Minggu, 24 Oktober 2021
Senin, 04 Januari 2021
Film The House Maid, Ketika Kesadisan Dibalas Kesadisan
Film The House Maid. Ketika Kesadisan Dibayar Kesadisan
Sejahat-jahatnya orang adalah orang yang tidak mau memberikan maaf pada orang lain yang melakukan kesalahan. Dan lebih jahat lagi adalah sosok yang mau melampiaskan dendam karena kesalahan orang lain di masa lalu.
Dan ternyata kejahatan masa lalu tercatat dalam memori otak dua sosok anak yang dengan kedua matanya melihat bagaimana orang tuanya dibantai tanpa rasa ampun karena hendak melarikan diri.
Dengan diawali oleh seorang wanita (Linh) yang tengah mencari pekerjaan. Hingga suatu ketika ia mendapati rumah besar yang sudah kuno di tengah-tengah perkebunan karet.
Dengan pakaian basah karena hujan, sang wanita muda ini mencoba menawarkan diri untuk bekerja di rumah besar dan megah itu. Ternyata kedatangannya disambut seorang perempuan setengah baya (Ny. Han) yang kemudian memberinya beberapa potong pakaian pengganti. Kemudian ia dipersilahkan bermalam di rumah besar itu sebagai persetujuan bahwa ia diterima bekerja sebagai asisten rumah tangga dengan syarat masa percobaan beberapa hari.
Sejak awal para penonton memang disuguhi oleh adegan yang menyeramkan, diawali oleh gambaran kisah di perkebunan milik orang Perancis (keluarga Kapten Laurent) tersebut yang ternyata telah meninggalkan banyak kisah menyeramkan.
Ada banyak pembunuhan yang dilakukan penjaga perkebunan itu jika para pekerja tidak bisa bekerja atau hendak kabur karena tidak lagi betah atas tekanan pekerjaan yang berat.
Rumah yang nampak angker jika dipandang dari depan dan penampakan perkembunan karet yang juga menyiratkan adanya unsur mistis, ternyata disebabkan kisah pilu dan menyedihkan dari para korbannya. Semua telah diceritakan oleh sosok perempuan setengah baya yang dipercaya sebagai kepala pengurus rumah besar itu.
Sejak awal saya belum menangkap kisah apa dibalik cerita itu, dan menganggap bahwa wanita muda yang melamar pekerjaan hanyalah sosok yang tersesat dan membutuhkan pekerjaan di rumah tersebut. Eh, ternyata wanita muda itu adalah salah satu dari dua anak kakak beradik yang menaruh dendam pada pemilik perkebunan karena kedua orang tuanya tewas dibantai dan dikuburkan di tengah-tengah perkebunan itu.
Dua anak yang kini tumbuh dewasa ternyata masih menyimpan dendam masa lalu dan ingin membalaskan dendam orang tuanya karena dibantai dengan kejam oleh wanita paruh baya yang menerimanya bekerja serta sosok penjaga yang terkenal sadis mau menghabisi siapapun yang mau melarikan diri.
Kesadisan-kesadisan ditunjukkan pada para pekerja tanpa ampun. baik dengan menghabisinya secara langsung atau dihukum dengan cara dipasung dan tidak memberinya makan. Tak pelak karena pekerja itu dipasung dan tidak diberikan makanan secuil pun, akhirnya para pekerja itu mati kelaparan.
Perkebunan yang semula menjadi tempat bekerja, ternyata menjadi ladang pembantaian manusia-manusia tidak berdosa oleh penjaga perkebunan, wanita pengurus rumah besar itu dan penjaga lain yang membantu aksinya, serta kematian seorang wanita pemilik perkembunan itu yang tidak tahu penyebabnya serta jasadnyapun tidak diketemukan.
Semua orang yang dibantai digambarkan menjadi sosok yang terus meneror para pekerja dan pemilik perkebunan. Hingga secara perlahan satu persatu orang yang terlibat pembunuhan turut tewas karena dibantai oleh hantu perempuan (Madame Camille) yang konon jasadnya tidak diketemukan itu, yang ternyata pemerannya adalah wanita muda yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Setelah semua pelaku kejahatan tersebut tewas, akhirnya adik kakak pun bertemu dan memutuskan mencari kuburan kedua orang tuanya. Dan ternyata di sebelah pohon besar jasad kedua orang tuanya diketemukan dengan mendapati sebuah bandul kalung yang menunjukkan bahwa kerangka jasad itu adalah benar orang tua yang telah dibantai dengan sadis.
Kisah inipun diakhiri dengan ditinggalkannya rumah tersebut dalam keadaan kosong dan adanya penampakan sosok wanita di jendela yang merupakan mendiang wanita pemilik perkebunan itu.
