Sabtu, 21 Desember 2013

Apakah Pendidikan Harus Gratis?




khabarjoss.wordpress.com

Dengan pendidikan akan mendapatkan bekal pengetahuan, pengalaman, keterampilan yang cukup. Bekal yang lebih sempurna dari pada sekedar materi. Karena itu sepatutnya negara menjamin semua warganya dapat mengenyam pendidikan sampai tingkat tertinggi.




Pendidikan adalah dasar atau pondasi suatu bangsa mendapatkan kehormatan dan kemajuan di segala bidang. Dengan pendidikan setiap orang akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Baik itu keinginan dunia maupun keinginan akhirat.


Dengan pendidikan, segala macam keinginan pribadi dapat terpenuhi dan sebuah negara akan menjadi super power apabila pendidikan sudah menjadi bagian terpenting bagi rakyatnya. Sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 31 yang berbunyi bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Undang-undang ini memberikan pesan bahwa tidak ada lagi situasi bahwa ada masyarakat yang tidak bisa sekolah dikarenakan pendidikan yang tidak terjangkau.

Seperti dijelaskan dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
 
Indonesia Membaca/igi.or.id
Oleh karena itu, bangsa Indonesia akan semakin maju dan beradab serta sejahtera apabila tingkat pendidikannya maju dan menguasai segala aspek kehidupan. Sehingga banyak negara yang tingkat pendidikan tinggi menjadi negara yang disegani dan menguasai dunia dengan teknologinya.

Namun demikian, dalam kehidupan kita, di mana pendidikan merupakan aspek penting dalam kehidupan ternyata tidak begitu saja dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Bukan karena pemerintah yang tidak adil dan tidak membagi kesempatan dengan merata, akan tetapi karena faktor swastanisasi sistem pendidikan. Sehingga lembaga-lembaga pendidikan yang bermutu adalah lembaga yang dibiayai dengan ongkos yang mahal. Mereka menerima siswanya dari golongan elit dan berduit, karena secara otomatis para wali murid akan mampu mencukupi biaya operasional pendidikan bagi anak-anaknya tanpa memikirkan bagaimana sulitnya mencari uang.

Seperti beberapa siswa sekolah yang melakukan demonstrasi menutut kejelasan pungutan sekolah yang tidak sesuai bahkan aksi ini juga dilakukan beberapa mahasiswa Universitas Indonesia karena mengeluhkan betapa biaya pendidikan saat ini teramat mahal.

Keadaan ini memang dirasa tidak adil, karena hanya sebagian kecil orang Indonesia yang bisa menikmati indahnya belajar di sekolah yang bonafit dan mudahnya akses pengetahuan akan teknologi yang cenderung dinikmati masyarakat kelas atas. Namun bagi kelas bawah hanya sekedar mimpi dan hanya bisa gigit jari.

Karena keadan ini, rata-rata kehidupan yang mapan hanya dapat dinikmati oleh masyarakat yang berpendidikan tinggi dan kehidupan yang serba sulit merupakan santapan harian bagi masyarakat bawah.

Banyak usaha yang dilakukan oleh pemerintah demi membuang sekat-sekat perbedaan antara golongan kaya dan golongan miskin dalam pendidikan, salah satunya dengan menyelenggarakan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Meski dirasa berat dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit ternyata lambat laun kesenjangan antara golongan bawah dan kelompok elit semakin terbiaskan. Hal ini disebabkan di antara mereka yang kurang mampu, dan di saat mereka yang kurang bisa menikmati pendidikan yang memadai ternyata mereka mendapatkan peluang dan akses yang sama dalam pendidikan. Namun, sayang sekali pendidikan gratis selama ini hanya sampai tingkat sekolah menengah pertama, sedangkan di sekolah lanjutan dan sekolah tinggi masih sulit diperoleh.

Keadaan ini menjadi penyebab tingkat pendidikan anak-anak Indonesia secara umum hanya sampai tingkat sekolah menengah pertama(SMP) akan tetapi untuk sampai ke perguruan tinggi menjadi amat mahal.

Sayang sekali, yayasan pendidikan yang dibangun masyarakat justru terkesan mencari penghasilan yang sebanyak-banyaknya dari pungutan siswa, bahkan pengelola dengan entengnya membuat tarif yang jauh dari kemampuan masyarakat secara umum, di karenakan dengan alasan lembaga pendidikan tidak akan maju manakala biaya yang dipungut dari siswa teramat sedikit. Tentu saja pendapat ini tidak semua dapat disalahkan, karena memang sebuah lembaga pendidikan dapat dibangun dan membayar guru-guru yang profesional memang memerlukan biaya yang mahal. Meskipun konsep ini jauh dari nilai-nilai pendidikan bagi kemanusiaan.

