Sabtu, 22 Agustus 2020

Cerpen : Wajah Kotoran Kita

Sampah di sekitar kita (pikiran-rakyat.com)


 Cerpen: Wajah Kotoran Kita

Penulis: M. Ali Amiruddin


Pagi ini begitu cerahnya. Sang surya tersenyum ramah, membagikan kehangatan pada semua yang berlalu-lalang, tidak hanya manusia yang begitu bersemangat menikmati sejuknya pagi ini, ternak pun merasakan hal yang sama, “alhamdulillah aku bisa menikmati rumput nan hijau di pagi ini. Bisa mengganjal perutku yang kosong.” Para sapi seolah-olah mengungkapkan segenap rasa bahagia, lantaran rerumputan di pemangatan awah itu masih bebas bertumbuh di sana.

Rumput yang berpelukan dengan sisa-sisa batang padi yang memang ditinggalkan sejengkal dari tanah, ternyata menumbuhkan tunas menghijau yang menggoda para peternak dan sapi-sapinya.

Segerombolan sapi asik menapak kaki di jalanan desaku. Jalanan yang berwarna gelap karena dilapisi aspal itu nampak ramai dengan sapi  yang hendak menuju tempat pemancangan. Sedangkan di depannya beberapa pemilik sapi menuntun di depannya, sedangkan para gudel (anakan sapi) beriringan di belakang induknya.

Ternak-ternak mulai menggeliat dan menuju tempat ia dipancangkan. Para pemilik ternak asik memegang tambang besar itu menuju ke salah satu petak sawah. Hijaunya rerumputan di sana memancing sapi-sapi untuk menikmati surga di sana. Surga bagi sapi dan bagi pemiliknya.

Ujang melangkah penuh semangat menuntun sapi-sapinya, senyumnya yang sumringah seolah-olah menunjukkan betapa pagi ini sungguh membahagiakan.

Dalam suasana cerah itu, aku sengaja berlari-lari kecil di sepanjang jalan desa. Pagi itu memang belum ada yang berlari-lari kecil sepertiku. Hanya pengendara sepeda yang sepertinya menikmati olahraganya. Peluh sedikit demi sedikit membasahi kaos yang aku kenakan.

Napas masih memburu dan tubuh ini mulai merasa segar.

Sebenarnya aku berharap ada yang juga berlari, ya anggap saja ada teman ngobrol di jalanan, sambil menikmati indahnya persawahan di sana. Meskipun sawah-sawah sudah tidak ada lagi hamparan padi lantaran panen, paling tidak junjungan pematang-pematan sawah ini menambah kesan indah dengan berlatar belakang pepohonan nan hijau.

Tak sengaja mataku melihat wanita berusia senja yang membuang sampah ke ledeng. Tanpa rasa bersalah, dia melemparkan begitu saja sisa-sisa dapur bercampur dengan plastik wadah makanan. Pemandangan yang sungguh tidak nyaman untuk dilihat. Kudekati wanita itu.

“Maaf, Nek. Kenapa membuang sampah di ledeng? Tanyaku sambil melihat sang nenek membawa wadah yang tadi untuk membawa sampah.

“Nenek apa memang nggak ada yang mengingatkan,  kalau sampah itu merusak lingkungan?” Mataku masih menatap si nenek dengan tajam. Sedangkan wanita itu memicingkan mata. Wajahnya menampakkan dirinya yang tak mau dilarang-larang. Ia tak mau diusik.

“Kamu tahu apa, kog nglarang-larang nenek? Kamu siapa sih sok kayak pejabat aja.” Nenek berbicara ketus.

“Waduh, Nek. Kalau begini caranya bisa banjir, nih? Gumamku. Wajah nenek masih terlihat marah lantaran aku ingatkan.

“Nek, akibat sampah yang nenek buang itu akan mengotori air kita. Saluran di bawah lama-lama tersumbat. Dan akibatnya nenek kan juga tahu??” Kataku sambil mengingatkan, mungkin saja sang nenek sudah agak berkurang ingatannya. Maklum usianya juga mulai uzur.

Entah mengapa, sang nenek justru berpaling dariku pergi begitu saja. Aku heran, kenapa kebiasaan jelek ini bisa dilakukan.  Apa memang nenek ini terbiasa membuang sampah sembarangan? Tidak tahu pasti. Tapi banyak orang yang aku temui memiliki kebiasaan buruk dan tak layak ditiru.

Aku kembali meneruskan olahraga pagi ini, hingga beberapa menit berlalu, tubuh sudah bermandikan peluh. Tak terasa rasa lelah melanda. Aku kembali ke rumah dengan tubuh yang basah. Tapi, nggak apa-apa, bagiku olahraga ini menyenangkan. Meskipun tadi nampak membuat aku kecewa. Seorang nenek yang seharusnya memberi teladan yang baik, nyatanya sikapnya tidak layak ditiru.