Meskipun film ini horor, ternyata di dalamnya selalu saja dibumbui adegan erotis. Namun tetap saja memberikan kesan horor karena ujung dari kisah asmara itu adalah kematian. Seperti tewasnya sang pemilik perkebunan (Kapten Laurent) karena dibunuh wanita pekerja yang ternyata telah dicintainya dan ternyata telah membuat keduanya menjalin asmara. Mereka saling mencintai, namun sayangnya harus tewas karena dibunuh kekasihnya sendiri karena dirasuki roh Madam Cammile yang kematiannya sangat misterius.
Ketika Kejahatan dibalas Kejahatan
Kita mengenal sebuah tayangan film di mana dalam ide ceritanya tentang balas dendam. Pada mulanya sosok tersebut adalah orang yang baik-baik saja, tapi karena telah mengalami kejahatan dan kekerasan fisik atau psikis, sosok tersebut berubah menjadi seorang penjahat yang kejam.
Sama seperti dalam film The House Maid ini, pemeran utama memerankan sebagai sosok anak yang tumbuh dewasa dengan segunung dendam dalam hatinya karena keluarganya telah dihabisi dengan sadis.
Boleh jadi kita menganggap kejahatan sebagai sesuatu yang dianggap remah karena korbannya sudah di alam kubur, tapi pada sisi lain ada sosok lain yang bisa jadi menyimpan sakit hati atau dendam yang dendam itu tidak akan terbalas sebelum ia membalaskan dendamnya.
Ada banyak kisah lain di sekitar kita, di mana satu keluaga disantet sampai tujuh turunan karena pernah disakiti atau karena telah menghancurkan usahanya.
Pelaku kejahatan karena balas dendam hakekatnya karena akumulasi rasa sakit hati yang kemudian membuncah. Apalagi korban kejahatan itu adalah orang tua sendiri yang diperlakukan secara tidak manusiawi.
Pada akhirnya, kisah film ini murni tontonan meskipun mengandung "pesan" yang negatif, karena mempertontonkan kekerasan dan kesadisan yang berakibat aksi balas dendam dengan kesadisan yang sama.
Tontonan itu hanya pantas ditonton oleh orang dewasa yang sudah memahami bahwa ini hanyalah tontonan yang tidak seharusnya ditiru dan dijadikan inspirasi atas sebuah aktivitas kejahatan.
Teruslah menjadi orang yang baik dan selalu memaafkan orang-orang di sekitarmu. Karena dengan memaafkan, maka hatimu akan menjadi tenang dan tentram. Dan bagi korban kejahatan, mereka akan mendapatkan balasan surga karena telah dianiaya tanpa dosa. Sedangkan yang memaafkan pun akan mendapatkan kebaikan dalam hidupnya di dunia dan akhirat.
Salam
Minggu, 03 Januari 2021
Memory 2020, Dari Covid-19, Konflik Agama Sampai Kasus Korupsi
Memory 2020, Dari Covid-19, Konflik Agama Sampai Kasus Korupsi
Dua hari sudah kita meninggalkan tahun penuh fenomena dan warna. Selayaknya tahun-tahun lain yang juga telah dilewati bersama, ternyata menyisakan memory yang juga menguras emosi kita.
Sungguh, meskipun kita hendak mengabaikan memori tersebut, nyatanya sampai beberapa tahun kemudian, setiap detik dan moment begitu sangat memberikan makna, baik makna positif maupun negatif.
Yang pasti, terlepas ada makna positif dan negatifnya, hendaklah selalu menjadi bahan evaluasi dan renungan betapa setiap kejadian dalam kehidupan ini memiliki hikmah tersendiri.
Berbincang tentang Covid-19, sebuah realita virus yang bukan abal-abal.
Pernahkah Anda berpikir bahwa muncul isu yang dihembuskan oleh banyak orang terkait sebuah serangan virus? Isu tersebut begitu massif disebarkan oleh banyak orang terkait keberadaan virus. Di mana isu yang berkembang adalah ada yang pro dan kontra. Ada isu yang mendukung informasi sebaran virus yang sudah merenggut banyak jiwa ini. Begitu pula begitu massifnya isu yang dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu, bahwa virus ini hanyalah bualan semata. Bahkan sampai-sampai mereka yang menyangsikan kebenaran adanya virus tersebut menawarkan diri untuk ditulari virus ini.
Dua fenomena sebaran isu yang bertolak belakang ini tentu memancing banyak argumen atau pendapat. Antara percaya dan tidak. Antara ingin melihat langsung sosok yang terpapar dan siapa yang kebal virus.
Bahkan, karena penolakan untuk mempercayai adanya virus tersebut di sambut dengan penolakan pemberian vaksin pada si pelaku. Padahal fakta-fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa virus ini amatlah nyata dan sudah merenggut banyak korban jiwa.
Terlepas adanya informasi yang menyesatkan terkait oknum rumah sakit yang memalsukan kondisi pasien, seharusnya informasi yang sudah valid tentang keberadaan virus tetap ditanggapi dengan positif. Jika informasi ini sudah dianggap positif, maka mau tidak mau, dengan segala macam cara berusaha menghindari serangan virus ini. Baik dengan 3 M (Mencuci tangan dengan sabun, Menjauhi kerumunan/Menjaga jarak, dan Memakai masker), pun diiringi dengan doa semoga virus ini segera berlalu dan aktivitas bisa produktif lagi seperti semula.