Akan tetapi, jika kita kembali kepada konsep bahwa pendidikan harus gratis semestinya memang ada ruang yang cukup bagi anak-anak golongan bawah dapat mengenyam pendidikan yang memadai meski dengan biaya yang murah atau gratis sekalipun. Sehingga tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah karena tidak adanya biaya.

Namun demikian, harapan agar anak-anak negeri ini dapat menerima pendidikan yang memadai mungkin hanya tinggal mimpi. Karena meskipun pemerintah sudah mencanangkan pendidikan gratis ternyata kualitas pendidikan pun masih sangat minim. Di samping itu keadaan lembaga pendidikan suasta justru semakin meruncing persoalan tentang sulitnya memperoleh akses pendidikan gratis karena mereka menjadikan lembaga pendidikan seperti perusahaan penambang rupiah, meski rakyat kecil menjerit mereka dengan mudahnya tertawa. Padahal dalam undang-undang diamanatkan bahwa semua komponen masyarakat mesti ikut menyukseskan pendidikan yang bermutu dan terjangkau.

Akhir tulisan ini sedikit memberi simpulan bahwa hakekatnya pendidikan gratis bukan hanya kewajiban negara akan tetapi seluruh rakyat Indonesia berkewajiban menyelenggarakan pendidikan gratis demi kelangsungan generasi penerus yang berkualitas. Sebagaimana disebutkan dalam Bab III Pasal 4 poin 6 Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.


Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag

Anakku Tak Mau Diam, Apakah Mengalami ADHD?

Anak ADHD / psmag.com
Ungkapan ini seringkali keluar dari lisan ayah atau ibu dari anak-anak yang biasanya sulit dikendalikan. Seringkali para orang tua inipun berputus asa, patah arang dan sering uring-uringan lantaran melihat perkembangan anak yang tidak semestinya. Tidak seperti anak-anak sebaya yang terlihat oke-oke saja. Atau terkesan tidak normal jika dilihat dari prilaku anak-anak sebayanya.

Jumat, 06 Desember 2013

Pelatihan Pembuatan Kompos Terhadap Kesadaran Cinta Linkungan

Pembuatan Pupuk Kompos

 

Siapapun Anda yang saat ini hidup di daerah pedesaan tentulah tidak asing lagi dengan hewan ternak, bisa berupa sapi, kerbau, kambing, ayam dan hewan ternak lain yang menghasilkan kotoran. Tentu saja sebagai warga desa juga tidak terlalu heran dengan banyaknya kotoran yang menumpuk di sekitar kandang. 

Kamis, 17 Oktober 2013

Media Telpon-telponan untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Anak Tunagrahita

Tulisan ini sekedar sharing dan sebagai bahan untuk diskusi tentang bagaimana membangun dan meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi lebih khusus terhadap anak-anak yang memiliki kelemahan intelegensi atau disebut dengan anak-anak tuna grahita.

Komunikasi adalah bagian penting dalam menjalin hubungan sosial, baik komunikasi secara verbal maupun non verbal menjadikan seseorang akan mampu melakukan interaksi antar personal secara aktif yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi pelakunya dalam proses hidup dan kehidupan.

Terlepas dengan jenis-jenis komunikasi, dalam banyak hal akan ditemukan suatu masalah disebabkan karena seseorang sulitnya melakukan komunikasi, bisa jadi berawal dari pengenalan pengenalan fonem maupun morfem, sintaksis maupun kosa kata yang selalu berkembang seiring dengan banyaknya bahasa serapan yang diadopsi dari bahasa asing maupun bahasa daerah di seantero jagad sosial.

Bertitik tolak dari konsep di atas, maka kemunikasi semestinya juga diajarkan, diperkenalkan, dikembangkan maupun ditingkatkan seiring dengan semakin berkembangnya hubungan sosial personal, yang awalnya hanya lingkup keluarga, selanjutnya mereka harus berhubungan dengan masyarakat yang lebih luas, yang tentu saja dibutuhkan kemampuan berkomunikasi yang tidak mudah, bahkan teramat rumit untuk ukuran anak-anak masa-masa sekolah dasar. Karena sebagaimana tersirat dalam kurikulum sekolah dasar, pengembangan bahasa dalam segi kemapuan komunikasi verbal merupakan program pokok dan indikator yang ingin dicapai selama proses pembelajaran.

Sebagai contoh, saya merupakan guru bagi anak-anak disabilitas, anak-anak berkebutuhan khusus, di mana lebih khusus tuna grahita, di mana pada anak-anak tersebut memiliki kemampuan di bawah rata-rata dengan kemampuan intelegensi yang amat rendah, bahkan jika diukur tes intelegensi hanya berada di bawah 80 sehingga besar kemungkinan anak-anak tersebut sangat rendah kemampuan berbahasa karena dipengaruhi kemampuan intelegensi dalam menangkap dan merekam informasi yang berkaitan bahasa, baik kosa kata maupun kemampuan dalam mengucapkannya.