Kulangkahkan kaki perlahan. Aku lihat seonggok berambut ada di sisi tembok pagar tetanggaku. Ku pungut dan kumasukkan ke dalam polybag tanaman obat di sana. Ada kunyit, kencur dan jahe. Ada pula lengkuas yang juga tumbuh lebat di sana. Ambil segenggam demi genggam, ku isi polybag itu agar tanaman-tanaman yang aku pelihara menjadi lebih subur.

“Sungguh nyaman suasana pagi ini,” kataku sambil menikmati kudapan jajanan di pagi hari selepas melemaskan otot-otot yang tegang karena kelamaan duduk. Kopi susu masih teronggok di meja tamu yang isinya tidak sedikit. Kutegguk dan kembali aku lanjutkan kegiatan di pagi ini.

“Mau angon pak?” tanyaku.

“Iya, Pak.” Jawab penuntun sapi itu dengan santai sambil tangannya tetap menuntut sapi-sapinya. Ia tersenyum sekedarnya.

Tak seberapa lama, tiba-tiba beberapa sampinya mengeluarkan kotoran yang baunya cukup menyengat dan berceceran di jalanan yang aku lalui yang mengganggu orang-orang yang hendak melewati jalanan itu. Segenap mata tertarik untuk mengamati pemandangan yang tidak menyenangkan itu.

“Pak, sapinya membuang kotoran sembarangan ya? Tanyaku sambil tertawa ngekek.

“La iya to, Pak, namanya sapi yang sembarangan. Kalau sapi bisa buang air di toilet, tentu bukan sapi lagi tapi manusia.”

“Tapi banyak juga manusia yang membuang kotoran di jalanan ya, Pak? Sampah-sampah yang seharusnya di buang di tempat sampah, ternyata dibuang diselokan, jalanan, di taman-taman dan di mana menemukan tempat yang dianggap layak untuk membuang kotoran. Padahal tempat itu akan penuh dengan sampah dan mengganggu pemandangan. Selain itu kan pasti mengganggu kesehatan karena akan membusuk dan menjadi tempat hinggap lalat-lalat.”

Mpok Ijem  itu kalau membuang sampah malah di ledeng. Padahal kita tahu nantinya sampah akan menyumbat salurannya. Saya bisa membayangkan kalau sampah itu menumpuk, maka saluran bagian hilir akan tersumbat. Apa yang terjadi kalau tersumbat? Pasti banjir di mana-mana.

Aku nggak habis pikir kenapa banyak yang nggak peduli dengan kesehatan lingkungan, seolah-olah ledeng itu adalah tempat sampah yang paling aman. Gak perlu mengangkut ke TPS, tinggal lempar dan sampah pun hanyut.

 “Iya Pak,” kata pria itu. Sambil terus melaju. Sedangkan kotoran sapinya tetap tercecer di jalanan dan semakin lama menipis karena dilindas ban kendaraan.”

Beberapa motor mengurangi laju kendaraannya. Melewati tumpukan kotoran itu dengan perlahan-lahan takut roda kendaraannya melindas kotoran itu.

Pemandangan yang aneka warna, antara orang-orang yang tak lagi peduli dengan kebersihan kampung dan kerusakan alam. Orang-orang yang terlalu memikirkan betapa mudahnya membuang kotoran di sekitar, tanpa memikirkan akibatnya. Sama seperti mulut-mulut kita, yang begitu mudahnya membuang kotoran di media sosial, seakan-akan semuanya tidak ada efeknya bagi orang-orangnya yang mendengarnya.

Yang penting, aku tak mau jadi seperti sapi-sapi itu, yang tak tahu malu menunjukkan ketidak mengertiannya dengan membuang kotoran di jalanan. Malu jika disamakan dengan sapi-sapi itu. Malu dengan anak cucuku nanti.

 

Kamis, 20 Agustus 2020

Belajar dari Bunda Kartika Affandi, Produktif di Usia Senja

 



Dr. HC. Kartika Affandi, Pelukis Wanita Indonesia (havrillay.com)



Alhamdulillah tiba-tiba ada email masuk. Saya enggak menyangka sih kalau akan mendapatkan undangan Talk Show dari Komunitas Traveller Kompasiana (Koteka). 


Acara tersebut menghadirkan tamu istimewa seorang Duta Besar Indonesia untuk Negara Jerman Bpk. Dr. Arif Havas Oegroseno.


Selain itu, ada pula Bunda Dr. HC. Kartika Affandi yang disebut sebagai sang maestro perempuan dalam bidang lukis, selaku Pembicara pada acara tersebut. 


Acara tersebut dipandu oleh Mbak Gaganawati Stegmann selaku Admin Koteka, yang saat ini juga berdomisili di Jerman.


Acara yang diadakan pada Sabtu, 15 Agustus 2020, tepat lima hari yang lalu tersebut, diikuti oleh para Kompasianer yang memang seorang Traveller, atau dalam bahasa gaulnya suka jalan-jalan. 


Nah, saya selaku peserta yang memang punya hobi yang sama, tentu tertarik dong kalau diundang dalam acara tersebut, apalagi tanpa dipungut biaya sepeserpun. 