Sayangnya, karena ulah oknum yang tidak mempercayai adanya virus ini, akibatnya virus inipun sulit dibendung. Kita meyakini di 2020 sebaran virus sudah berhenti, karena mematuhi protokol kesehatan. Faktanya sampai tahun berganti, virus ini belum juga sirna. Publik dibuat bingung mengapa virus ini tidak juga berhenti dan anak-anak sekolah tidak juga bisa beraktivitas secara normal. Itu semua karena merasa kebal dan tidak mempercayai informasi apapun terkait pandemik Covid-19.
Coba saja, jika setiap orang memiliki persepsi yang sama untuk mencegah penularan virus dan mengatasi persoalan penduduk yang mengiringi akibat persoalan virus ini, tentu masalah tidak berlarut-larut.
Persepsi terhadap Covid-19 sejak lama sudah terbelah. Kepercayaan publik terkait informasi yang berbeda pun seperti terkoyak karena banyak oknum yang memunculkan opini menyesatkan terkait virus ini. Bahkan ketika kita hendak mendapatkan vaksin saja kita sudah berbeda pandangan, antara siapa yang divaksin dan keandalan vaksin.
Padahal, beberapa tahun silam pun kita sudah berdebat terkait banyak vaksin terkait halal dan haramnya, dan berdebat akan dampak negatif dari vaksin tersebut.
Itu semua adalah situasi keterbelahan publik terkait pandemi Covid-19.
2020 adalah tahun kelam, karena di tahun ini banyak jatuh korban jiwa dari banyak kalangan. Dan 2020 adalah tahun di mana publik seperti dibuat bingung terkait informasi yang beredar di masyarakat.
Semoga saja di 2020 menjadi pelajaran bahwa kita harus kembali bersatu dalam persepsi bahwa virus ini harus dilawan dan bukan malah menganggapnya tidak ada atau sebagai kawan.
Munculnya konflik agama, bukti kita masih belum dewasa
Sejak mula kita lahir di bumi pertiwi, kita sudah diperkenalkan dengan aneka agama, tak perlu kita mengurai lagi agama apa yang sudah ada di negeri ini, karena sejarah sudah menceritakan bahwa kita hidup di tengah keberagaman agama.
Sayangnya, meskipun kita sudah memahami bahwa saudara kita berbeda agama, faktanya masih terus saja timbul pertikaian dan konflik antar agama. Bahkan tidak hanya dengan agama yang berbeda, dengan yang seagama saja masih berdebat mana yang paling benar dan paling pantas masuk surga. Padahal setiap hamba hanya diperintahkan untuk beribadah secara ikhlas dan memasrahkan semuanya kepada Sang Khaliq dengan apa yang diyakininya. Jikalau keyakinan sudah dianggap benar, maka yakini saja apa yang sudah dianggap benar tanpa melukai keyakinan yang berbeda.
Jika setiap individu atau kelompok merasa tidak mau diganggu, maka sebaiknya menjaga kelompok masing-masing dan tidak saling mengganggu. Meskipun diwajibkan mengajak, toh cara mengajak juga jangan memaksa. Seperti apa yang diwahyukan Tuhan bahwa tidak ada paksaan dalam agama.
Jika setiap orang merasa sudah sesuai apa yang diyakininya, maka sebaiknya berjalan saja sesuai rel yang dipahami tanpa melintasi jalan kendaraan lain, apalagi merusak keyakinan orang tanpa memahami apa yang dipahami orang lain.
Kedewasaan kita dalam agama hakekatnya saling memahami potensi dari sebuah perbedaan sudut pandang dari agama-agama. Dan jika sudut pandang itu dipaksa untuk sama, maka konflik akan terjadi.
Korupsi oh korupsi, sungguh menyayat hati
2020 masih menyisakan banyak tanya, mengapa virus ini tidak juga musnah, dan mengapa masih ada saja yang tega "mengembat" uang negara. Apalagi uang itu dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan masyarakat di tengah pandemi. Padahal, dalam situasi yang tidak menentu ini, seharusnya banyak pihak yang "waras" betapa psikis masyarakat tengah dalam situasi yang darurat.
Psikis yang cukup darurat itu disebabkan karena kondisi yang menjerat karena terdampak covid-19, seperti PHK, Kesulitan mencari penghidupan dan kejenuhan karena terlalu lama di rumah.
Sayangnya di tengah konflik psikis masyarakat, masih ada saja yang mau mengambil keuntungan dari persoalan yang ada.
Reaksi apa yang kemudian muncul karena aksi pihak curang ini? Tentu menanggapinya dengan beragam tanya, mengapa tega ya dana sosial dikorupsi? Dan kenapa bisa menyelam sambil minum air di tengah-tengah pandemi ini?