Sebelum kita membahas lebih  jauh mengenai media telpon-telponan terlebih dahulu kita pahami apa sebenarnya media telpon-telponan?

Media telpon-telponan adalah sebuah alat, bahan atau benda-benda yang digunakan untuk sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran. Dimana media yang dimaksudkan di sini adalah alat pembelajaran yang dibuat dari dua buah kaleng susu yang dibentuk sedemikian rupa kemudian kedua kaleng tersebut dihubungan dengan seutas benang berbentuk seperti sebuah alat komunikasi dua arah. Alat tersebut sejatinya digunakan sebagai alat bermain dan belajar mengucapkan kata-kata dan mendengarkan informasi dari lawan bicaranya.

Sedangkan anak tuna grahita di sini adalah adalah anak-anak yang dapat diidentifikasi sebagai anak yang memiliki keadaaan keterbelakangan mental, keadaan ini dikenal juga retardasi mental (mental retardation). Tunagrahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai lemah pikiran (Feeble Minded), terbelakang mental (Mentally Retarded), bodoh atau dungu (Idiot), pandir (Imbecile), tolol (Moron), oligofrenia (Oligophrenia), mampu didik (Educable), mampu latih (Trainable), ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau butuh rawat, mental subnormal, defisit mental, defisit kognitif,  cacat mental, defisiensi mental dan gangguan intelektual.

Lebih dipertegas lagi, sebagaimana menurut American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20) bahwa anak tunagrahita memiliki karakteristik intelegensinya sebagai berikut: yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.

Berdasarkan tingkat IQ yang rendah inilah maka perlu diberikan model-model pembelajaran yang melibatkan alat pembelajaran berupa permainan edukatif berupa pengembangan kemampuan berbahasa sejak dini, meski prosesnya lambat tapi akan memberikan dampak yang signifikan terhadap kemampuan anak dalam berkomunikasi secara verbal.

Subyek penelitian merupakan anak yang sudah dapat menggunakan media telpon-telponan dan tentu saja sedikit banyak dapat melakukan komunikasi dengan orang lain meski dengan kalimat yang belum sepenuhnya benar. Sehingga diharapkan dengan alat bermain edukatif ini anak akan terpicu dan terpacu untuk dapat mengucapkan kata-kata serta mendengarkan dengan benar sesuai dengan konteks kalimat dan petunjuk yang diberikan.

Sebagaimana yang saya sebutkan di atas, sebagai media pembelajaran berupa alat permainan edukatif, media telpon-telponan dapat menjadi salah satu media yang penting dalam pengembangan berbahasa. Meski harus tetap di bawah pengawasan dan bimbingan guru, permainan ini meransang syaraf motorik halus maupun kasar serta indera pendengaran dan tentu saja indera pengucap. Karena indera ini sangat berkaitan dengan kemampuan berbahasa.

Selanjutnya, bagaimana cara guru menggunakan media telpon-telponan ini dalam proses pembelajaran?
Perlu dipahami bahwa Bahasa Indonesia di sekolah luar biasa memiliki karakteristik pembelajaran yang orientasinya sama dengan dengan apa yang diajarkan di sekolah umum pada umumnya yaitu pada kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Namun demikian dengan media telpon-telponan lebih difokuskan pada kemampuan mendengarkan dan berbicara karena media ini memang berkaitan dengan kemampuan mendengarkan dan berbicara.

Pada tahap awal, terlebih dahulu guru melakukan pengenalan tentang media yang akan diadakan, termasuk di dalamnya cara menggunakan dan indikator yang akan dicapai. Misalnya ketika guru mengajarkan anak tunagrahita, terlebih dahulu diajarkan cara menggunakannya, bahkan semestinya guru harus menunjukkan cara menggunakan alat tersebut dengan tujuan agar memahami penggunaannya.

Selanjutnya guru memberitahukan indiktor yang ingin dicapai misalnya, kemampuan menggunakakn telepon baik melakukan percakapan atau komunikasi dua arah. Guru menunjuk satu anak sebagai lawan berbicara melalui media telpon-telponan tersebut, selanjutnya ketika semua anak memahami cara menggunakan media, anak-anak dibentuk beberapa kelompok dengan cara menyebut angka satu sampai sepuluh (cara ini disesuaikan kondisi siswa dan keinginan guru dalam mengelompokkan siswanya) kemudian masing-masing anak berkumpul sesuai dengan angka yang sama menjadi pasangannya ketika mempraktekkan media ini.