Tentu saja acara yang seharusnya menelan waktu 1 jam dan ternyata molor 2 jam lebih tersebut, ternyata memberikan banyak pengetahuan yang sama sekali belum pernah saya dapatkan. Bahkan pada seluruh peserta yang hadir dalam Talk Show via zoom tersebut.


Dalam acara tersebut tentu saja para peserta begitu antusias untuk menyimak dan memberikan pertanyaan seputar travelling. 


Pembicaraan tidak hanya tentang travelling saja, karena pada saat itu, acara dengan tema Travel, Melukis di Usia Senja? Enjoy Aja tersebut, mengupas dengan sangat jelas bagaimana sosok yang mungkin saja sudah tidak lagi muda, harus bisa menggunakan usia tersebut pada hal-hal yang menyenangkan dan produktif.


Bunda Kartika Affandi dalam Talk Show , 15 Agustus 2020 (screenshot dok. pribadi)


Nah, Bunda Kartika Affandi memberikan beberapa wawasan bagaimana berlaku sebagai seorang traveller sekaligus bisa juga menjadi seorang pelukis. 


Meskipun saat ini para peserta (kompasianer) boleh jadi bukan pelukis, nyatanya konteks kebermanfaatan acara tersebut sangat terasa. 


Bunda Kartika selalu memberikan wejangan, "gunakan jalan-jalanmu atau travelmu dengan mengisinya pada hal lain yang bermanfaat."


Jika seorang pelukis, semestinya memanfaatkan semua yang ada di tempat tujuan sebagai wahana menuangkan ide yang realistis, bukan hanya karangan semata. 


Seandainya traveller tersebut adalah seorang penulis atau fotografer sekalipun, semestinya bisa menggunakan saat-saat yang menyenangkan dalam travelling untuk menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.


Bunda Kartika Affandi-sebagaimana diceritakan beliau - memiliki hobi melukis sejak kecil. Boleh jadi memang mewarisi bakat dari seorang ayah yang juga seorang pelukis terkenal atau disebut juga sang Maestro Pelukis Indonesia yang dikenal di dunia Internasional, berkat gaya ekspresionis dan romantisme yang khas.


Bahkan karena begitu bakat istimewa itu lahir semenjak dini, ternyata pengalaman yang diasah sedemikian rupa di berbagai daerah selalu melahirkan sebuah karya yang fenomenal. 


Dan yang lebih istimewa lagi, beliau memang memiliki jiwa mandiri sejak kecil. Jiwa mandirinya itulah yang membentuk kemampuan dalam melukis hingga sekarang. Bahkan beliau berpesan pada semua orang, khususnya peserta, agar memiliki prinsip yang kuat dalam kehidupan. Mencintai semua hobi dan pekerjaan dengan sepenuh hati, karena itu akan melahirkan karya yang terbaik.


Kisahnya di beberapa penjuru dunia dalam pengalaman melukis


Ada beberapa kisah yang sungguh memancing motivasi kita untuk selalu mengembangkan kemampuan secara optimal, adalah ketika beliau menceritakan perjalanan sebagai seorang pelukis ketika memasuki beberapa wilayah. 


Beliau selalu ingin mengetahui seluk beluk budaya setempat yang masih asli. Bagaimana beliau mencontohkan betapa uniknya budaya di Papua, ketika para penduduk di sana yang tubuhnya dibalur dengan minyak babi hingga kulitnya mengkilat dan bagus, serta bagaimana uniknya para lelakinya ketika memakai koteka. Sebuah budaya yang patut untuk dibanggakan.


Selain di Papua, ada satu kisah di suku Aborigin, Australia yang menurutnya seorang pelancong tidak akan diperkenankan melukis. Karena notabene para penduduknya khususnya perempuan 70%-nya adalah pelukis. 


Hingga suatu ketika beliau menggunakan sebuah pecahan kaca mobil agar dapat mengamati wajah wanita suku Aborigin tersebut untuk dijadikan objek  lukisan. Di mana kebiasaan perempuan suku Aborigin yang ahli dalam melukis dengan teknik dot painting (melukis dengan dipukul-pukul), hingga dipamerkan di Amerika  Serikat dan harga lukisannya mencapai US$ 200.000 . Betapa karya yang sangat mahal bukan?


Begitu juga ketika beliau menceritakan betapa kebudayaan Kalimantan (Dayak) di mana para wanitanya memakai kupluk (topi khusus) dan telinga yang menjuntai panjang karena diberikan perhiasan. Bahkan ada pula yang menurut beliau lucu ketika ada di antara mereka yang menganggap  tinta sebagai odol. Mungkin karena belum begitu mengerti penggunaan tinta dalam proses melukis.


Dan yang lebih mengagumkan lagi bahwa beliau pernah menjadikan sapi sebagai objek lukisan. Bukan hanya mengarang bentuk sapi, tapi benar-benar terjun di kandang demi mendapatkan kesan yang sempurna dalam proses melukis. Meskipun harus mencium bau kotorannya.