Situasi yang sulit ini ternyata tidak menyadarkan kita betapa saat ini kondisinya tengah darurat. Atau karena menganggap bahwa saat inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan situasi psikis masyarakat yang tengah panik karena pandemi. Di saat masyarat bingung dengan keadaan, ternyata ada pihak yang mengambil keuntungan.
Sungguh 2020 adalah tahun yang penuh fenomena yang menguras energi kita. Ada banyak asa yang terkubur dan hancur karena pandemi yang tak juga berakhir, dan banyak pihak yang tertawa di dalam musibah ini. Sungguh miris.
Jika kita hendak menertawai apa yang terjadi, tentu bukanlah sesuatu yang bijak. Tapi berusaha mengintrospeksi dan berkaca diri adalah langkah paling tepat agar tidak turut serta dalam arus kegelian ini.
Biarlah 2020 tahun penuh musibah, tapi 2021 ini adalah tahun penuh harapan. Semoga di tahun ini semua yang direncanakan dapat direalisasikan dengan baik.
Seperti kemarin, ketika di tahun paceklik kita sulit menikmati bubur ayam, semoga di tahun ini, kita masih bisa menikmati singkong goreng dengan kopi kental manis.
Salam
Jumat, 25 Desember 2020
Jangan Lecehkan Tubuhnya Yang Gendut. Cerita Berlatar Film Imperfect
Jangan Lecehkan Tubuhnya Yang Gemuk. Cerita berlatar film Imperfect
Tahukah Anda, setiap orang adalah istimewa. Setiap orang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Bisa jadi kelebihan itu sama, tapi ada sisi lain yang tetap berbeda.
Misalkan si A dan si B memiliki bakat menyanyi, ternyata karakter vocal mereka berbeda . Si A bersuara nge-bass dan si B Sopran misalnya. Itu semua adalah salah satu contoh bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda.
Atau misalnya dua sosok itu adalah kembar siam sekalipun, mereka adalah dua insan yang berbeda sifat asasinya. Dengan keunikan yang berbeda, justru akan menjadi warna yang selaras dengan keadaan manusia di alam semesta ini.
Apalagi, dalam diri seseorang memiliki kekurangan dan kelebihannya. Seperti jika kita menemukan sosok yang pemikirannya cerdas, ramah, baik dengan orang, supel dan suka kegiatan sosial, ternyata fisiknya dianggap orang sebagai sesuatu yang buruk dan nggak seksi, Kenapa? Karena tubuhnya gemuk semenjak kecil. Hingga dewasa, hobi doyan makan coklatnya semakin memperbesar kondisi tubuhnya.
Keberadaan tubuh yang tidak langsing dan singset dianggap sebagai fisik yang tidak seksi.
Hampir setiap orang menganggap tubuh yang gemuk adalah "cacat". Padahal gemuk dan tidaknya tubuh seseorang bukanlah hal yang baik untuk dijadikan bahan bully-an dan menjadi ajang untuk menunjukkan kata-kata yang menjurus pada penghinaan fisik seseorang (body shamming).
Tak perlu saya menunjukkan pasal penghinaan yang bisa dijatuhi sanksi oleh pengadilan, karena hakekatnya seitiap manusia ingin melihat orang lain terlihat sempurna di hadapannya-meskipun belum tentu itu disukai dirinya sendiri, dan meskipun akan memuculkan beragam reaksi atas bullying tersebut.
Membaca kasus bullying dalam film Imperfect
Sepertinya kata-kata ini bisa menimbulkan emosi bagi yang bersangkutan. Yaitu kata-kata sindiran, umpatan atau pelecean secara oral yang mengakibatkan sang korban merasa direndahkan dan dijatuhkan harga dirinya.
Seperti "awas ada karung beras." Hei, kamu mau beli kado apa buat temen kita yang mau melahirkan? Kan ada yang lagi hamil." Atau mengatakan bahwa sosok yang gendut dianggap sebagai badut.
Terang saja ungkapan-ungkapan yang bersifat bullying ini bisa merendahkan derajat kemanusiaan dan merendahkan nilai-nilai kehormatan dari yang bersangkutan.
Seseorang yang dibilang memiliki fisik sempurna, ternyata isi kepalanya sungguh tidak secantik dan se seksi tubuhnya. Bahkan orang yang dianggap gendut atau gemuk itu justru memiliki kecerdasan yang sangat bermanfaat bagi perusahaan.
Meskipun pada saat terjadi percakapan seolah-olah si gendut tidak memiliki kesempatan yang sama dengan si wanita seksi.
Dengan kata lain, karena ingin memenuhi permintaan dari sang Bos, sosok yang memiliki tubuh gemuk inipun merasa terpaksa untuk mengecilkan tubuh agar bisa mewakili perusahaan. Walaupun memiliki keceradasan yang tidak diragukan lagi, namun karena fisik yang dianggap tidak seuai dengan kebutuhan kerja, ia tertantang untuk mengecilkannya. Dengan risiko selama sebulan harus bisa mengubah keadaan tubuhnya.
