malu atau merasa jijik, lantaran menurut Bapak (kala kecil saya sering mendapatkan nasihat) semua orang mesti dihormati dan dihargai lantaran mereka sama-sama mahluk Tuhan. Meskipun tak banyak yang mau mendekati orang-orang yang berkebutuhan khusus tersebut. Tapi bagi saya semua adalah kekurangan sekaligus kelebihan yang diberikan Tuhan kepada semua hamba-hambaNya.

Setelah perkenalan saya beberapa waktu lalu yang sampai saat ini masih saja tersimpan di memory saya, meskipun saat ini BLK (tempat kursus) tersebut sudah raib entah kemana, ternyata rasa penasaranku terjawab sudah tatkala beberapa tahun yang silam pula aku diperkenalkan oleh tetangga desaku terkait sekolah bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Padahal awalnya saya honor di sebuah sekolah dasar yang notabene siswa-siswinya memiliki kecerdasan yang baik dan banyak menorehkan prestasi di tingkat kabupaten.

Terlepas dari latar belakang saya yang pernah honor di SD Negeri, perkenalan saya dengan SLB pun tak diduga dan direncanakan sebelumnya. Seperti apa yang saya sampaikan di muka, bahwa segalanya mengalir begitu cepat, tak dinyana dan diduga ternyata Allah mempertemukanku dengan anak-anak bangsa yang memiliki kelemahan fisik maupun psikis. Anak-anak yang tak semua orang mau mendidik mereka. Bahkan ada yang sama sekali tidak mau menyentuh anak-anak ini lantaran merasa jijik.
Alhamdulillah, karena saya pernah mengenal mereka bertahun-tahun silam, ternyata sampai saat ini membawaku betah mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak berkebutuhan khusus di SLBN Metro sebagai institusi yang saat ini menaungiku.
____________

Kembali kepada judul artikel ini, kenapa saya membahas tentang latar belakang guru non PLB kog mau-maunya menjadi guru SLB? Gak salah jalur tuh mas? Apakah Anda gak merasa tersesat dan sulit beradaptasi?

Pertanyaan demi pertanyaan tersebut memang sering saya dapatkan. Bahkan sampai saat ini pertanyaan itu masih saja menggelayut dalam benak saya. Kog bisa-bisanya saya yang lulusan agama justru menjadi guru SLB?

Awalnya saya sempat tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi, setelah saya renungi dan rasakan lagi ada rahasia dan hikmah apa yang sebenarnya diberikan Allah padaku, ternyata semua karena Allah ingin memberikan kesempatan padaku mendapatkan ilmu, pengalaman serta pahala yang berlimpah tatkala mau benar-benar mendidik anak-anak berkebutuhan khusus.

Bagaimana mungkin guru yang biasanya mencari jalan aman dan nyaman, kog bisa-bisanya mau mengajar dan mendidik anak-anak berkebutuhan khusus yang notabene penuh kekurangan? Entah kekurangan fisik maupun psikis.

Tapi sekali lagi, ini adalah rahasia Allah Tuhan Yang Maha Esa, yang menitipkan anak-anak istimewa ini kepada saya supaya saya mau mendidiknya dengan sepenuh hati. Meskipun tak mudah memang mendidik dan membimbing anak-anak berkebutuhan khusus.

Dan bukan bermaksud pencitraan, karena apalah artinya pamer prestasi jika faktanya nol besar. Apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan yang seringkali dianggap remeh, meskipun amat berat. Ialah guru sekolah luar biasa. Guru yang sehari-harinya dihadapkan dengan anak-anak yang mempunyai kelebihan atau kekurangan di sana-sini. Tapi semangat tak akan pernah padam demi membangkitkan semangat untuk maju, berkembang dan mandiri. Guru bagi anak-anak disabilitas, di satu sisi dilecehkan dengan predikat bermacam-macam, kadang mereka menduga mendidik anak penuh kekurangan dianggap sepele, seperti misalnya ucapan heleh cuman ngajar SLB aja....!?, atau Lah murid cuma enam apa susahnya, Pak? Saya hanya bisa menggeleng-geleng kenapa ada saja yang begitu naif dan sinisnya para komentator berkomentar sinis tersebut.

Meskipun di antara mereka yang melecehkan dan sinis, adapula yang menaruh penghargaan yang tinggi kepada para guru-guru yang juga luar biasa ini. Meskipun di antara mereka yang peduli pun hanya sebagian saja yang mau peduli akan nasib guru-guru bagi anak-anak disabilitas.
Tidak hanya faktor lingkungan, dalam dunia kedinasan pun kadangkala cemoohan dan sikap merendahkan seringkali terlontar dari para penyelenggara negara. Seakan-akan mereka tahu bagaimana sulitnya mendidik anak-anak yang penuh dengan kekurangan. Jangankan pernah menyentuh, berusaha memahami kekurangan merekapun acap kali sulit dilakukan.

Yang pasti, mendidik anak-anak ABK tak hanya berbekal kepandaian semata, tapi kesabaran, keteguhan, ketelatenan, kesabaran dan tentu muka tembok, lantaran tak semua orang menghargai guru-guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Dan alhamdulillah dengan kesabaran dalam mendidik dan melatih mereka, sedikit demi sedikit kebiasaan yang kurang baik dari anak-anak ini bisa diatasi. Bermacam-macam keterampilan juga dapat saya berikan meskipun tak seratus persen selayaknya anak-anak pada umumnya. Dan alhamdulillah juga sudah beberapa kali anak-anak yang saya bimbing mampu tembus juara lomba dan bisa naik podim yaitu bidang sains IPA, Fisika dan Puisi dengan perolehan tropi juara 1 sd 2 dan mengantarkan siswa saya bisa berangkat  ke tingkat nasional.

Semoga tulisan ini bisa menjadi penyemangat bagi guru-guru dan alumnus pendidikan keguruan agar tak rendah hati ketika harus berhadapan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Karena mereka ibarat mutiara yang butuh dimengerti dan dipahami agar kelak mereka menjadi anak-anak yang berguna bagi nusa, bangsa dan negara serta agama. Mandiri secara sosial maupun finansial dengan bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuan yang mereka miliki.

Salam

Metro, 03.06.2015 (02:58am)

divine-music.info

divine-music.info



divine-music.info





Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!