Dengan kata lain, Bunda Kartika Affandi selalu melukis di mana beliau menemukan objek lukisan (on the spot), dan bukan sekedar mengarang saja. Menjadikan semua perjalanan ke berbagai daerah sebagai tempat untuk menyalurkan hobi dan kreativitasnya dengan cara yang menyenangkan. 


Meskipun usia sudah tidak lagi muda, apa yang perlu dicontoh dari beliau adalah semangat untuk tetap kreatif dan mengisi hari-hari tua dengan hal-hal yang bermanfaat, sebagaimana tema talk show tersebut.


Pesan bagi perempuan


Di akhir penuturannya, beliau memberikan pesan kepada wanita agar menjadi wanita yang mandiri. Jangan menjadi perempuan yang cengeng dan pesan beliau jangan pernah tergelincir ke lembah hitam. Jagalah harga diri sebagai penghargaan nilai kewanitaan.


Salam


Kamis, 06 Februari 2020

Tahun Baru dan Hadiah Banjir

Penampakan Banjir 2020
Sumber : News.detik.com

Siapa yang menduga jika tiba-tiba malam tahun baru yang biasanya meriah dengan balutan asap yang memecah dari letusan petasan dan kembang api, ternyata harus digantikan dengan terjangan air yang bercampur lumpur coklat pekat.

Siapa pula yang akan membayangkan 2020 ini tiba-tiba rumah, kendaraan, tanaman, hewan ternak tiba-tiba lenyap seketika karena terjangan banjir. Air bah itu tiba-tiba datang seiring dengan curah hujan yang begitu tinggi yang diprediksi tahun ini curah hujan adalah yang tertinggi beberapa tahun terakhir, hingga air bah itupun menghanyutkan apa yang menjadi milik penduduk.

Tawa untuk menyambut tahun baru pun harus terkikis oleh penderitaan karena harta satu-satunya sirna terbawa banjir.

DKI. Jakarta dan daerah lain tak luput dari terjangan banjir yang sepertinya setiap tahun menyapa mereka dengan tidak ramah.

Saya teringat bertahun-tahun silam ketika Tsunami Aceh menerjang rumah-rumah penduduk di sepanjang provinsi di Barat Indonesia itu.

Sama halnya dengan banyak kejadian yang cukup menyita perhatian publik, yang tidak lagi mampu menahan air mata dan darah para korbannya ketika gempa bumi, angin puting beliung, kebakaran hutan turut meluluh lantakkan apapun yang diterjangnya. Semua itu adalah sebuah kondisi yang amat memilukan.

Namun, tahukah Anda bahwa semua yang terjadi di sekitar itu tidak lepas dari ulah tangan manusia sendiri. Terlepas dari hujan yang dikatakan takdir karena tercurah sendiri dari langit, ternyata ulah manusia yang keji menjadi pemicu mengapa bencana banjir selalu saja menghampiri.

Tengok saja apa yang terjadi di lingkungan kita, tanah-tanah persawahan dan perkebunan atau kawasan hutan mulai berubah menjadi lahan permukinan.

Sebuah mobil terlihat terendam banjir  tahun baru 2020 Sumber : tirto.id


Dengan amat angkuhnya manusia memungut satu demi satu hak tanah untuk menjadi lahan resapan air dan menggantinya sebagai tempat bermukin manusia. Semua kemudian menjadi maklum lantaran ledakan penduduk yang terus bertambah yang memang berisiko menggerus lahan-lahan kosong untuk tempat tinggal.

Ulah manusia yang semakin lama semakin sembrono dengan mengotori lingkungan dengan sampah-sampah plastik yang akibatnya menyumbat saluran air dan mencemari lingkungan. Lihat saja, sampah-sampah tidak sulit kita temukan di bantaran sungai maupun di sepanjang pantai.

Semua seperti dianggap wajar dan dianggap lumrah, meskipun tindakan mereka amatlah parah.

Namun demikian, tahun 2020 tetaplah tahun harapan. Banjir dan bencana-bencaan yang datang seperti syair kerinduan dari sang Pemilik Semesta bahwa manusia mesti kembali ke jalan yang diridhoi-Nya. Mawas diri dan tidak lagi bertindak brutal dengan merusak alam sekitar demi nafsu serakah semata.

Salam

https://www.youtube.com/watch?v=GFfghcO8LZQ&t=8s


Jumat, 16 Februari 2018

Tolong Jangan Samakan Antara Kritik dan Ujaran Kebencian Apalagi Fitnah

Tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Maka dari itu, sudah menjadi sunatullah, sebagai seorang hamba, manusia biasa yang tidak sempurna, akan mengalami yang namanya salah. Atau melakukan kesalahan.

Setiap manusia berpotensi melakukan hal-hal yang keliru dan di luar batas kemampuannya.

Entah itu disengaja maupun tidak, kecelakaan diri yang mengakibatkan seseorang berbuat salah selalu mendapatkan celah yang terbuka.