Dengan kerja keras dan dukungan semua orang, akhirnya si gemuk inipun berhasil menguruskan tubuh dan mendapatkan fasilitas yang keren di perusahannya.
Namun demikian, film imperfect sebenarnya justru menggap bahwa gemuk itu tidak egaliter, dengan memaksanya memiliki tubuh yang lebih kurus. It's okey lantaran tuntutan pekerjaan, tapi jika kegemukan itu dianggap seuatu yang buruk, maka sosok tersebut sudah merendahkan nilai kemanusiaan. Gemuk dan kurus adalah sama keduduannya, yang berbeda adalah perannya dalam kehidupan masyarakatnya.
Ketika keluarga terdekat pun melakukan body shaming
Pernahkah Anda mendengar seorang ibu yang mengatakan "Ih, anak ibu kog hitam sih? Beda sama adikmu. Tubuhnya bagus dan kulitnya bersih, sedangkan kamu hitam legam. Atau dengan mengatakan ibu gemuk, awas bajuunya pada robek. Atau ada lagi yang mengatakan badan kog kurus kayak tiang listrik aja.
Itu semua adalah contoh-contoh pernyataan-pernyataan atau perkataan yang merendahkan dan melecehkan fisik seseorang. Padahal tidak ada yang boleh merendahkan derajat kemanusiaanya.
Body memang beda, kulit memang tidak putih, dan bentuk tubuh mungkin tidak sexy, namun hakekatnya mereka semua sama di hadapan Tuhan. Bukan hanya fisik yang pantas mendapatkan penilaian, tapi bagaimana mereka berprilaku yang baik dengan lingkungannya, adalah salah satu nilai plus bagi manusia lainnya. Salam
Rabu, 23 Desember 2020
Ketika Dua Kubu Melebur Jadi Satu
Ketika Dua Kubu Melebur Jadi Satu
![]() |
| Gambar : Pasangan kontestan Pilpres 2019 (Sumber: Kompas.com) |
Dunia perpolitikan di negeri +62 sepertinya tidak lepas dari fenomena yang mengitarinya. Sampai-sampai hampir setiap saat publik dibuat tercengang dengan pergerakan bidak catur yang dimainkan para politisi. Apakah ini sebuah kebetulan, coba-coba atau memang sudah lazim dalam dunia yang cukup menguras emosi para pendukungnya.
Sebagaimana publik melihat betapa panasnya aura Pilpres 2019 yang membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana tidak merinding, jika masa-masa kampanye, pemungutan suara dan keputusan final siapa yang layak lolos di panggung kekuasaan. Dan benar, pergolakan di tingkat bawah ketika pengumuman hasil Pilpres diumumkan ternyata publik pun bergolak. Sampai-sampai ada gerakan massa pendukung kedua calon yang berusaha menyampaikan aspirasi dan protes atas fenomena Pilpres yang menurut sebagian pendukung dilaksanakan tidak fair.
Hingga endingnya adalah bentrokan massa dan ada beberapa orang yang harus mengalami kekerasan fisik oleh aparat karena ada gerakan yang dianggap menuggangi gerakan damai demonstrasi tersebut.
Beruntungnya, meskipun demonstrasi sempat terjadi bentrokan dan terlihat huru-hara, nyatanya publik masih bisa didinginkan suasananya, tidak sampai membuat kerusakan yang lebih frontal. Saya melihat konflik dua kubu yang melibatkan aparat keamanan tentu merupakan sebuah ekses dari proses demokrasi. Di saat aksi protes itu berjalan damai dan ternyata ada pihak yang menunggangi, maka akibatnya bisa ditebak, jika tidak dapat diredam maka efeknya bisa kepanjangan. Publik dan aparat keamanan bisa terjadi bentrokan yang lebih parah dan bahkan bisa chaos. Bayangkan saja jika aparat yang seharusnya melindungin dan mengayomi rakyat ternyata harus adu fisik dengan rakyat yang diayomi dan dilindungi, tentu menjadi preseden buruk bagi penegakan demokrasi di negeri ini.
Konflik partai politik, tokoh yang bertanding, dan pendukung adalah satu bab yang secara alamiah terbentuk, sebagai manifestasi dari perjalanan panjang negeri ini yang usianya lebih dari 75 tahun. Negeri ini sudah bisa dibilang sepuh atau tua, tapi masih tua bagian kulitnya, sedangkan di dalamnya masih perlu digembleng menjadi lebih dewasa.
Bersatunya kubu Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi adalah dinamika politik yang arif
Memang benar, bahwa politik itu penuh dengan dinamika, intrik dan fakta-fakta yang sangat menggelikan. Bagi sosok yang menciptakan dan pemain dalam panggung, langkah mereka sebenarnya tidak perlu dirisaukan. Di saat berkompetisi, mereka adalah lawan yang berat. dengan segenap tool mereka kerahkan demi memenangkan kompetisi. Sedangkan bagi publik yang hanya menonton, percaturan politik tentu menjadi sesuatu yang amat rumit, bikin sensitif dan kadang membuat tekanan jantung.