Setelah masing-masing anak mendapatkan pasangannya, secara bergantian pasangan tersebut mempraktekkan percakapan berdasarkan instruksi guru dan guru mencatat hasil percakapan dengan media, dari awal hingga akhir percakapan, cara ini dapat dilakukan berulang-ulang setelah dilakukan refleksi peningkatan kemampuan berbicara baik pengucapan maupun intonasi kalimat. Namun jika anak belum terbiasa menggunakan kalimat panjang ada baiknya diawali dari pengenalan kata-kata.

Cara ini dapat dilakukan terus menerus seiring dengan materi yang sesuai dengan penggunaan alat permainan ini. Namun demikian, ketepatan berbicara dan mendengar memang tergantung pula kemampuan indera anak tersebut, jika inderanya fungsinya baik maka kemampuan intelegensi dalam mengolah kata-kata akan lebih mudah dan teratur begitu sebaliknya jika anak-anak tersebut mengalami gangguan pendengaran maupun pengucapan maka akan berpengaruh pula pada kemampuan mendengar dan berbicaranya.

Wassalam

Rabu, 18 September 2013

Sertifikasi, Antara Profesionalisme dan Upah yang Layak

Sertifikasi Antara Profesionalisme dan Upah yang Layak
Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag.




Sejak setahun yang lalu yakni akhir tahun 2011, tatkala saya mengikuti PLPG khusus guru-guru SLB di LPMP Provinsi Lampung.

Masih terngiang dalam ingatan saya bahwa pada hari itu kami seperti terlahir kembali, dikumpulkan dalam satu situasi di mana kami harus kembali membuka logika, akal fikiran dan hati bahwa kami benar-benar harus mengikuti prosedur pendidikan dan latihan khusus guru dan kami merasa seperti berada diatas sebuah titian yang panjang selayaknya jembatan sirotol mustaqim yang membentang di atas neraka. 

Sabtu, 14 September 2013

Ada Wirausahawan Muda di PK-LK

Lomba Olimpiade Siswa Nasional dan Visi Mencetak Anak Penyandang Disabilitas Menjadi Wirausahawan Mandiri

Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag



 Gambar : Hasil Karya ABK dlm Lomba Kewirausahaan di Bandung, September 2013

Tulisan ini adalah catatan tatkala saya menjadi salah satu pendamping dalam perlombaan Olimpiade Sains Nasional Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PK-LK) ke-12 di Bandung  yang diadakan beberapa hari yang lalu. Sebagai bentuk apresiasi yang mendalam terhadap apa yang dilakukan oleh anak-anak berkebutuhan khusus.

Sabtu, 07 September 2013

Bahan Pembelajaran, Teori dan Praktik di Kelas

Oleh M. Ali Amiruddin, S.Ag.


13739555651781899037


Sebelum membahas tentang perlunya bahan ajar bagi guru, terlebih dahulu kita pahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan bahan ajar? Bahan ajar merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. ( National Center for Vocational Education Research Ltd/National Center for Competency Based Training). 

Featured Post

Mengenal Pupuk Organik dan Manfaatnya

  Pupuk organik dari makanan sisa adalah salah satu cara paling sederhana dan ramah lingkungan untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus ...

Game

Belajar Bilangan - SMPLB Kelas VII

Belajar Bilangan 1 - 20

1. Mengenal Bilangan

1
Satu

2. Urutkan dari yang Terkecil

Klik angka secara berurutan:

3. Membandingkan Bilangan

Pilih tanda yang benar:

5 ❓ 10

Lih. Lebih Kecil (<) Lih. Lebih Besar (>)

Game 1

Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!
Petualangan Coding Angka dan Bentuk
LEVEL 1/10
🤖

PETUALANGAN CODING

Angka & Bentuk

❓ CARA BERMAIN

1. 👁 Lihat soal dan gambarnya.

2. 🔊 Dengarkan petunjuk suara dari guru virtual.

3. 👆 Pilih / Susun jawaban yang benar.

4. ▶ Tekan tombol JALANKAN / MULAI.

5. ⭐ Dapatkan Bintang keberhasilan!

⚙ PENGATURAN

Tingkat Kesulitan Saat Ini:

Tingkat: MUDAH

👩‍🏫
Selamat datang! Ayo hitung apelnya.

🎉 HASIL PERMAINAN 🎉

⭐ Total Bintang: 10
🎯 Tantangan Selesai: 10 / 10
🔢 Angka: Sangat Baik
🔷 Bentuk & Warna: Sangat Baik
💻 Coding Urutan: Berkembang
👏 Kemandirian: Mandiri
👩‍🏫
Luar biasa! Kamu makin pintar dan mandiri!