Ada sebuah potensi dari "kelemahan diri" yang tidak bisa dihindari dari sang keturunan Adam ini. Meskipun boleh jadi menurut pendapat pribadi, rasa-rasanya jauh dari kesalahaan. Maka sering muncul ucapan yang tujuannya membela diri yaitu "apa salah saya" atau "saya merasa tidak pernah melakukan kesalahan, mengapa saya disalahkan?" weleh weleh.

Sungguh ungkapan membela diri dengan mengatakan tidak pernah salah adalah sebuah sikap perlawanan dan penolakan akan fitrah manusia tadi, manusia yang penuh kelemahan yang amat tidak mungkin untuk tidak berbuat salah.

Oleh karena lemahnya manusia tadi, maka akan muncul respon orang-orang di sekitarnya. Bentuknya bisa empati atau peduli, atau sebaliknya menertawai bahkan membenci atau mencaci maki.

Di saat seseorang melakukan kesalahan, ada yang menaruh simpati dengan memberikan dukungan agar tidak mengulangi dan memperbaiki kesalahan tadi. Namun di luar itu, risikonya ada banyak orang yang justru tertawa atas kesalahan tadi dan berujung membenci, membully dan menjadikannya bahan tertawaan.

Dan anehnya lagi kesalahan seseorang tadi semakin dikenal oleh khalayak ramai karena digunjingkan atau dijadikan bahan obrolan di tengah-tengah masyarakat. Belum lagi media sosial menjadi ajang "pamer kesalahan" dan ajang mengadili (judgment) bagi sosok yang bersalah tadi. Yang pada akhirnya sudah dapat ditebak, sebuah kesalahan yang sebenarnya lumrah terjadi pada setiap insan, menjadi sangat aneh karena banyak  pihak yang tidak memahami bahwa setiap manusia berpotensi untuk melakukan kesalahan.

Namun, akan berbeda posisinya jika kesalahan itu disengaja agar orang lain mengalami kerugian, maka tindakan orang-orang yang melakukan perundungn (mem-bully) adalah sebuah ekses negatif karena kesalahan yang disengaja tadi. Tidak hanya pembullyan tadi, karena sanksi hukum pun bisa berlaku. Meskipun apapun bentuknya, perundungan tetaplah kesalahan. Jadi jangan diikuti ya!

Membedakan antara mengkritik dan memfitnah dan hate speech

Setiap orang, kemungkinan besar akan memahami mana itu kritik dan mana itu fitnah apalagi hate speech atau ujaran kebencian.

Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, makna dari kritik adalah masalah penganalisaan dan pengevaluasian sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. 

Jadi kritik hakekatnya sebagai sebuah tindakan menganalisis dan mengevaluasi tindakan atau keaadaan tertentu dengan tujuan meningkatkan pemahaman, wujud kepedulian dan tujuannya memperbaiki pekerjaan. Dengan kata lain bahwa kritik semata-mata membangun kesadaran pada manusia sebagai individu atau makhluk sosial agar memperbaiki kesalahannya.


Mengkritik tujuannya tentu amat baik agar orang yang bersalah memahami dimana letak kesalahanannya dan berusaha memperbaikinya.

Bagaimana dengan fitnah, fitnah adalah mengatakan sesuatu yang tidak dilakukan seseorang, atau mengabarkan berita bohong agar orang lain turut membenci. Atau disebut juga menuduh tanpa bukti atau tuduhan palsu . Jadi melakukan fitnah sama halnya menuduh orang lain bersalah tapi tuduhan itu tidak berdasar, bahkan bohong.
  
Bagimana bisa disebut fitnah? Karena kita menyampaikan sesuatu kepada orang lain tanpa bukti yang menguatkan yang tujuan untuk merusak nama baik orang yang difitnah.

Sedangkan ujaran kebencian menurut Wikipedia sbb:

Ucapan kebencian adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat[1], orientasi seksual[2] ,kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.[3]

Dalam arti hukum, Hate speech adalah perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang karena dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan sikap prasangka entah dari pihak pelaku Pernyataan tersebut ataupun korban dari tindakan tersebut. Website yang menggunakan atau menerapkan Hate Speech ini disebut Hate Site.

Jadi sangat jelas perbedaan antara kritik, fitnah dan ujaran kebencian kan?


Kritik sangat bertendensi positif dan ingin memperbaiki keadaan individu dan lingkungan sosial dan bukan untuk memfitnah palagi ujaran kebencian.

Kesalahan memahami kritik, fitnah dan ujaran kebencian

Banyak pihak atau orang yang sulit membedakan antara memberikan kritik, memfitnah dan ujaran kebencian. Ada yang ingin mengkritik ternyata justru menyebarkan fitnah dan disertai penghasutan, dengan tujuan agar orang lain terprovokasi dan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan.