Kenapa? Ketika awalnya begitu terbelah pilihan dan komitmen mendukung salah satu pihak, ternyata kondisi berubah 180 derajat dengan saling dekatnya para kompetitor. Fenomena yang mengejutkan sepertu sengatan listrik 220 VA ini tentu membuat publik terkesima dan penuh tanda tanya, "mengapa mereka bisa bergabung? Mengapa bisa berbaur? Kog bisa ya saling rangkulan seolah-olah tidak pernah berperang politik?
Jawabannya adalah inilah fakta atau realitas politik yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Dalam dunia politik semuanya akan cepat berubah dan berganti arah ketika kepentingannya bisa diakomodir. Entah, meskipun ada yang menganggap ini sesuatu yang tidak lazim, faktanya di dunia manapun sebuah sikap politik adalah selalu dinamis. TIdak ada politik yang kaku sampai mengeluarkan urat leher demi kepentingan yang bersifat individual dan kelompok.
Bertemunya Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi, adalah sebuah fenomena yang menarik dan lumrah dalam dinamikan politik. Apalagi tujuan kedua kubu sebenarnya sama, ingin menjaga marwah bangsa dan membangunnya menjadi negara yang bisa setara dengan bangsa lain di dunia.
Jika cita-cita politik adalah sama-sama ingin membangun bangsa dan menjaga nilai-nilai Pancasila, mengapa perseteruan harus dipendam lama? Bukankah dengan bersatu dan saling merangkul akan tercipta harmoninasi di tingkat grassroot. Masyarakat akan melihat kedua kubu semakin akur dan tidak saling bertempur.
Dan semestinya, jika para petinggi bisa akur dan bisa bekerjasama dalam mengatasi persoalan bangsa yang sangat rumit, mengapa arus bawah tidak ikut senang dengan fenomena yang unik ini?
Bukankan dalam politik itu dikenal dengan istilah kawan bisa jadi lawan dan lawan bisa jadi kawan? Tidak ada kawan dan musuh abadi, yang ada adalah kepentingan. Dan yang perlu dicatat, jika kepentingan mereka adalah untuk menjaga dan membangun marwah bangsa, tentu pilihan akhir adalah berkolaborasi demi membangun bumi pertiwi.
Jika antara anjing dan kucing yang katanya musuh abadi saja bisa bersatu, mengapa manusia dengan manusia lainnya yang berakal ini tidak bisa menyatu, seperti air dan gula, atau gula dan kopi. Meskipun di sana selalu saja ada yang terus dianggap paling berjasa, antara air, gula, dan kopi. Meskipun ketiganya berbeda, jika salah satunya tidak ada, maka esensinya adalah hampa.
Ya sudah, gitu aja. Mari nyeruput kopi manis sambil makan singkong goreng.
Salam damai
Senin, 21 Desember 2020
Ketika Kita Harus Bangkit. Bangkit!!
Ketika Kita Harus Bangkit. Bangkit!!
Tidak ada kehidupan yang berjalan mulus semulus jalan tol. Tidak ada cuaca yang selalu cerah dengan cahaya matahari yang hangat. Karena pada saat yang lain, di saat yang berbeda kita akan mendapati cuaca yang sungguh bikin tak enak hati. Tiba-tiba awan gelap menggulung angkasa. Ada sambaran petir, angin berhembus semakin kencang dan hujan pun jatuh, meskipun diiringi oleh teriakan orang yang kesakitan karena sambaran petir yang maha ganas.
Kejadian yang sungguh aneka rupa itu selalu saja mengundang kesedihan bagi korbannya. Sedangkan bagi yang melihat turut berempati dengan apa yang terjadi, meskipun tak sedikit yang justru mengulum senyum dan tertawa sadis atas musibah tersebut.
![]() |
| Curhatan petani atas kelangkaan pupuk |
Itulah senoktah noda dalam kehidupan kita? Yap, tentu saja itulah materi yang selalu saja ada dalam perjalanan kehidupan dunia yang kita pijaki kini.
Persis dengan beragam curhatan-curhatan kecil para petani, pedagang, nelayan, pemulung, dan bahkan pejabat sekalipun. Mereka memiliki curhatan kecil yang boleh jadi hanya tersembunyi dalam renung sanubari. Ketika curhatan itu lahir, maka ada beragam reaksi, seperti apa yang terjadi kebanyakan. Tapi ketika curhatan itu disembunyikan dan cukup dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu, maka sedikit sekali reaksi yang muncul. Hanyalah dirinya sendiri yang merasakan semuanya, dan hanya Tuhanlah yang dianggap bisa menyelesaikan setiap beban masalah kehidupan. Bahkan ada sebuah adagium, "jangan pernah berharap pada makhluk, karena kamu akan kecewa."