Dalam konteks kritik yang "benar", semestinya sebagai kepedulian atau wujud penghargaan atas kinerja seseorang misalnya. Karena kepedulian kita, maka mencegah kerusakan terjadi adalah keniscayaan. Bukan kejahatan tentunya, jika tujuan kita ingin memperbaiki kesalahan. Tidak menyimpan tendensi dendam apalagi ingin merusak reputasi seseorang dan atau memperoleh keuntungan.

Dengan mengkritik semestinya disertai bukti kongkrit letak dari kesalahan tadi disertai solusi yang tepat agar kesalahan tersebut bisa diperbaiki. Bukan justru memfitnah apalagi mengajak orang lain menghakimi apalagi melakukan pengerusakan. Belum lagi menyebarkan di media sosial yg tujuannya ingin merusak nama baik.

Sebaliknya, tidak hanya dalam konteks sosial pada umumnya, dan diperluas lagi pada penggunaan media sosial, ternyata kritik yang sebenarnya membangun kesadaran akan peningkatan prestasi dan kondisi yang seharusnya, ternyata dinilai sebagai fitnah. Meskipun kritik tersebut tujuannya membangun ternyata ditanggapi dengan negatif. Boleh jadi orang yang dikritik tidak mau kepentingannya diusik dan kelemahaannya diketahui orang lain. Padahal tidak ada orang yang tidak melakukan kesalahan, asalkan berusaha memperbaikinya. Karena bukanlah orang yang baik yang tak pernah salah, tapi orang yang baik adalah yang melakukan kesalahan tapi berusaha memperbaikinya.

Bagaimana dengan fitnah dan ujarang kebencian? Yang pasti segala bentuk tuduhan tanpa bukti yang valid dan bertendensi merusak reputasi seseorang, itu adalah sebuah kejahatan. Apalagi sampai memprovokasi orang lain untuk turut membenci dan menghakimi, maka tindakan itu tidak dibenarkan, baik secara hukum, agama, maupun nilai-nilai kemanusiaan.

Salam

Referensi
1. https://.id.wikipedia.org
2. kumpulsite.wordpress.com







Rabu, 14 Februari 2018

Ini Alasannya Kenapa Hoax itu diharamkan



Kita semua pastilah sering mendengar tentang "Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan". Ya kan? Kalau "ya", tentu akan mafhum sekali dengan kalimat itu. Yang maksudnya kurang lebih  sebuah larangan untuk tidak menyebar fitnah, karena fitnah itu meskipun hanyalah satu perkataan maka efeknya melebihi sebuah pembunuhan berencana sekalipun. Serem.

Bagaimana tidak memiliki multi efek, karena satu pernyataan jika itu adalah "fitnah", maka dampaknya tidak hanya sekali saja dirasakan, karena akan banyak korban yang berjatuhan akibat fitnah tadi. Tidak hanya membunuh atau menghilangkan nyawa seseorang, membunuh karakter orang yang difitnah. Dan orang-orang yang ada dalam lingkungan pun akan mendapatkan getahnya. Seperti keluarga terdekat; istri, anak, orang tua, mertua, tetangga dsb. Juga akan berefek juga pada lingkungan yang lebih luas.

Itulah dahsyatnya akibat dari fitnah.

Meskipun demikian, ternyata ada yang beranggapan bahwa menyebar berita dengan beragam versinya itu dibolehkan, termasuk menyebar berita hoax yang bertujuan positif.  

Boleh jadi ada yang beranggapaan bahwa demi hal yang lebih penting, maka berbohong demi kebaikan adalah dibolehkan. Seperti jika saudara kita berada dalam kondisi yang berbahaya, maka kita boleh berbohong demi menyelamatkan nyawanya. Namun pendapat ini semestinya ini tidak berlaku secara keseluruhan termasuk pada hal-hal yang dilarang. Seperti kita mengabarkaan bahwa dalam situasi banjir daerah kita aman-aman saja demi untuk menenangkan warga, padahal ancaman nyawa sudah di depan mata dan dengan pernyataan itu justru membuat warga dan pemerintah tidak lekas mengambil solusi tapi membiarkan banjir demi banjir datang menghampiri.

Berbohong dengan maksud menyelamatkan warga atau memberikan semangat tapi dampaknya justru berbahaya. Atau kita mengatakan bahwa keluarga kita dalam keaadaan baik-baik saja, meskipun faktanya harus mendapatkan dukungan dan bantuan dari orang lain karena konflik yang terjadi, maka berbohong dalam situasi ini amat tidak dianjurkan. Karenaa semakin kita berbohong dan mengatakan baik-baik saja, akibat yang timbulkan dikemudian hari justru semakin besar.

Berbohong dengan menyebar hoax adalah sebuah kesalahan 

Sebagaimana makna hoax yang saya kutip dari internet, adalah pemberitaan palsu yang tujuannya menipu pembacanya. Dengan kata lain hoax adalah segala sesuatu yang bertujuan mempengaruhi orang lain meskipun itu sebuh kebohongan.

Pernyataan tersebut jelas sekali menyebutkn bahwa hoax adalah berita bohong dan segala sesuatu yang melingkupinya. tidak hanya seperti "kabar angin", karena tulisan dan gambar, dan segala sesuatu yang diciptakan untuk mengelabuhi orang lain adalah sebuah kejahatan.

Meskipun ada yang beranggapan bahwa boleh-boleh saja menyebar berita hoax demi kebaikan, ternyata ada beberapa sisi negatif mengapa hoax itu semestinya dihindari. Karena hoax dengan maksud baik atau buruk pun akan berdampak yang tidak baik bagi masyarakatnya. Meskipun dengan alasan kepepet sekalipun, semestinya menyebar konten hoax harus dihindari demi menjauhkaan diri dari fitnah dan praduga yang bisa merusak keharmonisan dalam semua sisi kehidupan.

Mencegah sesuatu yang buruk terjadi  dengan mengatakan sesuatu yang benar itu akan lebih baik daripada mengatakan sesuatu yang bohong (hoax) yang dampaknya secara sistemik.

Menyebar hoax bisa berakibat fitnah

Seperti pada awal tulisan ini, bahwa segala macam hoax bisa menjadi fitnah. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.

Pernah suatu ketika di media sosial sebuah foto tentang seorang anak disertai pernyataan yang cukup kasar yang menyinggung kenyamanan orang lain. Tiba-tiba pemilik foto menjadi korban bully-an. Sang anak menjadi sasaran kemarahan netizen karena tulisan yang adaa dalam foto tersebut. Seperti misalnya tertulis "kamu yang berani pada saya kamu seperti an**ng", atau "kalian jelek semua yang cakep cuman saya misalnya". Tentu pembaca yang mudah percaya dengan berita bohong itu akan mencurahkan kekesalannya pada si pemilik foto. Sang pemilik foto tidak menyadari bahwa fotonya sudah dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Yang mengunggah foto curian boleh jadi ingin mencari sensasi, dendam pada pemilik foto, atau mencari penghasilan dari medsos, tapi dampaknya pemilik foto akan meraskan tekanan mental yang dahsyat. Bisa saja kehilangan nyawanya karena bunuh diri atau dibunuh orang lain. Tak hanya pemilik foto yang akan mendapatkan dampaknya, keluarga pun akan menerima getahnya.

Betapa perbuatan itu sungguh di luar logika kemanusiaan, atau memang hatinya sudah rusak karena kebencian dan karen uang menghalalkan segala cara. Sungguh perbuatan tidak manusiawi dan cenderung mengikuti langkah-langkah setan. Padahal semua langkah setan itu haram dan semestinya dihindari.

Oleh karena itu, mudah-mudahan Tuhan selalu membimbing kita agar dijauhkan dari menyebar hoax atau konten bohong yang bisa berdampak pada kejahatan. Menyebar berita yang benar meskipun ditanggapi dengan "nyinyir" daripada kebohongan yang dibalut dengan sajian yang menarik tapi menipu. Nabi pun pernah berkata "kejujuran mendekatkan pada kebaikan dan kebaikan mendekatkan kepada surga".

Salam




Minggu, 04 Februari 2018

Kisah Sedih, Fenomena (Kejam) Ketika Berhutang




Hutang dan Fenomenanya yang Mengerikan

Tulisan ini merupakan pengalaman pribadi, dan boleh jadi semua orang yang pernah membaca tulisan saya di blog ini merupakan sosok yang pernah menjadi penghutang, alias orang yang hari-harinya memikirkan bagaimana membayar atau melunasi hutangnya.

Selain pengalaman pribadi yang sebenarnya bukan hal baru adalah betapa banyak saudara kita yang setiap hari dikejar-kejar penagih hutang. Entah itu rentenir, dept collector, atau tuan takur yang ternyata sudah menjadi langganan hutang kita. Baik benar atau salah, kita sebagai masyarakat bawah sepertinya mendengar istilah hutang sudah tidak asing lagi. Karena seperti sebuah budaya, ketika kebutuhan sudah mentok, maka solusinya adalah "hutang". Padahal tidak ada rumus orang akan mengalami ketentraman jika masih menyimpan catatan hutang dalam buku diarynya.

Memiliki hutang adalah sebuah siksaan

Memang mudah untuk meminjam uang atau mencari uang "dadakan" itu. Cukup modal BPKB atau sertifikat tanah, maka uang yang diinginkan pasti ada di tangan. Tak harus menunggu lama untuk mendapatakan uang yang diinginkan, karena para juragan atau pemilik modal sudah menanti kita meminjam uang. Dengan risiko uang tak kembali asalkan barang agunan bisa dimiliki tentu tak jadi soal.

Pertama kali mengenal istilah utang adalah ketika kuliah dengan modal cupet dan kebetulan masih di-handle orang tua dan sedikit-sedikit membantu kerja serabutan, ternyata kita sudah memulai transaksi yang mencekik leher ini. Berawal dari kebutuhan kuliah yang mendesak dan dibutuhkan waktu yang pendek, akhirnya langkah-langkah cepat pun dilakukan. Seorang rentenir pun menjadi jawaban atas kebuntuan tadi.