Apa yang sebenarnya ingin saya sajikan dari tulisan ini, tidak lain dan tidak bukan adalah bahwa setiap manusia memiliki beban kehidupan. Dan solusi dari persoalan tersebut tidak semua bisa memberikan konstribusi.
Dengan kata lain, selebar-lebarnya senyum seseorang, pasti ada celah amarah dan kepedihan dari sudut hatinya, dan sesedih-sedihnya hati, akan ada ruang untuk menebarkan cahaya kebahagiaan.
Senada dengan aneka keluhan saat ini, di saat pandemi covid-19 masih saja menghantui dan sampai kini belum benar-benar pergi, ternyata masih menyisakan kegalauan tersendiri atas apa yang kini terjadi. Para pelaku usaha banyak yang meluapkan rasa terdalam mereka mengapa kondisinya tidak juga membaik, seperti harga singkong yang masih rendah dan terpuruk, harga sayuran yang juga jatuh meskipun berat dalam membudidayakannya, dan lebih mirisnya pupuk juga masih langka. Seperti apa yang disampaikan para petani dalam sebuah group pertanian.
TIdak hanya yang berkaitan dengan persoalan tanam menanam, karena persoalan niaga juga terkena imbasnya. Ketika para petani mengeluh dengan kondisi saat ini, dan mereka terpaksa harus mengencangkan ikat pinggang dengan mengurangi belanja di luar, ketika bahan makanan pokok masih bisa ditanam sendiri. Serta kebutuhan primer lainnya yang ternyata belum begitu butuh diganti. Semua itu adalah kondisi yang menyertai atas musibah covid-19 saat ini.
Di tempat lain dengan suasana yang berbeda, para orang tua yang mengeluhkan bagaimana keadaan anak-anaknya yang terlihat (maaf) bodoh karena terlalu lama bermain gadget. Meskipun nilai raport mereka bagus, nyatanya ketika ditanya pun mereka tidak paham. Ekonomi orang tua yang terseok-seok, harus ditambah dengan beban pulsa dan listrik yang membengkak. Kebutuhan lain meningkat tapi penghasilan menurun drastis.
Di luar itu, para pengelola negara pun mengeluhkan keadaannya tentang timing kegiatan yang seharusnya terlaksana dengan baik, harus mengalami penyesuaian kondisi tanpa diduga-duga. Bahkan proyeksi program yang menguras isi uang negara, ternyata harus terhambat pelaksanaannya karena hantaman bencana pandemi yang sudah membunuh banyak korban ini. Padahal, secara realnya, ketika program sudah digulirkan dengan menyedot uang negara, tentu seharusnya berjalan normal, agar pengelolaan negara tidak menjadi timpang.
Contoh kecil saja, ketika negara sudah membangun bandara dengan nilai modal yang fantastis, karena bencana ini, semua menjadi terhambat. Bahkan banyak sisi yang bisa dikatakan bangkrut atau merugi. Lalu siapa yang mau disalahkan? Tentu tidak ada, kan? Karena semua ini diluar kemampuan manusia untuk mencegahnya.
Kalaupun seandainya pandemi ini adalah serangan perang biologis, nyatanya semua negara mendapatkan imbasnya. Siapa yang tidak mengalami kerugian? Nggak ada. Bolehlah beranggapan ada beberapa negara yang bersih dari terkontaminasi pandemi ini, tapi faktanya seluruh dunia terhubung satu sama lain. Semua kebutuhan negara saling membutuhkan asupan dari negara lain.
Itulah fakta-fakta yang tidak bisa dianggap sebelah mata, bahwa bencana virus ini adalah bencana bagi seluruh dunia. Tak pantas lagi saling menyalahkan.
Ketika semua orang mesti bangkit dari keterpurukan.
Ketika bencana begitu saja menghantam, dan ketika kerugian dialami oleh banyak orang, langkah yang paling tepat adalah bangkit lagi dari keterpurukan itu. Sama seperti ketika seseorang sudah memiliki perencanaan yang matang dari poin a, maka mereka akan memiliki alternatif untuk bangkit dengan poin b dengan planing yang lain.
Ketika petani mengeluhkan harga singkong yang murah, selain mengharapkan pemerintah membuat kebijakan kenaikan harga, ternyata karena kebijakan ekonomi saat ini karena sistem ekonomi pasar, maka peran pemerintah pun sangatlah sulit untuk mengendalikan harga-harga. Pelaku pasar, seperti sudah menempati posisi yang paling kuat untuk mengendalikan harga. Imbasnya para petani pun kesulitan mengantisipasi harga-harga yang fluktuatif itu.
Padahal, jika petani sendiri punya perencanaan produksi dan memiliki persatuan kuat untuk mengendalikan harga di pasaran, sepertinya para spekulan dan pemilik pasar yang memiliki modal besarpun akan mengalami masalah serius. Selain berpindah komoditi dengan variasi harga yang jauh lebih tinggi, ketergantungan petani pada satu komoditis saja bisa dihindari.