Awalnya senang karena bisa dengan mudah mendapatkan uang yang diinginkan, tapi esoknya lagi kelimpungan karena harus membayar hutang pokok dan bunganya yang lebih dari 50 persen.

Bagamana bisa 50 persen? Bisa. jika kita minjamnya 1 juta, dan harus mengembalikan 1,5 juta kan sudah dibilang 50 persen. Masih mending jika hanya dihitung pokok plus bunga yang 50 persen itu, karena ada pula para rentenir yang menghitung bunganya tidak terbatas. Asalkan uang pokoknya tidak dibayar lunas, maka bunganya harus dibayar tiap bulan tanpa mengurangi uang pokok tadi. Solusi sementara selesai tapi di belakangnya si penghutang seperti dikejar-kejar hantu yang setiap hari harus mengganggu tidur. Makan tidak enak dan shalat pun jadi tidak khusuk.

Itulah fenomena hutang yang mencekik leher. Seperti yang dialami Ny. Mun (bukan nama sebenarnya) yang awalnya berhutang 2 juta, diapun harus membayar bunga hingga 10 juta karena uang pokoknya tidak segera dilunasi.

Urusan dengan rentenir akhirnya selesai. Ketika mendapatkan pekerjaan pun akhirnya berhutang lagi. Karena dorongan dari beberapa rekan dan karena kebutuhan akan kendaaraan serta membayar sejumlah tunggakan utang yang masih tersisa, akhirnya bank pun menjadi solusi. Masalah lama selesai dengan ditutupnya tunggakan, kendaraan terbeli tapi di bank data kita pun disita dengan kewajiban membayar hutang yang uangnya dipotong dari gaji. Alamat setiap bulan sisa gaji tinggal sedikit sedangkan kebutuhan selangit.

Beruntungnya, meskipun hidup masih dikejar oleh hutang tapi sedikit-sedikit dapat dibayarkan meski kadang waktu pembayarannyya agak terlambat. Yang penting kewajiban itu bisa lekas ditunaikan. Berterima kasih sudah dibantu dengan meminjamkan kita uang, maka sebaliknya kita harus juga membantu mereka mendapatkan uang mereka kembali. Meskipun pahit tapi itulah faktanya.

Tidak perlulah membicarakan hutang negara yang jumlahnya ribuan trilyun itu, karena memiliki hutang sendiri saja sudah pusing melunasinya.


Sebuah kesalahan jika mengandalkan hidup dari hutang

Ada sebuah kata bijak mengatakan "hidup sederhana lebih baik daripada kaya berhutang". Benar sekali. Sebaik-baik hidup adalah menjalani kehidupan yang sederhana daripada menumpuk hutang dan tidak mampu membayarnya. Sebab orang yang berhutang dan mereka tidak mau membayar maka pelakunya akan masuk neraka meskipun mereka mati syahid. Karena dosa-dosa sebab berhutang itu tidak akan diampuni sebelum hutangnya dibayarkan.

Dan yang lebih menyedihkan lagi siapapun yang berhutang maka mereka seperti budak dari orang yang memberinya hutang. Hidupnya menjadi terpenjara dan seperti berada dalam tekanan orang lain. Yang lebih mengerikan lagi kadang kehormatannya harus digadaikan.

Namun faktanya, banyak orang yang hidup mengandalkan hutang. Seperti misalnya membeli baju dengan hutang, sembako pun hutang. Bahkan kendaraan yang dipakai sehari-hari pun berasal dari hutang. Dapat dikatakan hidup kita sudah terlilit hutang.

Tapi anehnya meskipun hutang itu seperti menahan kita dari surgaNya, ternyata begitu bangganya kita berhutang. Seolah-olah umur kita bakalan panjang. Padahal tidak ada yang tahu sepanjang apakah umur kita nanti. Bagaimana jika kita mati ketika masih menyimpan hutang? Sungguh mengerikan.

Terbiasa dengan kemewahan yang hakekatnya semu demi mendapatkan pujian tapi nyawa dan amalan kita menggantung lantaran terhalangi oleh hutang yang tidak juga kita bayarkan.

Hidup sederhana selalu lebih baik daripada hidup dalam kemewahan tapi menyimpan hutang yang nantinya akan memasukkan kita ke dalam neraka. Atau lebih baik makan singkong nyata dari pada makan roti sebatas mimpi.

Semoga Allah SWT memberikan kemudahan pada kita untuk segera melunasi hutang dan kita terbebas dari lilitan hutang. aamiin

 “Barang siapa meminjam harta manusia dan dia ingin membayarnya, maka Allah akan membayarkannya. Barang siapa yang meminjamnya dan dia tidak ingin membayarnya, maka Allah akan menghilangkan harta tersebut darinya.” (HR Al-Bukhaari no. 2387)

 Gambar: pinterest.com

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!