Seharusnya petani adalah raja dari komoditas mereka sendiri, dan bukan sebaliknya, hanya sebagai buruh yang dipaksa berproduksi, sedangkan harga-harga ditentukan orang lain. Dan memanfaatkan jaringan bisnis yang kuat itu, mereka akan membuat para spekulan ambruk dan berpikir dua kali untuk mempermainkan harga.
Para petani, nelayan dan semua pelaku produksi, adalah aset penting dalam ekonomi kita. Jika mereka bangkit dari keterpurukan ini, maka ekonomi pun akan bangkit. Namun jika sebaliknya, maka ekonomi pun akan runtuh dan siap-siap tetap berada dalam ketiak para pemilik modal, yang sebenarnya jumlah mereka amatlah sedikit dibandingkan jutaan orang petani lainnya yang semestinya memiliki nilai tawar yang juga tinggi.
Namun, kebangkitan produsen-produsen tersebut akan tetap tidak berhasil, jika pemilik birokrasi dan perundang-undangan belum benar-benar berpihak pada hasil karya anak sendiri. Salam
Senin, 14 Desember 2020
Benarkah Tribunnews[dot]com Dihack atau Dibajak?
![]() |
| Tangkapan layar tribunnews.com (dokumen pribadi) |
Baru kali ini mata saya terbelalak atau dibuat kaget, lantaran sebuah situs atau media berita online nasional sudah tidak bisa dibuka.
Situs berita online tersebut adalah Tribunnews.com dengan alamat https://www.tribunnews.com/regional/2020/11/09/dapat-bantuan-bedah-rumah-dari-pemerintah-keluarga-ini-tak-punya-uang-untuk-bayar-tukang-bangunan
Saya tidak sengaja membuka-buka situs atau berita, lantaran penasaran dengan informasi bahwa bantuan bedah rumah yang berasal dari pemerintah justru membuat satu keluarga bercerai. Alasannya karena tidak mampu membayar ongkos tukang bangunan.
Entah sejak kapan kejadian ini saya kurang begitu mengetahui, lantaran tak sengaja ketika berselancar di dunia maya dan bertanya-tanya terkait bantuan bedah rumah, ternyata beritanya sudah tidak bisa diakses. Dan anehnya lagi di halaman berita itu muncul tayangan yang tidak biasa dengan tulisan Hacked By Astarganz dan ditengahnya tertulis "Aku menyukai seseorang sayangnya keduluan :(. Sedangkan di akhir gambar tertulis @Exploiters-Team!-GalauCrew-Mr.BlackX12.
Melihat situs yang terkenal ini diretas, saya menduganya karena ada pihak yang iseng atau ngerjain lantaran beritanya terlihat menyudutkan pihak tertentu atau memiliki tendensi bahwa bantuan pemerintah yang seharusnya untuk membantu warga miskin yang butuh rumah, ternyata harus mengalami kenyataan pahit harus cekcok dan berujung pada perceraian.
Sejak pertama kali tulisan ini ditayangkan, saya belum melihat membaca rilis dari pihak Tribunnews..com apakah status peretasan itu murni karena iseng atau karena faktor lain. Dan ketika saya buka kembali statusnya masih sama dan belum pulih seperti sedia kala.
Semoga saja tribunnews.com segera pulih dari peretasan.
Link:
https://www.tribunnews.com/regional/2020/11/09/dapat-bantuan-bedah-rumah-dari-pemerintah-keluarga-ini-tak-punya-uang-untuk-bayar-tukang-bangunan
-
Suasana pagi di Sawah Viral Jalan Proklamasi Kota Metro yang sampai saat ini menjadi tempat tongkrongan (Gambar; M. Ali Amiruddin) "Jik...
-
Halaman muka Web Guru Pembelajar Online (https:gurupembelajar.id) Siapa ya yang sudah mendengar tentang Guru Pembelajar? Sepertinya s...
-
Rumah impian seorang ASN, tapi masih terbatas impian ketika pendapatan tak sebanding dengan kebutuhan Gambar : homedesignpictures.com ...
Featured Post
Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya
Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...
Game
Belajar Bilangan 1 - 20
1. Mengenal Bilangan
2. Urutkan dari yang Terkecil
Klik angka secara berurutan:
3. Membandingkan Bilangan
Pilih tanda yang benar:
5 ❓ 10Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)
Game 1
PETUALANGAN CODING
❓ CARA BERMAIN
1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.
2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.
3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.
4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.
5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!
⚙ PENGATURAN
Tingkat Kesulitan Saat Ini:
Tingkat: MUDAH
🎉 HASIL PERMAINAN 🎉
HEBAT!
PETUALANGAN CODING
❓ CARA BERMAIN
1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.
2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.
3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.
4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.
5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!
⚙ PENGATURAN
Tingkat Kesulitan Saat Ini:
Tingkat: MUDAH




